Friday, August 23, 2013

Low-Bat



Stop dulu, yaaa…
HP lagi low- bat ni
Gak bisa buat chatting, BBM, atau ngecek e-mail.
Biarkan dia di-charge dulu.

Itu adalah kondisi yang sangat sering terjadi sehari-hari.
Berapa kali kita nge-charge batere hp kita dalam seminggu?
Setidaknya tiga kali seminggu. Atau bahkan setiap hari.
Apalagi buat HP lama yang baterainya sudah keburu ‘dol’ (baca: gampang drop), yah sebentar-sebentar harus di-charge kalau memang dana untuk ganti HP belum mencukupi.

Lalu, bagaimana dengan semangat yang patah?
Kondisi fisik, spiritual dan emosional yang lelah berlarut-larut?
Duh, sesungguhnya, siapa pun perlu di-charge.
Bentuknya bisa macam-macam.
Beberapa butuh liburan, refreshing, relaxing.
Dari ke tempat-tempat wisata yang meriah atau malah menyepi sejenak untuk ganti suasana.
Atau buat kaum hawa, ke salon-creambath, manicure, pedicure. Pijat atau refleksi kaki, dan sebagainya.
Ada pula yang sungguh rindu mencari hadirat Tuhan lalu mencari tempat-tempat retret atau acara-acara kerohanian yang diselenggarakan di tempat-tempat hening dan syahdu. *mendadak kangen suasana ini karena agaknya sudah lama sekali tidak saya pribadi lakukan karena kesibukan menjaga anak-anak yang masih kecil.*

Kita bisa memilih melakukan aktivitas untuk memulihkan semangat kita kembali.
Tidak harus selalu mahal, tidak harus ke luar negeri atau tempat-tempat wisata yang eksotis.
Terkadang hanya duduk di gereja dan berdoa saja di luar jam misa, mungkin kita bisa merasakan kedekatan itu sekali lagi dengan-Nya.

Sebagaimana HP yang bisa low-bat, saya sadari kondisi saya pun demikian.
Tak peduli apakah itu fisik, mental, maupun spiritual.
Hari ini hati lagi senang, besok mungkin be-te (baca: kesal) berat.
Saat sedang kesal, agaknya sulit untuk mensyukuri hal-hal yang baik di dalam hidup ini.
Apalagi jika Tuhan memberikan sesuatu yang sama sekali beda dari apa yang saya inginkan. Pastinya saya kesal, marah, bahkan kecewa.
Butuh waktu untuk kembali menyadari bahwa Tuhan pasti punya rencana yang lebih baik, yang lebih sesuai dengan kebutuhan saya.
Mungkin keinginan saya itu kurang bijaksana, hanya mementingkan diri sendiri.
Mungkin keinginan itu nantinya akan menuju kepada sesuatu yang kurang baik, makanya saya dihindarkan dari pencapaian keinginan pribadi tersebut….
Pasti, walaupun saya belum tahu apa, pasti itu semua ada maksud-Nya…
***
Tuhan selalu baik. Titik.
Mau saya low-bat atau fully charged, Dia selalu baik.
Jika Dia tidak memberikan yang saya inginkan, pasti ada maksudnya.
Mungkin itu bukan yang saya butuhkan.
Whether I’m in a good mood or bad mood, God is still good.
Karena Dia tidak terpengaruh mood saya.
Dia tetap konsisten sementara saya yang berubah-ubah.
Mohonkan ampunan jika saya terlalu mengatur Tuhan untuk menjalankan apa yang saya inginkan…
Tuhan tetaplah Tuhan dan bukan seorang ajudan…

Hari ini, saya belajar untuk kembali membenahi posisi diri saat tengah low-bat
Kembali saya plug-in mencari Sumber Baterai Sejati…
Sumber Kekuatan…
Sumber Pengharapan…
Sumber Kesukacitaan.
Dialah Tuhan…

Ditulis awal bulan ini, selesai diedit malam ini (23-08-2013)
fon@sg

*low-bat akan berlalu, asalkan saya selalu siap mencari charger sejati, Tuhan sendiri.

Thursday, August 15, 2013

Biasa-biasa Saja…



Banyak orang memiliki impian untuk jadi orang ternama, populer,  dan dikagumi oleh berjuta orang di luar sana.
Untuk itulah, mereka berlomba-lomba untuk ikut ajang ini-itu.
Dari tarik suara sampai ajang pencarian bakat bertaraf nasional bahkan dunia hanya untuk jadi ternama.
Popularitas yang diterima agaknya berhubungan erat dengan faktor uang juga.
Pada akhirnya, popularitas diharapkan akan membawa kondisi perekomian dan kemapanan orang yang bersangkutan plus keluarganya ke arah yang lebih baik.
Tentu saja, keinginan ini bukan merupakan sesuatu hal yang buruk.
Keinginan untuk dikenal, diakui karyanya oleh orang lain adalah sebagian dari kebutuhan manusia juga.  Dengan pengakuan dari orang lain, harga diri serta keberadaan diri yang bersangkutan menjadi lebih terangkat jika dia dikenal.

Anehnya (baca: ironisnya), para selebriti papan atas malah kewalahan dengan ketenarannya.
Dikejar-kejar paparazzi bukanlah hal yang menyenangkan.
Tak jarang, berujung maut seperti yang dialami Lady Diana dari Inggris yang cukup menderita karena ketenarannya sampai berujung pada maut yang mengakhiri hidupnya.
Banyak artis ternama jika pergi ke mal harus berpakaian tebal, melakukan penyamaran, dan memakai tutup wajah hanya untuk mendapatkan ‘privacy’, biar tidak dikuntit wartawan pengejar berita.

Ketika keinginan menjadi terkenal dan punya banyak uang sudah tercapai, anehnya, malah kembali mencari hidup yang biasa-biasa. Betapa yang biasa-biasa itu menjadi sesuatu yang dirindukan. Betapa yang biasa-biasa itu adalah sesuatu yang luar biasa bagi mereka yang sudah terlanjur terlalu ‘ngetop’ alias terlalu ternama.

***

Ketika hidup saya biasa-biasa saja…
Saya berusaha mensyukuri apa yang ada…
Tentu saja bukan pekerjaan mudah senantiasa…
Ketika iri hati mungkin sekali menyelinap dan menancapkan kuku-kukunya…

Ketika saya biasa mensyukuri yang biasa-biasa saja…
Begitu indah rasanya…
Hanya menatap senyuman ananda…
Hanya melihat rembulan dan pelangi di langit sana
Bahagia itu sungguh terasa sederhana…

Ketika suatu saat nanti Tuhan mengaruniakan sesuatu yang luar biasa…
Ada baiknya kita berdiam di hadirat-Nya…
Mensyukuri sekali lagi semua karunia-Nya.
Betapa hidup ini hanya sementara…
Semua itu hanya karena anugerah dan kebaikan-Nya…

Saya mah biasa-biasa sajaaaa…
Tuhanlah yang luar biasaaa…
Segalanya biarlah kembali kepada kemuliaan-Nya :)

15.08.2013
fon@sg

* I’m just an ordinary woman with an extraordinary GodJ

Tuesday, July 16, 2013

Rencanaku Tak Seindah Rancangan-Mu



When things aren’t going your way,
Stay grateful, be thankful,
and you’ll see His marvelous ways in your life.

All you need is just the willingness to change and accept different ways:
His wonderful plans for you. (When the Things Aren’t Going Your Way- Fonny’s article – April, 2010)

Berulang kali saya mendapati bahwa hidup saya agaknya sulit untuk ditebak jalannya. Banyak kali kita merencanakan banyak hal, hanya berujung kecewa, karena koq kenyataannya sangat sangat jauh berbeda?

Kembali hal itu saya alami, ketika liburan yang lalu.
Liburan identik dengan hal-hal yang menyenangkan, rileks, dan membahagiakan. Setidaknya, itu yang ada di bayangan kita. Di kepala kita (baca: saya ) pada saat merencanakannya.

Hari kedua liburan, sesudah sampai kemarin sorenya di Jakarta, kaki saya keseleo saat memandikan anak kedua kami. Lala, agaknya tidak terbiasa dengan perubahan dan langsung meronta-ronta ketika dimandikan.
Saya terjatuh dan lutut keseleo.
Naik-turun tangga langsung sakit.

Terpikir, langsung berantakanlah rencana yang sudah terekam di kepala. Bakal ketemuan beberapa sahabat, kerabat, dan orang yang dekat di hati walaupun satu sisi saya sadari, membawa dua anak kecil-kecil juga tidak selalu memungkinkan saya berlama-lama bertemu. Ditambah lagi kemacetan Jakarta yang membuat jarak dekat harus dilalui dalam waktu yang panjang, membuat saya berpikir ulang jika keluar membawa dua krucil, puteri-puteri kesayanganJ.

Alhasil, keseleo itu harus dibenahi. Kalau tidak, tidak bisa jaga anak.
Rencana buyar? So pasti.
Yang pertama dan terutama, kesembuhan dulu.
Ibu Haji tukang pijat yang diyakini bisa menyembuhkan, didatangkan ke rumah. Saya pun ke dokter syaraf karena nyerinya tak juga hilang, lalu melakukan X-Ray juga. Hmmm, pengalaman yang tidak terbayangkan, walaupun tidak terlalu jelek sebetulnya, tokh saya masih bisa jalan dan urus anak seperti biasa.

Di saat-saat seperti ini, biasanya pencerahan itu datang lagi dari Tuhan.
Teringat catatan lama yang berjudul When the Things Aren’t Going Your Way, membuat saya berpikir dan tersenyum. Bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali sudah saya alami. Rencanaku tidak seperti rencana-Nya. Karena Dia tahu apa yang lebih baik bagi saya dan bagi kita semua.
Bagian kita adalah meskipun punya rencana, jangan lupa selalu menyertakan Dia dan membebaskan Dia bekerja kalau-kalau Dia punya rencana yang lebih baik ketimbang apa yang ada di benak kita yang terbatas ini.

Setelah proses itu semua, di tengah-tengahnya ada kejutan perjalanan ke luar kota yang menyenangkan. Juga, proses kesembuhan yang berangsur terjadi sambil melanjutkan pengobatan sesampainya saya di negeri Singa, setidaknya kaki tidak lagi terlalu nyeri, bahkan kondisi berangsur pulih.

Dari kejadian kecil ini, saya kembali diingatkan bahwa rencanaku sering kali tak seindah rancangan-Mu.
Kembali aku hendak mempercayakan hidupku, Tuhan.
Ke dalam tangan-Mu kuserahkan segala rencana dan keputusan yang harus kubuat…
Semoga itu semua membawaku dekat kepada-Mu…
Tuhan, bimbing kami selalu.

16.07.2013
fon@sg

Wednesday, July 3, 2013

Bahagia Itu…



Banyak orang berusaha menemukan definisi kebahagiaan.
Dan agaknya semua orang ingin mencapai tujuan hidup bahagia dalam hidup ini.
Tetapi, bahagia macam apakah yang dicari?

Apakah bahagia itu berarti kompetisi?
Jika orang lain ke luar negeri setahun dua kali, aku harus tiga kali.
Jika orang lain beli mobil baru setahun tiga, aku mau beli empat.
Jika orang lain punya gadget baru tiap bulan, aku kalau bisa dua minggu sekali ganti…
Lalu, jika sudah mencapai semuanya itu? Apakah Anda bahagia?

Bahagia itu sederhana.
Ada rasa syukur, berdamai dengan diri sendiri dan sesama, serta ketenangan dalam hati. Tidak berkecamuk atau kacau karena dunia luar.
Bahagia itu sederhana.
Menghabiskan waktu dengan orang-orang tercinta dan dekat di hati.
Bahagia itu sederhana.
Memiliki relasi yang indah dan mendalam dengan Sang Pencipta.
Menyadari bahwa begitu banyak perubahan dalam hidup bisa terjadi, namun selama kita berpegang kepada-Nya, kita akan selalu mendapatkan kekuatan untuk melangkah.

Terkadang kita berusaha mencari ‘bahagia’ sampai ke seluruh pelosok bumi.
Padahal, bahagia itu ada di sini.
Hari ini.
Dalam hati.

Selamat siang. Salam bahagiaJ

3 Juli 2013
fon@sg
* terkena virus bahagia dari sepotong cupcake ‘red velvet’ dari Twelve Cupcakes Singapore dengan motto: “ Happiness is just one bite away.”


Sunday, June 30, 2013

Menanti Juli

dan aku menanti hadirmu,
merindukan senyumanmu,
membayangkan kelembutanmu,
saat kau menyapaku...

kuingin merasakan itu kembali
esok hari
saat kaudatang lagi
dengan wajah berseri

Menanti-nantikan Juli
seiring datangnya pagi
(Menanti Juli- puisi)

Friday, June 7, 2013

Kepada Damai-Mu Kuberlabuh

Gaduh. Riuh.
Begitulah hiruk-pikuk duniaku.
Ingin kurasakan kembali kesunyian itu.
Sunyi yang tak mencekam.
Tak kelam.
Karena kepada damai-Mu kuberlabuh.

Berlari menjauh.
Dari kebisingan yang kerap buatku rapuh.
Kembali mencari kekuatan penuh.
Pada-Mu Sang Penyembuh.

Luluh.
Merengkuh…
Kasih-Mu yang sungguh.

07.06.2013
fon@sg


Tuesday, May 14, 2013

Cuaca dan Kehidupan




Jam masih menunjukkan pukul 10 pagi, tetapi mentari yang bersinar cerah itu sungguh kelewat terik.
Saat mengantar Lala ke sekolah, Ibu Gurunya berkata suhu berkisar antara 34 derajad Celcius. No wonder it’s so hot!

Setelah itu saya bergegas berbelanja barang kebutuhan keluarga.
Di Supermarket, tak lama mendung mengiringi. Langit mendadak gelap.
Hujan pun turun.
Tidak terlalu deras seperti biasanya.
Karena biasanya diikuti petir dan halilintar. A thunder storm rain, after a really hot day!
Tak lama, cuaca kembali cerah. Panas kembali menyengat. Dan saya berjalan pulang.


***
Cuaca silih berganti.
Di negeri dua musim seperti yang pernah saya tinggali, Singapura dan Vietnam Selatan (HCMC), juga di negeri tercinta Indonesia, tentunya hanya musim hujan dan musim panas. Yang sekarang, konon dikarenakan global warming menjadi tak beraturan. Dulu waktu sekolah saya ingat, ada pembagian April-Oktober, Oktober-April untuk musim panas dan musim hujan, agaknya sekarang pun sudah tidak seperti dulu lagi.
Di negeri empat musim, cuacanya pun berubah-ubah. Spring, Summer, Autumn, Winter, empat musim berganti. Semi, Panas, Gugur, dan Salju (Dingin).

Begitu pun dengan kehidupan.
Setelah sekian lama menjalani kehidupan, kita pasti sadar bahwa ada banyak kali, kehidupan itu menjadi suatu misteri.  Terkadang, begitu jauh ia menyimpang dari rencana awal kita. Menjadikannya begitu tak tertebak.
Detik ini bahagia, detik berikutnya kesedihan sangat mungkin menyapa.
Sebagaimana layaknya cuaca, hidup pun terkadang begitu sulit diprediksi jalannya.

Tetapi, satu hal yang pasti.
Kita jalani seluruh musim kehidupan kita bersama Tuhan.
Sehingga dalam cuaca apa pun, kita tidak takut.
Bukan karena kekuatan atau kesombongan kita…
Melainkan karena kita percaya, kepada Tuhan kita serahkan semuanya.

Semoga dalam menjalani kehidupan ini, kita ingat bahwa segala sesuatu itu sifatnya begitu sementara.
Hujan berganti panas, semudah menjentikkan jari belaka.
Tetapi, kehidupan bersama Tuhan adalah sesuatu yang berbeda karena kita berjalan bersama-Nya lintasi segala peristiwa.
Melewati badai, hujan, mentari cerah, pelangi, dalam naungan kasih-Nya.

14 Mei 2013
fon@sg