Showing posts with label cerber. Show all posts
Showing posts with label cerber. Show all posts

Wednesday, April 10, 2013

Tembang Cinta Kita Episode #6: Stronger (What Doesn’t Kill You) – The End




Previously on Tembang Cinta Kita…
Ling yang tengah termangu dalam kesendiriannya di kos-kosannya di hari perkawinan Glen dan Grace sempat dikejutkan dengan Breaking News di televisi yang melaporkan kejadian langsung kecelakaan dekat Bidakara, tempat resepsi Glen-Grace. Lebih terpana lagi dirinya, ketika menyaksikan Glen memeluk Grace yang terbujur kaku serta bersimbah darah. Kelu. Bingung. Semua jadi satu.
Jadi, bagaimana kelanjutan kisah ini? Simak di episode kali ini…

Episode #6: Stronger (What Doesn’t Kill You) – The End

Rumah Sakit Medistra, Gatot Subroto, Jakarta

Glen memegang tangan Grace. Sambil menangis dia setengah berlari mengikuti perawat-perawat yang juga dengan sigap bergegas membawa Grace ke ruang gawat darurat. Siapa yang menyangka, di hari yang paling berbahagia, yang diimpikan setiap wanita-dalam balutan gaun pengantin yang cantik-terpaksa Grace harus dilarikan ke Rumah Sakit terdekat karena kecelakaan lalu lintas. Truk gandeng yang sopirnya meleng. Mengakibatkan petaka dan kesedihan berkepanjangan yang mengiringinya.

Tangisan pihak keluarga, Papa dan Mama Grace. Juga dari pihak Glen yang kebingungan semua bercampur menjadi satu. Yang seharusnya menjadi acara sukacita berubah menjadi dukacita. Hidup dan segala episode di dalamnya memang sulit untuk ditebak. Tetapi, kejadian ini agaknya begitu mengejutkan dan bukan hanya itu saja: menyakitkan.

Hari-hari selanjutnya berubah menjadi hari-hari yang penuh kekuatiran, penuh penantian, karena Grace koma di UGD dan kini sudah memasuki hari yang ke-10. Tidak sadarkan diri. Selang di sekujur tubuhnya. Tak ada yang kuat menyaksikannya. God, please help her.

***

Aku sempat menjenguk Grace dan di situ kulihat ketulusan Glen.
Juga kesungguhannya akan cintanya pada Grace.
Bahkan, Glen mengakui bahwa dia akan menerima segala konsekuensi cacat fisik ataupun jika nantinya Grace harus menghabiskan sisa hidupnya di kursi roda….
Dia akan tetap menikahinya jika Grace kembali sadar.

Perlahan kekerasan hatiku mencair.
Aku tak lagi mengasihani diriku sendiri atas putusnya hubunganku dengan Glen. Aku lebih melihatnya sebagai jalan Tuhan yang berbeda bagi kami. Kami memang takkan pernah bersatu dan kami sudah tahu akan hal itu. Hubungan kami agaknya lebih ke arah persahabatan yang saling mengisi kesepian. Mungkin juga ada ketertarikan fisik yang kuat. Tetapi, jika ditanya apakah itu cinta sejati? Kurasa tidak.

Keyakinan itu semakin bertambah setelah menyaksikan sendiri betapa setianya Glen pada Grace terutama pada saat-saat Grace begitu tidak berdaya dan koma.
Cinta sejati adalah cinta yang teruji oleh waktu dan kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan. Termasuk di antaranya dalam kesusahan, dalam kemalangan, dalam penderitaan. Saat dunia berlari menjauh, tetapi cinta sejati datang dan merengkuh. That is true love!

Hal yang terbaik yang terjadi antara aku dan Glen adalah persahabatan yang kuat sesudah cinta kami dulu berganti menjadi kasih persaudaraan… Saling mendoakan, saling menguatkan… Itu adalah anugerah terbesar yang kudapatkan dari Tuhan…

***

BBM dari Glen masuk di hari ke-20 Grace di ICU.
“ Ling, Grace sudah sadar hari ini.”

Aku terpana. Sekaligus bersyukur atas mukjizat ini. Sungguh di tangan Tuhan yang Kuasa, Dia bisa lakukan apa saja.

Dan luar biasanya lagi sesudah itu, pemulihan Grace berlangsung cepat. Dia kembali normal seperti sedia kala.
Sungguh lebih cepat dari perkiraan dokter ataupun dari semua orang yang melihatnya… Another amazing work of God.

Aku jadi teringat lagu Kelly Clarkson yang berjudul Stronger (What Doesn’t Kill You)

What doesn't kill you makes you stronger
Stand a little taller
Doesn't mean I'm lonely when I'm alone
What doesn't kill you makes a fighter
Footsteps even lighter
Doesn't mean I'm over
Cause you're gone

Really, some of the words are so true!
Begitu benarnya kata-kata itu…
Segala hal yang tidak mampu menjatuhkanmu, menjadikanmu lebih kuat… Menjadikanmu pejuang…
Sekaligus percaya bahwa segala sesuatu akan indah pada waktu-Nya…
Bukan melulu waktu yang dipercayai oleh manusia, bukan pula yang direncanakan dengan sempurna oleh kita…
Tetapi yang sudah dirancang-Nya sedari mula…

Kawasan Seminyak (Bali) – Setahun Kemudian

And this is another great moment of life!
Glen dan Grace dalam kesederhanaan resepsi pernikahan mereka, tanpa mengurangi nilai kesakralan di dalamnya.
Hanya dihadiri pihak keluarga dan sahabat dekat… Mereka kembali merayakan kesempatan Grace untuk kembali mengecap hidup dan segala kepenuhannya dalam cinta sejati Glen baginya…
Sungguh indah!

Dan aku?
Oh, aku adalah pendamping mempelai wanita hari itu.  Dalam balutan gaun berwarna kuning gading dan make-up manis minimalis, aku pun tersenyum bahagia.
Aku mendampingi Grace dan kami bahkan menjadi sahabat baik, melebihi aku dan Glen.
Aku menemukan begitu banyak hal yang positif dari Grace. Terutama semangat hidupnya, juga ketabahannya…

Sementara duduk di salah satu meja tamu, Han, yang datang dari Australia khusus untukku.
Yah, sejak setengah tahun lalu kami ‘jadian’. Kali ini dengan restu dan gegap gempita dari kedua keluarga kami.

Han putus dari May juga sekitar setahun lalu. Karena ketahuan May punya pacar lain selagi masih jadi kekasih Han.
Perlahan tetapi pasti, hubungan kami yang berawal dari teman curhat, menjadi semakin dekat. Dan psssttt, kami pun sudah membicarakan pernikahan. Itu rahasia!  Jangan bilang siapa-siapa dulu ya:)

Air mataku menetes perlahan dalam keharuan yang besar.
Glen dan Grace yang berbahagia bersulang kepada seluruh tamu dan keluarga
yang hadir hari itu.
Dan Han? Dia memeluk bahuku dan memandangku mesra.
Atmosfir cinta sungguh membuncah dan beterbangan di angkasa…
Terima kasih, Tuhan untuk akhir yang indah ini…
Kupercaya rancangan-Mu selalu indah pada waktunya.

The end.

10.04.2013
fon@sg

Tuesday, March 12, 2013

Tembang Cinta Kita Episode #5: Someone Like You


Tembang Cinta Kita Episode #5: Someone Like You

Previously on Tembang Cinta Kita…
Ling yang pingsan masih berada di rumah Tante Merry. Dia sungguh sedih dengan kenyataan bahwa Glen minta bertemu untuk memberikan undangan pernikahannya secara pribadi kepada dirinya.  Dia sungguh tak tahan. Belum lagi tuntas sakit hatinya karena putus dari Glen, ternyata begitu cepat Glen akan menikah dengan Grace. Mama memberikan dukungan. Juga Han, yang sekarang menjadi sahabat baiknya. Dalam segala permasalahan yang menimpanya, Ling seakan ingin berbicara dengan bulan. Talking to the Moon ‘Bruno Mars’ menemaninya, seolah tahu perasaannya. Betapa dia rindu bercakap-cakap dengan Glen seperti dulu dan berharap Glen ada di bulan sana dan menanggapi keluh-kesahnya juga. Masih setengah mendesak, Glen menanyakan kapan mereka akan bertemu….
Jadi, bagaimana kelanjutan kisah ini? Simak di episode kali ini…

Episode #5: Someone Like You

Langit yang sama. Mentari yang sama.
Hanya satu yang berbeda. Dirimu yang hilang.
(-fon-)

Hari berjalan pelan. Seolah enggan bergeser. Ataukah aku yang memperlambat semua prosesnya itu? Mungkin begitu.

Glen tak pernah bertemu denganku lagi. Aku tak mau.
Aku pikir lebih baik dia mengirimkan undangannya via pos, via TIKI, atau titip teman, atau via apa saja. Tak hendak aku bertemu dengannya lagi.

Dan hari ini tiba juga. This is their wedding day.
Terbayang Grace yang anggun dalam balutan gaun pernikahan warna putih bersih, dengan mahkota di kepalanya, dengan ‘make-up’ yang sempurna…
Ah, begitu membuat iri di hati…
Dan Glen, dengan gagahnya… Mengenakan jas hitam kebanggaannya, kemeja putih bersih dan dasi kupu-kupu… Sungguh menghujam dadaku!

Tetapi, satu sisi kusadari… Bukankah ketika kumulai perjalanan bersama Glen, kutahu bahwa ini bukanlah pertandingan yang akan kumenangkan?
Tetapi mengapa masih terasa begitu menyesakkan?

Perlahan, lagu itu memenuhi kamarku. Kesendirian ini kembali menemaniku.
Mama sudah kembali ke Jambi. Dan Han juga sudah pulang ke Australia.
Kini hanya diriku berteman sepi seperti waktu pertama kali aku putus dengan Glen waktu itu.

Seolah tahu perasaanku, radio kesayanganku Radio Ga Ga, kembali memutar tembang dari Adele yang berjudul Someone Like You


I heard, that you're settled down, 
That you, found a girl and your married now.
I heard that your dreams came true.
Guess she gave you things, I didn't give to you.

Old friend, why are you so shy?
Ain't like you to hold back or hide from the light.

I hate to turn up out of the blue uninvited, 
But I couldn't stay away, I couldn't fight it.
I'd hoped you'd see my face and that you'd be reminded, 
That for me, it isn't over.

Nevermind, I'll find someone like you.
I wish nothing but the best, for you too.
Don't forget me, I beg, I remember you said, 
"Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead"
Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead, yeah.

Aku takkan hadir di pestamu, Glen.
Doaku agar kamu bahagia dengan Grace.
Aku hanya berharap someday, somewhere, somehow, I could find someone like you…
Seseorang tempatku berbagi kisah hidupku, keluh-kesahku, juga bahagiaku…
Seseorang tempatku berlabuh, seseorang yang selalu ada bagiku dalam susah-senangku, sehat-sakitku, untung-malangku…
Bersamaku menjalani sisa hidupku…
Sampai salah satu dari kami harus menutup mata untuk selamanya…

***
WhatsApp-ku tiba-tiba aktif.
Jarang-jarang minggu-minggu begini, karena kebanyakan orang menghabiskan waktu bersama keluarganya.
And to my surprise, it’s Han! Bisa dihitung dengan jari WA-nya kepadaku. Dalam lima bulan terakhir ini, sekitar tiga minggu sekali dia mengirim kabar…

Aku sudah berusaha menepis bayangan akan hubungan romantis yang akan tercipta antara aku dan Han… Yang kini ada hanyalah persahabatan yang manis. Yang saling menguatkan dan mendukung. Serta saling mendoakan.
Walau intensitas kami dalam saling kontak tak begitu sering, tetapi kualitas obrolan kami cukup mendalam layaknya seorang sahabat akrab…

“ Lagi apa?”tanyanya
“Lagi denger lagu Adele, Someone Like You.” Jawabku
Kenapa kamu gak pergi sama May, Han? Ini ‘kan Hari Minggu.”
Tanyaku lagi.
“ Oh, May lagi ke Vietnam. Balik ke kampung halamannya di Vung Tau, sebuah pulau tak jauh dari Ho Chi Minh City.” Jawab Han lagi.

“ Aku lagi sedih, Han.  Hari ini Glen menikah dengan Grace. Dan rasanya lagu Someone Like You itu cocok dengan kondisi hatiku. Aku hanya berharap suatu saat akan kutemukan sosok itu. Hatiku masih hancur banget, Han. Gak tau harus gimana ke depannya.”
Tanganku mengetik Blackberryku dengan begitu lancar. Seolah Han sungguh tepat waktu datang padaku saat ini untuk menjadi sahabat tempatku berbagi seluruh keluh kesahku, walau hanya via chatting saja. Dan aku sungguh merasa tidak sendirian, setidaknya masih ada seorang sahabat yang walaupun dipisahkan benua, tetapi dia tetap setia mendengarkan curahan hatiku…

“ Jangan terlalu dipikirkan, Ling. Nanti pasti kamu akan temukan seseorang yang terbaik buatmu. Kamu gadis yang baik. Glen meninggalkanmu bukan karena kamu perempuan yang tidak baik… Tetapi, karena dia mengikuti pilihan orangtuanya. Kamu tahu itu. Jangan sampai itu membuat kamu menjadi ragu akan dirimu sendiri dan kehilangan kepercayaan dirimu. Aku akan mendoakan kamu.”  Jawaban Han itu sungguh membuat lega hatiku.

Sementara itu tanganku sibuk memencet tombol televisi. Entah mengapa hari itu aku tertarik membuka saluran Metro TV. Jam menunjukkan pukul 5 sore. Mendadak ada ‘breaking news’ yang mau tidak mau menarik perhatianku.

Selamat sore pemirsa.
Kali ini kami melaporkan dari tempat kejadian, adanya truk gandeng yang menabrak mobil pengantin di daerah Pancoran, Jakarta Selatan. Tidak jauh dari gedung pernikahan Bidakara. Diperkirakan pasangan pengantin ini akan melangsungkan acara pernikahan mereka di sana. Namun, apa daya, rencana terhenti seketika karena kecelakaan naas ini.
Korbannya adalah pengantin perempuan yang segera dilarikan ke RS terdekat. Nama pengantin wanitanya adalah Grace……

Berita itu langsung sayup-sayup kudengar. Tak lagi kuperhatikan kata-kata presenter berita yang cantik itu. Yang hanya nampak jelas di layar kacaku adalah Glen yang menangis pilu memeluk Grace yang mendadak tak sadarkan diri dan terbujur kaku. Bersimbah darah di tengah ramainya lalu lintas di sana.

Aku terdiam. Menangis.
Glen dan Grace, kasihan kalian….

Bergegas aku lapor pada Han…
“ Han, mobil pengantin Glen dan Grace kecelakaan. Grace dalam kondisi parah diangkut ke RS.”

“Hah? Kasihan betul! Aku sampai speechless. Kamu gimana, Ling?”
Tanya Han…

Tak sempat lagi kujawab pesan WhatsApp-nya…
Aku terdiam. Terhenyak. Duduk di ranjangku dan memegang kepalaku…
Tetesan air mata masih mengalir di pipiku…
Tuhan, apa arti semuanya ini? Tuhan, kasihanilah mereka…

To be continued…

12.03.2013
fon@sg

Monday, February 25, 2013

Tembang Cinta Kita Episode #4: Talking To The Moon





Tembang Cinta Kita Episode #4: Talking To The Moon

Previously on Tembang Cinta Kita…
Pertemuan yang ditunggu-tunggu oleh Ling. Akhirnya dia bertemu Han yang pulang dari Sydney, Australia. Ling merasa cocok dan terselip rasa suka dengan Han pada jumpa pertama. Bahkan Ling sempat berpikir apakah Han adalah seseorang yang disediakan baginya. Could it be with Han? Ternyata, Ling harus berhadapan dengan kecewa. Lagi. Han sudah punya kekasih di Sydney, May-orang Vietnam yang dari lahir di Sydney. Tetapi dia ragu memperkenalkannya dengan ortu-nya karena ortu-nya pernah punya kekecewaan dengan orang Vietnam saat Papanya bertugas di Thailand.
Hari itu juga, Ling menerima kabar dari BBM bahwa Glen akan menikah dengan Grace, pilihan orangtuanya. Hancur hatinya seketika. Bagaimana kelanjutan kisah Ling? Simak di episode kali ini…

Episode #4: Talking To The Moon

Kini kuhanya ingin lupakan semua…
Mengenangmu menyesakkan jiwa…
kan kuhapus air mata hingga
kudapat sembuhkan luka…
(Lirik lagu: Luka Lama oleh Cokelat)

Di kamar itu aku terbaring.
Aku belum ingat secara pasti kejadian sebelumnya. Kepalaku masih pusing berat.
Agaknya ini bukan kamarku. Ini pasti masih di rumah Tante Merry.
Ketika kubuka mataku lebih lebar, ada Mama dan Han di sana.
Mama memandangiku dengan kuatir.

“ Syukurlah kamu sudah sadar, Ling. Ada apa, apa yang membuat kamu sampai pingsan begitu, ya? Setahu Mama, biasanya karena kamu ada pikiran yang berat.” Mama langsung memberondongku dengan pertanyaan dan kesimpulannya.
She knows me so well. Of course, she’s my mom!

“ Seingat Mama kamu pernah pingsan saat ujian SMU Fisika. Karena kamu gak pernah suka Fisika yang diajarkan oleh Pak Jumadi itu. Saking pusingnya, kamu sampe pingsan di kamar mandi kita.” Mama melanjutkan sambil memijat-mijat bahuku dengan minyak kayu putih.

Duh, Mama! Jangan bongkar rahasiaku, dong!
Apalagi di depan Han. Ah, Mama payahhh….
Satu sisi hatiku berkata demikian, namun di sisi lain ada yang menyadarkanku perlahan.
Han ‘kan bukan milikmu? Dia sudah punya seseorang di Sydney, ingat itu!
Hatiku merasa tertusuk lagi. Kecewa bertubi-tubi.
Oh My God…

“ Glen tadi kirim pesan via BBM, Ma. Katanya dia mau menikah dengan Grace.” Aku berbisik pelan, tenggorokanku sedikit tersekat, tangis itu tak terbendung walau aku berusaha tegar.

“ Oh, Ling… Pantas kamu pusing dan pingsan…” Mama langsung memelukku.
“ Gak pa pa, nanti akan ada pria lainnya buat kamu. Kita percaya saja Tuhan sediakan seseorang yang lebih baik buatmu.” Kata Mama lagi…

Aku masih menangis. Dan Han menyodorkan tissue.
Aku malu, tapi tak kuasa membendung kesedihanku.
Tujuh tahun bukan waktu yang singkat…
Putus saja belum bisa kuhadapi.
Dan sekarang undangan pernikahan di saat-saat seperti ini…
Ah, Tuhan… Apa rencana-Mu bagiku?
Mengapa saat-saat ini begitu menyedihkan dan sukar dilalui?
Adakah Kau selalu bersamaku?

***
Hari itu kebetulan Hari Jumat. 
Jadi, Tante Merry dan Han menyuruh kami menginap saja di rumah mereka. Mengingat kondisiku juga kemacetan Jakarta, aku terpaksa menerima undangan untuk menginap itu. Satu sisi ada rasa tidak enak hati, sisi lain aku memang tak sanggup juga harus melalui malam ini sendirian di kos…
Luka yang belum sembuh selepas putus dari Glen makin berdarah saat dia katakan dia akan menikah. Memang ini bukan akhir segalanya bagiku. Memang aku tahu setelah dia melaju dengan pilihan ibunya, pernikahan adalah tujuan selanjutnya…
Tetapi tidak secepat ini, Tuhan…
Apa mau dikata jika memang harus begini….
Aku hanya mohonkan kekuatan-Mu, karena aku sadar…
Betapa lemahnya diriku…
Dari jendela kamar di lantai dua rumah Tante Merry, kulihat bulan sedang bersinar terang…
Bulan purnama yang indah dan tak tertutup awan…
Teringat aku akan lagu Bruno Mars yang berjudul Talking to the Moon
Hmmm, dear Moon, is this the time that I should talk to you?

I know you're somewhere out there
Somewhere far away
I want you back
I want you back

My neighbors think I'm crazy
But they don't understand
You're all I have
You're all I have

At night when the stars
Light on my room
I sit by myself

Talking to the moon, tryin' to get to you
In hopes you're on the other side talking to me too
Oh, am I a fool who sits alone talking to the moon

Glen, aku sungguh berharap kamu ada di sana. Di bulan itu.
Dan berbincang-bincang denganku.
Aku sungguh kesepian…
Setelah bertahun-tahun yang kumiliki hanya kamu, Glen…
Tanpa kedekatan dengan orangtuaku…
Sendiri di rantau…
Kehadiranmu seperti semacam obat pelipur lara yang membangkitkan keceriaanku…
Sekarang, you’re not that far away, still here in Jakarta
But there’s a huge distant between our hearts…
My heart sometimes says that I want you back…
Especially the feeling that we’ve had…
Tetapi, kutahu, itu semua hanyalah harapanku semata yang takkan pernah menjadi nyata…

Perlahan kakiku melangkah turun.
Mama kebetulan pergi ke supermarket dekat sini sebentar dengan Tante Merry. Aku pun sudah diberi sedikit minuman teh hangat dan roti selai stroberi untuk menguatkan fisikku.
Aku turun dengan maksud kembali ke taman, ke bangku tempat aku bercakap-cakap dengan Han. Dan kembali memandangi bulan.

Langkahku yang perlahan mendadak terhenti. Ketika kujumpai Han di situ.
Duduk di tempat yang sama denganku.
Matanya menerawang ke angkasa. Seolah  ingin terbang ke sana.
Yang di pikirannya? Ah, agaknya aku bisa menebaknya…
May jelas-jelas ada di sana.

Aku hendak berbalik ke kamar saja. Kuurungkan niatku untuk duduk di sana.
Tetapi langkah buru-buruku membuatku tersandung batu.
“ Aduh!” Teriakku.
Han berbalik ke arahku. Dan langsung menuju tempatku terjatuh.
Kakiku berdarah pula, tepatnya jempol kaki kananku. What a day!
Sudah sempat pingsan, tambah kaki luka pula.
Dengan sedikit terseok, aku mencoba berjalan. Han memegang bahuku.
Getaran itu masih sedikit terasa. Perasaan nyaman saat bersamanya. Tetapi, kutahu, itu bukanlah cinta. Sakit hatiku pada Glen masih terasa. Dia memang pernah jadi cintaku yang dalam. Sekarang pun belum pergi seutuhnya dari diriku…

Kembali ke lantai dua kamar sementaraku di sini…
Akhirnya Han bicara banyak denganku…
Curhat perasaannya pada May, juga prihatin dengan kondisiku.
Hari ini, aku menemukan seorang sahabat baru…
Senang hatiku. Sahabat agaknya cocok bagiku, akan lebih langgeng daripada sekadar pria yang mendekati dan bermaksud lebih dari itu…
Saat ini aku hanya butuh sahabat…. Itu sudah cukup dariku…

Aku pun cerita padanya. Seolah sahabat yang sudah berteman sejak lama.
Entah mengapa, kenyamanan itu makin terasa.

Setelah Han keluar kamar…Mama pulang dan kembali menengokku…
Berdua kami berdoa…
Mama kembali mengingatkanku…
“Jangan pernah putus asa, Ling… Tuhan akan bukakan jalan saat tiada jalan.
God will make a way.”

Aku menangis sepuasnya dalam pelukan Mama.
Saat ini rasanya berat kulalui. Kusyukuri aku tidak sendiri.
Ada Mama dan ada Han.
Dan yang pasti ada Tuhan di setiap sesakku, juga saat gembiraku.

Malam yang pastinya akan membuatku sulit tidur.
Saat kulihat kembali BB dari Glen, ternyata ada tambahan di pesannya.
“ Jadi, kapan Ling kita bisa ketemuan?”

Glen, I hate this!

To be continued…

Thursday, February 21, 2013

Tembang Cinta Kita Episode #3: Could It Be Love?





Tembang Cinta Kita Episode #3: Could It Be Love?

Previously on Tembang Cinta Kita…
Ling ditemani mamanya dari Jambi dan membuat dirinya berbaikan kembali dengan Mama, suatu ‘blessing in disguised’ dalam saat-saat ‘down’ karena putus dari Glen. Tante Merry dan keluarga yang jadi teman dekat Mama juga menghibur hatinya. Dan Han, satu nama yang juga membuat Ling penasaran ingin jumpa… Through the rain, Ling menjalani hidupnya, melintasi proses badai yang tengah dia alami bersama keluarganya…
Bagaimana kelanjutan kisah Ling? Simak di episode kali ini…

Episode #3: Could It Be Love?

Biarkan cinta temukan jalannya, mendendangkan cerita kamu dan aku. Kisah kita.
(-fon-)

Hari itu aku bertemu Han untuk pertama kalinya.
Entah mengapa aku suka pada senyumnya yang ramah dan tatapan matanya yang tulus.
Aku bukan orang yang pandai menilai orang lain, tetapi kukira kenyamanan yang kurasakan saat berhadapan dengan seseorang itulah yang kujadikan patokan. Dan saat ini, kesan pertama itu begitu kuat. Han adalah seorang pria yang baik dan enak dijadikan teman ngobrol.

Tiba-tiba terlintas lagu yang selalu aku suka, dari Raisa. Could it be love.
Could it be you, Han? Ah, kutepis anganku itu. Terlalu cepat rasanya untuk berharap banyak saat jumpa pertama. Terlebih lagi, hatiku belum lagi siap untuk memulai suatu petualangan baru bersama seorang pria lain. Sakit di hatiku masih terasa akibat hubunganku yang kandas dengan Glen…  Namun tetap saja, hatiku mendendangkan lagu itu saat ini tanpa bisa kukendalikan…J

Kau datang dan jantungku berdegup kencang
Kau buatku terbang melayang
Tiada ku sangka getaran ini ada
Saat jumpa yang pertama

Mataku tak dapat terlepas darimu
Perhatikan setiap tingkahmu
Tertawa pada setiap candamu
Saat jumpa yang pertama

Could it be love, could it be love
Could it be, could it be, could it be love
Could it be love, could it be love
Could this be something that I never had
Could it be love
“ Ling, koq kamu bengong aja?” Tanya Han.
“ Disuruh Mami masuk dan makan bareng tuh.” Sambungnya lagi.

Aku gelagapan. Sedikit salah tingkah.
“ Oh, eh, iya Han.” Gumaman tak jelas barusan membuatku langsung bergegas angkat kaki ke dapur, daripada lebih banyak pertanyaan dari Han.

Makanan hari itu sungguh enak. Lezat.
Tapi aku tak begitu berselera.
Entah karena Glen ataukah karena Han yang kesan pertamanya begitu kuat di hatiku saat ini tengah berada di depanku. Ataukah gabungan keduanya? Sulit bagiku untuk menentukan apa penyebab aku kehilangan selera makanku.
Padahal hari ini Tante Merry sudah menyiapkan hidangan ala Thai yang jelas-jelas lezat, tidak kalah dengan restoran Thai ternama. Kata Mama, Tante Merry pernah belajar masak di Thailand sewaktu suaminya tugas singkat sekitar enam bulanan di sana. Saat itu Han belum lahir.

Kuselesaikan juga akhirnya Tom Yam Goong yang lezat itu…
Makanan penutup berupa ketan mangga, sungguh menggoda. Itu pun masuk dengan sukses ke perutku. Itu saja. Yang lain tak terlalu kusentuh.
Mama memperhatikanku, tetapi berusaha netral karena dia mengerti kondisiku dengan Glen. Dan yang dia belum tahu, Han sudah perlahan-lahan masuk dan menerobos ke dinding hatiku…

***

Seusai makan kami berkesempatan berdua lagi.
Di kursi panjang di taman yang dipenuhi bunga dan pepohonan di rumah Tante Merry yang luas.
“ Jadi, kamu sudah lama kerja di Sydney, lalu kuliah lagi Han?” Tanyaku memecah keheningan.

“ Iya, aku kuliah S1 sampai selesai dibiayai Mami dan Papi. Sesudah itu aku kerja sekitar 12 tahunan. Sekaligus mengumpulkan uang juga. Sekarang, aku ambil S2 di bidang Business dengan uangku sendiri. Biar nggak ngerepotin Mami dan Papi lagi.”
 Jawab Han ramah dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya.

Gawat!
Aku mulai suka senyumnya dan bahkan tanpa sadar merekam tarikan sudut bibirnya itu di kepalaku…
“ Ling, kenapa kau ini?” Tanya hatiku…
 Ah, aku sungguh tak mengerti, tetapi di satu sisi aku menikmati semuanya ini…

“ Lalu setelah lulus S2, apa rencanamu, Han? Kerja lagi di sana?” Aku berusaha memuaskan rasa ingin tahuku tentangnya. Lagi dan lagi.

“ Ya, aku sih rencananya terus di Sydney. Hanya satu yang akan memaksaku untuk pulang suatu hari… Karena Mami dan Papi berdua saja di sini dan aku anak tunggal… Suatu saat jika mereka bilang aku harus pulang, ya, pasti aku pulang demi mereka… Hanya saja, sekarang aku lebih berat lagi untuk tinggal di Sydney..” Jawaban akhirnya yang menggantung, membuatku penasaran…

“ Kenapa?” Tanyaku cepat…

“ Aku sebetulnya sudah menemukan seorang gadis yang kusuka. Dia pun suka padaku. Namanya May, dia orang Vietnam yang sudah dari lahir tinggal di Sydney. Tetapi masih ragu kuceritakan kepada Mami dan Papi…” Jawabnya lagi.

Plakkk!!!
Seolah tertampar mukaku saat mendengar hal ini…
Han memang ramah. Han mungkin memang baik pada semua orang…
Mungkin aku dengan permasalahanku menjadi kurang tanggap akan hal ini…
Kupikir harap itu ada…
Kupikir harap itu mungkin menjelma nyata…
Sesudah Glen, mungkin chapters of love bersama Han akan tercipta…
Kupikir demikian adanya…
Tetapi, kenyataan ternyata tak seindah anganku semata..

Dan sekarang kepalaku berkunang-kunang…
Kebahagiaan semu yang terampas seketika…
Padahal dia bukanlah milikku, mengapa rasa sakit itu tetap ada…
Terlalu berharap memang akan berujung kecewa….
Seharusnya aku mengerti…
Tuhan, kuatkan aku untuk melanjutkan percakapan ini…

“ Kenapa ragu?” Tanyaku perlahan…

“Karena Mami dan Papi pernah punya trauma dengan orang Vietnam yang mereka jumpai di Thailand saat Papi tugas di sana… Papi ditipu sejumlah uang, padahal mereka teman akrab… Jadi, aku ragu…” Kata Han lirih…

Ah, begitukah, Han?
Itukah penyebabnya?
Kau sudah punya seseorang yang kaucinta dan mencintaimu…
Betapa beruntungnya kamu!

Aku pura-pura sibuk dengan Blackberry-ku. Menutupi kekecewaanku.
Dan BBM itu pun masuk.
Dari Glen.

“Ling, aku mau ketemu. Bisa?  Penting nih.”
Begitu bunyi pesan Glen.

“ Urusan apa lagi, Glen?” Reply-ku balik.

“ Undangan pernikahanku dengan Grace.”
Jawaban singkat dari Glen itu membuat duniaku runtuh. Lagi. Air mataku tak mampu kubendung.
Aku masih begitu labil. Perasaanku pada Glen masih tersisa. Dan kecewa yang barusan kurasakan saat tahu Han punya orang yang dicintai di Sydney sana masih menganga…
Ahhh, mengapaaa? Mengapa semuanya bertumpuk begini, Tuhan?

 Mendadak kepalaku pusing. Dan aku pingsan.

To be continued…

22.02.2013
fon@sg





Sunday, February 3, 2013

Tembang Cinta Kita Episode #2: Through the Rain







Previously on Tembang Cinta Kita…
Ling tengah meratapi nasibnya. Kesedihan yang begitu dalam ia rasakan saat Glen, pacarnya selama 7 tahun memutuskan hubungan mereka. Orangtua Ling pun tidak menyetujui hubungan ini, sehingga membuat ketegangan dalam relasi orangtua-anak ini. Ling ditemani lagu Officially Missing You dari Tamia sungguh merasa kesepian di Sabtu, Malam minggu setelah putusnya dia dari Glen. Bagaimana kelanjutan kisah Ling? Simak di episode kali ini…

Episode #2: Through the Rain

Some songs made me smile, some songs made me cry...
Well, isn't life itself a song? The melody that I sing and dedicate to the Almighty?(-fon-)

Januari yang basah.
Diiringi rinai hujan, aku melangkah tak tentu arah. Kurang konsentrasi.
Masih untung jalanan sepi.
Terpaksa aku harus keluar rumah karena rasa lapar. Sudah jam 3 sore, dan dari semalam tak ada sesuatu pun yang masuk ke perutku…
Aku menguatkan diriku sendiri untuk melangkah.

Kubeli nasi bungkus di Warteg Ibu Sri, satu-satunya yang paling dekat dengan kos-kosan di daerah Casablanca. Payungku kecil, rintik hujan itu sesekali menjatuhi wajahku. Sedikit bercampur air mataku yang tak bisa dikendalikan itu. Tak ada yang tahu, aku masih menangis sambil berjalan sendirian.

Kembali ke kamar kosku.
Kumakan tiga suap nasi, telor, dan sayur itu tanpa selera.
Lalu kuletakkan begitu saja di meja satu-satunya yang ada di kamarku yang kecil mungil.
Di kamarku terpasang CD Mariah Carey, bukan lagu baru. Melainkan lagu di tahun-tahun awal 2000-an. Tepatnya tahun 2002, saat Mariah menelorkan album ke-9 yang berjudul Charmbracelet.  Lagu itu: Through the Rain.
Aku selalu suka tembang itu. Terlebih lagi, di saat-saat ‘down’ seperti ini. Seolah lagu itu memberikan kekuatan bagiku untuk bangkit lagi. Bersama Tuhan tentunya. Karena aku tahu, dengan kekuatan diriku sendiri, aku takkan pernah bisa melalui hujan badai yang tengah melanda hidupku saat ini.

When you get caught in the rain with no where to run 
When you're distraught and in pain without anyone 

When you keep crying out to be saved 
But nobody comes and you feel so far away 
That you just can't find your way home 
You can get there alone 
It's okay, what you say is 

I can make it through the rain 
I can stand up once again on my own 
And I know that I'm strong enough to mend 
And every time I feel afraid I hold tighter to my faith 
And I live one more day and I make it through the rain

Tuhan, hanya Engkau yang bersamaku saat ini.
Tak ada sanak atau saudara di rantau ini.
Juga mama dan papa yang tengah bersitegang dengan diriku jauh di seberang pulau.
Sungguh, hanya Engkau…
Jika aku tidak menguatkan diriku di dalam iman, apa jadinya aku?
Jika aku bangkit lagi nanti, Tuhan, dari keterpurukanku ini…
Aku tahu, Engkaulah yang menopangku.
Dan menjagaku agar tak sampai hancur diriku ini…

uHujan rintik yang awet.
Sementara di kamarku masih terus mengalun ‘Through the Rain” tanpa henti.
Kuputar ulang. Lagi dan lagi.

Dan tiba-tiba telpon masuk.
Dari Mama?
Dengan ragu, kuangkat handphone-ku.

“Halo, Ma.” Sapaku agak sedikit malas-malasan.
Terlalu kaku hubungan kami, sehingga aku merasa segan untuk ber-hai-hai bahkan dengan mamaku sendiri.

“ Halo, Ling. Sudah lama tidak ada kabar. Mama agak kuatir. Perasaan Mama sudah tiga hari ini kurang enak. Jadi Mama menelpon kamu. Gimana kamu?” Tanya Mama lembut.

Mama tetaplah Mama.
Dia yang melahirkan aku. Dia sesungguhnya yang paling mengerti aku.
Tanpa disuruh, Dia bisa menelponku saat aku sakit di tahun lalu. Dan kali ini, ketajaman intuisinya memaksanya menelponku lagi meskipun aku dan Mama sedang dalam kondisi perang dingin.

Air mataku langsung tumpah seketika.
Kuceritakan kejadianku dengan Glen. Dan Mama langsung memberikan kata-kata yang sungguh menghibur dan menguatkan.
Tuhan, terima kasih.
Di balik semua kejadian ini, ada hikmahnya juga.
Aku jadi berbaikan dengan Mama. Dan itu bagiku sungguh luar biasa!

Bersama Mama dan Papa, kuyakin aku bisa menghadapi permasalahan ini. Setidaknya dengan lebih bijaksana.
Tidak menuruti emosi hatiku semata.

“ Besok Mama datang ke Jakarta.” Katanya seketika.
“ Ah, gak usah, Ma. “ Jawabku.
“ Aku ‘kan harus kerja. Nanti Mama tidak ada yang nemenin.” Jawabku lagi.
“ ‘ Gak usah ditemenin. Mama bisa tinggal di tempat Oom dan Tante sahabat Mama dari kecil dulu. “ Jawab Mama lagi.
“ Oh, Oom Lucky dan Tante Merry,  ya Ma.” Seketika aku ingat mereka. Yah, mereka seolah Saudara Mama, tetapi tidak begitu dekat denganku. Bahkan aku tak pernah bertemu mereka selama aku bekerja di Jakarta. Banyak alasan, terutama aku tak mau mereka memata-matai aku dan melaporkan hubunganku dengan Glen.

“ Pokoknya Mama tetap datang. Titik. Mana mungkin Mama membiarkan kamu begitu saja di tengah apa yang kamu alami?” Mama menjelaskan lagi.

“ Ok, Ma. ‘Ma kasih.” Jawabku lagi.

Yah, setidaknya aku tak harus sendiri.
Papa pun berbicara sejenak. Bilang bahwa dia tak bisa datang. Karena tak bisa meninggalkan kesibukannya di toko bangunan kami di Jambi.
Aku mengerti. Kedatangan Mama sudah lebih dari cukup bagiku.


***
Sudah dua hari Mama di Jakarta.
Aku pun masih cuti karena memang seminggu ini aku berusaha mengalihkan perhatianku dari Glen.
Aku ke mana-mana sama Mama. Malam terkadang aku menginap di rumah Tante Merry yang menyambutku ramah. Hatiku terhibur dengan kedatangan Mama dan keramahan Tante Merry sekeluarga.
Kata Tante, anaknya yang tertua yang sekarang tengah kuliah di Australia akan segera pulang dalam dua hari ini. Kuhanya melihatnya di foto keluarga. Nama panggilannya Han. Nama lengkapnya? Entah. Aku tak terlalu peduli. Aku hanya menikmati masa-masa ‘through the rain’ ini. Yang disediakan bagiku dari Tuhan. Bersama Mama dan keluargaku, juga bersama Tuhan, keyakinan untuk bisa melewati semuanya ini timbul lagi. Bukan sesuatu yang menggebu, tetapi sepercik harap masih ada di situ.
Semoga proses pemulihan ini lebih cepat yang kukira…
Sementara di taksi yang membawa kami dari Senayan City ke rumah Tante Merry di bilangan ‘Green Garden’ tengah diputar lagi lagu Mariah Carey dari sebuah radio.


I can make it through the rain 
I can stand up once again on my own 
And I know that I'm strong enough to mend 
And every time I feel afraid I hold tighter to my faith 
And I live one more day and I make it through the rain

Kusandarkan kepalaku ke bahu Mama. Kemanjaan yang sungguh sering kuulang.
Terima kasih, Tuhan untuk secercah harap yang muncul. Mama yang menemaniku. Dan tentunya Engkau yang selalu setia di setiap babak di hidupku.
Sesungging senyuman muncul di sudut bibirku. Dan ribuan terima kasih kuteriakkan di dadaku. Hanya bagi-Mu.

To be continued…

03.02.2013
fon@sg

Tuesday, January 29, 2013

Tembang Cinta Kita Episode #1: Officially Missing You





Tembang Cinta Kita Episode #1: Officially Missing You

angin menyampaikan salam
mentari tersenyum cerah
namun mengapa hatiku kelam?
hidup seolah kehilangan gairah

ada satu yang masih kucari
seorang pendamping pengganti dirimu
mungkin nanti
akan kutemukan cinta sejati itu

Itu goresan di buku harianku hari ini.
Sulit untuk memilih judul yang tepat. Sehingga ia masih berstatus tanpa judul.
Jika harus membuat judul, yang paling tepat menggambarkan perasaanku saat ini agaknya kata KELAM cocok juga…
Kelam, suram, buram, muram…
Semua yang bernada kelabu seperti gorden di kamarku.

Kuhela nafas panjang.
Perpisahanku dengan Glen setelah kami berpacaran selama tujuh tahun terasa menyesakkan.
Aku tahu, aku pun punya andil kesalahan di dalamnya.
Sudah tahu kedua belah orangtua pihak keluarga tak pernah setuju karena perbedaan suku, tetapi kami masih menyimpan harapan itu.
Berharap dan masih berharap kalau suatu saat nanti kami bisa bersatu dalam wadah pernikahan dan keluarga memberi restu.

Apa boleh buat….
Seminggu yang lalu, Glen mendatangi tempat kosku dengan kabar bahwa dia akan dinikahkan dengan pilihan ibunya.
Kali ini, dia tak menolak (ini yang membuatku merasa sakit hati dan benci). Akhirnya, dia menemukan seseorang yang dia rasa bisa menjadi pengganti diriku. Dan dia punya rasa suka yang kuat di awal bertemu.

Terasa percuma. Sia-sia.
Perjuangan tujuh tahun hilang begitu saja.
Tetapi, akhir ini sebetulnya sudah kuduga…
Namun mengapa ketika terjadi hatiku begitu berdarah?
Kekecewaan langsung tumpah-ruah.

Dan yang terberat yang harus kualami adalah malam minggu sepi.
Tanpa kamu lagi.
Glen, aku benci perasaan ini!

***




Di kamar kosku yang sempit, kudengar lagu itu dari sebuah stasiun radio yang jarang-jarang kuputar. Tetapi, kini agaknya harus kulakukan untuk sekadar membunuh sepi.

Officially Missing You
A Song by Tamia

All I hear is raindrops
Falling on the rooftop
Oh baby tell me why'd you have to go
Cause this pain I feel
It won't go away
And today I'm officially missing you
I thought that from this heartache
I could escape
But I fronted long enough to know
There ain't no way
And today
I'm officially missing you

Oh can't nobody do it like you
Said every little thing you do
Hey baby say it stays on my mind
And I, I'm officially

All I do is lay around
Two ears full tears
From looking at your face on the wall
Just a week ago you were my baby
Now I don't even know you at all
I don't know you at all
Well I wish that you would call me right now
So that I could get through to you somehow
But I guess it's safe to say baby safe to say
That I'm officially missing you

Ling, tegarkan hatimu!
Glen mungkin bukan untukmu…
Satu sisi hatiku berkata begitu…
Namun, sisi sakit hati, tak rela, iri, benci, cemburu, juga tak kalah kuatnya menarikku lebih dalam…
Dan untuk menambah penderitaanku di malam minggu yang kelabu itu, cuaca seolah berkomplot dengan lirik lagu Tamia. Hujan. Sehingga yang kudengar hanyalah tetesan air hujan di atap rumah kos-kosanku.
Keadaan diperparah karena aku berada jauh dari keluargaku.
Mereka di Jambi. Sementara aku bekerja di Jakarta

Fransiska Mei Ling Wijaya, tegarkan hatimu!
Itu ucapku saat menatap wajahku di cermin. Tetapi, aku gagal lagi.
Tinggallah tetesan air mata yang terus mengalir tanpa henti seolah dua mata air yang deras membanjiri kedua pipiku…

Satu sisi aku tahu… Sungguh sangat mengerti…
Bahwa ini adalah episode kehidupan yang harus kulalui…
Tetapi, mengapa ketika aku mengalaminya, terasa duniaku runtuh?
Sulit untuk melihat bahwa hari esok masih ada, harapan untuk mencari pasangan hidup masih tersisa…

Setelah menghabiskan tujuh tahun sia-sia… Aku kembali jadi ‘single’ di usia 36.
Bukan usia yang membanggakan… Sudah dianggap perawan tua! Tetapi, apa mau dikata… Ini jalan hidupku yang harus kulalui…

Kubenamkan kepalaku di atas bantal…
Menangis lagi. Sampai puas.
Tetapi sesak itu masih ada. Dan semakin meraja di dada…
Mami dan Papi belum tahu putusku ini. Mereka tahu kalau diam-diam aku terus menjalin hubungan dengan Glen yang campuran Jawa-Ambon itu.
Mereka menjaga jarak denganku, sehingga aku tak tahu harus mengadu kepada siapa…

Buku harianku, mungkin kamu sobatku paling setia saat ini…
Kepadamu, kupercayakan seluruh kesedihanku, dukaku, laraku.
Lukaku ini rasanya takkan tersembuhkan dalam beberapa tahun ke depan…
Apa yang harus kulakukan?
Tuhan, tolong bukakan jalan…

Sementara Tamia masih mengalun:

Well I thought I could just get over you baby
But I see that's something I just can't do
From the way you would hold me
To the sweet things you told me
I just can't find a way
To let go of you

It's official
You know that I'm missing you

I hate to say this!
But, Glen… I think I’m still missing you a lot….
Tuhan, kiranya berikan aku kekuatan. Cobaan ini sungguh berat bagiku…
Adakah KAU dengar doaku?

To be continued…

29 Januari 2013
fon@sg