Tuesday, March 14, 2017

KETIKA KAKIKU KESELEO

Aih, aih…  keseleo dikit aja laporannnn…
Mungkin beberapa akan berpikir begitu, ketika membaca judul tulisanku di atas.
Ya, memang sih…
Keseleo bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja.
Gak ada spektakuler-spektakulernya…
Biasa aja, coy!
Bukan begitu? Begitu, bukan???

Ini bukan pertama kalinya saya keseleo…
(Hmmm, penting gak sih hahaha…)
Waktu di Ho Chi Minh City (HCMC) a.k.a Saigon, saya sempet keseleo juga…
Pas lagi jalan-jalan cantik pakai wedges (salah sendiri, ngapain juga pakai wedges terus jalan kaki jauh-jauh hehehe), di sekitar Notre-Dame Basilica (Katedral di pusat kota HCMC), saya pun terjatuh.
Efek keseleo di tahun 2011 ini cukup parah, terbukti dengan saya tidak sanggup menggendong anak kedua kami, Lala…
*Ku tak sanggupppp…Kris Dayanti mode on* hahaha…
Ok well, di situ akhirnya saya ketemu seorang ahli pijat wanita, orang Vietnam.
Dengan tangan ‘sakti’-nya, saya berhasil sembuh seperti sedia kala…
Thank God banget karena ada info soal dia dan dia memang ahli sungguh.

Sabtu lalu, tanggal 11 Maret.
Hari yang cerah…
Sekolah Lala mengadakan semacam bazaar tahunan yang paling heboh yang bertajuk Family Carnival Day…
(sedikit drama, agak lebay wkwkwk…)
Nah, saya pun pergi dengan Lala di siang yang indah…
Memandangi jauh ke depan, tanpa melihat satu anak tangga…
Terjatuh lagi. Oh My God!
Keseleo di kiri, lalu jatuh, kena bagian kanan.
Habis itu masih ke Kallang – Singapore Sports Hub, nemenin Odri ada event Olahraga anak-anak SD di Singapura.
Alhasil, kaki tambah kece.
Sakittt rasanya!

Minggu, 12 Maret…
Diinfokan ada seorang Sinshe sakti juga…
Cuma itu, antriannya panjang…
Saya bergegas pergi juga…
Datang jam 12, konon beliau praktek sampai jam 3 sore.
Apa daya, harus menunggu, sambil meringis hahaha…
Sambil menunggu, nengok kanan-kiri. Say ‘Hi’ dikit-dikit…
Ada nenek dan kakek tua, anak muda, yang semuanya bermasalah dengan salah satu bagian tubuhnya.
Lengkingan teriakan terdengar nyata, karena ruang praktek hanya dibatasi oleh tirai saja.
Saya sedikit ngeri juga, kalau-kalau, jangan-jangan…
Ahhh, kutepis pikiran yang tidak-tidak…
Menunggu lagi…

Giliranku tiba setelah menunggu 3 jam. Sinshe jagoan luar biasa itu hanya melakukan satu gerakan terhadap kaki kiriku yang keseleo dan memijat seputar lutut yang sakit akibat terjatuh.
Tidak sampai 10 menit, kelar sudah.
Untung gak ada teriakan ataupun lolongan keluar dari mulutku…
Thank God,  gak sakit-sakit amat…

Anyway…
Keadaanku hari ini membaik…
Masih bisa jalan dan melakukan aktivitas seperti biasa…
Sembari harus hati-hati tentunya…
Jatuh?
Siapa pun pasti pernah mengalaminya…
Jatuh rata-rata sakit, kecuali mungkin: jatuh cinta…
Ciyeeee…halaaahhh apa-apaan ini? Hahaha…

Kita gak pernah bisa menduga kapan kita jatuh, di mana kita terjatuh, dan seberapa parah efek jatuhnya kita…
Yang pasti, ketika kita jatuh apalagi di dalam kehidupan…
Belajar lebih baik lagi untuk melangkah…
Belajar lagi pengalaman kejatuhan kita…
Untuk kemudian melangkah lagi…
Meski tertatih, meski sementara harus tiarap dan merangkak…
Tetap berjalan, jangan berhenti…
Ada waktunya kita akan bangkit lagi, saat kita tak henti memberikan yang terbaik dan berusaha sekuat tenaga.
Jangan lupa juga berdoa mohon bimbingan Yang Kuasa senantiasa…
Yuk mariii, belajar satu hal baru lagi dari kejatuhan kita atau ‘keseleo’ nya kita di kehidupan ini…
Bersama Tuhan, kita bisa!

Singapura, 15 Maret 2017
Fonny Jodikin

·         Demi hak cipta, copas atau share: mohon sertakan sumber (nama penulisnya). Trims!

Friday, March 10, 2017

Bagaimana Reaksimu?

BAGAIMANA REAKSIMU?
It's not what happens to you, but how you react to it that matters. Epictetus (c. AD 55-c. 135)
(Bukanlah tentang apa yang terjadi padamu, namun yang penting adalah bagaimana kamu bereaksi terhadap hal itu)
Malam ini, saya kembali diingatkan oleh pepatah bijak ini...
Saya kira kita semua sepakat, bahwa tidak ada orang yang bebas dari masalah...
Setiap dari kita punya beban sendiri-sendiri yang harus kita tanggung...
Dan satu orang dengan yang lainnya berbeda tentu saja...
Banyak kali, terutama dengan begitu terbukanya Sosial Media akhir-akhir ini...
Makin banyak orang yang menganggap sah-sah saja untuk curhat di Timeline pribadi mereka sehubungan dengan masalah pribadinya...
Lah wong ini Timeline gue sendiri, emangnya kenapa?
Kalau friendlist Anda adalah orang-orang dekat yang 100% Anda yakin akan mendukung Anda, ya silakan saja...
Tetapi, jika banyak teman dunia maya yang belum pernah bertemu di dunia nyata, apalagi kenal...
Mungkin kita harus lebih bijaksana dalam mem-posting segala sesuatunya...
Saya termasuk yang berhati-hati soal ini...
Namun melihat gelagat tambah banyak yang curcol, curhat, berantem, sampai musuh-musuhan di Timeline via Sosial Media...
Hati ini lalu membatin:
Mungkinkah ini juga hasil tuaian dari apa yang ditabur sebelumnya?
Dari status-status terdahulu kita, orang lalu bisa mengambil kesimpulan tentang kita...
Lalu, bagaimana reaksi kita?
Hidup bisa membawa kita ke macam-macam lika-likunya...
Percayalah, seindah-indahnya rumput tetangga, pasti juga ada yang tidak enak yang dialaminya...
Cuma memang gak mungkin juga selalu posting tetesan air mata, bantal yang basah karena genangan air mata, dan seterusnya...
Malulah...
Apa kata dunia???
Malam ini, kata-kata bijak ini hadir lagi.
Begitu kuat, mengingatkanku...
It's not what happens to you, but how you react to it that matters.
Bagaimana reaksiku?
Hal yang sama, jika dialami oleh orang yang berbeda, menghasilkan reaksi yang mungkin berbeda pula...
Lalu ada satu lagi yang saya suka: Jika memang ada masalah, hadapi! Bukannya dituliskan di Facebook...
If you have a problem face it, don't Facebook it!
Kita juga kan gak mau seluruh dunia, bahkan yang tidak kenal kita, jadi tahu permasalahan yang seharusnya menjadi masalah pribadi kita...
Bener gak?
Hmmm, mungkin usia mengajarkan hal-hal ini pada saya...
Meskipun tetep donk ah, berjiwa muda hehehe...
Met malam dan selamat akhir pekan buat semuanya...
Don't worry, be happy.
Keep calm, stay cool.
Tetap jadi pribadi yang makin 'kece' hari lepas hari, yuk mareee!
Semoga...
Singapore, 3 Maret 2017.
12.13 AM (pukul 12.13 dini hari)

Friday, February 24, 2017

HIDUP ADALAH PROSES BELAJAR...


Dulu sewaktu jadi anak kos, saya jujurnya tidak suka dan tidak bisa memasak.
Untuk pertimbangan praktis, tentunya
anak kos yang sudah bekerja atau kuliah tidak banyak waktu untuk masak-masak.
Kesannya repot gitu.
Tapi pernah satu kali, saya kena gejala
Typhus dan harus mengurangi makanan yang kurang sehat.
Saya harus memilih makanan semisal
bubur...
Cukup tersiksa, sih...
Lalu ingat Mama, karena sedang di
Jakarta sementara Mama di Palembang... (*mellow mode on*- hikssss)
Kalau ada Mama, pasti sudah dimasakin,
diurusin sepenuhnya, dan seterusnya...
Memang kalau sakit, paling gak enak...
Apalagi sakit di rantau...
Berteman sepi dalam kesendirian.
Untungnya ada teman-teman senasib di rumah kos...
Lilin kecil yang menyinari kegelapanku saat itu...:)

Singkat cerita, sesudah menikah dan punya anak, tentunya harus belajar masak.
Pertama kali turun ke dapur, pasti
banyak tragedi yang terjadi...
Yang kalau diceritakan bikin geleng-geleng kepala...
Udah, Fonnn... Ngetik ajahhh lebih piawai...
Pegang panci hadehhhh susah ternyata...
Tapi.... Ya, tapi lagi nih....
Demi keluarga dan demi cinta ciaileee,
harus dilakoni...
Akhirnya sekarang thank God, bisa masak yang simple dan disukai anak-anak...
Juga belajar baking, walaupun belum mahir luar biasa, setidaknya buat anak-anak juga...
Kalau ada pesta kelas, jadi kami tidak usah membeli...
Bawa saja dari rumah...
Lebih irit dan lebih sehat tentunya...

Dulu, saya juga tidak pernah mempublikasi tulisan saya...
Apalagi di sosial media...
Hmmm...
Tetapi mulai tahun 2006, saya mulai blogging..
Chapters of Life lahir di bulan Desember 2006.
Itulah blog pertamaku...
Lalu merambah ke Facebook...
There's always a first time for everything...
Karena lagi-lagi: hidup adalah proses pembelajaran....

Februari 2017.
Ya, tahun ini...
Saya bersuka cita karena diperkenankan untuk melakukan suatu hal baru lagi...
Di bulan ini, saya mulai mencoba menulis lagu.
I like writing. I like singing.
Why don't I combine both?
Seorang sahabat mengirimkan sebuah foto lomba cipta lagu...
Ada keinginan, meskipun ada keraguan...
Kalau lirik, saya tidak terlalu kuatir...
Tapi kalau soal notasi (alias not), nah itu...
Apalagi harus diiringi satu alat musik sederhana...
Saya meragu...
Tapi satu sisi, hatiku menguatkan, juga Sahabatku itu bilang coba saja...
Saya bisa bermain organ dan di rumah kami ada sebuah 'Keyboard' sederhana...
Lalu, sambil merekam suaraku dengan lirik dan nada yang kuinginkan...
Kutekan tuts-tuts di Keyboard-ku...
Dan sebuah lagu tercipta...
Masih rahasia karena 'kan diikutsertakan dalam lomba...
Akan dibuka pada waktunya nanti, ya...
Tetapi yang akan menjadi 'highlight' adalah: ini lagu pertamaku.
Seorang Sahabat yang jago main Keyboard dan seperti adikku sendiri menawarkan bantuan untuk aransemen...
Dia yang profesional memberikan nuansa berbeda pada laguku.
Ah, aku bahagia!
Ketika kita mulai melangkahkan kaki ke arah sesuatu yang baik...
Meskipun dipenuhi keraguan, tetapi bantuan dari Yang Kuasa selalu ada...
Melalui Sahabat-sahabat tercinta di sekitar kita...
Yes, life is a journey...
Life itself is a learning journey...
Everyday, bit by bit...
step by step...
We're walking in a path that we should go through...
Everyday, in every way: we're learning to be a better person.
Hopefully, it will bring a better atmosphere around us...
Yeah, hopefully...

Syukur kupanjatkan di penghujung hari...
Juga jelang penghujung Februari...
Suatu kesempatan belajar datang dan menghampiri...
Sukacita penuhi seluruh diri...
Mengucap terima kasih setulus hati.

Singapore, 24 Februari 2017
Fonny Jodikin
#catatansyukur
#lifeisagift


Friday, February 17, 2017

MENJADI TUA DAN DEWASA...


Seorang Oma tua melangkah perlahan...
Tubuhnya sudah tidak tegap lagi.
Usianya mungkin di atas 80 tahun, setidaknya itu perkiraanku.
Dia mengenakan rok panjang dan blouse senada.
Sedikit high heels setidaknya 5cm hak sepatunya.
Stocking pun dia pakai juga.
Berdiri di depanku di sini.
Di sebuah eskalator stasiun MRT.
Saat dia mempersilakanku berjalan lebih dulu, kulihat garis-garis kebijaksanaan di wajahnya.
Namun, dia tetap trendi dengan make up dan rambut tertata.
Lipstick, bedak, dan alis mata.
Di balik kaca matanya tebalnya.
Entah mengapa di satu sisi aku ingat Mama.
Bukan dari segi dandanannya, karena mamaku bukan tipe pesolek...
Tetapi lebih ke keadaan tubuhnya yang tidak lagi sekuat dulu.
Osteoporosis dan penjepitan syaraf membuat dia tidak lagi segagah dulu.
Di usianya yang ke-76, sampai tahun lalu masih bisa mengunjungiku dan terbang sendirian.
Suatu kondisi yang bagiku patut dipuji.
Tahun demi tahun berlalu, menjadi tua itu pasti.
Sementara menjadi dewasa dan pribadi yang mau mengasihi itu adalah pilihan hati.
Hari ini aku diingatkan lagi...
Jika Tuhan memberi usia lanjut bagi kita...
Terlepas dari tampilan fisik, entah berdandan atau tidak...
Mau jadi pribadi macam apa nanti?
Semakin bijak sesuai usia dan pengalaman hidup kita?
Ataukah menjadi pribadi yang menyimpan luka...???
Kepahitan, kebencian, kekecewaan, atau yang dipenuhi kemarahan...?
Tidak pernah mudah dimakan usia. Apalagi ketika kesehatan dan kondisi tubuh ikut tergerus juga.
Dan usia? Siapakah yang tahu juga?
Yang penting semasa hidup menjadi orang yang tulus dan dipenuhi kebaikan.
Ya, semoga.
Singapura, 17 Feb 2017
Fonny Jodikin

Thursday, January 26, 2017

NLB - NATIONAL LIBRARY OF SINGAPORE (Perpustakaan Nasional Singapura)


Bagi yang tinggal di Singapura, tentunya tidak asing lagi dengan sistem peminjaman buku otomatis seperti ini. Saya posting karena rasanya cukup menarik untuk informasi bagi rekan-rekan di Indonesia atau di mana pun berada yang penasaran dengan informasi semacam ini.
Tinggal menyelipkan kartu keanggotaan kita di tempat yang sudah ditentukan, lalu mesin secara otomatis membaca data-data kita. Juga sekaligus menunjukkan berapa banyak buku yang bisa kita pinjam. Untuk kartu normal, sekitar 10 buku (saat libur sekolah 20 buku) untuk 2 minggu yang kemudian bisa diperpanjang 3 minggu lagi.

Biaya menjadi anggota Perpustakaan ini adalah gratis untuk Singaporean (Warga Negara Singapura), untuk PR (Permanent Resident) yang berdomisili di sini biayanya sekitar $10 sekali bayar saja untuk seterusnya. Jika masih berstatus orang asing (Foreigner), biaya sekitar $53.50 per tahun (sekitar Rp.500.000,-). Khusus untuk pelajar seperti anakku, bila sudah SD bisa memiliki kartu perpus sendiri. Bisa pinjam di Perpustakaan sekolah atau Perpustakaan umum milik Pemerintah. Jatah peminjaman maksimal 8 buku, libur sekolah biasa menjadi 2 kali lipat: 16 buku.

Mesin bisa mendeteksi sekaligus 6 judul buku, yang bisa kita tumpuk di tempat yang sudah ditentukan.
Peminjaman berlangsung cepat. Begitu pun perpanjangan, bisa dilakukan melalui mesin satu lagi yaitu e-kiosk. Mesin ini juga melayani informasi kartu kita, sekaligus pemabayaran denda buku jika ada keterlambatan.

National Library of Singapore juga memiliki website dan app pada handphone untuk memantau akun keanggotaan kita. Juga bisa untuk membaca e-book sesuai jatah yang sudah ditetapkan.
Lokasi Perpustakaan biasanya ada di tiap wilayah terdekat tempat tinggal kita. Bahkan ada juga di dalam mal atau pusat perbelanjaan. Semuanya dibuat oleh Pemerintah, untuk mempermudah warganya.

Koleksi buku cukup banyak dan menarik. Aku biasa meminjam buku anak. Suka sekali dengan buku baru yang masih rapi dan bersih. Anak-anak juga terkadang kubawa ke Perpustakaan, sebagai hiburan dan menanamkan rasa ingin tahu serta kemauan membaca sejak dini.

Inilah salah satu fasilitas yang cukup murah jika sudah PR atau WN Singapura dan sangat banyak manfaatnya setidaknya bagi kami sekeluarga dan kuyakin juga bagi banyak keluarga lainnya😊.
Sekian sekilas info dari rantau.

Singapura, 26 Januari 2017
Fonny Jodikin
#serbaserbidirantau03





Sunday, January 15, 2017

PAPA...


 PAPA...

Jumat, 13 Januari 2017, pukul 20.10-21.15

Kami sekeluarga menonton drama Korea di Channel S-One. Yang tengah kami tonton bersama adalah 'Legend of the Blue Sea' karena ada pemain-pemain kesayangan saya pribadi: Lee Min Ho dan Jun Ji-Hyun. 
Drama ini berkisah tentang kisah cinta 'Mermaid' alias 'Putri Duyung' dengan manusia.
Kisah yang idenya tidaklah baru, namun para penulis skenario menuliskannya kali ini dengan apik karena menyambungkan kisah di masa lalu dengan masa kini...
Dari Masa Joseon, sekian ratus tahun yang lalu, kita dibawa menuju ke masa kini di mana Sim Chung (mermaid) bertemu kembali dengan Hae Joon Jae (diperankan oleh Lee Min Ho).

Episode ke-17 yang lalu diakhiri dengan ending yang cukup dramatis.
Lee Min Ho yang berusaha menyelamatkan ayah kandungnya dari cengkeraman jahat ibu tirinya yang menginginkan harta ayahnya yang konglomerat itu, harus berhadapan dengan kecewa.
Ayahnya pada awalnya tidak mempercayainya karena Joon Jae is now a swindler.
Dia adalah seorang tukang tipu ulung, namun sebetulnya dia tulus ingin membantu ayahnya keluar dari rumah ayahnya sendiri.
Ayahnya kemudian meninggal.
Joon Jae datang terlambat saat ambulans sudah bersiap ingin membawa ayahnya pergi.
Teriakan histeris muncul " Appa! Abeoji!" (berarti: ayah).
"Mian!" (I'm sorry- Maaf).

Dia berlutut di depan rumah ayahnya.
Menangis perih dalam kepiluan yang luar biasa.
Akting yang bagus! Audrey anak kami bergegas mengambil tissue.
Terharu.

Diam-diam saya menangis dalam hati.
Teringat Papaku yang sudah berpulang tahun 1993 yang lalu di usianya yang ke-56.
Setelah berperang dengan penyakit komplikasi yang dideritanya.
Beliau berpulang 2 Juni 1993.
Dengan sedikit linglung, tak percaya, aku ke bandara Soekarno Hatta berusaha membeli tiket jurusan Palembang.
Go show tentu saja karena ini di luar perkiraan.
Maskapai apa saja, asal aku cepat sampai ke rumah.
Meskipun Papa sudah sakit sejak aku SMP, namun 1 Juni, sehari sebelumnya aku menelpon ke Palembang dan kata Mama, keadaan Papa membaik.
Papa sudah mau makan...
Rasa lega yang kurasakan kemarin berganti duka...
Saat Mama bilang, Papa sesak nafas dan ambulans pun datang menjemput...
Apa daya, memang waktu-Nya sudah tiba...

Papa menghembuskan nafas terakhirnya saat sudah berada di RS, namun belum sampai ke ruangan IGD.

Ada rasa hampa yang tak pernah kurasakan sebelumnya.
Sebuah rasa kehilangan yang tak pernah kutahu akan begini jadinya.

Padahal relasiku dengan Papa tidaklah sempurna. Banyak juga pertentangan karena memang kami sama-sama keras.
Satu hal yang kusyukuri bahwa kami sempat berdamai dan hubungan kami jauh lebih baik saat aku harus meneruskan kuliah di Jakarta.
Aku bersyukur jadi anakmu, Pa...
Walau kutahu Papa tak sempurna, sama seperti diriku yang sekarang jadi Mama, sangat sadar bahwa aku pun jauh dari sempurna...
Hanya tiap hari berusaha menjadi Mama yang baik bagi anak-anaku, itu saja, Pa!
Yang kutahu Papa terus berupaya keras memenuhi kebutuhan kami kelima anaknya dengan usaha dan kerja kerasnya.
Papa juga telah mewariskan darah seninya kepadaku, terima kasih, Pa!


Drama Korea Legend of the Blue Sea telah berlalu...
Akting Lee Min Ho masih meninggalkan kesan mendalam di hatiku...
Kenangan akan dirimu menari-nari dalam benakku, Pa...
Sesuatu yang mungkin tak pernah kukatakan dulu, namun kini dengan lantang ingin kuserukan kepadamu: " I Love You, Pa!"
You'll be forever in my heart!

16 Januari 2017
fon@sg



Monday, January 9, 2017

TALKING ABOUT ROSES AND THORNS


(BERBICARA TENTANG BUNGA MAWAR DAN DURI)

“You can complain because roses have thorns, or you can rejoice because thorns have roses.”
Kalimat bijak ini konon berasal dari Abraham Lincoln. Namun, ada beberapa yang mengatakan bahwa ini ditulis oleh orang lain.
But no matter what, intinya yang saya lihat bagus dan mengingatkan saya pribadi…
Kita bisa mengeluhkan bahwa bunga mawar punya duri  atau  kita bisa bersukacita karena duri-duri itu memiliki bunga mawar.
Ini menjadi semacam pegangan bagi saya dalam menjalani kehidupan.
Tak peduli betapa indahnya suatu kehidupan, pasti ada kejadian-kejadian yang seolah menjadi ‘duri’ di tengah kelopak mawar yang mekar dengan warna-warninya.
Atau bagi mereka yang cenderung mellow sangat, memandangi kehidupan selalu dari sisi durinya, namun sebetulnya: ada kelopak-kelopak mawar juga di sana….
Pilihannya ada di tangan kita, mau lihat mawarnya atau terus-terusan berkubang dalam ‘duri’ duka?

Bagi saya ini kemudian penting, karena ini berkenaan dengan apa yang melandasi pilihan-pilihan di kehidupan ini.
Termasuk dalam pergaulan, entah itu dunia maya ataupun dunia nyata.
Karena berada di rantau selama 10 tahun terakhir ini, sebetulnya medsos sangat bermanfaat dan informatif bagi kami.  Penyebaran informasi terasa lebih cepat ketika hanya membaca ‘timeline’ di Facebook.
Namun memang saya pun menyadari, bahwa tujuan awalnya baik semisal menjalin tali silaturahmi yang sempat lama terputus, kemudian menjadi semakin kabur.
Facebook menjadi semacam tembok ratapan, untuk curhat habis-habisan permasalahan pribadi yang dihadapi.
Bagi saya, ini tentunya kurang bijaksana. Karena teman di Facebook, banyak yang saya tidak kenal. Juga teman di Facebook, beberapa tidak begitu dekat di dunia nyata…
Jika sampai curhatan itu menyebar, bukankah itu agaknya bakal jadi ‘gosip’ yang empuk buat disebarkan?

Lalu urusan politik…
Sebetulnya, saya paling tidak mau tahu pilihan Anda.
Masing-masing sajalah…
Tetapi seolah sosmed menjadi ajang untuk membanggakan pilihanku dan menjelekkan pilihanmu.
Sempat pusing kepala, lalu jadi cuek saja…
Asal masih dalam taraf normal, pasti masih saya biarkan.
Kalau sudah keterlaluan ya unfollow saja. Unfriend tetap menjadi pilihan terakhir, senjata pamungkas yang akan saya pakai meskipun jarang-jarang…

Lalu agama….
Hadehhh gak ada habisnya!
Jujur, saya berasal dari keluarga yang agamanya berbeda-beda.
Namun kami saling menghormati dan itu tidak perlu kami umbar.
Saya meyakini, di dalam agama apa pun pasti mengajarkan kebaikan…
Dan bila kebaikan itu bertemu, alangkah indahnya!
Memperdebatkan perbedaan itu tidak ada habisnya.
Kehidupan di rantau selama 10 tahun ini setidaknya mengajarkan saya banyak hal untuk semakin menghargai perbedaan.
Melihat kembali keunikan setiap individu tanpa harus menjadi terancam karenanya, perbedaan itu indah!

Kembali ke ‘roses’ and ‘thorns’ dan hubungannya dengan dunia maya.
Sosial media ini bisa menjadi mawar atau duri bagi kita…
Pilihannya ada di tangan kita…
Mau menjadikan dunia ini lebih baik atau setidaknya duniaku dan sekitarku lebih baik?
Atau sebaliknya: menjadikannya porak-poranda…
Di Facebook sejujurnya saya tetap menemukan komunitas penulis yang sehat…
Sahabat-sahabat yang menguatkan…
Juga bertemu dengan beberapa sastrawan dan belajar menulis di sini.
Saya pun berkesempatan menerbitkan buku, itu semua diawali dari perkenalan di Facebook…
Sampai hari ini saya tetap menjaga atmosfer di Facebook saya, biar tidak dipenuhi oleh hal-hal negatif.
Saya berusaha semaksimal mungkin menampilkan mawar di kehidupan, meskipun saya tengah terjerat duri, karena saya meyakini: keindahan itu takkan hilang karena pelajaran kehidupan pastinya ada di tiap episode kehidupan ini.

Saya tetap berharap suatu saat nanti Facebook dan sosmed lainnya dipenuhi kebaikan.
Tetapi harapan tinggallah harapan, jika tanpa tindakan nyata.
Saya akan memulainya dan semoga ini menjadi inspirasi bagi kita masing-masing untuk memulai dari diri kita sendiri.
Siap ‘action’ dan memberikan aura positif di media sosial kita…
Yuk mareee!

Singapore, 10 Januari 2017
Fonny Jodikin

#bijakdisosmed