Tuesday, August 18, 2009

There’s a Giant in Every Ant


source of picture---http://thundafunda.com/393/images/wallpapers/ants-pictures/ants-ona-leaf-in-my-garden-ants-pictures.jpg


Hari-hari yang terasa berat…
Ketika kegagalan datang silih berganti.
Bukan hanya sekali…
Namun, berkali-kali.
Ada istilah keledai pun tidak akan jatuh ke lubang yang sama dua kali
Kecuali keledai yang amat bodoh.

Ketika kegagalan menyapa…
Dengan ramah…
Bukan sekali…
Dua, tiga, empat, bahkan mungkin…
Puluhan atau ratusan kali…
Mungkin perasaan itu yang dominan…
Merasa bak keledai yang bodoh..
Super bodoh malah..
Karena jatuh ke lubang kegagalan yang sama
Berkali-kali…

Di saat itu, diri merasa kecil…
Amat kecil…
Sekecil semut…
Atau yang lebih ekstrim…
Merasa diri bagaikan kuman
Yang hanya bisa dilihat melalui mikroskop…
Jiwa merasa kerdil…
Kecil…
Tak mampu melakukan apa-apa…

Sudah berusaha sekuat tenaga
Hasilnya tak ada…
Investasi sana-sini…
Bukannya untung malah merugi…
Kerja serabutan sampai kurang tidur…
Uangnya tidak cukup sampai akhir bulan..

Tetapi…
Biarpun merasa kecil…
Kerdil…
Tak berarti…
Tak mampu menatap kehidupan…
Bak semut yang kecil itu….
Di balik itu semua,
di balik semua hal yang kecil dan kerdil yang ada di diri seorang semut
Ada satu raksasa yang menunggu…
Untuk dibangkitkan…
Untuk ditelusuri…
Untuk dibangunkan dari alam tidurnya

Selalu ada satu hal yang setidaknya mampu kita lakukan dengan baik.
Mungkin amat berbeda dengan orang lain.
Dan mungkin sama sekali buat kita tak berarti.
Tapi cobalah ingat lagi…
PASTI ada sesuatu yang positif di diri.

Gali kekuatan dan potensi diri.
Tak mungkin Tuhan tak berikan talenta sama sekali.
Yang mungkin terjadi…
Kita terlalu fokus pada kegagalan dan kesulitan
Sehingga tak mampu melihat cahaya terang
Potensi dalam diri
Sebagaimana intan yang belum diasah…

Inside every ant, there’s a giant…
Jangan pernah anggap dirimu tak berarti.
Ketika perasaan itu singgah lagi…
Diam dan renungkan kembali…
PASTI ada sesuatu yang bisa kau lakukan untuk dunia ini.
Biarpun dalam skala kecil yang tampaknya tak berarti.
Namun, dari yang kecil itu, asalkan setia…
Bukan tidak mungkin suatu saat nanti…
Akan tumbuh menjadi raksasa yang baik hati
Yang tidak menakutkan…
Karena tahu diri…
Dan menyadari…
There’s also an ant inside every giant…
Di dalam setiap kekuatan, juga pasti ada kelemahan.
Menerima diri. Apa adanya.
Tetap meng-upgrade diri.
Jangan berhenti.
Sehingga apa pun keadaan kita nanti…
Ant or Giant?
Sudah tidak jadi masalah lagi…

Ketika sukses, kita mampu bersyukur dan tak lupa diri.
Sekaligus ketika gagal, kita juga mampu introspeksi
Dan tidak terbawa arus depresi…
Teori tak pernah mudah dijalankan…
Namun, itu yang harus kita perjuangkan.
Sembari menyadari…
Sekali lagi…
Kalau itu semua hanyalah penggalan-penggalan kisah kehidupan
Yang sudah dirangkai dengan sempurnanya oleh sang Pencipta.

Singapore, 19 August 2009
-fon-
* Terinspirasi tontonan anakku: Wordworld di Playhouse Disney, episode: There’s an Ant in Every Giant.

Monday, August 17, 2009

Zee

Source: http://community.thenewstribune.com/node/33557

“Zee!”

Dia menoleh ke arahku ketika kupanggil namanya. Sungguh wajahnya tidak ganteng bagiku. Agak aneh. Sedikit lucu malah. Dan pertemanan antar lawan jenis yang kami lakoni sekian tahun lamanya tidak juga berkembang ke arah cinta seperti kata orang. Friends turn to lovers? Ah, itu tidak terjadi bagi kami. Bagiku, dia tetap sahabat baik. Teramat baik malah!
Aku mendapatkan banyak masukan, pencerahan, nasihat, yang semuanya sangat sesuai di hatiku. Banyak kali aku mendapati orang yang menasihati sesuai maunya sendiri. Apa yang menurut mereka terbaik. Tapi, apa yang mereka kira terbaik dari mata mereka, bukan selalu yang terbaik bagi yang mengalaminya, bukan?
Lagi-lagi, itu tak pernah terjadi pada Zee-ku! Aku puas curhat dengan dia, dua tiga jam sehari. Sampai malam telah pelan-pelan merangkak menjelang dini hari, menyongsong fajar, menyambut pagi.
Pernah, saking lupa waktunya kami, itu percakapan terlama kami, 4 jam. Nonstop.

Zee dan aku tak menyadari bahwa kami perlu meningkatkan relasi kami ke arah yang lebih jauh, ke jenjang yang lebih serius. Kalau nantinya malah jadi saling mengikat dan melukai, buat apa? Mending seperti sekarang, sama-sama senang, tidak ada ikatan, tidak juga ada pacar. Hanya sebatas sahabat.
Mungkin istilah yang tepat Teman Tapi Mesra atawa TTM? Bisa juga…

Sampai suatu ketika…
Aku membuka pekarangan rumah Zee. Rumah yang sederhana, tidak besar, namun apik. Selalu membawaku ingin terus main ke sana. Aku yang sebatang kara di ibukota merasakan kehangatan hanya berada di rumah Zee.
Saat itu Zee hanya seorang diri di rumahnya. Ayah ibunya tengah keluar kota menjenguk saudara yang sakit. Dan pembantunya tengah ke pasar membeli beberapa keperluan dapur.

Aku dan Zee langsung ngobrol dengan riangnya. Tanpa kami sadari, karena saking serunya dia mau memperlihatkan koleksi buku terbaru yang tengah dia baca, kami ada di kamar Zee, berdua saja.
Dan ketika aku membuka-buka buku Zee, tiba-tiba tangannya mengelus rambutku. Aku terkejut! Ini bukan Zee…! Koq, Zee jadi begini???
Dan kulihat pandangan matanya berubah lembut. Dan sebentar lagi, berubah seperti ingin menerkamku… Tiba-tiba, rasa ketakutan begitu menguasaiku.
Aku lari, bergegas meninggalkan rumah Zee, dengan seribu tanya di hati.
Kurang ajar, kamu…Aku tidak terima, Zee!

Malam itu di kamarku…
Aku merenungkan kejadian siang itu. Ada rasa lembut yang mulai masuk di kedalaman hatiku. Dan pelan-pelan mulai menjalari seluruh otakku. Yah, kenapa tidak? Mungkin Zee betul-betul suka padaku. Mungkin Zee mencintaiku. Dan kenyamanan ini? Kenyamanan yang kurasakan saat bersamanya tak bisa tergantikan oleh siapa pun. Kapan pun. Jadi, untuk apa aku bersusah payah mencari si Dia yang lain?
Kalau memang Zee mencintaiku dan kuyakini hal itu… Akan kuterima dirinya dengan sepenuh hati.
Memang, wajahnya biasa. Cenderung jelek malah. Tapi, aku juga tidak cantik-cantik amat. Aku bukan Tamara Blezinsky, Luna Maya, atau Charlize Theron. Aku cuma wanita biasa dan sederhana.
Kuputuskan untuk mengundang Zee ke rumahku di malam minggu nanti. Sambil memimpikan Zee akan jadi kekasihku. Kekasih yang sempurna bagiku.
Pasti hubungan kami akan sangat indah, karena kami memiliki minat yang sama. Dan bisa ngobrol berjam-jam lamanya.
Ah, Zee… kenapa tiba-tiba aku kangen kamu???

Sabtunya…
Zee datang ke rumahku. Seperti keinginanku.
Zee juga menghampiriku dan bercakap-cakap ramah denganku. Sama seperti dalam anganku.
Zee mulai menjelaskan mengapa dia melakukan hal itu. Kejadian memalukan di kamarnya beberapa waktu silam.

“ Begini, dik… Aku juga tidak tahu mengapa aku bisa membelai rambutmu dan sepertinya ingin sekali memelukmu. Aku pikir tadinya aku jatuh cinta padamu. Setelah ngobrol intensif kita setiap hari, beberapa jam, aku berpikir mungkin pesonamu sudah memasuki kepala dan hatiku. Tetapi, setelah kudalami lagi, ternyata itu bukan cinta. Itu hanya Chemistry… bla bla bla bla….”

Sudah tidak jelas lagi, apa yang dikatakan Zee. Dia menolakku! Keterlaluan…Aku marah, setelah apa yang dilakukannya padaku. Terpikir juga, untung aku masih dilindungi. Coba kalau aku terlanjur menyerah kepadanya di saat itu…?
Hiiii, ngeriiii…
Aku bergidik memikirkan kemungkinan yang tak pernah terjadi itu.
Dan kimia, chemistry, atau apa lah namanya itu…!
Aku tidak peduli. Aku juga tak pernah suka fisika, biologi atau kimia. Enak saja bagi Zee menyalahkan chemistry. Tapi itu bagiku dia tak mampu mengontrol dirinya.
Tiba-tiba rasa kagumku pada Zee sirna. Semudah itu saja! Setelah pertemanan kami bertahun-tahun. Setelah kukira this friendship could turn to lover.
Setelah tragedi kamar Zee. Setelah percakapan sore ini.
Aku memutuskan untuk mempersilakan Zee pergi. Dari kamarku, dari rumahku, dari hidupku.
Bye-bye, Zee… Bagian yang akan terus kuingat adalah kedekatan kita dulu. Tapi sekarang? Itu sudah bagian masa lalu.

“Bangunlah dari mimpimu, sayangku!”

Aku memotivasi diriku. Aku tengah low-bat. Zee menyerap begitu banyak energiku. Aku sedih, tapi mungkin ini yang terbaik bagiku. Hatiku terlalu sakit untuk penolakan ini. Dan sebetulnya aku tak pernah mencintainya. Hanya mengaguminya dan senang berbicara dengannya. Atau… inikah yang namanya witing tresno jalaran soko kulino? Cinta datang karena kebiasaan, karena sering bersama?
Entah…!
Aku masih belum sanggup mendefinisikan hal itu. Cinta ataukah rasa kagum?
Hmmm, tidak jelas…
Yang pasti, aku mulai resah mendekati malam tiba, karena aku harus mencari alternatif aktifitas lain. Sendiri. Tanpa Zee.

Singapore, 17 August 2009
-fon-
* in the spirit of freedom because of the independence day, let’s free your soul to be more creative, to be more adventurous in this life.

Sunday, August 16, 2009

Tangisan Bawang

*** cerpen

“ Tolol,” begitu kata hatiku.

Tidak biasanya aku memaki diriku sendiri. Tapi saat ini, lagi-lagi mataku pedas dengan diiringi derai air mata yang mengucur deras, hanya karena mengupas dan memotong bawang. Tak terelakkan ketika bawang merah dan bawang Bombay itu kupotong-potong untuk keperluan memasak.
Menangis bukan hal yang sering kulakukan. Aku terlanjur membekukan hatiku. Mungkin karena aku sudah terluka parah, jadi perasaan-perasaan semacam ini kuanggap sepi saja. Tanpa arti.
Kuambil tissue, kuseka lagi kedua mataku dan sebagian wilayah pipiku, sambil hatiku menertawai ketololanku, karena sekian lama memasak, masih belum fasih juga memotong bawang tanpa menangis.

“ Tolol, “ begitu lagi kata hatiku.

Sejak Mas Pramono yang menikahiku 10 tahun lalu pergi beberapa hari yang lalu, aku juga tidak menangis. Yang aku lakukan hanya melongo, melamun, dan melakukan napak tilas perjalanan hidupku selama 10 tahun terakhir ini bersamanya. Hanya karena aku dianggap tidak mampu memberikan keturunan kepadanya, sikapnya mulai berubah. Dari sangat manis dan romantis, terutama di awal pernikahan kami, sampai ke tindakan yang mulai cuek, sampai tidak memedulikan diriku sama sekali. Rumah dianggap tempat kost, dengan seenak hati dia datang dan pergi, tanpa kabar berita. Itu belum cukup, terakhir, yah…tepatnya tiga tahun terakhir ini, dia melakukan kekerasan padaku. Tidak cukup badanku yang lebam biru menahan pukulannya, namun yang terakhir dia menghantam wajahku, sehingga tidak mampu lagi kusembunyikan kenyataan itu. Yah, wajahku hancur, biru berantakan. Tak lain karena suamiku. Dia jadi makin gila, semenjak dia di-PHK perusahaan tempatnya bekerja. Dia melihatku sebagai pembawa sial dalam hidupnya, karena katanya semenjak menikah, dia tak pernah mengalami masa-masa jaya lagi, yang ada hanya kubangan kemelaratan yang menghinggapi diri kami.

“ Tolol! “ Lagi-lagi hatiku bergumam sendu.

Teringat masa-masa dulu, ketika tubuhku jadi sasaran tinju. Bukan lagi sasaran dan curahan kasih sayang, tapi aku tak lebih diperlakukan sebagai sparring partner bertinjunya? Atau stunt man ketika perkelahian di film-film laga terjadi. Aku sudah kenyang menangis semasa dulu, kenyang juga menertawakan kebodohan diriku, kenapa aku bisa sampai terbius cintanya dulu. Seolah aku tertipu, padahal ini bukan kawin paksa, juga bukan kawin ala Siti Nurbaya. Kami nikah atas dasar suka sama suka, dan tak hanya itu saja, kami juga pacaran, lima tahun lamanya.

“ Tolol!” Tak berhenti kuungkapkan hal itu…

Karena banyak kali aku menangis tak perlu. Ya, seperti menangis karena memotong bawang. Tapi itu terjadi juga. Seperti perkawinanku dengan Mas Pram. Sudah seharusnya aku mengetahui dan mengerti sikapnya selama berpacaran yang terlihat di mataku, dia memang kasar, suka menggunakan tindakan kekerasan terhadap orang di sekitarnya. Juga terhadap adik-adiknya. Tetapi, dengan kenaifanku, aku pikir dia bakal berubah. Apalagi, dia amat baik dan lembut padaku, tak pernah sekalipun dia melakukan kekerasan padaku. Belakangan baru kutahu, kalau dia kesal di rumah atau kesal kepadaku, dia melampiaskannya di rumahnya, kembali kepada adik-adiknya yang tak bersalah dan tak tahu apa-apa.

Anggaplah ketololanku terbesar adalah karena kenaifanku. Anggaplah ketololanku karena cinta.
Cinta??? Ah, itu klise… Semua orang juga bilang cinta itu buta.
Atau cinta itu tidak buta? Hanya manusia yang mau dibutakan cinta?

Sekarang aku tak mau menangis lagi, sama seperti aku tak mau mengenangnya lagi. Biarkan dia pergi, biarkan dia jadi ketololanku di masa lalu.

“ Mas Prammm, kamu memang tolollll! Kamu tidak pernah mengerti isi hatiku dan betapa besar cintaku kepadamu.”

Dan ketika tanpa sengaja kumasuk ke kamar tidur kami, kulihat di laci ada hasil test lab yang menyatakan Mas Pram mandul dan tak mungkin mempunyai anak, aku tersenyum lebar, menyadari semua ketololan kami hanya karena hal ini.
Anak bukan segalanya bagiku, walaupun aku amat ingin menimang darah dagingku sendiri, buah cinta kami, tapi kalau hanya karena ini dia meninggalkanku, artinya dia belum cukup mengerti diriku.

“ Mas Prammm, kamu memang tolollll! Aku juga tolol. Kita sama-sama ditololkan keadaan dan dibutakan cinta.”

Kukupas bawang lagi, tanpa maksud apa-apa, cuma ingin menangis tanpa alasan. Biar aku bisa lepas dari beban hidupku sejenak karena hatiku sudah buta. Buta rasa, buta cinta. Kubutakan itu semua dan kutunggu Mas Pram dalam ketololanku. Tolol sekalipun, aku tetap cinta kamuuuu…


Singapore, 16 August 2009
-fon-
* tercipta di saat memasak dan mengupas bawang :P

Thursday, August 13, 2009

Baik: Sebuah Keputusan

Ketika disakiti, tetaplah berbuat baik.
“ Bagaimana mungkin? Pengennya sih nonjok, bales, dan hancurin sekalian…”

Sesudah itu apa yang didapat dari melampiaskan emosimu?
“ Tidak banyak, cuma rasa lega.”

Betulkah hanya rasa lega? Adakah rasa lainnya?
“ Setelah leganya reda. Akan rasa bersalah yang besar. Karena terlalu emosional.”

Nah, itu dia…Ketika kamu terlalu emosional, kamu didominasi perasaan dan itu bisa berakibat fatal. Ketika kamu tidak lagi memakai akal budimu, sayang kan, kalau akibatnya terlanjur parah. Menyesal di kemudian hari tidak ada gunanya.
“ Tapi, biar saja. Aku rasa kepuasan itu akan sebanding dengan kehancuran musuhku yang kusaksikan dengan mataku sendiri. Lagian, ngapain sih tetep jadi orang baik? Jadi orang baik itu susah, gak ada untungnya, capek-capekin diri lagi. Mending jadi orang yang kurang baik, cenderung licik dan jahat sedikit, karena orang lain juga jahat, ngapain berbaik hati?”

Ketika keadaan tidak baik, tetaplah berharap dan setia.
“ Ini lagi, ngapain juga tetep berharap dan setia? Bukannya harusnya cuek aja? Kalo keadaan lagi gak baik, jadilah agak ‘licin’, biar bisa merubah keadaan jadi baik. ‘Kan keuntungan sendiri juga yang dicari. Gak usah pusingin yang lain…”

Berbuat baiklah kepada semua orang, seolah kamu melakukannya untuk Tuhan.
“ Stop…Stop! Baik itu apa sih sebetulnya? Definisi baik itu apa selalu seragam? Bukannya penjahat sekalipun, mungkin adalah orang baik bagi keluarganya. Pencuri itulah yang memberi makan anak-istrinya. Jadi, apa yang baik dan kurang baik menurut seseorang, mungkin berbeda dengan apa yang dianggap tidak baik oleh orang lain. Satu lagi neh, untuk Tuhan? Emangnya Tuhan bakal melihat hasil karya kamu? Jadi, balaslah sesekali kalau diperlakukan tidak adil. Ngapain kamu nrimo kayak gitu? Gak seharusnya, tauuu…”

Perang dalam diri terus berlanjut. Memang untuk berbuat baik, tidak selalu mudah, tidak selalu mungkin. Setelah dijahati sekian ratus kali, atau ribuan kali, dan dihadapkan pada pilihan untuk berbuat baik atau tidak, tentunya orang akan mengalami kesulitan.
Ketika melihat contoh yang kurang baik dari orang yang diteladani dan di’tua’kan, cenderung yang lebih muda yang belum begitu mengerti, akan meniru dan mengira itulah yang terbaik.
Padahal? Mereka belum tentu benar.

Definisi baik dan tidak baik dalam diri dan kaca mata seseorang mungkin berbeda. Namun, apabila dia keluar dari tempurungnya, akan didapati bahwa ada kebenaran universal tentang kebaikan yang tak tergoyahkan. Ada sebuah benang merah yang selalu didapati dari mengamati suatu kebaikan. Ada ketulusan, keikhlasan, penerimaan, pengampunan, kasih, dan kekuatan untuk melangkah di masa yang akan datang dengan senyuman. Hanya karena memilih melakukan kebaikan.

Pernah, seorang teman bercerita, seorang sopir taksi menolong korban kecelakaan, dan akhirnya perbuatan baiknya tidak dihargai, malahan dikira si sopir taksi lah yang menabrak sang korban. Pada kondisi demikian, dilema terjadi. Bila dihadapkan pada orang yang memerlukan pertolongan, masih haruskah kita memberikan bantuan? Atau mendingan cari amannya saja? Daripada nanti dikira kita adalah tersangka?
‘Play safe’ memang aman. Namun, bila hati bicara jujur dalam kebenaran dan kebaikan, akankah dia menolak melakukan kebaikan?

Kebaikan yang universal juga ada dalam faham yang benar tentang Sang Pencipta. Bahwa Dia dengan kebaikannya, tidak pernah tidak adil. Dia memberikan hal yang sama bagi orang yang baik ataupun yang jahat. Nafas kehidupan, angin, sinar matahari, dan segala fenomena alam. Ketika terasa dunia tidak memperlakukan kita dengan adil, tidak memperlakukan kita dengan baik, mungkin ini saatnya merefleksikan dalam diri kita sendiri, ada apa yang salah dengan diriku? Ada apa yang tidak beres denganku sehingga selalu merasa tidak diperlakukan sebagaimana seharusnya.

Apakah itu luka di masa lalu? Atau kepahitan yang begitu membekas seolah takkan bisa lagi mengecap manisnya dunia? Perasaan tertolak, perasaan seolah diri adalah korban kehidupan yang lahir dari sebuah kesalahan.
Ataukah derita tak kunjung usai yang rasanya melebihi kekuatan sehingga membuat diri hampir gila, frustrasi, dan stress setengah mati?

Tuhan itu baik. Hidup itu baik. Saya terlahir baik adanya.
Kalaupun kelahiranmu adalah ‘kesalahan’ di masa lalu, ini saatnya mempercayakan kepada-Nya, bahwa dalam kesalahan sekalipun, ada kebaikan juga. Bahwa dirimu yang lahir ke dunia ini, tidak pernah tidak diharapkan-Nya. Dia menuliskan segala sesuatunya dalam buku kehidupanmu.

Tuhan itu baik. Hidup itu baik. Saya percaya hidup saya penuh kebaikan dan saya akan mempraktekkan lebih banyak kebaikan bagi sekitar saya. Bagi dunia.
Dunia ini sakit, dunia perlu banyak kebaikan dari orang-orang yang memilih untuk menyadarinya, keluar dari kesakitannya dan tetap memilih berbuat baik.

Berbuat baik adalah pilihan.
Di antara baik dan jahat, ketika harus memilih…
Pilihlah yang baik.

“Baiklah… Kalau memang berbuat baik itu yang terbaik, maka aku memilih berbuat baik.”
Nah, gitu dong… Dalam kesakitan, dalam kepedihan, jangan berhenti berbuat baik.
Biarpun dilukai oleh orang yang dicintai sekalipun, jangan berhenti melakukan kebaikan.
Mungkin saat ini kebaikanmu tampaknya sia-sia, tak ada guna. Namun, suatu saat nanti, kau bisa melihat bahwa memang tidak pernah ada ruginya berbuat baik.
Well, well, well…Kebaikan bukan masalah untung rugi. Kayak bisnis aja… Ini masalah hati, masalah pilihan, masalah suara hati yang melangkah jujur untuk tetap bersih dari noda kejahatan.

“ Manusia kan kadang bisa berbuat jahat juga, kan gak bisa 100% baik terus.”
Betul, memang manusia tak sempurna. Tak mampu berbuat baik terus 100%. Tetapi ketika kau tak pernah berusaha untuk memberikan yang terbaik demi kebaikan, kapan kebaikan itu sendiri akan tercapai?

Apa yang kita pikir terbaik, belum tentu di mata orang lain juga yang terbaik. Tapi, so what geto lho? Yang penting kita sudah lakukan yang terbaik yang kita bisa.
I’ve done my best, let God do the rest…

Singapore, 14 August 2009
-fon-
* yang sedang dalam kondisi hati yang kurang baik, namun tetap memutuskan untuk berbuat baik. Yipiieee! Sekarang mood-ku udah baik lagi…:)

Wednesday, August 12, 2009

R-E-S-T

source: http://images.paraorkut.com/img/pics/glitters/s/sleepy-8992.jpg

You have to sleep… That’s what my heart said…
But how? Another side of my heart was asking how to do it…
Just close your eyes.
It’s as simple as that…

When we should’ve taken a rest, we think
When we should’ve taken a rest, we play games
When we should’ve taken a rest, we browse internet
When we should’ve taken a rest, we watch TV

We don’t do what we should
Until one day …
We feel so tired.
We feel fatigue
No strength at all
To carry on with our activities
To work, to study, or even to play.
We’re too exhausted

Take a rest, while we should
Take a nap, if you could
Take an early sleep if you could
Even in God, we need to take a good rest in Him
We need to feel relax with Him
And then feel His presence
Then slowly feel the comfort of being loved by Him.

We need a break, we need a rest.
Even the busiest professional needs a break, a holiday…
Then only, he will have enough strength to perform better.

If you’re so tired today.
Take a rest.
If your soul feels so tired as well.
Find Him and rest your soul in Him.
Then you’ll find peace…
The unthinkable but yet wonderful serenity
Will come to you.

We all need a rest.
In order to get fresh
In welcoming a new day.

Singapore, August 13, 2009
-fon-
* zzzzzzzzzzzzzzzzz…….ngantukkk…..bobok yukkk……

Bajaj (Badai) Pasti Berlalu

Enggak ada hubungan langsung antara bajaj dan badai. Hanya karena rima-nya sama, ending kata di ujung sono, makanya aku suka mlesetin bajaj dan badai. Eniwei, pas balik Jakarta dan ngeliat bajaj, dan ngasih tau ke anakku, tiba-tiba inget aja nih istilah…

Aku inget, pas lagi ngadepin masa-masa yang gak mudah. Masa-masa di mana kayaknya badai gak henti dateng bertubi-tubi. Angin topan, tornado, badai, ampe typhoon Morokot bersatu padu menghadang dan menyerang hidupku. Bukan satu per satu, terkadang sekaligus. Aku gak bisa ngapa-ngapain. Kecuali berdoa. Ada waktunya juga pas aku berusaha keluar dari persembunyianku dan melakukan sesuatu. Tetapi, kayaknya gak pas deh momen-nya. Pas aku keluar rumah, tuh badai menerpa lagi. Aduhh…musti bagaimana ini?

Enggak tau juga gimana, akhirnya pelan-pelan tuh badai berlalu juga. Kadang cepat, kadang lambat. Kadang berasa tanpa akhir, tapi tanpa sadar tiba-tiba berakhir. Entahlah, yang pasti…di saat bajaj eh badai dateng, aku berusaha lakuin yang aku bisa. Usaha mah tetep atuh! Tapi kadang-kadang udah usaha sekuat tenaga, tuh badai masih aje menclok dengan betahnya di sana. Bingung? Bingung dahhh…

Kutunjukkan ke Audrey, “ Itu bajaj…”
Dan lagi-lagi kusadari, kalo bajaj itu juga muter-muter. Emang seh, ada saatnya tuh bajaj capekk ato tukangnya yang capek yah, dan butuh istirahat. Abis itu, cabut lagi deh tuh bajaj. Jadi prinsipnya gak jauh beda juga, tuh bajaj bakal berlalu hihihi…maksaaaa….:P

Akhirnya, seburuk apa pun badai kehidupan yang lagi melanda. Ada waktunya tuh badai bakal berlalu juga. Enggak sekarang, yah minggu depan. Enggak minggu depan, yah bulan depan. Enggak bulan depan, yah tahun depan. Sebetulnya, selama masih hidup dan masih dikasih kesempatan buat ngadepin tuh badai, actually…kita masih musti bersyukur, ya gak?

Badai or bajaj or busway, pasti berlalu… Nah, lebih gak nyambung lagi kan..? Hehe… Yang pasti… Sebesar apa pun badai, tsunami sekali pun, satu saat bakal reda. Gak bakalan hidup itu melulu yang ada badaiii aje… Kagak ada tenangnya… Dan gak mungkin juga, hidup itu melulu tenanggg terus, sesekali ada badai, letusan gunung, tanah longsor… Halah! Tambah ngaco…
Yah udah.. Lagi be te ama bajaj? Lagi be tea ma badai? Ntar juga berlalu…. So, tenang aja. Gak usah terlalu panik.. Yah, kalo dah terlanjur panik, apa boleh buat… masih ada waktu buat stay cool and peace mannn!

Singapore, 11 August 2009
-fon-
* yang bukan penggemar bajaj, tapi sempet menikmati masa-masa sering naik bajaj di Jakarta dulu…

Monday, August 10, 2009

Dalam Perjalanan ke Raffles City

Malam ini aku menjumpai seorang temanku. Teman lama, teman akrab, saat berada di Jakarta. Dia tengah berada di Singapura untuk urusan pekerjaan. Dan kami berjumpa. Dalam ruang dan waktu yang berbeda, dalam peran dan situasi yang berbeda pula. Namun, kurasakan kasih dan kehangatan yang sama, yang lahir dari ketulusan sebuah persahabatan.

Dalam perjalanan menuju tempat pertemuan kami di Raffles City. Mataku menangkap irama gempitanya Singapura yang baru merayakan hari kemerdekaan yang ke-44. Yes, the National Day parade baru saja berakhir semalam, ketika kusampai di negeri singa ini. Negeri yang menjadi tempatku bermukim selama 2.5 tahun terakhir.
Singapura memang indah. Kalau yang dilihat dari kualitas hidup dan kemegahan seluruh kota, yang ada hanya indah, rapi, bersih teratur. Seluruh sistem sudah tertata rapi. Memang tinggal di negara yang sudah rapi jail ini, amat mudah. MRT dan bus system yang luar biasa mudahnya. Belum lagi, internet connection yang canggih dengan segala info yang diperlukan, kuingat saat hendak memotong rambut, aku langsung saja search di internet, dan salon-salon plus harga potong dan hair stylist-nya bermunculan. Begitu pula dengan belanja groceries online, di sini bisa dengan mudah. Dan restaurant yang terbaik sampai hawker center, semua juga bisa didapatkan infonya. Segala ada. Tak heran Singapura dijuluki sebagai the most wired nation, dengan persentase pengguna internet sekitar 99%. Ini info yang didapat dari harian the Strait Times.

Singapura memang indah, rapi, teratur, berkualitas. Sekaligus sisi lain yang sering ditanyakan orang kepada saya: “ Apa gak bosen elo tinggal di Singapore?”
Sejujurnya, ada rasa kebosanan juga sih. Karena dalam segala keteraturan dan kerapian itu, juga ada irama monoton yang selalu sama ritmenya.
Belum lagi, beberapa kali mata saya menangkap ada rasa persaingan yang kuat di sini, segala sesuatu terburu-buru. Berjalan di tangga eskalator, meskipun eskalatornya tengah jalan, adalah hal biasa. Time is money, membuat para pengemudi taksi, karyawan food court, menjadi kurang ramah. Atau itu memang kebiasaannya? Entahlah.

Dalam pertemuan dengan sahabat saya tadi, dia mengisahkan kalau dia agak ‘dimaki-maki’ oleh seorang sopir taksi. Dan itu juga bukan pengalaman pertama yang saya dengar. Saya memang belum betul-betul mengalaminya, namun sering mendengar kalau salah informasi, atau salah sedikit saja, mereka terkadang bisa betul-betul jutek…
Hal yang agak disayangkan… Tapi mo’ apa lagi. Bukannya ini Singapura? Dengan banyak kelebihannya namun juga ada kekurangannya.

Mata saya pun menangkap banyak kesepian dan kesendirian di sini. Orang tua bekerja sampai cukup tua, mendekati 70 tahun, itu umur pensiunan di sini. Dan terkadang, saya dengar, saat tua, mereka terkadang tidak diperhatikan anak-anaknya lagi. Tetapi tentu saja, saya tak ingin meng-generalisasi, tentunya banyak juga anak-anak yang baik hati yang memperhatikan orang tuanya. Namun, rasa kesepian di tengah keramaian, tetap ada. Belum lagi, di MRT atau bus, orang sibuk sendiri dengan kegiatannya: denger IPOD, maen game, maenan HP, baca koran-majalah, dll. Sehingga kurang memperhatikan kebutuhan orang lain yang membutuhkan tempat duduk misalnya.

Ah, di tengah semua kemilaunya keindahan yang ditawarkan dunia, tentunya ada ketidaksempurnaan juga. Di Indonesia, banyak yang sering complain, khususnya bagi mereka yang tinggal di Jakarta: macet, banjir, tidak aman, polusi, rokok, dsb. Yang itu semua tidak saya jumpai di negara rapi teratur seperti Singapura. Namun, di balik kejelekan yang tampak di depan mata banyak orang, Jakarta tetap menawarkan persahabatan, kehangatan, dan keindahan (khususnya di daerah Thamrin-Sudirman yang semakin cantik dibenahi), dan keragaman kegiatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan.

Dalam perjalanan ke Raffles City malam ini, saya bersyukur untuk hari-hari saya di Singapura. Sebagian bukan merupakan hari-hari yang mudah dengan segala adaptasinya. But, I will survive! Ini kan cuma Singapore, no big deal.. Ngomong bahasa Endonesa aja idup koq…:)
Bersyukur untuk sekedar mencicipi manisnya sekaligus pahitnya hidup di negeri orang. Yang sebentar lagi akan bergeser, ke Vietnam. Untuk petualangan dan perjalanan yang baru di sana.
I don’t know what His Plans are but a lot of people ask me: “ Why Vietnam?” (in amazed and sometimes shocking eyes…). But if it’s God’s plan for me, I would say: “Why not?”
Kenapa nggak? Di luar lautan motor yang melebihi Jakarta dan kendala bahasa, ada makanan yang asik punya, the beauty of its nature, dan belajar hidup di negara baru.
Jelas, adaptasi tak pernah mudah. Sebagai seseorang yang selalu merencanakan segala sesuatunya secara sempurna dulu, saya belajar untuk mempercayakan perencanaan hidup saya kepada Tuhan sekarang ini.
Sehingga, di mana pun saya ditempatkan, saya tidak lagi bertanya:” Why this country, God?”, tetapi: “ Why not? God will prepare something for me in this country.”
Proses pembelajaran yang baru di negeri yang baru pula.
Looking forward for another ‘amazing race’ (meminjam istilah keponakan saya untuk hidup yang pindah-pindah), in Vietnam.

Singapore, 11 August 2009
-fon-
* thanking God for what He has done in my life.