Tuesday, November 30, 2010

mahir


mahir


tak perlu sihir ‘ tuk jadi mahir

teruslah berjuang sampai akhir


tak perlu nyinyir jika tak mahir

coba lagi sampai mutakhir


tak perlu iri jika belum mahir

apalagi merasa paling pandir


tak perlu kikir jika kau mahir

indahnya berbagi hendaklah terpikir


Ho Chi Minh City, 1 Desember 2010

-fon-

* ketika mengingat master tea yang jago kungfu sambil tuang teh di table 8, Hotel Mulia.

* copas, forward, atau share? Mohon sertakan sumbernya. Trims!

sumber gambar:

http://karedok-enak.blogspot.com

Monday, November 29, 2010

Announcement




Announcement #1:

(musik pembuka mengiringi: ting ting ting ting… ting ting ting ting…

Dinyanyikan dengan nada dasar C mayor…Hehehe… Untuk mudah membayangkannya, anggap tengah perada di Stasiun Kereta atau Gedung Bioskop saat pengumuman buka pintu Studionya).

Perhatian, perhatian… !

Bagi orang-orang yang merasa dirinya selalu benar, harap memperhatikan pengumuman ini:

Kita hanya manusia biasa yang sering kali berbuat salah. Jadi, sikap keras kepala yang mempertahankan keyakinan seolah AKU paling benar seluruh dunia hendaknya dihapuskan. Keseimbangan antara kebenaran sesungguhnya dengan kemauan untuk mengakui kesalahan serta terus belajar untuk lebih baik lagi selalu dibutuhkan. Tetaplah rendah hati, karena kebenaran yang hakiki hanya ada pada Sang Pencipta. Selama masih berlabel manusia, kita punya kemungkinan besar salah. Jadi, jangan sampai timbul akumulasi sikap tinggi hati dan keangkuhan dalam hidup ini.

Demikianlah pengumuman untuk saat ini. Nantikan kami beberapa saat lagi.

Announcement #2:

(ting ting ting ting… ting ting ting ting…

Nada dasarnya sesuaikan masing-masing, karena suara manusia beda-beda. Ada Tenor, Bariton, juga Bas. Juga Sopran, Mezzo Sopran, dan Alto…:) Boleh dinyanyikan dengan Acapella atau versi paduan suara haha!).

Perhatian, perhatian…!

Bagi mereka yang selalu merasa dirinya salah. Yakinilah pada dasarnya memang manusia tak pernah ada yang sempurna. Tetapi bukan berarti kau harus berkubang pada masa lalu, pada kegagalanmu, pada kelalaianmu, pada kesalahan-kesalahanmu. Bukan! Bukan seperti itu. Perasaan bersalah yang dipelihara secara berlebihan juga takkan menghasilkan sesuatu yang besar. Sementara kau sibuk dengan lingkaran kesalahan itu, orang lain sudah bergerak maju… Hentikan penghakiman diri secara berlebihan, ampuni diri sendiri untuk kemudian bergerak maju untuk memperbaiki diri lagi.

Mintakan pengampunan dari-Nya jika kau tak mampu, niscaya kau akan rasakan kedamaian luar biasa yang meliputimu. Semoga hari ini jadi hari damaimu. Damai selalu sertamu…

Kami akan kembali setelah pesan-pesan berikut ini…J

Ho Chi Minh City, 30 November 2010

-fon-

* copas, forward, share? Harap sertakan sumbernya. Trims.

Sunday, November 28, 2010

Buta


Buta

Pagi-pagi buta…

Tak banyak orang cacat fisik- terutama di matanya- yang berkeliaran di jalanan. Pemandangan hanya seputar mereka yang sehat dan melakukan aktivitas normal. Jika ditemui, paling ada satu-dua orang di antara seribu.

Beberapa dari mereka terkadang mengemis untuk hidup. Beberapa dari mereka seolah tak berdaya. Mereka yang tak dilengkapi indera penglihat itu seolah ‘mati’ atau terlihat lemah. Namun, beberapa dari mereka hidup dengan luar biasa. Terkadang sampai mempermalukan mereka yang punya indera sempurna. Karena perjuangan mereka yang luar biasa. Semangat mereka membara.

Dari Hellen Keller sampai Ramona Purba. Dari Stevie Wonder sampai kontestan American Idol Scott McIntyre…

Jadi bukti bahwa tak punya indera penglihat bukanlah halangan untuk terus tetap hidup bahkan hidup dengan sepenuh-penuhnya…

Tak jarang, orang yang fisiknya normal, fisiknya sempurna…

Malah lupa akan keberadaan nuraninya. Mereka ‘buta’ nurani, ‘buta’ kepedulian terhadap sesama, ‘buta’ terhadap lingkungan mereka sendiri. Terlalu sibuk dengan dirinya sendiri, tak sempat melihat kiri-kanan. Terlalu mementingkan egoisme pribadi, tanpa pernah memikirkan orang-orang yang tak seberuntung dirinya…

‘Buta’ hatinya…

Menganggap diri sendiri yang benar tanpa mau mengakui kesalahan.

‘Buta’ kasihnya…

Tak hendak berbelas kasih kepada yang membutuhkan pertolongan, ironisnya terkadang pertolongan itu dibutuhkan oleh orang yang terdekat: keluarga, suami/istri, anak, orangtua, kakek-neneknya…

Di hari ini, tiba-tiba Dia menyapa…

“Jangan bekukan hatimu, jangan butakan dia…

Bukalah hatimu lebar-lebar terhadap kehadiran-Ku dan kasih-Ku…

Janganlah kamu ikut dibutakan kehidupan yang semakin egois dan materialistis…”

Ya, Tuhan…

Kuharap Kau bertakhta atasku, atas hatiku…

Dan mampu membuatku peka terhadap kebutuhan sesamaku…

Jangan sampai aku dibutakan oleh angkuhku

Ataupun arus dunia…

Aku ingin melihat dengan sempurna…

Bukan hanya di fisikku, tetapi biarlah aku belajar dalam ketidaksempurnaanku tetap melihat dengan kejernihan mata hatiku…

Ho Chi Minh City, 29 November 2010

-fon-

* copas, forward, share? Harapsertakan sumbernya. Trims.

Sumber gambar:

spring.org.uk

Friday, November 26, 2010

MASTERCHEF


MASTERCHEF

“ Tantangan kalian hari ini adalah membuat masakan dengan bahan dasar telur dan waktu yang dibutuhkan adalah 45 menit. Dan dimulai dari SEKARANG!”

Gordon Ramsay meneriakkan kata-kata ‘NOW’ itu tadi dengan penuh semangat. Aku berusaha menenangkan hatiku, menyalakan komporku. Cepat-cepat kuisi dengan air, karena aku akan merebus telur-telur itu terlebih dahulu. Ada beberapa pilihan hidangan yang ingin kusajikan sebagai kontestan satu-satunya dari Indonesia di acara yang berlangsung di Amerika Serikat tersebut. Tetapi, karena keterbatasan waktu, mau tidak mau aku harus memilih yang bisa kuselesaikan dalam tempo 45 menit saja.

Pertama yang terlintas, mungkin Bung Gordon akan tertarik jika kusajikan kerak telur atau yang biasa disebut kerak telor. Banyak abang yang jualan kerak telor terutama bila ada acara seperti di PRJ. Terkenang masa-masa menikmati kerak telor di pinggir jalan yang berdebu tetapi tak mengurangi kelegitannya. Namun, harus kuurungkan niatku karena untuk ketannya saja harus direndam minimal dua jam. Lebih lama, lebih baik. Maksudku tidak sampai sebulan sih, tetapi beberapa resep yang kudengar dan kubaca serta kupraktikkan menyebutkan harus direndam dua, empat, atau sepuluh jam. Mission impossible dalam waktu 45 menit!

Gordon masih sibuk berbincang dengan ‘wine maker’ Joe Bastianich dan Graham Elliot (four star chef), sesama juri di MASTERCHEF US itu. Memperbincangkan para kontestan, tentunya termasuk diriku. Tiba-tiba Graham berteriak: waktu tinggal tiga puluh lima menit lagi!

Gugup bercampur tegang, aku terus mengulek cabe, bawang merah, tomat, dan gula pasir. Sementara telur rebusku sudah siap. Kusediakan tiga butir untuk ketiga juri. Akhirnya kuputuskan untuk memasak telur balado kesukaanku. Yang resepnya adalah turun-temurun dari nenekku dan ibuku. Ah, masakan ini tak memakan waktu terlalu lama. Paslah untuk 45 menit itu…

Sementara di sekelilingku: Whitney sibuk dengan sandwich telurnya, Sharone dengan steak dan scrambled eggs-nya, serta Mike dengan tim telur ala Jepang semacam chawan mushi-nya. Tak begitu sempat kuperhatikan mereka satu per satu. Hanya karena mereka yang berposisi paling dekat denganku, aku mendengar komentar ketiga juri ketika berbincang dengan mereka.

Joe menghampiriku.

Uh, aku agak seram padanya. Karena kemarin ketika salah satu rekan kami dieliminasi, dia sampai membuang masakan temanku itu ke tempat sampah tanpa sempat mencicipinya. Kesannya dia sangat tegas dan pemarah. Tetapi agaknya dia tertarik melihat warna merah yang mendominasi ulekanku – ulekan yang kubawa khusus dari Indonesia saat aku pindah ke negeri Obama ini.

“ Waktu tinggal 10 menit lagi dan yang kalah dalam tantangan ini, harus pulang dan meletakkan ‘apron’ kalian.” Suara Gordon menggelegar sekali lagi.

Kusiapkan ‘finishing touch’ berupa piring putih bersih, irisan tomat dan cabai segar di sampingnya dan mulai menata ketiga butir telur baladoku. Aku hampir selesai, jadi aku tidak gugup betul karena waktunya benar-benar pas buatku.

“ Tiga, dua, satu, stop bekerja dan angkat tangan kalian semua…” Teriak Gordon lagi.

Kami buru-buru menghentikan kerja kami. Selesai sudah. Apa pun hasilnya, itulah yang terhidang di piring kami. Sisa kontestan masih 12 orang, jadi jalan menuju pencarian pemenang masih cukup panjang.

Satu per satu kami dipanggil untuk dicicipi masakannya sekaligus dikomentari oleh para juri. Ketika namaku disebut, kutenangkan diriku, aku maju membawa piring isi telur baladoku.

Yang mencicipinya dua orang: Gordon dan Joe, dua-duanya yang terkesan galak. Aku agak merinding, tapi ‘the show must go on’, bukan?

Gordon terlihat menahan pedas.

This is very spicy. Pedas sekali. But, in a good way. Kamu sudah betul-betul memasukkan cita rasa yang pas dalam waktu yang sebegitu singkat. Well done!”

Kegugupanku berganti dengan senyuman ringan. Setidaknya aku merasa tidak bakal dieliminasi kali ini. Oopps, tunggu dulu, Joe belum mencicipinya…

“ Pedas, segar, dan saya tidak bisa berhenti untuk terus memakannya.” Hidungku tambah kembang-kempis. Hatiku bangga membuncah tinggi di udara. Pastinya aman, tidak dieliminasi, syukur-syukur bisa menang tantangan ini. Cihui!

Setelah ke-12 kontestan dicicipi satu per satu masakannya oleh para juri, saat eliminasi tiba. Tiga yang terendah akan dipanggil dan diberitahu siapa yang paling tidak disukai juri, dialah yang harus pergi.

Avis, Sheena, dan Jenna : kalian bertiga yang tidak aman. Kuatkan hati kalian, sobat! Ucapku dalam hati.

Setelah mengembalikan Jenna dan Sheena ke tempat mereka semula, Avis harus melepaskan ‘apron’-nya. Dia dieliminasi.

Sekarang penentuan pemenangnya.

“ Kami merasa masakannya sangat spesial, berbeda dengan apa yang sudah kami makan selama ini.” Kata Joe.

Hatiku berbunga-bunga lagi. Pasti maksudnya diriku. Hahaha… Senangnya! Tak percuma resep turun-temurun itu membuatku menjadi pemenang di minggu ini.

Dan pemenangnya adalah: Lee! Congratulations!

Ah, tidakkkk! Aku tak mungkin kalah! Tak mungkin!

Karena terlanjur kecewa sesudah berharap sekian tinggi, kubuka celemekku. ‘Apron’ itu kulemparkan ke meja dewan juri….

“ Uhhh, teganya kaliannnn, “ kubergegas pergi.

Aku mengundurkan diri!

***

Kupandangi jutaan link website di google yang meletakkan resep telur balado. Banyak benerrr… Ini uji coba pertamaku, aku harus sukses!

Yang tadi? Ah, hanya khayalan semata. Lamunan sesaat karena terpana melihat kebolehan para chef amatir Amerika di acara Masterchef. Kuambil satu resep yang paling mudah.

“ Ok, yang ini saja aku coba. First time. Kalau gagal? Ya, gak apa-apa!”

Bye byeJoe, Gordon dan Graham. Terima kasih sudah menemani lamunan siangku sambil browsing resep di Oom Google hahaha….

Ho Chi Minh City, 26 November 2010

-fon-
* akibat nonton beberapa episode MASTERCHEF US :) thanks to Gordon, Joe, and Graham for your presence in my imagination:) Telur Balado is one of my fave dish, bukan uji coba pertama koq, tenang aja hahaha.

sumber gambar:

webtvwire.com

Tuesday, November 23, 2010

Suatu Siang di Pulau Yeonpyeong


Kamu duluan!

Kamu!

Bukan, aku bilang kamu!

Justru aku bertahan dulu, kamu yang nyerang dulu!

Jangan sembarangan, justru sebaliknya yang terjadi!


Pssssstttt, bisakah kalian diam?

Tak perlu saling tuding

Kalau akhirnya korbankan orang tak berdosa


Tak perlu saling caci-maki

Kalau emosi itu nantinya membahayakan

Negara dan stabilitas dunia


Bisakah luruskan pikiran dan buka hati

Agar perang tak perlu terjadi?


Ho Chi Minh City, 24 November 2010

-fon-

sumber gambar:

http://www.guardian.co.uk/world/2010/nov/23/north-south-korea-crisis-conflict

Sunday, November 21, 2010

Gak Enak



* sebuah catatan terima kasih

terima kasih untuk hal-hal yang ‘gak enak’, Tuhan…

karena mereka malah membuatku semakin bersyukur

atas hal kecil dan sederhana yang mungkin terlupa…


terima kasih untuk kejadian yang menyedihkan, Tuhan…

karena oleh mereka aku jadi makin dekat pada-Mu

dan mampu menghargai hal-hal yang membahagiakan…


terima kasih untuk setiap kegagalan, Tuhan…

karena dari mereka aku belajar menghargai kesuksesan

yang Kauizinkan mampir di hidupku…


terima kasih untuk setiap kehilangan, Tuhan…

karena aku semakin sadar bahwa hidup ini sementara

yang abadi hanya diri-Mu


terima kasih untuk setiap kemalangan, Tuhan…

karena dari situlah aku belajar berdiri tegar

tidak selalu mudah namun bisa terjadi dengan bimbingan-Mu.


terima kasih untuk setiap kekuatiran, Tuhan….

karena dengan demikian, aku datang dan membawa mereka pada-Mu

sambil menyerahkan kehidupanku seutuhnya ke dalam tangan-Mu


terima kasih untuk setiap kesukaran dan permasalahan, Tuhan…

karena dengan adanya mereka aku belajar berusaha

mencari solusi kreatif sekaligus berserah pada-Mu…


terima kasih untuk semua yang ‘gak enak’ itu, Tuhan…

karena hidup bukanlah melulu kemapanan ataupun kenyamanan…

namun juga proses pembelajaran…


terima kasih, Tuhan untuk itu semua…

karena kutahu, Kaubertujuan agar aku terus naik kelas

dalam sekolah kehidupan bersama-Mu.


Ho Chi Minh City, 21 November 2010

-fon-

sumber gambar:

detroitfashionpages.com

Wednesday, November 17, 2010

Being Mom: Di Ruang USG



“ Mau tahu jenis kelamin bayi Anda? “ Tanya dokter spesialis USG itu dalam Bahasa Inggris berlogat Vietnam padaku.

“ Ok, sure,” jawabku.

Masih dalam hati yang berkecamuk juga. Semua perasaan jadi satu. Ingin tahu, sekaligus juga resah haha…

Karena anak pertama kami adalah perempuan, wajar bila keinginan untuk punya anak lelaki juga cukup kuat. Tetapi dalam hati, aku terus meyakini bahwa apa pun jenis kelamin bayi tersebut, tidaklah masalah karena yakin Tuhan sudah menyiapkan yang terbaik, sesuai dengan kebutuhan kami.

“ It’s a girl,” ujarnya lagi.

“ Ok, thanks.” Tuturku perlahan.

Dilanjutkan dengan pemeriksaan USG menyeluruh termasuk melihat wajah si bayi dengan teknik USG 4D. Ah, tiba-tiba air mata sedikit menetes di pipiku. Betapa aku ingin memeluknya. Membisikkan di telinganya, kalau tak jadi masalah bagi kami kalaupun dia seorang bayi perempuan lagi karena bagi kami, dia tetap Sang Puteri. Princess in our heart!

Masih takjub dan haru dengan seluruh kelengkapan panca indera yang terlihat di layar TV yang terpampang di hadapanku. Bayi lelaki, pentingkah? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Buat yang mementingkan marga, tentunya bayi lelaki lebih dianggap penting. Namun, di era modern semacam ini, masih haruskah mempermasalahkan ‘gender’? Apakah seorang bayi perempuan tak punya hak untuk hidup dan mengecap hal-hal yang berkualitas sebagaimana layaknya seorang bayi lelaki?

Terlintas di kepalaku: wajah beberapa sahabat yang masih merindukan momongan. Betapa mereka akan bersyukur bila diberikan seorang bayi- apa pun jenis kelaminnya. So, thank God, it’s a girl. Another princess is being added up into our family. Praise the Lord!

Masih dalam kebisuan di hati. Haru menyeruak kembali. I love you, my princess! And how I want to hug you and share this love with you!

Ho Chi Minh City, 18 November 2010

-fon-