Showing posts with label syukur. Show all posts
Showing posts with label syukur. Show all posts

Tuesday, July 16, 2019

Take Things For Granted



Sulit mencari padanan kata dalam Bahasa Indonesia bagi istilah ‘Take Things for Granted’ ini. Namun setidaknya, saya mendapatinya di website English First (EF Indonesia), terjemahan yang lumayan oke menurutku:

Take for granted' memiliki makna tidak menganggap atau tidak menghargai nilai dari suatu hal karena sudah sangat biasa terjadi. Berbeda sekali arti sesungguhnya dengan arti yang diterjemahkan kata perkata. Contoh: She takes for granted all the work her mother does to pay her school fees.

Beberapa waktu yang lalu, saya ke Misa Siang.
Pastor Jason Richard, OFM dari Paroki Saint Mary of The Angels di belahan Barat Singapura mengungkapkan bahwa dini harinya hujan deras. Jadi, sempat mati lampu di Gereja. Microphone dan sound system sempat bermasalah. Jadi, Misa Pagi dia pimpin tanpa alat-alat ini. Dia merasa agak capek karena harus berteriak-teriak selama homili. Dan beliau pikir, memang ini adalah hal-hal yang sering kita kurang hargai karena selalu ada. Sekali gak ada, kita baru kelabakan, seperti kebakaran jenggot…

Lalu, saya berpikir…
Banyak kali kita kurang menghargai sesuatu…
Sampai sesuatu itu kemudian ditarik atau hilang dari peredaran hidup kita…
Lalu kita pun menyesalinya…

Pagi ini saya menerima kabar seorang teman yang kesehatannya makin menurun di usia yang 40-an.
Kesehatan, adalah salah satu hal yang sering kita lupakan.
Kurang kita hargai…
Sampai ketika sakit bertamu, barulah banyak orang sadar (lagi).
Betapa kesehatan itu berharga…
Bahkan sangat berharga!

Ada hal-hal tertentu yang kurang kita hargai…
Mungkin istri/suami/anak di rumah…
Mungkin itu orangtua kita…
Mungkin itu sahabat atau teman kita…
Mungkin pekerjaan kita…
Mungkin itu keadaan finansial kita saat ini…
Daftar ini bisa bertambah, sesuai dengan pribadi masing-masing…

Saya pernah di-PHK dan merasakan sulitnya keuangan tanpa penghasilan dulu semasa bekerja…
Juga ketika Papa saya sakit dari saya SMP dan harus berpulang untuk selamanya saat saya masih kuliah tingkat 1…
Saya belajar untuk mencukupi kebutuhan saya sendiri dengan bekerja paruh waktu…
Terbayang bahwa dulu saya pernah diberi Tuhan kesempatan menjadi Guru TK pada sebuah kursus Bahasa Inggris di bilangan Jakarta Barat…
Juga pernah bertemu dengan Wakil Kepala Sekolah sebuah SD di Jakarta Barat yang mencari Guru Bahasa Inggris, kemudian menawarkan saya sebuah lowongan menjadi Guru Bahasa Inggris di SD-nya dari kelas 1 sampai 6.
Saya juga pernah bekerja paruh waktu di perusahaan Tour dan Travel  milik pacar seorang teman.
Belajar jadi Tour Guide, Ticketing, dan juga di bagian Akuntansi sesuai latar belakang Pendidikan saya.
Juga pernah aktif di salah satu MLM – Multi Level Marketing di zaman itu, tetapi kemudian saya sadari: MLM tidak terlalu cocok dengan jiwa saya.
Saya tidak anti, tapi saya juga tidak lagi mau aktif seperti dulu…
Saya menyadari keadaan saya berbeda dengan orang lain…
Dan ketika melakukan kilas balik, saya bersyukur: itu semua memperkaya saya dalam sekolah kehidupan ini…
Ah, pagi ini  membawa saya jauh ke belakang…
Menelusuri kembali lembaran memori yang pernah terjadi…

Banyak hal yang kita kurang hargai, yang sebetulnya adalah doa dari sebagian orang lain yang belum memilikinya…
Sementara kita yang sudah mendapatkannya???
Malahan menjadi cepat bosan dan ingin hal lainnya…

Mungkin kita harus lebih banyak belajar bersyukur.
Mungkin bersyukur itu harus kita jadikan kebiasaan hidup kita.
Semoga kita bisa lebih bijaksana untuk mengharga setiap hal di hidup kita.
Sebagai karunia-Nya yang patut kita syukuri.
Sebelum terlalu terlambat, saat itu semua ditarik dari kita satu saat nanti.
Semoga.

Singapura 17 Juli 2019
Fonny Jodikin

Wednesday, May 30, 2018

Kalah-Menang Itu Versi Siapa?



Suatu hari, saat kau merasa kalah…
Seolah perjuangan yang sudah dilakukan selama ini sia-sia…
Apalagi lalu engkau dibilang salah…
Tetaplah tabah…
Dan jangan menyerah…

Kalah-menang itu menurut siapa?
Jika membandingkan kelemahanmu dengan kelebihan orang lain…
Tentunya kau pasti kalah…
Tetapi, bukankah setiap orang punya kelebihan masing-masing?
Bagaimana jika keunggulanmu yang kaulihat, bukan melulu kekeliruanmu?

Kau merasa kalah, saat kau tak punya jabatan setinggi teman sekolahmu…
Kau merasa minder, ketika kau tak punya mobil sehebat mobil sobatmu…
Saat orang lain jalan-jalan ke mancanegara dan kau hanya tinggal di kotamu saja, lalu kemudian apakah kau rasakan sungguh perjuanganmu tak artinya???
Apakah itu pertandingan kehidupan sesungguhnya?
Bagaimana dengan mereka yang tak punya organ tubuh lengkap?
Namun punya semangat baja?
Bukankah terkadang kita merasa tertampar dengan kehebatan mereka mengatasi permasalahan kehidupan, di tengah segala keterbatasan?
Bagaimana mereka yang tengah sakit keras dan tengah berjuang untuk sembuh seperti sedia kala?
Bagaimana dengan mereka yang tak punya cukup uang untuk membeli susu, menyekolahkan anak?
Bagaimana dengan mereka yang tak bisa makan tiga kali sehari?
Dan daftar ini tak berhenti sampai di sini tentu saja…
Dia bisa bertambah panjang lagi dan lagi…

Kalah-menang itu menurut siapa?
Sejatinya pertandingan yang sungguh penting di dalam hidup adalah: melihat perkembangan diri hari lepas hari…
Belajar juga melihat ke bawah…
Biar tak selalu mendongak ke atas…
Sekali lagi bukan untuk terlihat lemah atau tak mau berusaha…
Tetapi untuk kembali belajar bersyukur…
Atas segala kebaikan dan karunia yang kita punya…
Pertandingan ini belum usai…
Selama masih ada sebuah hari baru yang ditambahkan dalam hidup kita…
Belajar ikhlas menerima hal-hal yang tak mampu kita ubah…
Belajar untuk bergerak maju, melengkapi diri dengan hal-hal yang baik bagi kita…

Jangan menyerah!
Meskipun pernah merasa ‘kalah’.
Akuilah perasaan itu pernah singgah…
Lalu jangan berhenti apalagi hanya pasrah…
Bangkit lagi untuk hari depan yang lebih cerah…
Dan kembali, tanyalah kepada diri
kalah-menang itu versi siapa???

Singapura, 30 Mei 2018
Fonny Jodikin





Monday, June 27, 2016

Sepuluh Tahun di Rantau...


5 Desember 2015

@ Tanglin Mall, tak jauh dari pusat perbelanjaan Orchard Road-Singapura.

Salju berjatuhan.
Yes, it's Christmas time... !
Tapi ini di Singapura yang cuma punya dua musim saja.
Bisakah? Tentu bisa...
Karena saljunya buatan dari 'bubbles' alias gelembung-gelembung busa.
Anak-anak kami bermain di sekitar kawasan yang dihiasi ornamen Natal dan menikmati 'salju' buatan itu berbaur dengan banyak anak dengan warna rambut yang macam-macam.
Pirang, hitam, coklat, dan sedikit kemerahan...
Betapa kemajemukan sudah menjadi bagian hidup kami dan itu sungguh kami syukuri!



Melihat kegembiraan mereka, tentunya saya sebagai ibunya diliputi perasaan haru dan bahagia...
Tahun demi tahun di rantau, tak terasa kami telah menginjak sembilan tahun lebih berada di luar Ibu Pertiwi...
Meskipun hanya negeri tetangga, namun memang berbeda secara sistem dan banyak hal lainnya...
Tak pernah juga saya bayangkan berada di negeri Singa ini...
Mungkin benar apa yang  tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan-Nya untuk mereka yang mengasihi Dia!"

10-15 Juni 2016, Ho Chi Minh City, Vietnam



Kami sekeluarga berniat kembali berlibur ke Ho Chi Minh City, tempat di mana kami pernah bermukim selama kurang lebih 2.5 tahun sekitar tahun 2009-2012.
Tempat yang sempat sangat dekat di hati...
Saat jalan-jalan di kota ini sudah menjadi bagian hidup sehari-hari...
Nguyen Hue, Le Loi, Le Thanh Ton, Pasar Ben Thahn, Hai Ba Trung, sekitar kota termasuk Saigon Notre Dame...
Sementara Distrik 7, kawasan Phu My Hung, juga menjadi bagian yang sempat dekat di hati...
Karena anak-anak dulu kontrol ke dokter di rumah sakit FV (Franco Vietnamese Hospital) di daerah Nguyen Luong Bang.
Setelah 4 tahun meninggalkan Ho Chi Minh City yang juga dikenal sebagai Kota Saigon, 
sebagian jalannya yang familiar dulu, sempat sedikit terlupa...
Apalagi kini Saigon tengah bergiat dengan banyak renovasi dan pembangunan MRT.
Meskipun demikian, saya masih berkesempatan bertemu dengan pengasuh anak kami dan juga guru Bahasa Vietnam saya.
Saya sempat belajar Bahasa Vietnam selama 3 bulan, untuk dasar-dasarnya saja.
Karena Bahasa Vietnam dengan enam nada itu tidak mudah untuk dipelajari, meskipun saya bisa berbicara dalam Bahasa Mandarin yang punya 4 tone (tekanan suara atau nada).
Itu semua tidak jadi masalah pada akhirnya, bahkan pengalaman hidup di negeri orang merupakan suatu pembelajaran yang memperkaya diri...
Sekarang Guru Bahasa Vietnam dan pengasuh bayi itu telah menjadi sahabat, jika tidak dikatakan bagian keluarga seperti saudara yang kami temui di negeri jauh.
Saya pun bertemu dengan komunitas Indonesia yang luar biasa ramah, sehingga setelah 4 tahun pun, saya merasa tetap sangat di-welcome...
Hanya ucapan syukur yang tulus dari lubuk hatiku untuk semuanya ini...
Tuhan sungguh begitu baik bagi kami...

Singapura, 27 Juni 2016
Ya, ini tahun kesepuluh kami sekeluarga berada di rantau...
Satu per satu kejadian bermain di pelupuk mata...
Rasa syukur bercampur haru...
Juga sangat sadar, bahwa pindah negara berarti keluar dari zona nyaman yang sudah menjadi bagian hidupku sekian lama...
Pindah berarti saya harus mau beradaptasi (lagi), belajar lagi...
Dulu pun pernah merantau dari tempat lahir di Palembang, menuju Ibu Kota Jakarta untuk melanjutkan kuliah di perguruan tinggi...
Namun, pindah negara plus kendala bahasa pastinya punya tantangan tersendiri.
Saya yang sebenarnya tidak terlalu suka perubahan, terus dibentuk untuk menjadi lebih baik dalam rancangan-Nya.

Sepuluh tahun di Rantau...

Saya bersyukur untuk kesempatan ini...
Tentunya bukan pelajaran yang mudah, bahkan terkadang rasanya cukup 'mahal'...
Saat saya harus merelakan segala kesenangan di Jakarta, pelayanan bersama teman-teman di sana, juga anggota keluarga yang kami tinggalkan di Indonesia...
Juga meninggalkan pekerjaan saya yang sempat saya tekuni selama sepuluh tahun lamanya sebagai 'stockbroker' (dealer saham).
Meninggalkan zona nyaman di Jakarta dulu sempat begitu sulit bagi saya...
Saya sempat mempertanyakan, mengapa? Dan mengapa?
Namun, setelah beberapa lama, saya mulai betah dan beradaptasi...
Walaupun di antaranya, selalu ada adaptasi besar karena anak-anak kami satu lahir di Singapura dan satu lagi lahir di Ho Chi Minh City...
Tidak mudah saat harus mengambil tanggung jawab untuk mengurusi anak sendiri...
Meninggalkan segala kesenangan untuk masuk ke zona yang saya tidak tahu: akan separah apa jalan di depan nanti...
Hari demi hari berlalu, saya tetap bersyukur untuk setiap pembelajaran yang ada...
Setelah merasa betah dan punya teman, lalu zona nyaman itu kembali diangkat dari kami sekeluarga...
Saat kami harus pindah ke Vietnam...
Hal yang sama juga terjadi, setelah nyaman di Vietnam, lagi-lagi kami harus pindah kembali ke Singapura...
Segalanya saya syukuri, namun ketika berhadapan dengan perubahan: lagi dan lagi, dengan membawa anak-anak plus adaptasi pendidikan, Bahasa, dan lingkungan...
Harus dengan jujur saya katakan, bukanlah sesuatu yang mudah untuk dijalani...
Tetapi, selalu ada rahmat Tuhan yang baru di setiap hari yang menyapa, menguatkan, menghibur...
Mengirimkan malaikat-malaikatnya lewat orang-orang yang tidak saya kenal sekali pun...
Di rantau, kami pun menjumpai banyak sahabat dan teman yang dekat seperti Saudara...

Menjalani hari lepas hari dengan ucapan syukur atas segala yang terjadi di hidupku...
Percaya bahwa Tuhan memang Perancang terhebat atas segala rencana....
Bahkan rencana terbaik kita secara manusiawi pun tidak akan terlaksana jika memang Tuhan berkehendak lain...

Setiap detik, setiap menit, kusyukuri rahmat-Mu ya, Tuhan...
Untuk setiap pengalaman yang mendewasakan...
Untuk setiap teman dan Saudara yang kami jumpai di negeri seberang...
Untuk setiap anggota keluarga dan sahabat yang dekat di hati yang berada di Indonesia...
Semua sungguh semakin memperkaya hidupku...
Dan setiap pengalaman ini akan terpatri di sanubariku, menjadi benih-benih yang tumbuh subur di taman hati.

fon@sg

Sunday, June 14, 2015

Memori Tentangmu...

Entah mengapa malam ini, memori tentangmu menari-nari di kepalaku...
Banyak keceriaan, masa-masa indah yang pernah kita lalui bersama...
Kamu, kamu, dan kamu...
Kalian adalah bagian hidupku yang takkan pernah terpisahkan...
Kalian senantiasa ada di masa-masa terkelamku. 
Juga masa-masa yang paling membahagiakan...
Kalian jadi saksi hancurnya hatiku, tangisanku... 
Sekaligus juga membuncahnya hatiku karena bahagia.

Kalian, ya...kalian...
Siapa saja yang masuk ke hidupku dan menjadi sahabatku...
Tak banyak, memang...
Mereka yang setia bertahan dan senantiasa ada...
Terkadang banyak orang yang mengaku-aku teman malahan datang di saat senang dan melupakan kita di saat kita tengah menghadapi kemalangan...

Sambil terus berusaha menjadi seorang sahabat yang baik dan bisa dipercaya, pada saat-saat tertentu aku pun menyadari: aku pun pernah mengecewakan...
Sebagaimana aku pun pernah dikecewakan karena harapan yang kelewat tinggi pada orang-orang yang kuanggap dekat di hatiku...
Saling mengampuni, yah, karena kalian adalah bagian hidupku...
Bagian yang takkan pernah terpisahkan...
Sekeras apa pun aku berusaha menghilangkan episode yang menyakitkan sekalipun...
Tombol 'delete' takkan menyelesaikan permasalahan...
Hati yang terbuka, hati yang penuh syukur karena kalian pernah ada di dalam babakan di hidupku...
Yah, aku tersenyum kecil ketika menuliskan hal ini...
Mengenang masa-masa kedekatan kita yang membahagiakan...
Kusadari pula naik-turunnya segala hal di kehidupan...
Ya, termasuk di dalam persahabatan...
Kekecewaan yang kurasakan membuatku belajar (lagi), bahwa memang segala sesuatu tak ada yang abadi...
Namun, kubersyukur untuk masa-masa yang kita lalui...
Ketika langkahku dan langkahmu dipertemukan di satu jalan kehidupan...
Tentunya pasti ada maksud dari Yang Kuasa...
Ini semua bukanlah kebetulan adanya...




Entah mengapa malam ini memori tentangmu datang kembali.
Ia mengetuk pintu hatiku sedemikian kuat...
Menjalari setiap syaraf di benakku dan membuatku mengenang kamu.
Kamu, kamu, dan kamu...
Yah, kalian...
Pada akhirnya, pelajaran yang kupetik dari persahabatan ini...
Berusaha mengambil sisi positif dan hikmahnya...
Belajar untuk mengurangi harapan yang terlalu tinggi, karena kita semua manusia...
Don't worry, behappy dalam menjalani persahabatan ini...
Berusaha memaafkan dan mohon pula dimaafkan pula jika terdapat kesalahan...
Aku tak bisa menyenangkan semua pihak, tentu saja...
Namun, aku bersyukur untuk kesempatan mengenal kalian di hidupku...

Sementara memori tentangmu menari-nari di benakku...
Jari-jemariku pun menari-nari di atas keyboard laptopku dan mengetikkan kisah kita.
Syukur kupanjatkan ke hadirat-Nya...
Sukacita menjalari dada...
Yah, semua terjadi hanya karena kehendak-Nya...
Diizinkannya kita jumpa, berkenalan, dan berinteraksi...
Beberapa persahabatan tak lekang oleh waktu...
Bahkan jika dihadapkan pada jarak yang jauh sekalipun...

Di rantau aku mengenangmu.
Kamu, kamu, dan kamu.
Sementara memori tentangmu menari-nari di kepalaku...
Ada kehangatan dan kasih menjalari hatiku.

14.06.2015
fon@sg
* Smiling :) as I remembered some of the strongest friendships ever that I've ever experienced.
I'm thanking God for that:)

Saturday, January 10, 2015

Bersyukur Untuk Hari Ini

Waktu terasa begitu cepat berlalu.
Hari ini, gak terasa, kita sudah memasuki hari ke-11 di bulan Januari.
Mungkin kita masih mengingat indahnya tahun baru yang kita lewati bersama yang terkasih.
Mungkin juga, kita masih begitu terlarut pada kedukaan yang baru saja kita alami di tahun 2014.
Namun, itu semua, kita jadikan masukan dan pelajaran yang paling berarti bagi sekolah kehidupan kita di dunia ini...

Hari ini...
Hmmm...
Apa yang bisa kulakukan?
Apa yang semakin mendekatkanku pada impian...?
Dan juga, pada tujuan Sang Pencipta membawaku hidup di dunia ini?

Hari ini...
Aku menjadi seperti sekarang ini...
Karena proses yang kulalui sebelumnya...
Karena naik-turunnya kehidupan...
Terkadang pula berliku...
Untuk kemudian semakin mendewasakanku...

Hari ini...
Aku takkan lagi berkubang dalam kesedihan untuk menangisi masa lalu...
Aku akan belajar lebih tegar...
Aku akan berusaha untuk memandang segala sesuatunya...
Dalam kacamata iman kepada-Nya...
Sedih, duka, pasti pernah kita alami...
Rasa syukur bukan berarti menentang itu semua...
Namun, belajar untuk menerima kenyataan...
Dengan ikhlas...
Belajar pula untuk melangkah dalam ketabahan...
Sembari seluruh doa kita panjatkan...

Hari ini...
Kulihat pula banyak yang menderita di sekelilingku...
Ketidakadilan masih menjadi-jadi...
Perikemanusiaan masih kurang dipedulikan...
Sehingga terkadang, nyawa manusia begitu gampang hilang...
Hanya karena hal-hal yang seolah sepele dan tak penting...

Hari ini...
Kusadari betapa pentingnya menerima perbedaan...
Sebagai faktor yang tak mungkin kita jadikan sama...
Bahkan saudara kembar pun punya perbedaan...
Itu karena kita semua diciptakan unik adanya...
Tindakan memaksakan penyeragaman...
Entah dari sudut pandang mana pun...
Adalah hal yang sebetulnya tidak mungkin dilakukan...
Aku adalah aku...
Kamu adalah kamu...
Saling menghargai...
Saling menghormati...
Toleransi...
'Respect' kepada orang lain...
Senantiasa berusaha menerima perbedaan...
Bukan memaksakan kehendakku atasmu...
Bukan pula soalan menang-kalah...
Untuk kemudian menentukan siapa yang nanti akan berkuasa...

Hari ini...
Izinkan aku untuk bermimpi...
Untuk suatu dunia yang damai...
Yang indah...
Yang penghuninya saling menghormati...
Saling menghargai...
Yang kehidupan satu sama lainnya diisi toleransi...
Sehingga dunia menjadi semakin indah untuk kita diami...

Hari ini...
Adalah gabungan pengalaman dari hari-hari sebelumnya...
Dan apa yang akan kubuat hari ini?
Apa yang akan Anda lakukan hari ini?
Semoga itu semua menjadikan hidup ini semakin berarti...

11.01.2015
fon@sg

Sunday, December 28, 2014

Pribadi Yang Tahu Diri

Hellow temen-temen semua...
Kali ini, di penghujung tahun ini, aku bakal menuliskan sesuatu yang sudah lama ingin kutuliskan.
Kalian tentunya pernah 'kan, melihat acara pencarian bakat semisal Indonesian Idol, American Idol, atau yang dulu-dulu pernah tahu AFI. 
Pastinya pada saat audisi, kita pernah 'tuh melihat beberapa peserta audisi yang merasa super PD (Percaya Diri) dengan kemampuan mereka.
Sehingga, bila tidak diterima oleh jurinya untuk lolos babak kualifikasi, mereka merasa marah.
" Gue 'kan bagus gini nyanyinya, koq bisa gak diterima? Itu juri pada salah kali kupingnya!"

Tak jarang, kita lihat mereka dengan mencak-mencak dan marah-marah, meninggalkan ruang audisi.
Dan, ketika diwawancara, ternyata mereka masih menyisakan sakit hati yang tak terselesaikan.
Terkadang  sambil memaki, marah, menangis, mereka berlalu dari kamera yang menyorot mereka.

                                                                        ***

Saat ini, saya koq terbayang lagi ya, tontonan waktu itu...
Akhir tahun, agaknya menjadi saat yang cukup tepat juga untuk kembali lagi merenungkan..
" Apakah saya sudah jadi pribadi yang tahu diri?"
Bisa menempatkan diri saya pada kemampuan saya sesungguhnya, bisa menerima kritik, dan bisa memaksimalkan talenta yang diberikan-Nya kepada saya?
Mungkin sulit. Mungkin jalan yang harus kita lalui berliku.
Untuk menerima kenyataan bahwa saya tidak sebaik yang saya kira, agaknya bukan pekerjaan mudah.
Terkadang pula, kita malah diliputi rasa minder, rasa tak bisa menerima diri, perasaan tak sebanding atau tak sebaik orang lain...

Ini adalah PR (Pekerjaan Rumah) buat saya pribadi.
Menjadi PR seumur hidup bagi saya yang sadar juga bahwa begitu sering saya berbangga untuk sedikit perbuatan baik yang saya lakukan. 
Sebaliknya, pura-pura lupa atau tak peduli pada perbuatan buruk yang pernah saya lakukan.
Begitu sering pula saya merasa diri begitu kecil, tidak layak, minder, dan sebagainya.
Untuk benar-benar menerima diri apa adanya, memang bukan pekerjaan yang langsung bisa kita lakukan.
Butuh perjuangan, butuh untuk terus-menerus mohon kasih Allah untuk mempu mengasihi diri sendiri dan tidak menyalahkan siapa-siapa atas keberadaan kita di dunia ini...
Karena keberadaan kita bukanlah kebetulan, itu atas rencana-Nya.
Sepantasnyalah kita mensyukuri keberadaan diri kita.
Berani pula melihat diri sendiri dengan obyektif (berusaha).
Jika memang ada bakat terpendam, bisa digali, untuk kemudian memberikan yang terbaik bagi sesama kita.
Jika memang tidak atau belum baik di suatu bidang tertentu, yang walaupun begitu kita sukai, tetap belajar untuk lebih baik... Namun, tetap pula melihat dengan obyektif, sampai di mana kemampuan kita.
Tidak memaksakan diri, tidak pula memaksakan orang lain untuk mengakui kehebatan kita.
Jika memang kita dinilai baik, bersyukurlah, bahwai itu adalah anugerah Yang Kuasa.

Di akhir tahun ini, sekaligus resolusi tahun baru nanti, saya pribadi ingin menjadi pribadi yang lebih tahu diri.
Tahu bersyukur, tahu berterima kasih.
Tahu pula kelemahan saya dan terus berusaha memperbaiki diri...
Tahu bahwa ketika banyak anugerah yang diberikan pada hidup saya, itu hanyalah karena kasih dan kebaikan-Nya semata...
Tahu dan sadar, bahwa tanpa Tuhan, saya bukan siapa-siapa.
Belajar untuk tidak Sok Tau, bahwa hanya Tuhanlah Yang Maha Tahu.

Eh, gak terasa, tau-taunya kita udah mau taon baruan...
' Met menyambut lembaran tahun baru, dengan kesadaran diri yang lebih baik...
Dengan menjadi pribadi yang tahu diri...
Tahu bersyukur kepada Yang Ilahi.

29.12.2014
fon@sg

Friday, June 27, 2014

Refleksi di Bulan Juni...

Sebuah posting yang terlambat di Blog Chapters of Life, namun sudah saya posting di Facebook sebelumnya pas tanggal 1 Juni yang lalu...
Tetapi, semoga masih tetap bisa membuat saya pribadi, moga-moga kita semua untuk refleksi diri...(-fon-)

Januari: 
"Ya, koq cuma segini, Tuhan?"

Februari: 

"Si A sudah ke sana-ke mari keliling dunia, sementara aku koq cuma begini-begini aja, Tuhan?"

Maret: 

"Si X sudah beli mobil baru. Keren. Mahal. Sementara mobilku masih butut saja...Oh my..."

April:

"Tasnya Ibu N, tetangga sebelah, tiap bulan gonta-ganti. Semua seharga puluhan jeti. Sementara punyaku? Satu, harga pun jauh sekaliiii..."

Mei: 

"Pa, lihat donk, posisi Bapak W teman sekantor Papa, tambah hari tambah hebat. Sementara Papa? Naik gaji saja seret, duhhh Pa...Pa..."

Kisah di atas bukan kisah pribadi. Namun rasanya sering terjadi.
Semoga Juni, Juli, sampai akhir tahun ini...
Bahkan sampai akhir hidup ini...
Menjadi pelajaran tersendiri...
Bahwa hidup bukan melulu pertandingan tanpa henti...
Apalagi dalam area tak sehat macam ini...
Kekayaan penting, namun tidak dibawa mati...
Sebegitu sulitnyakah kita mensyukuri?
Kata CUKUP seolah begitu sulit terlontar dari bibir ini...

Segalanya cukup bagiku, Tuhan...
Terima kasih.
Asal aku berjuang sekuat tenaga, kuyakin Tuhan pasti buka jalan...
Berusaha menikmati apa yang ada hari ini...
Dan jika diberi kemudahan, tak lupa berbagi kepada sesama yang menderita...
Semua dari-Mu dan titipan-Mu semata.(-fon-)


01.06.2014
fon@sg

Monday, May 5, 2014

The Story of Envy


(Perenungan dari sebutir apel)



Di Supermarket, ketika hendak mengambil apel jenis ini, aku sudah cengar-cengir untungnya dalam hati.
Kalau kelihatan sekitar, nanti malu ah hahaha...
Seolah Tuhan mau bicara sesuatu lagi.
Mengingatkan lagi.  Akan unsur yang bernama iri hati.

Dari namanya, apel ini memang menjanjikan.
Buahnya besar, tampangnya keren-warnanya merah bercampur kekuningan- dan rasanya manis, sedikit asam, namun sungguh segar. Dari kisah Si Apel Envy ini sendiri, bisa kita lihat bahwa memang dia dibuat dari yang terbaik…
When New Zealand's passionate apple researchers brought together the best features of Braeburn and Royal Gala in one single apple, envy apple was born. Envy apple is a new class of world class - truly an apple to desire.
Mungkin, buah apel yang lainnya, akan merasa iri padanya.
Karena tampilan fisik maupun rasanya, bikin orang akan memilih dia.
***

Sambil mengunyah perlahan potongan apel Envy di rumah, saya sempat terpikir lagi.
Memang, iri hati kalau tidak betul-betul dikendalikan, lama-lama bisa jadi duri.
Iri, biasanya mulai dari penglihatan, dari mata.
Juga bisa dari pendengaran, dari cerita orang…
Apa yang orang punya, apa yang orang lain pakai, apa yang mereka miliki.
Jalan-jalan semacam apa yang mereka lakoni.
Gaya hidup semacam apa yang mereka jalani.
Sepatu, tas, mobil merek apa yang mereka pakai...
Ah, betapa itu semua di zaman yang makin mendewakan materi ini,  menjadikan manusia semakin sulit saja mensyukuri apa yang ada...

Teringat sebuah artikel tentang istri pemilik Facebook- Priscilla Chan- yang saya baca beberapa hari yang lalu.
Istri Mark Zuckerberg ini, berdua dengan suaminya, memilih hidup sederhana.
"We try to stick pretty close to what our goals are and what we believe and what we enjoy doing in life – just simple things," she told the New Yorker.
Sementara, saya dan para pemiliki akun Facebook lainnya malah seringnya pamer dan pamer belaka...
Aduh, jadi maluuuu...
Dan sekali lagi diingatkan untuk hidup sederhana.
Pope Francis, sukanya memasak sendiri biar lebih murah...
Dan ala Jokowi, sering blusukan waktu dia melayani di Argentina... Membagi kasih-Nya kepada orang-orang yang miskin dan menderita…
Ah, betapa senangnya jika hidup mensyukuri apa yang ada...
Bukan melulu kompetisi...
bukan pula berarti tidak mau usaha lebih baik lagi...
Namun, setelah berjuang keras, mengapa tidak mensyukuri karunia-Nya...?

Si Envy sudah habis di piring saya.
Namun, pelajarannya masih dicerna di benak saya...
Jangan iri, begitu kata hati saya...
Syukuri apa yang ada...
Tiap orang ada senang dan susahnya sendiri.
Beban mereka, kamu 'gak pernah tahu, tokh?

Sementara di kulkas...
Masih tersisa beberapa apel Envy...
yang selalu siap sedia untuk saya santap
dan untuk mengingatkan saya (lagi).
Dan suara hati saya kembali berbisik…
Be thankful. Stay away from envious thoughts.
For that will lead to peace and true happiness.

5 Mei 2014
fon@sg

#ditemani secangkir iced milk-tea blended di sebuah gerai kopi di kawasan barat Singapura...

Friday, February 28, 2014

Aku Merindukan Pagi




Aku merindukan pagi...
Saat kulihat wajahmu terbaring di sisiku...
Saat senyum yang tersungging di bibirmu menyambut pagiku...
Sungguh, aku merindukan pagi yang indah semacam itu...

Aku merindukan pagi...
Saat aku bisa membelai anak-anak rambut yang jatuh di dahimu...
Saat kepolosanmu begitu menggemaskan diriku...
Saat kusadari (lagi) bahwa atas anugerah-Nya, kau hadir di hidupku...

Aku merindukan pagi...
Yang damainya membawa kehangatan di hati...
Yang membuat setiap sudut di rongganya diliputi...
Rasa syukur yang menaungi...

Aku merindukan pagi...
Yang dipenuhi senyuman setulus hati...
Riang canda yang mengiringi...
Kesederhanaan yang bernilai teramat tinggi...

Aku merindukan pagi...
Saat aku sadari...
Betapa berharganya detik yang bergulir di tiap hari...
Dan semoga setiap momen kebersamaan ini, selalu kita syukuri...

Aku merindukan pagi...
Seperti pagi ini...
Saat kuterjaga dan berbisik lembut di telingamu...
" Selamat pagi, cintaku..."

01.03.2014
fon@sg

Thursday, August 15, 2013

Biasa-biasa Saja…



Banyak orang memiliki impian untuk jadi orang ternama, populer,  dan dikagumi oleh berjuta orang di luar sana.
Untuk itulah, mereka berlomba-lomba untuk ikut ajang ini-itu.
Dari tarik suara sampai ajang pencarian bakat bertaraf nasional bahkan dunia hanya untuk jadi ternama.
Popularitas yang diterima agaknya berhubungan erat dengan faktor uang juga.
Pada akhirnya, popularitas diharapkan akan membawa kondisi perekomian dan kemapanan orang yang bersangkutan plus keluarganya ke arah yang lebih baik.
Tentu saja, keinginan ini bukan merupakan sesuatu hal yang buruk.
Keinginan untuk dikenal, diakui karyanya oleh orang lain adalah sebagian dari kebutuhan manusia juga.  Dengan pengakuan dari orang lain, harga diri serta keberadaan diri yang bersangkutan menjadi lebih terangkat jika dia dikenal.

Anehnya (baca: ironisnya), para selebriti papan atas malah kewalahan dengan ketenarannya.
Dikejar-kejar paparazzi bukanlah hal yang menyenangkan.
Tak jarang, berujung maut seperti yang dialami Lady Diana dari Inggris yang cukup menderita karena ketenarannya sampai berujung pada maut yang mengakhiri hidupnya.
Banyak artis ternama jika pergi ke mal harus berpakaian tebal, melakukan penyamaran, dan memakai tutup wajah hanya untuk mendapatkan ‘privacy’, biar tidak dikuntit wartawan pengejar berita.

Ketika keinginan menjadi terkenal dan punya banyak uang sudah tercapai, anehnya, malah kembali mencari hidup yang biasa-biasa. Betapa yang biasa-biasa itu menjadi sesuatu yang dirindukan. Betapa yang biasa-biasa itu adalah sesuatu yang luar biasa bagi mereka yang sudah terlanjur terlalu ‘ngetop’ alias terlalu ternama.

***

Ketika hidup saya biasa-biasa saja…
Saya berusaha mensyukuri apa yang ada…
Tentu saja bukan pekerjaan mudah senantiasa…
Ketika iri hati mungkin sekali menyelinap dan menancapkan kuku-kukunya…

Ketika saya biasa mensyukuri yang biasa-biasa saja…
Begitu indah rasanya…
Hanya menatap senyuman ananda…
Hanya melihat rembulan dan pelangi di langit sana
Bahagia itu sungguh terasa sederhana…

Ketika suatu saat nanti Tuhan mengaruniakan sesuatu yang luar biasa…
Ada baiknya kita berdiam di hadirat-Nya…
Mensyukuri sekali lagi semua karunia-Nya.
Betapa hidup ini hanya sementara…
Semua itu hanya karena anugerah dan kebaikan-Nya…

Saya mah biasa-biasa sajaaaa…
Tuhanlah yang luar biasaaa…
Segalanya biarlah kembali kepada kemuliaan-Nya :)

15.08.2013
fon@sg

* I’m just an ordinary woman with an extraordinary GodJ

Tuesday, November 27, 2012

Rasa Ini




Ketika ketenangan yang mendominasi...
Kekuatiran pun bisa terkendali...
Hati sungguh dalam keadaan damai sejati...
tak terpengaruh keadaan yang terjadi di sana atau sini

aku tahu karena Engkau
aku bisa alami rasa ini
selalu buatku terpukau
dengan seluruh hadirat-Mu yang mendamaikan hati

terima kasih, Tuhan untuk rasa ini...
selalu indah ketika kutahu bahwa kasih-Mu selalu mengiringi
apa pun rasa yang tengah kualami
kusadari, kebaikan-Mu akan ada dan tak pernah pergi...

kupersembahkan rasa ini
dan rasa lain yang mungkin singgah di hati
esok atau hari ini...
juga di masa depan nanti...

kutahu, Engkau lebih dari sekadar perasaan
juga jauh melampaui pikiran
Engkaulah Sang Jalan yang selalu memampukan
kami melangkah dalam roda kehidupan

syukur dan terima kasih kupanjatkan
hanya kepada-Mu, oh Tuhan :)

November 2012
fon@sg

Wednesday, September 12, 2012

Jelang Pagi




Malam seolah enggan beranjak
Fajar yang datang pun terkesan malu-malu
Akhirnya Sang Surya pun terbit
Menyinari bumi dan seisinya

Syukur penuhi hatiku
Untuk setiap cinta yang kutemukan di hidupku
Kusadari, bukan tanpa sengaja kasih itu hadir
Yang Kuasa sudah mengirimkannya
Melalui kebaikan orang-orang di sekitarku

Jelang pagi
Syukur ada di sini
Semoga sepanjang hari
Kujaga hati
dan kubingkai dengan rasa ini

13 September 2012
fon@sg