Showing posts with label Natal. Show all posts
Showing posts with label Natal. Show all posts

Friday, December 24, 2010

Dekil


Dekil

*** self-talk within me

“ Dekil, kamu…”

“ Emang… Aku gak pernah menganggap diriku putih tanpa noda, koq… Jadi, kuakui memang aku ‘dekil’ . Bukan berarti aku jarang mandi, lho… Tapi memang aku tak cukup bersih, masih diliputi dosa dan kesalahan… “

“ Jangan sok bersih, kamu…”

“ Oh, aku tidak pernah merasa diriku sok bersih. Malulah sama tetangga. Dan apa kata dunia? Haha… Aku hanyalah manusia biasa yang tak luput dari salah tetapi terus berusaha untuk hidup lebih baik hari lepas harinya…”

“ Sekali dekil, tetap dekil. Merdeka!”

“ Wuih, aku tidak setuju sama yang satu itu… Kuakui memang kedekilan itu tidak bisa hilang 100%, tetapi dengan usaha yang lebih baik dan berjuang lebih keras, tentunya kedekilan itu bisa berkurang kadarnya. Besok-besok berkurang dekilnya lah yaw…”

“ So, apa kabar, Kil (baca: Dekil)? How’s your day lately?”

“ Oh, aku baik-baik saja. Trying my best to cope with whatever I encounter in my daily life…Dan dengan hadir-Nya di hidupku, setidaknya aku bisa meminimalisasi kedekilan itu…Karena sudah hadir, detergen terampuh untuk mencuci semua kedekilanku yaitu kasih-Nya. Kuakui ku tak sempurna, banyak salah, masih pernah iri-dengki-cemburu-dendam… Tetapi, dengan kasih-Nya, kuyakin aku bisa melampaui itu semua. Bukan karena kekuatanku, tetapi karena dukungan-Nya yang tak henti pada diri mereka yang terus berjuang untuk mencerminkan hidup yang bercirikan karakter yang lebih baik lagi…”

“ Jadi! Usahlah kauganggu diriku dengan hinaan bernada dekil begitu…. Biarkan aku maju, bergerak menjadi seputih salju dengan bimbingan-Nya yang menuntun tanganku…Gih, minggirrrr…. Permisiiiii, aku mau lewatttt…”

Demikianlah percakapan yang terjadi di dalam hati menjelang Natal ini. Biarlah kupercayakan sekali lagi, aku yang ‘dekil’ dan tak sempurna ini, punya kesempatan untuk jadi putih berseri… Dalam iman kupercaya bahwa Tuhan akan mampu ubahkan diriku asalkan adanya niatan yang kuat di hatiku.

Selamat Natal buat semua yang merayakan. Bersyukur untuk hadirnya Yesus di hidup para pengikut-Nya dan semoga kita tidak menyia-nyiakan semua kebaikan-Nya di hidup kita…

Ho Chi Minh City, 24 Desember 2010

-fon-

* copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya

* tautannya ada di: http://fon4jesus.blogspot.com/2010/12/dekil.html

Monday, December 20, 2010

The Colors of Christmas


Merah, hijau, perak, emas, putih, ungu, bahkan pink…

Semarakkan suasana natal dengan indahnya hiasannya. Dengan pohonnya. Beberapa pohon di-design sebegitu rupa sehingga membuat mata yang memandangnya terbelalak dan terpesona. Pohon natal pink atau putih yang dipadupadankan dengan hiasan-hiasan indah. Singapura sering memadu-madankan ‘silver and gold’ juga warna ungu yang indah ditambah suasana kemegahan di pinggir kiri-kanan jalan Orchard Road dan mal terkemuka lainnya, indah dan sedap dipandang mata.

Ho Chi Minh City juga tak kalah. Ketika kita bicara soal kemeriahan Natal walaupun tentunya tetap dalam kesederhanaan. Namun, pohon Natal merah itu sudah terpajang dengan kokohnya di jantung kota di Nguyen Hue.

Warna, tentu saja tetaplah preferensi kita. Tetaplah pilihan kita. Karena yang seorang berbeda dengan yang lainnya dalam hal selera…Tetapi biarlah di Natal kali ini, kuterjemahkan warna-warna itu dengan apa yang menjadi isi hatiku:

  • Putih bagiku: mohon Engkau putihkan hatiku seputih salju ‘tuk sambut datang-Mu…
  • Hijau yang terpampang di pohon Natal dan di lingkaran Natal pajangan di banyak rumah (Christmas Wreath), biarlah tetap ingatkanku bahwa Engkau melambangkan keabadian. Bahwa jiwa kami pun akan abadi bila bersama-sama dan terus mengikuti dengan Engkau…
  • Merah: selain hiasan bunga, buah, dan pakaian Santa Claus yang merah itu, biar terus kuingat bahwa Engkau sudah mengorbankan nyawa dan dirimu saat Engkau disalibkan. Sehingga, tak mau pula kusia-siakan pengorbanan-Mu…
  • Pink: lambang cinta dan kasih yang sering dinyatakan di hari kasih sayang (Valentine’s Day), biarlah jadi pernyataan cinta kasihku pada-Mu yang walau kutahu takkan pernah sebanding dengan cinta-Mu padaku dan pada kami semua, tetap ingin kuperbaharui di saat-saat jelang lahir-Mu. Dan tanda aku bersuka cita atas hadir-Mu.
  • Emas dan perak: mungkin aku tak punya banyak hiasan warna itu, tak juga hendak menghiasi diriku dengan perhiasan-perhiasan itu. Tetapi biarlah kuhias hatiku dengan sebaik-baiknya dan kusambut Engkau dengan kemegahan cinta-Mu yang senantiasa kurasakan…

Engkau terlahir dengan sederhana. Di palungan, bukan di rumah mewah. Natal hendaknya tetap jadikan kita ingat bahwa bukan hal-hal yang melulu berbau lahiriah, kado/bingkisan, ataupun pesta… Tetapi yang terpenting adalah memasuki detik-detik lahir-Mu dengan hati dan semangat baru…

Apa pun warna Natalmu, persembahkanlah mereka sebagai bukti kasihmu pada-Nya. Dia sudah begitu baik, mau lahir untuk kemudian berkorban bagi kita semua. Semoga Natal ini penuh warna yang indah dan membangkitkan damai serta kesejukan di hati… Semoga ‘the colors of Christmas’ menjadikan kita semakin sadar untuk memperbaharui diri dan hati dengan kasih… Semoga Natalmu, Natalku, Natal kita jadi semakin penuh arti dengan warna yang melambangkan kebaikan-Nya di hidup ini…

Ho Chi Minh City, 21 Desember 2010

-fon-

*catatan Natal ke-2 di Ho Chi Minh City.

* copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya

sumber gambar:

zazzle.com

Sunday, December 20, 2009

Damai di Bumi



*** Cerpen Natal

Sebagai seorang ibu dari seorang anak yang bersekolah di sekolah internasional, aku terkadang suka pusing. Bukannya kenapa, karena ekonomi kami sebetulnya pas-pasan. Rizky bisa masuk ke sekolah itu karena pertolongan dari kepala sekolahnya yang memberikan keringanan berupa bea siswa, karena tahu keluarga kami bukan tergolong mampu. Sisi lain yang terasa sulit bagi kami untuk beradaptasi adalah gaya hidup para murid dan orang tua di sekolah tersebut. Sekolah yang bernama ‘Star International School’ dan berlokasi tak jauh dari rumah kami di daerah Tangerang, memang menjadi pilihan bagi banyak anak selebriti, orang kaya dan tak jarang beberapa konglomerat katanya. Aku tak tahu pasti, tapi yang aku tahu pasti, kami sering kewalahan ketika mendapat undangan untuk pergi ke pesta ultah teman Rizky. Paling tidak di restoran cepat saji dan dihadiri oleh ratusan orang. Kalau tidak, ini yang lebih parah yang pernah kami terima, di hotel berbintang empat atau lima.

Biasanya kami hanya memberi kartu ucapan selamat dan itu pun diberikan kepada anak yang berulang tahun, sehari sesudahnya. Karena Rizky tak pernah kami ajak ke sana. Sebelumnya pernah satu dua kali kami hadir, kalau itu di restoran cepat saji. Tapi sering kali kami harus menahan diri dari kekesalan akibat dilecehkan oleh orang-orang berduit yang berlabel pengusaha yang sering menghina Rizky dan aku sebagai ibunya. Kami bisa menulikan telinga kami, tapi terkadang beberapa kata itu sudah terlanjur masuk ke hati, dan melukainya. Kalau hanya aku yang dilukai, masih tak mengapa. Tapi Rizky? Anak berumur sepuluh tahun itu rasanya masih terlalu muda untuk mengerti kejamnya dunia. Awalnya, kami sadar, bahwa ini yang akan terjadi. Namun, kami tak menyangka efeknya akan jadi begitu besar. Walaupun saya menyadari, tidak semua orang kaya sombong, dan tidak semua orang miskin rendah hati, tapi apa yang saya alami di sekolah internasional ini setidaknya membuka mata saya sekali lagi. Lebar-lebar.

Liburan kali ini, Rizky bilang, seluruh temannya sudah berlomba-lomba cerita tentang liburan ke Disneyland. Beberapa akan ke Hongkong, beberapa akan ke Jepang, dan beberapa akan ke Amerika Serikat. Bagi Rizky dan aku yang hanya ibu rumah tangga dan bersuamikan bapaknya Rizky yang hanya pegawai rendahan di perusahaan sekaligus pabrik kecap ternama di Indonesia, kami sadar sesadar-sadarnya bahwa liburan Natal bagi kami hanyalah tinggal di rumah saja. Tahun baru juga nonton televisi lokal tanpa fasilitas TV kabel, karena memang kami tak punya. Rizky hanya diam saja, sama seperti ibunya yang sering kebingungan kalau melihat kecanggihan para orang tua itu bertutur kata ketika pertemuan orang tua murid dan guru. Belum lagi dandanan mereka yang jet set, tas seharga puluhan juta, baju-baju keren bak artis sinetron dan rambut yang selalu rapi karena habis ‘blow’ di salon. Terkadang membuat diriku yang sudah merasa kecil, semakin minder dengan keadaanku. Bersandal sepatu warna hitam yang kubeli di toko di pasar, tas murah yang mudah-mudahan tak terkesan murahan warna hitam pula, lipstick warna merah muda dan polesan bedak ringan di kulitku, hanya itu yang kulakukan. Sementara rambut panjangku yang menyentuh pinggangku, kukepang kecil-kecil dan kubentuk sanggul. ‘Home made’, kreativitas sendiri, tanpa salon.

Jangan pernah berpikir bahwa kami tak pernah mempertimbangkan agar Rizky keluar dari sekolah itu. Beban mentalnya terlalu berat bagi kami, belum lagi Rizky. Namun, setelah dua kali kami menyatakan kepada Kepala Sekolah ‘Star International’ bahwa Rizky akan berhenti, tiap kali Kepala Sekolah pun memberikan dukungan berupa bea siswa sampai selesai O Level nantinya. Semakin pusing kami dibuatnya. Akhirnya kami teruskan, walaupun hati setengah bimbang. Bea siswa itu ditawarkan bukannya tanpa alasan, karena dari sejak masuk sampai hari ini Rizky selalu menduduki ranking pertama dari berapa pun kelas yang ada. Dia juara umum. Terima kasih kepada Tuhan, dalam kesederhanaan kami, Tuhan beri kepercayaan mendidik seorang anak pintar yang sebetulnya sangat penurut pada orang tua. Tapi tidak belakangan ini…

Terpengaruh suasana Natal yang ditampilkan di sekolah, omongan teman-temannya, dan iklan-iklan di TV, Rizky pun merengek pada kami untuk pergi ke luar negeri. Minimal Singapura katanya. Naik pesawat murah pun tak mengapa kata Rizky, tokh sekarang sudah tak perlu bayar fiskal kalau sudah punya NPWP (entah dari mana Rizky tahu, tapi dia bisa mengulangi hal ini kepada Bapaknya). Karena dia terus dihina teman sekelasnya yang bilang satu-satunya orang yang paling kuper di kelas dan tak pernah ke luar negeri adalah Rizky.

“ Nak, Ibu saja belum pernah ke luar negeri sampai hari ini. Bukannya Ibu tak mau, tapi Ibu tahu diri, karena gaji Bapak hanya cukup buat makan kita sekeluarga dan sedikit tabungan kita. Ibu mau sekali pergi sama kamu dan Bapak, tapi kita masih belum mampu, Nak…” Dengan sedih kuungkapkan kalimat-kalimat itu. Mengharapkan anakku mengerti. Bahwa kami cukup walaupun kami tak pernah ke luar negeri. Kami cukup, walaupun kami tak bisa merayakan ulang tahun Rizky di hotel berbintang empat atau lima. Kami cukup. Kami jauh lebih baik daripada mereka yang tak mampu makan tiga kali sehari, dari mereka yang harus mengais makanan dari tempat sampah guna menyambung hidupnya hari itu. Kami cukup.

Hatiku sedih sekaligus bahagia. Bahagia karena sadar, keadaan kami tidak terlalu buruk dibandingkan mereka yang lebih sulit daripada kami. Sedih, karena orang tua mana yang tak ingin memenuhi keinginan anaknya? Tapi kami memang belum mampu. Mau bilang apa…

Rizky memandangku dengan sedih. Dia amat kecewa, tapi dia berusaha tegar dan menerima.

“ Baiklah, bu… Kalau begitu, Rizky mau belajar yang pintar, biar dapat bea siswa ke luar negeri. Ke Singapura atau ke Inggris, Rizky mau lihat dunia!”

“ Gitu dong, anak ibu! Jempol!”

Aku senang melihat semangatnya yang bangkit lagi seperti itu. Aku senang bahwa dia tidak terpuruk dalam dukanya, malah melihatnya sebagai motivasi untuk berusaha lebih keras. Semoga Tuhan bukakan jalan untukmu, Nak… Semoga Tuhan juga melindungi setiap langkahmu di lingkungan keras seperti itu yang harus kaujalani tiap hari…

Seminggu sebelum Natal

Libur telah tiba. Aku dan Rizky tak ke mana-mana. Paling ke supermarket dekat rumah kami. Berbelanja sedikit, sesuai kantong kami. Kalau berbelanja banyak-banyak, uang dari mana? Rizky cukup senang hati ketika kubelikan cokelat Natal kecil. Dan kami pun membeli beberapa bungkus permen untuk diisi di dalam stoples. Bukankah suasana keceriaan tak harus mahal? Bukankah kami tetap berhak menikmati sedikitnya keceriaan itu walaupun tak mampu ke luar kota ataupun ke luar negeri?

Sepulang dari supermarket, di depan gang, kami jumpai beberapa anak kecil anak Bu Dullah, tetangga kami. Mereka saling berebut permen. Permen yang hanya dua butir, diperebutkan oleh empat anak Bu Dullah. Melihat hal itu, Rizky otomatis menjulurkan sekantong permen yang dipegangnya. Permen yang kami beli tadi. Sehingga mereka tak lagi ribut, malahan tersenyum dan berterima kasih pada Rizky. Lucu melihat gigi mereka yang sebagian ompong, tapi masih menyeringaikan senyum kepada kami. Sebungkus permen seharga lima ribu rupiah itu kami sumbangkan. Dengan rela. Karena kondisi Pak dan Bu Dullah lebih parah dari kami. Pak Dullah penjual sate ayam keliling dan Bu Dullah sesekali menerima jahitan baju. Walaupun dia hampir tak ada waktu menjahit sebetulnya karena masih harus mengurusi empat anak yang masih kecil-kecil. Yang tertua tujuh tahun, yang terkecil satu tahun setengah.

Rizky tersenyum. Aku pun bahagia. Rizky tahu artinya berbagi.

Di rumah, kembali aku puji dia, “ Nah, begitu dong, anak baik… Lihat, masih banyak yang lebih susah dari kita, Rizky. Mereka sekolah saja sulit, belum tentu bisa tamat. Rizky bisa sekolah di ‘Star’ itu sudah bagus.”

“ Betul, Bu.. Sekarang Rizky tambah sadar…Bahwa omongan Ibu memang benar. Rizky harus bersyukur.”

Tak lama kemudian kami menyalakan televisi. Kali ini ada berita kurang menyenangkan, sebuah pesawat internasional yang membawa dua ratus penumpang dan sepuluh awak pesawat, dinyatakan hilang. Dan pesawat itu bertujuan ke Hongkong. Rizky terkejut luar biasa, karena dia tahu, beberapa temannya sudah bicara padanya akan berangkat seminggu sebelum Natal ke Hongkong Disneyland. Dan karena penerbangan di akhir tahun selalu penuh, mereka sudah memesannya jauh-jauh hari dan Rizky tahu pula mereka naik pesawat apa dan jam berapa. Rizky tercengang. Tak mampu berkata-kata…

“ Rizky, kita doa, yuk… Doakan teman-teman kamu dan keluarganya yang ada di pesawat itu.” Kami pun masuk ke kamar dan berdoa sejenak.

Tak lama, nama-nama penumpang pun terpampang jelas. Rizky benar, setidaknya ada lima keluarga teman Rizky yang masuk di pesawat itu. Kami tertegun. Menghela nafas. Tuhan, berikan mereka pengampunan. Dan berikan keluarga yang ditinggalkan kekuatan untuk melangkah.

Rizky masih tertegun dan wajahnya masih ‘shock’. Masih terkejut. Namun, aku sadar, hari ini dia belajar sesuatu. Bahwa Natal tak selalu identik dengan pesta pora, bahwa Natal tak selalu sama dengan liburan mewah ke luar negeri, bahwa Natal tak selalu harus memberi hadiah mahal yang dianggap murah karena dibeli waktu ‘sale’ di mal ternama. Bukan hanya karena kami tak mampu menikmati semuanya itu. Memang kami belum mampu, tapi apakah esensi Natal hanya sebegitu dangkalnya? Bukankah Natal juga berarti berarti mendoakan mereka yang kurang beruntung. Natal kali ini berarti mendoakan mereka yang mendapat musibah. Natal berarti berbagi kepada mereka yang berkekurangan seperti keluarga Bu Dullah. Natal berarti mampu mensyukuri apa yang ada dan tidak mengeluhkan apa yang nampaknya selalu kurang saja di mata ini. Natal berarti mengingat kembali bahwa Sang Juru Damai datang untuk membawa damai-Nya dan kasih-Nya ke dunia yang penuh luka ini.

Damai dari surga pelan-pelan menyebar ke hati kami. Di rumah kontrakan kami yang sederhana, berdinding kayu dan berpagar hitam yang sudah sedikit berkarat, damai itu kami rasakan. Dan semoga keluarga yang ditinggalkan dari para korban kecelakaan pesawat tadi, walaupun amat sangat pedih, bisa pelan-pelan dipulihkan oleh kasih-Nya. Semoga damai-Nya tetap terasa di mana pun kita berada. Semoga damai-Nya meliputi setiap hati di bumi senantiasa. Hidup sering membawa kita kepada kejutan yang menyenangkan ataupun menyedihkan. Namun, damai-Nya semoga tetap menaungi hati kita, dalam apa pun yang terjadi. Pahit atau manisnya hidup ini, damai Tuhan selalu sertamu.

Selamat Natal, selamat berbagi kasih dan bersyukur untuk apa yang dimiliki, bukan apa yang tak dipunyai…

HCMC, Desember 21, 2009

-fon-

* let’s coming back to the essence of Christmas, God so loved the world, that He gave His only Son…. Peace be with you. Selamat Natal!

Sumber gambar:

http://www.thewayncc.org/images/Peace%20On%20Earth%20Hands.jpg

Tuesday, December 8, 2009

Orchard Road Menyambut Natal


Ada beberapa teman bertanya, koq tulisan saya terakhir berupa puisi berjudul “ Mama bukan Super Mom” tertulis di Singapura. Memang benar, kami sempat kembali ke Singapura beberapa hari lamanya karena izin kerja suami yang belum selesai sedangkan masa satu bulan di Vietnam sudah sampai. Jadi kami harus ke luar dari HCMC menuju Singapura dan kembali ke HCMC. Satu sisi, saya bersyukur juga, karena saya pengin melihat suasana Natal di Orchard Road sebelum saya pindahan di awal November lalu. Tapi, tidak kesampaian, karena Orchard baru berbenah di awal November menyambut pertemuan APEC di pertengahan November 2009 lalu. Untuk itu, Orchard yang sudah biasa berbenah secara mewah, sekarang bertambah lagi, karena ada APEC Summit itu tadi.

Sebelum berangkat di akhir Oktober, saya mulai melihat Tanglin Mall sudah mulai berbenah. Tanglin Mall sudah rapi dihiasi permen dan rumah yang cantik di luarnya. Sementara deretan Orchard Road sudah mulai cantik pula, namun saya belum berkesempatan menikmatinya. Karena saya sibuk dengan pindahan dan tentu saja pikiran yang tengah bercabang seperti itu tidak mampu melihat keindahan sesuatu secara penuh.

Jujur saja, terbayang pun tidak bahwa saya akan tinggal di Singapura. Tapi, mungkin Tuhan tahu kerinduan hati saya yang terdalam ketika saya SMU dulu, saya ingin sekolah di luar negeri. Tetapi, karena banyak kendala, jadi saya memang tidak bisa meneruskan ke luar negeri. Yang utama adalah kesehatan Papa saya yang sudah amat menurun sejak saya SMP. Beliau meninggal ketika saya kuliah tingkat I. Dan perekonomian keluarga cukup morat-marit di kala itu. Mana mungkin saya memikirkan kuliah ke luar negeri kecuali lewat bea siswa? Dan kala itu juga, ketika hendak mencari bea siswa dari depdikbud Jepang (karena saya tengah kursus Bahasa Jepang di kala itu), Papa sepertinya enggan memberi lampu hijau. Akhirnya, saya kuliah di Jakarta (lagi-lagi bukan pilihan saya, karena saya inginnya kalau di Indonesia kuliah di Yogyakarta). Dan itu sesuai dengan kehendak Papa. Papa meninggal ketika saya di Jakarta. Setelah semua kejadian itu saya berpikir, bagus juga karena saya tidak dapat bea siswa ke Jepang bahkan tidak mengajukannya. Karena bila iya, saya hanya bisa pulang setahun sekali atas biaya Monbusho (depdikbud Jepang) dan bila Papa meninggal di tengah-tengahnya, pastinya saya tidak bisa menengok atau harus berhutang/pinjam dulu karena memang masa-masa tersebut adalah masa sulit bagi kami.

Tahun demi tahun berlalu, saya sudah hampir melupakan impian itu. Saya menerima, bahkan saya amat cinta dengan kota Jakarta. Yang bagi sebagian orang dibilang macet, polusi, tidak aman, banjir, dan sebagainya. Oh, saya juga realistis koq, saya adalah bagian dari kota yang realitanya seperti itu. Saya tidak meminta lebih, tapi saya senang di sana. Teman dan keluarga berkumpul, pekerjaan yang cukup baik, dan kegiatan kerohanian sampai kegiatan rekreasi semacam fitnes di pusat kebugaran sampai nonton bioskop dengan mudahnya bisa saya lakoni. Naik ojek, naik busway, naik taksi, tidak jadi masalah. Walaupun kadang deg-degan juga ya, tapi saya suka di Jakarta.

Setelah seolah impian itu tidak lagi mendominasi otak saya, tiba-tiba saja segala perubahan itu terjadi. Saya bertemu dengan suami saya, pacaran, menikah, dan hamil. Ketika hamil 7 bulan, kami pindah. Ke mana? Ke Singapura! Seperti impian yang jadi nyata! Saya amat senang. Saya sudah memimpikan tinggal di negara ini dari sejak saya SD. Di mana kami sekeluarga terbiasa menonton video sinetron atau serial dari Singapura. Di mana saya cukup hafal nama pemain, bahkan mengidolakan salah satu pemain film yang terkenal di Negeri Singa itu. Lie Nan Xing. Saya tahu Orchard Road, bahkan seolah saya sudah berada di sana, sejak dari kelas 4 SD. Mungkin itu yang dinamakan the power of the dream? Mungkin saja. Namun, di sisi lain, saya melihatnya sebagai rencana Tuhan yang tak pernah bisa saya selami. Mengapa bukan saat saya kuliah? Mengapa ketika saya sudah menikah dan hamil pula baru pindah ke sana? Banyak pertanyaan yang tak terjawab. Tapi, saya puas, akhirnya saya bisa ke Singapura.

Satu sisi, ketika hidup di Singapura, saya harus menghadapi banyak adaptasi. Dari bekerja, jadi ibu rumah tangga. Dari wanita karier yang aktif, jadi mengurus anak dan rumah. Adaptasi tinggal di negara baru yang sebelumnya hanya saya kunjungi dua kali. Tidak sesering orang-orang yang ber-weekend ke Singapura. Saya merasakan kerasnya hidup di sana. Dan satu sisi, saya melihat bahwa impian yang jadi nyata pun memiliki konsekuensinya. Tidak semua indah seperti dalam negeri dongeng. Tidak semua adalah happy ending yang ‘live happily ever after’. Tapi, lagi-lagi saya percaya, bahwa apa pun yang Tuhan berikan pada saya, pastinya Tuhan berikan pula kekuatan untuk melewatinya.

Orchard Road di malam hari. Indah. Bersinar terang. Dari Orchard Hotel di sisi yang satu, di kiri jalan. Sisi dari Tanglin Shopping Center menuju Orchard Road. Forum Shopping Mall, Delfi Orchard, Orchard Towers, Isetan on Scotts (Shaw House), Borders (Wheelock Place). Semua pusat perbelanjaan itu memenuhi kiri dan kanan jalan.Primadona baru Orchard Road, ION Orchard. Berseberangan dengan Mariott Hotel (Tang’s). Setelah itu Paragon dan Lucky Plaza. Berseberangan pula dengan Takashimaya (Ngee Ann City) dan Wisma Atria. Robinson (Center point), OG, John Little. Berseberangan dengan 313 @ Sommerset yang baru launching juga. Dan Orchard Central di sisi yang sederet dengan 313 Sommerset. Istana dan Plaza Singapura.

Orchard memang indah. Memang cantik. Kesannya mahal. Hiasan natal di depan ION dan Paragon mengingatkan saya pada seorang wanita cantik yang berani pakai barang branded untuk menghiasi kecantikannya. Berani ke salon dan spa yang mahal untuk memelihara kecantikannya. Tidak selalu perlu. Tapi, dia memang mampu. Terkadang memandang Orchard dari sisi ini, membuat orang sering lupa, seolah Singapura identik dengan belanja, kemewahan, kemegahan, dan kualitas yang tinggi. Walaupun itu benar, namun saya pun mencatat sisi lain di Orchard Road terutama di depan Orchard Towers. Tempat yang jarang alias tak pernah saya kunjungi. Punya bayi membuat kami jarang keluar malam. Namun, ketika kembali ke Singapura beberapa waktu yang lalu, kami berkesempatan untuk melihat kembali Orchard Road dari dekat, karena kami diberikan kenyamanan berupa tinggal di Hotel di Orchard Road. Thank God!

Orchard Towers di malam hari ternyata banyak menawarkan para wanita yang menjual cinta demi lembaran uang. Menjual kemolekan tubuhnya demi hidup di Negeri Singa. Saya juga tak jelas dari mana saja mereka berasal, namun dilihat dari wajahnya kemungkinan berasal dari negeri Cina. Jujur, tinggal di Singapura dengan harga-harga selangit tak pernah mudah. Terutama tempat tinggal, mahal sekali di sana. Dan agak sedih juga melihat Orchard yang indah di sepanjang jalurnya, tak mampu menyembunyikan kisah sedih dan kepiluan di sana. Prostitusi.

Hati saya campur aduk. Kembali ke Singapura dengan suasana berbeda, ternyata membuat suasana hati saya pun berbeda pula. Mungkin bila saya bandingkan, ketika melihat wanita cantik atau pria tampan, kita pikir mereka tak punya masalah. Hanya ceria saja. Hanya indah. Karena mereka mendapatkan kemudahan di sana-sini karena kecantikan atau ketampanannya. Namun, dugaan itu salah. Sering kali kecantikan dan ketampanan itu justru membuat mereka sengsara. Dikejar-kejar orang yang tak disukai. Dilecehkan. Karena cantik, karena tampan itu tadi. Singapura, dengan kecantikannya, membuat banyak orang berpikir tidak ada duka di sana. Padahal saya kira, di wajah Orchard saja sudah bisa menggambarkan ketidakseimbangan di sana. Kemewahan berpadu dengan prostitusi terbuka di ujung jalannya.

Singapura menyimpan banyak cerita duka. Banyak orang tua mengeluhkan bahwa anak mereka tak peduli lagi dengan mereka. Bahkan ketika kami keluar dengan mertua dalam satu taksi, seorang ‘auntie’ petugas bersih-bersih di rumah kami mengatakan jarang terjadi di Singapura anak dan menantu mau keluar rumah bersama orang tuanya atau mertuanya. Kebanyakan mereka jadi individualistis. Orang tua tinggal menunggu waktu dan mengisi hari tuanya di panti jompo, atau sendirian di rumah, atau diabaikan begitu saja. Mereka mencari teman di Community Club dan menyibukkan diri di sana. Walaupun masih ada juga yang membantu mengurus cucu sementara anak dan menantu sibuk mencari uang demi tercukupinya kebutuhan hidup yang tidak murah di sana. Tetapi yang individualistis cukup banyak.

Mungkin pengalaman saya yang hanya tinggal 3 tahun di Singapura tak mampu menggambarkan semuanya. Namun, di balik segala kemegahan dan keindahan, tersembunyi duka dan luka. Di balik segala sesuatu yang tampaknya bobrok seperti di Indonesia dan Vietnam (negara yang saya tempati sekarang), tersembunyi kebaikan, ketulusan, dan kebahagiaan yang menyapa secara perlahan. Selalu ada plus minusnya.

Orchard Road masih berkilau. Lampu-lampu di sepanjang jalannya masih amat memukau. ‘Snow man’ tergantung di tiang-tiang lampu jalanan. Pohon natal megah di dalam dan di luar ‘mall’ sepanjang jalan. Show untuk anak-anak dari Barbie, Barney, Care bears masih memenuhi setiap mall di Orchard dan daerah lainnya. Saya syukuri keindahan itu yang terpampang jelas di mata saya. Namun, saya masih mencari keindahan-keindahan lain dalam bentuk tersembunyi. Dalam kesunyian. Dalam kedamaian. Karena Natal bagi saya, bukan cuma soal ‘jor-joran’ memberikan hadiah. Bukan melulu ‘jor-joran’ shopping atau sale. Namun, Natal juga berarti membagi kasih. Mengingat kembali lahirnya Sang Juru Selamat ke dunia yang kekurangan kasih ini. Di mana kesempurnaan kasih ada pada-Nya dan ingin dibagikan-Nya pada dunia. Natal berarti memperbaharui kasih di dalam diri saya dan Anda. Untuk menjadi lebih baik lagi. Dan bersiap diri untuk membagikannya ke dunia yang penuh kesakitan dan kesepian ini.

Orchard Road masih ‘sparkling’. Masih bercahaya. Saya berterima kasih untuk pengalaman hidup di sini dan kesempatan untuk kembali lagi ke tempat ini. Semua hanya karena kebaikan-Nya. Ketika kita percaya kepada-Nya, Dia akan hadirkan impian yang terdalam yang ada di hati kita, bahkan melebihi apa yang kita impikan. Berserah dan percaya. Dan mempersiapkan diri juga, bila ternyata impian yang sudah dicapai itu tak seindah yang kita bayangkan. Namun, Tuhan pasti beri kekuatan.

Selamat malam, Orchard Road! Saya mematikan lampu di kamar hotel, masih di ‘Orchard Road’ juga. Dan bersiap untuk pulang ke Saigon, keesokan harinya….

Good bye Orchard Road, sampai jumpa di lain waktu…

HCMC, 9 December 2009

-fon-

* catatan perjalanan singkat ke Singapura beberapa waktu yang lalu.


Sumber gambar:
http://singaporefountainpen.blogspot.com/2009/11/singapore-360-day-22-ion-orchard.html