Wednesday, April 22, 2015

Oscar Chu-The Maestro (Taken From Asia's Got Talent)

Oscar Chu-The Maestro



Ada rasa takjub dan kagum, ketika melihat penampilan para semifinalis Asia's Got Talent.
Satu yang menarik perhatian saya di Kamis lalu adalah penampilan Oscar Chu, remaja asal Taiwan berusia 18 tahun yang memainkan 6-8 harmonika.
Jika dilihat dari penampilannya, juga menurut para juri, Oscar terlihat pemalu.
Namun, ketika dirinya memainkan harmonika, langsung berubah luar biasa seolah seorang Maestro (meminjam istilah seorang juri, Melanie C).

David Foster, salah seorang juri juga mengatakan bahwa apa yang dilakukan Oscar sungguh luar biasa.
Karena dia memakai 'a $10 instrument' dan menjadikannya sebagai suatu pertunjukan spektakuler karena dia memainkan Mozart pada penampilan semifinalnya.

Don't judge a book by its cover.
Sering kita menilai seseorang rendah hanya karena penampilannya.
Penampilan Oscar kurang meyakinkan, namun nyatanya kemampuannya jauh melebihi apa yang manusia pandang lewat mata kita.

Talent is important, but talent isn't everything.
Practice will bring it to perfection.
5 hours of hardwork everyday, practicing his harmonicas, eventually brought him to be the semifinalist of Asia's Got Talent.
I admire him. 
Oscar Chu, you're awesome!
Hope you can be in the grand final...


Itu yang saya tulis pada 'wall Facebook' saya.
Talenta itu memang penting, namun bukanlah segalanya.
Oscar Chu berlatih keras-5 jam per hari- sampai mencapai kemahiran semacam itu.
Bukan hanya ongkang-ongkang kaki dengan talenta yang ada, namun bekerja keras untuk mencapai impiannya.
There's no such thing as free lunch.
Selalu ada harga yang harus dibayar.
Untuk sukses, ada kerja keras yang mungkin orang lain tak pernah tahu (baca: bayangkan) sebelumnya.

Oscar Chu mengajarkan saya beberapa hal berharga di atas.
Semoga kita mengurangi penghakiman berdasarkan penampilan fisik seseorang.
Juga, senantiasa mengembangkan talenta yang Tuhan titipkan kepada kita dengan giat berlatih dan terus memberikan yang terbaik.
Semua hanya bagi kemuliaan nama-Nya.

22.04.2015
fon@sg
* masih menantikan semifinalis lainnya besok dan minggu depan, lalu Grand Final pada minggu berikutnya. Selalu suka dengan ajang 'got talent' semacam ini, yang sungguh menginspirasi diri saya pribadi. Berharap juga semoga Oscar bisa masuk ke Grand Final. Semoga:)



Friday, April 3, 2015

Urap (Selamanya Tetap di Hati)



Singapura, 16 Maret 2015

Di Kantin KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di Singapura, terdapat macam-macam makanan Indonesia yang membuat kangen.
Siang hari itu, kami bermaksud memperpanjang paspor, sekaligus makan siang di kantinnya tentu saja.
Setelah memesan gado-gado untuk dimakan di sana, mata saya masih terpaku pada sayuran urap yang cukup menggoda...
Akhirnya saya memutuskan untuk membungkusnya dan membawanya pulang...
Sudah lama saya tidak makan urap, karena kelapa parut segar tidak terlalu mudah didapat di pasar sekitar tempat tinggal kami. Walaupun beberapa tempat di Singapura menjual kelapa parut juga, karena banyak kue-kue basah yang membutuhkan parutan kelapa yang legit itu...

Pikiran pun melayang saat saya berada di kota kelahiran di Palembang.
Bik Umi, asisten rumah tangga keluarga kami yang setia itu, sering memasakkannya buat kami...
Saya pertama kali berkenalan dengan urap, lewat tangan Bik Umi yang masakannya cukup handal juga terutama makanan khas Indonesia...
Bik Umi setia luar biasa kepada keluarga kami...
Setia kepada Mama saya terutama, yang dia sayangi bak keluarga sendiri...
Kami pun demikian, karena total Bik Umi bekerja di rumah kami adalah sepanjang 30 tahun...
Sampai beliau berpulang untuk selamanya di bulan Agustus tahun 2012 yang lalu karena sakit jantung...

Entah mengapa rasa sentimental cukup memenuhi hati saya hari ini...
Saya teringat kembali sebuah rasa khas makanan yang diolah dari tangan seorang yang sudah kami anggap keluarga sendiri...
Urap membawa kenangan...
Juga sensasi rasa kangen yang meluap...
Akan sebuah keluarga yang Tuhan berikan kepada saya...
Akan Bik Umi yang Tuhan perkenankan masuk dalam lingkaran keluarga kami...
Juga mengingatkan saya akan arti kesetiaan...
Urap hari ini mengajarkan saya juga, betapa kita sering menganggap sesuatu adalah hal yang remeh.
Take something as a granted...
Setelah tak lagi memiliki kesempatan mengecapnyanya, barulah manusia menghargainya lebih lagi.
Tak jarang menyesali bahwa dulunya kurang apresiatif terhadap apa yang ada...

Sepiring urap terhidang di depan mataku...
Suapan demi suapan, ia masuk ke mulutku...
Tanpa terasa, air mata menetes perlahan...
Rasa kangen terobati sudah...
Pada urap ada kesetiaan, keikhlasan berkorban dari Bik Umi...
Sebuah pelajaran berharga yang sulit didapat dalam hidup...
Namun, kubersyukur pernah menjadi saksi atasnya...
Bik Umi, semoga kau tenang di sana!
Tuhan terimalah Bik Umi, juga papaku yang sudah berpulang ke pangkuan-Mu dua puluh tiga tahun yang lalu...
Terima kasih, sudah memperkenankan mereka masuk dan menjadi bagian hidupku...
Selamanya tetap di hatiku.

03.04.2015
fon@sg

Friday, March 20, 2015

Being Mom: Aller Anfang Ist Schwer

Aller Anfang ist schwer.
Idiom atau pepatah dalam Bahasa Jerman ini pertama kali saya dengar dari Guru Bahasa Jerman saya, Pak Suwignyo saat saya masih bersekolah di  SMA Xaverius 1 Palembang.
Aller Anfang ist schwer kurang lebih berarti: the first step is the hardest part- all beginnings are difficult,  yang intinya kurang lebih: langkah pertama adalah yang tersulit.

Saya tidak 100% menyadari hal itu...
Namun, ketika saya kilas balik, pastinya pernah merasakan hal yang demikian...
Mari kita ingat lagi, saat pertama masuk SD, mungkin waktu itu terasa menyenangkan walaupun berhadapan juga dengan kesulitan...
Dan jenjang-jenjang pendidikan yang semakin naik, tentunya semakin sulit pula yang harus kita dihadapi...
Bagi yang pertama kali memasuki area 'parenthood'...
Tentunya merasakan kalau punya anak yang pertama kali dipenuhi kekuatiran berlebihan, terutama dikarenakan kebingungan karena belum terbiasa punya Si Kecil...
Anak kedua dan berikutnya, menjadi lebih mudah, karena kita sudah beradaptasi...

Yang paling terasa bagi saya, saat kami sekeluarga harus pindah ke suatu negara baru.
Tuhan memberikan kami sekeluarga kesempatan untuk menikmati negara Vietnam, tepatnya di kota Ho Chi Minh City dari tahun 2009-2012.
Dari Indonesia pindah ke Singapura, tentunya pasti ada adaptasi.
Dari Bahasa tidak terlalu terasa, karena di sini Inggris patah-patah campur bahasa Melayu yang mirip Bahasa Indonesia itu masih bisa diterima.
Kecuali berhadapan dengan mereka yang berasal dari negeri Cina, agaknya tidak perlu menggunakan bahasa Mandarin..
Yang lebih terasa saat kami pindah dari Singapura ke HCMC.
Kendala Bahasa, bagi saya sungguh terasa.
Sehingga mau tidak mau, saya mengambil kursus bahasa Vietnam selama 3 bulan, untuk setidaknya berkomunikasi ketika harus naik Taksi atau berbelanja di Pasar.
Karena tidak semua pasar seperti Ben Thahn Market yang tersohor bagi para turis, yang penjualnya fasih berbagai Bahasa. Termasuk Indonesia.
Teringat pula, ketika masuk di pasar tersebut, mereka berseru, " Murah... murah..."
Karena banyak turis dari Indonesia dan Malaysia juga yang mengunjunginya...
Banyak kali, hanya bahasa Vietnam yang dipergunakan di banyak tempat di HCMC.
Kecuali di Distrik 1 (Quan 1), yang terkenal dengan daerah turis di mana Bahasa Inggris cukup umum dipergunakan...

Yang paling anyar dari proses belajar saya sebagai seorang Ibu adalah 'baking.'
Membuat kue bagi keluarga terkasih, anak-anak tercinta, terutama saat ulang tahun.
Di Singapura, kue ulang tahun harganya terbilang mahal dan variasinya tidak banyak.
Jika ada, harganya pasti mahal.
Atas 'request' anak-anak, saya pun belajar 'baking'.
Jujurnya, ini keluar dari zona nyaman saya.
Saya lebih memilih mengetik keyboard dan menulis berjam-jam, ketimbang menghabiskan waktu untuk 'baking.'
Yang pernah tahu saya di masa lalu, pastinya bingung karena dulunya saya paling anti masuk dapur dengan alasan mau praktis.
Tetapi, sekarang akhirnya berubah:)
Permulaannya terasa berat, untuk melangkahkan kaki ke dapur dan mulai membuat kue.
Setelah sebelumnya menganalisa dan memantau ratusan resep yang bertaburan di jagad internet...
Perlahan tapi pasti, mulai timbul sedikit demi sedikit rasa percaya diri...
Setelah beberapa kali uji coba dan kata yang mencicipinya rasanya cukup bisa diterima...
*senyum terkembang di sudut bibir. Bahagia.*

Tantangan yang terberat, membuat kue ulang tahun untuk anak pertama kami, akhirnya saya jalani.
Butuh keberanian, juga survey yang besar untuk membuat cake ulang tahunnya.
Kami pilih bertema bunga mawar 'rosette', lalu sekelilingnya saya letakkan coklat 'kit kat', dan coklat kecil M&M's. Lalu, saya ikat dengan pita biru dan di atasnya ada tiga ballerina sedang 'unjuk gigi' di atas kue...

Sedang untuk 'cupcakes'-nya...
Masih bertema 'Rosette', dengan taburan macam-macam 'sprinkles' di atasnya, termasuk mutiara...
Rasa lelah ketika harus mengerjakan kue itu seharian, terbayar dengan wajah bahagia Odri yang berkata, " Mommy, I'm so proud of your hard work. And they're so pretty, like from the shop."
Saya bahagia. Kerja keras terbayar dengan ungkapan kasihnya.
Seperti bakery? Saya kira masih jauh hehehe...
Tapi, saya senang, setidaknya ada juga hasil dari perjuangan sekian lama memantengi resep dan melakukan uji-coba.

Aller anfang ist schwer.
Yah, mungkin awalnya sulit...
Tapi, sekali lagi, tidak ada kata mustahil bagi mereka yang berusaha dengan giat...
Juga yang menyandarkan kekuatannya kepada Sang Maha Kuasa...
Saya mungkin belum bisa, tapi saya mau belajar-demi kasihku kepada anak-anakku- dan setelah itu Tuhan buka jalan...
Kadang salah, kadang bantet, kadang gosong, yah.. itu resiko seorang pemula yang baru belajar 'baking', tapi saya menikmatinya sebagai bagian dari proses belajar yang tak kunjung henti sepanjang hidup saya...

Kini, saya tengah mempersiapkan kue kedua bagi anak kedua kami yang juga lahir di Bulan Maret...
Semoga berhasil, ya...
Saya akan sharing hasilnya beberapa hari ke depan:)

Selamat malam semua...
Senang berbagi kisah ini dengan Anda, para sahabat semua...

20.03.2015
fon@sg

Saturday, January 31, 2015

Life is A (Beautiful) Struggle



Di sebuah tempat pijat refleksi di bagian Barat Singapura beberapa bulan yang lalu...

Seorang Bapak yang bertugas memijat kaki saya pagi itu bercerita kalau banyak rekan sekerjanya berasal dari Johor Bahru (JB)-Malaysia.
Setiap pagi mereka sudah harus berangkat pukul 8 pagi untuk kemudian melakukan perjalanan ke Singapura. Hal ini dimungkinkan memang, karena orang Malaysia cukup diterima untuk bekerja di Singapura.
Setelah itu sekitar 2 jam, dia harus menempuh perjalanan via bus lewat perbatasan JB-Singapura. Harus ganti sekitar 2-3 kali bus untuk sampai ke tempat kerjanya.

Sesampainya di tempat kerja, Si Bapak harus mulai bekerja pukul 11 sampai sekitar pukul 18.30, untuk kemudian buru-buru pulang untuk mengejar bus ke JB. Sampai JB paling cepat sekitar pukul 21.00, bisa lebih dari itu.
Setiap hari dia lakukan itu.
Kalau mujur, ujarnya, perjalanan pulang-pergi itu bisa ditempuh sekitar 4 jam.
Kalau tidak, misalkan karena hujan atau macet, dia harus berada di jalan sekitar 5 jam.

Saya terdiam.
Belum lagi pekerjaannya yang menguras tenaga.
Memijat kaki orang-orang.
Belum lagi 'complain' dari beberapa pelanggan yang mungkin kurang puas dengan pelayanannya...
Sungguh bukan pekerjaan yang mudah...

Saya merenung...
Terlalu gampang bagi saya, bagi kita, untuk melihat mudahnya saja di hidup ini.
Lihat kemewahan yang diumbar terlalu berlebihan...
Lihat yang enak itu biasa sebetulnya, karena jarang pula orang akan posting hal-hal yang terlalu menyedihkan di hidupnya di sosmed...
Meskipun kita pastinya pernah lihat berita-berita duka, namun pastinya lebih banyak yang ditonjolkan adalah suka-nya dan hepi-hepinya...

Saya belajar...
Untuk lagi-lagi mengurangi 'complain' dalam hidup..
Tiap orang punya masalahnya sendiri, kawan!
Mungkin kamu gak pernah tau, kamu gak pernah ngerti...
Mereka mungkin gak pernah 'share' kisahnya padamu...
Tapi, begitu banyak sebetulnya orang-orang yang kesulitan di sekeliling kita...
Mereka yang tertimpa kemalangan...
Kena PHK tanpa pesangon dan berbulan-bulan tak dapat kerja...
Mereka yang tengah berhadapan dengan anggota keluarga yang sakit parah dan butuh biaya luar biasa sampai jual rumah segala...
Mereka yang harus berhadapan dengan kesepian dan kesendirian, meskipun berlimpah harta...
Ini yang menurut Bunda Teresa merupakan kemiskinan yang terselubung yang bahkan jumlahnya cukup banyak juga...
Mereka yang sungguh butuh biaya sekolah, biaya buat beli susu buat anaknya, sementara segala usaha sudah dilakukan namun memang pintu rezeki seolah masih belum terbuka luas bagi mereka...

Hidup itu perjuangan, Sobat!
Jika hari ini hidupmu tengah bahagia, syukurilah...
Berbagilah jika memang ada dorongan dari hati kecilmu untuk melakukannya...
Sekecil apa pun itu, tetapkanlah hati untuk sebuah bantuan yang tulus dan penuh keikhlasan..
Jika memang bisa berbagi sesuatu yang lebih besar...
Menyediakan lapangan pekerjaan...
Memberikan kail dan bukan ikan...
Sungguh itu akan lebih baik lagi pastinya:)

Hidup itu perjuangan...
Yes, that's so true indeed...
Seringan apa pun itu, pasti ada sebuah perjuangan di balik kesuksesan seseorang...
Tak jarang, perjuangan itu sungguh berat dengan perjalanan yang berliku...
Yang kita lihat hanyalah enaknya saja, kesuksesan yang sudah menyapanya...
Tanpa pernah tahu, berapa banyak air mata yang sudah membanjiri setiap malam-malamnya...
Menangisi kegagalan demi kegagalan yang pernah menghampirinya...
Sampai akhirnya, jalan yang terbentang luas menuju kesuksesan itu terbuka...
Dan bukannya tidak mungkin, dalam hitungan hari, hitungan detik...
Kesuksesan itu bisa berbalik arah...
Roda kehidupan terus berputar, bukan?

Saat sukses, ingatlah akan Dia...
Tuhan yang menjadikan segala sesuatunya...
Segala usaha dan jerih payah kita dimungkinkan untuk sampai tahap ini, karena-Nya...
Janganlah sombong, jauhkanlah diri dari tinggi hati..
Sukses pun itu sementara...
Selayaknya segala sesuatu yang ada di dunia...

Kembali saya ingat wajah Si Bapak...
Perjuangannya...
Pengorbanannya...
Demi sesuap nasi dan 'ngebul'-nya dapur keluarga...
Saya merasa diri sangat kecil...
Sering mengeluhkan banyak hal...
Padahal begitu banyak yang harusnya bisa saya syukuri...

Hidup itu perjuangan..
Semoga itu menjadi sebuah perjuangan yang indah...
Life is a beautiful struggle...
Semoga kita semua terus berjuang untuk hidup benar di jalan-Nya...
Terus berjuang sampai garis akhir nanti...
Tetap semangat, tetap bersyukur, tetap berbagi...
Semoga kasih-Nya selalu menaungi hati kita semua...
Salam damai dan selamat berakhir pekan dengan yang terkasih, Sahabat!

31.01.2015
fon@sg
* sudah diposting di Blog Chapters of Life http://fjodikin.blogspot.sg/2015/01/life-is-beautiful-struggle.html

Saturday, January 10, 2015

Bersyukur Untuk Hari Ini

Waktu terasa begitu cepat berlalu.
Hari ini, gak terasa, kita sudah memasuki hari ke-11 di bulan Januari.
Mungkin kita masih mengingat indahnya tahun baru yang kita lewati bersama yang terkasih.
Mungkin juga, kita masih begitu terlarut pada kedukaan yang baru saja kita alami di tahun 2014.
Namun, itu semua, kita jadikan masukan dan pelajaran yang paling berarti bagi sekolah kehidupan kita di dunia ini...

Hari ini...
Hmmm...
Apa yang bisa kulakukan?
Apa yang semakin mendekatkanku pada impian...?
Dan juga, pada tujuan Sang Pencipta membawaku hidup di dunia ini?

Hari ini...
Aku menjadi seperti sekarang ini...
Karena proses yang kulalui sebelumnya...
Karena naik-turunnya kehidupan...
Terkadang pula berliku...
Untuk kemudian semakin mendewasakanku...

Hari ini...
Aku takkan lagi berkubang dalam kesedihan untuk menangisi masa lalu...
Aku akan belajar lebih tegar...
Aku akan berusaha untuk memandang segala sesuatunya...
Dalam kacamata iman kepada-Nya...
Sedih, duka, pasti pernah kita alami...
Rasa syukur bukan berarti menentang itu semua...
Namun, belajar untuk menerima kenyataan...
Dengan ikhlas...
Belajar pula untuk melangkah dalam ketabahan...
Sembari seluruh doa kita panjatkan...

Hari ini...
Kulihat pula banyak yang menderita di sekelilingku...
Ketidakadilan masih menjadi-jadi...
Perikemanusiaan masih kurang dipedulikan...
Sehingga terkadang, nyawa manusia begitu gampang hilang...
Hanya karena hal-hal yang seolah sepele dan tak penting...

Hari ini...
Kusadari betapa pentingnya menerima perbedaan...
Sebagai faktor yang tak mungkin kita jadikan sama...
Bahkan saudara kembar pun punya perbedaan...
Itu karena kita semua diciptakan unik adanya...
Tindakan memaksakan penyeragaman...
Entah dari sudut pandang mana pun...
Adalah hal yang sebetulnya tidak mungkin dilakukan...
Aku adalah aku...
Kamu adalah kamu...
Saling menghargai...
Saling menghormati...
Toleransi...
'Respect' kepada orang lain...
Senantiasa berusaha menerima perbedaan...
Bukan memaksakan kehendakku atasmu...
Bukan pula soalan menang-kalah...
Untuk kemudian menentukan siapa yang nanti akan berkuasa...

Hari ini...
Izinkan aku untuk bermimpi...
Untuk suatu dunia yang damai...
Yang indah...
Yang penghuninya saling menghormati...
Saling menghargai...
Yang kehidupan satu sama lainnya diisi toleransi...
Sehingga dunia menjadi semakin indah untuk kita diami...

Hari ini...
Adalah gabungan pengalaman dari hari-hari sebelumnya...
Dan apa yang akan kubuat hari ini?
Apa yang akan Anda lakukan hari ini?
Semoga itu semua menjadikan hidup ini semakin berarti...

11.01.2015
fon@sg

Sunday, December 28, 2014

Pribadi Yang Tahu Diri

Hellow temen-temen semua...
Kali ini, di penghujung tahun ini, aku bakal menuliskan sesuatu yang sudah lama ingin kutuliskan.
Kalian tentunya pernah 'kan, melihat acara pencarian bakat semisal Indonesian Idol, American Idol, atau yang dulu-dulu pernah tahu AFI. 
Pastinya pada saat audisi, kita pernah 'tuh melihat beberapa peserta audisi yang merasa super PD (Percaya Diri) dengan kemampuan mereka.
Sehingga, bila tidak diterima oleh jurinya untuk lolos babak kualifikasi, mereka merasa marah.
" Gue 'kan bagus gini nyanyinya, koq bisa gak diterima? Itu juri pada salah kali kupingnya!"

Tak jarang, kita lihat mereka dengan mencak-mencak dan marah-marah, meninggalkan ruang audisi.
Dan, ketika diwawancara, ternyata mereka masih menyisakan sakit hati yang tak terselesaikan.
Terkadang  sambil memaki, marah, menangis, mereka berlalu dari kamera yang menyorot mereka.

                                                                        ***

Saat ini, saya koq terbayang lagi ya, tontonan waktu itu...
Akhir tahun, agaknya menjadi saat yang cukup tepat juga untuk kembali lagi merenungkan..
" Apakah saya sudah jadi pribadi yang tahu diri?"
Bisa menempatkan diri saya pada kemampuan saya sesungguhnya, bisa menerima kritik, dan bisa memaksimalkan talenta yang diberikan-Nya kepada saya?
Mungkin sulit. Mungkin jalan yang harus kita lalui berliku.
Untuk menerima kenyataan bahwa saya tidak sebaik yang saya kira, agaknya bukan pekerjaan mudah.
Terkadang pula, kita malah diliputi rasa minder, rasa tak bisa menerima diri, perasaan tak sebanding atau tak sebaik orang lain...

Ini adalah PR (Pekerjaan Rumah) buat saya pribadi.
Menjadi PR seumur hidup bagi saya yang sadar juga bahwa begitu sering saya berbangga untuk sedikit perbuatan baik yang saya lakukan. 
Sebaliknya, pura-pura lupa atau tak peduli pada perbuatan buruk yang pernah saya lakukan.
Begitu sering pula saya merasa diri begitu kecil, tidak layak, minder, dan sebagainya.
Untuk benar-benar menerima diri apa adanya, memang bukan pekerjaan yang langsung bisa kita lakukan.
Butuh perjuangan, butuh untuk terus-menerus mohon kasih Allah untuk mempu mengasihi diri sendiri dan tidak menyalahkan siapa-siapa atas keberadaan kita di dunia ini...
Karena keberadaan kita bukanlah kebetulan, itu atas rencana-Nya.
Sepantasnyalah kita mensyukuri keberadaan diri kita.
Berani pula melihat diri sendiri dengan obyektif (berusaha).
Jika memang ada bakat terpendam, bisa digali, untuk kemudian memberikan yang terbaik bagi sesama kita.
Jika memang tidak atau belum baik di suatu bidang tertentu, yang walaupun begitu kita sukai, tetap belajar untuk lebih baik... Namun, tetap pula melihat dengan obyektif, sampai di mana kemampuan kita.
Tidak memaksakan diri, tidak pula memaksakan orang lain untuk mengakui kehebatan kita.
Jika memang kita dinilai baik, bersyukurlah, bahwai itu adalah anugerah Yang Kuasa.

Di akhir tahun ini, sekaligus resolusi tahun baru nanti, saya pribadi ingin menjadi pribadi yang lebih tahu diri.
Tahu bersyukur, tahu berterima kasih.
Tahu pula kelemahan saya dan terus berusaha memperbaiki diri...
Tahu bahwa ketika banyak anugerah yang diberikan pada hidup saya, itu hanyalah karena kasih dan kebaikan-Nya semata...
Tahu dan sadar, bahwa tanpa Tuhan, saya bukan siapa-siapa.
Belajar untuk tidak Sok Tau, bahwa hanya Tuhanlah Yang Maha Tahu.

Eh, gak terasa, tau-taunya kita udah mau taon baruan...
' Met menyambut lembaran tahun baru, dengan kesadaran diri yang lebih baik...
Dengan menjadi pribadi yang tahu diri...
Tahu bersyukur kepada Yang Ilahi.

29.12.2014
fon@sg

Sunday, November 16, 2014

Smile to the Beautiful Morning


Tidak setiap pagi menyenangkan…
Banyak kali, pagi itu adalah hari yang mengecewakan.
Sisa semalam, seminggu yang lalu, atau setahun kemarin….
Duka yang masih ada, luka yang masih menganga…

Ada kalanya rasa kantuk masih begitu membelenggu dan sukar untuk dilawan.
Seperti pagi itu.
Beautiful?
Halahhh
Sungguh iklan bakery itu benar-benar seolah mengejekku.
Tulisan itu berbunyi : “ Smile to the beautiful morning.”
Padahal, aku tahu.
Maksud mereka tentunya baik.
Lagian, siapa juga yang tidak ingin paginya indah?
Tidur nyenyak, mungkin mimpi bertemu pangeran pujaan hati bagi mereka yang jomblo, mimpi naik pangkat, punya mobil keren…
Dan, bangun pagi dengan kesegaran prima.
Maunya setiap hari seperti itu.
Maunya, sih
Nyatanya?
Seperti pagi itu…
Atau pagi-pagi yang lain…
Terkadang begitu sulit untuk mengucap syukur akan datangnya pagi.

Dalam 365 pagi, atau 366 pagi di tahun Kabisat…
Berapa persen sih, yang membuat senyum kita sumringah?
Atau, kalau sulit dihitung dengan persentase, berapa hari yang begitu sesuai dengan impian kita?
Mungkin pertengkaran dengan pasangan-entah suami atau istri- yang belum selesai semalam.
Mungkin anak yang tengah tidak enak badan, sehingga tidur kita pun tak nyenyak…
Mungkin tumpukan deadline pekerjaan di kantor yang bikin seolah diburu-buru tiap pagi…
Mungkin kemacetan Jakarta yang harus diperjuangkan untuk dilalui setiap hari…
Mungkin stres ujian bagi mahasiswa atau pelajar..
Berjuta kemungkinan yang bisa kita hadapi hari itu…
Berjuta kemungkinan yang seolah merenggut indahnya pagi dari diri kita…

Padahal, di bawah segala tekanan itu tadi, apakah jadinya pagi itu tidak indah?
Apa jadinya tidak ada sama sekali kebaikan atau keindahan di dalamnya?
Atau, apa kita yang seolah ‘tertutupi’ atau ‘terbutakan sementara’ akan indahnya pagi karena permasalahan yang mendera, sehingga membuat kita tak bisa mensyukuri kehadirannya?

Seburuk apapun, pagi ini kita masih bernafas.
Itu berarti masih ada harapan untuk menjadi lebih baik.
Seburuk apapun, pagi ini kita masih bisa menjalani peranan atau pekerjaan kita…
Mari usahakan yang terbaik yang kita bisa…
Seburuk apapun, masih ada keindahan yang patut disyukuri.
Sehingga, pagi ini dan pagi-pagi berikutnya yang masih dianugerahkan-Nya pada kita,  semoga senantiasa kita syukuri…
Tak lagi aku mengeluh.
Perlahan tapi pasti, senyuman mulai mengembang di sudut-sudut bibirku…

It is indeed a beautiful morning!
And there’s always a reason to smile.
As soon as I smile,  I can feel a wonderful shade of happiness gradually fills my heart.
Yes, I’m grateful for this beautiful morning.
Thanks be to God!

Seolah alam pun memancarkan keindahannya yang terbaik pagi itu.
Sesudah hujan, pelangi menghiasi langit biru.
:)



Singapore, 16.11.2014
fon@sg
*inspirasi dari iklan Breadt*lk  yang belakangan sering dipajang di outlet-outletnya…