Wednesday, September 16, 2009

Arranged Marriages (Nikah Pun Diatur...)



Hari ini, ada makan siang bersama para mommy teman sekolah anakku. Tiga orang dari teman sekolah Audrey adalah orang India. Obrol punya obrol, dari tiga orang yang lunch bareng tadi, ternyata 2 orang nikahnya diatur oleh keluarga. Mereka bahkan tidak pernah bertemu sebelumnya dengan calon suami mereka. Yang mereka temui hanyalah camer alias calon mertua. Setelah sudah OK semuanya, langsung mereka melenggang ke pernikahan. Aneh tapi nyata. Buat kita yang tinggal di Indonesia atau di bagian negara lain yang menjunjung tinggi kebebasan, mungkin kita jarang mendengar hal ini. Walaupun di negara seperti Indonesia juga ada pernikahan yang diatur oleh pihak keluarga, tetapi saya kira itu tidak terlalu mendominasi. Untuk kalangan tertentu yang masih ingin mempertahankan tradisi, kekayaan keluarga, atau alasan lainnya, mungkin sekali mengatur pernikahan anaknya. Namun, untuk kalangan yang biasa dan normal, saya kira, banyak juga yang melewati masa perkenalan-pacaran-lalu menikah.

The concept of arranged marriage may sound impractical to the Western world, but in India, it is a usual norm. No matter how westernized India may have become, arranged marriages are still viewed as the most preferred choice in the Indian families. This kind of marriage has its roots laid to the time, when the ritual of child marriage prevailed in the country. Child marriage was essentially performed, so as to restrict the children from marrying outside their community and social status. The practice was essentially a way of uniting and maintaining the difference between the rich upper class society and the poor lower class society. This practice of caste system gave rise to the concept of arranged marriages. (http://weddings.iloveindia.com/features/arranged-marriages.html)

Dari satu website tentang India, saya mencuplik sebagian informasi di dalamnya. Di situ dikatakan bahwa walaupun konsep pernikahan yang diatur tampaknya terkesan tidak praktis bagi dunia Barat, di India itu adalah norma yang biasa. Tak peduli seorang India menjadi begitu kebarat-baratan, perkawinan yang diatur keluarga masih dianggap sebagai pilihan terbaik di sana. Praktek ini penting sebagai sarana penyatuan dan pemeliharaan perbedaan golongan atas dan golongan bawah. Juga, jangan lupa, di India juga memiliki praktek kasta yang masih amat kuat, sehingga membuat pernikahan yang ditentukan oleh keluarga ini menjadi pilihan yang tampaknya tepat.

Dari dua teman saya yang mengalami arraged marriages, dua-duanya tak pernah bertemu sang suami sebelumnya. Ada baik, ada jeleknya. Saya hanya membayangkan dalam kondisi normal, saya tak pernah bertemu sebelumnya dengan calon suami, tiba-tiba di malam pengantin yang muncul wajah yang mengerikan, gimana ya? Wah, mungkin itu sudah konsekuensinya. Mungkin juga mereka tidak buta-buta amat sih, mungkin mereka melihat foto calon suami, atau melihat dari jauh, tapi yang pasti tak ada fase pacaran, pegangan tangan, apalagi cupika cupiki…
Ketika di malam pengantin harus melakukan hubungan suami istri dengan seorang ‘stranger’ bagaimana ya rasanya? Maksud saya, bagi sebagian banyak wanita, perlunya ‘connection’ dulu sebelum melakukan hal itu. Kalau tak pernah bertemu, tak ada connection, bagaimana bisa?
Tapi, itulah mungkin perbedaan antarbudaya. Saya tak mampu menyelami 100 persen yang teman-teman saya alami. Dan yang salut bagi saya, mereka tetap setia. Setia dalam pernikahan apa pun yang terjadi. Sempat saya menanyakan, bagaimana kalau tiba-tiba saja sang suami adalah seorang ‘tukang pukul’ yang ringan tangan menggebuk istrinya. Apakah tinggal dengan ‘abusive husband’ macam ini masih harus bertahan pula?
Kata mereka, most probably: YES.
Aduuuhhh, kasihan sekali…! * sigh*

Teman-teman saya masih muda. Yang satu bahkan menikah di usia 22 tahun, sekarang dia hamil anak ke-2 di usia 25 tahun. Menikah dengan seorang yang ‘totally stranger’, betul-betul orang asing, dan harus setia… Tidak mudah. Sementara zaman sudah bertambah canggih, orang kawin cerai pun gampang, ini adalah suatu hal yang amat patut diacungi jempol, walaupun sisi sedihnya tak ada lagi hak asasi soal kebebasan berpendapat. Kalau saya pribadi bisa berkata, “ Hei, ini kan urusan seumur hidup. Kalau saya tidak suka, bagaimana saya bisa bertahan?”
Tapi, teman saya hanya menerima dan pasrah. Terhadap norma, tradisi, dan keluarga… Salut..Walaupun di satu sisi, hati saya ngenes juga ya.. Kasihan juga, bahwa untuk menikah pun mereka tak bisa bebas memilih pasangannya…

Satu teman kami, sebut saja si I. Si I ini asal West India, bertemu dengan suaminya saat bekerja. Suami asal East India. Dan East meets West ini tidak mudah juga, mereka harus berjuang mengatasi banyak perbedaan. Tradisi, kasta, dan penolakan keluarga. Butuh 8 tahun, untuk menerima teman saya agar akhirnya bisa dinikahi sang suami. Ini anggaplah kasus langka, karena menurut mereka, yang arranged marriage itu sekitar 90% dari pasangan di India. Oh My God…!

Pro dan Kontra…

Talking about arranged marriage, there are many pros and cons that are associated with it. One of the positive aspects about arranged marriages is that it gives the parents utmost control over family matters and members. Since they are the ones who would decide on the prospective bride and groom, they would get someone, who is the best for their son/daughter. On the other side, arranged marriages are seen as a medium to promote racism and class system. Also, they have proved to be the best medium to take dowry. Over the years, arranged marriages have posed to be more like a trade than a social custom. People find it an easy medium to make money.

While the above negative aspects can still be dealt with, one of the most crucial drawbacks of arranged marriage is that the boy and the girl do not know each other. Two unknown people get married without knowing and understanding each other, as according to the concept, it is not important to know your partner before marriage. As such, chances of not gelling well with the partner are very high. (http://weddings.iloveindia.com/features/arranged-marriages.html)


Website yang saya lihat juga memuat pro dan kontra arranged marriages. Pro-nya adalah keluarga akan menganggap bahwa pilihan mereka adalah yang terbaik bagi anak lelaki ataupun perempuannya. Sedangkan kontranya, ini menambah jurang pemisah bagi kesetaraan karena memancing rasisme dan kesenjangan sosial. Secara jujur, pernikahan macam ini dianggap lebih merupakan ‘trade’ alias dagang… daripada kebiasaan sosial. Dan lebih parahnya, dari perkawinan macam ini diharapkan bisa menghasilkan uang. Belum lagi dua orang ‘stranger’, dua orang asing yang bertemu dalam satu ikatan perkawinan yang belum pernah saling bertemu atau bertegur sapa sebelumnya. Dan pernikahan itu berarti harus menghadapi banyak hal yang tidak menyenangkan, banyak problem, dan harus menghadapinya dengan seorang asing? Koq rasanya sulit ya… Terkadang menghadapinya dengan seorang mantan pacar yang sudah kita kenal belasan tahun lamanya saja, tidak mudah... Apalagi dengan seorang yang asing di hati?

Mata saya dibukakan hari ini, masih untung saya memiliki kebebasan untuk memilih… Simpati yang besar bahwa kondisi semacam ini masih berlaku di India, di zaman se-modern ini… Atau di negara-negara lain yang juga menganut arraged marriage adalah yang terbaik… Walaupun sulit diterima, namun memang itulah kenyataan pahit yang terjadi di dunia ini…

Hanya bisa mensyukuri kebebasan saya untuk mencinta dan memilih pasangan yang terbaik bagi diri saya… Terima kasih untuk teman-teman saya, wanita-wanita India yang tangguh yang telah berbagi cerita hidup mereka…

Singapore, 16 September 2009
-fon-

gambar:http://www.indiaweddingplanner.com/images/royal_weddings.jpg

Tuesday, September 15, 2009

Dara - The Series part 1

Dara baru saja selesai mendengarkan CD favoritnya, Valentine-Martina Mc Bride...

And even if the sun refused to shine
Even if romance ran out of rhyme
You would still have my heart
until the end of time
cause all I need is you, my love my Valentine..
.

Di sini, di kamar tidurnya, Dara menerawang jauh. Matanya memandangi langit-langit kamarnya. Masih terlintas dengan jelas, last week adalah saat di mana sahabat terbaiknya, Diva melangsungkan pernikahan. Lagu Valentine, juga mengiringi ending dari sakramen itu saat kedua sejoli yang berbahagia saat itu berfoto-foto bersama kerabat dan teman, termasuk Dara tentunya...

Hmmm...Wedding?? Siapa yang tidak ingin?? Di usianya yang menginjak 35 tahun, Dara sudah memimpikan banyak kali dalam tidurnya, suatu wedding untuk dirinya yang akan dilangsungkan di gereja kecil namun sangat khusyuk... And they live happily ever after?? Terlalu terpengaruh Hollywood dream kayaknya...

Tahun demi tahun berlalu cepat, tanpa terasa umur telah mencapai 35. Bukannya tidak punya someone to spend the rest of her life with...tapi selalu saja kisah cintanya kandas di tengah jalan. Sehingga sampai sekarang, walaupun Dara sudah punya rumah hasil cicilan di bilangan Cibubur, dan mobil karimun yang juga hasil cicilan, masih ada suatu rongga kekosongan yang tinggal dalam dirinya.
In terms of career, tidak jelek...Emang sih nggak sampe canggih banget, dia bukan CEO di kantornya. Tapi not bad lahh...
In terms of friendship dan relationship yang katanya merupakan dasar dari hubungan yang lebih serius untuk ke jenjang berkeluarga, juga ok. Dara cukup populer karena Dara aktif di gereja terutama di kegiatan lingkungan dan koor di gereja, sekali-kali dia jadi lektris juga.

Ada malam-malam di mana Dara bertanya: " Tuhan, apa ada yang salah dalam diriku??" Pertanyaan ini kadang timbul dari rasa kesepian, atau pas bertemu saudara ketika pulang kampung, yang tidak bisa tidak: keep questioning WHY, krn in terms of tampang, ya...nggak jelek-jelek amat, lumayanlah... Mungkin nggak secantik Catherine Zeta Jones or Sophia Latjuba,tapi not bad koq pokoke!
Dan di budaya Indonesia ini yang mengharuskan orang harus kawin, no matter what, sepertinya Dara merasa diri bagai someone yang so weird pada suatu saat tertentu...

Di Jakarta, kesendirian kurang begitu terasa, atau lebih tepatnya dengan gampang bisa teratasi karena banyak lahan untuk menyalurkannya. Namun, itu pun bukan jaminan, saat kesepian betul-betul menyerang, and she needs someone to talk to and someone to trust to, dia betul-betul pusinggg... Dengan iman yang teguh, ia memiliki Kristus, there's no DOUBT about it. Namun, saat2 tertentu, saat kelelahan dan kesedihan melanda, rasa sepi juga pernah menghampiri dia.

Saudara dan pihak keluarga melihat Dara sebagai sosok yang cukup sukses, cukup 'gaul', tapi tidak cukup baik dalam memilih calon suami. Sering dia dikenal-kenalkan dengan pria. Mulai dari yang seumur, sampai yang lebih muda sedikit: sampai ada omongan: umur nggak masalah, yang penting kasih sayang??
Sempat Dara marah, karena terkadang saudara dan pihak keluarga yang bermaksud baik itu, terkadang terlalu ikut cammmpuurrr, sampe nggak tahan. Berasa seperti suatu komoditi yang diperjual belikan: coba kamu simak kata tantenya sebelum dia dikenalkan dengan Jerome, pemuda lulusan US itu, " Dara...jangan lupa pake lipstick dan pake baju yang bagus yaa... "

Nada bicara tante sih enteng-enteng aja, tapi ya koq Dara merasa sedih dan sakit hati sedikit, karena emangnya GUE nggak tahu gimana harusnya GUE kalo ketemu orang?? I'm old enough to understand that kinda thing, TANTE!! Pernah saking keselnya, Dara pikir: " Apa bedanya gue ama perempuan-perempuan NAKAL yang kalo ketemu mangsanya harus pake lipstick dan baju bagusss??"
Dara tau, emang pikirannya kadang terlalu ekstrim. Tapi, she can't help it juga... Keterlaluan tuh tante!! Padahal tuh tante juga cerai dari suaminya yang tukang judi... Dia juga nggak happily married, malah nyuruh-nyuruh orang untuk married. Kalo keluarganya harmonis n dia nyuruh setengah maksa gitu, Dara sih masih bisa terima. Tapi dengan kondisi tuh tante??Pleasee deh!!!
Untung, Dara udah kenal Yesus, jadi nggak mau dendam: " Ampunilah dia, krn dia tidak tau apa yang dia katakan, Tuhan..."

Kalo dibilang nggak usaha, karena kan katanya juga nggak bisa menunggu jodoh seperti bintang jatuh dari langit, nggak juga tuhh?? Kalau ada yang Dara suka n dia sreg, dia akan coba koq kontak-kontak tuh cowok...Cuma, emang harus diakui: di usia 35, kriteria tambah tinggi (tanpa disadari), dan untuk memilih secara sembarangan, Dara tidak mau: udah men-jomblo sekian lama, ngapainn pilih sembarangan?? Kalo mau cuma sekedar married, udah bisa dari dulu-dulu... Tapi ini kan juga mementingkan rasa cinta yang timbul dalam hati dan nggak bisa ke semua orang tuhh...Tapi buat tante-tante n Oom-oom Dara, hal ini gak berlaku. Mereka percaya pada: witing tresno jalaran soko kulino...Awalnya gak suka, lama-lama bisa suka karena sering bersama. Dara nggak tau, tapi juga nggak peduli, karena tetap pengen di awal ada sedikit percikan or chemistry lah...walaupun akhirnya padam... Kalo nggak suka n dijalanin tiap hari buat Dara bukannya seneng, malah ENEG...
Terus, omong-omong nih...bukannya itu hidupnya DARA ya, koq tuh oom n tante pada 'rese' sihh??
Bukannya nggak seneng dibantu, tapi kalo berasa kayak komoditi yang diperjual belikan, well...kesel juga sihhh!! Emangnya kita cewek apaan?? Lho koq jadi penuh emosi gini sihh?? Abis kadang keselll juga bo!!

Untungnya punya temen-temen sharing yang saling menguatkan. Ada beberapa single female yang merupakan strong-independent woman, yang jadi tempat curhat dan dicurhati... Not to mention, Dara punya temen-temen cowok yang juga still single yang setia jadi teman keluh kesahnya. Actually, she's quite lucky...Jadinya, gak seperti katak dalam tempurung. Ada peluang untuk saling berbagi pengalaman, yang menjadikan Dara nggak picik... Dia bisa menerima pendapat orang lain juga dan merenungkannya.

Akhirnya, setelah obrolan bareng cowok-cowok teman baiknya... Dara mengambil kesimpulan, mungkin seharusnya dia memberikan kesempatan kepada cowok yang mendekat kepadanya, meskipun dia tidak suka. Memberikan kesempatan untuk komunikasi lebih dalam, sampe berasa betul-betul nggak bisa nyambung, ya sutralah...Masa' mo dipaksa??? :)

Tapi sampe sekarang, nggak ada perubahan apa pun.Walaupun udah berubah dalam komunikasi terhadap cowok-cowok, juga berubah dalam penampilan, lebih rapi cuma gak mau selalu pake lipstick kayak omongan si Tante (*masih emosi nih ceritanya si Dara...*), dan Dara udah mulai ikutan olahraga: YOGA dan Aikido di dekat rumahnya biar balance hidupnya, kegiatan di gereja tambah aktif: koornya sering mengisi wedding di gerejanya.
I mean: ada perubahan dalam cara pandang Dara, namun: tetep aja sang Arjuna tak kunjung tiba.

Ada hari-hari di mana Dara merasa kuat, nggak peduli, nggak pusingg...It's my life n I'm having fun with it, asal masih dalam jalur Tuhan, karena Dara tidak mau berbuat nakal..Ihhh, ngeriiii kan!!??!!
Ada juga Arjuna expired yang dateng ( suami-suami orang yang mencoba-coba untuk gangguin Dara, coba-coba aja-siapa tau bisa, tokh buat mereka NOTHING to LOOSE??). Dara, walaupun mungkin suka, say NO deh ke suami-suami orang... Kalo posisi Dara sebagai istri orang nanti, dan ternyata suaminya punya WIL, gak mauu ahhh?? Dara takut karma...
Akhirnya: masih the same old DARA, cuma lebih hepi karena lebih balance dalam hidupnya karena Tuhan en olahraga juga, gak lupa: pikiran yang lebih positif dan mau memberikan kesempatan untuk cowok singles or duda cerai mati yang datang kepadanya (realistic donk...abis dah umur 35 tuhh)...

Akhirnya lagi, life goes on, DARA!! Belum dapet calon suami, meskipun pedih denger kata orang, sedih digangguin suami orang, tokh NO HARM!! Yang penting tetap balance dalam hidup, tetap bersuka dalam setiap hari yang diberikanNya...
Kadang, bukan bermaksud menghibur diri: enak juga being single: banyak waktu utk sesama, diri sendiri dan orang lain. Sementara kalo dah married, pasti fokusnya ke keluarga dulu donkkk...Itu kan wajib hukumnya...:)

Melangkah pasti bersama Tuhan, even di dalam ketidakpastian. Dara wish she could now the future, but the fact is: she can't!!
Biarlah misteri itu tetap milik TUHAN, Dara nggak mau ah mengotak-ngatik lewat cenayang or paranormal...Dara tetap percaya, Tuhan pasti mengerti kerinduan hatinya, dan Dara terus berkomunikasi dengannya, menyampaikan kerinduan hatinya yang terdalam, namun gak akan memaksa Bapa di surga.

Doa Dara :
Kalo boleh Tuhan, Engkau memberikan aku kemampuan menjadi jodoh, dan dipertemukan dengan jodoh yang berasal dari pada-Mu. Kalo tidak, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu, dan semoga aku Kau berikan kekuatan untuk menghadapi dan menjalani hari lepas hari dalam hidupku... Because I love you, LORD! Mengikuti rencanaMu adalah kerinduanku, walau sulit...aku mau berusaha. Tolong aku!

Secercah harapan baru timbul di hati Dara, sambil tetap positif menjalani hidup yang serba tak pasti, cuma bersandar kepada Tuhan saja! CD di kamar Dara kembali melantunkan Valentine-Martina McBride:

And even if the sun refused to shine
Even if romance ran out of rhyme
You would still have my heart
until the end of time
cause all I need is you, my love my Valentine...


Tetap berharap di dalam Tuhan dan bersyukur untuk semua hal yang terjadi dalam hidupnya, Dara will stay that way... How about u??


Jakarta, 4 Mei 2004
dedicated to all lajang out there!!
Life's worthy, jangan sia-siakan!
-fon-

tulisan lama lebih dari 5 tahun yang lalu, souvenir wedding-ku, just wanna share it again, buat yang belum pernah baca...:)

Monday, September 14, 2009

Rebel


Memang dia adalah pemberontak. Pemberontak sejati. Di rumahnya dia tak pernah mau mengikuti aturan yang telah ditetapkan kepadanya ataupun kepada seisi rumah. Bukan dalam hal bersih-bersih saja, karena dia akan lari entah ke mana. Namun, lebih dari itu, apa yang disuruh papa mama: sekolah, les, pilihan universitas, semua ditolaknya.
Dia tak ingin diatur. Dia ingin jadi dirinya sendiri. Walaupun itu berarti dibenci seisi rumah, dikurangi jatah uang bulanannya, sampai terakhir tidak dikirimkan kepadanya sama sekali. Hanya karena dia tak memilih menjadi dokter seperti yang diinginkan orang tuanya.
Dia tidak menyesali langkahnya. Karena dia ingin memilih jurusan bahasa, mendalami Bahasa Indonesia yang menarik hatinya.
Dia hanya ingin jadi diri sendiri.

Tidak ada yang salah dengan dirinya, ketika dia hanya ingin jadi yang terbaik dari apa yang dia bisa. Tidak ada yang salah ketika dia sungguh mengejar cita-citanya, harapan dan impiannya, yang kebetulan tidak sama – tidak sejalan – dengan orang tuanya. Tidak ada yang salah juga ketika dia memutuskan untuk menikahi seseorang yang tidak satu ras dengannya. Ketika cinta itu datang dan mengetuk, dia tidak pilih bulu, dia tidak melihat kulit kuning langsat, hitam, coklat atau putih kemerahan. Dia hanya datang dan memanah hati-hati yang terbuka untuk menerima dirinya…
Tidak ada yang salah, ketika orang tuanya menolak pilihannya, dia kawin lari. Tidak ada yang salah ketika tiga anak hasil dari perkawinan itu bermunculan satu demi satu. Dia tetap berjuang dengan keyakinannya akan hidupnya. Sampai suatu saat, si Rebel lelah. Terkapar, tersungkur, tergeletak. Dia kelelahan selalu menghadapi tantangan yang terkadang terlalu berat baginya.

Rebel menutup mata dan berdoa.
“ Tuhan, aku tak pernah minta hari-hari penuh kemudahan. Tapi, belasan tahun ini sulit kujalani. Tuhan, aku tak pernah minta kelancaran, yang aku minta Kau selalu temani. Namun, ada masa-masa di mana aku merasa kau sepertinya bersembunyi. Seolah begitu sulit mencari-Mu, seolah Kau amat sulit dipahami. Ada kalanya di mana aku tak lagi bisa berdoa, yang kulakukan hanya menangis, terkadang menyesali diri, benarkah pilihan-pilihan yang sudah kuambil? Haruskah aku mengorbankan semua keluargaku, temanku, saudaraku, hanya demi kebebasanku?
Aku lalu meragukan, apakah memang hidup bebas lepas seperti ini yang aku rindukan? Selama ini kuperjuangkan, sepertinya tanpa pamrih, hanya demi mempertahankan impian. Namun, aku keletihan. Aku merasa sendirian. Dan aku lelah, Tuhan. Aku ingin beristirahat.
Ada masanya di mana aku terlilit masalah berat, dan aku lagi-lagi menghadapinya sendirian. Suamiku sering tak berada di sisiku, dia terlalu sibuk. Ada kalanya menghadapi tiga anak seperti ini yang amat menyita perhatian, tak lagi menyisakan satu kesempatan bagi diriku untuk beristirahat. Dan aku mulai panik, aku tak lagi merasa tenang. Aku pikir, aku ingin menjauh, aku ingin pergi selamanya dari seluruh kemelut hidup ini. Kenapa kau tidak panggil saja aku, Tuhan? Aku sudah muak dengan semuanya ini?”

Rebel yang berjuang setengah mati demi kemerdekaan pribadinya, kini merasa suntuk dan ingin mati. Hal yang tak pernah terlintas dalam pikirannya sebelumnya. Rebel merasa apa yang dia perjuangkan sepertinya sia-sia. Dalam keletihan yang melanda, Rebel pasrah, dia ingin pergi, dia ingin mati…

Tiba-tiba saja ada suara dalam hatinya yang menyentakkan dia seraya berkata:
“ Apa mati akan menyelesaikan masalah? Apa kau tidak memikirkan anak-anakmu, suamimu, dan keluargamu? Apa kau tidak egois waktu berpikir bahwa pergi selamanya yang membawamu menuju sang Pencipta bisa membuatmu lebih bahagia? Bagaimana dengan mereka yang kau tinggalkan?”

Rebel pun menyesali dirinya. Menyesali mengapa sampai dia terpikir untuk mati. Karena memang segalanya terlalu berat jadinya. Karena tumpukan untuk terus melawan banyak orang yang dicintainya berbuah keletihan dan kelesuan jiwa luar biasa.

Rebel kembali berdoa:
“ Aku tak mau mati, Tuhan. Beri aku kekuatan. Kini aku mau berdamai dengan mereka yang bermusuhan denganku, sehingga pada suatu waktu nanti, ketika waktuku betul-betul tiba untuk menghadap-Mu, aku sudah siap, karena tak ada lagi dendam…”

“Ampuni dulu orang tuamu…”

Suara itu pelan, namun menusuk hatinya. Dia tahu, itu yang dia harus lakukan. Dia pun tak membenci orang tuanya, dia tak berniat untuk memusuhi mereka seumur hidupnya, biar bagaimana pun, mereka lah yang membesarkan dan melahirkan Rebel.

Rebel berjalan menuju ke rumah orang tuanya, membawa ketiga anaknya, tanpa suaminya. Papa mama Rebel tak menyambutnya, mereka menganggap Rebel sudah bukan anak mereka lagi. Cucu-cucu mereka, dua lelaki dan satu perempuan, dianggap sepi karena paduan yang tak sesuai di mata papa mama Rebel. Mata yang sipit, kulit yang hitam, rambut yang keriting, sungguh tak sedap dipandang mata. Tapi, bukankah mereka juga berhak hidup dan dihargai?

Rebel kembali ke rumahnya dan menyesali langkahnya. Dia tak mengira orang tuanya begitu kukuh menolaknya. Hatinya sakit tak terkira. Setelah dia merendahkan hatinya, merendahkan dirinya untuk pulang. Itukah balasannya?

Rebel kembali memasang jeruji besi dalam hatinya, tak mau lagi dia menjadi lemah, dia harus kuat, dan untuk itulah dia membentengi hatinya, agar hatinya tak terluka lagi.

Rebel menghadapi hidup dengan pahit, sepahit kenyataan yang harus dia terima. Sepak terjangnya tak kunjung padam, dia terus membangkang. Rebel bukankah memang pembangkang sejati? Jadi buat apa menjadi lemah hati?

Di akhir hidupnya, Rebel terbaring sakit di rumah sakit. Anak-anaknya ada di sampingnya, begitupun suaminya.
Papa dan mama Rebel telah lama pergi. Mereka tak sempat berdamai. Namun, di kala maut hampir mencabut nyawanya, dia melihat mereka berdua di sisi ranjang di rumah sakit itu. Kali ini mereka berbisik, mohon maaf pada Rebel. Setelah itu Rebel pergi dengan tenang untuk selamanya, dalam genggaman tangan suami dan anaknya.

Jiwa rebel melayang meninggalkan tubuhnya. Dia menyesali beberapa hal..Ah, kalau saja dia tak begitu emosi, kalau saja dia tak selalu menuruti dirinya dan dengan keras hati menolak saran orang tuanya.. Ah, kalau saja…
Yah, begitu banyak kalau dan kalau… Tanpa terjadi pada kenyataan.
Jiwanya semakin menjauh pergi… Penyesalan selalu datang terlambat…
Rebel ternyata tak terlalu puas dengan hidupnya, masih terselip beberapa penyesalan di sana…

Kalau saja waktu bisa diputar kembali, Rebel ingin menghadapi hidupnya dengan cara yang berbeda. Namun, semuanya sudah terlambat… Dia sudah pergi… Jauh dan takkan kembali…
Yang dia nikmati saat ini, perjalanan menuju sang Pencipta, menuju persatuan yang abadi dengan-Nya.

Singapore, 15 September 2009
-fon-
* Ada jiwa pemberontak (rebel)dalam diri setiap kita… Mudah-mudahan kita bisa menanggulanginya dan mengendalikannya…

gambar diambil dari : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi9IMtPWtjuJR2XxhtaVggN95mtPg5VYI_7wPmXaM3RvYixlQ25xgzO7eUvECGDs-QGoT9D686MkG3QPZwQY4aHFitvf5pEMYzs0QuGeIj8yLaZluejvSw_Eaoo3TUcRGJqDegzoWuNXN3W/s400/Rebel-Lecrae.jpg

Saturday, September 12, 2009

Fruit Paradise



Hari ini, aku sempat jalan-jalan ke Orchard Road dan mampir di salah satu mall barunya. Selain ION Orchard, ada juga Orchard Central yang tepat berseberangan dengan Center Point (yang ada Robinsons-nya).
Di Orchard Central, bagian atasnya di verandah, banyak restoran, keren-keren design-nya. Rata-rata resto Jepang, dengan sisipan resto Korea dan Thailand di antaranya. Juga ada Heavens Loft yang jual ice cream Ben and Jerry.
Di lantai bawahnya, tepatnya di lantai lima, aku menemukan Fruit Paradise.
Outlet ini outlet yang menjual fruit tart alias tart buah. Dengan bahan dasarnya yang terbuat dari pie, buah-buah yang segar terlihat amat menarik. Jeruk, grapefruit, blueberry, strawberry, pisang, anggur, hmm…kelihatannya segar dan mengundang selera.
Dari yang tidak tertarik membeli, setidaknya pengen melihat indahnya kue-kue di balik etalase kaca yang memang ‘cute’ itu!
Rasanya lumayan, walaupun ada komentar di website makanan www.hungrygowhere. com yang bilang memang tart-nya kebanyakan cream, tapi tetap saja, aku pikir tempat ini menarik.

Yang menarik juga dari Orchard Central adalah eskalatornya yang tinggi di tepi jalan di Orchard Road itu, tepatnya di bagian depan mall-nya. Dari lantai satu langsung ke lantai tiga, tiga ke empat, lalu lantai empat ke lantai tujuh.
Langsung menuju Verandah.
Untuk soal macam ini, Singapura memang surganya. Shopping dan mall yang rapi berjejer.
Mungkin ini yang bakal aku ‘miss’ di Vietnam. Tapi, looking forward for another experience di situ juga…:)

Aku hari ini pas menulis satu renungan, juga berpikir bahwa hidup kita yang hanya sekali ini, sayang kalau tidak dijadikan hidup yang berbuah. To live a fruitful life, kayaknya keren tuh…:)
Dalam arti, syukur-syukur, bisa berbuah kebaikan. Syukur-syukur bisa berbuah hal-hal yang positif dan bermanfaat.
Dan syukur-syukur, bisa jadi hidup yang bak surga atas semua buah yang baik…

Moga-moga kita tidak berhenti untuk terus memacu diri menjadikan hidup ini lebih berarti. Berbuah dan menghasilkan hal-hal yang baik bagi sekitar kita. Amin.

Sekian laporan pandangan mata dari Orchard Road malam ini. Reporter Anda, Fonny, undur diri…:)

Singapore, 13 September 2009
-fon-
* let’s life a fruitful life. Let’s make our life a fruit paradise of good things.

sumber photo: http://www.hungrygowhere.com/restaurant_gallery.php?recordid=40223&pid=19293&offset=&type=user
http://www.hungrygowhere.com/restaurant_gallery.php?recordid=40223&pid=19294&offset=&type=user

Friday, September 11, 2009

Apa, Sih?


gambar: http://jisa-joker.sulekha.com/mstore/Jisa-Joker/albums/default/LoveYourself.jpg

*** Sebuah catatan tentang Love Yourself.

Jatuh cinta…
Pernah jatuh cinta? Dan bingung bisa jatuh cinta pada seseorang yang begitu berbeda dari impian. Tapi entah kenapa dan entah bagaimana caranya, diri ini terpikat setengah mati. Padahal, kalau dalam kondisi logis dan realistis, tidak ada hal yang keren yang bisa dibanggakan dari si pujaan hati.
Tampang? Pas-pasan. Enam setengah lah.
Kaya? Nggak, biasa aja tuh…
Pinter? Juga rata-rata aja, bukan ranking pertama, bukan yang sepuluh besar, sepuluh besar dari bawah, iya…
Jadi, apa ya? Apa sih yang membuat jatuh cinta???

Minder menerpa…
Trus, kalau masuk ke dalam diri, masuk ke dalam hati, pertanyaan itu bisa timbul saat rasa rendah diri menyerang. Mulailah nada-nada mengasihani diri dimainkan…
“ Apa sih yang bisa dibanggakan dari gue? Tampang biasa, bodi jauh dari langsing, pinter kagak, sukses belum, kaya? Masih jauh…Apa masih ada artinya gue di dunia ini? Kayaknya kehadiran gue di dunia ini gak ada gunanya sama sekali. Ngapain juga ya gue ada di sini?”

Satu saat dalam hidup, pastinya pernah merasakan seperti itu. What am I here for? What on earth am I here for?
Apa masih ada gunanya aku exist di dunia ini? Apa gak cuma nambah-nambahin sumpeknya dunia, tanpa bisa berbuat apa-apa?

God loves you…
Tuhan katanya cintaaa banget sama tiap manusia. Bahkan nih, ceritanya, sebelum kita lahir pun, dia udah menuliskan nama kita di telapak tangannya.
Ah, masa iya, sih Tuhan? Apa gue yang ke-GR-an sendiri? Padahal Tuhan biasa-biasa aja sama gue?
Dan apa bener, bahwa kehadiran gue yang cuma sekecil kuman yang musti dilihat pake mikroskop di tengah dunia luas tak terperi ini bisa membawa pengaruh bagi kehidupan? Kayaknya, mikirnya kejauhan deh… Aku kan hanya orang biasa, kadang baik, kadang be te, kadang sabar, kadang nyebelin, kadang berdoa dengan khusyuk, kadang complain dengan bertubi-tubi… Yah, aku cuma segitu aja koq, Tuhan…
Apa pantas aku mendapatkan cinta-Mu?

Ya, iya lah…!
Kalo inget lagi neh, konsep jatuh cinta di awal, tanpa sebab, tanpa alasan, tuh cinta bisa jatuh di mana aja, kapan saja, kepada siapa saja yang terkena panah asmaranya, apa gak mungkin Tuhan jatuh cinta pada ciptaan-Nya sendiri?
Dalam kondisi yang normal, seorang nyokap, seorang ibu, pastinya sayanggg banget sama anaknya. Kadang memang rada extreme, biar pun anaknya gak cantik, pasti di matanya adalah yang paling cantik sedunia. Biar anaknya gak pinter, dalam pandangan matanya, pastinya yang paling dia banggakan…
Semua orang tua punya kebanggaan terhadap anaknya. Dan kita kan anak-anak Tuhan, anak-anak Allah, pasti Allah juga mengasihi kita.
Dan kalo dipikir-pikir lagi, pernah gak sih ada orang semuanyaaa jelek, gak ada bagus-bagusnya?
Kayaknya gak mungkin kan, ya?
Sejelek-jeleknya orang, pasti ada satu sisi bagusnya.
Jadi, kalo balik mikir-mikir neh, PR kita hari ini, positifnya gue apa ya? Apa yang bagus dari diriku…?
At least there’s something good about you, at least there’s something good inside of you.

Ketika rasa minder menyerang dan bertanya padamu, “ Apa, sih? Apa sih yang baik dari dirimu?”
Ketika sebegitu mudah kau menuding dirimu dengan segala kekurangan dan kejelekan yang begitu mudah terlihat, inilah waktunya untuk diam, dan bertanya juga kepada sisi positif dalam diri.
“ Hayooo, bakat, keunggulan, dan kebaikanku, kamu di mana, sih?”

Setidaknya ada satu hal yang bisa dibanggakan. Mungkin senyum yang tulus, mungkin otak yang cemerlang, mungkin sikap yang baik dan sabar, mungkin wajah yang tampan, mungkin…mungkin…mungkin.
Dan mungkin juga, bukan hanya satu…tapi setelah kau menemukan satu kebaikan dalam dirimu, pasti ada kebaikan-kebaikan lain yang menyusul, yang ditambahkan dari yang di atas kepadamu.

Terlalu percaya diri bisa juga jadi duri, karena sering kali membuahkan sikap sombong dan terlalu bergantung pada diri sendiri.
Tapi ketika minder yang mendominasi, merasa diri tak berharga, tak punya arti lagi, this is the time to ask yourself and say, “ Apa sih yang baik dalam diriku?”
Pasti ada sesuatu yang baik! Kalo masih gak nemu, mungkin boleh nanya ama temen baik yang bisa nunjukkin at least satu aja kebaikanmu.

Ketika rasa mengasihani diri hadir, ketika rasa itu selalu bilang padamu bahwa kamu tak pantas untuk hidup karena segalanya sudah terlanjur salah. Dirimu adalah satu kesalahan, hidupmu adalah kesalahan, bahkan langkahmu yang maju satu step saja sudah salah…
Inilah saatnya mengampuni diri, menerima diri, dan kembali kepada gambar awal yang Tuhan ciptakan ketika Tuhan menciptakan kita.
Gak mungkin kehadiranmu di sini adalah sia-sia. Gak mungkin kamu gak bisa buat apa-apa.
Gak mungkin…

Apa, sih? Ini coretan saat dini hari. Singkatnya biar mencintai diri yang terkadang diperlakukan terlalu keras, disiplin tingkat tinggi, bukan dari orang lain, tapi dari diriku sendiri.
Love yourself…Asal gak sampe narsis abis aja…hehehe…

Singapore, 12 September 2009
-fon-

Wednesday, September 9, 2009

Kupercayakan, Tuhan...

Dinginnya malam yang mencekam
Saat ini, detik ini
Membawaku kepada rasa tak berdaya
Terhadap masa depan
Terhadap saat ini pun aku tak punya kuasa
Apalagi terhadap masa depan
Tapi, apakah itu esensi kehidupan?
Hanya tentang kuasa untuk meraih tujuan?

Kucari gambaran yang kuinginkan dari sebuah perjalanan
Bernama kehidupan
Kucari dan terus kucari
Namun belum kutemukan
Mungkin secara samar masih terlihat di mataku
Namun, mungkin juga aku terlalu takut untuk melihatnya
Karena…
Pernah ku merancang dengan sempurna hidupku
Di satu masa di zaman dahulu
Hanya untuk menemukan
Semua rencana itu hancur berantakan
Digantikan oleh-Nya dengan suatu rencana yang sama sekali berbeda
Yang awalnya sama sekali tak kusuka
Kurasakan banyak pergolakan di dada
Sampai akhirnya menerima
Mungkin ini yang terbaik dari-Nya

Dinginnya malam tak terlalu mencekam lagi
Ketika kutahu…
Apa yang kuyakini saat ini
Dan apa yang kudambakan di masa depan
Kupercayakan kepada Sang Empunya Kehidupan
Bukan kepada diriku sendiri
Karena aku pernah salah
Bahkan sering salah..
Namun, aku kembali menuju kepada terang-Nya
Terang yang cemerlang itu
Yang membimbingku ke arah kepastian
Bukan atas rancanganku
Namun atas rancangan-Nya dalam hidupku

Kutinggalkan sikap sok tahu
Walaupun ini hidupku
Tetapi aku tetap percaya
Bahwa hanya Dia yang paling tahu
Dia Maha tahu

Malam memang dingin
Namun tak lagi mencekam
Ketika aku ingat akan kebaikan dan kehangatan
Yang kudapati dari seorang teman setia
Sepanjang perjalanan kehidupan
Dalam Dia kuperoleh ketenangan

Kupercayakan, Tuhan…
Kemarin, hari ini, esok, atau lusa
Sampai selamanya
Hanya kepada-Mu

Inilah seluruh hidupku…

Singapura, 9 September 2009
-fon-
* catatan malam-malam penuh perjuangan untuk tetap dekat pada-Nya. Dan bersyukur karena masih terus menerima kasih dan bimbingan-Nya tanpa henti sampai detik ini. Dan percaya Dia akan terus curahkan kasih-Nya sampai selamanya. Amin.

Monday, September 7, 2009

Menulis itu Menyenangkan


Dulu, ketika aku baru belajar menulis dan mengirimkannya kepada segelintir teman-temanku, kira-kira tahun 2002-2003, aku mendapati bahwa menulis itu betul-betul menyenangkan. Bukan saja aku bisa mengekspresikan segala perasaanku, aku juga bisa menambahkan pendapat, imajinasi, sehingga terbentuk lebih dari satu jenis tulisan. Paling tidak ada cerber atau cerpen dan tulisan berupa pengalamanku.
Bahasa yang kupakai pada saat itu adalah bahasa gaul campur Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia tentunya dan aku betul-betul menikmati hal itu. Merasakan kalau aku betul-betul bisa ‘on’, betul-betul bisa puas kalau aku bisa menumpahkan segala perasaanku di atas tuts keyboard, mengirimkannya, dan mendapatkan tanggapan dari teman-temanku. Sederhana sekali sebetulnya, hanya itu saja.

Namun, sejalan dengan waktu yang terus bergulir, ada saatnya pula ketika aku tidak lagi merasakan kesenangan (fun) ketika menulis. Maksudnya begini, ketika sudah banyak komentar positif bahwa tulisanku meng-inspirasi mereka, dari dalam hatiku tanpa sadar ada keinginan untuk terus membahagiakan para pembacaku dan membuat standar baru yang terlalu tinggi bagi diriku bahwa tiap tulisanku HARUS BISA MENGINSPIRASI orang lain. Dan di masa seperti itu sebetulnya, aku kehilangan rasa ‘fun’ itu tadi. Menulis jadinya merupakan satu tindakan pembuktian diri, satu langkah untuk memaksa diri meng-inspirasi orang lain. Dan itu sebabnya menulis di kala itu membuatku merasa biasa saja dalam arti sudah kekurangan esensi yang harusnya menyenangkan itu tadi…

Semalam, aku menuliskan satu resensi film, dari sebuah serial Taiwan yang kutonton selama lima hari terakhir. Aku merasakan bahwa kalau diriku yang dulu, yang merasa harus terus meng-inspirasi orang, tentunya akan merasa bahwa tulisan itu sia-sia belaka. Itu kan hanya resensi, sinopsis film, bagaimana mungkin bisa meng-inspirasi?
Namun, di TK Yuk Nulis dengan Bu Guru Lini Hanafiah yang terus berkata: “ Bagus!” dengan setia, aku didorong (di-encourage) untuk bermain dengan bebas, meng-explore segala kegiatan menulis dengan ‘fun’ sehingga tak perlu memikirkan soal inspirasi bagi orang lain. Syukur-syukur kalau tulisan itu meng-inspirasi, kalau tidak, ya…anggap saja aku tengah bermain dengan teman-temanku sesama nuliser di Yuk Nulis dan merasa senang.

Ya, saat ini kami memang masih berada di TK Yuk Nulis dengan segala fasilitas playground-nya. Ada perosotan, ada jungkat-jungkit, ada merry-go-round semacam komidi putar, ada kuda-kudaan, dan sebagainya. Itu buatku berarti merasa nyaman dan senang dengan menulis apa saja, mulai dari sinopsis, cerpen, cerber, sharing, pendapat, imajinasi, sampai kepada novel seperti yang dilakukan salah seorang temanku.
Kebebasan berekspresi itu tak ternilai. Selain itu pula melakukan apa yang disukai tanpa tekanan, juga lebih menyenangkan ketimbang harus terus memaksa diri melakukan sesuatu yang belum tentu sesuai hasil. Saat aku merasa harus meng-inspirasi orang lain, mungkin tulisanku belum tentu bisa meng-inspirasi mereka, dan hasilnya aku menjadi kecewa.
Namun, tatkala aku hanya berusaha bermain dengan bebas, menuliskan semua ide dan inspirasi yang muncul, itulah saatnya aku merasa ‘fun’. Menulis memang menyenangkan!
Dan itu kudapati bersama teman-teman kami di TK Yuk Nulis.

Sudah dulu, ya… Aku mau main lagi sama teman-temanku. Lihat, perosotan itu menarik sekali… Dan kupu-kupu di taman? Ah, kami mau mengejarnya… Dan melihat keindahannya…:)

Singapura, 8 September 2009
-fon-
* terima kasih, khususnya bagi Lini, Femi, Angel, Anita, Grace, Martina, Imelda, Simon, Rosa, Rini, Sansan, Hanna, Shandra, Veronica, Ratna Fri dan teman-teman Nuliser lainnya. Maaf, kalau ada yang ketinggalan dan tak sempat absen nama kalian. But really, it’s such a good feeling to be with you all… Thanks for the fun that we have in writing world…:)

Picture: http://www.thewritersworkshop.net/writing-2.jpg