Friday, April 27, 2012

Di Sudut Kecil di Kamarku




Di sudut kecil di kamarku
Aku bersujud
Kuangkat doa syukurku bagi-Mu
Terima kasih  atas segala kebaikan-Mu
Yang tak pernah sanggup kusebutkan satu per satu

Di sudut kecil di kamarku
Aku bersujud
Menyerahkan seluruh resah dan gelisah
Yang sempat menggores di jiwa
Yang kulakukan hanya berserah
Percayakan hidupku seutuhnya kepada-Mu

Di sudut kecil di kamarku
Aku menyembah
Kepada Yang Maha Kuasa
Sang Sutradara setiap episode kehidupanku
Hidupku aman di tangan-Mu

HCMC, 27 April 2012
-fon-

Tuesday, April 24, 2012

While You’re Sleeping




Tidurlah, Nak…
Dalam buaian kasih ibumu.
Walau perginya ayahmu, tak seorang pun tahu.
Cantiknya wajahmu, manisnya senyummu
Takkan pudar dalam ingatanku…

Tidurlah, Nak…
Meski masa depan nampak tak pasti bagimu
Bersama Tuhan dan orang-orang yand peduli padamu
Kutetap yakin…
Hadirmu di sini bukanlah kebetulan

Dunia boleh menilai itu seolah keterpaksaan
Ada yang bilang engkau adalah kesalahan
Bagiku…
Jika Tuhan sendiri yang mau menghadirkanmu
Takkan pernah ada kata keliru…

Tak seorang pun yang mau memilih tak diasuh ayah-ibu
Tetapi jika memang itu yang terjadi padamu
Aku percaya, tangan-Nya tak kurang panjang
Untuk menopang dan mengasihimu
Beruntung masih bisa dirawat ibumu

Saat kau tidur, Nak…
Kecantikan dan ketampanan kalian tetap terlihat
Kasih Tuhan terasa begitu dekat
Biar Dia yang memelukmu
Menghiburmu…

Setidaknya setiap detak jantungmu
Masih memberi arti bagi hidup dan kehidupan
Yang diperuntukkan bagimu…
Kupercaya, Tuhan akan selalu lindungimu…
Di sepanjang waktu…

HCMC, 24 April 2012
-fon-
* seusai kunjungan ke Panti Asuhan tempat anak-anak tanpa ayah dirawat. Ibu dan bayi masih tinggal bersama. Para Ibu diterima juga di sini…Tuhan, kasihanilah…Dan maafkan kami yang kurang berterima kasih atas anugerahmu…Kini saatnya bersyukur kembali kepada-Mu. 

Monday, March 12, 2012

30 Menit Menjelang Pagi


30 Menit Menjelang Pagi

Aku berjalan agak lambat.

Hari itu, aku memiliki waktu untuk datang ke misa harian di Saigon Notre Dame Cathedral di pusat kota Ho Chi Minh City. Biasanya kesibukan menjaga bayi yang tak tentu waktu bangun atau tidurnya, membuatku kesulitan untuk menghadiri misa pukul 05.30 pagi itu. Bergegas aku pergi, menikmati misa harianku dan menyampaikan salamku pada-Nya di pagi itu.

Dinginnya pagi sungguh terasa. Hembusan angin cukup kuat akhir-akhir ini.

Demikian pula pagi itu. Kueratkan sweater-ku, kutuju gereja.

Semua masih gelap. Matahari tak menunjukkan tanda-tanda akan terbit. Kumasuki gereja. Misa belum dimulai, sekitar lima menit lagi rasanya. Misa harian, semuanya dalam Bahasa Vietnam, yang masih belum kukuasai dengan baik sampai hari ini. Hanya untuk bicara dengan pengemudi taksi atau menawar harga, masih okelah. Tetapi, jika harus mengerti firman Tuhan atau khotbah Romo dalam Bahasa Vietnam, rasanya masih jauh :).

Kuikuti misa dengan khusyuk. Terima kasih, Tuhan atas kesempatan ini!

Selesai misa, hampir pukul 6 pagi. Matahari sudah mulai terbit. Entah tepatnya jam berapa, mungkin 05.45? Atau 05.50? Entahlah, aku tak tahu pasti. Yang pasti, malam gelap segera berganti cerianya pagi. Ketika mentari bangun dari peraduannya dan mulai beraktivitas lagi.

Terlintas dalam pikiranku…

Sering, kita putus asa dalam kehidupan karena ‘kegelapan’ yang tengah kita hadapi. Mungkin bentuknya permasalahan, pergumulan, ataupun kegagalan. Terkadang, kita pernah berpikir untuk berhenti. Mengakhiri saja semuanya ini. Padahal, kalau saja kita mau menunggu sebentarrrr lagi, 15, 20, atau 30 menit lagi (read: satu hari, dua bulan, atau tiga tahun lagi, dst…). Mungkin saja saat-saat itulah mentari kembali menyinari kehidupan kita, kegelapan akan sirna, berganti ceria… Terlalu sering, kita tak sabar menanti keindahan janji-Nya… Dengan menyerah, kita tak pernah tahu bahwa akan ada kehidupan yang lebih baik yang sudah Dia janjikan dalam sekejap mata…

Maka, ketika kegelapan tengah melanda..

Tetap berusaha, tetaplah berdoa…

Ya Tuhan, kuatkan hamba…

Dan semoga ketika Sang Mentari terbit kembali dalam hidupku,

aku tetap berkesempatan melihatnya bersama-Mu,

karena aku tak menyerah dan terus memberikan yang terbaik bagi-Mu…

Pulang ke rumah.

Kurasa harapan baru penuhi hatiku.

Terima kasih, Tuhan untuk pagi ini. Semua hanya karena kebaikan dan anugerah-Mu saja.

Selamat pagi, Tuhan. Selamat pagi, dunia!

HCMC, 12 Maret 2012

-fon-

* catatan singkat dari misa hariannya di minggu lalu.. Baru sempat kutuliskan hari ini.

Wednesday, March 7, 2012

Celebrating My Womanhood



Sudah dua tahun lebih saya di Vietnam.

Setiap tanggal 8 Maret, saya melihat begitu banyak bunga bermekaran dalam bentuk rangkaian bunga saat hari ini tiba. International Women’s Day atau Hari Wanita Internasional, agaknya memang dirayakan cukup signifikan di sini.

Mengapa saya tercipta sebagai perempuan?

Mungkin banyak perempuan mempertanyakan hal itu, termasuk diri saya ketika saya masih kecil dulu. Seiring berjalannya waktu, perlahan-lahan saya menemukan jawabannya. Bagi saya, tiada yang lebih indah menjadi seorang perempuan karena Tuhan seperti itulah menciptakan saya. Itulah yang diinginkannya di dunia ini. Peran yang dipilihkan-Nya bagi saya.

Sebagaimana Dia menciptakan kaum Adam, kaum Hawa pun diciptakan-Nya.

Dengan menjadi perempuan, saya merasakan beberapa ‘hak istimewa’ yaitu mengandung, melahirkan, dan menjadi seorang ibu. Meski beberapa perempuan belum merasakan hal itu, tetapi secara umum, tentunya ini adalah ‘privilege’ yang diberikan oleh-Nya bagi kita, kaum wanita. Upaya untuk menyangkal kebenaran bahwa Tuhan menciptakan saya sebagai perempuan, akan membawa kesedihan yang mendalam. Tentunya, di banyak kasus, terdapat pula kenyataan bahwa ada beberapa faktor yang menjadikan seseorang tidak bisa menerima keberadaan dirinya –laki-laki atau perempuan- yang memang tak terhindarkan. Tetapi, sesungguhnya mengingkari kenyataan yang ada adalah betul-betul melelahkan. Dengan berupaya menerima, tentunya akan banyak pula anugerah yang terlihat dan dirasakan. Upaya penolakan, akan membawa luka dan kesakitan, yang sungguh membutuhkan penyembuhan. Dan tiada lain, tiada bukan, yang bisa menyembuhkan adalah Tuhan sendiri.

Di hari ini, saya bersyukur karena tercipta sebagai perempuan. Dikaruniai-Nya seorang suami dan dua orang puteri, hidup saya sebagai perempuan terasa indah karena sudah mengalami fase-fase sebagai istri, sebagai ibu, bahkan sempat merasakan sebagai wanita pekerja di Indonesia (wanita karier). Saya sadar, ini semua hanyalah karena kebaikan-Nya. Rasa syukur sebagai perempuan, saya haturkan kepada Tuhan. Saya pun mendoakan agar kaum Hawa merayakan keperempuanannya (womanhood) sebagai perwujudan syukur dan terima kasih kepada Tuhan dengan menjalankan peran apa pun yang diberikan-Nya saat ini kepada kita dengan sebaik-baiknya. Entah sebagai remaja puteri yang masih kuliah, wanita bekerja, ibu rumah tangga, ibu + wanita karier, profesional, business-woman, juga untuk mereka yang dipanggil secara khusus untuk membiara… Hendaknya kita semua memberikan yang terbaik bagi kemuliaan-Nya saja.

Hari ini dan seterusnya, mari syukuri bahwa Dia sungguh mencintai kita. Apa adanya. Dia menginginkan kita jadi perempuan yang seutuhnya, seperti yang sudah Dia rencanakan dari semula…

We thank You for this wonderful role, God! Menjalani kehidupan sebagai seorang wanita adalah salah satu berkat terindah dalam hidupku. Happy Women’s Day for all women out there!

HCMC, 8 Maret 2012

-fon-

Thursday, March 1, 2012

Treadmill



A treadmill is a device for walking while staying in the same place. Menurut informasi yang saya terima dari Oom Wiki alias Wikipedia di sore hari yang cukup terik di Ho Chi Minh City ini, treadmill adalah sebuah alat untuk berjalan sekaligus berada di tempat yang sama. Agaknya, teman-teman amat familiar dengan alat yang satu ini. Sekaligus pernah juga bahkan mungkin sangat akrab dengannya. Dia sering dipakai di tempat fitness, bahkan beberapa orang pencinta kebugaran pun memilikinya di rumah.

Beberapa waktu yang lalu saat di fitnes, saya memilih treadmill daripada kelas-kelas kebugaran. Sebagai bentuk variasi latihan yang sesekali saya lakukan di tengah kesibukan mengurus anak dan keluarga. Di atas treadmill itu, saya terpikir bahwa terkadang hidup pun bisa seolah tak bergerak ke mana pun. Setelah semua usaha yang dilakukan, masih saja seolah jalan di tempat. Ya, seperti kala berada di atas treadmill ini. Treadmill ada batas waktunya, terkadang malah ketika harus berbagi dengan pengunjung pusat kebugaran lainnya di jam-jam sibuk alias ‘peak hours’, tak jarang kita dijatah hanya 30 menit saja. Di atas treadmill, seolah tanpa guna, tetapi kita terus berjalan sampai batas waktu yang sudah ditentukan. Di atas roda kehidupan, walaupun tanpa hasil yang nyata, kita pun hendaknya tak berhenti berjalan meski tertatih, meski sempat terjatuh… Kita bisa bangkit lagi dan menyelesaikan pertandingan kehidupan kita, tentunya bersama Tuhan kita pasti bisa.

Lalu, apakah treadmill yang jalan di tempat ini tak berguna sama sekali? Tentunya tidak! Banyak kalori yang bisa kita bakar sebagai upaya untuk tetap sehat dan bugar, bukan?

Begitupun dalam hidup. Ketika semua terasa salah, tak berguna, tak ada kemajuan yang berarti, apakah itu semua tidak berguna? Tak jarang, pengalaman-pengalaman di masa-masa itulah yang menjadikan kita lebih dewasa dan bijaksana. Bukan melulu saat-saat penuh kemenangan, kesuksesan, dan kejayaan… Tetapi, di saat-saat seolah usaha belum berbuah, kita diajar untuk menanti di dalam iman dan percaya kepada Sang Pencipta yang tahu yang terbaik bagi setiap umat-Nya.

Di treadmill, saya mendapat pencerahan baru.

Hidup boleh seolah tidak bergerak, tak bergeming. Tetapi, saya harus tetap berusaha (bergerak). Jangan sampai hasil usaha yang tidak sesuai harapan, menjadikan saya putus asa atau kecewa sehingga memutuskan untuk berhenti untuk melakukan apa pun…Tetapi, sebaliknya, saya terus berusaha menanti penggenapan janji-janji-Nya yang setia di sepanjang hidup saya. Sampai akhirnya, ketika ‘treadmill’ saya harus berhenti saat kembali bersatu dengan-Nya, saya sudah memberikan yang terbaik semasa waktu yang diberikan untuk menghirup udara segar di bumi ini oleh-Nya.

Hidup itu singkat. Namun apa yang bisa kita lakukan dalam hidup yang singkat itulah akan menjadikan hidup kita lebih bermakna.

Apakah hidup itu indah? Pilihan ada di tangan kita. Kita bisa menjadikannya indah dan membagikan keindahan itu kepada sekitar kita. Dalam ketidaksempurnaan kita, tak henti berusaha memberikan yang terbaik bagi kemuliaan-Nya.

Selamat sore. Salam dari VietnamJ

HCMC, 1 Maret 2012

-fon-

* pencerahan saat berada di atas treadmill… Thank God…!

Monday, February 20, 2012

Kemenangan Terbesar



Pada suatu ketika di masa lalu.

Kemenangan terbesar berarti….

Paling hebat, paling cantik, paling pintar, paling dahsyat….

Jadi yang terhebat… Jadi nomor satu.

Itulah yang dituju oleh banyak orang, termasuk diriku…


Hari berganti. Persoalan hidup silih berganti…

Kedewasaan pun pelan-pelan bertumbuh.

Persepsi yang berbeda kudapati.

Kemenangan itu terasa indah, tetapi terkadang segera sesudahnya terasa hampa. Sebentar saja kehilangan maknanya.

Di saat menang, tentunya senang.

Tetapi rasa riang itu tak bertahan lama.

Ia hanya perasaan yang singgah sekejap saja.


Kemenangan sejati…

Bukan lagi ketika bisa mengalahkan orang lain dan bersombong diri.

Melainkan…

Ketika kita mampu menaklukkan diri sendiri.

Menaklukkan keegoisan, kesombongan, keangkuhan, kebencian, kemarahan, dendam, tidak mau mengampuni…

Berganti dengan penerimaan tulus yang walaupun harus diperjuangkan…

Tetapi tetap bisa dijalankan…


Kemenangan terbesar hari ini…

Adalah kemenangan bersama Yang Kuasa

Kasih-Nya yang senantiasa baru setiap hari akan mampukan kita.

Lakukan yang mustahil bagi dunia…

Karena tiada yang mustahil bagi-Nya.


HCMC, 21 Februari 2012

-fon-

Tuesday, February 7, 2012

Di Suatu Hari Penuh Kecewa



*** cerpen – Jelang Valentine’s Day

Akhir-akhir ini Vin berontak. Ada rasa yang begitu mendesak di dalam hatinya. Kuat. Kecewa itu terlalu dalam. Menusuk dan menghujam.

Kecewa erat berhubungan dengan ekspektasi. Pengharapan. Semakin tinggi harapan yang diletakkan pada sesuatu atau seseorang, semakin dalam pula rasa kecewa yang akan dirasakan bila hal yang diharapkan tidak menjadi nyata. Vin tahu sebetulnya akan hal itu, tetapi agaknya sulit juga baginya karena yang melukainya adalah orang-orang yang terkasih. Orangtuanya, pacarnya, adik-kakaknya. Yah, terkadang harus diakui, merekalah sukacita terbesar di dalam hidupnya. Sekaligus banyak kali juga, mereka jugalah yang membuat kesedihan di hatinya memuncak. Perasaan dicuekkan, tidak lagi dipedulikan, jarang diperhatikan bahkan oleh pacarnya sendiri yang berada di lain kota membuat dirinya semakin merasa kesepian. Sendirian. Apa artinya suatu relasi berpacaran, kalau tidak banyak kesempatan untuk bertemu muka. Vin bukan tipe yang suka jenis berpacaran jarak jauh, tetapi harus dan mau tidak mau dilakoninya juga karena ketika dia berpacaran dengan Adit, mereka masih satu kota. Lalu, karier Adit meningkat dan mereka terpaksa berpisah.

Orangtuanya memang tak pernah mendukung hubungan mereka. Salah satu alasan utamanya adalah papa dan mama Vin selalu merasa bahwa Adit bukanlah yang terbaik bagi Vin. Terlalu banyak hal yang membuatnya demikian. Adit bukan dari keluarga yang kaya seperti keluarga Vin. Juga bukan dari keluarga terpandang. Adit adalah anak seorang petani miskin dari luar pulau yang jujur dan bekerja keras. Adit juga pekerja keras dan pintar, itu yang membuatnya menyelesaikan kuliahnya dengan bea siswa dari Universitas yang mempertemukan mereka di Jakarta. Vin-sebaliknya, tidak peduli dengan latar belakang seseorang. Vin percaya bahwa seseorang yang berkarakter baik, tetaplah baik, terlepas dari bibit, bobot, bebetnya. Seringkali, Vin juga melihat bahwa begitu banyak orang yang berasal dari keluarga kaya, terpandang, berpendidikan, terutama anak-anak dari teman Papa-Mamanya malah bukanlah merupakan orang yang baik. Mereka kasar terhadap orang-orang yang lemah dan bekerja pada mereka. Pada sopir, pada pembantu, membentak-bentak, tidak diberi makan selayaknya-tak jarang diberi mie instan yang kadaluarsa. Bahkan sakit agak parah pun, tidak diobati, bahkan masih disuruh-suruh dengan kasar. Jika ukurannya adalah bibit, bobot, bebet, bagaimana dengan mereka yang terlahir miskin tetapi berkarakter baik?

Vin memang idealis. Dia selalu mengutamakan sikap hidup seseorang. Jangan bicara soal latar-belakang, kekayaan, kepandaian, spiritualitas yang mengindoktrinasi padanya. Dengan keras, dia akan menyanggah semuanya. Bagaimana orang tersebut hidup, itu yang terpenting baginya!

Kini, Adit harus pergi. Ke negeri tetangga, di Malaysia. Tempat ada kesempatan baru terbuka. Mungkin juga bagi masa depan mereka. Dengan demikian, Adit bisa jadi lebih mapan dan semoga lebih dipandang oleh orangtuanya. Vin harus rela melepas Adit walau dengan berat hati. Dan di Jakarta, Vin selalu mendapat gangguan dari pria-pria di sekitarnya. Yang walaupun mereka tahu bahwa Vin sudah punya pacar, tetapi tidak disetujui ortunya dan jauh di negeri tetangga.

Vin harus berjuang melawan rasa sepinya. Yang semakin lama semakin sering mengganggunya. Yah, Adit pulang setahun 2-3 kali. Sementara Vin pun bisa setahun 2-3 kali ke Malaysia. Tetapi, tetap dirasa masih kurang baginya. Apalagi desakan ortunya semakin keras agar dia segera menikah karena umur pun jalan terus ujar mereka. Kalau tidak dengan Adit, rasanya saat ini dia pun malas memikirkan menikah. Karena cinta dan hatinya sudah terpaut padanya saja.

***

Di suatu hari.

Papa- mama marah-marah lagi. Sementara di rumah, adik dan kakaknya berbalik memusuhinya karena menurut mereka, dia sudah mencoreng nama keluarga mereka.

Hmmm, tunggu dulu… Mencoreng??? Memangnya apa yang sudah dia lakukan? Vin mengangkat bahunya. Blackberry messenger dengan Adit di seberang sana sudah berjam-jam belum dibalas. Katanya sedang rapat dengan bosnya hari ini.

Nonton TV salah. Berbaring di ranjang salah. Browsing internet salah. Lihat Blackberry dan Whatsapp malas. Entahlah, ketika kecewa sudah terlalu dalam, rasanya apa pun salah saja. Vin juga tak ingin ke mana-mana. Entahlah, akhir-akhir ini dia selalu kehabisan enerji selepas kerja. Kerja pun dipaksakan untuk terus konsentrasi karena kalau tidak kariernya bisa jeblok gara-gara ini. Tetapi, dia sendiri sangat sulit konsentrasi. Segala sesuatu tertuju pada permasalahan ini saja. Tetapi, untuk putus dari Adit, dirinya juga tak kuasa. Haruskah jalinan cinta mereka yang saling menyanyangi itu hancur gara-gara orang-orang di sekelilingnya?

Yang satu-satunya dia bisa lakukan, agaknya berdoa. Hal yang sudah sungguh lama tidak dilakukannya. Ke gereja pun kadang pergi, kadang tidak. Tetapi, sungguh hari ini, dia butuh ketenangan dari Tuhan. Rasanya, dia sudah tak sanggup lagi atasi semuanya ini sendiri.

“ Tuhan, ini aku.”

Dengan kaku, dimulainya doanya itu.

“ Katanya Engkau Maha Tahu, ya Tuhan. Aku sudah begitu lelah dengan hidupku. Ada kalanya segala permasalahan ini memaksaku ingin berhenti. Berhenti berelasi dengan Adit. Atau putus hubungan dengan keluargaku. Atau… yang paling ekstrim, aku pernah berpikir untuk mengakhiri hidupku. Tetapi, aku pikir-pikir lagi, ketika kuakhiri hidupku, bukankah aku akan jadi seseorang yang berdosa, yang merasa lebih tinggi dari Sang Pencipta, sehingga bisa mengakhiri hidupku saat ini saja tanpa seizin-Mu? Ah, aku tak mau… Tak mau, Tuhan. Tetapi, lewati hari-hari belakangan ini terasa sungguh sulit, Tuhan. Aku rasa aku sudah putus asa. Tak tahu harus bagaimana.”

Vin diam. Hanya air mata menggenangi kedua belah pipinya. Mengalir deras bak sungai kecil. Diambilnya secarik tissue, lalu melanjutkan doanya…

“ Tuhan… Apa aku harus putus dengan Adit, sementara kami sudah saling cinta mendalam begini? Dan bagaimana dengan Papa dan Mama, yang seolah tak mengerti bahwa kami sudah cinta dan Adit pun anak yang baik dan mau berusaha keras untuk masa depan kami? Dia memang bukan orang kaya. Tetapi apa orang yang tidak punya, tidak bisa jadi calon suamiku, Tuhan?”

Dia diam lagi. Tetapi, satu sisi mulai merasakan kelegaan dan merasa nyaman dengan komunikasi yang walaupun masih satu arah, dia yang curhat melulu. Tetapi, dia sukai itu.

“ Dan Rei juga Ai, kakak dan adikku, ikut-ikutan. Itu yang tambah menyebalkan dan bikin pusing kepala, Tuhan. Apa urusan ini gak cukup? Harus ditambah permasalahan dan permusuhan dengan mereka? Bukannya membantu, malah menyebalkan…Huh!”

“ Adit juga semakin sulit dihubungi, Tuhan. Meeting, meeting, dan meeting terus. Kadang aku sendiri ragu. Apa meeting beneran ato tidak, ya Tuhan?”

“ Tiba-tiba hidup terasa berat. Memuakkan. Tak lagi ada warna keceriaan. Membosankan. Mengecewakan. Menyakitkan. Uhhh, gak tau lagi deh, Tuhan. Yang pasti aku sedang kecewa berat. Malas ngapa-ngapain, mungkin sedikit depresi. “

Lagi-lagi dia diam. Tetapi, tiba-tiba dari dalam hatinya muncul suatu kelegaan. Karena sudah berdoa dan curhat dengan Tuhan. Ehhh, berdoa? Kata yang tak pernah ada di kamusnya itu koq tiba-tiba jadi sesuatu yang mengasyikkan. Kesendirian, kesepian, yang berpadu dengan permasalahan kehidupan yang membelit, membuatnya mencari Tuhan. Memang, tidak selalu harus dalam penderitaan manusia baru ingat Tuhan, tetapi seringkali manusia menjadi sombong kala semuanya lancar dan baik-baik saja, lalu cenderung melupakan Tuhan. Ketika dirundung permasalahan, barulah ia sadar bahwa tanpa Tuhan, dia bukanlah siapa-siapa… Seperti Vin. Hari itu malah menjadi hari yang bersejarah. Malah menjadi hari yang menyukakan. Hari hari itu, dia pertama kalinya berkomunikasi dengan Tuhan.

Hari yang penuh kecewa. Memuncak sehingga ia kehilangan arah. Tak tahu harus apa, bagaimana, dan ke mana. Kepada Tuhanlah ia menuju, curahkan semua rasa. Tak ada yang bisa menemaninya setiap waktu. Walaupun itu Adit. Tetapi Tuhan Maha Hadir dan bisa melakukannya… Tiba-tiba ia tak lagi kesepian, tiba-tiba di punya seseorang yang selalu ada untuknya. DIA jadi sahabat sejatinya.

***

14 Februari 2012

Valentine’s Day.

Ahhh, Valentine’s Day? Valentine’s Day apaaa?

It’s just another day passes by… Plus embel-embel dinner mahal yang ditawarkan restoran dan hotel. Bunga, cokelat, kue tart, dan kado buat pacar yang mendadak bertebaran mengisi hari itu…

Vin berjalan. Agak gontai.

Mal itu terlalu manis dengan hiasaan berbentuk hati di mana-mana. Warna pink mendominasi. Tetapi, yang dia hadapi hanya sunyi. Namun, agak ada perbaikan kali ini… Karena dia sudah bisa curhat dengan-Nya…

Makan siang di mal jadi membosankan. Vin mendadak kenyang. Hanya rekan sekerjanya yang keheranan. Vin hanya diam, berusaha memasukkan suapan makanannya dengan tak bernafsu.

Pulang ke rumah. Biasa. Sepi lagi.

Papa-Mama, adik-kakaknya sedang pergi ke Singapura. Hanya untuk wiken. Seperti biasa kalau mereka tidak ada kegiatan. Vin sudah lama sekali tidak ikut-ikutan kegiatan itu. Sejak kondisi yang kurang mengenakkan. Sejak ia pacaran dengan Adit.

Diparkirnya mobil dengan perlahan. Pintu mobil dibuka dengan lemas. Tak bertenaga. Masuk ke ruang tamu, koq gelap. Tumben Si Iis-pembantu rumah mereka tidak menyalakan lampu.

Dicarinya tombol lampu di dalam gelap. Dan klik. Terang seketika.

Ada Adit di sana. Membawa bunga mawar merah satu lusin. Tanda cinta. Dengan senyum merekah.

“ Adittt, katanya kamu sibukkk… Bahkan, kamu bilang mau meeting ke Thailand segala…. Jadi be-te, dehhh.” Dipukulnya Adit dengan mesra.

Adit pun mengucek-ucek rambutnya dan memeluknya.

“ Sori, aku sengaja. Ha ha ha…”

“ Huh, udah puasss?” Tanya Vin.

Adit masih cengar-cengir saja.

Ditambah lagi, satu per satu anggota keluarganya mulai memenuhi rumah. Papa, Mama, Rei, dan Ai. Ah, mereka ternyata tidak ke Singapura. Bohonggg…

“ Halo, Vin. Kami mau jadi saksi.” Kata mereka hampir berbarengan.

“ Saksi? Saksi apa?” Ujar Vin kebingungan…

“ Ini…” Ujar Adit serius sambil menyodorkan cincin berlian ke hadapannya.

“ Vincenzia Marsha Salim, will you marry me?” Bisik Adit lembut di telinganya.

Vin hampir pingsan. Tetapi sempat mengangguk dan mengatakan: IYA.

Entah bagaimana caranya, keluarganya bisa mencapai kesepakatan dengan Adit. Adit pun sudah mendapatkan karier yang baik dan dipromosi di Kuala Lumpur sana. Tak ada alasan bagi keluarganya lagi untuk menolaknya. Adit sudah membuktikan dirinya. Adik dan kakaknya ternyata memang sengaja melakukan hal itu, berpura-pura bersekongkol dengan Papa dan Mama. Padahal di Singapura, mereka sempat bertemu dengan Adit yang menyatakan keseriusannya hendak menikahinya.

“ Terima kasih, Tuhan.” Bisik Vin perlahan.

“ Tak kusangka akhirnya seindah ini. Oh, tentunya ini juga awal bagi kami ya, Tuhan… Aku dan Adit, serta keluarga kami… Dan nantinya anak-cucu yang Kautitipkan pada kami…”

Mungkin Vin akan bekerja di Malaysia, mungkin juga tidak. Mungkin hanya mengurus anak. Mungkin… Semuanya masih mungkin.

Secepat itu juga tanggal pernikahan ditentukan. Tempat pernikahan dicarikan. Dan kehidupan baru sudah menanti di depan mata…

Satu yang pasti, di suatu hari penuh kecewa beberapa waktu yang lalu, dia sudah menemukan persahabatan dengan-Nya. Dia sungguh bahagia karenanya. Dan Vin percaya, dalam segala kondisi kehidupannya. Apa pun yang terjadi nanti, susah-senangnya… Dia persembahkan kepada Tuhan. Selalu ada jalan bagi mereka yang percaya kepada-Nya.

Ini sungguh hadiah Valentine tak terlupakan baginya.

“Terima kasih, Tuhan!” Senyum bahagia mengiringi wajahnya.

HCMC, 8 Februari 2012

-fon-