Monday, August 31, 2009

Love in Action


I always love watching drama. Just name it! Hollywood, Korean, Taiwanese, or even Indonesian love story which is always full of romantic things. Well, sometimes it’s too good to be true, but in another time it’s just something impossible. Or in my own perspective, I found that we like to be entertained with that kind of love story, the love that we could never found in reality. It’s only in the movie.
Sweet talks all the time, romantic candle light dinners, romantic walk in the lake-garden or even in the mountain, and so much more. Which only can be found in those movies.

But once I got married, I know that love isn’t just all about sweet talks or romantic kisses.
To love- most of the time means- we need to do something. We need to act. And that’s why I call it love in action.
Love in action includes forgiveness. Uncountable times. Maybe for the same stupid mistakes that our spouse do (or we do it on our own) or many more.

When romantic love in the marriage has slowed down, not as passionate as the previous courtship’s stage, most of the time we need to accept unpleasant realities which are totally different with the romantic movies.
It’s pretty sad, isn’t it? Yes, it is, if we keep on comparing on the romantic part. There are some ways though to make the love alive. To light the fire once more. It’s not that impossible, even of course, the priority will be different because of the kids.

Love is a decision, love is a choice, love is an action. How we do everything we could to please our spouse. Even sometimes whenever both parties are too tired, they don’t have enough strength to talk sweetly, but to talk in peaceful situation rather than full of rage or anger is also an act that should be chosen.

The first 3 years of marriage often being said as the adjustment phase, some of the couple didn’t make it, some of them make it. For those who give up, I might say they’re trapped in romantic love imagination all the time, only to find that the reality is totally different. Our spouse isn’t able to protect us all the time, to be attentive all the time, to be there all the time, to be exactly what we want him/her to be all the time. When we’re in the courtship period, sometimes love is just trying to please the other party all the time. And we do it willingly, unconditionally, whole-heartedly.
But, sometimes, whenever two individuals become one, living in the same roof, sleeping in the same bed, using the same toilet, lots of things will change. Many different habits like the way to press the tube of a toothpaste, how or where to put the dirty clothes, etc, seems as simple problems but yet can trigger some difference and arguments sometimes.

From small things to more principal things, such as how to deal with in laws, how to deal with the problems of marriage life, and how to deal with financial problem, has shown us that marriage is more complex than we thought in the first place.
The most common reason of a divorce, according to some reference that I read, is due to financial management. The difference perspective or focus in finance, sometimes lead to misunderstanding, not trusting each other anymore, and eventually divorce. Other than that, the third party is also sometimes is the reason of a divorce, and few more reasons that are common as well.

Love is an action. It’s an act to stay positive even though the situation is bad. It’s the act of finding solution rather than pointing at one another’s mistakes. It’s an act of discussion rather than harsh arguments. It’s how to make a loving environment of the whole family including children, rather than making them scared all the time. It’s about giving, caring and forgiving and not about taking, ignoring, and making revenge.
Love is an action. Love is a decision. Love is a choice to stay in love even though the adjustments aren’t easy or even painful.
(Well, the domestic violence are the things that I don’t include here, it’s exceptional…).

Love is just trying to stay faithful even though there are many attractive men/women out there.

May we grow more in love each day with our spouse. Not an easy thing though, but we can try to make it better….

Singapore, September 01, 2009
-fon-
* in sympathy of the divorce news of the celebrities including Krisdayanti and Anang. They have their own problems, but hopefully whatever the decision they’ll take, it will be the best for the whole family.

picture: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/e/ea/Love_heart.jpg/609px-Love_heart.jpg

Thursday, August 27, 2009

Singlish? Can Lah...

Pertama kali pindah ke Singapura, dengan tekad di dada:

“ Gak bakalan gue ngomong Singlish! Harus konsisten donk, kalo mau American ya American, kalo mo British ya British, kalo mau logat yang rada Endonesa English juga gak pa-pa.. Tapi kalo Singlish? No Way! “

Tapi, apa daya, setelah dua tahun-an, Singlish (kadang-kadang) sudah jadi makanan sehari-hari tanpa disadari. Masih berusaha untuk gak begitu terpengaruh sebetulnya, tapi ternyata gak mudah juga ya…
Terutama ketika bicara dengan Singaporean, yang entah Chinese, Malay, ato India, pasti terselip kata-kata : ‘iya, lah...’ atau ‘ can or not?’ yang jawabannya kalo bisa: “ Can, lah!”
Belum lagi akhiran ‘lor’ atau ‘meh’ yang lebih jarang dipakai tapi juga cukup populer di sini…
Jadi sudah semacam bahasa pergaulan sehari-hari juga. Begitu pun kalo ngomong di food court ato ama taxi driver ngejelasin direction, ya sutralah campur adukkk…
Untungnya, punya tetangga satu orang guru British Council asal London. Jadinya, kalo ngomong ma dia (berusaha) untuk tidak pake Singlish walaupun terkadang gagal juga, teteup aja keselip satu dua kata huehehe….

Campur aduk bahasa di Singapore ini juga menarik untuk diikuti. Chinese bisa ngomong bahasa Melayu. Dan tidak jarang orang India ato Malay bisa ngomong Chinese. Belum lagi campuran antara Mandarin dan English (ini juga paling sering kulakukan, karena rasanya Mandarin tak sempurna, mau ngomong 100% pakek Mandarin, kadang-kadang gak bisa nyampein isi hati sepenuhnya…). Alhasil campur aduk, kayak gado-gado.
Belum lagi, kalo ama temen India, baby sitter-nya temenku. Sama dia ngomongnya Singlish plus Malay. Pusing? Pusing deh :)
Satu sisi yang cukup aku nikmati adalah di sini pembauran berjalan baik. Dalam arti, gak berasa tuh kalo India ato Malay di sini gimanaaa gitu. Berasanya aman-aman aja.

Pernah nih, ke wet market (alias pasar tradisional). Nah, di sini mau gak mau aku musti ngomong Mandarin (walaupun kadang diajak ngomong Inggris sih, disangka Filipino, emangnya Maribeth? Halah! Wkwkwkwk…). Tapi dasar waktu awal-awal, ngomong pun perlu mikir. Itu kan efek samping bahasa yang gak pernah dipake, ngomong juga musti mikir panjang. Gak selancar kalo nyerocos dalam bahasa Indonesia.
Aku mau beli nasi ayam di hawker centre di wet market, trus aku udah mikir panjang mo pake bahasa Mandarin, gini nih yang keluar:

“ Liang pao ci fan, ta pao!” (Maap gak pake hanyu pinyin (cara penulisan bacaan Mandarin dalam bentuk alfabet), karena gak ngerti juge huehehe… yang artinya: dua bungkus nasi ayam, bungkusss!)

Yang langsung mendapat protes penjualnya…
“ Xiao Jie, liang pao yu ting se ta pao…” ( Miss, kalo dua bungkus itu pastinya dibungkus donk…)

Aku tersenyum juga mikirin ya koq gue ampe grogi begitu. Kalo di-translate bahasa Indonesia yang bagus dan bener nih omonganku tuh begini:

“ Dua bungkus nasi ayam bang, bungkus yaaaa…” (cengar-cengir mode on berlanjut, udah tau dua bungkus, ya pasti bungkuss atuh…Gimana nih si eneng? Kira-kira begitu terjemahan kata-kata si penjual tadi…).

Makanya, kadang kalo lagi not in the mood of ngomong Mandarin, ya sudah, aku hajar pake English aja. Dan Singlish juga.
Jadi, setelah dua tahun-an, I have to admit that Singlish? Can lah…
Jadi gak sebel lagi, walaupun sebisa mungkin gak ngomong seh, karena prefer pake English yang baik dan benar… Tapi emang kontaminasi pergaulan yang bikin orang pada kecampur semuanya…
Mandarin- English. English-Malay. Malay-Chinese.
Yes? Welcome to Singapore! Can lahh…:)

Singapore, August 27, 2009
-fon-
* catatan hidup di negeri orang…:)

Tuesday, August 25, 2009

Daun

Di balik kerimbunanmu
Ada menyisakan sedikit tanya di hatiku
Untuk kesegaran dan warna hijau yang kautawarkan
Nyata kepada dunia, apakah pernah kau merasa lelah?

Daun…
Aku merasa segar melihatmu
Untaian warna hijaumu
Nyanyikan jiwaku senandung baru

Daun
Alangkah gontai aku melihatmu
Usang, kuyu, berubah warna
Nampaknya drastis juga perubahan itu

Daun…
Kulihat lagi engkau
Berguguran
Satu demi satu
Di depan mataku
Hidupmu memang sebentar saja
Sama seperti diri manusia

Di kala hijau muda dan pucuk-pucuk segarnya menyapa
Kau katakan pada dunia

“ Mau apa saja, aku bisa!”

Ketika kau mulai berubah warna menjadi hijau tua
Dengan dewasa kau ucapkan

“ Hidup bukan melulu kemenangan sebuah ego. Namun, bagaimana hidup dalam keseimbangan dengan sesama, itu yang lebih penting rasanya.”

Di kala warna menjadi semakin kuning dan menua
Ada kalanya kau sadar dan kau pun ungkapkan

“ Aku bahagia dengan hidupku. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Inilah hidupku apa adanya. Tak sempurna. Selalu ada suka duka.”

Namun, ada pula saatnya di mana kau teriak kecewa:

“ Mengapa??? Mengapa aku harus berubah jadi tua dan sakit-sakitan tanpa daya? Bukankah dulu aku perkasa? Bukankah dulu aku si ‘serba bisa’??”

Dan daun yang kering dan patah
Yang jatuh ke tanah, berucap untuk terakhir kalinya:

“ Masih untung bagiku, menyumbangkan sisa tenaga terakhirku untuk menyuburkan tanah. Jadi aku tak mati sia-sia…”

Lahir. Hidup. Sukses. Gagal. Bangkit lagi. Sukses lagi. Gagal lagi.
Lahir. Sehat. Sakit ringan. Sakit berat. Sehat lagi. Sakit lagi.
Lahir. Bahagia. Kecewa. Senang lagi. Sedih lagi.
Lahir. Tertawa. Menangis. Tersenyum lagi. Meratap lagi.

Lahir. Setia. Berkhianat. Setia lagi. Membelot lagi.
Lahir. Berharap. Berhenti berharap. Harapan muncul lagi. Hilang lagi.
Lahir. Hidup. Mati.

Lahir. Dan tetap berguna sampai mati.
Ada pelajaran yang kudapati hari ini, dari kau, daun…

Dan aku berterima kasih.
Atas pembelajaran ini.
Untuk kesempatan yang membuatku lebih mengerti
Nilai penting dalam hidup ini.

Smoga selama hidupku, setidaknya mampu memberi arti…

Singapore, 25 August 2009
-fon-
*hasil siang-siang memandangi daun depan sekolah anakku…:)

Saturday, August 22, 2009

Capek

“ Capek!”

Begitu kata hatimu. Ketika lagi-lagi impian yang sudah diidam-idamkan sejak lama kandas. Tidak ada titik terang. Di luar sana sepertinya hanya ada kegelapan yang melanda. Jadi, ngapain sih terus berjuang?

“ Capek!”

Ketika tidak ada dukungan dari orang-orang yang kauanggap penting, orang-orang yang kau kasihi, keluarga, suami/istri, pacar, anak, teman dekat, sahabat, dsb. Orang-orang yang dekat di hati tidak mendukung impianmu. Padahal impianmu bukan sesuatu yang jelek. Hanya memang impianmu mungkin tidak umum. Di saat semua anak bermimpi menjadi dokter atau pilot, dengan bangga kaubilang mau jadi pelukis. Dan mulai saat itu, dirimu dicekoki begitu banyak masukan kiri kanan untuk mematikan impian itu. Anehnya? Impian itu tak pernah pudar, malah makin berakar kuat. Karena kau memang suka melukis dan lukisanmu selalu keluar dari segenap kemampuan diri untuk memberi yang terbaik, dan lukisanmu memang disukai banyak orang.
Memang sedih, ketika dukungan yang diharapkan tidak ada. Apalagi dari orang-orang terdekat. Tetapi anehnya, malah orang lain- yang tidak terlalu dikenal, yang baru ditemui atau yang merasakan sentuhan pribadimu lewat lukisanmu- Merekalah yang malah memberikan dukungan tulus. Tapi, itulah kerja alam yang tak pernah bisa disangka dan dikira. Memang aneh.
Asalkan kau yakin dengan impianmu, tetaplah memberikan yang terbaik, walaupun tak ada dukungan, walaupun tak ada kepastian. Namun, yang penting kau suka mengerjakannya. Kau taruh hatimu 100% atau bahkan 120% di sana.
Bukan tidak mungkin, suatu saat, ketika waktunya tepat, akan ada seseorang atau sekelompok orang, yang mendukungmu dan menyukai karyamu. Impian itu sudah di depan matamu, begitu saja! Semudah menjentikkan jemari. Tetapi itu bukan berarti tanpa proses. Selama itu pulalah kau diproses. Dilatih menjadi lebih baik. Dibuat lebih biasa menghadapi kritik yang pedas dan yang tak menyenangkan.

“ Capek!”

Ketika kau merasa sudah memberikan yang terbaik, tapi bagi banyak orang itu masih belum cukup. Saat itulah, kita harus belajar berbesar hati, menerima perbedaan sekaligus tidak putus asa, selama sudah melakukan yang terbaik bagi diri kita dan melihat kemajuan langkah demi langkah, step by step dalam diri sendiri, itu sudah cukup.

“ Capek! Kenapa sih gue nggak juga nge-top?”

Apakah terkenal adalah segalanya? Berapa banyak orang yang bukan dari siapa-siapa, menjadi terkenal, dan kemudian menyesali ketenarannya itu. Di balik ketenaran, tersembunyi beberapa kehilangan besar. Yang terbesar adalah kehilangan privasi, dan mengutip kata seorang teman baik, kehilangan kesempatan untuk melakukan kesalahan. Karena sepertinya, orang tenar, kalau buat salah sedikit, langsung jadi sensasi. Padahal, kita kan manusia, bisa salah dan belajar dari kesalahan. Apakah ketenaran adalah segalanya? Atau melakukan apa yang kauimpikan dengan penuh cinta dari dalam hati yang terdalam? Bagiku, saat ini itu lebih dari cukup…

Aku pernah berseru, “ Capek deeeeh, Tuhannn!”
Ketika tulisanku tidak dimuat di majalah yang kukirimkan. Ketika orang mengatakan hasil tulisanku tidak bagus, tidak pantas diterbitkan. Ketika aku tidak memperoleh dukungan dari orang terdekat. Ketika apa yang kuanggap segalanya bagiku, hal yang teramat penting, hanya dianggap sepi dan angin lalu oleh orang yang penting bagiku.
Tapi itu bukan berarti aku mau berhenti. Aku mau tetap menulis hanya karena aku suka menulis. Selain itu juga karena aku suka berbagi. Mungkin buat sebagian orang tulisanku biasa saja, menuh-menuhin inbox mereka, atau malah tak sempat dibaca langsung di-delete.
Tapi mudah-mudahan aku tak sakit hati, karena aku tahu, di balik itu semua, aku sedang dipersiapkan untuk menulis dengan baik, untuk menulis dengan lebih serius lagi, tanpa meninggalkan esensi dari menulis itu sendiri: karena aku sukaaa menulis dan karena aku suka berbagi.
Itu sudah cukup bagiku. Dan yang terakhir, aku menulis, karena memiliki keyakinan bahwa itu adalah satu talenta yang Tuhan titipkan padaku. Jadi, untuk-Nya aku menulis. Sekaligus bersama-sama dengan Dia menulisi lagi lembar demi lembar buku kehidupanku. Dengan tulisanku, aku mau Dia juga terus menulisi setiap bab kehidupanku dengan lebih berwarna.
Saat ini, terlebih kurasakan, menulis adalah ibadah. Buat mendekatkan diriku padaNya. Selain itu juga untuk menghilangkan stress, membagi suka/ keceriaan, dan yang terakhir menambah teman dengan beberapa pertemanan baru yang kudapati dari mereka yang membaca tulisanku atau dengan teman-teman yang sama ‘gila’nya dalam menulis.

Di luar itu semua, aku juga berterima kasih untuk semua pihak yang mendukungku, memberikan kekuatan, masukan dan input yang membangun. Memenuhi inbox mereka dengan tulisanku, membacanya dan mengomentarinya. Sejujurnya, dengan demikian saja, aku sudah bahagia. I couldn’t ask for more. Itu sudah cukup bagiku:)
Belum lagi dukungan yang juga kudapat dari beberapa sahabat yang betul-betul memikirkan bagaimana langkah berikutnya untuk mewujudkan impianku. I do grateful to have you, guys! Dan aku berdoa semoga Tuhan memberkati kalian dengan banyak kebaikan, karena kalian sudah begitu baik bagiku.

Walaupun apa yang terjadi di depan sana, ada hari-hari capek, ada hari-hari penuh semangat tentunya. Di balik semua hari itu, aku tetap mau menulis. Menggoreskan lembar hidupku dengan warna. Warna yang lebih membuat dunia lebih hidup. Warna yang membuatku sadar, bahwa aku ada di antaranya, dalam lembar buku kehidupan yang ditulisNya dengan penuh warna pula…

Singapore, August 22, 2009
-fon-
* color your life, paint it beautifully!

Friday, August 21, 2009

This is My Confession...

This is My Confession…
*** Jalan Tuhan Bukan Jalanku.

Kemarin, sebetulnya aku bertujuan untuk membuat pempek. Salah satu makanan khas Palembang yang terkenal itu. Dan sejujurnya, biarpun sering melihat ataupun mendengar tips-tips dari mamaku ataupun mertua, aku tidak pernah praktek langsung. Jadi, alhasil, dengan modal pengetahuan seadanya, plus info dari internet dan mengingat-ingat lagi resep dari mertua, kuberanikan diri untuk membuatnya juga. Hitung-hitung latihan!

Kesibukan mengolah ikan sudah dimulai dua hari sebelumnya, ketika aku mulai membeli ikan, mengerok sendiri dan memblender sampai halus. Dan menyimpannya di freezer. Pekerjaan yang tidak mudah buat seorang Fonny yang dulunya tidak pernah suka masak. Ditambah lagi, di sini kami tidak ada pembantu, jadi semua memang dikerjakan sendiri.
Mungkin kata masak tak pernah ada dalam kamusku. Entah karena memang tidak suka, entah karena maunya praktis karena jadi anak kost 10 tahunan, entah..
Yang pasti, dengan kata ‘masak’ aku kurang bersahabat…:)
Itu dulu…

Dan keadaan memang mulai berubah, ketika aku menikah dan punya anak. Dulunya tidak bisa, sekarang harus setidaknya mampu masak buat anakku, kalo nggak mau makan apa dia? Kasihan kan…
Makan di luar setiap hari juga bukan sebuah option yang baik, apalagi masih memiliki anak balita.
Akhirnya, aku mulai memberanikan diri menceburkan diri ke peralatan dapur, terutama saat ibu mertua kembali ke Jakarta di saat ini, dan aku harus menguasai dapur, sendirian.

Tidak mudah bagiku sebetulnya. Tapi aku mau berusaha. Untuk keluargaku, aku mau mencoba.
Dengan agak was-was karena takut adonannya tidak jadi, aku pelan-pelan mulai membuat pempek. Dan kekuatiranku jadi nyata, ketika kutuangkan air ke adonan yang berisi ikan dan sagu. Ooppps, kebanyakan! Dan tidak bisa dibuntel (alias dibulat-bulatkan) tuh adonan, terlalu cair. What should I do?
Akhirnya tambah tepung, masih belum bisa juga.
* Agak frustrasi mode on*

Tapi akhirnya, tidak kehabisan akal, kubuat menjadi bulatan-bulatan kecil, soup tekwan. Tidak terlalu jelek, walaupun agak lembek, tidak sekenyal buatan mertua, tapi setidaknya masih bisa dimakan.
Dan sesudah itu, sibuklah aku mencari bahan buat kuahnya yang memerlukan udang….

Pulang menjemput Audrey, langsung kami ke Shen Siong Supermarket di Commonwealth. Setelah selesai membeli udang, black fungus (Jamur hitam ya…), terus beli cabe, beli bangkuang dan beberapa bahan lainnya, kami pulang. Tak lama Audrey tidur, dan aku melanjutkan memasak kuahnya.
Kukupas udang, kupotong bangkuang, dan seterusnya. Masukkan semua bumbunya. Dan hasilnya, kuahnya tidak mengecewakan…Yes! Thank God!
Aku tersenyum, karena selama memasak pun, aku juga sempat bercakap-cakap dengan-Nya. Pas tidak jadi pempek juga, aku membatin…” Bagaimana ini Tuhan?”

Aku hanya ingin melibatkan Dia dalam keseharianku. Bukankah Dia adalah teman yang paling setia, yang selalu ada di tiap hari dan tiap detik hidup kita???
Dan hasilnya, tekwannya lumayanlah, bisa dimakan. Not bad for my first attempt!

Dari sini, aku juga belajar, bahwa terkadang rencanaku bukanlah rencanaNya. Dari pengalaman sesederhana ini, aku kembali diingatkan, terkadang Tuhan membawa kita kepada petualangan yang jauh dari pemikiran kita. Perencanaan kita yang sepertinya sudah matang, diputar olehNya. Terkadang putar sedikit, terkadang putar 180 derajad. Only to find that in the end, rencanaNya tak pernah jelek, Dia selalu beri yang terbaik.

This is my confession of His Faithfulness. Bukan hanya Dia menjagaiku selama hidupku, Dia juga memberikan ‘kejutan-kejutan’ tak terduga sepanjang perjalanan hidup kami. Dia memberikan pengalaman-pengalaman baru di luar rencanaku, hanya untuk menjadikanku seseorang yang lebih dewasa di dalam iman (mudah-mudahan…masih berjuang…:)), untuk menjadi orang yang semakin indah di dalam Dia.

Ending…
Kuhirup soup tekwanku dengan nikmat. Bukan karena rasanya…Karena mungkin rasanya biasa saja, acceptable tapi tidak sophisticated.
Tapi karena pengalaman di balik itu…
Karena aku belajar masak dan akhirnya karena aku kembali melihat rencanaNya adalah yang terbaik dalam hidup setiap insan manusia.
Termasuk diriku. Amen.

Singapore, August 21, 2009
-fon-
* yang tidak kapok mau bikin pempek lagi suatu hari nanti, siapa tau jadinya siomay bandung? Halahhh wkwkwkwk….

Thursday, August 20, 2009

Menisik Hati

Pulang ke rumah membawa bungkusan belanja. Hati Sonia senang tak terkira.
Belanja memang terkadang punya efek yang membahagiakan. Apalagi kalau lagi stress berat trus belanja, rasanya ada beban yang terlepas.
Memang sih, tidak selalu dibenarkan kalau orang boleh melampiaskan kemarahan atau stressnya dengan belanja. Harusnya ya mbok mawas diri dikit. Apalagi zaman susah kayak gini. Masih ada pekerjaan dan bisa makan saja sudah cukup. Tapi, kalau lagi stress, lagi-lagi Sonia tak mampu menahan hasrat belanjanya…
Duh, jadi pee r, nih…

Dilihatnya satu per satu. Dan matanya tertuju pada T-Shirt hitam yang langsung jadi kesukaannya hanya pada pandangan pertama. Bisa gitu, ya? Buat Sonia, bisa!
Love at first sight buat kaos hitam berinitial S itu. Seperti Superman. Sekaligus sama seperti namanya, Sonia.
Cocoklah pokoknya.

Dilihatnya dengan lebih teliti. Eh, kenapa di bagian belakangnya ada satu lubang kecil? Kecil sih, pastinya tak kelihatan kalau orang tidak memperhatikan. Namun, bagi Sonia yang perfeksionis, pastilah hal itu jadi masalah. Membelinya pas lagi ‘sale’, jadinya yah gak bisa dikembalikan atau ditukar.
Hiks….! Sonia mulai panik. Tapi dia tak kekurangan akal, diambilnya benang hitam, ditisiknya, pelan-pelan lubang itu mulai tertutup benang hitam dan dari jauh tak kentara kalau memang Sonia menisiknya.
Agak kecewa, tapi mau bilang apa, Sonia melanjutkan kegiatan tisik menisik, agar terlihat lebih rapi.

Sedang asyik menisik, tiba-tiba muncullah sesosok pria bertubuh jangkung, berkaca mata, dengan tubuh tegapnya. Suaranya agak cempreng, sedikit kurang sesuai dengan posturnya:

“ Lagi ngapain kamu, Nia?”

“ Lagi nisik baju, Dre.” Jawab Sonia, yang dipanggil Nia tanpa menoleh. Masih sibuk dengan pekerjaan yang lebih menarik hatinya. Menisik baju ber-initial S.

Lelaki yang dipanggil Dre itu juga tidak terlalu memperhatikan Sonia lagi. Bergegas masuk ke kamar tidur mereka dan menyalakan TV. Menonton acara favoritnya sampai menunggu makan malam disediakan si Mbak.

Nia menghela nafas. Andre atau Dre, adalah suaminya. Perkawinan mereka baru satu setengah tahun. Dan Nia mulai merasa bosan dengan semua rutinitas ini. Tak ada kata mesra, pelukan, atau sun sayang. Adanya hanyalah basa-basi layaknya orang yang baru bertemu. Aneh…
Ketika dia melirik ke arah kamar, sambil tangannya tetap asik menisik bajunya, Nia melihat Dre di tempat tidur, dengan posisi khasnya, sambil memegang remote. Kadang Nia pikir, remote lebih menarik daripada dia. Setidaknya remote itu lebih sering disayang suaminya daripada dirinya. Dan itu dialami di usia perkawinan sedini ini.
Hatinya tertusuk. Bukan saja impiannya kandas, tapi dia memang tidak mendapatkan perhatian yang cukup. Asalkan Dre tidak selingkuh saja sudah bagus kali!

Nia melihat HP-nya. Ada sebuah sms yang masuk yang luput dari perhatiannya rupanya.
Dilihatnya, ooh… itu dari seorang pemilik butik, yang sering dikunjungi Nia. Namanya Adnan.
Adnan sering menginformasikan baju-baju baru pada Nia. Dan dengan kondisi pernikahannya yang membosankan dan bikin be te, Nia merasa perlu melampiaskan ‘shopaholic’nya dan toko Adnan menjadi langganan kesayangannya, karena baju-bajunya tidak umum, dari Korea, dan lucu-lucu.

Adnan malam itu bilang ada koleksi baju baru, Nia diharapkan datang. Of course, Adnan, besok ya… Besok aku datang!

***
Diam-diam, Adnan memperhatikan wajah Sonia. Cantik juga ujarnya dalam hati. Dan di antara sekian banyak pertemuan mereka, Adnan tidak sempat memperhatikan raut wajah Nia satu per satu. Rupanya, jika diperhatikan lebih seksama, kelihatan lebih cantik dan manis.
Adnan tahu, Nia sudah menikah. Dan dia merasa, Nia kurang bahagia. Sering terlihat di butiknya, Nia melamun. Nia memang pelanggan tetapnya yang tidak tanggung-tanggung kalau belanja, tapi Adnan menangkap raut wajah yang kadang cemberut, kadang bengong, dan jarang terseyum.
Adnan yang hendak menutup tokonya malam itu, memberanikan diri..

“ Habis saya tutup butik, mau minum kopi bareng?”

“ Boleh, “ Nia menjawab spontan. Sambil tersenyum. Kemudian baru berpikir, koq tiba-tiba sekali dia menjawab ajakan Adnan tanpa pikir panjang. Memang sih, suaminya, Dre, sedang keluar kota untuk tugas. Bukan sehari, tapi dua hari, mungkin diperpanjang.
Dan dia sendirian malam ini. Walaupun tak ada bedanya bagi Nia, sendirian atau tidak, tetap saja dia kesepian. Mending dia melupakan kesedihannya sejenak dengan minum kopi bersama Adnan.

Setelah itu, mereka melangkah ke gerai kopi yang buka sampai pukul 02.00 pagi. Adnan memang membuka butiknya agak telat, tidak secepat toko lainnya yang buka pukul 10.00 pagi. Adnan buka pukul 12.00 siang. Dan bagi Nia? Dia yang tidak bekerja, tidak ada masalah. Dia bisa pulang kapan saja. Lagian Dre tidak di rumah. Ngapain pulang cepet-cepet?

Hari itu mereka bertukar cerita. Ternyata Adnan orang yang amat menarik. Adnan mampu membuatnya tertawa ceria. Hal yang sudah lama tidak dialaminya. Adnan juga mampu menangkap hatinya dengan pesonanya yang mengingatkan Nia pada seorang model. Adnan memang tidak terlalu tampan, tapi badannya yang atletis dan pakaiannya yang necis tapi tidak melupakan kemaskulinannya, membuat orang pasti akan menoleh kepadanya. Tidak hanya wanita, terkadang pria juga.

Adnan akhirnya menawarkan diri untuk mengantar Nia pulang. Nia kebetulan hari itu tidak membawa mobil, dia berpikir dia akan naik taksi. Mobil mereka sedang di bengkel. Ada beberapa bagian yang perlu di-service.

***
Rumah Nia dan Dre yang bergaya minimalis, memang tidak terlalu besar. Namun, tiap detailnya memberikan kesan yang anggun. Mahal. Memang Dre menginvestasikan cukup banyak uang untuk istana mereka.
ISTANA? Nia tersenyum kecut. Mengapa istananya kekurangan cahaya? Cahaya cinta. Ah, sudahlah. Entah apa yang salah, Nia juga tak tahu. Dan dia tak bermaksud untuk cari tahu. Karena Dre juga tampaknya tak peduli. Buat apa? Bukankah dalam pernikahan tidak bisa hanya salah satu pihak yang terus berusaha mengupayakan yang terbaik? Bukankah pihak yang lainnya juga harus melakukannya?

Nia tidak menawarkan Adnan untuk masuk ke rumahnya. Walaupun ada bagian yang sangat kuat dari hatinya untuk mengajak Adnan masuk dan melanjutkan percakapan penuh keceriaan itu tadi, namun ada bagian lain dari hatinya yang mencegahnya. Bagian itu yang lebih kuat untuk saat ini. Dia memutuskan untuk menghentikan keceriaan itu, bukankah besok-besok masih ada waktu?

Dibukanya pintu rumahnya. Adnan masih memperhatikan Nia sampai masuk rumah. Adnan merasakan bahwa Nia gadis yang amat menarik, dan pelan-pelan, rasa suka itu muncul….Ah, jarang-jarang, boleh dikatakan tidak pernah terjadi, dia jatuh cinta secepat itu, kepada pelanggannya. Tapi Nia memang istimewa. Setidaknya di mata Adnan.

Nia masuk ke kamar tidurnya. Didapatinya Dre sedang duduk melamun.

“ Dre, koq sudah pulang???” Nia amat terkejut. “ Bukannya kata kamu besok paling cepat?”

“ Meeting hari ini dibatalkan. Pembelinya sudah terlanjur terbang ke negara asalnya karena ada rencana mendadak. Jadi, tadi aku tidak berangkat. Aku sudah telpon kamu, sms kamu, tapi kamu tidak jawab sama sekali. Itu bikin aku khawatir, tahu?” Dre memandang Nia cemas.

Dan tatapan Dre itu, tatapan itulah yang membuatnya jatuh cinta. Dan sambil pelan-pelan melihat Handphone-nya. Dia melihat bahwa HP-nya masih dalam silent mode. Entah kepencet, entah memang dia sempat membuatnya silent, Nia lupa. Ternyata ada 10 missed calls dari Dre dan 8 sms. Smua dari suaminya.

“ Kamu ke mana aja, Nia?” Tanya Dre.

“ Aku ke butik langganan, kebetulan ada barang baru. Bagus dan lucu-lucu. Sori, pulangnya kemalaman dan gak ngasih kabar, karena aku pikir kamu pulangnya besok.” Jawab Nia.

“ Gak pa-pa, “ Jawab Dre pelan. Sambil pelan-pelan memeluk Nia. Nia merasakan kelembutan, kehangatan, yang dia rindukan. Yang sudah sekian lama tidak ia rasakan. Dan memang, dia satu sisi mengetahui bahwa Dre tengah stress berat dengan pekerjaannya. Pergantian management di kantornya, target yang tak ada habisnya untuk dikejar, membuat Dre terlalu capek ketika sampai di rumah.

Dalam pelukan Dre, Nia berjanji dalam hati, untuk menjadi istri yang lebih baik. Menjadi istri yang lebih mengerti. Memang hatinya terluka selama Dre mencuekkan dia dan menganggap TV lebih memberikan relaksasi baginya. Tetapi, sebagaimana Nia menisik baju barunya, kali ini Nia ingin menisik hatinya. Menambalnya dengan cinta yang pernah ada di antara mereka. Dan sebetulnya cinta itu masih ada, hanya Nia yang merasa sudah tak memilikinya lagi.

***

HP yang sudah dikembalikan ke mode general, tiba-tiba berbunyi. Isinya? SMS untuk Nia, dari siapa lagi kalau bukan dari Adnan.

“ Thanks for tonight and sweet dream, sweetie!”

Ah, kalau saja tadi dia mempersilakan Adnan masuk, habislah dia. Satu sisi, perasaan bersalah juga timbul di hati Nia. Nia merasa tidak seharusnya dia senang-senang sementara Dre menunggunya dengan cemas di rumah. Dengan missed calls dan SMS sebanyak itu, Nia mengerti, pastinya Dre cemas.

“ Dari siapa?” Tanya Dre

“ Oh, dari butik langgananku itu tadi.” Jawab Nia pelan masih dengan perasaan tidak enak hati.

Dan Nia menghapus sms itu. Adnan memang menarik. Tapi dia juga tak ingin menodai janji perkawinan yang mereka ucapkan 1.5 tahun lalu. Walaupun kondisinya sudah amat membosankan, walaupun dirinya amat merasa kesepian dan tak diperhatikan, walaupun Adnan amat menarik, sumpahhh Nia tertarik. Tapi cintanya memang sudah diberikan kepada Dre. Sisanya, adalah mempertahankan cinta yang pernah ada itu dan membuatnya kembali membara.
Cinta bukan cuma perasaan. Ketika Nia menyadari hal itu, dia berkata dalam hati, cinta adalah keputusan. Keputusan untuk mencintai dalam keadaan apa pun.
Nia tersenyum, kembali memeluk suaminya dan bertekad….menisik hati mereka berdua dengan cinta.

Singapore, August 20, 2009
-fon-
* pas liat tisikan baju di satu kaos-ku kemarin, terciptalah cerpen ini :)

Wednesday, August 19, 2009

Dedicated for Indonesia

I love the blue of Indonesia
It's the flavor in the air
I love the blue of Indonesia
You can taste everywhere
I love the blue of Indonesia
It’s my kind of blue
(song from one of Bentoel’s Ads)


I’ve heard this song few years back then.
I don’t remember in which year to be exact,
I just felt that I like the song as a whole: the rhythm, the wordings, the voice.
Those things really reminded me the beauty of the nature of my country.
That’s all. So simple.

But the feeling has changed now.
Since I’m not in Indonesia for the last 2.5 years or to be more precise, almost 3 years – oh yes, I still had some trip back to my hometown, Jakarta or even Bali- but I’m referring to the fact that I don’t stay there most of the time.
How I missed Indonesia.
Starting from the food, the atmosphere, the friendship, the warmth, or even the traffic jam…
Hmmm, I don’t really know the progress of this jam, especially in Jakarta, because I’ve heard from some of my relatives and friends that it has become worse, anyway, every single thing, even though it’s imperfect, seems to have drag me more and more to this feeling. I miss my hometown, my country, my Indonesia.

This note is slightly late than our Independence Day, but the feeling that I want to share is just in time. It’s never too late to share the feelings, the way that I feel right now.
Maybe, like a friend said, you’ll never treasure something until you lost it. Or in other way, I’d like to say that maybe we don’t treasure it as much as we should, because sometimes we took it as a granted.
I remembered my days in Jakarta, there were times that I complained as well, about the traffic jam, about the indiscipline of many people while driving, queuing, or about the bribery/corruption there.
About few things and sometimes about many things as well.
Only to find that in the end, even though how imperfect my country is, I still love it.
Even in the midst of high tech world, high quality country, the feeling grows even deeper.
It’s strange, but it’s true.

Whatever it is, whatever it takes…
Wherever my life will bring me, to which country…
I will love you, my Indonesia
And I’ll remember the blue color of your sky, your nature, your beauty.
Hopefully I still have the chance to see the blue of Indonesia
Not contaminated by pollution…
And hopefully Indonesia will become a more mature country…
A more discipline one, a more developed one.
Wishing everything the best on your 64th birthday and the years ahead…

Singapore, August 20, 2009
-fon-
* Not in the mood of blue… And actually, I really love blue, it’s my favorite color:)