Showing posts with label akhir tahun. Show all posts
Showing posts with label akhir tahun. Show all posts

Wednesday, December 11, 2013

Welcoming New Chapters

December 2013.

Sudah akhir tahun lagi.
Rasanya, begitu cepat waktu bergulir.
Di awal tahun, rasanya baru saja saya mengantar anak kedua kami, Lala masuk sekolah pertama kalinya.
Sekarang sudah selesai kelas playgroup-nya dan tahun depan, siap-siap melangkah ke sekolah baru.
Demikian juga, tanpa terasa, sudah setahun setengah kami kembali lagi di Singapura.
Dan tahun depan, agaknya menjadi babakan baru pula bagi anak pertama kami Odri, sekaligus kami sebagai orangtua, karena Odri akan melangkahkan kakinya menuju 'Primary School' alias Sekolah Dasar.

Akhir tahun. Senantiasa dipenuhi harapan dan syukur untuk tahun depan.
Juga apa yang sudah dialami di dalam kehidupan ini. 
Senang, sedih, suka dan duka kita persembahkan kepada Yang Kuasa.
Minggu lalu di sebuah Misa di St. Ignatius Church, sebuah khotbah yang sangat inspiratif dari seorang Pastor muda cukup menggugah saya.
Beliau mengungkapkan bahwa akhir tahun adalah saat yang tepat untuk 'pause', berhenti sejenak dari seluruh kesibukan kita. Jam-jam 'rush hours' yang selalu saja kita jalani.
Setelah 'pause', lalu 'rewind'...
Saat untuk merenungkan tahun ini...
Kilas balik kejadian sepanjang tahun ini...
Apa yang sudah dialami...
Segala yang baik, kita persembahkan kepada Tuhan...
Yang kurang baik, kita benahi, dan kita pun belajar untuk rendah hati...
Bukan rencana kita yang selalu terjadi...
Namun, rencana-Nya yang pegang kendali.
Terlalu sering kita disibukkan ini dan itu.
Minta ini-itu kepada Tuhan.
Menjadi kecewa bahkan marah jika tidak dikabulkan...
Terlalu sering kita memandang Tuhan sebagai asisten yang harus memenuhi seluruh keinginan kita.
Ini pula yang menjadi renungan saya pribadi...
Bahwa ada beberapa rencana yang tidak terealisasi.
Saya pun kecewa.
Namun, di balik itu, mari berusaha sebaik-baiknya untuk percaya kepada Allah.
Bahwa semua itu ada maksudnya...
Bagian saya hanya sabar, tawakal, dan percaya...

Di akhir tahun ini, saya belajar menerima kegagalan ataupun kesedihan yang pernah dialami.
Belajar sabar menerima itu semua sebagai bagian rencana-Nya yang tak terselami pikiran manusiawi.
Saya pun belajar mengharga segala hal yang baik yang ada di kehidupan ini.
Keluarga, tempat berteduh, masih bisa makan tiga kali sehari, masih sehat, anak-anak bisa sekolah, semuanya menjadi bagian kebahagiaan yang patut disyukuri.
Jika terus melihat ke atas, kita akan lupa bahwa masih begitu banyak orang yang teriak kelaparan, tak bisa sekolah, atau saat ini terbaring di Rumah Sakit tanpa daya.
Kita sering menganggap remeh hal yang biasa, baru pada saat kita tak lagi bisa menikmatinya, penyesalan itu datang mendera.
Mari, kita syukuri segala yang ada.
Berjanji untuk lebih baik mengasihi semuanya.
Tetap fokus pada tujuan dan impian yang Tuhan tanamkan di hati kita.
Melakukan yang terbaik yang kita bisa.
Jangan menyerah pada keadaan.
Jangan pula putus asa seolah hidup berhenti pada titik ini saja.
Mari tetap beriman kepada Tuhan.

And welcoming new chapters of life in 2014 with great excitement. 
For knowing that God will be there and guide us.
Through every moment of life.

12.12.2013
fon@sg




Thursday, December 27, 2012

Bitter-Sweet 2012 and Welcome 2013




Kita tengah melangkah di hari-hari terakhir 2012.
Tentunya, begitu banyak kenangan yang terjadi di tahun ini.
Beberapa manis, bahkan teramat manis.
Mungkin pula beberapa begitu pahit.

Mungkin di tahun ini kita harus berhadapan dengan kenyataan bahwa perpisahan dengan orang yang dikasihi itu begitu menyakitkan.
Rongga-rongga kekosongan yang terjadi segera sesudah prosesi pemakaman usai, tak mudah untuk diisi kembali.
Terlalu banyak memori dan walaupun sebagai umat beriman kita percaya bahwa yang kita kasihi sudah berbahagia di sisi-Nya, tetap saja hari demi hari tetap dilalui dengan tidak mudah.

Mungkin di tahun ini kita memulai sesuatu yang penting.
Pernikahan, punya anak, pekerjaan baru, yang semuanya indah dan menjanjikan.
Mungkin pula beberapa dari kita mengalami hal-hal yang menyedihkan.
Kegagalan, ditipu seseorang yang kita percayai, kemunduran dalam bidang finansial atau beberapa hal lainnya yang menyedihkan…

Apa pun yang sudah terjadi, kita yakini adalah yang terbaik dalam rancangan-Nya. Pahit di mata kita, belum tentu pahit selamanya. Tak jarang, itu adalah pelajaran yang paling berharga di kemudian hari yang tak pernah kita sangka-sangka.

Di Singapura, ada satu restoran yang cukup sering kami kunjungi.
Namanya Eighteen Chefs (di restorannya ditulis E18hTEEN CHEFS). Cabangnya ada di tiga mal di sini. Salah satu outletnya sering saya datangi karena bertepatan dengan menunggu anak kami kursus. Sesudahnya, bersama anak saya, cukup sering saya menikmati makanan yang nikmat dan pelayanan yang baik. Anak kami pun suka karena bisa mengambil air minum sepuasnya, menjadi satu kesenangan tersendiri bagi dia untuk bolak-balik ke termos air dingin dan membawa air ke meja makan.

Makanan yang disajikan kebanyakan tipe ‘western food’. Baked-rice with cheese, pasta, wafel with ice cream dan sebagainya. Saya hanya menikmati makanannya yang lezat tanpa tahu kisah penting di baliknya. Pemilik restoran ini, Benny Se Teo, baru saja mendapatkan penghargaan dari pemerintah Singapura sebagai Social Enterprise of the Year di tahun 2012 ini. Namun kisahnya yang inspirasional ingin saya bagikan kepada sahabat-sahabat semua:

Benny Se Teo is the founder of Eighteen Chefs, a three-chain restaurant staffed by ex-convicts and young people with troubled pasts. Teo himself struggled with heroin addiction from the age of 14, and was in and out of prison and rehab until his last release in 1993. He trained at Fifteen – the London restaurant run by celebrity chef Jamie Oliver – and started Eighteen Chefs in 2007.

Benny yang adalah pemilik Eighteen Chefs ini dulunya adalah seorang pecandu heroin yang mulai dari umur 14 tahun sudah keluar-masuk penjara dan pusat rehabilitasi, sampai dirinya betul-betul pulih di tahun 1993. Dia mendapatkan pelatihan di Fifteen, restoran di London yang dimiliki oleh ‘celebrity chef’ Jamie Oliver lalu kemudian memulai Eighteen Chefs di tahun 2007. Dan bukan itu saja, dia berusaha menampung para mantan narapidana dan orang muda yang masa lalunya bermasalah sebagai karyawan restorannya.



Setiap kali saya membaca latar-belakang dan kisah seperti ini, saya sering merinding. Terharu. Tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Setiap orang berhak atas kesempatan kedua, tak terkecuali siapa pun! Walaupun mereka adalah mantan narapidana yang mungkin dijauhi oleh masyarakat banyak.

Benny Se Teo dan Eighteen Chefs menyadarkan saya sekali lagi…
Meskipun mungkin di sepanjang tahun ini begitu banyak kejadian yang mungkin kurang mengenakkan, selalu ada harapan untuk jadi lebih baik di masa depan.
Dan harapan kita di dalam Tuhan tidak akan mengecewakan….
Kita percaya itu…
Sekelam apa pun masa lalu kita, selalu ada harapan di dalam Dia…

***

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat dikejutkan oleh jatuhnya anak kedua kami dari tempat tidur setinggi 60 cm. Syukurlah, tidak terjadi hal yang serius, hanya benjol sedikit di kepalanya. Sesudah itu, kami sekeluarga jadi lebih hati-hati dan diliputi kecemasan.

Sedang apa yang terjadi pada anak kami?
Dia tak ragu kembali ke tempat dia terjatuh tanpa rasa takut.
Walaupun kami jadi ekstra hati-hati jika dia kembali ke tempat itu…
Perasaan was-was masih mendominasi…

Apa yang saya pelajari?
Kita orang dewasa punya trauma, sehingga takut untuk memulai kembali.
Tetapi, anak-anak TIDAK.
Mereka punya keberanian untuk selalu mencoba lagi. Sesuatu yang patut ditiru dalam hidup untuk tidak mudah menyerah pada keadaan pahit kehidupan. Coba dan coba lagi di dalam Tuhan.

Akhirnya, apa pun yang kita alami di tahun 2012 ini kita percaya adalah baik di mata-Nya. Karena Dia punya gambaran yang sempurna akan kehidupan kita. Bagian kita hanyalah terus berusaha dan memberikan yang terbaik bagi-Nya.

Good bye bitter-sweet 2012 and let’s welcome 2013 in hope!
Have a very happy new year!



God bless.

Salam dari Singapura,
-fon-

Thursday, December 24, 2009

Catatan Akhir Tahun 2009



Akhir tahun kembali tiba, menyapa dengan ciri khasnya. Seiring desiran angin dan hujan yang sering mampir, entah itu di Jakarta dan di Singapura, tapi tidak terlalu sering terjadi di Saigon, saya ingin sekadar merekapitulasi apa yang telah terjadi sepanjang tahun ini. Sebagai ikhtisar, sebagai rangkuman, untuk pembelajaran bagi diri saya sendiri. Dan semoga juga bermanfaat bagi teman-teman yang membacanya.

Natal dan ‘Circle of friends’…

Secara geografis, memang saya telah berpindah negara. ‘Again’. Lagi. Hal yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, namun menjelma nyata. Ini perayaan Natal saya ke-empat di luar Indonesia. Dari tahun 2006, 2007, dan 2008, saya menikmati suasana Natal yang berbeda di Singapura. Dan tahun ini, di Ho Chi Minh City (HCMC). Rasanya tiap kali tentu saja berbeda. Karena tiap tahun di negeri orang, berisi adaptasi yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Misalnya tahun 2006, ketika baru saja sebulan di Singapura, tentunya daftar teman, kegiatan, atau apa pun di sana masih amat minim saya mengikuti misa Natal pertama saya di negeri Singa. Sama halnya dengan apa yang saya alami saat ini di Saigon. Bedanya kalau di Singapura, orang Indonesia banyak… Dengan mudah saya menemukan mereka di komunitas-komunitas di Singapura. Tetapi di Vietnam, jumlahnya tentu tidak sebanyak di Singapura dan walaupun sudah mendapatkan info dari teman saya soal ini, kami belum bertemu muka dengan anggota komunitas Indonesia di sini. Karena akhir tahun, masih banyak yang berlibur atau pulang kampung.

Intinya, perbedaan itu terasa. Kehangatan persahabatan juga masih redup karena saya belum kenal banyak orang di sini. Namun, saat-saat dalam adaptasi dan penyesuaian macam ini adalah waktu bagi saya untuk kembali mendekatkan diri kepada-Nya. Kembali sadar, bahwa tanpa Dia, saya tidak bisa apa-apa dan bukan siapa-siapa.

Banyak kali, saya dipertemukan dengan teman yang akhirnya menjadi akrab, tanpa terkira sebelumnya. Seolah tanpa disengaja. Padahal itu adalah rencana-Nya bagi kehidupan saya. Bagi kehidupan Anda rasanya juga begitu. Hey, don’t you think that the circle of friends that He has given to us is within His Perfect Plans as well?

Saya bersyukur untuk teman-teman yang saya jumpai. Entah di Singapura, entah di Vietnam yang baru berapa gelintir, dan banyak pribadi yang dekat di hati yang saya rindukan di Indonesia.

Catatan pertambahan teman ini juga saya dapati bahkan dari dunia maya. Lewat internet, lewat Facebook yang sementara ini masih dilarang di sini, lewat surat elektronik. Saya mendapatkan tambahan teman, yang tidak saya kenal sebelumnya, namun bersedia membaca dan mengomentari secara positif tulisan saya. Serta menyambut baik ide-ide yang saya tuangkan di dokumen ‘Word’ saya. Terima kasih, Anda juga sahabat saya. Walaupun kita belum pernah bertemu, namun saya merasakan ketulusan teman-teman semacam ini. Mereka yang mau berterima kasih kepada orang yang sepertinya kurang kerjaan, menulis tiap hari :) Tidak dikenal lagi :) Anda sungguh berperan besar sebagai motivator saya untuk tetap menulis.

Menulis dan tetap setia menulis…

Kembali ke soal menulis. Boleh saya katakan, ini adalah tahun terobosan dunia tulis-menulis bagi saya. Sebagai seorang ‘foreign institutional dealer’ (dealer saham untuk nasabah dari luar negeri) -posisi terakhir saya- setelah malang melintang dalam kurun waktu sepuluh tahun di perusahaan sekuritas, tak pernah terbayangkan pada akhirnya saya menjadi Ibu Rumah Tangga di negeri orang dan meluangkan waktu untuk menulis untuk pengisi kegiatan harian saya. Tetapi itulah yang terjadi dan harus saya akui, malah saya senang dengan kondisi sekarang ini. Karena ternyata saya menemukan bahwa menulis adalah ‘passion’ saya. Sesuai dengan kata hati saya. Walaupun belum ada buku yang diterbitkan secara solo karir. Tapi, puji Tuhan sudah ada satu buku bersama Domus Cordis (DC), berupa renungan harian wanita (RHW) ‘Treasuring Womanhood’ keroyokan bersama sembilan penulis wanita luar biasa yang bersama-sama berani mewujudkan impian kami. Kepada perempuan-perempuan dalam RHW: Mbak Avi, Angel, Annast, Ika, Lia Ariefano, Zhenny, Mungky, Suster Amanda, dan Yurika… Trimakasih sudah mengajakku bergabung dan tak lupa terima kasih juga buat Riko yang juga selalu mendukungku dari awal ‘Literature Ministry’ di Seksi Kepemudaan BPK KAJ sampai detik ini. God bless you always.

Dan satu buku sedang ‘on the way’ bersama kepala suku saya di satu blog penulis pemula. Saya bersyukur untuk terobosan ini. Mungkin belum spektakuler, tapi saya yakin, Tuhan memberkati benih-benih ‘passion’ di hati saya dan menjadikannya nyata. Thank God!

Dan satu catatan bagi saya pribadi yang amat penting bahwa kenaikan produktivitas penulisan saya yang cukup menggembirakan. Di blog saya ‘ Chapters of Life’ (http://fjodikin.blogspot.com/), sepanjang tahun 2009 sampai sebelum tulisan ini dimuat di sana, telah terdaftar sejumlah 130 tulisan sepanjang tahun ini. Dibandingkan dengan 7 tulisan di tahun 2006 (karena blog dimulai di akhir tahun), 32 tulisan di tahun 2007, 28 tulisan di tahun 2008, saya harus katakan ini satu pencapaian tersendiri bagi saya pribadi.

Semua ini dimungkinkan karena adanya motivator yang mempengaruhi saya. Blog Yuk Nulis, milis Yuk Nulis, Fan Page Yuk Nulis di Facebook, teman-teman Nulisers di tempat kos milik Bu Kos Genevieve Lini Hanafiah. Saya berterima kasih untuk semua kebersamaan kita lewat dunia maya yang amat membantu saya menulis lebih baik lagi. Dikomentari secara positif, diterima, diberi masukan yang amat berharga berupa sadar tanda baca dan EYD serta berusaha menggunakan bahasa kita yaitu Bahasa Indonesia dengan lebih baik lagi, merupakan satu babakan baru di dunia penulisan saya. Tanpa kalian, saya juga tak bisa membayangkan bahwa berkelana di dunia penulisan macam ini, bisa jadi sangat menyenangkan. Sangat ‘adventerous’. Trims sekali lagi buat Lini, Femi, Angel, Cie Grace, Mbak Henny, Mas Pam, Imel, Cie Hanna, Martina (Mbak Tina), dan semua nulisers yang tidak sempat saya sebut satu per satu di sini, yang membuat hidup saya semakin hidup dan heboh. Berselancar di dunia penulisan, jadi ‘exciting’. Gabungan antara menyenangkan dan menantang. Karena kami ditantang untuk lebih baik lagi. Mempersiapkan diri untuk menuliskan sesuatu yang layak baca dan dibacanya tidak sakit mata karena tanda baca yang teratur. Menulis lebih detil, karena menulis adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk menggambarkan kepada para pembaca apa yang ada di pikiran dan imajinasi. Lalu, menuangkannya dalam bentuk kata-kata. Dan bercanda serta bersenda gurau bersama. ‘Ngelawak’ dan ‘ngakak’ bareng. Trims untuk itu semua! Jauh dari kalian pun tak terasa jauh, koq.. (Lebay mode on wakakak…). Love u full :)

Di akhir tahun ini, saya hanya ingin menikmati pencapaian yang mungkin bagi sebagian orang biasa saja ini. Bagi saya pribadi, pencapaian sekecil apa pun adalah pencapaian juga. Saya bersyukur dan berterima kasih pada Tuhan. Dan saya hendak menikmatinya sejenak, lalu bekerja lebih keras dan belajar lebih baik lagi di tahun depan. Tak pernah terpikirkan bahwa hidup dalam apa yang diimpikan, hidup dalam apa yang dicintai secara tulus, hidup dalam menuruti kata hati yang terdalam, akan jadi begitu menyenangkan. Sekaligus butuh komitmen, keseriusan, dan kemauan untuk menjadi lebih baik. Lewat dunia penulisan, saya menemukannya. Dan saya yakin, Anda pun bisa menemukannya. Apa yang Anda rindukan, di mana Anda menaruh hati Anda di situ, dan berdoa kepada Yang Kuasa untuk bukakan jalan bila itu sesuai dengan kehendak-Nya.

Selamat Natal dan Tahun baru. Semoga di tahun baru mendatang, di tahun 2010, menjadi tahun yang lebih baik bagi kita semua. Menjadi tahun penuh pembelajaran untuk menjadi diri sendiri yang terbaik. Semoga tangan kasih Tuhan selalu menuntun kita semua, di mana pun kita berada. Amin.

HCMC, 24 Desember 2009

-fon-

* buat Lini dan temen-temen nulisers, sebenernya pengen nulis nama lengkapnya bu kos, tapi gak enak hati, ntar seluruh dunia tau…wkwkwkwk…Lop u pul :P


Foto: 'Cover' renungan harian wanita 'Treasuring Womanhood'