Showing posts with label introspeksi. Show all posts
Showing posts with label introspeksi. Show all posts

Thursday, July 12, 2018

PERASAAN 'DIMANFAATKAN'



Begini kisahnya...
Anggaplah Anda itu baik budi dan tidak sombong...
Anda baik terhadap semua orang, tanpa memandang SARA...
Anda berusaha tulus dalam segala yang Anda lakukan...
Anda tak peduli, jika harus mengorbankan waktu, diri, dan mungkin sejumlah uang untuk membantu orang lain...
Tetapi, setelah semua pengorbanan itu...
Kemudian Anda dikelabui, dibodoh-bodohi, difitnah, dan mungkin ditipu uangnya, dan sebagainya..
Lalu, Anda merasa DIMANFAATKAN.
Dan perasaan itu sungguh tak mudah untuk dihadapi...

Secara jujur, mari kita akui...
Dalam relasi mana pun pasti ada 'take' and 'give'...
Bagi orang tertentu, itu mungkin sebanding dengan jumlah uang yang dikeluarkan...
Misalnya Anda pergi pijat refleksi atau ke salon...
Anda beri uang, Si Mbak atau Si Mas memberikan pelayanan baik yang membuat Anda relax...
Dalam persahabatan pun, rasanya sulit memang menemukan orang-orang yang tanpa pamrih, apalagi di zaman ini.
Jika Anda temukan, pastikan Anda menjaga mereka baik-baik...
Karena mereka sungguh berharga dan termasuk langka....

Lalu, ketika perasaan DIMANFAATKAN itu timbul...
Apa yang harus dilakukan?
Terutama jika itu kita alami dari orang yang sungguh dekat di hati...
Sahabat dekat. Atau mungkin anggota keluarga.
Sakit banget 'kan rasanya?
Mungkin kita teliti juga diri kita...
Apa kita memang sudah memberi terlalu banyak, lalu kemudian berharap lebih banyak lagi?
Harapan yang terlalu membumbung tinggi, ketika jatuh rasanya sungguh sakit, Masbro dan Mbak-Mbak sekalian!
Jadi mungkin harapannya dikurangi sedikit...
Jangan ketinggian, jadi ketika jatuh: gak sakit-sakit amat...

Saya pernah merasa dimanfaatkan.
Dan itu sakit sekali rasanya.
Tapi, saya juga gak tau: pernahkah saya demikian?
Memanfaatkan orang lain...
Atau membuat orang lain-disengaja atau tidak- merasa dimanfaatkan???
Malam ini, menjadi permenungan bagi saya pribadi lagi...
Supaya ketika saya merasa dimanfaatkan, saya telaah sikap-sikap saya juga...
Bagaimana saya ke orang lain?
Semoga saya gak banyak melakukannya...
Dan kalau saya lupa, mohon dimaafkan semuanya...
Semoga ke depannya kita jadi manusia-manusia yang lebih baik lagi...
Meskipun sekitar banyak yang makin kacau, kita tetap harus berdiri tegar dalam kebaikan...
Kalau bukan dari kita, siapa lagi, tul gak sobat-sobat semua?

Met malam.
Sekadar goresan kecil di penghujung hari.

Singapura, 12 Juli 2018
Fonny Jodikin
sumber foto: internet


Friday, March 10, 2017

Bagaimana Reaksimu?

BAGAIMANA REAKSIMU?
It's not what happens to you, but how you react to it that matters. Epictetus (c. AD 55-c. 135)
(Bukanlah tentang apa yang terjadi padamu, namun yang penting adalah bagaimana kamu bereaksi terhadap hal itu)
Malam ini, saya kembali diingatkan oleh pepatah bijak ini...
Saya kira kita semua sepakat, bahwa tidak ada orang yang bebas dari masalah...
Setiap dari kita punya beban sendiri-sendiri yang harus kita tanggung...
Dan satu orang dengan yang lainnya berbeda tentu saja...
Banyak kali, terutama dengan begitu terbukanya Sosial Media akhir-akhir ini...
Makin banyak orang yang menganggap sah-sah saja untuk curhat di Timeline pribadi mereka sehubungan dengan masalah pribadinya...
Lah wong ini Timeline gue sendiri, emangnya kenapa?
Kalau friendlist Anda adalah orang-orang dekat yang 100% Anda yakin akan mendukung Anda, ya silakan saja...
Tetapi, jika banyak teman dunia maya yang belum pernah bertemu di dunia nyata, apalagi kenal...
Mungkin kita harus lebih bijaksana dalam mem-posting segala sesuatunya...
Saya termasuk yang berhati-hati soal ini...
Namun melihat gelagat tambah banyak yang curcol, curhat, berantem, sampai musuh-musuhan di Timeline via Sosial Media...
Hati ini lalu membatin:
Mungkinkah ini juga hasil tuaian dari apa yang ditabur sebelumnya?
Dari status-status terdahulu kita, orang lalu bisa mengambil kesimpulan tentang kita...
Lalu, bagaimana reaksi kita?
Hidup bisa membawa kita ke macam-macam lika-likunya...
Percayalah, seindah-indahnya rumput tetangga, pasti juga ada yang tidak enak yang dialaminya...
Cuma memang gak mungkin juga selalu posting tetesan air mata, bantal yang basah karena genangan air mata, dan seterusnya...
Malulah...
Apa kata dunia???
Malam ini, kata-kata bijak ini hadir lagi.
Begitu kuat, mengingatkanku...
It's not what happens to you, but how you react to it that matters.
Bagaimana reaksiku?
Hal yang sama, jika dialami oleh orang yang berbeda, menghasilkan reaksi yang mungkin berbeda pula...
Lalu ada satu lagi yang saya suka: Jika memang ada masalah, hadapi! Bukannya dituliskan di Facebook...
If you have a problem face it, don't Facebook it!
Kita juga kan gak mau seluruh dunia, bahkan yang tidak kenal kita, jadi tahu permasalahan yang seharusnya menjadi masalah pribadi kita...
Bener gak?
Hmmm, mungkin usia mengajarkan hal-hal ini pada saya...
Meskipun tetep donk ah, berjiwa muda hehehe...
Met malam dan selamat akhir pekan buat semuanya...
Don't worry, be happy.
Keep calm, stay cool.
Tetap jadi pribadi yang makin 'kece' hari lepas hari, yuk mareee!
Semoga...
Singapore, 3 Maret 2017.
12.13 AM (pukul 12.13 dini hari)

Friday, February 17, 2017

MENJADI TUA DAN DEWASA...


Seorang Oma tua melangkah perlahan...
Tubuhnya sudah tidak tegap lagi.
Usianya mungkin di atas 80 tahun, setidaknya itu perkiraanku.
Dia mengenakan rok panjang dan blouse senada.
Sedikit high heels setidaknya 5cm hak sepatunya.
Stocking pun dia pakai juga.
Berdiri di depanku di sini.
Di sebuah eskalator stasiun MRT.
Saat dia mempersilakanku berjalan lebih dulu, kulihat garis-garis kebijaksanaan di wajahnya.
Namun, dia tetap trendi dengan make up dan rambut tertata.
Lipstick, bedak, dan alis mata.
Di balik kaca matanya tebalnya.
Entah mengapa di satu sisi aku ingat Mama.
Bukan dari segi dandanannya, karena mamaku bukan tipe pesolek...
Tetapi lebih ke keadaan tubuhnya yang tidak lagi sekuat dulu.
Osteoporosis dan penjepitan syaraf membuat dia tidak lagi segagah dulu.
Di usianya yang ke-76, sampai tahun lalu masih bisa mengunjungiku dan terbang sendirian.
Suatu kondisi yang bagiku patut dipuji.
Tahun demi tahun berlalu, menjadi tua itu pasti.
Sementara menjadi dewasa dan pribadi yang mau mengasihi itu adalah pilihan hati.
Hari ini aku diingatkan lagi...
Jika Tuhan memberi usia lanjut bagi kita...
Terlepas dari tampilan fisik, entah berdandan atau tidak...
Mau jadi pribadi macam apa nanti?
Semakin bijak sesuai usia dan pengalaman hidup kita?
Ataukah menjadi pribadi yang menyimpan luka...???
Kepahitan, kebencian, kekecewaan, atau yang dipenuhi kemarahan...?
Tidak pernah mudah dimakan usia. Apalagi ketika kesehatan dan kondisi tubuh ikut tergerus juga.
Dan usia? Siapakah yang tahu juga?
Yang penting semasa hidup menjadi orang yang tulus dan dipenuhi kebaikan.
Ya, semoga.
Singapura, 17 Feb 2017
Fonny Jodikin

Saturday, September 17, 2016

Pisang

Halah halahhh...
Sudah lama belum posting di Blog Chapters ini, posting kek sesuatu yang keren...
Pisang geto lho! Ya ampunnnn, apa kata dunia???
Eits, nanti dulu...
Don't judge a book by its cover...
Don't judge a banana by its peel...
Jangan menghakimi terlalu cepat, meskipun dia hanya buah pisang...
Yuk mareee...
Kita mencari kejelasan tentang inspirasi dari buah ini...

Siang ini di Supermarket...
Bersama anak kami, Lala yang pengin makan pisang, saya mencari-cari pisang mana yang terbaik...
Hari ini pilihan jatuh kepada pisang emas, walaupun seringnya beli pisang 'Cavendish' yang lebih menyerupai pisang ambon yah...
Pikiran pun melayang jauh...xixixi...
Saya pun teringat, banana split yang kami makan di Ho Chi Minh City bulan Juni lalu...
Di tempat es krim favorit Kem Bach Dang di Jalan Nguyen Hue yang menyajikan es krim di dalam buah kelapa...
Anak-anak kami makan 'banana split', jadi maminya sempat mencicipi juga...
Rasanya enak!

Pisang memang tetap jawara!
Bisa dibuat kue, bisa dipakai untuk macam-macam keperluan bagian-bagian pohonnya...
Jantung pisang buat dimasak dan konon banyak manfaatnya untuk kesehatan...
Daunnya dipakai untuk macam-macam keperluan memasak, dan sebagainya...
Belum lagi akar, bonggol, bahkan sampai kulit pisang pun ada manfaatnya!

Pisang bukanlah buah mahal...
Semisal kiwi atau blueberry...
Atau anggur...
Dia juga bukan raspberry, yang terkadang masih bisa kami temui di Supermarket di Singapura...
Namun, bukan berarti karena dia murah, lalu dia tidak ada manfaatnya...
Bukan hanya karena dia adalah pisang, itu berarti hina... #uhuk!
Penting bagi kita untuk melihat keunggulannya, khasiatnya, rasanya (aduhhh jadi pengin pisang goreng malam-malam dingin begini hehehe...).

Pisang tetap berharga...
Meski sering dipandang sebelah mata...
Begitu pun hidup kita manusia...
Meskipun seolah tiada kehebatan yang kita punya...
Namun kehadiran kita pasti ada maksud-Nya..
Bukan kebetulan kita hadir dan meramaikan dunia...

Jangan minder, jangan putus asa...
Galilah talenta...
Lakukan yang terbaik yang kita bisa...
Tetap berdoa...
Terus melangkah bersama-Nya....
Tuhan peduli setiap kita!

17.09.2016
fon@sg
* puji syukur kepada Sang Pencipta atas inspirasi singkat yang singgah lewat buah yang sangat sederhana ini: pisang :)

Tuesday, July 26, 2016

Eh, Loe Tau Gak?

Setiap kali saya bertemu dengannya, dia selalu bertanya pada saya:
"Eh, loe tau gak?"
Kelanjutannya sudah bisa ditebak, dia langsung membeberkan beberapa hal yang mengacu kepada orang-orang yang dia dan saya kenal.
Lalu menjelek-jelekkan mereka.
Saya pribadi pertama sempat kaget, dari wajah yang penuh senyuman dan seolah begitu ramah, koq tiba-tiba keluar kata-kata yang sungguh di luar perkiraan.
Bukan saya sok suci, tapi apa bagusnya menceritakan keburukan-keburukan orang di sekitar kita?
Dan saya koq ada firasat, saya tidak lepas dari lingkaran gosipnya. 
Bukan tidak mungkin: dia juga menceritakan hal-hal tentang saya kepada orang lain.

Masalahnya: orang-orang yang dia jelek-jelekkan itu bukanlah orang yang saya kenal baik.
Saya hanya kenal sepintas dan tak terlalu tahu kepribadian mereka.
Untuk saya pribadi: perlu mengenal lebih dalam diri seseorang, barulah bisa memahami mereka.
Tidak bisa hanya sekadar omongan-omongan yang belum tentu kebenarannya, lalu menjadikan saya menelan bulat-bulat penilaian dirinya atas mereka-mereka itu.

Hari itu saya bertemu dia lagi.
Dari mulutya keluar kata-kata itu lagi, " Eh, loe tau gak? Si B begini, Si C begini, Si D begini?"
Saya tersenyum saja. Mendengarkan kisahnya yang seperti sinetron atau telenovela.
Terkesan 'wah', penuh sensasi dan yahhh isinya itu-itu lagi: gosip dan gosip belaka.

Hampir tak pernah kontak hingga detik ini, saya beryukur, tidak ikut-ikutan arus gosipnya lagi.
Kalau satu saat dia bertanya lagi, " Eh, loe tau gak?"
Saya akan menjawab:
" Gw gak tau dan gw gak harus tau hahaha."
Hidup jangan tambah dibikin rumit, 
Mengapa harus memenuhi hari-hari dengan omongan -yang maaf-menurut saya kurang bermutu?
Can we do something better???

"Mau maju, ya jangan ngomongin orang melulu!!!"
Tiba-tiba hati kecil saya berseru kayak gitu.
*Ihhh, tumbennn, pinter yakkk hahaha...*
Lebih baik diam, daripada ngomong yang gak ketentuan juntrungannya...
Bukan begitu? Begitu, bukan?

27-07-2016
Fonny Jodikin @ SG

Saturday, May 28, 2016

Kusut


Kusut
Oleh Fonny Jodikin

Rambut kusut...
Muka cemberut...
Seolah begitu banyak kemelut...
Membuat semangat di diri makin ciut...
Banyak pikiran membuat wajah cepat berkeriput...

Ada pula rasa takut
Apalagi kalau bukan urusan perut?
Peliknya kehidupan sudah mencapai tahap akut.
Terlihat di wajah yang senantiasa merengut...
Tiada hari tanpa bersungut-sungut...

Padahal, selama jantung masih berdenyut...
Selama ajal belum menjemput...
Tak perlu selalu kalang-kabut...
Perasaan hati yang kusut...
Tak perlu sampai berlarut-larut...

Begitu salut...
Pada burung perkutut...
Atau kerbau pemakan rumput...
Hidup tenang, jauh dari semrawut
Bahagia tanpa senyum kecut.

28.05.2016
fon@sg
* buat yang lagi pada kusut, semoga tidak berlarut-larut :)
* sudah diposting di Blog Chapters of Life http://fjodikin.blogspot.sg/2016/05/kusut.html


Monday, January 25, 2016

I Wish...


When I was younger (hmmm,  it doesn't mean that I'm that old now, just trying to be a lil' bit wiser hahaha...)

I wish life were simpler...
I wish life were happier...
I wish life were easier...

After quite some time...
After seeing and experiencing one thing after another..
I do realize that it's my perspective that counts as well...
I can't always expect life is easy, simple, or happy...
If I want to achieve that: it's my perspective that needs to be changed first...

By being able to see the good things even in the midst of the bad ones...
Making things simpler, even in the most complicated situation...
Trying to be grateful and happy in each and everyday of my life....

Now, these are my wishes:
I wish I have the strength to face anything that could happen in this life...
Not because of my own self, nor my own strength...
It's more to the strength of the Almighty...
As He will always have enough strength and love to help me go on in this life...

Living my life by surrendering myself to Him...
Turn out to be as a simpler thing to do...
He knows the best for me and you...
Thank You, God! I love You!

26.01.2016
fon@sg

Tuesday, January 19, 2016

Sebuah Kisah Tentang Dia...

Sebuah Kisah Tentang Dia...
*yang mungkin Anda dan saya bisa belajar darinya...



Dia berjalan perlahan...
Dengan tongkatnya, dia tertatih-tatih menaiki satu per satu anak tangga yang harus dia daki...
Dulu, semasa mudanya, ini semua dengan mudah dia jalani...
Ini bukanlah hambatan berarti...
Bahkan dia biasa sambil berlari...
Melalui undakan tangga ini...

Sekarang keadaan sungguh berbeda...
Dia bukanlah seseorang yang perkasa...
Seperti sewaktu masa mudanya...
Dia pernah kena stroke yang menyisakan miring di bagian tubuhnya...
Dia tak lagi sempurna...
Tidak seperti masa lalunya...

Satu per satu kenangan melintasi pikirannya....
Ada sedih, haru, bahagia, syukur, dan juga kecewa...
Kecewa karena hidupnya harus berada di situasi sedemikian rupa...
Di usianya yang ke enam puluh lima...
Kesuksesan bukan lagi sesuatu yang dicarinya...

Tiba-tiba ada rasa pilu yang melanda...
Kesepian yang begitu menggigit-mengisi setiap relung hatinya...
Sendiri melalui hari-harinya...
Tanpa teman, tanpa istri, tanpa saudara...
Dingin itu merasuk sampai ke tulang-tulangnya...
Air mata tanpa dia sadari mengaliri wajahnya...

Pasrah, dia bersujud di kamarnya...
Mencari wajah-Nya...
Menumpahkan seluruh rasa di hatinya...
Kesepian dan kesendiriannya...
Akibat kesombongan dirinya...
Di suatu masa...

Dia menceraikan istrinya, demi wanita idaman lainnya...
Anak-anaknya diasuh oleh istrinya...
Saudara pun tak lagi mau mengenalnya...
Waktu itu tak ada penyesalan, malah rasa bangga yang ada...
Namun, kini? Tak ada lagi arogansi yang tersisa...
Saat madunya meninggalkannya...
Demi seseorang yang lebih kaya...
Lebih muda...
Dan lebih segala-galanya dari dirinya...

Terdiam.
Bungkam.
Memandangi cermin yang buram...
Dengan wajah muram...
Di temaramnya malam...
Sinar bulan di sana membuatnya menarik nafas dalam-dalam...
Mungkin yang terkasih yang pernah disakiti masih mendendam...

Bel di rumahnya berbunyi...
Perlahan diambilnya tongkatnya, lalu dia berjalan dengan banyak keraguan di hati...
Siapakah yang datang malam-malam begini?
Terkejut saat didapatinya wajah Sang Istri...
Dan Sang Buah Hati...
Mereka terlarut dalam keharuan tak terperi...
Kasih. Pengampunan. Dan, kemauan untuk bersama-sama melangkah lagi...

Diam-diam di atas sana...
Sebuah bintang yang paling terang menyinari...
Penuh kehangatan dan kebahagiaan tak terperi...
Keluarga mereka bersatu lagi!
Syukur kepada Yang Ilahi...

19.01.2016
fon@sg
* suatu siang yang panas di Singapura, mendapati beberapa orangtua di jalan yang tertatih-tatih berjalan dengan tongkat mereka... Dan kisah ini langsung mengalir di kepala dan jari-jemari tak berhenti mengetikkannya...



Tuesday, May 19, 2015

Kata Mereka...

Kata mereka, penampilanku 'gak matching'.
Dengan sepatu hijau tosca-ku, celana panjang hitamku, dan baju kotak-kotak pink milikku.
Warna-warna itu perpaduannya 'gak masuk banget'.
Dan, menjadikan penampilanku terlihat aneh di mata mereka.

Kata mereka, aku hanya bisa melihat daftar menu di restoran cepat saji, tanpa mampu membelinya.
Mereka tertawa atas pernyataan itu.
Dan aku? Aku tersenyum getir menyembunyikan apa yang ada di hatiku.

Kata mereka, aku kurang gaul.
Karena aku tak pernah melihat dunia luar.
Kalaupun ada liburan, selalu saja jurusan Bandung-Cirebon.
Sedangkan mereka: keliling Eropa, Amerika, Australia, Jepang, Korea, atau negara-negara canggih lainnya.

Yang mereka tak pernah tahu...
Papaku tengah sakit keras.
Lalu, aku harus banting tulang untuk menghidupi diriku.
Jangankan untuk memikirkan penampilan yang keren, matching, atau cling...
Aku hanya bisa memikirkan makan sehari-hariku dan melanjutkan sekolahku.
Mereka hanya bisa tertawa dan mengejekku.
Tanpa mereka tahu apa yang sesungguhnya terjadi pada diriku.

Ketika aku tak membeli makanan di restoran cepat saji itu, karena memang aku harus memilih makan mie goreng tektek atau makan di warteg di dekat tempat tinggalku.
Karena memang, aku harus mengkalkulasi seluruh pengeluaranku selama satu bulan dan itu kumulai dari setiap hari yang aku jalani.
Tak ada uang dari orangtua yang cukup bagiku, semua kupenuhi dengan pekerjaan sampingan yang kukerjakan sembari kuliah.

Ketika aku hanya bisa mengunjungi teman dan saudaraku di daerah yang sangat dekat denganku.
Bandung dan Cirebon itulah tujuan wisataku.
Itulah yang aku mampu dan jujur aku tidak malu.
Mungkin ada keinginan untuk melihat dunia luar, namun kusadari kemampuanku tak sampai situ.
Dan bagiku, aku tak perlu memaksakan diriku.
Jika memang kemampuan belum ada padaku.
Suatu saat nanti, jika Tuhan berkenan, Dia pasti bukakan jalan bagiku...
Untuk sekadar mengintip dunia luar dan belajar kehidupan di sana.

Jika hanya memikirkan kata mereka, aku akan menyesali hidupku dan merasa sedih.
Karena memang, aku berbeda dengan mereka.
Keadaan memaksaku untuk menjalani pekerjaan serabutan sambil kuliah.
Tapi, aku menguatkan hati.
Kupercayai semua ini ada maksud-Nya.
Kata mereka? Takkan terlalu kupedulikan, walaupun tak bisa kubilang tak ada efeknya juga bagiku.
Perkataan mereka kujadikan cambuk untuk bekerja lebih keras.
Sekaligus menyadari: tak semua orang bisa mengerti.
Sebagian orang bisanya hanya ngomong dan ngomong.
Bicara yang tidak mereka ketahui sepenuhnya dan tertawa di atas derita yang tak pernah mereka tahu betapa perihnya...

Kupandangi sepatu hijau tosca-ku.
Satu-satunya yang kumiliki, hadiah dari kakakku.
Tak ada yang salah memang, jika sepatuku hanya satu.
Bajuku tidak banyak pula.
Namun, aku cukup.
Masih bisa cukup makan, cukup biaya kuliah.
Masih bisa jalan-jalan, meski itu sederhana dan versiku.
Bukan berarti aku tidak bisa bahagia.
Bukan berarti aku tidak bersukacita...
Kusyukuri perlindungan Tuhan dalam hidupku...

Suatu hari, mereka pun akan berkata: kamu koq belum punya pacar, belum menikah, belum punya anak, belum punya mobil, belum punya ini, belum punya itu...
Saat mereka hanya bisa menghakimi dan berkata-kata yang terkadang menyakitkan hati...
Tanpa mau peduli apa yang kuhadapi...
Akan kuhadapi dengan senyuman tulus sembari berjanji dalam diri...
Aku takkan menjadi mereka yang melihat sekilas saja, lalu berkata seenaknya sendiri...
Semoga aku lebih bijaksana dalam memilih kata-kataku dan mau peduli pada mereka yang mengalami penderitaan melebihi apa yang kuhadapi saat ini...

Sepuluh tahun kemudian...

Mereka memuji penampilanku.
Mereka bilang semua 'up to date' dan keren sekali.
Mulai dari tas, jam tangan, gaun, dan sepatu.
Semua 'matching' dan 'cling'.
Aku tersenyum dalam hati.
Ah, cerita lama... Dengan aktor yang berbeda...
Aku tak merasa bangga...
Kusyukuri penyelenggaraan Tuhan atas hidupku
Dia memberikanku kekuatan untuk bekerja keras dan meraih jenjang keberhasilan.
Satu yang terus kusadari: ini semua sementara, jadi tak perlu aku bermegah.
Tak pernah kumau memaksakan diri untuk gaya hidup di luar kemampuanku.
Masih sama seperti dulu.

Aku berjanji dalam hatiku, untuk tak terlalu terpengaruh apa kata mereka.
Mereka bukan aku, mereka takkan mampu mengerti diriku.
Kusyukuri tuntunan Tuhan dalam hidupku.
Tak hendak ku membalas, tak hendak pula aku berbangga.
Hanya rasa syukur yang ada...
Hanya pelajaran berharga: semoga mulut dan lidahku hanya mengeluarkan kata-kata yang baik.
Semoga aku lebih peduli dan punya hati pada mereka yang berduka dan menderita...
Semoga aku bisa melakukan kebaikan kepada sekitarku: mereka yang seperti diriku sepuluh tahun lalu...
Kuingin punya anak asuh lebih banyak lagi, membantu bayi-bayi yang kekurangan susu, membantu kakek-nenek yang ditelantarkan keluarganya, itu cita-citaku...

Ajari aku, Tuhan, untuk jadi saluran kebaikan-Mu...
Bukan melulu mengomentari orang lain dengan kata-kata miring.
Jauhkan aku dari fitnah dan gosip yang terlalu...
Hidup ini akan lebih indah, jika diisi kebaikan: dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.

16.05.2015
fon@sg
*buat pengingat diri: hati-hati dalam berkata-kata, apalagi tak tahu kondisi orang yang dibicarakan. Diambil dari kisah-kisah di sekitar kita dan sebagian adalah kisah nyata.

Saturday, January 10, 2015

Bersyukur Untuk Hari Ini

Waktu terasa begitu cepat berlalu.
Hari ini, gak terasa, kita sudah memasuki hari ke-11 di bulan Januari.
Mungkin kita masih mengingat indahnya tahun baru yang kita lewati bersama yang terkasih.
Mungkin juga, kita masih begitu terlarut pada kedukaan yang baru saja kita alami di tahun 2014.
Namun, itu semua, kita jadikan masukan dan pelajaran yang paling berarti bagi sekolah kehidupan kita di dunia ini...

Hari ini...
Hmmm...
Apa yang bisa kulakukan?
Apa yang semakin mendekatkanku pada impian...?
Dan juga, pada tujuan Sang Pencipta membawaku hidup di dunia ini?

Hari ini...
Aku menjadi seperti sekarang ini...
Karena proses yang kulalui sebelumnya...
Karena naik-turunnya kehidupan...
Terkadang pula berliku...
Untuk kemudian semakin mendewasakanku...

Hari ini...
Aku takkan lagi berkubang dalam kesedihan untuk menangisi masa lalu...
Aku akan belajar lebih tegar...
Aku akan berusaha untuk memandang segala sesuatunya...
Dalam kacamata iman kepada-Nya...
Sedih, duka, pasti pernah kita alami...
Rasa syukur bukan berarti menentang itu semua...
Namun, belajar untuk menerima kenyataan...
Dengan ikhlas...
Belajar pula untuk melangkah dalam ketabahan...
Sembari seluruh doa kita panjatkan...

Hari ini...
Kulihat pula banyak yang menderita di sekelilingku...
Ketidakadilan masih menjadi-jadi...
Perikemanusiaan masih kurang dipedulikan...
Sehingga terkadang, nyawa manusia begitu gampang hilang...
Hanya karena hal-hal yang seolah sepele dan tak penting...

Hari ini...
Kusadari betapa pentingnya menerima perbedaan...
Sebagai faktor yang tak mungkin kita jadikan sama...
Bahkan saudara kembar pun punya perbedaan...
Itu karena kita semua diciptakan unik adanya...
Tindakan memaksakan penyeragaman...
Entah dari sudut pandang mana pun...
Adalah hal yang sebetulnya tidak mungkin dilakukan...
Aku adalah aku...
Kamu adalah kamu...
Saling menghargai...
Saling menghormati...
Toleransi...
'Respect' kepada orang lain...
Senantiasa berusaha menerima perbedaan...
Bukan memaksakan kehendakku atasmu...
Bukan pula soalan menang-kalah...
Untuk kemudian menentukan siapa yang nanti akan berkuasa...

Hari ini...
Izinkan aku untuk bermimpi...
Untuk suatu dunia yang damai...
Yang indah...
Yang penghuninya saling menghormati...
Saling menghargai...
Yang kehidupan satu sama lainnya diisi toleransi...
Sehingga dunia menjadi semakin indah untuk kita diami...

Hari ini...
Adalah gabungan pengalaman dari hari-hari sebelumnya...
Dan apa yang akan kubuat hari ini?
Apa yang akan Anda lakukan hari ini?
Semoga itu semua menjadikan hidup ini semakin berarti...

11.01.2015
fon@sg

Sunday, December 28, 2014

Pribadi Yang Tahu Diri

Hellow temen-temen semua...
Kali ini, di penghujung tahun ini, aku bakal menuliskan sesuatu yang sudah lama ingin kutuliskan.
Kalian tentunya pernah 'kan, melihat acara pencarian bakat semisal Indonesian Idol, American Idol, atau yang dulu-dulu pernah tahu AFI. 
Pastinya pada saat audisi, kita pernah 'tuh melihat beberapa peserta audisi yang merasa super PD (Percaya Diri) dengan kemampuan mereka.
Sehingga, bila tidak diterima oleh jurinya untuk lolos babak kualifikasi, mereka merasa marah.
" Gue 'kan bagus gini nyanyinya, koq bisa gak diterima? Itu juri pada salah kali kupingnya!"

Tak jarang, kita lihat mereka dengan mencak-mencak dan marah-marah, meninggalkan ruang audisi.
Dan, ketika diwawancara, ternyata mereka masih menyisakan sakit hati yang tak terselesaikan.
Terkadang  sambil memaki, marah, menangis, mereka berlalu dari kamera yang menyorot mereka.

                                                                        ***

Saat ini, saya koq terbayang lagi ya, tontonan waktu itu...
Akhir tahun, agaknya menjadi saat yang cukup tepat juga untuk kembali lagi merenungkan..
" Apakah saya sudah jadi pribadi yang tahu diri?"
Bisa menempatkan diri saya pada kemampuan saya sesungguhnya, bisa menerima kritik, dan bisa memaksimalkan talenta yang diberikan-Nya kepada saya?
Mungkin sulit. Mungkin jalan yang harus kita lalui berliku.
Untuk menerima kenyataan bahwa saya tidak sebaik yang saya kira, agaknya bukan pekerjaan mudah.
Terkadang pula, kita malah diliputi rasa minder, rasa tak bisa menerima diri, perasaan tak sebanding atau tak sebaik orang lain...

Ini adalah PR (Pekerjaan Rumah) buat saya pribadi.
Menjadi PR seumur hidup bagi saya yang sadar juga bahwa begitu sering saya berbangga untuk sedikit perbuatan baik yang saya lakukan. 
Sebaliknya, pura-pura lupa atau tak peduli pada perbuatan buruk yang pernah saya lakukan.
Begitu sering pula saya merasa diri begitu kecil, tidak layak, minder, dan sebagainya.
Untuk benar-benar menerima diri apa adanya, memang bukan pekerjaan yang langsung bisa kita lakukan.
Butuh perjuangan, butuh untuk terus-menerus mohon kasih Allah untuk mempu mengasihi diri sendiri dan tidak menyalahkan siapa-siapa atas keberadaan kita di dunia ini...
Karena keberadaan kita bukanlah kebetulan, itu atas rencana-Nya.
Sepantasnyalah kita mensyukuri keberadaan diri kita.
Berani pula melihat diri sendiri dengan obyektif (berusaha).
Jika memang ada bakat terpendam, bisa digali, untuk kemudian memberikan yang terbaik bagi sesama kita.
Jika memang tidak atau belum baik di suatu bidang tertentu, yang walaupun begitu kita sukai, tetap belajar untuk lebih baik... Namun, tetap pula melihat dengan obyektif, sampai di mana kemampuan kita.
Tidak memaksakan diri, tidak pula memaksakan orang lain untuk mengakui kehebatan kita.
Jika memang kita dinilai baik, bersyukurlah, bahwai itu adalah anugerah Yang Kuasa.

Di akhir tahun ini, sekaligus resolusi tahun baru nanti, saya pribadi ingin menjadi pribadi yang lebih tahu diri.
Tahu bersyukur, tahu berterima kasih.
Tahu pula kelemahan saya dan terus berusaha memperbaiki diri...
Tahu bahwa ketika banyak anugerah yang diberikan pada hidup saya, itu hanyalah karena kasih dan kebaikan-Nya semata...
Tahu dan sadar, bahwa tanpa Tuhan, saya bukan siapa-siapa.
Belajar untuk tidak Sok Tau, bahwa hanya Tuhanlah Yang Maha Tahu.

Eh, gak terasa, tau-taunya kita udah mau taon baruan...
' Met menyambut lembaran tahun baru, dengan kesadaran diri yang lebih baik...
Dengan menjadi pribadi yang tahu diri...
Tahu bersyukur kepada Yang Ilahi.

29.12.2014
fon@sg

Sunday, November 16, 2014

Smile to the Beautiful Morning


Tidak setiap pagi menyenangkan…
Banyak kali, pagi itu adalah hari yang mengecewakan.
Sisa semalam, seminggu yang lalu, atau setahun kemarin….
Duka yang masih ada, luka yang masih menganga…

Ada kalanya rasa kantuk masih begitu membelenggu dan sukar untuk dilawan.
Seperti pagi itu.
Beautiful?
Halahhh
Sungguh iklan bakery itu benar-benar seolah mengejekku.
Tulisan itu berbunyi : “ Smile to the beautiful morning.”
Padahal, aku tahu.
Maksud mereka tentunya baik.
Lagian, siapa juga yang tidak ingin paginya indah?
Tidur nyenyak, mungkin mimpi bertemu pangeran pujaan hati bagi mereka yang jomblo, mimpi naik pangkat, punya mobil keren…
Dan, bangun pagi dengan kesegaran prima.
Maunya setiap hari seperti itu.
Maunya, sih
Nyatanya?
Seperti pagi itu…
Atau pagi-pagi yang lain…
Terkadang begitu sulit untuk mengucap syukur akan datangnya pagi.

Dalam 365 pagi, atau 366 pagi di tahun Kabisat…
Berapa persen sih, yang membuat senyum kita sumringah?
Atau, kalau sulit dihitung dengan persentase, berapa hari yang begitu sesuai dengan impian kita?
Mungkin pertengkaran dengan pasangan-entah suami atau istri- yang belum selesai semalam.
Mungkin anak yang tengah tidak enak badan, sehingga tidur kita pun tak nyenyak…
Mungkin tumpukan deadline pekerjaan di kantor yang bikin seolah diburu-buru tiap pagi…
Mungkin kemacetan Jakarta yang harus diperjuangkan untuk dilalui setiap hari…
Mungkin stres ujian bagi mahasiswa atau pelajar..
Berjuta kemungkinan yang bisa kita hadapi hari itu…
Berjuta kemungkinan yang seolah merenggut indahnya pagi dari diri kita…

Padahal, di bawah segala tekanan itu tadi, apakah jadinya pagi itu tidak indah?
Apa jadinya tidak ada sama sekali kebaikan atau keindahan di dalamnya?
Atau, apa kita yang seolah ‘tertutupi’ atau ‘terbutakan sementara’ akan indahnya pagi karena permasalahan yang mendera, sehingga membuat kita tak bisa mensyukuri kehadirannya?

Seburuk apapun, pagi ini kita masih bernafas.
Itu berarti masih ada harapan untuk menjadi lebih baik.
Seburuk apapun, pagi ini kita masih bisa menjalani peranan atau pekerjaan kita…
Mari usahakan yang terbaik yang kita bisa…
Seburuk apapun, masih ada keindahan yang patut disyukuri.
Sehingga, pagi ini dan pagi-pagi berikutnya yang masih dianugerahkan-Nya pada kita,  semoga senantiasa kita syukuri…
Tak lagi aku mengeluh.
Perlahan tapi pasti, senyuman mulai mengembang di sudut-sudut bibirku…

It is indeed a beautiful morning!
And there’s always a reason to smile.
As soon as I smile,  I can feel a wonderful shade of happiness gradually fills my heart.
Yes, I’m grateful for this beautiful morning.
Thanks be to God!

Seolah alam pun memancarkan keindahannya yang terbaik pagi itu.
Sesudah hujan, pelangi menghiasi langit biru.
:)



Singapore, 16.11.2014
fon@sg
*inspirasi dari iklan Breadt*lk  yang belakangan sering dipajang di outlet-outletnya…




Friday, July 4, 2014

Undo

Undo

What's done cannot be undone
(Lady Macbeth from Macbeth - a Shakespeare's play)

Jika kita tahu akhirnya begini, mungkin kita ingin kembali di awal di saat kita seharusnya melakukan banyak hal dengan cara yang berbeda.
Jika waktu bisa diputar kembali, mungkin ada hal-hal yang tidak ingin kita lakukan atau tidak seharusnya kita lakukan di saat itu.
Rasa sesal pun mendera...
Apakah ada kesempatan untuk mengulang kembali?
Apakah mesin waktu yang sering ada di film-film itu bisa berfungsi sungguh dalam pengalamanku?


Tidak semua hal bisa kita 'undo' seperti fungsi komputer yang ada di keyboard atau program-program tertentu.
Ada banyak kali, kita berhadapan dengan apa yang dikatakan oleh Lady Macbeth karya Shakespeare yang ternama itu: " What's done cannot be undone."

Penyesalan seringnya datang terlambat.
Nasi sudah jadi bubur. Bahkan sudah masuk ke perut.
Kesannya, telattt banget:)
Apa mau dikata, terkadang pengalaman hidup membawa kita kepada kenangan yang tidak selalu manis.
Tetapi, setidaknya, kita menyadari kesalahan.
Mau meminta maaf jika memang kita bersalah.
Mau bertanggung jawab dan tidak lari darinya.
Dan mau mengambil hikmahnya.

Tidak semua kesalahan adalah salah total.
Tidak semua kekeliruan adalah fatal.
Tidak semua kegagalan akan membungkam semua usaha kita...
Masih ada harapan.
Masih ada jalan...
Terkadang pikiran kita terlalu fokus pada apa yang ada di depan mata-apa yang terjadi saat ini. Tanpa memberikan kesempatan kepada waktu untuk membuktikan bahwa kesalahan yang kita perbuat kini, di suatu ketika mungkin saja membawa berkat yang tersamar dalam bentuk yang lainnya.

Mari berandai-andai...
Jika 'undo' dan mesin waktu itu ada, apakah kita akan belajar dari terus membenarkan diri kita?
Seperti yang kita selalu ketahui bahwa kenyamanan tidak selalu membawa kita ke suatu perubahan ke arah yang lebih baik.
Tak jarang, pengalaman yang menyedihkan-memilukan, merupakan hal yang membuat kita berani bangkit untuk membuat suatu perbedaan.

Yang terpenting agaknya terus berusaha melakukan yang terbaik di momen kini.
Dan jika yang terbaik itu bukanlah yang terbaik di mata-Nya, hanya keinginan kita belaka, mungkin Dia akan tunjukkan jalan yang tidak seperti yang kita mau.
Belajar dan berangkat dari situ, nantinya tak jarang kita menoleh ke belakang dengan rasa syukur...
" Oh, itu tokh maksudnya..."

Bersama Tuhan, saya percaya bahwa hidup tidak melulu mulus.
Namun, Tuhan berikan kekuatan untuk melangkah bersama-Nya.
Tombol 'undo' - rasa bersalah di masa lalu- penyesalan karena tidak melakukan yang seharusnya saya lakukan....
Mari kita simpan itu semua...
Membawa semuanya itu ke dalam doa di hadirat-Nya...

Memang indah hidup dalam imajinasi dan berandai-andai...
Namun, pijakkan kaki pada realita-meski itu menyakitkan-adalah upaya yang sangat baik pula. Lalu, belajar menerima kenyataan yang pahit itu dan 'move on' untuk sesuatu yang lebih baik di kemudian hari.

Percaya itu semua bukanlah kebetulan...
Percaya semua pengalaman itu nantinya akan kita syukuri sebagai bentuk 'blessing in disguised.'
Percaya, masih ada kesempatan kedua, ketiga, dan seterusnya dari Yang Kuasa untuk tetap melangkah.
Semoga demikian adanya.
Ya, semoga.

04.07.2014
fon@sg