Showing posts with label harapan. Show all posts
Showing posts with label harapan. Show all posts

Friday, August 22, 2014

Utopia



Ketika haus, saya hanya butuh air putih.
Sesederhana itu.
Lalu perkembangan zaman, tren, gaya hidup membawa saya mencari yang lainnya...
Mungkin itu juice, mungkin itu teh pake susu  yang dikenal dengan nama tea latte, kopi, minuman bersoda yang beragam jenis dan warnanya...
Harga pun beda.
Dari kaki lima, jika itu masuk hotel bintang lima, pasti jadi berlipat ganda...


Ketika lapar, saya hanya butuh nasi.
Mungkin pakai sedikit sayuran dan lauk.
Tidak perlu disajikan seperti di restoran apalagi seperti di kerajaan.
Yang saya butuh hanya makan dan perut kenyang.
Lagi-lagi, keinginan membawa saya lebih jauh.
Ingin makan ini dan itu...

Sehingga harga yang awalnya murah, menjadi ekstra mahal juga.
Lagi-lagi ketika dikemas dengan 'packaging' yang indah, ada harga yang harus dibayar pula...

Sama halnya seperti baju, sepatu, tas, mobil, rumah...
Awalnya hanya kebutuhan.
Ketika itu menjadi keinginan ...
Ketika itu menjadi ajang unjuk gigi...
Ketika gengsi mengolok-ngolok saya untuk ikut-ikutan orang lain...
Jadinya baju, sepatu, tas, mobil, dan rumah pun ikut imbasnya.
Fungsi sama, tapi menempatkan kita di strata sosial yang berbeda.

Padahal?
Yang pakai tak bermerek, belum tentu miskin.
Yang pakai merek, jujurnya, belum tentu juga orang kaya.
Ironis memang...
Seorang sahabat yang bekerja di perbankan di Singapura pernah mengemukakan pengalamannya...
Banyak yang justru punya uang puluhan juta Singapore Dollar (SGD), yang naik kendaraan umum semisal MRT dan bus, atau taksi. Mereka pun cenderung rendah hati, 'low profile' sekali.
Sementara yang uangnya 'baru' jutaan dollar, gayanya selangit.
Sudah wajar katanya.
Saya hanya tersenyum ketika mendengarnya:)

Pernah saya baca juga, pemilik 'department store' di negeri Singa ini malahan sukanya pakai baju murah.
Tinggal juga di tempat yang sederhana.

Padahal beliau mampu untuk membeli yang lebih dari itu.

Sedangkan yang terlihat hebat dan fantastis penampilannya?
Walaupun tidak semua dan tanpa bermaksud menghakimi, saya pun pernah mendengar dan melihat juga, bahwa ada yang memaksakan diri pakai barang bermerek untuk tampil, untuk bisa diterima di kalangan sosial/pergaulan tertentu.
Terkadang dengan menghalalkan segala cara, termasuk cicil, pinjam, dan hutang.
Asal aku pakai barang mewah.

Apa saya anti barang mewah?
Jujurnya tidak.
Itu sih terserah Anda. Anda yang paling mengetahui kondisi finansial Anda.

Jika mampu dan mau, silakan saja.
Namun, saya hanya membayangkan, betapa indahnya jika uang yang dipakai buat pembelian barang-barang yang terlalu mewah dalam jumlah yang super banyak itu bisa disumbangkan kepada mereka yang membutuhkan.
Mereka yang tak bisa sekolah.
Mereka yang tak punya uang untuk membayar biaya pengobatan...
Mereka yang tak punya cukup uang untuk makan tiga kali sehari...

Ah, pikiran utopia itu kembali hadir tanpa bisa saya cegah...
Betapa indahnya, jika Si Kaya mau berbagi...
Sehingga, yang kurang beruntung pun bisa merasakan sepercik kasih dan kehangatan...
Mungkin ada kekuatiran jika yang berkekurangan terus dibantu, mereka tak terbiasa mandiri.
Mereka jadi tergantung dengan bantuan, tanpa mau berusaha.
Tentunya, akan sangat baik jika dipikirkan mereka juga diberikan kail, bukan ikannya saja.
Namun, ada saatnya mereka memang butuh pertolongan dan itu sangat urgen, tak lagi bisa menunggu.
Maukah kita membantu mereka di saat itu?

Gaya hidup tiap orang berbeda. Yang bikin 'gak enak' adalah ketika Anda mulai menghakimi orang yang gaya hidupnya berbeda dengan Anda.
Dihakimi tak pernah enak, menganggap diri lebih baik dari orang lain bagi saya adalah pertanda kesombongan.
Jujur, saya pernah juga melakukannya, dan itu menjadikan saya malu hati.
Saya pun pernah terbuai ingin ini, ingin itu, namun kembali tersadarkan...
Buat apa yah semuanya itu?
Bisakah saya berkata cukup?
Bisakah saya bersyukur dengan apa yang saya miliki untuk kemudian mau berbagi kepada mereka yang berkekurangan?

Kita lakukan semampu kita...
Kata Bunda Teresa, do small things with love...
Hari ini ketika kehausan dan tidak membawa botol minum, saya terpaku pada kata-kata message in a bottle.
Air minum dari gerai baju-sepatu bermerek 'Cotton On' ini membuat saya teringat untuk berbagi. Salut buat karya-karya mereka di Uganda. 
Masih dari botol minum yang sama, saya diingatkan...
It's little things that make a difference...
Hal-hal kecil itulah yang bisa membuat perbedaan.
That's so sweet!

Epilog

Utopia ini mungkin takkan pernah menjelma nyata...
Biarlah ia tetap dalam imaji saja...
Sambil setiap hari, mari melangkah di dalam tindakan nyata...
Dalam kasih, untuk senantiasa berbagi bagi sesama...
Mereka yang menderita, menjerit dalam duka, tanpa tahu harus berbuat apa.
Semoga.

was written and was inside my blog's draft since few months ago...
edited and finalised today 22.08.2014
fon@sg


* catatan : Utopia, dalam arti luas dan umumnya, menunjuk ke sebuah masyarakat hipotetis sempurna. Dia juga digunakan untuk menggambarkan komunitas nyata yang didirikan dalam usaha menciptakan masyarakat di atas. Kata sifat utopis digunakan untuk merujuk ke sebuah proposal yang baik namun (secara fisiksosialekonomi, atau politik) tidak mungkin terjadi, atau paling tidak merupakan sesuatu yang sulit dilaksanakan. (sumber: Wikipedia)

Friday, February 28, 2014

Catatan Akhir Februari

menapaki hari-hari...
jalani dengan sepenuh hati...
rasanya baru kemarin memasuki Januari..
kini sudah di hari terakhir di bulan Februari...
kehidupan seolah berlari...
cepat sekali...

namun, biarkan aku nikmati...
hari ini...
detik ini...
dan bersyukur untuk setiap detik yang masih Kauberi...
Maret, April, dan bulan-bulan ke depan nanti...
Akan kusambut dan kujalani...
Bersama Sang Maha Kasih Sejati...


28.02.2014
fon@sg

Friday, April 26, 2013

Di Balik Duka…



Tiga berita duka dalam putaran waktu satu setengah hari.
Hmmm, sungguh bukan hal yang mudah untuk dihadapi.
Kemarin pagi, melalui SMS, kakak saya di Jakarta memberitakan kalau besannya meninggal dunia karena kanker pankreas.
Lalu, status Facebook beberapa teman dan juga melalui detik.com dan kompas.com, saya pun membaca kabar meninggalnya Ustadz Jeffry, UJe yang gaul dan disukai banyak orang di usia ke-40.
Dan mendapat berita di sore harinya, kalau teman SMP saya yang akrab dipanggil Katrin berada dalam keadaan kritis setelah berjuang dengan kanker rahimnya.
Pagi ini sekitar pukul 5.30 saat saya selesai membuatkan susu untuk anak kami, saya melihat berita ini: Katrin sudah berpulang semalam kembali ke pangkuan-Nya.

Perasaan campur-aduk melanda saya.
Kembali menyadari bahwa hidup itu begitu tak bisa ditebak, singkat, dan amat sementara.
Apa yang kita miliki hari ini sebagai titipan-Nya, hendaknya kita hargai sepenuhnya.
Karena mungkin esok ia bukanlah lagi milik kita.
Saat kita suatu saat-suka/tidak suka-harus kembali ke rumah abadi-Nya.

Di balik duka, tersimpan juga harapan…
Bahwa bersama Tuhan, kita akan menuju keabadian…
Bersama Dia, kematian yang seringnya menjadi momok bagi banyak orang, menjadi hal yang manis-karena merupakan ’a sweet reunion’ dengan Sang Pencipta.

Tentunya, melepas kepergian orang-orang yang dikenal, yang dekat di hati, yang menjadi bagian hidup kita bukanlah hal yang mudah…
Tetapi, saya belajar untuk berjalan. Melangkah di dalam iman.
Percaya bahwa Tuhan akan temani sepanjang perjalanan hidup kita­, termasuk proses menuju keabadian bersama-Nya.

Di balik duka, saya pun belajar…
Untuk menghargai hari ini…
Untuk lebih banyak mengasihi dan mengampuni…
Kurangi benci dan dendam di hati…
Karena jika harus pergi dengan segala beban itu, bukankah sedih sekali?

Biar damai menyelimuti hati…
Biar kasih merajai…
Dan mensyukuri setiap hari…
Yang masih diizinkan-Nya untuk kita nikmati…

Saya berjanji pada diri…
Mengurangi amarah dan memperbanyak senyuman tulus murni…
Yang berasal dari hati…
Lewati setiap waktu yang berharga dengan mereka yang saya cintai…
Hidup hanya sekali…
Buat apa saya terbebani?

Selamat jalan, Katrin.
Juga selamat jalan UJe dan kerabat kakak saya…
Saya percaya, tugas kalian di dunia sudah selesai…
Dan ini saatnya, this is the one sweet day, ketika harus bertemu kembali dengan Yang Kuasa…
Perpisahan dengan Yang Terkasih memang menyedihkan…
Tetapi, dengan adanya harapan dan iman…
Semoga di balik duka, tetap tersimpan ketabahan dan kekuatan…

27.04.2013
fon@sg
* in silent moment of me… God, only You can understand how I feel at this moment



Thursday, December 27, 2012

Bitter-Sweet 2012 and Welcome 2013




Kita tengah melangkah di hari-hari terakhir 2012.
Tentunya, begitu banyak kenangan yang terjadi di tahun ini.
Beberapa manis, bahkan teramat manis.
Mungkin pula beberapa begitu pahit.

Mungkin di tahun ini kita harus berhadapan dengan kenyataan bahwa perpisahan dengan orang yang dikasihi itu begitu menyakitkan.
Rongga-rongga kekosongan yang terjadi segera sesudah prosesi pemakaman usai, tak mudah untuk diisi kembali.
Terlalu banyak memori dan walaupun sebagai umat beriman kita percaya bahwa yang kita kasihi sudah berbahagia di sisi-Nya, tetap saja hari demi hari tetap dilalui dengan tidak mudah.

Mungkin di tahun ini kita memulai sesuatu yang penting.
Pernikahan, punya anak, pekerjaan baru, yang semuanya indah dan menjanjikan.
Mungkin pula beberapa dari kita mengalami hal-hal yang menyedihkan.
Kegagalan, ditipu seseorang yang kita percayai, kemunduran dalam bidang finansial atau beberapa hal lainnya yang menyedihkan…

Apa pun yang sudah terjadi, kita yakini adalah yang terbaik dalam rancangan-Nya. Pahit di mata kita, belum tentu pahit selamanya. Tak jarang, itu adalah pelajaran yang paling berharga di kemudian hari yang tak pernah kita sangka-sangka.

Di Singapura, ada satu restoran yang cukup sering kami kunjungi.
Namanya Eighteen Chefs (di restorannya ditulis E18hTEEN CHEFS). Cabangnya ada di tiga mal di sini. Salah satu outletnya sering saya datangi karena bertepatan dengan menunggu anak kami kursus. Sesudahnya, bersama anak saya, cukup sering saya menikmati makanan yang nikmat dan pelayanan yang baik. Anak kami pun suka karena bisa mengambil air minum sepuasnya, menjadi satu kesenangan tersendiri bagi dia untuk bolak-balik ke termos air dingin dan membawa air ke meja makan.

Makanan yang disajikan kebanyakan tipe ‘western food’. Baked-rice with cheese, pasta, wafel with ice cream dan sebagainya. Saya hanya menikmati makanannya yang lezat tanpa tahu kisah penting di baliknya. Pemilik restoran ini, Benny Se Teo, baru saja mendapatkan penghargaan dari pemerintah Singapura sebagai Social Enterprise of the Year di tahun 2012 ini. Namun kisahnya yang inspirasional ingin saya bagikan kepada sahabat-sahabat semua:

Benny Se Teo is the founder of Eighteen Chefs, a three-chain restaurant staffed by ex-convicts and young people with troubled pasts. Teo himself struggled with heroin addiction from the age of 14, and was in and out of prison and rehab until his last release in 1993. He trained at Fifteen – the London restaurant run by celebrity chef Jamie Oliver – and started Eighteen Chefs in 2007.

Benny yang adalah pemilik Eighteen Chefs ini dulunya adalah seorang pecandu heroin yang mulai dari umur 14 tahun sudah keluar-masuk penjara dan pusat rehabilitasi, sampai dirinya betul-betul pulih di tahun 1993. Dia mendapatkan pelatihan di Fifteen, restoran di London yang dimiliki oleh ‘celebrity chef’ Jamie Oliver lalu kemudian memulai Eighteen Chefs di tahun 2007. Dan bukan itu saja, dia berusaha menampung para mantan narapidana dan orang muda yang masa lalunya bermasalah sebagai karyawan restorannya.



Setiap kali saya membaca latar-belakang dan kisah seperti ini, saya sering merinding. Terharu. Tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Setiap orang berhak atas kesempatan kedua, tak terkecuali siapa pun! Walaupun mereka adalah mantan narapidana yang mungkin dijauhi oleh masyarakat banyak.

Benny Se Teo dan Eighteen Chefs menyadarkan saya sekali lagi…
Meskipun mungkin di sepanjang tahun ini begitu banyak kejadian yang mungkin kurang mengenakkan, selalu ada harapan untuk jadi lebih baik di masa depan.
Dan harapan kita di dalam Tuhan tidak akan mengecewakan….
Kita percaya itu…
Sekelam apa pun masa lalu kita, selalu ada harapan di dalam Dia…

***

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat dikejutkan oleh jatuhnya anak kedua kami dari tempat tidur setinggi 60 cm. Syukurlah, tidak terjadi hal yang serius, hanya benjol sedikit di kepalanya. Sesudah itu, kami sekeluarga jadi lebih hati-hati dan diliputi kecemasan.

Sedang apa yang terjadi pada anak kami?
Dia tak ragu kembali ke tempat dia terjatuh tanpa rasa takut.
Walaupun kami jadi ekstra hati-hati jika dia kembali ke tempat itu…
Perasaan was-was masih mendominasi…

Apa yang saya pelajari?
Kita orang dewasa punya trauma, sehingga takut untuk memulai kembali.
Tetapi, anak-anak TIDAK.
Mereka punya keberanian untuk selalu mencoba lagi. Sesuatu yang patut ditiru dalam hidup untuk tidak mudah menyerah pada keadaan pahit kehidupan. Coba dan coba lagi di dalam Tuhan.

Akhirnya, apa pun yang kita alami di tahun 2012 ini kita percaya adalah baik di mata-Nya. Karena Dia punya gambaran yang sempurna akan kehidupan kita. Bagian kita hanyalah terus berusaha dan memberikan yang terbaik bagi-Nya.

Good bye bitter-sweet 2012 and let’s welcome 2013 in hope!
Have a very happy new year!



God bless.

Salam dari Singapura,
-fon-

Wednesday, July 18, 2012

Putus Asa




Tak pernah dirinya merasa sedemikian berputus asa. Biasanya, segelap atau separah apapun keadaannya, dia selalu mampu melihat titik terang. Walaupun terkadang samar, tapi dia tak pernah berhenti untuk berharap. Tetapi, tidak untuk kali ini.

Di tengah suasana yang begitu kacau, sulit baginya untuk berpikir jernih. Sebagian besar dikarenakan masalah keuangan. Memang uang bukan segalanya, tetapi dia pun merasa, ketiadaan atau kekurangan uang bikin hidupnya nelangsa. Setidaknya untuk kondisinya kali ini.

Anaknya sedang sakit dan harus masuk Rumah Sakit. Sementara pihak RS tak mau tahu soal keuangannya, yang penting harus melunasi seluruhnya. Secara mendadak,  datanglah kabar yang mengejutkan itu. Perusahaan tempatnya bekerja tutup. Bukan karena libur hari raya, tetapi karena bangkrut! Apa mau dikata, dirinya harus terkena PHK seketika. Begitu hancur hatinya. Tetapi, di depan istrinya dia harus tegar. Demikian pula di hadapan anaknya yang sakit di paru-parunya, dia harus berpura-pura menampakkan wajah tabah.

Tidak ada yang tahu, kalau di tengah malam, dia menangis dalam kesendiriannya. Istrinya masih menunggui anak mereka yang semata wayang berusia sekitar tujuh tahun itu. Dia sudah tak tahu harus berbuat apa.

Sementara kondisi anaknya makin buruk, demikian pulalah kondisi keuangannya. Tabungan berangsur menipis. Hampir habis.

Dengan meringis menahan lapar, dia tak lagi punya gairah hidup. Nafsu makan pun mendadak hilang entah ke mana, sekalian puasa karena buat makan pun sekarang uang hampir tak ada…

Kata orang, harus rajin berdoa, biarpun kondisi senang juga jangan lupakan Dia. Oh, itu sudah dilakukannya. Dia tak pernah melalaikan kewajibannya. Selalu Sang Pencipta ada memenuhi hatinya, dalam setiap kondisi kehidupannya. Tetapi kini, dia pun meragu. Sungguhkah Kau baik, Tuhan? Sungguhkah Kaudengar semua doaku, Tuhan? Mengapa ini terjadi ? Penderitaan yang begitu bertubi-tubi?

***
Karena tak cukup uang, pengobatan anaknya tak lagi bisa dilanjutkan. Anaknya dibawa pulang. Sampai ia menutup mata untuk selamanya.
Dia menangis keras, meraung, marah, terluka.
Ah, Tuhan, KAU TEGA!
Mengapa tak kaubiarkan aku saja yang pergi? Anakku masih begitu belia! Dia masih begitu muda! Mengapa Kaurenggut dia dari sisi kami???

Dengan hutang yang menumpuk, rumah yang harus dijual secara paksa-itu pun tak sanggup untuk membayar hutang pengobatan buah hatinya. Mereka harus menumpang ke rumah saudara. Istrinya berusaha tabah, walaupun ia tahu pasti, wanita itu kecewa. Wanita yang dinikahinya sembilan tahun lalu.

Tak lagi dirinya mau ke gereja atau acara rohani lainnya. Kesetiaannya tak ada gunanya! Tuhan mungkin tengah memalingkan muka darinya (itu pikirnya). Dan terlalu sibuk untuk sekian milyar anak-anaknya. Kehilangan kerja saja apa tidak cukup, Tuhan? Masih ditambah kehilangan anak satu-satunya???

***
Tahun-tahun berlalu.
Mereka punya anak lagi.
Yang begitu lucu. Umurnya sudah lima tahun.
Anak pertamanya sudah pergi sekitar delapan tahun lamanya.
Keuangannya perlahan merangkak, lalu lari kencang. Kini dia seorang pengusaha. Dia sudah hampir tak pernah mengingat-ingat Tuhan, karena dia merasa semuanya dia lakukan dengan kekuatannya sendiri. Dia masih marah dan tidak bisa menerima kekecewaan di masa yang lalu itu.
Terlalu menyakitkan baginya semua itu…

Perlahan tetapi pasti, dia tapaki hari-hari.
Lagi-lagi dengan kekuatannya sendiri…
Sampai suatu hari, kesehatannya yang terganggu. Kini dia terbaring lesu di ruang rumah sakit elite itu…
Dalam diamnya, suara di hatinya berbisik
“ Apa tidak lelah kamu jalani semuanya itu?”

Tentu saja aku capek. Capek sekali, tukasnya!
Tetapi tak ada yang bisa kulakukan, bukan? Hanya bisa menerima semuanya. Tapi, tidak bisa, aku tidak terima!

“ Tahukah kamu, kalau semuanya itu adalah sementara. Suatu saat akan kembali padaku juga?” Tanya suara itu lagi.

“ Tentu saja tahu! Aku sangat tahu!” Tukasnya marah.

“ Tetapi, mengapa kamu tak rela ketika semuanya itu kembali kepadaku?”

Dia diam.
Karena segala sesuatu tak sesuai dengan maunya ia marah. Ia kecewa. Padahal setelah kehancuran itu, Tuhan masih melindunginya. Dia diberikan kesempatan untuk bangkit dan sukses lagi. Punya anak lagi. Bahkan kesuksesannya melebihi yang sebelum-sebelumnya… Dan dia lupa mensyukuri semuanya itu…

Di kamar RS itu, dia lalu tersenyum. Berdoa.
Dalam ketenangan dan kedamaian yang luar biasa yang seketika dia rasa…
Dia lalu duduk di dalam doa…
“ Terima kasih, Tuhan untuk pelajaran ini. Memang mahal, Tuhan. Dan aku tak mau menerimanya karena tak sesuai dengan keinganku. Mudah bagiku untuk berucap, terjadilah kepadaku menurut perkataan-Mu. Tetapi, ketika Kaulakukan yang tak sesuai kehendakku… Aku bukan saja kecewa dan marah, bahkan memutuskan untuk lari dari pada-Mu.”

“ Ampuni aku, Tuhan… Maafkan aku…”

Hari itu hatinya merasakan damai sukacita. Dia pun merasa lebih sehat… Keesokan harinya dia diperbolehkan pulang dan beraktivitas seperti biasa lagi.
Tak ada lagi benci dan kemarahan di hatinya. Tergantikan oleh pengertian, bahwa akan banyak kali dalam hidup manusia, rencana dan keinginan tidak sesuai dengan kenyataan. Rencana-Nya tak selalu sama dengan rencana kita. Yakinkah kita bahwa itu yang terbaik bagi kita? Mungkin ya, mungkin tidak, mungkin ragu-ragu… Di setiap saat, kita pun harus memilih… Pilihan-pilihan yang merupakan karunia dari kehendak bebas yang diberikan-Nya… Semoga pilihan-pilihan itu kita buat dengan bijaksana atas tuntunan hikmat dari-Nya…

Mungkin kita seperti tokoh cerita ini…
Punya keinginan, harapan yang tak kesampaian. Kita lalu kecewa, marah dan sempat putus asa… Sebetulnya reaksi yang manusiawi dan wajar…
Tetapi, janganlah kita berpaling dari-Nya…
Jika kita berpaling pun, janganlah terlalu lama…
Jika lama pun, Dia akan mengerti…
Dia akan menunggu, saatnya kita mengerti, menerima rencana-Nya dan menemukan kedamaian dalam kehidupan kita.
Bukan karena kenyataan yang berbeda, namun karena kita yang berubah. Kita melihat kenyataan dengan lapang dada karena tetap percaya Tuhan takkan pernah tinggalkan kita.

Dalam kondisi putus asa, jangan lepaskan tangan kita dari-Nya. Seperti Dia yang takkan pernah meninggalkan kita barang sedetik pun. Rancangan-Mu bukanlah rancanganku, Tuhan… Tetapi, aku yakin, Engkaulah yang Maha Tahu. Engkau tahu yang terbaik bagi hidup kami.

11 Juli 2012
fon@sg


Monday, March 12, 2012

30 Menit Menjelang Pagi


30 Menit Menjelang Pagi

Aku berjalan agak lambat.

Hari itu, aku memiliki waktu untuk datang ke misa harian di Saigon Notre Dame Cathedral di pusat kota Ho Chi Minh City. Biasanya kesibukan menjaga bayi yang tak tentu waktu bangun atau tidurnya, membuatku kesulitan untuk menghadiri misa pukul 05.30 pagi itu. Bergegas aku pergi, menikmati misa harianku dan menyampaikan salamku pada-Nya di pagi itu.

Dinginnya pagi sungguh terasa. Hembusan angin cukup kuat akhir-akhir ini.

Demikian pula pagi itu. Kueratkan sweater-ku, kutuju gereja.

Semua masih gelap. Matahari tak menunjukkan tanda-tanda akan terbit. Kumasuki gereja. Misa belum dimulai, sekitar lima menit lagi rasanya. Misa harian, semuanya dalam Bahasa Vietnam, yang masih belum kukuasai dengan baik sampai hari ini. Hanya untuk bicara dengan pengemudi taksi atau menawar harga, masih okelah. Tetapi, jika harus mengerti firman Tuhan atau khotbah Romo dalam Bahasa Vietnam, rasanya masih jauh :).

Kuikuti misa dengan khusyuk. Terima kasih, Tuhan atas kesempatan ini!

Selesai misa, hampir pukul 6 pagi. Matahari sudah mulai terbit. Entah tepatnya jam berapa, mungkin 05.45? Atau 05.50? Entahlah, aku tak tahu pasti. Yang pasti, malam gelap segera berganti cerianya pagi. Ketika mentari bangun dari peraduannya dan mulai beraktivitas lagi.

Terlintas dalam pikiranku…

Sering, kita putus asa dalam kehidupan karena ‘kegelapan’ yang tengah kita hadapi. Mungkin bentuknya permasalahan, pergumulan, ataupun kegagalan. Terkadang, kita pernah berpikir untuk berhenti. Mengakhiri saja semuanya ini. Padahal, kalau saja kita mau menunggu sebentarrrr lagi, 15, 20, atau 30 menit lagi (read: satu hari, dua bulan, atau tiga tahun lagi, dst…). Mungkin saja saat-saat itulah mentari kembali menyinari kehidupan kita, kegelapan akan sirna, berganti ceria… Terlalu sering, kita tak sabar menanti keindahan janji-Nya… Dengan menyerah, kita tak pernah tahu bahwa akan ada kehidupan yang lebih baik yang sudah Dia janjikan dalam sekejap mata…

Maka, ketika kegelapan tengah melanda..

Tetap berusaha, tetaplah berdoa…

Ya Tuhan, kuatkan hamba…

Dan semoga ketika Sang Mentari terbit kembali dalam hidupku,

aku tetap berkesempatan melihatnya bersama-Mu,

karena aku tak menyerah dan terus memberikan yang terbaik bagi-Mu…

Pulang ke rumah.

Kurasa harapan baru penuhi hatiku.

Terima kasih, Tuhan untuk pagi ini. Semua hanya karena kebaikan dan anugerah-Mu saja.

Selamat pagi, Tuhan. Selamat pagi, dunia!

HCMC, 12 Maret 2012

-fon-

* catatan singkat dari misa hariannya di minggu lalu.. Baru sempat kutuliskan hari ini.

Monday, December 26, 2011

Saya Belajar



Dalam setiap kesesakan, saya belajar untuk bertahan

Lalu terus berjalan di dalam iman

Bukan karena kekuatan diri sendiri

Karena saya tahu, Tuhan selalu menemani


Dalam setiap kegelisahan, saya belajar untuk percaya

Hanya kepada Sang Pencipta yang Mahatahu segala-galanya

Galau dan resahku kusampaikan kepada-Nya

Setelah itu aku pun menjadi lebih lega


Dalam setiap kekecewaan, saya belajar untuk melihat realita

Meski pahit, seluruh perasaanku kutumpahkan pada-Nya

Tak ada jalan lain kecuali percaya

Kasih-Nya mampu membalut semua luka


Dalam setiap kegagalan, saya belajar menerima

Meski terkadang sulit tetapi aku mau percaya

bahwa rancanganku yang terbaik dan sedemikian indahnya

Tak sebaik dan sesempurna rancangan-Nya


Dalam setiap tetes air mata, saya belajar untuk tegar

Roda kehidupan terus berjalan

Hari ini sedih bukan berarti akan sedih selamanya

Selalu ada harapan di dalam Tuhan


Dalam setiap putaran waktu, saya belajar untuk setia

Tidak selalu mudah, tetapi semoga kita tak henti mencoba

Karena Tuhan sendiri sudah begitu setia

Di sepanjang perjalanan hidup kita


Hanya kepada-Nya seluruh tumpuan harapan dan doa

Saya belajar untuk tetap bangkit walaupun pernah terjatuh

Saya belajar untuk tetap tersenyum meski pernah tersakiti

Saya belajar untuk mengampuni walaupun harus berjuang keras untuk itu

Saya belajar untuk jadi seseorang yang lebih baik hari lepas hari

Saya belajar untuk menerima kekurangan diri dan mau lebih baik lagi

Saya belajar untuk tidak terlalu mengandalkan pikiran atau perasaan, karena Tuhan melebihi semuanya itu…

Saya belajar untuk tetap bekerja keras, lalu menyerahkan hasilnya kepada Tuhan


Setiap hari, saya akan terus belajar…

Untuk memilih hal-hal baik dan bukan hal-hal yang buruk

Untuk mengasihi dan bukannya membenci

Untuk percaya dan berharap kepada Tuhan

Untuk setia di antara sejuta godaan


Setiap hari, ajarilah saya, Tuhan…

Untuk melihat keindahan dalam kesederhanaan

Untuk tidak melulu menilai orang dari tampilan luaran

Untuk belajar rendah hati dan tidak arogan


Tuhan, ajarilah saya…

Hari ini dan di masa depan…

Hanya kepada-Mu kupercayakan

Seluruh hidupku di tangan-Mu, oh Tuhan…


HCMC, 26 Desember 2011

-fon-

* catatan akhir tahun…. Kesetiaan dan kebaikan Tuhan tak pernah cukup untuk kuekspresikan…

Sunday, October 23, 2011

Genggam Tanganku


Genggam Tanganku

Wanita itu sudah bukan anak kecil lagi. Bahkan, dia mungkin salah satu penghuni tertua di Panti Asuhan Anak yang cacat fisik dan kelainan mental ini. Umurnya di atas 20 tahun. Dia terus memandangi kami, ketika kami melangkah masuk pagar depan. Dia terus mengikuti kami dan tak lama dia merangkulku. Seolah begitu erat, tak mau melepaskanku. Aku sendiri bingung campur sedikit cemas, tetapi juga kasihan. Jadi, kubiarkan saja sementara dia terus menatapku.

Tak lama, kami pun diberi semacam gelang rosario, hasil karya mereka. Dia langsung memasangkannya di tanganku. Begitu bahagia mereka menyambut kedatangan kami yang hanya sebentar saja ini.

Memang di sebelah Panti Asuhan ini, ada sekolah untuk anak-anak yang normal. Mungkin-ini hanya dugaanku- mereka sering melihat anak-anak itu dijemput orang tuanya. Sehingga mereka pun memiliki kerinduan untuk dikunjungi dan begitu bahagia menyambut kami yang datang ke sana. Kami diterima dengan sambutan yang luar biasa: rangkulan juga pemberian gelang, tanda mereka memang butuh kasih dan perhatian dari sesama.

Saat dia genggam tanganku, beribu rasa jadi satu. Tak ada kata yang tepat ‘tuk menggambarkan semua itu. Batinku terus menyerukan sesuatu: sudahkah aku memberi perhatian pada sesamaku? Keluargaku, anak-anakku, teman-teman yang singgah dalam hidupku? Dan juga bagi mereka yang butuh perhatian: kesepian, sakit, putus asa, hilang harapan akan kehidupan? Dan bagi mereka yang ‘spesial’ karena mereka berbeda- mereka yang tak lengkap panca indera atau mereka yang mentalnya tidak bertumbuh secara normal, seperti yang kutemui hari ini….Ya, mereka juga butuh kasih dan sayang. Mereka butuh cinta kasih yang selama ini mungkin jauh dari mereka, yang seolah sering menyembunyikan diri hanya karena mereka berbeda. Padahal mereka juga butuh cinta dan bukan salah mereka jika mereka tidak normal seperti manusia pada umumnya. Mereka yang bahkan mungkin ditolak keluarganya, mereka yang mungkin dibuang ayah-ibunya. Mereka yang tak punya pilihan lain selain menerima keadaannya… Tuhan, kasihanilah mereka.

Tak terasa, air mataku menitik saat aku harus pulang. Aku mungkin bukan orang yang luar biasa sempurna dalam hal mengasihi sesama. Masih jauh dari itu. Tetapi, biarlah setiap hariku yang Kauanugerahkan bagiku merupakan hari yang lebih baik dalam membagikan kasih kepada sesama. Terutama mereka yang menderita dan butuh perhatian kita. Dunia ini tengah lapar. Lapar secara fisik di mana banyak yang tidak bisa makan karena perekonomian yang sulit, tetapi juga lapar akan kasih karena tak jarang di keluarga yang kaya-raya dengan uang berlimpah, cinta seolah sudah menguap entah ke mana…Uang tak bisa membeli semuanya. Tanpa uang memang hidup tak mudah, tetapi jika hanya mengandalkan uang saja, bahagia pun seolah sembunyi belaka…

Hari ini, kuberdoa khusus bagi mereka yang merasa kesepian dan terluka. Bagi mereka yang tersisih dan terlupa.

Bagi mereka yang putus asa dan ingin mengakhiri hidupnya…

Tuhan, kasihanilah…

Masih ada harapan di dalam Dia…

Kupercaya akan itu, Tuhan…

Semoga semakin banyak hati yang mau terbuka terhadap kasih-Mu,

sehingga mampu berbagi kepada mereka yang kekurangan cinta…

Genggam tanganku, Oh Tuhan, dan jangan lepaskan…

Semoga dalam penyertaan-Mu, diriku Kaumampukan

Untuk menggenggam lebih banyak tangan

Dalam kasih dan kedamaian…

HCMC, 23 Oktober 2011

-fon-

*tergerak untuk menuliskan sharing seorang sahabat ketika berkunjung ke sebuah panti asuhan di daerah Dong Nai-Vietnam

Monday, April 4, 2011

Ilmu dan Iman

Ilmu dan Iman

Dulu, saya kira dengan lebih banyak makan sekolahan, orang akan lebih baik-lebih terhormat-lebih terpelajar. Seharusnya IYA, tetapi tak jarang saya temui orang yang banyak makan sekolahan itu ternyata tidak lebih baik-tidak lebih terhormat-tidak juga lebih terpelajar dalam perilakunya. Secara ilmu mungkin IYA, tetapi secara perbuatan sehari-hari terkadang bikin miris dan dan sedih bagi yang melihatnya. Seolah ilmu itu menguap ketika masuk ke dunia nyata… Pintar- dan hanya pintar saja- jelas bukan segala-galanya…

Sebaliknya…

Dulu, saya pikir karena seseorang itu kurang pendidikan-kurang ilmu pengetahuan- tak sempat mengenyam dunia sekolah yang tinggi karena alasan apa pun (umumnya biaya), mungkinnn perilakunya jadi kurang terpuji. Tetapi nyatanya, sempat saya dipertemukan dengan orang-orang yang kurang pendidikan-tak makan bangku sekolahan- nyatanya punya sikap hidup terpuji, mulia, luar biasa… Bahkan lebih bisa dipuja ketimbang mereka yang bergelar S1, S2, bahkan S3… Ini memang kisah nyata… Karakter yang baik tak melulu berbekal ilmu belaka…

Dulu saya pikir, seharusnya orang yang memiliki level keimanan atau keagamaan yang tinggi juga memiliki perilaku yang baik dan terlihat di mata orang-orang sekitarnya. Namun, tak jarang kita kecewa melihat mereka yang taat beragama ternyata perilakunya negatif, bahkan ada beberapa yang buas dan mengerikan. Seolah kitab suci yang dibaca itu meluap entah ke mana. Oh jelas, setiap orang bisa melakukan kesalahan. Dan mengharapkan orang yang beragama dan rajin beribadah itu sempurna adalah kesia-siaan belaka. Itu mungkin pendapat banyak orang dan itu agaknya benar. Tetapi, itu bukanlah alasan apalagi tameng pembenaran diri bahwa boleh melakukan kekejian atau kejahatan dengan alasan saya hanya manusia biasa yang tak luput dari noda dosa, bukan?

Atau sebaliknya…

Orang yang jarang ke tempat ibadah identik dengan orang yang tidak taat beragama dan pastinya mereka tidak banyak mengerti ajaran ataupun dogma agamanya. Kebanyakan mereka adalah orang-orang yang jahat karena tidak mengerti? Oh jelas TIDAK… Karena saya pun pernah menemukan mereka yang mulia walaupun tidak melulu bicara soal ajaran agama tertentu. Mereka pun hidup luhur, baik, dan rajin menyumbangkan sebagian hartanya kepada mereka yang menderita atau tertimpa bencana. Kerap mereka membuat malu orang-orang yang bilang dirinya beragama tetapi tak melakukan apa-apa kepada sekitarnya. Tak ada cinta, tak ada kasih bagi sesama, boro-boro memikirkan berbagi dengan mereka yang menderita…

Hmmm, harapan saya pribadi… Semoga tingkah laku saya semakin membaik seiring pemahaman yang lebih baik akan keimanan yang saya pegang… Begitu pun harapan saya bagi Anda dengan apa yang Anda imani… Sehingga kita semua semakin mau berbuat baik di dunia yang semakin hari semakin kacau ini, sehingga kita semua bisa membuat hidup yang singkat ini lebih baik dan lebih bermakna…

Begitu pula dengan ilmu pengetahuan, sekolah, juga gelar… Apabila diizinkan Tuhan untuk saya dapatkan semoga itu semua semakin memberkati sesama bukan untuk sombong-sombongan apalagi melakukan tindak kejahatan…

Ilmu, sekolah, agama, dan iman…

Hendaknya membawa orang lebih rendah hati, lebih sadar diri, bukanlah dia sendiri yang hebat… Tetapi DIA yang hebat telah memberikan kita kesempatan untuk mengecap itu semua…. Dan semoga dalam sekolah kehidupan, iman kita semakin dikuatkan… Berbuat baik dan berwelas asih demi kemanusiaan. Untuk menjadikan hidup di dunia ini lebih indah dan membahagiakan.

Ho Chi Minh City, 4 April 2011

-fonnyjodikin-

*copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya. Trims.

Thursday, November 4, 2010

Bertahanlah Satu Hari Lagi



Ketika begitu banyak kegelisahan menggelembung menjadi satu dan memenuhi isi kepalamu….

Ketika kau tak tahu harus berbuat apa sementara begitu banyak persoalan menghantammu sekaligus…

Ketika seolah kau kehilangan keyakinanmu untuk berdiri tegar di antara semua badai kehidupan yang terjadi…


Bertahanlah satu hari lagi…

Jangan menyerah hari ini…

Karena kau tak pernah tahu apa yang esok hari akan tawarkan.


Bertahanlah satu hari lagi di dalam iman…

Bertahanlah satu hari lagi di dalam doa…

Bertahanlah satu hari lagi bersama-Nya…


Dengan demikian akan kaudapati…

Kau sudah jalani hari-hari bersama-Nya…

Kau sudah jalani mingu demi minggu…

Bulan demi bulan…

Tahun demi tahun…

Dalam penyelenggaraan-Nya…


Jangan menyerah karena keadaan hari ini…

Karena kau tak pernah tahu,

Rencana masa depan macam apa yang sudah disiapkan-Nya bagimu…


HCMC, 5 November 2010

-fon-

sumber gambar: HOPE by alwaysnewmistakes.wordpress.com

Wednesday, March 3, 2010

Suatu Hari Ketika Kita Sama-Sama Tua…


Kuusap tangan keriputmu. Perlahan. Karena aku sendiri tak punya kekuatan sebesar dulu. Semua gerakku kulakukan hati-hati. Maklum, kita sudah tidak muda lagi. Tetapi, inginku untuk terus membelai wajahmu. Dalam kelembutan yang masih tersisa. Dalam pelannya gerakku yang kadang tersendat. Aku masih ingin luapkan cinta dalam hati ini kepadamu.

Kuusap rambut di kepalamu yang helainya tak lagi sama seperti ketika kita berjumpa. Helainya makin tipis, berkurang satu demi satu. Sama seperti rambut panjangku yang rontok hari demi hari. Memenuhi lantai rumah yang sering disapu perlahan. Hanya ingin ungkapkan rasa yang pernah bersemi. Di masa lalu. Dulu. Dan berharap rasa itu terus ada dan tetap abadi sampai saat maut memisahkan kita.

Kuambilkan kaca matamu. Kaca mata yang sama dengan milikku. Karena mata tua kita tak lagi awas melihat apa yang terjadi di depan kita. Terkadang huruf-huruf di surat kabar pun tak terbaca jelas. Tak mengapa, Sayangku, asal kita tetap punya mata hati yang jernih, sehingga mampu meneropong dunia lewat hal-hal yang pernah dan masih akan kita lalui. Suka dan duka, yang semuanya membuat pengalaman kita akan hidup semakin kaya.

Kuingat ketika kita tertawa saat melepas gigi palsu yang memenuhi mulut kita. Rasanya sudah lama ya, kita tak punya gigi lengkap lagi. Menjadi kegiatan yang lucu karena pada akhirnya kita bisa bersiul sambil menyikat gigi. Siulan lagu-lagu kegemaran yang mengingatkan akan masa lalu yang penuh cerita bagi kita berdua.

Suatu hari, ketika rumah yang dulu isinya tangisan, ompolan, dan mainan anak-anak kita. Menjadi sepi dan senyap karena mereka sudah beranjak dewasa. Mereka pergi mengejar cita dan cinta. Kuliah. Bekerja. Menikah. Dan tinggallah kita dalam rasa sepi kembali berdua. Mengunjungi mereka dan kunjungan dari mereka adalah hadiah terbesar bagi kita. Kita mulai saling memperhatikan (lagi). Setelah sekian lama perhatian itu terpecah kepada buah kasih kita.

Suatu ketika, ketika rambut kita sama-sama memutih. Ketika eros (cinta yang dilandasi hawa nafsu) sudah jadi philia (cinta penuh persahabatan). Ketika kita tak lagi sanggup marah-marah karena suara sudah tak senyaring dulu. Meski masih saja kita berdebat mengenai soal-soal tak penting. Saling kesal, namun pernah juga berakhir dengan tertawa bersama.

Biarlah kita tetap ingat cinta yang membawa kita sampai hari ini. Merenda kasih yang sarat konsekuensi penerimaan tanpa syarat sampai akhir nanti. Biarlah kita ingat, cinta ini bukan datang dengan sendirinya. Melainkan dia memang dibina, dipertahankan, didoakan, dan dijalankan.

Suatu ketika, saat kita sama-sama tua. Dengan kondisi tubuh yang tak lagi prima: mungkin pikun-mungkin tangan gemetar- mungkin sakit-sakitan.

Biarlah kita tetap miliki cinta yang tak lekang dimakan usia.

HCMC, 3 Maret 2010

-fon-

* doa dan harap untuk masa tua nanti…:)

Sumber gambar:

http://thumbs.dreamstime.com/thumb_295/12175350152EYkwz.jpg

Thursday, February 11, 2010

Elegi Menjelang Pagi



Pagi yang tak cerah. Tak seperti biasanya. Kudapati wajahnya suram, muram, dan kelam. Mungkin itu juga pantulan wajahku yang tak sempat kupandangi di cermin pagi ini. Sama-sama, kami telah saling melukai. Sama-sama, kami telah saling menyakiti. Dan kini, ketika dia berkata cukup sampai di sini, mengapa hatiku berdarah dan tertusuk duri?

Ketika kami putuskan menikah atas nama cinta…Bukan begini kenyataan yang ada di kepala. Harusnya kami bahagia sekaligus gembira, mendapatkan apa yang selama ini kami damba. Namun, nyatanya? Setelah berpacaran lima tahun, bertunangan, dan dilanjutkan dengan jenjang pernikahan. Malah cinta kami semakin memudar.

Hari-hari awal perkawinan, masih biasa saja. Tak ada gejolak berarti, seolah ini rutinitas belaka. Hari-hari selanjutnya penuh dengan argumentasi, pertentangan, kemarahan. Dan terkadang kekerasan memasuki teritori cinta kami. Ke mana cinta kami yang dulu mekar berseri? Ke mana cinta yang telah kami pupuk dan kami bina setengah mati? Hilang? Lenyap? Raib?

Dan hari ini, ketika dia kembali mengucapkan kata-kata itu, hatiku terluka parah.

Cukup sampai di sini? Kaupikir masalah kita bisa selesai dengan berpisah?

Tapi, tak lagi kucari jawab itu di matanya. Karena aku pun sudah menyerah. Aku kehilangan dirinya. Kehilangan kelembutan dan senyum manisnya. Yang tiba-tiba berubah menjadi monster yang menakutkan. Yang seringnya berubah menjadi binatang buas yang siap menerkam. Tak lagi kurasakan perhatiannya, tak lagi kurasakan kenyamanan ketika bersamanya. Kalau perkawinan hanya jadi pertarungan ego tak terselesaikan macam ini, kurasa aku menyerah.

Dengan malu, aku harus menerima. Bahwa semua masa pacaran-tunangan-sampai menikah yang mencapai enam tahun itu, ternyata harus berakhir ketika perkawinan ini belum sampai setahun. Dengan lirih, kutanya hati, “ Apa gerangan yang terjadi?”

Hatiku senyap. Diam. Dalam linangan air mata kesedihan dia berkata, “ Elegi tak berkesudahan telah dimulai di pagi ini.”

Apa masih ada kesempatan bagi kami berdua? Aku tak berani berharap. Karena sesudah dia berkata begitu, dia tak lagi menatapku. Dia telah mempersiapkan kopernya dan pergi dari rumah kami. Pergi dari hatiku. Pergi bersama cinta kami yang pernah bersemi. Dan (tampaknya) takkan kembali.

Dia telah pergi. Dari hidupku. Dari hatiku. Aku tak rela, tapi aku tahu mungkin ini yang terbaik bagi kami berdua.

Elegi itu masih mengalun. Pedih, perih, bercampur alunan penuh nestapa.

Lalu, kubawa pergi. Berharap suatu hari nanti akan kudapati cinta yang mampu membuatku tergugah dan kembali membuka hati.

Sampai kapan kuharus menanti? Aku tak pernah tahu pasti…
Aku hanya berjalan, merayapi dinding kehidupan yang kelam saat ini.

Sambil berharap suatu saat nanti, cinta sejati hadir kembali.

HCMC, 12 Februari 2010

-fon-

* Elegi menurut kamus Bahasa Indonesia ‘online’:

ele·gi /élégi/ n syair atau nyanyian yg mengandung ratapan dan ungkapan dukacita.


sumber gambar: