Sunday, June 27, 2010

Being Mom: Di Balik Mulianya Ibu Rumah Tangga



Mulianya panggilan seorang Ibu Rumah Tangga—apalagi yang penuh waktu—tanpa harus dibagi dengan pekerjaan yang menyangkut kariernya, rasanya banyak orang (kalau tidak bisa dikatakan semuanya) sudah tahu.

Peranan membesarkan anak, bukan hanya memandanginya saja langsung jadi besar seketika. Namun, memang diperlukan kesabaran dan kasih yang besar dalam mendidik mereka menjadi manusia yang baik dan berguna. Sampai hari ini profesi itu masih saya jalani. Saya bahagia punya waktu yang banyak dengan puteri saya. Bila dia bangun tidur, saya masih berada di sisinya atau di dekatnya. Jika saya bekerja dan pastinya ini dialami para wanita karier, tak selalu bisa karena panggilan tugas di kantor sudah menunggu.

Selain itu, saya pun sadar bahwa panggilan ibu rumah tangga yang mulia ini juga memiliki beberapa hal yang harus saya pribadi perhatikan seperti:

  • Memiliki banyak waktu, sehingga tak jarang memboroskan waktu itu sendiri. Macam-macam sih pilihannya, misalnya saja suka internetan berjam-jam, ‘browsing’ yang aneh-aneh. Atau bagi para pengguna BB, waktu-waktu bersama anak juga mendapat saingan dari BB misalnya. Karena memiliki banyak waktu itu pula, seringnya bengong, melamun dan berpikir yang tidak-tidak. Tak jarang menjadi iri hati dengan tetangga yang lebih sukses atau bawaannya curigaan terus sama suami karena tak percaya diri karena terus menerus di rumah.
  • Masih dalam konteks memiliki banyak waktu sebetulnya, banyak pula acara yang biasa diikuti. Syukur-syukur itu acara ‘bergizi’ bagi jiwa dan spiritual, semisal pendalaman iman, pengajian bersama, ataupun aktif di vihara. Atau program yang baik bagi pengembangan diri misalnya training untuk menjadi kepribadian yang luwes, les bahasa, les menari , les memasak/ membuat kue, atau les rias wajah, dsb. Yang mengembangkan keahlian, yang membuat diri menjadi lebih baik, tak pernah salah dong tentunya. Namun, ada kalanya acara kumpul-kumpul semisal arisan, ketemuan, hang out, reunian, berujung saling marah-iri-dan memaki. Acara yang seharusnya menjadi hal-hal yang positif itu, malahan beraura negatif hanya karena perselisihan antarteman. Tak jarang acara yang sedianya bertujuan baik malahan menjadi acara yang memendam dendam kesumat. Saling benci, saling menggosipkan, saling ‘ngatain’ satu sama lain. Sungguh, sedih hati saya bila melihat hal-hal semacam ini. Tentunya bukan berarti saya super mulia dan tak pernah berdosa, tetapi sangat disayangkan jika apa yang awalnya baik, ternyata perkembangannya menjadi tidak sebaik rencananya.
  • Apa lagi, ya? Selain pemborosan waktu, gossip dan pikiran negatif di atas… Ada kalanya profesi ibu rumah tangga ini juga membuat Si Ibu punya waktu lebih buat jalan-jalan, shopping, dan makan-makan di luar. Tanpa sadar, anggaran belanja negara, ooppss maksudnya anggaran belanja keluarga jadi bengkak karena termasuk di dalamnya pos-pos tak terduga seperti: shopping di siang bolong saat anak sekolah. Dan seterusnya. Menghamburkan uang secara besar-besaran juga bisa dilakukan, disengaja atau tidak. Karena punya waktu lihat-lihat barang sambil cuci mata, maksudnya sih ‘window shopping’, tak jarang pulangnya bawa tentengan. Eh, belanja lagi, bu? Ya iyalah, wong di depan mata gitu lho… Sebetulnya, sayang ya, uang itu terkadang bisa dipakai untuk keperluan lain bukan melulu melampiaskan nafsu belanja ke kanan-kiri. Tetapi kadang namanya ‘lapar mata’ itu terkadang susah juga ternyata… Memang harus betul-betul mengendalikan diri, karena jangan sampai uang yang sedianya buat keperluan rumah atau les anak, jadi malah terpakai buat kesenangan Si Mama belaka.
  • Terkadang karena tak habis-habisnya pekerjaan rumah tangga, ibu rumah tangga seringnya keletihan juga. Dan kalau capek, kadang emosinya bisa naik tiba-tiba. Anak yang sedang main, kurang tertib dikit, bisa-bisa dimarahi. Padahal ya, namanya juga anak-anak. Sama halnya dengan suami, bisa tiba-tiba kena damprat istri yang kecapekan. Penting bagi ibu rumah tangga tanpa ‘nanny’ atau pembantu, untuk mencari waktu istirahat juga biar tidak kelelahan. Dengan demikian bisa mengurus rumah tangga, anak, dan suami dengan lebih baik lagi.

Tulisan ini sedianya buat mengingatkan saya pribadi untuk tetap memanfaatkan waktu-waktu saya yang cukup banyak lowongnya ini untuk hal-hal yang baik. Menulis hal-hal yang baik misalnya dan bukan mengisinya dengan hal-hal yang kurang baik, itu saja sih sebetulnya. Tentunya, saya pun masih terus berjuang dalam mengatasi hal-hal tersebut. Teori selalu lebih mudah daripada praktiknya, bukan? Tetapi biarlah saya terus berusaha yang meskipun jatuh bangun (kayak lagu dangdut ya? Hehehe), tetapi tidak menyerah untuk terus tetap jadi Ibu RT yang efektif dan efisien :) Pastinya, saya masih jauhhhh dari sempurna. Tiap hari adalah hari baru buat saya belajar untuk menjadi lebih baik. Menjadi ibu yang lebih baik bagi anak kami, istri yang lebih baik bagi suami saya. Dan mudah-mudahan orang yang lebih baik hari lepas hari.

HCMC, 26 Juni 2010

-fon-

Sumber gambar:

http://www.google.com.vn/imglanding?q=ibu%20rumah%20tangga&imgurl=http://nittaprasetya.com/wp-content/uploads/2009/04/bukan-ibu-rumah-tangga-biasa-300x196.jpg&imgrefurl=http://www.zimbio.com/member/nittap/articles/6005991/Bukan%2BIbu%2BRumah%2BTangga%2BBiasa&usg=__JJxGQ5O6KhlyfaP0A48LJOtv8Ug=&h=196&w=300&sz=15&hl=vi&itbs=1&tbnid=ZToJWEm9fsdaGM:&tbnh=76&tbnw=116&prev=/images%3Fq%3Dibu%2Brumah%2Btangga%26hl%3Dvi%26gbv%3D2%26tbs%3Disch:1&gbv=2&tbs=isch:1&start=11


No comments:

Post a Comment