Chapters of Life, begitu saya senang menyebutnya. Karena bagi saya, hidup adalah babak demi babak, bab demi bab, yang menjadikan buku kehidupan saya sempurna.
Friday, August 22, 2014
Utopia
Ketika haus, saya hanya butuh air putih.
Sesederhana itu.
Lalu perkembangan zaman, tren, gaya hidup membawa saya mencari yang lainnya...
Mungkin itu juice, mungkin itu teh pake susu yang dikenal dengan nama tea latte, kopi, minuman bersoda yang beragam jenis dan warnanya...
Harga pun beda.
Dari kaki lima, jika itu masuk hotel bintang lima, pasti jadi berlipat ganda...
Ketika lapar, saya hanya butuh nasi.
Mungkin pakai sedikit sayuran dan lauk.
Tidak perlu disajikan seperti di restoran apalagi seperti di kerajaan.
Yang saya butuh hanya makan dan perut kenyang.
Lagi-lagi, keinginan membawa saya lebih jauh.
Ingin makan ini dan itu...
Sehingga harga yang awalnya murah, menjadi ekstra mahal juga.
Lagi-lagi ketika dikemas dengan 'packaging' yang indah, ada harga yang harus dibayar pula...
Sama halnya seperti baju, sepatu, tas, mobil, rumah...
Awalnya hanya kebutuhan.
Ketika itu menjadi keinginan ...
Ketika itu menjadi ajang unjuk gigi...
Ketika gengsi mengolok-ngolok saya untuk ikut-ikutan orang lain...
Jadinya baju, sepatu, tas, mobil, dan rumah pun ikut imbasnya.
Fungsi sama, tapi menempatkan kita di strata sosial yang berbeda.
Padahal?
Yang pakai tak bermerek, belum tentu miskin.
Yang pakai merek, jujurnya, belum tentu juga orang kaya.
Ironis memang...
Seorang sahabat yang bekerja di perbankan di Singapura pernah mengemukakan pengalamannya...
Banyak yang justru punya uang puluhan juta Singapore Dollar (SGD), yang naik kendaraan umum semisal MRT dan bus, atau taksi. Mereka pun cenderung rendah hati, 'low profile' sekali.
Sementara yang uangnya 'baru' jutaan dollar, gayanya selangit.
Sudah wajar katanya.
Saya hanya tersenyum ketika mendengarnya:)
Pernah saya baca juga, pemilik 'department store' di negeri Singa ini malahan sukanya pakai baju murah.
Tinggal juga di tempat yang sederhana.
Padahal beliau mampu untuk membeli yang lebih dari itu.
Sedangkan yang terlihat hebat dan fantastis penampilannya?
Walaupun tidak semua dan tanpa bermaksud menghakimi, saya pun pernah mendengar dan melihat juga, bahwa ada yang memaksakan diri pakai barang bermerek untuk tampil, untuk bisa diterima di kalangan sosial/pergaulan tertentu.
Terkadang dengan menghalalkan segala cara, termasuk cicil, pinjam, dan hutang.
Asal aku pakai barang mewah.
Apa saya anti barang mewah?
Jujurnya tidak.
Itu sih terserah Anda. Anda yang paling mengetahui kondisi finansial Anda.
Jika mampu dan mau, silakan saja.
Namun, saya hanya membayangkan, betapa indahnya jika uang yang dipakai buat pembelian barang-barang yang terlalu mewah dalam jumlah yang super banyak itu bisa disumbangkan kepada mereka yang membutuhkan.
Mereka yang tak bisa sekolah.
Mereka yang tak punya uang untuk membayar biaya pengobatan...
Mereka yang tak punya cukup uang untuk makan tiga kali sehari...
Ah, pikiran utopia itu kembali hadir tanpa bisa saya cegah...
Betapa indahnya, jika Si Kaya mau berbagi...
Sehingga, yang kurang beruntung pun bisa merasakan sepercik kasih dan kehangatan...
Mungkin ada kekuatiran jika yang berkekurangan terus dibantu, mereka tak terbiasa mandiri.
Mereka jadi tergantung dengan bantuan, tanpa mau berusaha.
Tentunya, akan sangat baik jika dipikirkan mereka juga diberikan kail, bukan ikannya saja.
Namun, ada saatnya mereka memang butuh pertolongan dan itu sangat urgen, tak lagi bisa menunggu.
Maukah kita membantu mereka di saat itu?
Gaya hidup tiap orang berbeda. Yang bikin 'gak enak' adalah ketika Anda mulai menghakimi orang yang gaya hidupnya berbeda dengan Anda.
Dihakimi tak pernah enak, menganggap diri lebih baik dari orang lain bagi saya adalah pertanda kesombongan.
Jujur, saya pernah juga melakukannya, dan itu menjadikan saya malu hati.
Saya pun pernah terbuai ingin ini, ingin itu, namun kembali tersadarkan...
Buat apa yah semuanya itu?
Bisakah saya berkata cukup?
Bisakah saya bersyukur dengan apa yang saya miliki untuk kemudian mau berbagi kepada mereka yang berkekurangan?
Kita lakukan semampu kita...
Kata Bunda Teresa, do small things with love...
Hari ini ketika kehausan dan tidak membawa botol minum, saya terpaku pada kata-kata message in a bottle.
Air minum dari gerai baju-sepatu bermerek 'Cotton On' ini membuat saya teringat untuk berbagi. Salut buat karya-karya mereka di Uganda.
Masih dari botol minum yang sama, saya diingatkan...
It's little things that make a difference...
Hal-hal kecil itulah yang bisa membuat perbedaan.
That's so sweet!
Epilog
Utopia ini mungkin takkan pernah menjelma nyata...
Biarlah ia tetap dalam imaji saja...
Sambil setiap hari, mari melangkah di dalam tindakan nyata...
Dalam kasih, untuk senantiasa berbagi bagi sesama...
Mereka yang menderita, menjerit dalam duka, tanpa tahu harus berbuat apa.
Semoga.
was written and was inside my blog's draft since few months ago...
edited and finalised today 22.08.2014
fon@sg
* catatan : Utopia, dalam arti luas dan umumnya, menunjuk ke sebuah masyarakat hipotetis sempurna. Dia juga digunakan untuk menggambarkan komunitas nyata yang didirikan dalam usaha menciptakan masyarakat di atas. Kata sifat utopis digunakan untuk merujuk ke sebuah proposal yang baik namun (secara fisik, sosial, ekonomi, atau politik) tidak mungkin terjadi, atau paling tidak merupakan sesuatu yang sulit dilaksanakan. (sumber: Wikipedia)
Friday, February 28, 2014
Catatan Akhir Februari
jalani dengan sepenuh hati...
rasanya baru kemarin memasuki Januari..
kini sudah di hari terakhir di bulan Februari...
kehidupan seolah berlari...
cepat sekali...
namun, biarkan aku nikmati...
hari ini...
detik ini...
dan bersyukur untuk setiap detik yang masih Kauberi...
Maret, April, dan bulan-bulan ke depan nanti...
Akan kusambut dan kujalani...
Bersama Sang Maha Kasih Sejati...
28.02.2014
fon@sg
Friday, April 26, 2013
Di Balik Duka…
Thursday, December 27, 2012
Bitter-Sweet 2012 and Welcome 2013
Wednesday, July 18, 2012
Putus Asa
Di tengah suasana yang begitu kacau, sulit baginya untuk berpikir jernih. Sebagian besar dikarenakan masalah keuangan. Memang uang bukan segalanya, tetapi dia pun merasa, ketiadaan atau kekurangan uang bikin hidupnya nelangsa. Setidaknya untuk kondisinya kali ini.
Anaknya sedang sakit dan harus masuk Rumah Sakit. Sementara pihak RS tak mau tahu soal keuangannya, yang penting harus melunasi seluruhnya. Secara mendadak, datanglah kabar yang mengejutkan itu. Perusahaan tempatnya bekerja tutup. Bukan karena libur hari raya, tetapi karena bangkrut! Apa mau dikata, dirinya harus terkena PHK seketika. Begitu hancur hatinya. Tetapi, di depan istrinya dia harus tegar. Demikian pula di hadapan anaknya yang sakit di paru-parunya, dia harus berpura-pura menampakkan wajah tabah.
Tidak ada yang tahu, kalau di tengah malam, dia menangis dalam kesendiriannya. Istrinya masih menunggui anak mereka yang semata wayang berusia sekitar tujuh tahun itu. Dia sudah tak tahu harus berbuat apa.
Sementara kondisi anaknya makin buruk, demikian pulalah kondisi keuangannya. Tabungan berangsur menipis. Hampir habis.
Dengan meringis menahan lapar, dia tak lagi punya gairah hidup. Nafsu makan pun mendadak hilang entah ke mana, sekalian puasa karena buat makan pun sekarang uang hampir tak ada…
Monday, March 12, 2012
30 Menit Menjelang Pagi

30 Menit Menjelang Pagi
Aku berjalan agak lambat.
Hari itu, aku memiliki waktu untuk datang ke misa harian di Saigon Notre Dame Cathedral di pusat
Dinginnya pagi sungguh terasa. Hembusan angin cukup kuat akhir-akhir ini.
Demikian pula pagi itu. Kueratkan sweater-ku, kutuju gereja.
Semua masih gelap. Matahari tak menunjukkan tanda-tanda akan terbit. Kumasuki gereja. Misa belum dimulai, sekitar
Kuikuti misa dengan khusyuk. Terima kasih, Tuhan atas kesempatan ini!
Selesai misa, hampir pukul 6 pagi. Matahari sudah mulai terbit. Entah tepatnya jam berapa, mungkin 05.45? Atau 05.50? Entahlah, aku tak tahu pasti. Yang pasti, malam gelap segera berganti cerianya pagi. Ketika mentari bangun dari peraduannya dan mulai beraktivitas lagi.
Terlintas dalam pikiranku…
Sering, kita putus asa dalam kehidupan karena ‘kegelapan’ yang tengah kita hadapi. Mungkin bentuknya permasalahan, pergumulan, ataupun kegagalan. Terkadang, kita pernah berpikir untuk berhenti. Mengakhiri saja semuanya ini. Padahal, kalau saja kita mau menunggu sebentarrrr lagi, 15, 20, atau 30 menit lagi (read: satu hari, dua bulan, atau tiga tahun lagi, dst…). Mungkin saja saat-saat itulah mentari kembali menyinari kehidupan kita, kegelapan akan sirna, berganti ceria… Terlalu sering, kita tak sabar menanti keindahan janji-Nya… Dengan menyerah, kita tak pernah tahu bahwa akan ada kehidupan yang lebih baik yang sudah Dia janjikan dalam sekejap mata…
Maka, ketika kegelapan tengah melanda..
Tetap berusaha, tetaplah berdoa…
Ya Tuhan, kuatkan hamba…
Dan semoga ketika Sang Mentari terbit kembali dalam hidupku,
aku tetap berkesempatan melihatnya bersama-Mu,
karena aku tak menyerah dan terus memberikan yang terbaik bagi-Mu…
Pulang ke rumah.
Kurasa harapan baru penuhi hatiku.
Terima kasih, Tuhan untuk pagi ini. Semua hanya karena kebaikan dan anugerah-Mu saja.
Selamat pagi, Tuhan. Selamat pagi, dunia!
HCMC, 12 Maret 2012
-fon-
* catatan singkat dari misa hariannya di minggu lalu.. Baru sempat kutuliskan hari ini.
Monday, December 26, 2011
Saya Belajar

Dalam setiap kesesakan, saya belajar untuk bertahan
Lalu terus berjalan di dalam iman
Bukan karena kekuatan diri sendiri
Karena saya tahu, Tuhan selalu menemani
Dalam setiap kegelisahan, saya belajar untuk percaya
Hanya kepada Sang Pencipta yang Mahatahu segala-galanya
Galau dan resahku kusampaikan kepada-Nya
Setelah itu aku pun menjadi lebih lega
Dalam setiap kekecewaan, saya belajar untuk melihat realita
Meski pahit, seluruh perasaanku kutumpahkan pada-Nya
Tak ada jalan lain kecuali percaya
Kasih-Nya mampu membalut semua luka
Dalam setiap kegagalan, saya belajar menerima
Meski terkadang sulit tetapi aku mau percaya
bahwa rancanganku yang terbaik dan sedemikian indahnya
Tak sebaik dan sesempurna rancangan-Nya
Dalam setiap tetes air mata, saya belajar untuk tegar
Roda kehidupan terus berjalan
Hari ini sedih bukan berarti akan sedih selamanya
Selalu ada harapan di dalam Tuhan
Dalam setiap putaran waktu, saya belajar untuk setia
Tidak selalu mudah, tetapi semoga kita tak henti mencoba
Karena Tuhan sendiri sudah begitu setia
Di sepanjang perjalanan hidup kita
Hanya kepada-Nya seluruh tumpuan harapan dan doa
Saya belajar untuk tetap bangkit walaupun pernah terjatuh
Saya belajar untuk tetap tersenyum meski pernah tersakiti
Saya belajar untuk mengampuni walaupun harus berjuang keras untuk itu
Saya belajar untuk jadi seseorang yang lebih baik hari lepas hari
Saya belajar untuk menerima kekurangan diri dan mau lebih baik lagi
Saya belajar untuk tidak terlalu mengandalkan pikiran atau perasaan, karena Tuhan melebihi semuanya itu…
Saya belajar untuk tetap bekerja keras, lalu menyerahkan hasilnya kepada Tuhan
Setiap hari, saya akan terus belajar…
Untuk memilih hal-hal baik dan bukan hal-hal yang buruk
Untuk mengasihi dan bukannya membenci
Untuk percaya dan berharap kepada Tuhan
Untuk setia di antara sejuta godaan
Setiap hari, ajarilah saya, Tuhan…
Untuk melihat keindahan dalam kesederhanaan
Untuk tidak melulu menilai orang dari tampilan luaran
Untuk belajar rendah hati dan tidak arogan
Tuhan, ajarilah saya…
Hari ini dan di masa depan…
Hanya kepada-Mu kupercayakan
Seluruh hidupku di tangan-Mu, oh Tuhan…
HCMC, 26 Desember 2011
-fon-
* catatan akhir tahun…. Kesetiaan dan kebaikan Tuhan tak pernah cukup untuk kuekspresikan…
Sunday, October 23, 2011
Genggam Tanganku

Genggam Tanganku
Wanita itu sudah bukan anak kecil lagi. Bahkan, dia mungkin salah satu penghuni tertua di Panti Asuhan Anak yang cacat fisik dan kelainan mental ini. Umurnya di atas 20 tahun. Dia terus memandangi kami, ketika kami melangkah masuk pagar depan. Dia terus mengikuti kami dan tak lama dia merangkulku. Seolah begitu erat, tak mau melepaskanku. Aku sendiri bingung campur sedikit cemas, tetapi juga kasihan. Jadi, kubiarkan saja sementara dia terus menatapku.
Tak lama, kami pun diberi semacam gelang
Memang di sebelah Panti Asuhan ini, ada sekolah untuk anak-anak yang normal. Mungkin-ini hanya dugaanku- mereka sering melihat anak-anak itu dijemput orang tuanya. Sehingga mereka pun memiliki kerinduan untuk dikunjungi dan begitu bahagia menyambut kami yang datang ke
Saat dia genggam tanganku, beribu rasa jadi satu. Tak ada kata yang tepat ‘tuk menggambarkan semua itu. Batinku terus menyerukan sesuatu: sudahkah aku memberi perhatian pada sesamaku? Keluargaku, anak-anakku, teman-teman yang singgah dalam hidupku? Dan juga bagi mereka yang butuh perhatian: kesepian, sakit, putus asa, hilang harapan akan kehidupan? Dan bagi mereka yang ‘spesial’ karena mereka berbeda- mereka yang tak lengkap panca indera atau mereka yang mentalnya tidak bertumbuh secara normal, seperti yang kutemui hari ini….Ya, mereka juga butuh kasih dan sayang. Mereka butuh cinta kasih yang selama ini mungkin jauh dari mereka, yang seolah sering menyembunyikan diri hanya karena mereka berbeda. Padahal mereka juga butuh cinta dan bukan salah mereka jika mereka tidak normal seperti manusia pada umumnya. Mereka yang bahkan mungkin ditolak keluarganya, mereka yang mungkin dibuang ayah-ibunya. Mereka yang tak punya pilihan lain selain menerima keadaannya… Tuhan, kasihanilah mereka.
Tak terasa, air mataku menitik saat aku harus pulang. Aku mungkin bukan orang yang luar biasa sempurna dalam hal mengasihi sesama. Masih jauh dari itu. Tetapi, biarlah setiap hariku yang Kauanugerahkan bagiku merupakan hari yang lebih baik dalam membagikan kasih kepada sesama. Terutama mereka yang menderita dan butuh perhatian kita. Dunia ini tengah lapar. Lapar secara fisik di mana banyak yang tidak bisa makan karena perekonomian yang sulit, tetapi juga lapar akan kasih karena tak jarang di keluarga yang kaya-raya dengan uang berlimpah, cinta seolah sudah menguap entah ke mana…Uang tak bisa membeli semuanya. Tanpa uang memang hidup tak mudah, tetapi jika hanya mengandalkan uang saja, bahagia pun seolah sembunyi belaka…
Hari ini, kuberdoa khusus bagi mereka yang merasa kesepian dan terluka. Bagi mereka yang tersisih dan terlupa.
Bagi mereka yang putus asa dan ingin mengakhiri hidupnya…
Tuhan, kasihanilah…
Masih ada harapan di dalam Dia…
Kupercaya akan itu, Tuhan…
Semoga semakin banyak hati yang mau terbuka terhadap kasih-Mu,
sehingga mampu berbagi kepada mereka yang kekurangan cinta…
Genggam tanganku, Oh Tuhan, dan jangan lepaskan…
Semoga dalam penyertaan-Mu, diriku Kaumampukan
Untuk menggenggam lebih banyak tangan
Dalam kasih dan kedamaian…
HCMC, 23 Oktober 2011
-fon-
*tergerak untuk menuliskan sharing seorang sahabat ketika berkunjung ke sebuah panti asuhan di daerah Dong Nai-Vietnam
Monday, April 4, 2011
Ilmu dan Iman
Ilmu dan Iman
Dulu, saya kira dengan lebih banyak makan sekolahan, orang akan lebih baik-lebih terhormat-lebih terpelajar. Seharusnya IYA, tetapi tak jarang saya temui orang yang banyak makan sekolahan itu ternyata tidak lebih baik-tidak lebih terhormat-tidak juga lebih terpelajar dalam perilakunya. Secara ilmu mungkin IYA, tetapi secara perbuatan sehari-hari terkadang bikin miris dan dan sedih bagi yang melihatnya. Seolah ilmu itu menguap ketika masuk ke dunia nyata… Pintar- dan hanya pintar saja- jelas bukan segala-galanya…
Sebaliknya…
Dulu, saya pikir karena seseorang itu kurang pendidikan-kurang ilmu pengetahuan- tak sempat mengenyam dunia sekolah yang tinggi karena alasan apa pun (umumnya biaya), mungkinnn perilakunya jadi kurang terpuji. Tetapi nyatanya, sempat saya dipertemukan dengan orang-orang yang kurang pendidikan-tak makan bangku sekolahan- nyatanya punya sikap hidup terpuji, mulia, luar biasa… Bahkan lebih bisa dipuja ketimbang mereka yang bergelar S1, S2, bahkan S3… Ini memang kisah nyata… Karakter yang baik tak melulu berbekal ilmu belaka…
Dulu saya pikir, seharusnya orang yang memiliki level keimanan atau keagamaan yang tinggi juga memiliki perilaku yang baik dan terlihat di mata orang-orang sekitarnya. Namun, tak jarang kita kecewa melihat mereka yang taat beragama ternyata perilakunya negatif, bahkan ada beberapa yang buas dan mengerikan. Seolah kitab suci yang dibaca itu meluap entah ke mana. Oh jelas, setiap orang bisa melakukan kesalahan. Dan mengharapkan orang yang beragama dan rajin beribadah itu sempurna adalah kesia-siaan belaka. Itu mungkin pendapat banyak orang dan itu agaknya benar. Tetapi, itu bukanlah alasan apalagi tameng pembenaran diri bahwa boleh melakukan kekejian atau kejahatan dengan alasan saya hanya manusia biasa yang tak luput dari noda dosa, bukan?
Atau sebaliknya…
Orang yang jarang ke tempat ibadah identik dengan orang yang tidak taat beragama dan pastinya mereka tidak banyak mengerti ajaran ataupun dogma agamanya. Kebanyakan mereka adalah orang-orang yang jahat karena tidak mengerti? Oh jelas TIDAK… Karena saya pun pernah menemukan mereka yang mulia walaupun tidak melulu bicara soal ajaran agama tertentu. Mereka pun hidup luhur, baik, dan rajin menyumbangkan sebagian hartanya kepada mereka yang menderita atau tertimpa bencana. Kerap mereka membuat malu orang-orang yang bilang dirinya beragama tetapi tak melakukan apa-apa kepada sekitarnya. Tak ada cinta, tak ada kasih bagi sesama, boro-boro memikirkan berbagi dengan mereka yang menderita…
Hmmm, harapan saya pribadi… Semoga tingkah laku saya semakin membaik seiring pemahaman yang lebih baik akan keimanan yang saya pegang… Begitu pun harapan saya bagi Anda dengan apa yang Anda imani… Sehingga kita semua semakin mau berbuat baik di dunia yang semakin hari semakin kacau ini, sehingga kita semua bisa membuat hidup yang singkat ini lebih baik dan lebih bermakna…
Begitu pula dengan ilmu pengetahuan, sekolah, juga gelar… Apabila diizinkan Tuhan untuk saya dapatkan semoga itu semua semakin memberkati sesama bukan untuk sombong-sombongan apalagi melakukan tindak kejahatan…
Ilmu, sekolah, agama, dan iman…
Hendaknya membawa orang lebih rendah hati, lebih sadar diri, bukanlah dia sendiri yang hebat… Tetapi DIA yang hebat telah memberikan kita kesempatan untuk mengecap itu semua…. Dan semoga dalam sekolah kehidupan, iman kita semakin dikuatkan… Berbuat baik dan berwelas asih demi kemanusiaan. Untuk menjadikan hidup di dunia ini lebih indah dan membahagiakan.
-fonnyjodikin-
*copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya. Trims.
Thursday, November 4, 2010
Bertahanlah Satu Hari Lagi

Ketika begitu banyak kegelisahan menggelembung menjadi satu dan memenuhi isi kepalamu….
Ketika kau tak tahu harus berbuat apa sementara begitu banyak persoalan menghantammu sekaligus…
Ketika seolah kau kehilangan keyakinanmu untuk berdiri tegar di antara semua badai kehidupan yang terjadi…
Bertahanlah satu hari lagi…
Jangan menyerah hari ini…
Karena kau tak pernah tahu apa yang esok hari akan tawarkan.
Bertahanlah satu hari lagi di dalam iman…
Bertahanlah satu hari lagi di dalam doa…
Bertahanlah satu hari lagi bersama-Nya…
Dengan demikian akan kaudapati…
Kau sudah jalani hari-hari bersama-Nya…
Kau sudah jalani mingu demi minggu…
Bulan demi bulan…
Tahun demi tahun…
Dalam penyelenggaraan-Nya…
Jangan menyerah karena keadaan hari ini…
Karena kau tak pernah tahu,
Rencana masa depan macam apa yang sudah disiapkan-Nya bagimu…
HCMC,
-fon-
sumber gambar: HOPE by alwaysnewmistakes.wordpress.com
Wednesday, March 3, 2010
Suatu Hari Ketika Kita Sama-Sama Tua…

Kuusap tangan keriputmu. Perlahan. Karena aku sendiri tak punya kekuatan sebesar dulu. Semua gerakku kulakukan hati-hati. Maklum, kita sudah tidak muda lagi. Tetapi, inginku untuk terus membelai wajahmu. Dalam kelembutan yang masih tersisa. Dalam pelannya gerakku yang kadang tersendat. Aku masih ingin luapkan cinta dalam hati ini kepadamu.
Kuusap rambut di kepalamu yang helainya tak lagi sama seperti ketika kita berjumpa. Helainya makin tipis, berkurang satu demi satu. Sama seperti rambut panjangku yang rontok hari demi hari. Memenuhi lantai rumah yang sering disapu perlahan. Hanya ingin ungkapkan rasa yang pernah bersemi. Di masa lalu. Dulu. Dan berharap rasa itu terus ada dan tetap abadi sampai saat maut memisahkan kita.
Kuambilkan kaca matamu. Kaca mata yang sama dengan milikku. Karena mata tua kita tak lagi awas melihat apa yang terjadi di depan kita. Terkadang huruf-huruf di
Kuingat ketika kita tertawa saat melepas gigi palsu yang memenuhi mulut kita. Rasanya sudah lama ya, kita tak punya gigi lengkap lagi. Menjadi kegiatan yang lucu karena pada akhirnya kita bisa bersiul sambil menyikat gigi. Siulan lagu-lagu kegemaran yang mengingatkan akan masa lalu yang penuh cerita bagi kita berdua.
Suatu hari, ketika rumah yang dulu isinya tangisan, ompolan, dan mainan anak-anak kita. Menjadi sepi dan senyap karena mereka sudah beranjak dewasa. Mereka pergi mengejar cita dan cinta. Kuliah. Bekerja. Menikah. Dan tinggallah kita dalam rasa sepi kembali berdua. Mengunjungi mereka dan kunjungan dari mereka adalah hadiah terbesar bagi kita. Kita mulai saling memperhatikan (lagi). Setelah sekian lama perhatian itu terpecah kepada buah kasih kita.
Suatu ketika, ketika rambut kita sama-sama memutih. Ketika eros (cinta yang dilandasi hawa nafsu) sudah jadi philia (cinta penuh persahabatan). Ketika kita tak lagi sanggup marah-marah karena suara sudah tak senyaring dulu. Meski masih saja kita berdebat mengenai soal-soal tak penting. Saling kesal, namun pernah juga berakhir dengan tertawa bersama.
Biarlah kita tetap ingat cinta yang membawa kita sampai hari ini. Merenda kasih yang sarat konsekuensi penerimaan tanpa syarat sampai akhir nanti. Biarlah kita ingat, cinta ini bukan datang dengan sendirinya. Melainkan dia memang dibina, dipertahankan, didoakan, dan dijalankan.
Suatu ketika, saat kita sama-sama tua. Dengan kondisi tubuh yang tak lagi prima: mungkin pikun-mungkin tangan gemetar- mungkin sakit-sakitan.
Biarlah kita tetap miliki cinta yang tak lekang dimakan usia.
HCMC, 3 Maret 2010
-fon-
* doa dan harap untuk masa tua nanti…:)
Sumber gambar:
Thursday, February 11, 2010
Elegi Menjelang Pagi

Pagi yang tak cerah. Tak seperti biasanya. Kudapati wajahnya suram, muram, dan kelam. Mungkin itu juga pantulan wajahku yang tak sempat kupandangi di cermin pagi ini. Sama-sama, kami telah saling melukai. Sama-sama, kami telah saling menyakiti. Dan kini, ketika dia berkata cukup sampai di sini, mengapa hatiku berdarah dan tertusuk duri?
Ketika kami putuskan menikah atas nama cinta…Bukan begini kenyataan yang ada di kepala. Harusnya kami bahagia sekaligus gembira, mendapatkan apa yang selama ini kami damba. Namun, nyatanya? Setelah berpacaran
Hari-hari awal perkawinan, masih biasa saja. Tak ada gejolak berarti, seolah ini rutinitas belaka. Hari-hari selanjutnya penuh dengan argumentasi, pertentangan, kemarahan. Dan terkadang kekerasan memasuki teritori cinta kami. Ke mana cinta kami yang dulu mekar berseri? Ke mana cinta yang telah kami pupuk dan kami bina setengah mati? Hilang? Lenyap? Raib?
Dan hari ini, ketika dia kembali mengucapkan kata-kata itu, hatiku terluka parah.
Cukup sampai di sini? Kaupikir masalah kita bisa selesai dengan berpisah?
Tapi, tak lagi kucari jawab itu di matanya. Karena aku pun sudah menyerah. Aku kehilangan dirinya. Kehilangan kelembutan dan senyum manisnya. Yang tiba-tiba berubah menjadi monster yang menakutkan. Yang seringnya berubah menjadi binatang buas yang siap menerkam. Tak lagi kurasakan perhatiannya, tak lagi kurasakan kenyamanan ketika bersamanya. Kalau perkawinan hanya jadi pertarungan ego tak terselesaikan macam ini, kurasa aku menyerah.
Dengan malu, aku harus menerima. Bahwa semua masa pacaran-tunangan-sampai menikah yang mencapai enam tahun itu, ternyata harus berakhir ketika perkawinan ini belum sampai setahun. Dengan lirih, kutanya hati, “ Apa gerangan yang terjadi?”
Hatiku senyap. Diam. Dalam linangan air mata kesedihan dia berkata, “ Elegi tak berkesudahan telah dimulai di pagi ini.”
Apa masih ada kesempatan bagi kami berdua? Aku tak berani berharap. Karena sesudah dia berkata begitu, dia tak lagi menatapku. Dia telah mempersiapkan kopernya dan pergi dari rumah kami. Pergi dari hatiku. Pergi bersama cinta kami yang pernah bersemi. Dan (tampaknya) takkan kembali.
Dia telah pergi. Dari hidupku. Dari hatiku. Aku tak rela, tapi aku tahu mungkin ini yang terbaik bagi kami berdua.
Elegi itu masih mengalun. Pedih, perih, bercampur alunan penuh nestapa.
Lalu, kubawa pergi. Berharap suatu hari nanti akan kudapati cinta yang mampu membuatku tergugah dan kembali membuka hati.
Sampai kapan kuharus menanti? Aku tak pernah tahu pasti…
Aku hanya berjalan, merayapi dinding kehidupan yang kelam saat ini.
Sambil berharap suatu saat nanti, cinta sejati hadir kembali.
HCMC, 12 Februari 2010
-fon-
* Elegi menurut kamus Bahasa Indonesia ‘online’:
ele·gi /élégi/ n syair atau nyanyian yg mengandung ratapan dan ungkapan dukacita.




