Thursday, February 24, 2011

Being Mom: Perih


Being Mom-Perih

*** imajinasi membawaku ke Jakarta dan menemui Putri di sana

Percakapan ini terjadi di ruang tunggu Dokter Kandungan di sebuah RS di Jakarta antara aku dengan seorang anak perempuan usia 17 tahun-sebut saja dirinya Putri- yang sedang mengandung anak pertamanya.

Aku:

Sama siapa kamu ke sini, Dek?

Putri:

Sama Mama, Tante. Tapi, Mama sedang pergi membeli roti buat aku.

Aku:

Oh, begitu…

Diam. Tenang. Dia membaca majalahnya lagi. Majalah anak remaja seusianya. Kupandangi wajahnya yang lugu. Lembut, manis, dan bersahaja. Kulitnya hitam manis, rambut keriting alami. Dengan umur yang memang pantas disandang keponakanku, tepatlah ia memanggil aku dengan sebutan: Tante.

Aku:

Ini kehamilan Tante yang ke-2. Usia kandungan Tante sekitar 30 minggu.

Kucoba mencairkan suasana kaku dengan membuka percakapan. Biasanya aku tak pernah bawel begini. Tetapi, hadirnya di ruang tunggu dokter kandungan yang sama denganku membuatku ingin bercakap-cakap dan mencari tahu juga. Sekaligus merasa kasihan. Perutnya sudah membesar, seolah tinggal tunggu waktu.

Putri:

Oh, kata dokter, kalau aku sih minggu depan sudah bisa lahir. Ini 37 minggu, Tan.

Aku:

Ok. Semoga kandungan kamu dan kamu baik-baik ya, sampai lahiran nanti lancar semuanya. Tante bantu doa saja.

Aku mengucapkannya sambil tersenyum. Senyum di bibir, tetapi perih di hati. Aku memandangi wajahnya: kamu terlalu muda, Dek… Untuk menerima konsekuensi ini. Tetapi, pastinya ini hal yang tak pernah terpikirkan olehmu sebelumnya. Kupuji keberanianmu untuk melahirkan dan untuk kemudian mungkin membesarkan anakmu bersama Mamamu dan/atau suamimu? Kesiapan mentalmu memang belum terbina, tetapi kau nampaknya tenang menerima ini semua…Semoga kamu, papa anak ini, juga bayi yang ada dalam kandunganmu baik-baik saja.

Kugigit bibirku perlahan. Kenyataan ini begitu menyentak, karena ia hadir di depan mataku. Sekaligus juga membukakan realita, bahwa dari dulu sampai sekarang adalah sulit untuk menjaga kemurnian seksual seseorang dan yang selalu jadi sorotan adalah anak gadis karena kehamilannya. Bukan hal yang mustahil memang, tetapi semakin lama semakin ganas juga distribusi pornografi dan rekan-rekannya. Semakin mudah diakses. Dan norma-norma masyarakat yang ada, ajaran agama yang menganjurkan kebaikan semacam menunda hubungan badan hanya setelah menikah seolah dianggap angin lalu. Mereka tahu, tetapi tak mau tahu? Atau memang mereka tak lagi peduli? Aku tak tahu apa yang ada di pikiran mereka. Mungkin lupa, mungkin lalai, mungkin cuek? Tetapi ketika masa depan yang jadi taruhannya? Ketika mereka tak lagi bisa sekolah atau kuliah di saat mereka tengah menjalani itu semua? Ketika mereka harus dengan terpaksa menjalani peran orangtua sementara mentalnya masih remaja…

Ah, betapa menyesakkan kenyataan yang ada…

Kupuji beberapa rekan yang terus menyuarakan untuk menjaga kemurnian remaja, generasi muda… Untuk tidak ikut arus dunia, melainkan terus mendekat kepada Yang Kuasa…Karena cobaan dan godaaan memang besar, tetapi Tuhan jauh lebih besar dari itu semua asalkan kita percaya…

Tak lama, ibunya Si Putri hadir di ruang tunggu dengan bungkusan roti dan air mineral. Kulihat Putri memakannya dengan lahap. Tiba-tiba aku merasa mengenal wajah itu. Sangat familiar…Mungkinkah kami pernah bertemu di satu waktu di masa lalu ?

Mama Putri:

Kamu, kamu Fonny?

Aku:

Iya… Kamu Ningsih? Teman SMP dulu di Palembang?

Ningsih:

Iya, betul…

Kami berpelukan. Ningsih sobat baikku semasa SMP itu kemudian menghilang tanpa berita. Terakhir kami dengar, dia harus berhenti sekolah untuk kemudian pindah ke Jakarta karena dia terlanjur hamil dengan pacarnya.

Kulihat wajah Putri dan Ningsih berganti-ganti…Air mata haru membasahi pipi kami. Pertemuan yang tak pernah kusangka-sangka terjadi di ruang tunggu dokter kandungan di sebuah RS di bilangan utara Jakarta.

Panasnya Jakarta tertutupi sementara oleh pendingin ruangan yang dipasang begitu banyaknya di ruang tunggu ini. Tetapi aku tak mampu menahan kesedihan di hatiku…

Kupandangi sekali lagi: Putri dan Ningsih…

Kupegang dadaku yang tiba-tiba terasa sesak…

Dan perihhhh… Mengapa kau kembali lagi?

Ho Chi Minh City, 25 Feb. 2011

-fonny jodikin-

*buat Putri dan banyak ‘Putri-Putri’ lainnya… Yang terpaksa harus menjalani peran Ibu di usia muda. Langkah yang pernah salah, bukan berarti akhir segalanya. Mudah-mudahan masa depan lebih cerah dan bangkitlah dari masa lalumu, jangan lagi mengulangi kesalahan yang sama… Bagi yang muda dan yang masih single, moga-moga tetap mau memperjuangkan kemurnianmu sampai hari pernikahan nanti. God bless!

* copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya karena itu sangat berarti buat aku. Trims.

No comments:

Post a Comment