Sunday, January 15, 2017

PAPA...


 PAPA...

Jumat, 13 Januari 2017, pukul 20.10-21.15

Kami sekeluarga menonton drama Korea di Channel S-One. Yang tengah kami tonton bersama adalah 'Legend of the Blue Sea' karena ada pemain-pemain kesayangan saya pribadi: Lee Min Ho dan Jun Ji-Hyun. 
Drama ini berkisah tentang kisah cinta 'Mermaid' alias 'Putri Duyung' dengan manusia.
Kisah yang idenya tidaklah baru, namun para penulis skenario menuliskannya kali ini dengan apik karena menyambungkan kisah di masa lalu dengan masa kini...
Dari Masa Joseon, sekian ratus tahun yang lalu, kita dibawa menuju ke masa kini di mana Sim Chung (mermaid) bertemu kembali dengan Hae Joon Jae (diperankan oleh Lee Min Ho).

Episode ke-17 yang lalu diakhiri dengan ending yang cukup dramatis.
Lee Min Ho yang berusaha menyelamatkan ayah kandungnya dari cengkeraman jahat ibu tirinya yang menginginkan harta ayahnya yang konglomerat itu, harus berhadapan dengan kecewa.
Ayahnya pada awalnya tidak mempercayainya karena Joon Jae is now a swindler.
Dia adalah seorang tukang tipu ulung, namun sebetulnya dia tulus ingin membantu ayahnya keluar dari rumah ayahnya sendiri.
Ayahnya kemudian meninggal.
Joon Jae datang terlambat saat ambulans sudah bersiap ingin membawa ayahnya pergi.
Teriakan histeris muncul " Appa! Abeoji!" (berarti: ayah).
"Mian!" (I'm sorry- Maaf).

Dia berlutut di depan rumah ayahnya.
Menangis perih dalam kepiluan yang luar biasa.
Akting yang bagus! Audrey anak kami bergegas mengambil tissue.
Terharu.

Diam-diam saya menangis dalam hati.
Teringat Papaku yang sudah berpulang tahun 1993 yang lalu di usianya yang ke-56.
Setelah berperang dengan penyakit komplikasi yang dideritanya.
Beliau berpulang 2 Juni 1993.
Dengan sedikit linglung, tak percaya, aku ke bandara Soekarno Hatta berusaha membeli tiket jurusan Palembang.
Go show tentu saja karena ini di luar perkiraan.
Maskapai apa saja, asal aku cepat sampai ke rumah.
Meskipun Papa sudah sakit sejak aku SMP, namun 1 Juni, sehari sebelumnya aku menelpon ke Palembang dan kata Mama, keadaan Papa membaik.
Papa sudah mau makan...
Rasa lega yang kurasakan kemarin berganti duka...
Saat Mama bilang, Papa sesak nafas dan ambulans pun datang menjemput...
Apa daya, memang waktu-Nya sudah tiba...

Papa menghembuskan nafas terakhirnya saat sudah berada di RS, namun belum sampai ke ruangan IGD.

Ada rasa hampa yang tak pernah kurasakan sebelumnya.
Sebuah rasa kehilangan yang tak pernah kutahu akan begini jadinya.

Padahal relasiku dengan Papa tidaklah sempurna. Banyak juga pertentangan karena memang kami sama-sama keras.
Satu hal yang kusyukuri bahwa kami sempat berdamai dan hubungan kami jauh lebih baik saat aku harus meneruskan kuliah di Jakarta.
Aku bersyukur jadi anakmu, Pa...
Walau kutahu Papa tak sempurna, sama seperti diriku yang sekarang jadi Mama, sangat sadar bahwa aku pun jauh dari sempurna...
Hanya tiap hari berusaha menjadi Mama yang baik bagi anak-anaku, itu saja, Pa!
Yang kutahu Papa terus berupaya keras memenuhi kebutuhan kami kelima anaknya dengan usaha dan kerja kerasnya.
Papa juga telah mewariskan darah seninya kepadaku, terima kasih, Pa!


Drama Korea Legend of the Blue Sea telah berlalu...
Akting Lee Min Ho masih meninggalkan kesan mendalam di hatiku...
Kenangan akan dirimu menari-nari dalam benakku, Pa...
Sesuatu yang mungkin tak pernah kukatakan dulu, namun kini dengan lantang ingin kuserukan kepadamu: " I Love You, Pa!"
You'll be forever in my heart!

16 Januari 2017
fon@sg



Monday, January 9, 2017

TALKING ABOUT ROSES AND THORNS


(BERBICARA TENTANG BUNGA MAWAR DAN DURI)

“You can complain because roses have thorns, or you can rejoice because thorns have roses.”
Kalimat bijak ini konon berasal dari Abraham Lincoln. Namun, ada beberapa yang mengatakan bahwa ini ditulis oleh orang lain.
But no matter what, intinya yang saya lihat bagus dan mengingatkan saya pribadi…
Kita bisa mengeluhkan bahwa bunga mawar punya duri  atau  kita bisa bersukacita karena duri-duri itu memiliki bunga mawar.
Ini menjadi semacam pegangan bagi saya dalam menjalani kehidupan.
Tak peduli betapa indahnya suatu kehidupan, pasti ada kejadian-kejadian yang seolah menjadi ‘duri’ di tengah kelopak mawar yang mekar dengan warna-warninya.
Atau bagi mereka yang cenderung mellow sangat, memandangi kehidupan selalu dari sisi durinya, namun sebetulnya: ada kelopak-kelopak mawar juga di sana….
Pilihannya ada di tangan kita, mau lihat mawarnya atau terus-terusan berkubang dalam ‘duri’ duka?

Bagi saya ini kemudian penting, karena ini berkenaan dengan apa yang melandasi pilihan-pilihan di kehidupan ini.
Termasuk dalam pergaulan, entah itu dunia maya ataupun dunia nyata.
Karena berada di rantau selama 10 tahun terakhir ini, sebetulnya medsos sangat bermanfaat dan informatif bagi kami.  Penyebaran informasi terasa lebih cepat ketika hanya membaca ‘timeline’ di Facebook.
Namun memang saya pun menyadari, bahwa tujuan awalnya baik semisal menjalin tali silaturahmi yang sempat lama terputus, kemudian menjadi semakin kabur.
Facebook menjadi semacam tembok ratapan, untuk curhat habis-habisan permasalahan pribadi yang dihadapi.
Bagi saya, ini tentunya kurang bijaksana. Karena teman di Facebook, banyak yang saya tidak kenal. Juga teman di Facebook, beberapa tidak begitu dekat di dunia nyata…
Jika sampai curhatan itu menyebar, bukankah itu agaknya bakal jadi ‘gosip’ yang empuk buat disebarkan?

Lalu urusan politik…
Sebetulnya, saya paling tidak mau tahu pilihan Anda.
Masing-masing sajalah…
Tetapi seolah sosmed menjadi ajang untuk membanggakan pilihanku dan menjelekkan pilihanmu.
Sempat pusing kepala, lalu jadi cuek saja…
Asal masih dalam taraf normal, pasti masih saya biarkan.
Kalau sudah keterlaluan ya unfollow saja. Unfriend tetap menjadi pilihan terakhir, senjata pamungkas yang akan saya pakai meskipun jarang-jarang…

Lalu agama….
Hadehhh gak ada habisnya!
Jujur, saya berasal dari keluarga yang agamanya berbeda-beda.
Namun kami saling menghormati dan itu tidak perlu kami umbar.
Saya meyakini, di dalam agama apa pun pasti mengajarkan kebaikan…
Dan bila kebaikan itu bertemu, alangkah indahnya!
Memperdebatkan perbedaan itu tidak ada habisnya.
Kehidupan di rantau selama 10 tahun ini setidaknya mengajarkan saya banyak hal untuk semakin menghargai perbedaan.
Melihat kembali keunikan setiap individu tanpa harus menjadi terancam karenanya, perbedaan itu indah!

Kembali ke ‘roses’ and ‘thorns’ dan hubungannya dengan dunia maya.
Sosial media ini bisa menjadi mawar atau duri bagi kita…
Pilihannya ada di tangan kita…
Mau menjadikan dunia ini lebih baik atau setidaknya duniaku dan sekitarku lebih baik?
Atau sebaliknya: menjadikannya porak-poranda…
Di Facebook sejujurnya saya tetap menemukan komunitas penulis yang sehat…
Sahabat-sahabat yang menguatkan…
Juga bertemu dengan beberapa sastrawan dan belajar menulis di sini.
Saya pun berkesempatan menerbitkan buku, itu semua diawali dari perkenalan di Facebook…
Sampai hari ini saya tetap menjaga atmosfer di Facebook saya, biar tidak dipenuhi oleh hal-hal negatif.
Saya berusaha semaksimal mungkin menampilkan mawar di kehidupan, meskipun saya tengah terjerat duri, karena saya meyakini: keindahan itu takkan hilang karena pelajaran kehidupan pastinya ada di tiap episode kehidupan ini.

Saya tetap berharap suatu saat nanti Facebook dan sosmed lainnya dipenuhi kebaikan.
Tetapi harapan tinggallah harapan, jika tanpa tindakan nyata.
Saya akan memulainya dan semoga ini menjadi inspirasi bagi kita masing-masing untuk memulai dari diri kita sendiri.
Siap ‘action’ dan memberikan aura positif di media sosial kita…
Yuk mareee!

Singapore, 10 Januari 2017
Fonny Jodikin

#bijakdisosmed



Saturday, December 10, 2016

Hari Kesepuluh di Bulan Desember



Hari Kesepuluh di Bulan Desember 

Kamu tidak lagi menjawab dengan ceria pertanyaanku. 
Bahkan kamu tak lagi mau menatap mataku.
Kamu memalingkan wajahmu.
Diam. Membisu.
Bibirmu seolah kelu.
Sementara aku?
Masih menunggu...
Setidaknya satu-dua kalimat jawaban darimu.

Rintik hujan di awal Desember ini seolah menjawab keresahan hatiku dengan kepedihan.
Hujan deras juga turun di wajahku.
Derai air mata sudah dari tadi mengaliri kedua belah pipiku.
Mengapa kamu tega membiarkanku dalam kebimbangan?

Aku tak tahan lagi.
Lalu, aku pergi.
Jika ini memang akhir yang kauidamkan.
Akan kucoba kuhadapi dengan tegar, walaupun tak kupungkiri: aku tenggelam dalam kekecewaan.
Kemudian berlanjut ke kemarahan.
Mengapa kamu tega???

Diam seolah jadi solusi.
Padahal kutahu: dalam hati masih begitu banyak tanya yang belum terselesaikan.
Hanya air mata yang menetes ini seolah menjadi jawaban sementara atas semua hal yang seolah berbalik dalam hitungan detik saja.
Ya, kenyataan ini begitu pahit kurasakan.
Sementara di bulan yang seolah dengan meriah dirayakan, mengapa terasa begitu membosankan, memuakkan, dan: menyakitkan...???

Dalam diamku, kucari wajah-Mu...
Berharap ada jawaban di situ...
Setidaknya di sudut kecil di hatiku...
Namun nyatanya: tidak ada jawaban jua...
Sampai hari ini, tidak ada!

Apa yang harus kulakukan? Aku sunguh tidak tahu...
Selain membenamkan kepalaku. Lagi.
Mengadu kepada bantal di kamarku...
Dan membanjirinya. Lagi dan lagi...
Dengan air mata.
Sampai setidaknya rasa sakit itu berkurang.
Sedikit saja.
Ya, sedikit pun sudah cukup lumayan bagiku.

Setahun berlalu. 
Desember kembali menghampiriku.
Waktu menjadikanku sedikit lebih kuat, walau kusadari aku tak benar-benar mampu melupakanmu.
Aku tak mau dibilang perempuan lemah, apalagi tanpa daya.
Meskipun aku masih menyimpan rasa sayang itu.
Dan: bayangmu tak pernah lepas dariku...
Namun kendali akan hatiku sudah berada pada tanganku sendiri...
Aku tak lagi terlarut dalam kesedihan yang terlalu.
Aku terus menjalani kehidupanku, berusaha sedikit lebih tegar dari hari kemarin di setiap hari yang kulalui...
Sampai hari ke-10 bulan Desember ini, kau muncul lagi di hadapanku.
Kau bilang kau minta maaf kepadaku.
Kau bilang kau sudah khilaf berpaling dariku dan yang sungguh keterlaluan: dengan sahabat baikku.
Kini kau sudah putus dan ingin kembali padaku.
Persahabatanku hancur, juga hubungan asmara kita kandas waktu itu. 
Kupandangi kau dengan ragu.
Begitu sulit untuk memberimu kesempatan itu...
Walaupun aku tahu, dalam hatiku aku masih merindu...

" Maaf, Pras, aku tidak bisa kembali seperti dulu." Kutegarkan hatiku, meskipun aku tahu suaraku bergetar menahan emosiku.
Aku meninggalkan dirinya yang kebingungan di kafe kecil itu.
Kafe di mana terukir banyak keindahan kisah kami di dalamnya dan sudah kuputuskan harus sampai di sini saja.
Hujan gerimis mengiringi langkahku.
Sesudah melihat ekspresinya, aku tidak lagi ragu untuk melepaskan seluruh bayangan dirinya detik itu.
Tidak ada penyesalan di matanya, yang ada hanya sebuah keangkuhan menginginkan aku kembali padanya.
Hari kesepuluh di bulan Desember, sebuah keputusan penting di hidupku: selamat tinggal, Pras!
Ini akhir kisah kita yang sempat terjalin selama lima tahun lamanya.

Sebuah payung tiba-tiba menaungiku.
Payung hitam yang cukup besar untuk dua orang.
Dan kulihat sahabatku, Eric, yang selalu jadi pendengar setiaku dan penyemangatku selama setahun terakhir ini datang menghampiriku.
Dengan tatapan tajam dan penuh cinta dia memandangku.
Sesuatu yang mungkin tidak kuperhatikan benar-benar selama setahun ini karena aku terlalu terpaku pada Pras dan terlalu fokus pada problemku belaka.
Dia memelukku.
" Sari, aku mencintaimu, " Bisik Eric lembut di telingaku.
Aku menangis di dalam pelukannya.
Di hari kesepuluh di Bulan Desember, sebuah kisah baru akan kumulai.

Babakan baru, episode baru cintaku dengan Eric.
Angin membelai lembut wajahku dan rambutku.
Mengiringi sebuah keputusan dan sebuah cinta yang membuka tangannya lebar-lebar di hadapanku.

10 Desember 2016
fon@sg
(Fonny Jodikin)


Saturday, September 17, 2016

Pisang

Halah halahhh...
Sudah lama belum posting di Blog Chapters ini, posting kek sesuatu yang keren...
Pisang geto lho! Ya ampunnnn, apa kata dunia???
Eits, nanti dulu...
Don't judge a book by its cover...
Don't judge a banana by its peel...
Jangan menghakimi terlalu cepat, meskipun dia hanya buah pisang...
Yuk mareee...
Kita mencari kejelasan tentang inspirasi dari buah ini...

Siang ini di Supermarket...
Bersama anak kami, Lala yang pengin makan pisang, saya mencari-cari pisang mana yang terbaik...
Hari ini pilihan jatuh kepada pisang emas, walaupun seringnya beli pisang 'Cavendish' yang lebih menyerupai pisang ambon yah...
Pikiran pun melayang jauh...xixixi...
Saya pun teringat, banana split yang kami makan di Ho Chi Minh City bulan Juni lalu...
Di tempat es krim favorit Kem Bach Dang di Jalan Nguyen Hue yang menyajikan es krim di dalam buah kelapa...
Anak-anak kami makan 'banana split', jadi maminya sempat mencicipi juga...
Rasanya enak!

Pisang memang tetap jawara!
Bisa dibuat kue, bisa dipakai untuk macam-macam keperluan bagian-bagian pohonnya...
Jantung pisang buat dimasak dan konon banyak manfaatnya untuk kesehatan...
Daunnya dipakai untuk macam-macam keperluan memasak, dan sebagainya...
Belum lagi akar, bonggol, bahkan sampai kulit pisang pun ada manfaatnya!

Pisang bukanlah buah mahal...
Semisal kiwi atau blueberry...
Atau anggur...
Dia juga bukan raspberry, yang terkadang masih bisa kami temui di Supermarket di Singapura...
Namun, bukan berarti karena dia murah, lalu dia tidak ada manfaatnya...
Bukan hanya karena dia adalah pisang, itu berarti hina... #uhuk!
Penting bagi kita untuk melihat keunggulannya, khasiatnya, rasanya (aduhhh jadi pengin pisang goreng malam-malam dingin begini hehehe...).

Pisang tetap berharga...
Meski sering dipandang sebelah mata...
Begitu pun hidup kita manusia...
Meskipun seolah tiada kehebatan yang kita punya...
Namun kehadiran kita pasti ada maksud-Nya..
Bukan kebetulan kita hadir dan meramaikan dunia...

Jangan minder, jangan putus asa...
Galilah talenta...
Lakukan yang terbaik yang kita bisa...
Tetap berdoa...
Terus melangkah bersama-Nya....
Tuhan peduli setiap kita!

17.09.2016
fon@sg
* puji syukur kepada Sang Pencipta atas inspirasi singkat yang singgah lewat buah yang sangat sederhana ini: pisang :)

Tuesday, July 26, 2016

Eh, Loe Tau Gak?

Setiap kali saya bertemu dengannya, dia selalu bertanya pada saya:
"Eh, loe tau gak?"
Kelanjutannya sudah bisa ditebak, dia langsung membeberkan beberapa hal yang mengacu kepada orang-orang yang dia dan saya kenal.
Lalu menjelek-jelekkan mereka.
Saya pribadi pertama sempat kaget, dari wajah yang penuh senyuman dan seolah begitu ramah, koq tiba-tiba keluar kata-kata yang sungguh di luar perkiraan.
Bukan saya sok suci, tapi apa bagusnya menceritakan keburukan-keburukan orang di sekitar kita?
Dan saya koq ada firasat, saya tidak lepas dari lingkaran gosipnya. 
Bukan tidak mungkin: dia juga menceritakan hal-hal tentang saya kepada orang lain.

Masalahnya: orang-orang yang dia jelek-jelekkan itu bukanlah orang yang saya kenal baik.
Saya hanya kenal sepintas dan tak terlalu tahu kepribadian mereka.
Untuk saya pribadi: perlu mengenal lebih dalam diri seseorang, barulah bisa memahami mereka.
Tidak bisa hanya sekadar omongan-omongan yang belum tentu kebenarannya, lalu menjadikan saya menelan bulat-bulat penilaian dirinya atas mereka-mereka itu.

Hari itu saya bertemu dia lagi.
Dari mulutya keluar kata-kata itu lagi, " Eh, loe tau gak? Si B begini, Si C begini, Si D begini?"
Saya tersenyum saja. Mendengarkan kisahnya yang seperti sinetron atau telenovela.
Terkesan 'wah', penuh sensasi dan yahhh isinya itu-itu lagi: gosip dan gosip belaka.

Hampir tak pernah kontak hingga detik ini, saya beryukur, tidak ikut-ikutan arus gosipnya lagi.
Kalau satu saat dia bertanya lagi, " Eh, loe tau gak?"
Saya akan menjawab:
" Gw gak tau dan gw gak harus tau hahaha."
Hidup jangan tambah dibikin rumit, 
Mengapa harus memenuhi hari-hari dengan omongan -yang maaf-menurut saya kurang bermutu?
Can we do something better???

"Mau maju, ya jangan ngomongin orang melulu!!!"
Tiba-tiba hati kecil saya berseru kayak gitu.
*Ihhh, tumbennn, pinter yakkk hahaha...*
Lebih baik diam, daripada ngomong yang gak ketentuan juntrungannya...
Bukan begitu? Begitu, bukan?

27-07-2016
Fonny Jodikin @ SG

Sunday, July 24, 2016

Ketika Juli Menyapa...



#Pentigraf (cerpen tiga paragraf)

Juli tak selalu mewarkan keceriaannya. Tak selalu ia menyajikan keharuman semerbak bunga-bunga yang bermekaran. Tak selalu di paginya kuterbangun dengan aroma teh melati kegemaranku. Beberapa kejadian menyedihkan juga pernah menyapa diriku. Sahabat baik berpulang untuk selamanya dan pernah pula kehilangan pekerjaan. Juli, ah, Juli, kau memang menawarkan banyak warna, meskipun terkadang yang kusenandungkan hanya nada duka...

Namun, kali ini kusyukuri datangnya Juli. Dengan sebuah hati yang terbuka untuk sebuah cinta dan kesetiaan yang dengan pasti sudah dikumandangkan oleh Joe kepadaku. Juli, kuberharap kau bersahabat kali ini. Entah mengapa ada keyakinan yang berakar kuat di hati.


Joe, pemuda yang selalu positif terhadap kehidupan ini. Dan itu bukanlah basa-basi. Aku tahu, dia mengalami jauh lebih dari yang sebagian manusia pernah alami. Kursi roda itu jadi saksi, atas kecelakaan yang menimpanya seusai bermain futsal bersama teman kantornya. Tak pernah kuragu, meskipun secara fisik dia tidak sempurna. Ah, aku juga jauh dari sempurna, meskipun secara fisik aku tidak kurang suatu apa. Kudorong kursi roda Joe perlahan dengan senyuman.  Cinta kami memang berbeda dengan cinta pada umumnya. Cinta kami bukanlah cinta biasa. Tapi, terserah apa kata mereka! Yang tahu pasti hati kami, tentunya hanyalah kami berdua. Kusambut pagi di Bulan Juli dengan senyum berseri dan harap di hati. Sebuah cinta hadir di sini. Terima kasih, Juli!

fon@sg
24-07-2016
*pentigraf: cerpen tiga paragraf adalah jenis cerpen yang diperkenalkan oleh Prof. Tengsoe Tjahjono kepada kami semua, penulis Katolik di Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias (KPKDG). Tiga paragraf, singkat padat, tapi tidak mengurangi keutuhan sebuah kisah.
Sangat menarik dan terima kasih buat 'ilmu' baru ini, Prof!

Sunday, July 17, 2016

Kisah Negeri di Awan




Mari berkisah tentang negeri di awan...
Seperti lagu itu?
Ya, seperti lagu itu.
Keindahannya sempat membuatku termangu...
Sungguh indah ciptaan-Mu!
Konon di negeri di awan itu...
Hanya ada kedamaian...
Biarpun banyak perbedaan...
Ah, bukankah perbedaan tidak harus dibesar-besarkan?
Bagi mereka yang berjiwa besar dan tidak berpikiran sempit.
Ya, tentunya hanya bagi mereka yang memahami dan mau mengerti.
Negeri di awan.
Kamu, aku, kita.
Ya, kita!
Terbang bersama dalam luapan sukacita.
Melintasi perbedaan, dalam indahnya kedamaian.
13.07.2016
fon@sg