Thursday, March 12, 2009

Back to Simplicity

Back to Simplicity

Today, I heard a news of a friend, ex-colleague who has just in around his 30s, I guess, and had this cancer on his liver.
Pretty sad to hear that such a thing happened, again in a productive age.
Then, I wondered, what on earth should we live for?
Fame? Career? Beautiful houses? Posh cars?
What are the values that we still need to appreciate and hold on tightly? Well, it’s actually just the very simple one.

Health. It’s number one.
If ever we’ve taken it as a granted, now it’s not too late to realize that we need to be really grateful for a great health.
Yes, you might have this flu, cough, headache, every now and then. But, as long as it’s a minor one, we shouldn’t be worry to much.
Without ignoring the fact that sometimes even the smallest symptoms might become a sign that the body needs a rest or we need to take extra vitamin, but we should be thankful for this particular and special gift in life.

I had some friends who died in their late 20s and 30s. Both were my very dear friends and nothing’s gonna change that until now. They both died because of cancer.
Again, I felt the same pain, as I heard this kind of news again. So sudden, a person could change from a healthy one to someone that can only stay in bed without doing anything. See their health is deteriorating so fast is painful.
It’s even sadder for the family for sure, especially the parents to see their children dying young.

But again, within this period of time, we can also become closer to God.
The one who knows everything best for His children. And that includes how long we should live in this world and how we should come back to Him. By which way.
Of course, realizing that life is a very temporary one, we all know that someday we’ll meet Him again. It’s just we don’t know when or how.

As long as we live, we still got the chance to treasure health. Family. Friends. Breath. Rain. Sun. Cloud. Flower. Butterfly. Bee. Tree. Sea. Lake. River. Coffee. Tea.
Anything. Everything in this earth.
Every simple thing that make us realize that we’re here to celebrate every beauty of this nature, of this life, as God’s gifts for us.

With our ambition we might want to fight everything with our strength.
Well, that’s nothing wrong with that. We need to give our very best to each step that we take in our daily life.
But, we also need to remember, sometimes we need to sit back and relax. Try to be thankful for whatever we still got. The simplest things that seem unimportant but actually they’re the most important things in this life.

So, if today, your burden seem so overwhelming you. Your children’s grade is poor. Your job isn’t going anywhere-no promotion, no bonus, no increment of salary. Your love life is flat or even in downward curve. Your relationship with your friends is in a very bad condition. Your boyfriend/girlfriend is leaving you for another one without many explanations. Your old car that needs to be replaced is still the one that you drive everyday because you don’t have enough money to buy a new one. And many others which can’t be mentioned one by one.
Again, still, try to be thankful for whatever we got.
Be thankful for the simplest things on earth. Be thankful that you still got the chance to smile. Be thankful for the gift of life itself.
Keep it simple. Don’t make it too complicated.
Life itself has already been a complicated one. So, why don’t we try to simplify ourselves in simplicity?

Singapore, 13th of March 2009
-fon-
* Dedicated to Adi Putra(Kian Su) and William. I know both of you are very happy in heaven now since you’re so kind-hearted! Thanks for being my best friends in my chapter of life :)
And hoping that my ex colleague: Jonny Sudargo can get through his cancer. May God give him enough strength to fight this disease. Amen.

Thursday, March 5, 2009

Takut atau Tidak?

Takut Atau Tidak?

Selamat pagi, hati...
Apa kabarmu hari ini?
Jawab hati:
“ Terbungkus dalam lingkaran suatu rasa yang menusuk.
Terasa menggigil di dalamnya. “

Entah, tak dapat kujelaskan asal usulnya.
Namun, dia ada dan berkuasa dalam hatiku.
Mungkin ini yang namanya takut.
Tetapi, takut akan apa? Takut akan siapa? Mengapa takut?

Dalam hatiku ada suara lembut berbisik:
“ Jangan takut, ini aku Tuhan.”
Tetapi, mengapa rasa takut itu tetap ada?
Kutanya hatiku: “ Tuhan bersama kita, apa yang kau takutkan?”

Jawab hati: “ Aku takut akan banyak hal. Takut akan masa depan, takut akan masa kini, dan takut akan masa lalu.”

Kasihan si hati…
Dalam sekat-sekat ruang di kamarnya ternyata penuh dengan hal-hal yang tidak menyenangkan.
Dia penuh kekuatiran. Dia penuh kebencian. Dan dia penuh ketakutan.
Dan suara lembut itu berbisik lagi, “ Jangan pernah takut, aku Tuhan. Aku akan selalu bersamamu.”

Kembali ke dunia nyata, kulihat keadaan semakin sulit.
Roda kehidupan berputar tersendat.
Atau bahkan sepertinya tidak ada pergerakan yang berarti.
Sepertinya roda ini kurang minyak sehingga begitu sulitnya dia untuk berputar.
Kehidupan seolah terhenti.
Dan ketakutan itu menjebak anak manusia untuk lari dariNya dengan melakukan kemauan mereka sendiri.

Takut. Hati, kamu takut atau tidak?
Jawab hati:
“Aku takut. Namun, aku tahu, bahwa tidak ada ketakutan yang lebih besar daripada takut akan Tuhan.”

Aku takut.
Takut berbuat dosa.
Takut akan keserakahan yang akan membawaku menjadi orang yang bisa melakukan apa saja untuk keuntunganku.
Aku takut akan kesombongan yang membawaku menjadi orang yang takabur dan tak tahu berterima kasih.
Dan aku takut akan Tuhan.

Selamat malam, hati...
Bagaimana keadaanmu malam ini?
Jawab hati:
"Aku dalam kondisi tenang."

Ketakutan yang tidak perlu, sudah kuserahkan kepada Yang Esa.
Dan ketakutan yang seharusnya tetap ada pada diriku, kumintakan tetap ada.
Takut akan Tuhan. Takut berbuat dosa. Takut akan kesombongan.
Takut?
Untuk hal-hal yang berbau kekuatiran akan masa depan, kepiluan di masa lalu, dan rasa kurang berterima kasih pada masa kini, aku tidak takut.
Sebab aku percaya bahwa Dia besertaku.
Dia setia.
Aku tidak takut, sebab Tuhan besertaku.
Amin.

Singapore, 6 Maret 2009
-fon-

Catatan Sepi Jilid Dua

Ketika sang sepi datang kembali.
Kutemani dia.
Kubawa dia.
Mendekat ke Sang Pencipta.

Lalu kataNya, “ Diam dan ketahuilah bahwa Aku ini Tuhan,”
Dalam diam, kutemui Dia.
Dalam sunyi, ketemui Dia.
Dalam sepi inilah, perjumpaan terbesar dengan Dia.

Kalau tidak ada sepi, takkan kutemui Dia.
Dalam keheningan kukenal Dia.
Dan sepi itu terasa lebih bermakna…
Karena sepi bukan berarti sendiri.
Dalam diri ada suatu kekuatan baru yang berteriak, “ Terima kasih, Tuhan!”
Terima kasih untuk rasa sepi yang mampir dalam hati.
Terima kasih untuk keheningan yang memang kuperlukan dalam hiruk pikuk dan hingar bingarnya kehidupanku.

Tenang.
Diam.
Damai.
Sepi tidaklah menakutkan.
Setidaknya tidak seperti yang ada dalam pikiran.
Sepi?
Ya, aku mau merasakan sedikit ketenangan dalam sepi.
Hari ini.

Singapore, 3 Maret 2009
-fon-

Catatan Sepi

Kumasuki relung-relung hatiku malam ini.
Sepi. Sunyi. Sendiri.
Entah mengapa, dia datang lagi.
Dia datang diam-diam, terkadang menusuk tajam dan mengoyakkan dinding-dinding pertahanan hatiku.
Lalu hatiku bobol, rubuh diam-diam dan terbawa arusnya.

Sepi itu memang tidak enak.
Sepi itu memang membuat frustrasi.
Sepi itu memang membuat orang bisa berpikir macam-macam.

Di antara derai tawa dan senyum ceria yang kujumpai, rasa sepi itu tetap ada.
Diam dan konstan tinggal di hatiku.
Di antara keriuhan pesta dan keramaiannya, rasa sepi itu juga tidak jua pergi.
Entahlah, mengapa dia begitu betah berlama-lama kali ini?
Aku sudah sering mengusirnya pergi.
Namun, dengan penuh percaya diri, dia kembali lagi.
Lagi dan lagi.

Tidak cukup sekali. Rasanya sudah kulakukan puluhan bahkan ratusan kali.
Setiap kali dia datang, aku selalu menyuruhnya pergi.
Namun, dia malah tinggal lebih lama.

Akhirnya, kutemukan cara baru.
Berteman sepi.
Aku berteman dengan rasa sepi itu.
Kudalami relung hatiku dan bertanya, “ Wahai sepi, ada apa gerangan? Apa yang membuatmu betah berdiam di sana?”
Rasa kosong dan hampa yang berada di diri ini kuakui dan kubawa lari
Kepada sang Pencipta.
Hanya Dia yang bisa mengusir kesepianku.
Hanya Dia yang bisa memberikan embun kesejukan penawar sepi.

Berteman sepi.
Sepi tak terhindarkan.
Dia datang dan pergi. Dan terkadang tinggal beberapa waktu lamanya.
Dan bila dia kembali, aku sudah tidak kuatir lagi.
Kucari Dia dan kubawa dia-sang sepi- kepadaNya.
Dia akan cairkan kesepian itu dan ubahkan hal itu jadi suatu kebahagiaan.

Sepi. Sunyi. Sendiri.
Hampa. Lara. Nestapa.
Adakah penawar sepi abadi???
Dia. Dia. Dia.
Pencipta. Sang Khalik.

Singapore, 27 Februari 2009
-fon-

Tuesday, January 20, 2009

Inspire

Suddenly this word pops up on my mind tonight. Don't know why. Well again, living my present life with such a routine, is really farrrr from inspiring or even inspirational thing.

God has always been an inspiration for me. And in this life, we can see that lots of saints have been inspiring the world as well.
I don't know whether I'll make an impact or not with my present role at this moment, but I'm just sure that if I do my daily chores, my daily routine with love, at least I can give a little bit of impact to the people surround me.
First of all my family, the nearest kin of mine. And the next one is supposed to be my friends or even the people that I just met.
I've ever thought of inspiring the world, inspiring the nation, but let me start as simple as this: I want to do a daily routine with an inspiring spirit from God.
And that will make a difference for sure.

Right now for me, inspiring thing may start in little or even simple things. In other's perspective, it might be seemed as nothing, but with trust and faith, I just want to stay faithful in everything I do. As I believe that faith in little things will lead to bigger ones...
Someday, somehow, we will reach one level of a better understanding.
But now, let's start with staying faithful with an inspiring God. He will be the inspiration of our life...Never lack of it!

Spore, 21 January 2009
-fon-

Monday, December 22, 2008

Refleksi Akhir Tahun

Refleksi Akhir Tahun

Mungkin dua tahun terakhir ini adalah tahun di mana saya mengalami perubahan drastis yang sudah sering saya ceritakan. Dan setahun belakangan ini, walaupun adaptasi sudah berjalan cukup baik, namun masih saja banyak kerikil di sana sini yang belum mampu saya atasi. Sampai akhirnya, memasuki bulan Desember tahun 2008 ini, saya merasakan bahwa saya bisa melihat dari kaca mata yang baru.
Saya bersyukur sekali dan dalam hati ada damai yang baru…

Everything…
Ada satu fase di dalam hidup saya, di mana saya kira, saya memiliki segalanya. Segalanya dalam versi saya, tentunya amat berbeda dengan segalanya dalam versi orang lain. Mungkin buat orang lain harus punya rumah 5, mobil 5, baru memiliki segalanya…
Namun, bagi saya waktu itu adalah, saya memiliki karir yang cukup lumayan, keluarga dan teman-teman yang amat mendukung dan sangat mengasihi saya, dan pelayanan yang saya sukai… Bagi saya, saya memiliki segalanya saat itu. I had ‘everything’ back then, back to the year 2004…
Karir semakin baik, semakin naik… Dan segalanya itu bertambah dengan kehadiran seorang pacar yang puji Tuhan sesuai dengan impian dan dambaan saya, yah… saya merasa amat bersyukur karena saya punya segalanya!
Dan list of ‘everything’ itu bertambah, ketika sang pacar menyatakan keseriusannya untuk membina rumah tangga. Wow, rasanya sempurna sekali!
Tidak lama setelah menikah, saya pun hamil dan berita kepindahan kami ke Singapura menambah sempurna list of ‘everything’ itu.
I couldn’t ask for more… God has been so good to me!

Nothing…
Ternyata setelah kepindahan saya, saya rasakan kehampaan karena perubahan ini ditambah tidak adanya teman-teman yang dekat di hati plus kesulitan mencari pekerjaan. Memiliki anak, suatu sukacita yang amat besar, namun amat melelahkan bila harus menjaga sendiri. Salut untuk para ibu zaman dulu yang bisa memiliki banyak anak tanpa mengeluh.
Dan tiba-tiba saja, everything yang ada pada saya beberapa waktu yang lalu, saya rasakan diambil begitu cepatnya… And I left without anything. Nothing!
Kenyataan yang sulit diterima dan cukup pahit, saya jalani. Tidak melulu sabar, karena saya pun banyak mengeluh. Saya berusaha sabar, tetapi terkadang saya merasa ini semua sungguh di luar kekuatan saya. Saya mendapati diri saya mengalami kesulitan untuk menerima segala perubahan ini. Saya tidak mampu melihat hal-hal baik dalam hidup saya…
Sampai akhirnya….

Something…
Saya mulai bisa melihat kalau Tuhan tidak pernah melencengkan jalan kita tanpa sebab. Karena dia merencanakan sesuatu. That special ‘something’ in His plan is waiting for me. Some good things for a better me…
Di akhir tahun ini, saya mulai bisa melihat bahwa Tuhan berkehendak lain terhadap kehidupan saya. Di mana dia tanamkan ide dan kerinduan untuk beberapa hal. Yang utama adalah menjadi penulis dan puji Tuhan sudah mulai terlihat jalan! Semoga bisa terlaksana di pertengahan tahun depan. Satu hal lagi bisnis online dengan suami yang masih dalam tahap penggarapan. Dua hal ini akan saya informasikan kemudian bagi teman-teman semua.
Tapi, puji Tuhan! Sungguh dengan segala ketulusan, saya mohon ampun kepada Tuhan untuk segala kekerasan hati saya untuk mempertahankan ‘everything’ I had, only to find that from ‘nothing’, He will build me once again. He will give me another plan, ‘something’ good, ‘something’ beautiful in His perspective for me.
Saya mulai bisa melihat lagi bahwa Tuhan sungguh baik selama dua tahun ini, dia memberikan saya keluarga yang baik, suami dan anak yang baik dan lucu. Tuhan memberikan saya dan keluarga kesehatan. Hal yang amat mahal bagi sebagian orang. Dan hal-hal kecil yang tak terlihat, tiba-tiba saja menjadi jelas karena saya memakai mikroskop thankfulness to the Lord.

Dan sesungguhnya, saya tidak tahu, ke depannya akan bagaimana. Tetapi ada kedamaian luar biasa yang saya rasakan, karena saya percaya kepadaNya. Bahwa di balik reruntuhan kesombongan diri saya, Dia akan menata saya kembali dengan cintaNya. Dan berbisik sekali lagi bahwa saya harus percaya kepadaNya dengan segenap hati saya. Karena apa pun yang terjadi, Dia tidak pernah lepas tangan atas saya!

Happy New Year, God! Happy New Year, friends!
I’ve never been so excited in my life towards a new year… Selama ini, setiap tahun berlalu begitu begituuu saja, tetapi tidak tahun ini…
Dengan harapan, segala sesuatu jadi berbeda.

So, bila saat ini, kamu berada pada kondisi ‘everything’, remember that there will be some day that you feel that ‘nothing’ in your life… Hampa, tidak ada apa-apanya sama sekali, semua terasa membosankan. Namun, di saat siklus itu berbalik kembali kepada ‘something’ dan nanti ‘everything’… Just remember itu adalah kebaikan Tuhan yang mengizinkan kita mengalami siklus hidup. Sekali lagi hanya untuk mendewasakan kita dan menjadikan kita seseorang yang lebih baik.

Singapore, December 23, 2008
-fon-
* New Year comes early this year… Especially in my heart :)

Tuesday, December 2, 2008

Tetap Setia

Tetap Setia

Dari hasil obrolan via email dengan seorang teman yang menyarankan aku untuk menulis mengenai perkawinan- khususnya perkawinan Katolik- maka tulisan ini dibuat.
Jujur, menuliskan perkawinan, apalagi setelah menjalaninya juga, bukanlah sesuatu yang mudah. Dalam arti, mengerti betapa sakralnya pernikahan itu, at the same time, betapa kompleksnya pula permasalahan yang dihadapi, padahal kalau dipikir-pikir hanya ada dua pribadi. Tetapi kompleksitas itu berkembang karena perkawinan di Indonesia juga menyangkut perkawinan antarkeluarga. Di mana harus juga berhadapan dengan mertua, ipar, keluarga besan, dan sebagainya.
Dua orang digabungkan menjadi satu saja, sudah cukup berat. Karena banyak perbedaan yang harus disesuaikan antara satu dengan yang lain. Perbedaan itu bukan hanya sekedar karakter, tetapi juga bagaimana cara masing-masing keluarga membesarkan si anak, sehingga si anak menjadi pribadi yang seperti sekarang ini. Juga tak kurang, pengalaman si anak beradaptasi dengan lingkungan yang dihadapi seperti : sekolah-teman-guru-pacar-dan semua orang yang ditemuinya sepanjang perjalanan hidupnya, juga mempengaruhi dan memberi warna bagi kepribadian si anak.

Well, tulisan ini juga bukan untuk menakut-nakuti para single yang sedang berpacaran, ataupun yang tengah memimpikan suatu pernikahan. Namun rasanya, kita tidak bisa menutup mata, bahwa permasalahan ini ada, timbul, dan berkembang di tengah dunia yang semakin cuek dengan lembaga perkawinan. Dan sementara perkawinan Katolik harus berdiri tegar dengan monogami dan tak terceraikan. Dan itu tidak mudah!

Singkat cerita, temanku itu prihatin dengan kondisi di sekitarnya, di mana dua orang teman baiknya sedang berada dalam proses perceraian. Dua-duanya menikah di gereja Katolik. Yang satu sakramen, yang satu pemberkatan (salah satu pasangan bukan Katolik). Kedua istri bekerja dan permasalahan itu bukan karena pihak ketiga, namun karena materi dan perseteruan dengan keluarga suami.
Aku pribadi juga melihat beberapa perceraian, ada yang memang bermasalah dengan suami yang ternyata setelah dinikahi tidak memberikan nafkah, atau ada juga permasalahan dikarenakan si istri balik lagi dengan pacar lamanya dan tidak mempedulikan sang suami.
Banyak hal yang bisa menyebabkan perceraian itu terjadi.
Cerai menjadi kata yang begitu gampang terlontar ketika terjadi pertengkaran. Atau setidaknya pemikiran untuk pisah rumah sering menghinggapi banyak pasangan ketika timbul konflik. Tidak terbayangkan, mengapa perkawinan yang dulu diimpikan sebagai satu lembaga yang merupakan tempat bertumbuh dalam kasih, koq berbalik menjadi lembaga yang penuh sakit hati, di mana para anggotanya-suami dan istri- berlomba menyakiti hati satu sama lainnya?
Di mana kesetiaan yang diucapkan saat di altar? Yang bersama akan saling menanggung dalam susah senang, untung malang? Di mana kasih, di mana cinta tanpa syarat (unconditional love) yang mampu mengampuni tanpa batas? Tiba-tiba menguap entah ke mana.

Ketika berpacaran, semua terasa indah. Satu sama lain ingin menyenangkan pasangannya. Dan rasanya dunia indah sekali, milik berdua, yang lain ngontrak :).
Tidak demikian halnya ketika menikah. Banyak permasalahan yang dihadapi. Dari mengurus keuangan yang banyak menjadi sumber permasalahan (banyak perceraian juga dikarenakan manajemen uang ini), hubungan dengan mertua-ipar juga menduduki peran yang tak kalah pentingnya, dan of course WIL/PIL pihak ketiga.

Aku termenung. Memang begitu kompleksnya pernikahan, apalagi jika sudah diarungi sekian tahun. Aku baru akan memasuki tahun ke-3 pernikahan kami, masih balita. Aku tak hendak memberi ceramah, karena rasanya masih sangat hijau dalam perkawinan juga, namun aku hanya ingin menghimbau, sekaligus menghimbau diriku sendiri untuk tetap setia dalam perkawinan yang sudah diberikan Tuhan kepada semua yang sudah menikah dan memilih pasangan hidupnya.
We can try for a better married life! Kenapa tidak?

Kira-kira begini mungkin tips bagi kita semua:
1.Libatkan Tuhan sebagai pusat perkawinan itu sendiri.
Dengan melibatkan Tuhan sebagai ‘center’ akan menjadi lebih mungkin bagi kedua belah pihak untuk saling mengampuni. Tidak ada yang mustahil bila Tuhan campur tangan. Dan rasanya, tidak ada perselisihan yang tak terselesaikan, apabila kita mau melihat dari sisi orang lain, dari sudut pandang pasangan kita, dan bukan hanya terpaku dalam pemikiran dan anggapan bahwa diri sendiri yang paling benar.

2.Komunikasi, komunikasi, sekali lagi komunikasi.
Di tengah zaman gadget ini, rasanya komunikasi menjadi hal yang mudah, apabila kedua belah pihak menginginkan perbaikan. Ada handphone yang bisa mengirim SMS, MMS, dan saling bertukar cerita. Ada internet yang memungkinkan untuk chatting, e-mail, bahkan saling melihat wajah lewat web cam. Dan sebagainya. Tetapi masalahnya terkadang, dengan yang serumah, dengan pasangan, komunikasi rasanya koq mentok, rasanya sudah tidak banyak yang bisa dibicarakan, karena kalau dibicarakan, hasilnya perang. Jadi, untuk beberapa pasangan lebih baik diam, daripada ribut. Dan hasilnya, masing-masing semakin tenggelam dalam pikiran dan kesibukan masing-masing, yang ujung-ujungnya saling menjauh. Mengupayakan komunikasi yang lebih baik tidak mudah, namun hendaknya berusaha untuk itu. Dulu waktu berpacaran, kenapa yah bisa ngobrol berjam-jam? Lha koq setelah menikah, jadinya cuma bicara seperlunya? Ironis? Untuk banyak pasangan itulah yang terjadi.

3.Find a time on your own
Bo Sanchez, penulis kondang asal Filipina, selalu menyediakan waktu seminggu sekali untuk nge-date dengan sang istri. Hal yang patut dipuji, di tengah segala kesibukannya berkotbah keliling dunia, dia masih menyempatkan diri untuk membawa istrinya untuk menghabiskan waktu berdua saja. Ini penting untuk menciptakan atmosfir yang positif dalam keluarga, dalam rumah tangga. Untuk yang masih memiliki anak kecil, mungkin hal ini sulit, karena si anak belum bisa ditinggal. Namun, bisa dicari jalan keluarnya, mungkin tidak perlu seminggu sekali, namun sebulan atau dua bulan sekali. Bisa minta tolong saudara dekat untuk membantu mengawasi si anak. Atau apabila kedua pasangan rela menunda waktu berdua, waktu pergi dengan si anak juga bisa menjadi waktu yang berkualitas bagi si keluarga. Tidak perlu yang mahal, bisa ke taman bunga, taman bermain. Semua orang berusah menghemat di tengah krisis moneter ini, dan waktu yang berkualitas tidak sama dengan penghamburan uang semata. Bisa dicari jalan yang murah namun tetap berkualitas.

4.Mengingat kembali hal-hal positif pada diri pasangan.
Bagaimana kisah cinta Anda dulu? Apa yang membuatmu jatuh cinta jungkir balik karena si Dia? Apakah kepandaiannya? Apakah ketampanan/kecantikannya? Atau kebaikannya? Pasti ada sesuatu yang menjadikan kita menyukai pasangan kita dan mau menikah dengannya. Permasalahannya, di tengah kesibukan keseharian kita, hal itu menjadi terlupakan dan terlewatkan begitu saja, walaupun tampak di depan mata.
Juga mungkin dikarenakan kekesalan yang berlebihan terhadap hal yang berulang-ulang dilakukan pasangan, misalnya pelupa, sulit merapikan barang sehingga rumah berantakan, dll, membuat si pasangannya menjadi gampang marah, emosi, dan mengingat hal-hal kecil yang buruk itu. Sedangkan hal-hal baik, tertutup dengan hal-hal jelek.
Untuk jatuh cinta lagi pada pasangan sendiri, rasanya perlu menyediakan waktu untuk merenungkan hal-hal positif pada dirinya. Bila perlu menuliskannya dan membacanya kembali.
We need to fall in love with our spouse. Fall all over again!

5.Hubungan dengan keluarga besan.
Hal ini tidak mudah. Banyak pasangan mengeluhkan bahwa si mertua begini, si ipar begitu, dan sebagainya. Ini juga hal yang sensitif. Misalnya sang suami harus menerima keluhan tentang ibunya terus menerus dari istrinya sendiri. Kondisi suami berada pada suatu dilema, satu pihak ibu- pihak lain istri. Sungguh tidak mudah! Sang suami dalam istilah yang sering dipakai di sini, sandwiched, terjepit di tengah-tengah.
Dengan gaya dan cara yang berbeda, kita dibesarkan. Dan sebagai istri, hendaknya juga menyadari kesulitan si suami apabila istri berseteru dengan mertua. Tentu saja, adaptasi itu tidak mudah, apalagi harus tinggal dengan mertua yang sama sekali berbeda dengan orang tua kita. Namun, biar bagaimana pun berusaha menerima bahwa dia adalah ibu dari pasangan kita. (Permasalahan lebih sering terjadi antara istri dengan mertua perempuan, walaupun tidak tertutup kemungkinan juga bahwa suami dengan mertua juga bermasalah, namun di banyak permasalahan biasanya istri dengan mertua perempuan).
Pasangan kita tidak bisa memilih orang tuanya, dia juga adalah buah hati mereka yang dibesarkan dengan cinta. Sedapat mungkin kita berusaha hormat dengan pihak keluarganya. Walaupun banyak perbedaan yang kalau dibicarakan bisa memancing kericuhan, namun apa gunanya itu semua? Berusaha lebih positif dengan keluarga suami. Semoga dengan atmosfir dan niat positif itu, membawa perkembangan yang positif pula bagi keluarga kedua belah pihak.

6.Tidak merasa lebih baik dari pasangan.
Pasangan yang kita pilih, adalah yang terbaik di mata kita pada saat kita berpacaran dan mengenalnya. Maka, rasanya tidak adil juga bila kita menganggap diri lebih baik. Suami tidak baik rasanya bila menganggap remeh istri, walaupun dia hanya ibu rumah tangga. Dan sejujurnya ibu rumah tangga juga memiliki banyak peran yang tidak mudah juga, walaupun tidak dinilai dalam bentuk gaji ataupun uang.
Bagi para istri yang bekerja dan punya penghasilan (bahkan beberapa lebih tinggi dari suaminya), hendaknya tetap menghormati sang suami, karena dia adalah kepala keluarga. Bukan berarti memiliki uang lebih berarti bisa menginjak-injak harga diri suami.

Dalam Efesus, juga dikatakan sebagai berikut:
5:22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,
5:23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.
5:24 Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.
5:25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya
5:26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman,
5:27 supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.
5:28 Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.
5:29 Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat,
5:30 karena kita adalah anggota tubuh-Nya.
5:31 Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
5:32 Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.
5:33 Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.

Rasanya, kalau mau membicarakan semua perbedaan yang tak ada habisnya, tak akan pernah selesai. Namun, apabila berkeinginan untuk menikah dan saling setia dalam mempertahankan pernikahan yang monogami dan tak terceraikan, butuh usaha dari semua yang sudah menikah untuk memperkuat rumah tangga masing-masing dan melakukan semua yang bisa dilakukan untuk mempertahankan pernikahan itu.
Tidak ada yang mustahil bila melibatkan Tuhan. Semoga keinginan untuk tetap setia menjadi keinginan terdalam dalam hati setiap kita dan ingin mewujudkannya.
Menikah sebagai salah satu panggilan hidup yang diberikan Tuhan, hendaknya disertai juga dengan niat mempertahankannya till death do us part.
Last but not least, beberapa waktu lalu, aku baca di koran Singapura ini, ada pasangan yang merayakan hari jadi perkawinan mereka yang ke-72. Sang suami berumur 90-an, sementara sang istri 88. Kenapa tidak bisa? Contohnya sudah ada…:)

Singapore, 3 December 2008
-fon-
PS: thanks to Irene, my ex-colleague, for the idea to write down this.