Wednesday, February 19, 2014

Telak

Pernah kalah telak?
Pernahkah juga menang mutlak?
Tetapi, hidup bukanlah melulu soal kalah-menang.
Bukan pula juga selalu soal susah atau senang...

Kekalahan telak mengajarkan kita untuk rendah hati...
Kembali refleksi pribadi...
Juga menilik kembali ke kedalaman hati...
Apa yang salah dalam langkahku ini?

Kemenangan mutlak terkadang membuat lupa diri
Kesombongan menjadi-jadi...
Lalu, lupa akan Sang Penguasa Abadi...
Terlalu yakin akan kemampuan diri...

Kalah telak membuat kita tersungkur...
Semoga masih tetap bisa bersyukur...
Karena Tuhan tak pernah tidur...
Walaupun hidup kita terasa begitu amburadul...

Ketika hidup terasa membuatmu 'knock out' telak.
Jauhkan diri dari sombong dan congkak...
Berusaha bangkit bersama Tuhan walau pernah tercampak
Yakinlah, suatu saat sayap yang patah ini akan kembali terkepak.

19 Feb 2014
fon@sg

Monday, February 10, 2014

Di Sini, Kukagumi...

Sempurna di mataku, Tuhan...
Segala hasil karya keagungan-Mu
Laut-Mu
Pantai-Mu
Langit-Mu
Awan-Mu
tak ada yang bisa melukiskannya seindah Engkau...

di sini...
kukagumi...
segala keindahan alam ini...

Bali, akhir November 2013.
-fon-

Friday, January 31, 2014

Hampa

Suatu pagi, di jalur hati.
Hari itu, yang terasa adalah perih.
Pedih.
Sedih.
Ada pula kemarahan yang mendidih.
Panas yang menguasai.
Membuat damai sungguh sulit dicari.

Memikirkan segala beban
Membuat kita merasa sendirian
Tak ada kawan seperjalanan
Hidup dalam himpitan
Segala kedukaan

Seketika hidup kehilangan makna
Begitu hampa
Kosong
Melompong
Seolah waktu berhenti di saat itu
Seakan masa depan pun begitu kelabu

Namun, sungguhkah akan begitu?  
Iman akan-Mu ajari kami 'tuk percaya penuh
Walaupun tak selalu
Kami bisa tetap fokus tanpa mengeluh

Kami mau percaya adanya mentari
Melihat kembali indahnya pelangi
Kehampaan di hati kembali terisi
Oleh hadir-Mu yang selalu menemani

Hampa ini
Sebagaimana bahagia ini
Segala rasa ini
Kami persembahkan hanya kepada
Sang Penguasa Hidup abadi.

27.12.2013
fon@sg
#latepost. 

Sunday, December 22, 2013

Sebelum Lelap Tidurku

Sebelum lelap tidurku...
Izinkan aku mengucap syukur atas hadirmu di hidupku...
Terima kasih, Tuhan...
Karunia-Mu dalam bentuk anak-anak yang Kaupercayakan kepadaku.

Melihat wajah mereka yang polos saat tidur...
Aku bahagia...
Walaupun terkadang perjuangan untuk jadi Ibu dan terus membimbing mereka bukanlah perkara gampang...
Tapi, aku syukuri peranan ini...

Kelelahan bercampur keceriaan...
Derai tawa bercampur isak tangisan...
Adalah hal-hal yang semuanya menjadikanku dewasa...
Menyadari tanggung jawab dan panggilan sebagai seorang Ibu yang sungguh mulia...

Sebelum lelap tidurku...
Izinkan aku berdoa, Tuhanku...
Jagai selalu anak-anakku...
Biarkan mereka tumbuh selalu dalam bimbingan-Mu...
Jadi tegar dan berjalan dalam kebenaran-Mu...

23.12.2013. Dini hari.
fon@sg
* hari Ibu sudah usai, namun perjuangan Ibu terus memenuhi setiap hari, setiap hati yang bersungguh dengan panggilan yang indah ini.

Tuesday, December 17, 2013

Year 2013 in Review

Hari ini baru melihat di Facebook, ada feature yang ngasih tau, apa sih biggest moments di tahun 2013.
Well, kalo dikilas balik, pastinya ada yang big, not so big, or small. 
Mungkin juga flat. Lho, koq?
'Kan gak setiap tahun dipenuhi gegap gempita.
Ada tahun-tahun juga yang seolah berjalan di tempat. Atau berjalan di treadmill.
Tetapi, percayalah, bak 'puzzle' kehidupan, ini semua akan ada maksudnya.

Sukses yang sudah atau akan dicapai nantinya, adalah kumpulan dari proses yang sudah terlewati.
Mungkin menguras tenaga dan air mata.
Mungkin juga membuat begitu sakit kepala.
Mungkin makan waktu bertahun-tahun.
Dan mungkin juga kita sudah kehabisan kesabaran menunggu waktu sukses itu tiba.

Ukuran sukses pun beda-beda.
Yang dunia ukurkan sebagai kesuksesan adalah jabatan, kekayaan, rumah, mobil mewah, jalan-jalan ke luar negeri, hidup mapan, enak, dan nyaman.
Jarang, orang dianggap sukses, jika hanya jadi orang biasa dan baik-baik saja.
Itu terkadang dianggap tidak cukup.
Padahal, bagi saya pribadi, justru nilai kesuksesan yang hakiki, bukan hanya melulu yang berbau materi.
Walaupun tidak memungkiri bahwa uang adalah hal yang penting, tetapi, saya ogah diperintah olehnya. Apalagi mendewakannya, sampai mau melakukan apa saja demi dirinya.
OGAH.
Bukan munafik.
Tetapi, sekali lagi agaknya kita perlu menarik garis yang jelas akan materialisme dan diri kita ini.

IMHO (In My Humble Opinion), seiring berjalannya waktu dan pendewasaan yang terjadi pada diri saya (psssttt, jangan dibaca tua, yah, karena maunya 'forever young' -setidaknya berjiwa muda- hahaha)...
Kesuksesan sebagai anak-anak-Nya berarti kita hidup selaras dengan rencana-Nya.
Mengasihi Tuhan, sesama, dan juga diri kita.
Care pada keluarga kita, walaupun mungkin banyak bentrokan dalam keluarga.
Sejelek-jeleknya, mereka adalah bagian dari hidup kita.
Mampu setidaknya peduli pada orang yang berkesusahan.
Juga bergembira melihat mereka yang bahagia.
Jauhkan diri dari rasa iri, penuhi hati dengan rasa syukur.
Mau memberi, berbagi.
Mau bekerja keras mengejar apa yang menjadi impian terdalam di hati kita, sementara hasilnya kita percayakan kepada Yang Kuasa.
Hidup berdamai dengan orang lain, terutama berusaha terus berdamai dengan diri sendiri.
Dengan demikian, kita bisa membagikan damai itu kepada sekitar kita,syukur-syukur pada dunia.
Dimulai dari hal kecil.
Selangkah demi selangkah.
Lalu, mulai menyebar ke sekitar kita...

Lalu, apa sih yang sudah dipercayakan-Nya pada saya di tahun ini?
Keluarga yang baik dan sehat. Juga saya pun dikaruniai kesehatan. Thank God!
Terima kasih, Tuhan untuk suami dan anak-anakku yang Kaukirimkan kepadaku.
Juga untuk orangtua, mertua, adik-kakak dan iparku.
Juga sahabat-sahabatku-baik di dunia maya ataupun di dunia nyata.
Terima kasih juga untuk kepercayaan-Mu menjadi Editor di tahun ini.
Hal yang tak terbayangkan bisa kulakukan.
Ada rasa ragu: apa bisa, Tuhan?
Perlahan, keraguan itu bergeser, setelah kepercayaaan diri itu datang karena kesempatan yang Kauberikan.
Jadi Juri di lomba novelet yang diadakan oleh Peri Pernulis, memberikan komentar bagi tulisan-tulisan yang indah, menghibur, dan cukup bermutu.
Lalu, melangkah ke editing renungan harian tahunan Treasuring Womanhood 2014 yang ditulis oleh para perempuan dan dipersembahkan untuk para perempuan.

Terima kasih juga untuk dua buku keroyokan yang mana aku bisa ikut serta.
Kutemukan Kasih Tanpa Syarat (KKTS) terbitan OBOR bersama teman-teman perantau Katolik dari milis Komunitas Perantau Katolik.
Di akhir tahun, ada ajakan dari Peri Penulis untuk bersama-sama bergabung di Project Natal mereka, Noel D'Amour. Di buku ini, aku menyumbangkan satu cerpen.
Royalti dari kedua buku ini untuk tujuan sosial, KKTS untuk pendidikan, sementara Noel untuk panti asuhan.

Really, I couldn't ask for more.
I'm so happy, God that I've come this far.
It's only by Your Grace I can experience this.
Kupercaya itu semua karena-Mu.
Selanjutnya, kupercayakan masa depanku kepada-Mu.
Apapun yang bisa terwujud, kuyakin itu karena campur tangan-Mu.

Izinkan aku melangkah di jalan-Mu.
Tetap setia, walaupun mungkin aku pernah kecewa.
Karena kusadar, aku tidak selalu mengerti rencana-Mu.
Namun, Kau selalu tahu yang terbagik bagiku (bagi kami, anak-anak-Mu).

17.12.2013
fon@sg

Wednesday, December 11, 2013

Welcoming New Chapters

December 2013.

Sudah akhir tahun lagi.
Rasanya, begitu cepat waktu bergulir.
Di awal tahun, rasanya baru saja saya mengantar anak kedua kami, Lala masuk sekolah pertama kalinya.
Sekarang sudah selesai kelas playgroup-nya dan tahun depan, siap-siap melangkah ke sekolah baru.
Demikian juga, tanpa terasa, sudah setahun setengah kami kembali lagi di Singapura.
Dan tahun depan, agaknya menjadi babakan baru pula bagi anak pertama kami Odri, sekaligus kami sebagai orangtua, karena Odri akan melangkahkan kakinya menuju 'Primary School' alias Sekolah Dasar.

Akhir tahun. Senantiasa dipenuhi harapan dan syukur untuk tahun depan.
Juga apa yang sudah dialami di dalam kehidupan ini. 
Senang, sedih, suka dan duka kita persembahkan kepada Yang Kuasa.
Minggu lalu di sebuah Misa di St. Ignatius Church, sebuah khotbah yang sangat inspiratif dari seorang Pastor muda cukup menggugah saya.
Beliau mengungkapkan bahwa akhir tahun adalah saat yang tepat untuk 'pause', berhenti sejenak dari seluruh kesibukan kita. Jam-jam 'rush hours' yang selalu saja kita jalani.
Setelah 'pause', lalu 'rewind'...
Saat untuk merenungkan tahun ini...
Kilas balik kejadian sepanjang tahun ini...
Apa yang sudah dialami...
Segala yang baik, kita persembahkan kepada Tuhan...
Yang kurang baik, kita benahi, dan kita pun belajar untuk rendah hati...
Bukan rencana kita yang selalu terjadi...
Namun, rencana-Nya yang pegang kendali.
Terlalu sering kita disibukkan ini dan itu.
Minta ini-itu kepada Tuhan.
Menjadi kecewa bahkan marah jika tidak dikabulkan...
Terlalu sering kita memandang Tuhan sebagai asisten yang harus memenuhi seluruh keinginan kita.
Ini pula yang menjadi renungan saya pribadi...
Bahwa ada beberapa rencana yang tidak terealisasi.
Saya pun kecewa.
Namun, di balik itu, mari berusaha sebaik-baiknya untuk percaya kepada Allah.
Bahwa semua itu ada maksudnya...
Bagian saya hanya sabar, tawakal, dan percaya...

Di akhir tahun ini, saya belajar menerima kegagalan ataupun kesedihan yang pernah dialami.
Belajar sabar menerima itu semua sebagai bagian rencana-Nya yang tak terselami pikiran manusiawi.
Saya pun belajar mengharga segala hal yang baik yang ada di kehidupan ini.
Keluarga, tempat berteduh, masih bisa makan tiga kali sehari, masih sehat, anak-anak bisa sekolah, semuanya menjadi bagian kebahagiaan yang patut disyukuri.
Jika terus melihat ke atas, kita akan lupa bahwa masih begitu banyak orang yang teriak kelaparan, tak bisa sekolah, atau saat ini terbaring di Rumah Sakit tanpa daya.
Kita sering menganggap remeh hal yang biasa, baru pada saat kita tak lagi bisa menikmatinya, penyesalan itu datang mendera.
Mari, kita syukuri segala yang ada.
Berjanji untuk lebih baik mengasihi semuanya.
Tetap fokus pada tujuan dan impian yang Tuhan tanamkan di hati kita.
Melakukan yang terbaik yang kita bisa.
Jangan menyerah pada keadaan.
Jangan pula putus asa seolah hidup berhenti pada titik ini saja.
Mari tetap beriman kepada Tuhan.

And welcoming new chapters of life in 2014 with great excitement. 
For knowing that God will be there and guide us.
Through every moment of life.

12.12.2013
fon@sg




Thursday, November 14, 2013

A Perfect Marriage



… There’s no such a perfect marriage…
If there is, that must be a marriage that tolerates, forgives, and loves one another as a couple…
And most of all, put God as the centre of it.

… Tidak ada pernikahan yang sempurna…
Jika ada, tentunya merupakan sebuah pernikahan yang dipenuhi toleransi, pengampunan, dan kasih antara pasangan suami- istri…
Dan di atas itu semua, menempatkan Tuhan sebagai pusat dari pernikahan itu sendiri.

(-fon-)

4 November 2013. Suntec City Mall-Singapore.

Hari itu kami sekeluarga ke Suntec City Mall di pusat kota Singapura.
Di tengah mengurusi berbagai keperluan di sana, mata saya tertuju pada kata-kata  “A Perfect Wedding” yang menjadi slogan pameran pernikahan di atrium mal tersebut.
Ada beberapa pakaian pengantin ditata rapi, juga ada beberapa semacam EO (Event Organizer) dan tempat resepsi pernikahan yang melakukan promosi.

Kata-kata itu terus bergema.
A Perfect Wedding.
Sebuah pernikahan yang sempurna.
Pestanya, perayaannya, pakaiannya, makanan yang disajikannya, juga sah secara agama dan sipil tentunya.
Rasanya, hal itu sangat mungkin terjadi.
Karena dua orang yang saling mengasihi, yang hendak berjanji setia, pasti akan memberikan yang terbaik sesuai kemampuannya.
Ada pesta yang sederhana, namun khusyuk.
Ada pesta yang mewah dan sangat meriah…
Semua sesuai kemampuan dan kondisi keuangan masing-masing tentunya.

Acara ‘wedding’ itu sendiri hanyalah sesuatu yang singkat.
Maksimal hanya sehari saja. Atau jika ada acara lanjutan, mungkin seminggu.
Namun, kehidupan sesudahnya adalah bagaimana menjalani tahun demi tahun pernikahan itu sendiri dengan tulus hati.

Beberapa sahabat yang sudah menjalani pernikahan, agaknya setuju bahwa tidak ada kisah ‘live happily ever after’, tanpa menyertakan toleransi, pengampunan dan kasih.
Serta menempatkan Tuhan sebagai pusat dari pernikahan itu sendiri.
Kekecewaan mungkin timbul.
Si Dia yang dulu rasanya ‘ngebelain gue banget’ koq sekarang jadi seperti itu saja?
Cuma segitu doang.
Belum lagi permasalahan tambah pelik dengan adanya perluasan anggota keluarga karena pernikahan.
Mertua, ipar, yang dulunya bukan siapa-siapa, sekarang mendadak jadi anggota keluarga yang tentunya butuh adaptasi juga.
Belum selesai adaptasi antarpribadi yang menikah, harus pula adaptasi dengan mertua dan ipar.
Tak jarang konflik pun terjadi, apalagi jika tinggal berdekatan atau serumah.

Jika hanya mengandalkan perasaan dan harapan untuk tidak pernah kecewa, agaknya pernikahan akan berakhir begitu cepatnya.
Tak aneh pula jika kita dengar di sekitar kita, sahabat kita yang baru saja melangsungkan pernikahan di hotel mewah dan megah, hanya dalam hitungan bulan sudah di ambang perceraian.
Belum lagi berita-berita infotainment dari selebriti yang kawin-cerai semudah beli baju, membuat lagi-lagi orang mempertanyakan: apakah masih ada kesetiaan dalam pernikahan?
Apakah lembaga ini menjadi begitu sulit dipertahankan?

Dalam sudut pandang saya pribadi, setelah menjalani pernikahan itu sendiri, saya sungguh sadar bahwa untuk tetap setia pada pasangan kita di zaman sekarang ini bukanlah hal gampang.
Begitu banyak godaan untuk lari dari kesetiaan itu sendiri.
Begitu banyak alasan yang seolah mengajak kita untuk mengingkari janji setia dengan pasangan kita.
Jika hanya mengandalkan kekuatan saya sendiri, agaknya sulit untuk mempertahankan ini semua.
Namun, itu semua menjadi MUNGKIN bahkan menjadi sesuatu yang harus DIPERJUANGKAN secara maksimal bersama Tuhan.

Bersama Tuhan, Dia akan hapuskan luka dan air mata kecewa.
Aku pernah dikecewakan pasanganku, sambil introspeksi diri juga, pasti aku pernah mengecewakan dia.
Tidak pernah aku melulu yang benar dan dia salah, tetapi pasti juga pernah aku yang salah dan harusnya aku minta maaf.
Salah paham, salah pengertian, pertengkaran, mungkin diam-diaman satu sama lain adalah hal yang pasti pernah terjadi di pernikahan.
Namun, bagaimana kita menyelesaikan perkara itu untuk kemudian menjalin suatu pengertian yang baru antar pasutri akan menjadi bekal yang memperkuat pernikahan itu sendiri di kemudian hari.

Apakah seolah begitu gampangnya dengan menyertakan Tuhan, segala sesuatu akan beres?
Saya percaya, kita semua sadari, tidak ada yang mudah di hidup ini.
Semua butuh proses dan perjuangan, dan itu yang menjadikan kita bertumbuh dewasa dalam iman, di dalam kebijaksanaan.
Bersama Tuhan, dengan keinginan luhur untuk mempertahankan kesetiaan pernikahan itu sendiri, saling memberikan diri yang terbaik bagi pasangan dan anak-anak yang dipercayakan-Nya, menjadi sesuatu yang mungkin.

Tetap setia kepada pasangan kita, tentunya merupakan hal yang harus diperjuangkan.

Tidak ada orang yang sempurna.
Dia tidak, saya pun tidak.
Hanya dengan berusaha saling memahami satu sama lain, saling menerima, lalu berdoa kepada Tuhan untuk dibukakan pintu maaf dan saling mengasihi, pernikahan itu semoga langgeng.
Dijauhkan dari segala bentuk perselingkuhan ataupun pengkhianatan. Perselingkuhan seolah merupakan obat yang pas bagi pasangan yang tengah bermasalah.
Padahal, perselingkuhan selalu membawa permasalahan baru.
Melukai pasangan, diri sendiri, anak-anak kita, dan kemungkinan anak-anak yang dihasilkan dari perselingkuhan itu nantinya…
Ini yang mungkin kurang disadari.

Hari ini, saya mengajak para pasangan suami istri untuk mengupayakan suatu pernikahan yang terbaik yang kita bisa.
Cintai pasangan kita, hargai mereka.
Kasihi mereka dengan kasih Tuhan.
Maafkan mereka, sebagaimana kita pun butuh dimaafkan jika kita berbuat salah.
Tetaplah setia.
Pernikahan yang sempurna hanya akan terjadi dengan menyertakan Tuhan yang sempurna itu ke dalamnya.
Semoga kita terus berpegang kepada-Nya.

14.11.2013

fon@sg