Showing posts with label farmville. Show all posts
Showing posts with label farmville. Show all posts

Tuesday, December 8, 2009

Reward (Penghargaan)



*** Belajar dari Farmville bagian kelima (terakhir).

Akhirnya, secara resmi, Facebook (FB) di-banned. Beberapa minggu lalu, guru Bahasa Vietnam saya masih bilang melalui internet provider yang lain, masih bisa akses ke FB. Sekarang dia pun mengalami nasib yang sama dengan saya. Hanya masalah waktu. Jadi, anggaplah ini edisi perpisahan dengan Farmville (FV), karena saya tidak tahu, kapan lagi saya akan mendapatkan kesempatan untuk main FV. Sampai hari ini, saya sudah agak terbiasa tanpa FV, tanpa FB masih agak sulit karena berhubungan dengan ‘update’ tulisan dan komentar terhadap tulisan teman-teman tertutama di Yuk Nulis, tapi saya sudah mulai menerima bahwa inilah kenyataan yang tak bisa terelakkan. Ciaile, bahasanya berat bow…Ck ck ck…:) Apa boleh buat, life goes on, tokh?

Pada saat saya menuliskan artikel berjudul “Layu”, sebetulnya saya sudah menyiapkan judul di atas sebagai bagian keempatnya. Namun, akhirnya ‘layu’ yang lebih mendominasi ‘mood’ menulis saya di kala itu, dan dia yang selesai terlebih dahulu…

Di FV, saya menikmati reward atau penghargaan. Sebagai berikut:

Local Celebrity Achievement

This award is based upon how many neighbors or friends you've added. The ribbons are yellow, white, red and blue. Accordingly, you'll receive a boost of 10, 20, 50, 100 XP or experience points as well as a bonus of 1,000, 2,500, 5,000 and 10,000 bonus coins.

Good Samaritan Achievement

You're awarded for how many neighbors farm you visit and help out. For the yellow ribbon you'll get 25 XP points and 1,000 bonus coins. White will earn you 50 XP and 2,500 coins to spend in the market. The red ribbon means a 100 XP and 5,000 coins towards spending. Blue ribbon gives you a boost of 500 XP and 10,000 whopping bonus in coins!

High Roller

Just for earning coins you'll be rewarded. How fantastic is that? Earn enough coins for the yellow ribbon get a boost of 50 XP, 500 coins and gifted a hay bale. White is an extra 100 XP, 2,500 coins coins and a butter churn for your farm. Red Ribbon translates to 250 XP, 5,000 coins in the bank and a wheelbarrow to help you harvest. The grand blue ribbon earns you 1,000 XP, 10,000 coins and a fabulous little hay wagon. Start making those coins, farmer!!

A Pretty Penny

This award is pretty generous, for all the coins you're spending on crops and various items on your farm you'll be rewarded a little something. No coins are given here but you will receive 50 XP, 100 XP, 250 XP and 1,000 XP accordingly for the yellow, white, red and blue ribbons. Wait, check your gift box because you'll be rewarded for a rest tent, fruit stand, grain stilo and a wind mill according to each time you earn that new ribbon. So don't bother wasting your precious coins and wait out the gifts. (sumber:
http://www.associatedcontent.com/article/2355136/ribbon_achievement_rewards_on_farmville.html).

Belum lagi penghargaan berupa Green Thumb, Tree Hugger, Not Spoiled-Gifted, dan masih banyak penghargaan lainnya yang saya juga tidak jelas bagaimana cara mendapatkannya. Yang pasti pundi-pundi koin saya bertambah dan nilai untuk mendekati level tertentu semakin meningkat. Jadi ya, terima saja.

Saya lalu berpikir, pada dasarnya memang manusia senang dihargai. Setelah mencapai banyak kebutuhan, kebutuhan akan penghargaan menempati kebutuhan keempat di bawah kebutuhan aktualisasi diri dalam piramida kebutuhan berdasarkan Abraham Maslow yang terkenal itu.

Lima (5) kebutuhan dasar Maslow - disusun berdasarkan kebutuhan yang paling penting hingga yang tidak terlalu krusial :

1. Kebutuhan Fisiologis
Contohnya adalah : Sandang / pakaian, pangan / makanan, papan / rumah, dan kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil, bernafas, dan lain sebagainya.

2. Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan
Contoh seperti : Bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror, dan lain sebagainya.

3. Kebutuhan Sosial
Misalnya adalah : memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, dan lain-lain.

4. Kebutuhan Penghargaan
Contoh : pujian, piagam, tanda jasa, hadiah, dan banyak lagi lainnya.

5. Kebutuhan Aktualisasi Diri
Adalah kebutuhan dan keinginan untuk bertindak sesuka hati sesuai dengan bakat dan minatnya.

Secara jujur, mari kita tanya pada diri kita sendiri. Siapa yang tidak suka dipuji? Siapa yang tidak suka dihargai? Siapa yang tidak suka menerima ‘reward’? Semua orang suka, semua orang senang. Walaupun pada dasarnya, ketika terus-terusan menerima penghargaan semacam ini, terkadang membuat orang menjadi lupa daratan dan sombong. (Tidak semua sih, tetapi beberapa bisa menjadi lupa diri). Atau menambah narsisme yang bersangkutan. Atau menganggap diri lebih baik dari orang lain dan cenderung merendahkan orang lain. (Apa yang saya sebutkan adalah efek negatif dari pujian atau penghargaan yang berlebihan yang mungkin terjadi). Namun, saya tidak pernah menampik kebaikan dari pujian dan penghargaan itu sendiri bila diungkapkan secara tulus.

Seorang anak yang hidup dalam penghargaan akan menjadi pribadi yang lebih tangguh ketimbang dia yang selalu dikritik, disalahkan, dihina, dan menjadi korban sinisme dari orang tua. Si anak bisa menjadi anak yang luka batin, menderita kepahitan berkepanjangan, hanya gara-gara ‘hinaan’ yang tampaknya sepele namun dilakukan setiap hari. Walaupun si anak juga perlu diberitahu tentang kesalahannya, diajari cara yang benar, namun tidak perlu rasanya terus menerus memojokkan dirinya.

Bagi yang pernah hidup di dalam kungkungan kekerasan verbal, tentunya maklum dan mengerti apa yang saya maksudkan. Kekerasan bukan hanya dalam bentuk fisik, namun dalam bentuk verbal juga. Seperti kata-kata kasar seorang suami kepada seorang istri yang diterima Sang Istri selama dua puluh tahun pernikahan mereka. Bahwa Sang Istri ‘bodoh’, ‘tolol’, ‘tak becus mengurus anak dan keuangan rumah tangga’, ‘rasa masakannya bak air di bak mandi atau lebih kasar lagi bak air comberan’ dan kata-kata bernada hinaan lainnya. Siapa yang bisa tahan hidup dalam kondisi seperti ini selama puluhan tahun? Cinta? Rasanya sudah meluap pergi. Tanpa sisa. Bertahan demi anak atau demi status daripada jadi janda, mungkin itu yang akhirnya jadi pilihan untuk tetap bertahan dan tidak bercerai.

Begitu pun dengan Sang Suami yang diduakan. Karena Sang Istri sering selingkuh dengan mantan pacarnya sendiri. Sang Suami dibandingkan dalam hubungan suami istri dan dianggap tidak becus dalam memenuhi nafkah batin Sang Istri. Belum lagi, ketidakmampuan suami memenuhi kebutuhan finansial keluarga dan membuat Sang Istri harus bekerja dan menjadi banyak tingkah sekaligus lupa diri bahwa mereka harusnya sama-sama bahu-membahu dalam satu biduk rumah tangga. Bukan sebaliknya, saling caci-maki dan saling hina.

Itu adalah contoh-contoh kekerasan dalam bentuk verbal yang mungkin terjadi di tengah kompleksnya hubungan berkeluarga. Saya tidak bisa mengatakan bahwa rumah tangga yang saya jalani adalah sempurna. Karena saya sadar, kami jauh dari itu. Kami hanya saling belajar untuk menjadi pribadi-pribadi yang mampu bertahan dalam apa pun yang terjadi nantinya dengan berpegang pada yang kuasa. Belum lagi dalam mendidik anak di zaman seperti sekarang ini, memikirkannya pun terkadang sudah ‘keder’ sendiri. Sudah kuatir saja bawaannya. Namun, lagi-lagi, tak ada yang lebih baik selain mempercayakan segalanya kepada yang di atas, kepada Tuhan sendiri.

Tuhan sendiri sering menyebut anak-anaknya sebagai kesayangan-Nya. Dalam Bahasa Inggris diistilahkan sebagai ‘ the apple of His Eyes’. Kesayangan-Nya bagi saya sudah merupakan penghargaan tersendiri. Belum lagi, Dia pun menuliskan nama kita di telapak tangan-Nya, itu berarti Dia memang menginginkan kehadiran kita di dunia ini. Segala sesuatu bukan kebetulan. Walaupun Anda adalah anak yang akan diaborsi namun hidup sampai sekarang, Tuhan menginginkan dan mengizinkan kehadiran Anda di dunia ini.

Penghargaan demi penghargaan dari Tuhan membuat diri saya menemukan kedamaian. Karena saya diterima. Dunia boleh menolak saya. Orang tua boleh menolak anaknya. Teman boleh menolak teman lainnya. Pacar boleh menolak kekasihnya karena tidak lagi merasa cocok. Namun, tidak demikian halnya dengan diri-Nya. Dia selalu menerima kita. Lagi dan lagi. Walaupun kita salah, kita berdosa, kita merasa amat tak pantas di hadapan-Nya. Dia tetap menghargai kita. Menerima kita apa adanya.

Dan akhirnya, penghargaan tertinggi saya kembalikan kepada Sang Pencipta. Yang sungguh layak menerima segala hormat, pujian dan syukur. Dari hati saya yang terdalam. Tanpa dia, saya dan Anda, bukan siapa-siapa. Segala kebaikan yang kita terima berasal dari-Nya.

HCMC, December 08, 2009

-fon-

* farewell to FV. Terima kasih FV buat inspirasi 5 tulisan saya. Thank God untuk segala penghargaan dan penerimaan yang bisa kita nikmati sampai hari ini :)

sumber gambar:

http://media.photobucket.com/image/farmville%20rewards/simplethink03/flowersribbon_farmville.jpg

Wednesday, November 25, 2009

Layu



*** Lagi-lagi belajar dari ‘Farmville’ edisi ke-4

Setelah beberapa waktu yang lalu mengira bahwa dengan di-bannednya FB di Vietnam berarti pula akhir cerita cinta saya dengan ‘FarmVille’ (FV), ternyata saya masih diberi kesempatan untuk melanjutkan karya-karya mulia di ladang milik saya sendiri :). Mulia, karena dari sana saya setidaknya berhasil menelurkan empat tulisan. Dan mungkin masih akan ada susulannya. Akhirnya, FB kembali normal dengan internet provider ‘Viettel’ tercinta. Saya tidak tahu berapa lama, karena kadang normal kadang tidak, tetapi saya cukup mensyukuri, setidaknya masih ada tambahan waktu bagi saya bermain FV.

Sewaktu saya tidak bisa mengakses FB sekitar 10 harian, saya agak gelisah dengan tanaman mawar saya yang seyogyanya dipanen dua hari sesudah ditanam. Sudah terbayang keindahan mawar di ladang saya, tetapi tiba-tiba hal yang tidak diharapkan muncul. FB tidak bisa diakses. Apa boleh buat, saya harus menghadapi kenyataan bahwa apa yang sudah saya tanam harus layu. Tanpa tahu kapan saya bisa menanam lagi, kapan saya bisa mengangkut seluruh mawar yang layu dan mulai memilih tanaman baru lainnya. Menyedihkan sekaligus mengecewakan. Namun, apa boleh buat, itu kenyataan yang harus saya terima.

Dari sisi kehidupan, saya mencatat pula bahwa ada kalanya apa yang sudah kita tanam dengan susah payah tidak menghasilkan seperti yang kita inginkan. Ada kalanya sudah bersusah payah menanam cinta dalam suatu relasi sebagai sepasang kekasih, hasilnya tidak berbuah manis. Malahan, setelah beberapa tahun, cinta itu layu dan kering. Sehingga pasangan itu memutuskan untuk berpisah. Apa boleh buat, itu bagian dari kehidupan yang harus dijalani. Yang tidak selalu manis, yang menyisakan masa-masa di mana kelayuan menyapa dengan frekuensi cukup sering. Belum lagi kita sudah bersusah payah di bisnis yang baru dirintis, di pekerjaan yang baru, di sekolah baru, di universitas baru, di negara baru, di mana-mana di tempat baru, tetapi hasilnya juga tidak kelihatan. Bahkan sepertinya mengecewakan. Tidak sesuai harapan. Seperti ketika saya berharap mawar mekar, ternyata mawar di FV saya layu dan kering kerontang.

Begitulah hidup. Terkadang apa yang sudah susah payah kita perjuangkan, tidak selalu berbuah manis. Bisa layu, bisa busuk, bisa tidak merekah. Bisa gagal. Dan apa yang harus dilakukan?

Sabar menunggu. Tetap berusaha. Berdoa.

Ketika mawar saya layu, saya hanya menunggu waktunya FB kembali aktif. Atau ketika suatu saat saya keluar dari Vietnam entah untuk liburan ke Indonesia atau ke tempat lainnya. Pasti ada satu masa di suatu ketika, ketika saya kembali mampu mengakses FB.

Ketika hidup tak seperti yang kita inginkan. Ketika banyak kali hidup tidak memberikan hasil seperti yang kita harapkan, tak ada cara lain kecuali menunggu saat-Nya tiba. Saat-Nya untuk menjadikan segala sesuatu indah, lagi-lagi bukan menurut saya, tetapi menurut kehendak-Nya. Mungkin saat-saat itu bisa dipakai sebagai saat-saat yang reflektif. Di mana saya bisa merefleksikan, apa yang sudah saya lakukan dan apa yang sepertinya salah sepanjang perjalanan hidup saya. Bukan untuk menghakimi diri saya sendiri dengan segala kelalaian dan kebodohan saya karena saya gagal, melainkan untuk kembali memetik pelajaran di tengah kegagalan tersebut. Saya tetap yakin, dalam setiap kondisi kehidupan yang ‘layu’ asal tidak dihadapi dengan hati yang ‘layu’, tetap akan ada sesuatu yang dipelajari. Bahkan sering kali, kegagalan atau ‘kelayuan’ macam ini justru membuat orang semakin dewasa. Semakin bijaksana. Semakin tegar. Karena tahu hidup tak selalu mudah, namun pasti ada jalan bagi mereka yang percaya.

Hidupmu tengah layu saat ini? Hidupmu tengah lesu akhir-akhir ini? Bersihkan kelayuan itu dengan cinta-Nya. Basuh kembali hidupmu dengan kasih-Nya. Dan akan kaurasakan semangat hidup yang membara. Sehingga, meminjam istilah film animasi ‘Up’, engkau akan merasakan ‘the spirit of adventure’ kembali. Semangat untuk kembali berpetualang dalam hidup dan kehidupan itu sendiri.

Layu itu sementara. Tidak akan selamanya. Begitupun kebahagiaan yang membuncah, yang membuatmu melayang tinggi di awan dan terbang di antara bintang-bintang. Itu semua sementara. Yang pasti, ketika layu, janganlah berhenti berharap. Suatu saat keadaan akan berubah. ‘Wither’ atau layu hanya terjadi pada satu titik waktu. Bukan berarti setiap sisi, setiap detik hidupmu layu. Tetapi, ketika kaucari, kau akan menemukan bahwa di sisi lain di saat yang sama, kau masih bisa melihat titik-titik keceriaan yang mungkin amat kecil. Tak kasat mata. Namun sebetulnya ada.

Selamat mencari titik-titik kebahagiaan dalam hidup Anda. Kabar baiknya, bagi mereka yang mencari, biasanya mereka akan menemukan. Kelayuan bukanlah akhir segalanya, kelayuan hanya sementara. Have a great adventure with a new spirit in this life!

HCMC, 26 November 2009

-fon-

* inspirasi dari layunya mawar di ‘FarmVille’ plus sedikit dari nonton DVD ‘Up’.

* tulisan ini juga ada di FB notes saya dan blog http://www.fjodikin.blogspot.com/, serta http://yuknulis.com/

sumber gambar:

http://gallery.photo.net/photo/5844948-md.jpg

Saturday, November 14, 2009

There’s No Free Lunch



*** Belajar dari ‘FarmVille’, bagian ketiga

Di permainan ‘FarmVille’, saya belajar banyak hal. Salah satunya yaitu : untuk sukses, harus kerja keras. Untuk memperoleh penghasilan berupa koin dan kenaikan level, saya harus bekerja. Menanami ladang, memanen pohon, memerah susu, mengumpulkan ‘wool’ domba, rambut kuda, juga bulu kelinci. Belum lagi ternak lain semisal babi, ayam, dan bebek juga harus diurusi. Pohon pun macam-macam : ‘olive tree, fig tree, maple tree, lemon tree, orange tree, plum tree, cherry tree, date tree’ dan masih ada beberapa jenis pohon lainnya. Menanam ladang pun dengan macam-macam tanaman tergantung tingkatan saya di permainan itu. Kadang menanam anggur, tomat, ‘raspberry’, ‘blueberry’. Kadang menanam beras, kapas, dan kedelai. Kadang menanaminya pula dengan bunga tulip ataupun bunga mawar. Dari menanam, menunggu, dan memanen, saya mengerti bahwa hasil akan saya dapatkan nantinya. Dalam istilah yang sering kita dengar dan sering kali dipakai: ‘There’s no free lunch ‘

Ketika saya cari di internet, ternyata istilah ini berasal dari istilah Milton Friedman dengan penjelasan sebagai berikut:

Nobel-prize winning Chicago-school economist Milton Friedman is famous for saying, "There is no such thing as a free lunch." Sci-fi novelist Robert Heilein also used the phrase in his book "The Moon is a Harsh Mistress."

The term means that nothing is free, and if something seems free, it's just that you're getting charged through a back-door means; e.g., a bar might offer you a free lunch but you pay for it in the price of drinks.

More likely is that it may be free to for some people, but someone else is picking up the tab.

(http://wiki.answers.com/Q/Who_said_'there_is_no_free_lunch')

Menurut Wiki Answers, istilah tersebut berarti: tidak ada yang gratis. Dan bila sesuatu kelihatannya gratis, hanyalah kamu dikenakan pembayaran di belakang nanti. Setidaknya harus membayar sesuatu. Misalnya di satu bar yang menawarkan makan siang gratis, tetapi kita membayar makan siang yang gratis itu dalam harga minumannya.

Kalau istilah itu diterapkan dalam kehidupan ini, cocok juga ternyata. Dan rasanya cukup tepat. Kalau mau sukses, silakan bekerja keras. Dan nantikan upahnya dari kehidupan, dari Sang Maha Kuasa, yang pasti juga akan satu saat memberikan yang terbaik bagi mereka yang sudah bekerja keras. Belum lagi kerja keras banting tulang itu dibarengi dengan meninggalkan keluarga (harus terpisahnya suami dan istri karena suami bekerja di lain kota, sementara istri harus membesarkan anak di kota lainnya), dimaki-maki atasan setiap hari, dijelek-jelekkan rekan sekerja, menjadi korban fitnah, ditipu rekan bisnis, dan sebagainya. Cari uang memang bukan perkara mudah. Ada pula orang-orang yang tengah berusaha, masih terus berusaha, tetapi belum juga berhasil. Ada yang patah semangat lalu berhenti dan tidak mau usaha lagi. Ada yang sebaliknya, malah semakin giat berusaha seolah tak lagi peduli apa pun hasilnya nanti yang penting tidak menyerah. Ada yang tetap berusaha sambil berharap, walaupun kesannya cenderung pasrah, namun orang-orang semacam ini menjadi orang yang lebih mempercayakan hidupnya kepada penyelenggaraan Tuhan sendiri. Karena mereka merasa bagian mereka hanyalah bekerja keras dan tidak menjadi pribadi yang malas plus dibarengi doa, sementara masalah hasil, mereka serahkan kepada yang di atas.

Intinya, memang tidak ada yang gratis di dunia ini. Lalu, mungkin sebagian dari kita pernah melihat bahwa ada saja orang-orang yang tampaknya beruntung. Yang tidak perlu kerja keras, tetapi ongkang-ongkang kaki jadi bos suatu perusahaan. Hanya karena dia anak Si Pemilik perusahaan. Hanya karena dia saudara dekat Si Pemilik, hanya karena dia menantu dari adik pemilik. Dan seterusnya. Karena relasi, karena nepotisme yang walaupun tidak layak menempati posisi tertentu di satu perusahaan, namun jabatan itu berhasil disandang. Dengan tidak mengurangi hormat saya pada mereka yang memang layak duduk di satu posisi tertentu walaupun mereka adalah juga anak pemiliki perusahaan ataupun berhubungan keluarga dekat dengan pemilik, namun tidak jarang saya pun menyaksikan banyak yang tidak pantas duduk di satu posisi tertentu. Cenderung hanya karena relasi saja. Tentu saja kita tidak perlu iri dengan hal-hal semacam ini. Protes? Iya, mungkin saja kita protes keras. Tetapi untuk sampai level iri, perlukah? Kalau kita telaah lebih lanjut, hubungan kekeluargaan bisa berakhir (dalam arti Si A yang menikahi putri pemilik perusahaan dan mendapatkan jabatan Direktur perusahaan tersebut, akan sangat mungkin kehilangan pekerjaan dan mata pencahariannya yang bergengsi itu tatkala dia bercerai dengan istrinya). Belum lagi, hidup manusia yang terbatas, suatu saat juga akan berhadapan dengan kematian. Si Pemilik suatu saat akan meninggal dan tergantikan dengan anak-cucunya yang kalau mampu mengelola perusahaan dengan baik akan dapat bertahan, tetapi kalau tidak, tentunya akan habis juga. Entah dijual, entah dijaminkan ke bank tanpa mampu membayar pinjaman tersebut, entah bangkrut. Entah…

Walaupun mungkin saja keberhasilan terus mengayomi suatu bisnis tertentu yang dijalankan turun-temurun, suatu saat itu semua akan berganti. Roda hidup naik-turun. Tidak selamanya orang itu berada di atas, tidak selalu pula dia berada di bawah. Jadi, kesiapan diri untuk menghadapi berbagai perubahan itu yang lebih diperlukan.

Akan sama halnya dengan mereka yang mendadak sukses dan kaya-raya karena mendapatkan lotere ataupun undian. Di Singapura, melihat antrian orang yang membeli nomor di ‘Singapore Pool’ sudah jadi makanan sehari-hari. Tidak hanya di mal, namun di pasar-pasar tradisional atau yang biasa dikenal dengan ‘wet market’ di bilangan ‘Housing Development Board’ pun banyak ditemui penjualan nomor resmi pemerintah. Di Indonesia pun, berapa banyak penggerebekan polisi terhadap perjudian gelap. Belum lagi perjalanan ke Genting Highlands di Malaysia yang dipenuhi ‘casino’ yang memang surga bagi para penggemar perjudian, semakin membuka mata saya. Banyak orang punya mimpi : hidup enak tanpa kerja keras. Siapa pun rasanya tidak akan menolak jika bernasib baik seperti itu. Tetapi, sekaligus saya disadarkan bahwa memiliki hasil undian tanpa kemampuan mengelolanya dengan baik, lama-lama pasti habis juga. Uang seberapa banyak pun kalau dipakai dengan boros dan dihambur-hamburkan dengan sesuka hati, pasti cepat pula habisnya.

Istilah ‘there’s no free lunch’ mengingatkan saya kembali: untuk bekerja keras dalam hidup ini. Karena tidak ada yang gratis. Semua perlu usaha dan tetesan keringat dalam mencapainya. Dan ketika sukses mengetuk pintu bagi mereka yang sudah bekerja keras dan mungkin menahan tangis menunggu kesuksesan itu datang, tentunya mereka bisa berbangga sekaligus berbahagia. Karena mereka memang pantas mendapatkannya. Karena memang mereka sudah memperjuangkan sekian lama. Karena mereka sudah berdoa siang dan malam. Karena mereka sudah pernah menangis putus asa. Namun, mereka berbalik kembali percaya dalam iman kepada-Nya. Kembali bekerja lebih keras dan menemukan ide-ide yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.

Kalau di ‘FarmVille’ banyak orang rajin main permainan ini. Banya orang terbius dengan permainan ini, namun bagaimana jika membawanya kepada tingkat kerajinan yang sama dalam hidup. Dalam mengejar impian, dalam mengejar ‘passion’ dari relung hati yang tak pernah mati, dalam pekerjaan yang menjadi tanggung jawab sehari-hari. Tetap berusaha dengan giat bekerja walaupun hasil belum terlihat nyata. Dan suatu saat sukses akan tersenyum dan datang ke pintu Anda. Dan dengan bangga Anda berkata, “ Terima kasih, Tuhan! Ini anugerah-Mu lewat pertahanan imanku dan kerja kerasku. “

HCMC, 14 November 2009

-fon-

* yang tidak begitu ketagihan FarmVille lagi. Sedikit bosan, tapi tetap main juga sebagai selingan : )


sumber gambar: