Hari ini hujan membasahi bumi
Setelah sekian lama
Hanya kegersangan dan kekeringan
Melanda...
Hujan...
Dalam pandanganku saat ini
Alam makin warna warni
Hijaunya rumput
Merah-kuning-ungunya bunga
Semakin bertambah indah
Karena selama ini
Tertutup debu yang membungkus
Lapisan luarnya
Hati manusia pun pernah
Terbungkus kepedihan
Seperti debu yang melapisi tanaman
Dan sang hati sungguh merindukan
K-E-D-A-M-A-I-A-N
Bak datangnya hujan
di tengah kekeringan
Hujan...
Siramilah hatiku dengan kedamaian
Jika alam terlalu takut akan hujan berlebihan
yang menyebabkan kebanjiran...
Namun, aku di sini menantikan
Banjirnya hatiku
oleh damai, suka cita, dan
ketenangan yang tak tergantikan
dengan materi semisal uang
Hujan...
Datanglah!
Siramilah hati manusia yang keletihan
Dan berilah sedikitnya kelegaan
Dan hari menjadi semakin mudah dijalani
Karena tak lagi merasa sendiri.
Hujan...
Kehadiranmu dinantikan!
Singapore, 18 Mei 2009
-fon-
* Di tengah hujan: saat puisi ini tercipta dan dituliskan.
Chapters of Life, begitu saya senang menyebutnya. Karena bagi saya, hidup adalah babak demi babak, bab demi bab, yang menjadikan buku kehidupan saya sempurna.
Monday, May 18, 2009
Sunday, May 17, 2009
Ah...
Ah...
Kuhela nafas...
Hari yang panjang lewat sudah
Dengan banyak cerita tersisa...
Ketika terbaring di peraduan..
Terlintas satu per satu
Slide kehidupan
Tatkala kumulai perjuangan
Saat pertama tinggal di perantauan
Lelah tak menjadi halangan
Hanya hati teguh
Memandang masa depan
Ketika kemapanan mulai terasa
Kegigihan tidak lagi sama
Namun satu harap terus bergema
Melakukan yang terbaik yang kubisa
Ketika kemapanan beranjak pergi
Karena PHK dan resesi
Ah...
Kuhela nafas sekali lagi
Hampir aku lupa berterima kasih
Atas apa yang masih kumiliki
Helaan nafas panjang terjadi
Banyak kali ketika aku menyadari
Bahwa hidup dan kehidupan ini
Hanyalah sementara sekali
Ah...
Kali ini helaan nafasku
Akan tertuju pada rasa bahagiaku
Yang selama ini seolah bersembunyi
Namun kutahu
Dia ada di situ
Dan tak pernah pergi jauh dariku
Singapore, 18 Mei 2009
-fon-
*Ah, aku hanya ingin menuangkan rasa di hati malam ini:)
Kuhela nafas...
Hari yang panjang lewat sudah
Dengan banyak cerita tersisa...
Ketika terbaring di peraduan..
Terlintas satu per satu
Slide kehidupan
Tatkala kumulai perjuangan
Saat pertama tinggal di perantauan
Lelah tak menjadi halangan
Hanya hati teguh
Memandang masa depan
Ketika kemapanan mulai terasa
Kegigihan tidak lagi sama
Namun satu harap terus bergema
Melakukan yang terbaik yang kubisa
Ketika kemapanan beranjak pergi
Karena PHK dan resesi
Ah...
Kuhela nafas sekali lagi
Hampir aku lupa berterima kasih
Atas apa yang masih kumiliki
Helaan nafas panjang terjadi
Banyak kali ketika aku menyadari
Bahwa hidup dan kehidupan ini
Hanyalah sementara sekali
Ah...
Kali ini helaan nafasku
Akan tertuju pada rasa bahagiaku
Yang selama ini seolah bersembunyi
Namun kutahu
Dia ada di situ
Dan tak pernah pergi jauh dariku
Singapore, 18 Mei 2009
-fon-
*Ah, aku hanya ingin menuangkan rasa di hati malam ini:)
Saturday, May 16, 2009
Di Ambang Sadar
Ketika kesulitan memuncak…
Otak berpikir seolah tak ada jalan keluar
Semua jalan sepertinya buntu
Belok kanan, mampet
Belok kiri, mampet juga
Harusnya putar balik?
Eh, kena macet.
Keadaan sepertinya terhenti.
Tak ada jalan keluar
Terperangkap
Dan tak bisa lari ke mana pun
Terjebak
Dalam keadaan sulit
Pikiran bilang: seharusnya kamu begini
Seharusnya kamu begitu
Kamu telah melakukan kesalahan
Apa iya?
Terkadang aku bilang ke pikiranku,
Aku sudah lakukan yang terbaik
Semampuku
Pikiran terus menyerangku
Dan memojokkanku
Pikiran bilang aku bodoh
Aku salah langkah
Tapi… Apa pernah orang tidak salah langkah sekalipun?
Apakah ini suatu kebodohan yang tak bisa diperbaiki?
Pikiranku terus membombardirku dengan pertanyaan
Juga kekuatiran
Tak lupa, terselip kemarahan
Lagi-lagi soal kebodohan
Akan tingkah lakuku di masa lalu
Ketika diri ini sudah begitu dibenci
Oleh diri kita sendiri
Itulah saatnya terpojok
Dan terpuruk dalam lembah kekelaman terdalam
Di ambang sadar,
Kucoba bangkit lagi
Aku mau tetap waras
Karena terkadang pikiran ini membawaku melanglang buana
Terlalu jauh entah ke mana
Sehingga hampir saja
Sadarku juga meluap tanpa makna
Pikiranku menerawang jauh
Tidak!
Dia tidak lagi menghakimiku
Dia juga tidak menyalahkanku
Karena dia tengah diistirahatkan
Oleh obat penenang itu
Di batas sadar dan tidak
Di batas waras dan tidak
Sulit berucap kata bermakna
Sulit menerima kata positif
Karena semua telah disetir
Dengan kepedihan tanpa tara
Yang ada di dalam jiwa
Entahlah…
Kalau saja waktu bisa kuputar
Aku mau lebih pintar
Dalam menangani masalah yang datang menghajar
Agar aku tak gentar
Menghadapi apa pun yang tadinya membuatku gemetar
Dan tidak berlaku sok pintar
Mending aku juga belajar
Untuk kembali menerima semua yang tak menyenangkan ini
Sebagai bagian dari rencana Ilahi.
Singapore, 16 May 2009
-fon-
* merasakan kepedihan orang-orang yang kehilangan kesadaran akibat stress berlebihan. Simpati dan doaku bersama kalian! God bless u…
Otak berpikir seolah tak ada jalan keluar
Semua jalan sepertinya buntu
Belok kanan, mampet
Belok kiri, mampet juga
Harusnya putar balik?
Eh, kena macet.
Keadaan sepertinya terhenti.
Tak ada jalan keluar
Terperangkap
Dan tak bisa lari ke mana pun
Terjebak
Dalam keadaan sulit
Pikiran bilang: seharusnya kamu begini
Seharusnya kamu begitu
Kamu telah melakukan kesalahan
Apa iya?
Terkadang aku bilang ke pikiranku,
Aku sudah lakukan yang terbaik
Semampuku
Pikiran terus menyerangku
Dan memojokkanku
Pikiran bilang aku bodoh
Aku salah langkah
Tapi… Apa pernah orang tidak salah langkah sekalipun?
Apakah ini suatu kebodohan yang tak bisa diperbaiki?
Pikiranku terus membombardirku dengan pertanyaan
Juga kekuatiran
Tak lupa, terselip kemarahan
Lagi-lagi soal kebodohan
Akan tingkah lakuku di masa lalu
Ketika diri ini sudah begitu dibenci
Oleh diri kita sendiri
Itulah saatnya terpojok
Dan terpuruk dalam lembah kekelaman terdalam
Di ambang sadar,
Kucoba bangkit lagi
Aku mau tetap waras
Karena terkadang pikiran ini membawaku melanglang buana
Terlalu jauh entah ke mana
Sehingga hampir saja
Sadarku juga meluap tanpa makna
Pikiranku menerawang jauh
Tidak!
Dia tidak lagi menghakimiku
Dia juga tidak menyalahkanku
Karena dia tengah diistirahatkan
Oleh obat penenang itu
Di batas sadar dan tidak
Di batas waras dan tidak
Sulit berucap kata bermakna
Sulit menerima kata positif
Karena semua telah disetir
Dengan kepedihan tanpa tara
Yang ada di dalam jiwa
Entahlah…
Kalau saja waktu bisa kuputar
Aku mau lebih pintar
Dalam menangani masalah yang datang menghajar
Agar aku tak gentar
Menghadapi apa pun yang tadinya membuatku gemetar
Dan tidak berlaku sok pintar
Mending aku juga belajar
Untuk kembali menerima semua yang tak menyenangkan ini
Sebagai bagian dari rencana Ilahi.
Singapore, 16 May 2009
-fon-
* merasakan kepedihan orang-orang yang kehilangan kesadaran akibat stress berlebihan. Simpati dan doaku bersama kalian! God bless u…
Wednesday, May 13, 2009
Kubersimpuh
Dalam kerinduanku akan Engkau…
Kubersimpuh…
Duduk…
Hening…
Berdoa…
Mendengar suara-Mu…
Dalam rasa kangenku yang dalam akan hadir-Mu…
Kubersimpuh…
Mencoba mendekatkan kembali diriku…
Pada diri-Mu…
Dalam keletihan jiwaku…
Kutahu…
Tidak ada jalan yang lebih baik…
Selain bersimpuh…
Dan kembali memuji nama-Mu…
Dalam galaunya kehidupanku…
Kutemukan kembali rasa damai itu…
Saat kubersimpuh…
Hanya kepada-Mu…
Dalam kacaunya pikiran yang pernah mengganggu…
Kubersimpuh…
Dan aku tahu…
Kau datang untuk menenangkan kembali kekacauan itu…
Dalam kebahagiaanku…
Kubersimpuh…
Terima Kasih, Tuhan…
Atas seluruh karunia-Mu…
Dalam kesukacitaanku…
Kubersimpuh…
Karena aku tahu…
Di atas sana…
Kau pun tersenyum bersamaku…
Dalam keceriaanku…
Kubersimpuh…
Dan berbisik kepada-Mu…
Engkau sediakan yang terbaik bagiku…
Tuhan…
Aku mau…
Tetap bersimpuh…
Dengan kedua lututku…
Dalam susah senangku…
Dalam sendu cerianya lagu kehidupanku…
Aku mau memeluk-Mu
Erat-erat…
Karena hanya Kau sahabat sejatiku…
Kembali kubersimpuh…
Memuji kebesaran-Mu…
Yang tak pernah habis-habisnya…
Terucap dari mulutku…
Singapore, 13 May 2009
-fon-
Kubersimpuh…
Duduk…
Hening…
Berdoa…
Mendengar suara-Mu…
Dalam rasa kangenku yang dalam akan hadir-Mu…
Kubersimpuh…
Mencoba mendekatkan kembali diriku…
Pada diri-Mu…
Dalam keletihan jiwaku…
Kutahu…
Tidak ada jalan yang lebih baik…
Selain bersimpuh…
Dan kembali memuji nama-Mu…
Dalam galaunya kehidupanku…
Kutemukan kembali rasa damai itu…
Saat kubersimpuh…
Hanya kepada-Mu…
Dalam kacaunya pikiran yang pernah mengganggu…
Kubersimpuh…
Dan aku tahu…
Kau datang untuk menenangkan kembali kekacauan itu…
Dalam kebahagiaanku…
Kubersimpuh…
Terima Kasih, Tuhan…
Atas seluruh karunia-Mu…
Dalam kesukacitaanku…
Kubersimpuh…
Karena aku tahu…
Di atas sana…
Kau pun tersenyum bersamaku…
Dalam keceriaanku…
Kubersimpuh…
Dan berbisik kepada-Mu…
Engkau sediakan yang terbaik bagiku…
Tuhan…
Aku mau…
Tetap bersimpuh…
Dengan kedua lututku…
Dalam susah senangku…
Dalam sendu cerianya lagu kehidupanku…
Aku mau memeluk-Mu
Erat-erat…
Karena hanya Kau sahabat sejatiku…
Kembali kubersimpuh…
Memuji kebesaran-Mu…
Yang tak pernah habis-habisnya…
Terucap dari mulutku…
Singapore, 13 May 2009
-fon-
Sunday, May 10, 2009
Dua Sejoli
Dua sejoli menjalin cinta…
Saat mereka pertama kali bertemu semasa SMA
Rasanya dunia milik berdua
Dan cinta mereka begitu nyata
Dari SMA mereka melanjutkan ke universitas yang berbeda
Namun, mereka tak terpisahkan jua
Malah semakin lengket saja
Bak kumbang dengan madunya
Bak roti dengan selainya
Bak kopi dengan gulanya
Ah, rasanya begitu indah
Dan setamat kuliah, bekerja, mereka pun berencana
Untuk saling mengikrarkan cinta
Apa lagi yang ditunggu pula?
Bukankah mereka sudah saling cocok satu dengan lainnya?
Pernikahan dirancang sedemikian rupa
Yang terbaik yang mereka bisa
Manis, penuh keinginan untuk mewujudkan cita-cita bahagia
Yang sudah tak sabar ingin mereka raih bersama
Setelah tak lama mereka menikah
Lahirlah anak-anak pelengkap keharmonisan mereka
Satu, dua, tiga…
Menambah keceriaan mereka sekeluarga
Sepuluh tahun sesudah perkawinan mereka
Entah mengapa
Sepertinya mereka kehilangan arah
Sehingga yang berpacaran lebih dari tujuh tahun lamanya
Plus perkawinan yang memasuki satu dasa warsa
Goncang seketika
Sepertinya, tahun-tahun yang mereka lalui sekian lama
Tujuh belas tahun tepatnya
Tak berarti apa-apa
Sungguh menyedihkan dan membuat merana
Sekarang mereka tak lagi saling peduli
Boro-boro saling mengerti
Yang ada hanya caci maki
Dan piring terbang di sana-sini
Menyedihkan sekali
Terkadang apa yang dimulai baik di awal
Berakhir tragis dan berantakan
Mengecewakan memang
Tapi apakah memang sudah tiada jalan?
Ataukah hanya karena sang ego
Jadi tak mau saling memaafkan?
Memang mengarungi perjalanan kehidupan
Amat banyak yang tak bisa ditebak pikiran
Hanya bisa berjalan dalam Tuhan
Karena pasangan mungkin akan mengecewakan
Namun Tuhan tidak.
Dalam hidup perkawinan yang berpusat pada Tuhan
Selalu ada jalan dan pengampunan
Yang harus rela dilakukan
Menekan kemarahan dan gantilah dengan senyuman
Semoga ada jalan keluar dari tiap permasalahan
Dua sejoli
Yang tadinya berseteru
Sekarang kembali bersatu
Mereka ingat janji setia mereka dulu
Pada saat mereka berkata, “ I DO”
Ya, sayangku…
Aku akan setia padamu
Dalam untung dan malang
Dalam sehat dan sakit
Dalam kaya atau miskin
Dalam suka maupun duka
Dunia tawarkan banyak godaan
Mulai dari TTM sampai selingkuh beneran
Namun, jangan sampai kekuatan cinta dikalahkan
Hanya karena nafsu dan kebosanan
Dua sejoli
Saling memandang penuh arti
Dan saling berjanji
Untuk kembali saling mengasihi
Bukan hanya untuk sehari
Namun sampai akhir nanti
Singapore, May 11, 2009
-fon-
* persembahan untuk pasangan-pasangan yang dilanda kelesuan dalam pernikahan. Jangan ragu untuk tetap berjuang dan bertahan melawan godaan zaman edan. Tetap setia pertahankan perkawinan dengan cinta dan melibatkan Tuhan. Smoga bisa…Semangat!:)
Saat mereka pertama kali bertemu semasa SMA
Rasanya dunia milik berdua
Dan cinta mereka begitu nyata
Dari SMA mereka melanjutkan ke universitas yang berbeda
Namun, mereka tak terpisahkan jua
Malah semakin lengket saja
Bak kumbang dengan madunya
Bak roti dengan selainya
Bak kopi dengan gulanya
Ah, rasanya begitu indah
Dan setamat kuliah, bekerja, mereka pun berencana
Untuk saling mengikrarkan cinta
Apa lagi yang ditunggu pula?
Bukankah mereka sudah saling cocok satu dengan lainnya?
Pernikahan dirancang sedemikian rupa
Yang terbaik yang mereka bisa
Manis, penuh keinginan untuk mewujudkan cita-cita bahagia
Yang sudah tak sabar ingin mereka raih bersama
Setelah tak lama mereka menikah
Lahirlah anak-anak pelengkap keharmonisan mereka
Satu, dua, tiga…
Menambah keceriaan mereka sekeluarga
Sepuluh tahun sesudah perkawinan mereka
Entah mengapa
Sepertinya mereka kehilangan arah
Sehingga yang berpacaran lebih dari tujuh tahun lamanya
Plus perkawinan yang memasuki satu dasa warsa
Goncang seketika
Sepertinya, tahun-tahun yang mereka lalui sekian lama
Tujuh belas tahun tepatnya
Tak berarti apa-apa
Sungguh menyedihkan dan membuat merana
Sekarang mereka tak lagi saling peduli
Boro-boro saling mengerti
Yang ada hanya caci maki
Dan piring terbang di sana-sini
Menyedihkan sekali
Terkadang apa yang dimulai baik di awal
Berakhir tragis dan berantakan
Mengecewakan memang
Tapi apakah memang sudah tiada jalan?
Ataukah hanya karena sang ego
Jadi tak mau saling memaafkan?
Memang mengarungi perjalanan kehidupan
Amat banyak yang tak bisa ditebak pikiran
Hanya bisa berjalan dalam Tuhan
Karena pasangan mungkin akan mengecewakan
Namun Tuhan tidak.
Dalam hidup perkawinan yang berpusat pada Tuhan
Selalu ada jalan dan pengampunan
Yang harus rela dilakukan
Menekan kemarahan dan gantilah dengan senyuman
Semoga ada jalan keluar dari tiap permasalahan
Dua sejoli
Yang tadinya berseteru
Sekarang kembali bersatu
Mereka ingat janji setia mereka dulu
Pada saat mereka berkata, “ I DO”
Ya, sayangku…
Aku akan setia padamu
Dalam untung dan malang
Dalam sehat dan sakit
Dalam kaya atau miskin
Dalam suka maupun duka
Dunia tawarkan banyak godaan
Mulai dari TTM sampai selingkuh beneran
Namun, jangan sampai kekuatan cinta dikalahkan
Hanya karena nafsu dan kebosanan
Dua sejoli
Saling memandang penuh arti
Dan saling berjanji
Untuk kembali saling mengasihi
Bukan hanya untuk sehari
Namun sampai akhir nanti
Singapore, May 11, 2009
-fon-
* persembahan untuk pasangan-pasangan yang dilanda kelesuan dalam pernikahan. Jangan ragu untuk tetap berjuang dan bertahan melawan godaan zaman edan. Tetap setia pertahankan perkawinan dengan cinta dan melibatkan Tuhan. Smoga bisa…Semangat!:)
Monday, May 4, 2009
X-Men Origins: Wolverine Mengajarkan Saya…
Kemarin, saya beruntung mendapatkan kesempatan menonton X-Men Origins: Wolverine. Dan film yang merupakan prequel dari X-Men ini, sedikit banyak menggoreskan kesan mendalam di hati saya. Setidaknya, Hugh Jackman berhasil menggores hati saya dengan kuku-kuku besinya…hahaha… Jokin’ :)
Saya hanya akan mencuplik sebagian kecil dari Wolverine, karena ini bukan review terhadap film tersebut, namun setidaknya saya belajar sesuatu dari film itu. And I’d like to share it with you, friends! :)
Setting: Northwest Territories, tahun 1845.
Film ini dibuka dengan adegan James kecil berada di tempat tidur, dalam kondisi kurang sehat. Ditemani oleh Victor yang juga berada di kamar. Suasana berubah secara cepat, ketika ayah James yang tadinya berada di dalam kamar, langsung keluar, dan terdengar keributan. James dan Victor bergegas keluar. Dan James melihat ayahnya terkulai lemas di lantai, tewas seketika, akibat ulah seorang pria tak dikenal yang berada bersama ibunya. Lalu, si kecil James, dalam kemarahan akibat ditinggal ayahnya, langsung mengeluarkan kuku-kukunya, sebagai bagian dari kekuatan extra, kekuatan super yang dimilikinya. Menghampiri si pria, menusukkan cengkeraman cakarnya dan membunuhnya. Sebelum meninggal, si pria berucap, “ He wasn’t your real father, SON!”
Maka, James kecil lari dengan ketakutan, karena dia telah membunuh ayah kandungnya sendiri, yang dikira seorang penjahat yang telah membunuh ayah angkat/ayah tirinya.
Reflection…
Sering kali kemarahan membuat kita melakukan hal-hal yang tidak seharusnya. Yang bukan saja melukai orang lain secara mental dengan kata-kata kasar misalnya, namun terkadang sampai melakukan tindakan kriminal seperti melukai dengan senjata tajam atau sampai kepada yang lebih ekstrim, membunuh. Dan konyolnya, James malah membunuh ayah kandungnya sendiri. Dalam kemarahan dan salah sangka yang besar dia melakukannya. Apa yang dilihat, langsung diasumsikan berdasarkan pemikirannya, dan langsung: HAJAR Bleh!
Tanpa mengetahui permasalahan yang sebetulnya terjadi, kita sering melihat, langsung menilai dan terkadang membalas. Saat kita pikir kita disakiti atau diancam, kita langsung bereaksi. Dan disengaja atau tidak, reaksi kita sering melukai orang lain. Dan adegan di awal film Wolverine itu mengajarkan saya untuk tidak langsung menghakimi apa yang tengah terjadi di depan mata saya. Karena saya bisa keliru, dan kalau keliru itu dibiarkan, bisa berakibat fatal. Moga-moga saya bisa mencari tahu, apa yang sebenarnya tengah terjadi, mempertimbangkannya, baru kemudian bereaksi. Dan moga-moga juga dengan demikian, saya tidak melakukan hal-hal yang menyakiti orang lain. Terkadang, tentunya, dengan keterbatasan sebagai manusia, saya pun tidak mampu untuk terus bersikap ‘wise’ (bijaksana). Namun setidaknya, hari ini saya ingin berusaha untuk tidak judgmental dengan pikiran saya terhadap kejadian yang ada walaupun itu di depan mata sekali pun.
Wolverine mengajarkan saya untuk lebih berhati-hati dalam menilai karena saya bisa salah. Saya hanya manusia. Kalau superhero saja bisa salah, apalagi saya? Saya hanya seorang manusia biasa.
Setting: Apartemen kami, pukul 15.22, tahun 2009
Saya bukan superhero. Namun, mudah-mudahan saya bisa menjadi manusia yang lebih baik hari ini. Karena menyadari saya sering salah, salah sangka-salah mengkomunikasikan-salah tafsir-salah omong dan salah-salah yang lain.
Yah, namanya juga manusia… Bukan excuse, namun at least menyadari kelemahan dan mau menjadi lebih baik. Smoga bisa…:)
Singapore, May 4, 2009
-fon-
* thanks to hubby utk nonton barengnya. Thanks to my in laws utk jagain Audrey selama kami nonton :)
Saya hanya akan mencuplik sebagian kecil dari Wolverine, karena ini bukan review terhadap film tersebut, namun setidaknya saya belajar sesuatu dari film itu. And I’d like to share it with you, friends! :)
Setting: Northwest Territories, tahun 1845.
Film ini dibuka dengan adegan James kecil berada di tempat tidur, dalam kondisi kurang sehat. Ditemani oleh Victor yang juga berada di kamar. Suasana berubah secara cepat, ketika ayah James yang tadinya berada di dalam kamar, langsung keluar, dan terdengar keributan. James dan Victor bergegas keluar. Dan James melihat ayahnya terkulai lemas di lantai, tewas seketika, akibat ulah seorang pria tak dikenal yang berada bersama ibunya. Lalu, si kecil James, dalam kemarahan akibat ditinggal ayahnya, langsung mengeluarkan kuku-kukunya, sebagai bagian dari kekuatan extra, kekuatan super yang dimilikinya. Menghampiri si pria, menusukkan cengkeraman cakarnya dan membunuhnya. Sebelum meninggal, si pria berucap, “ He wasn’t your real father, SON!”
Maka, James kecil lari dengan ketakutan, karena dia telah membunuh ayah kandungnya sendiri, yang dikira seorang penjahat yang telah membunuh ayah angkat/ayah tirinya.
Reflection…
Sering kali kemarahan membuat kita melakukan hal-hal yang tidak seharusnya. Yang bukan saja melukai orang lain secara mental dengan kata-kata kasar misalnya, namun terkadang sampai melakukan tindakan kriminal seperti melukai dengan senjata tajam atau sampai kepada yang lebih ekstrim, membunuh. Dan konyolnya, James malah membunuh ayah kandungnya sendiri. Dalam kemarahan dan salah sangka yang besar dia melakukannya. Apa yang dilihat, langsung diasumsikan berdasarkan pemikirannya, dan langsung: HAJAR Bleh!
Tanpa mengetahui permasalahan yang sebetulnya terjadi, kita sering melihat, langsung menilai dan terkadang membalas. Saat kita pikir kita disakiti atau diancam, kita langsung bereaksi. Dan disengaja atau tidak, reaksi kita sering melukai orang lain. Dan adegan di awal film Wolverine itu mengajarkan saya untuk tidak langsung menghakimi apa yang tengah terjadi di depan mata saya. Karena saya bisa keliru, dan kalau keliru itu dibiarkan, bisa berakibat fatal. Moga-moga saya bisa mencari tahu, apa yang sebenarnya tengah terjadi, mempertimbangkannya, baru kemudian bereaksi. Dan moga-moga juga dengan demikian, saya tidak melakukan hal-hal yang menyakiti orang lain. Terkadang, tentunya, dengan keterbatasan sebagai manusia, saya pun tidak mampu untuk terus bersikap ‘wise’ (bijaksana). Namun setidaknya, hari ini saya ingin berusaha untuk tidak judgmental dengan pikiran saya terhadap kejadian yang ada walaupun itu di depan mata sekali pun.
Wolverine mengajarkan saya untuk lebih berhati-hati dalam menilai karena saya bisa salah. Saya hanya manusia. Kalau superhero saja bisa salah, apalagi saya? Saya hanya seorang manusia biasa.
Setting: Apartemen kami, pukul 15.22, tahun 2009
Saya bukan superhero. Namun, mudah-mudahan saya bisa menjadi manusia yang lebih baik hari ini. Karena menyadari saya sering salah, salah sangka-salah mengkomunikasikan-salah tafsir-salah omong dan salah-salah yang lain.
Yah, namanya juga manusia… Bukan excuse, namun at least menyadari kelemahan dan mau menjadi lebih baik. Smoga bisa…:)
Singapore, May 4, 2009
-fon-
* thanks to hubby utk nonton barengnya. Thanks to my in laws utk jagain Audrey selama kami nonton :)
Saturday, May 2, 2009
Mengurai Benang Kusut
Sesosok pantulan wajah di cermin,
Tak ada senyuman,
Yang ada hanya raut cemberut,
Tersenyum kecut,
Dengan dahi sedikit berkerut,
Mungkin ini yang namanya benang kusut,
Hasil dari pikiran yang berlarut-larut.
Pikiran…
Salah satu tersangka yang jadi biang kerok
Dan selalu jadi benang kusut
Saking kusutnya
Seperti si meong dalam film animasi
Yang tengah mencengkeram kuat segelondong benang wol
Dan menguraikannya berhamburan ke lantai
Terburai dan kusut
Sulit mengembalikannya kepada gelondongan semula…
Pikiran yang kusut,
Sulit dicari ujung pangkalnya,
Terkadang dia sangat mengganggu
Bahkan sampai membuat insomnia
Bukan karena apa-apa
Sederhana saja,
Karena si benang terlalu kusut
Mencengkeram kedamaian yang seharusnya kita punya
Perasaan…
Perasaan juga bisa kusut
Kacau, bak rambut awut-awut
Namun, sekali lagi, bila dia berkuasa,
Kadang orang jadi tak tentu arah,
Terkadang seperti orang gila,
Yang bisa nangis sambil tertawa,
Kusut, awut-awut, cemberut,
Lama-lama bisa bikin keriput…
Pikiran dan perasaan…
Kadang manusia dibuat lelah
Dipermainkan mereka
Diombang-ambing kiri dan kanan
Tak tentu arah.
Benang kusut ketika dicoba
Ditelusuri asal muasalnya
Selalu ada dari bagian masa lalu
Yang muncul kembali, menyeruak, dan sangat mengganggu
Kesedihan, luka, kepahitan, dan (mungkin) pengkhianatan
Semua hal yang menyakitkan
Menelusuri benang kusut,
Terkadang kita pun mendapati,
Bahwa banyak juga terjadi
Dari kekuatiran akan masa depan
Yang semakin kelihatan tak pasti
Mengurai benang kusut?
Tidaklah mudah…
Karena banyak kali kita diperbudak
Benang kusut pikiran dan perasaan,
Lebih daripada kesadaran
Yang s’harusnya tetap bertahan
Yang terbaik yang bisa dilakukan
Melatih kesadaran
Dan hidup untuk saat ini
Detik ini
Jam ini
Hari ini
Benang kusut?
Mungkin tetap ada dan tak bisa pergi
Setidaknya asal dia tidak mendominasi
Kedamaian yang dirindukan di hati.
Singapore, 2 Mei 2009
-fon-
Tak ada senyuman,
Yang ada hanya raut cemberut,
Tersenyum kecut,
Dengan dahi sedikit berkerut,
Mungkin ini yang namanya benang kusut,
Hasil dari pikiran yang berlarut-larut.
Pikiran…
Salah satu tersangka yang jadi biang kerok
Dan selalu jadi benang kusut
Saking kusutnya
Seperti si meong dalam film animasi
Yang tengah mencengkeram kuat segelondong benang wol
Dan menguraikannya berhamburan ke lantai
Terburai dan kusut
Sulit mengembalikannya kepada gelondongan semula…
Pikiran yang kusut,
Sulit dicari ujung pangkalnya,
Terkadang dia sangat mengganggu
Bahkan sampai membuat insomnia
Bukan karena apa-apa
Sederhana saja,
Karena si benang terlalu kusut
Mencengkeram kedamaian yang seharusnya kita punya
Perasaan…
Perasaan juga bisa kusut
Kacau, bak rambut awut-awut
Namun, sekali lagi, bila dia berkuasa,
Kadang orang jadi tak tentu arah,
Terkadang seperti orang gila,
Yang bisa nangis sambil tertawa,
Kusut, awut-awut, cemberut,
Lama-lama bisa bikin keriput…
Pikiran dan perasaan…
Kadang manusia dibuat lelah
Dipermainkan mereka
Diombang-ambing kiri dan kanan
Tak tentu arah.
Benang kusut ketika dicoba
Ditelusuri asal muasalnya
Selalu ada dari bagian masa lalu
Yang muncul kembali, menyeruak, dan sangat mengganggu
Kesedihan, luka, kepahitan, dan (mungkin) pengkhianatan
Semua hal yang menyakitkan
Menelusuri benang kusut,
Terkadang kita pun mendapati,
Bahwa banyak juga terjadi
Dari kekuatiran akan masa depan
Yang semakin kelihatan tak pasti
Mengurai benang kusut?
Tidaklah mudah…
Karena banyak kali kita diperbudak
Benang kusut pikiran dan perasaan,
Lebih daripada kesadaran
Yang s’harusnya tetap bertahan
Yang terbaik yang bisa dilakukan
Melatih kesadaran
Dan hidup untuk saat ini
Detik ini
Jam ini
Hari ini
Benang kusut?
Mungkin tetap ada dan tak bisa pergi
Setidaknya asal dia tidak mendominasi
Kedamaian yang dirindukan di hati.
Singapore, 2 Mei 2009
-fon-
Subscribe to:
Posts (Atom)