Showing posts with label refleksi. Show all posts
Showing posts with label refleksi. Show all posts

Sunday, April 17, 2016

Choco Chips Muffins - A Story of My Life



Choco Chips Muffins - A Story of My Life

Okay, okay, kali ini aku mau ngomongin soal salah satu makanan favorit anak-anak.
Selain gampang bikinnya, rasanya juga mayan lah (karena gak boleh ter.la.lu memuji-muji diri sendiri, nanti lupa daratan hihihi...)

Basically, ini choco chip muffins bersama dengan resep-resep lainnya sudah berhasil kuuji coba di dapurnya  fon's sweet delight.
Dan kadang-kadang nyari yang bikinnya praktis, tanpa mengurangi rasa tentu saja...

Intinya nih, kalo ngelihat bahan-bahannya satu per satu...
Telur, gula pasir, choco chips, tepung terigu, susu,  vanilla essence, dan bahan tambahan semisal keju cheddar potong kotak-kotak atau kismis...
Tiba-tiba aku ngebayangin hidup yang kayak gitu...
Kayak telur, gula pasir, choco chips, tepung terigu, susu, vanilla essence, de el el ituhhh...
Pernah gak ngalamin satu kejadian dan kejadian yang lain yang seolah gak dimengerti?
Sambil nanya ke Tuhan, "Why God? Oh Why must these things happen in my life?"
Pencerahan yang tiba-tiba cling dan timbul di benakku hari ini...
Aku gak bakal ngerti kalo liat satu per satu ingredient itu tadi...
Tapiiii, kalo sudah dipanggang di oven dan jadi choco chip muffins yang siap disajikan...
Baru deh ngerti...
Oh begini tokh kamsud-Nya. Begini tokh maksud-Nya...

Sekarang yang kita alami seolah bagian-bagian itu tadi...
Tapi, suatu saat itu semua bakalan jadi choco chip muffins yang bukan saja lezat dimakan, tapi enak dilihat tampilannya geto lho...
Beautiful in His Eyes karena MasterChef-Nya Tuhan sendiri...:)

Singkat, padat tulisan kali ini...
Panjangnya nunggu akhir pekan, ulasan Descendants of The Suns (DoTS) sesudah nonton special edition-nya:)

Semangatttt! Karena choco chip muffins yang lezat dan indah dalam pandangan-Nya dan sesama sedang dalam proses pembuatan...
Never give up! Always give our very best to the Almighty and the people surround us...

Selamat siang.

18.04.2016
fon@sg
* Duh, Singapore panas bener ni hari... Moga-moga di tempat Anda gak seterik ini...

Friday, August 22, 2014

Utopia



Ketika haus, saya hanya butuh air putih.
Sesederhana itu.
Lalu perkembangan zaman, tren, gaya hidup membawa saya mencari yang lainnya...
Mungkin itu juice, mungkin itu teh pake susu  yang dikenal dengan nama tea latte, kopi, minuman bersoda yang beragam jenis dan warnanya...
Harga pun beda.
Dari kaki lima, jika itu masuk hotel bintang lima, pasti jadi berlipat ganda...


Ketika lapar, saya hanya butuh nasi.
Mungkin pakai sedikit sayuran dan lauk.
Tidak perlu disajikan seperti di restoran apalagi seperti di kerajaan.
Yang saya butuh hanya makan dan perut kenyang.
Lagi-lagi, keinginan membawa saya lebih jauh.
Ingin makan ini dan itu...

Sehingga harga yang awalnya murah, menjadi ekstra mahal juga.
Lagi-lagi ketika dikemas dengan 'packaging' yang indah, ada harga yang harus dibayar pula...

Sama halnya seperti baju, sepatu, tas, mobil, rumah...
Awalnya hanya kebutuhan.
Ketika itu menjadi keinginan ...
Ketika itu menjadi ajang unjuk gigi...
Ketika gengsi mengolok-ngolok saya untuk ikut-ikutan orang lain...
Jadinya baju, sepatu, tas, mobil, dan rumah pun ikut imbasnya.
Fungsi sama, tapi menempatkan kita di strata sosial yang berbeda.

Padahal?
Yang pakai tak bermerek, belum tentu miskin.
Yang pakai merek, jujurnya, belum tentu juga orang kaya.
Ironis memang...
Seorang sahabat yang bekerja di perbankan di Singapura pernah mengemukakan pengalamannya...
Banyak yang justru punya uang puluhan juta Singapore Dollar (SGD), yang naik kendaraan umum semisal MRT dan bus, atau taksi. Mereka pun cenderung rendah hati, 'low profile' sekali.
Sementara yang uangnya 'baru' jutaan dollar, gayanya selangit.
Sudah wajar katanya.
Saya hanya tersenyum ketika mendengarnya:)

Pernah saya baca juga, pemilik 'department store' di negeri Singa ini malahan sukanya pakai baju murah.
Tinggal juga di tempat yang sederhana.

Padahal beliau mampu untuk membeli yang lebih dari itu.

Sedangkan yang terlihat hebat dan fantastis penampilannya?
Walaupun tidak semua dan tanpa bermaksud menghakimi, saya pun pernah mendengar dan melihat juga, bahwa ada yang memaksakan diri pakai barang bermerek untuk tampil, untuk bisa diterima di kalangan sosial/pergaulan tertentu.
Terkadang dengan menghalalkan segala cara, termasuk cicil, pinjam, dan hutang.
Asal aku pakai barang mewah.

Apa saya anti barang mewah?
Jujurnya tidak.
Itu sih terserah Anda. Anda yang paling mengetahui kondisi finansial Anda.

Jika mampu dan mau, silakan saja.
Namun, saya hanya membayangkan, betapa indahnya jika uang yang dipakai buat pembelian barang-barang yang terlalu mewah dalam jumlah yang super banyak itu bisa disumbangkan kepada mereka yang membutuhkan.
Mereka yang tak bisa sekolah.
Mereka yang tak punya uang untuk membayar biaya pengobatan...
Mereka yang tak punya cukup uang untuk makan tiga kali sehari...

Ah, pikiran utopia itu kembali hadir tanpa bisa saya cegah...
Betapa indahnya, jika Si Kaya mau berbagi...
Sehingga, yang kurang beruntung pun bisa merasakan sepercik kasih dan kehangatan...
Mungkin ada kekuatiran jika yang berkekurangan terus dibantu, mereka tak terbiasa mandiri.
Mereka jadi tergantung dengan bantuan, tanpa mau berusaha.
Tentunya, akan sangat baik jika dipikirkan mereka juga diberikan kail, bukan ikannya saja.
Namun, ada saatnya mereka memang butuh pertolongan dan itu sangat urgen, tak lagi bisa menunggu.
Maukah kita membantu mereka di saat itu?

Gaya hidup tiap orang berbeda. Yang bikin 'gak enak' adalah ketika Anda mulai menghakimi orang yang gaya hidupnya berbeda dengan Anda.
Dihakimi tak pernah enak, menganggap diri lebih baik dari orang lain bagi saya adalah pertanda kesombongan.
Jujur, saya pernah juga melakukannya, dan itu menjadikan saya malu hati.
Saya pun pernah terbuai ingin ini, ingin itu, namun kembali tersadarkan...
Buat apa yah semuanya itu?
Bisakah saya berkata cukup?
Bisakah saya bersyukur dengan apa yang saya miliki untuk kemudian mau berbagi kepada mereka yang berkekurangan?

Kita lakukan semampu kita...
Kata Bunda Teresa, do small things with love...
Hari ini ketika kehausan dan tidak membawa botol minum, saya terpaku pada kata-kata message in a bottle.
Air minum dari gerai baju-sepatu bermerek 'Cotton On' ini membuat saya teringat untuk berbagi. Salut buat karya-karya mereka di Uganda. 
Masih dari botol minum yang sama, saya diingatkan...
It's little things that make a difference...
Hal-hal kecil itulah yang bisa membuat perbedaan.
That's so sweet!

Epilog

Utopia ini mungkin takkan pernah menjelma nyata...
Biarlah ia tetap dalam imaji saja...
Sambil setiap hari, mari melangkah di dalam tindakan nyata...
Dalam kasih, untuk senantiasa berbagi bagi sesama...
Mereka yang menderita, menjerit dalam duka, tanpa tahu harus berbuat apa.
Semoga.

was written and was inside my blog's draft since few months ago...
edited and finalised today 22.08.2014
fon@sg


* catatan : Utopia, dalam arti luas dan umumnya, menunjuk ke sebuah masyarakat hipotetis sempurna. Dia juga digunakan untuk menggambarkan komunitas nyata yang didirikan dalam usaha menciptakan masyarakat di atas. Kata sifat utopis digunakan untuk merujuk ke sebuah proposal yang baik namun (secara fisiksosialekonomi, atau politik) tidak mungkin terjadi, atau paling tidak merupakan sesuatu yang sulit dilaksanakan. (sumber: Wikipedia)

Friday, June 27, 2014

Refleksi di Bulan Juni...

Sebuah posting yang terlambat di Blog Chapters of Life, namun sudah saya posting di Facebook sebelumnya pas tanggal 1 Juni yang lalu...
Tetapi, semoga masih tetap bisa membuat saya pribadi, moga-moga kita semua untuk refleksi diri...(-fon-)

Januari: 
"Ya, koq cuma segini, Tuhan?"

Februari: 

"Si A sudah ke sana-ke mari keliling dunia, sementara aku koq cuma begini-begini aja, Tuhan?"

Maret: 

"Si X sudah beli mobil baru. Keren. Mahal. Sementara mobilku masih butut saja...Oh my..."

April:

"Tasnya Ibu N, tetangga sebelah, tiap bulan gonta-ganti. Semua seharga puluhan jeti. Sementara punyaku? Satu, harga pun jauh sekaliiii..."

Mei: 

"Pa, lihat donk, posisi Bapak W teman sekantor Papa, tambah hari tambah hebat. Sementara Papa? Naik gaji saja seret, duhhh Pa...Pa..."

Kisah di atas bukan kisah pribadi. Namun rasanya sering terjadi.
Semoga Juni, Juli, sampai akhir tahun ini...
Bahkan sampai akhir hidup ini...
Menjadi pelajaran tersendiri...
Bahwa hidup bukan melulu pertandingan tanpa henti...
Apalagi dalam area tak sehat macam ini...
Kekayaan penting, namun tidak dibawa mati...
Sebegitu sulitnyakah kita mensyukuri?
Kata CUKUP seolah begitu sulit terlontar dari bibir ini...

Segalanya cukup bagiku, Tuhan...
Terima kasih.
Asal aku berjuang sekuat tenaga, kuyakin Tuhan pasti buka jalan...
Berusaha menikmati apa yang ada hari ini...
Dan jika diberi kemudahan, tak lupa berbagi kepada sesama yang menderita...
Semua dari-Mu dan titipan-Mu semata.(-fon-)


01.06.2014
fon@sg

Thursday, May 2, 2013

At the Supermarket




Story #01- sekitar sebulan yang lalu

Seorang ibu lanjut usia. Sekitar umur 70-an.
Ingin membeli susu fermentasi merek ‘Y’ yang cukup ternama .
Dia membawa dua bungkus minuman itu dan melangkah ke kasir.
Dia berada tepat di depan saya.
Kasir yang kenal dengan dirinya mengingatkan…
Kalau harga minuman itu baru saja naik.
Kenaikannya 20 sen dollar Singapura.
Sang Ibu mengurangi pembeliannya.
Menggantinya jadi sebungkus saja.
Agaknya, jumlah yang setara dengan seribu lima ratus rupiah itu…
Cukup berat baginya…

Story #02- sekitar seminggu yang lalu

Seorang pekerja konstruksi –entah asal India atau Pakistan-yang masih dalam pakaian kerja…
Dengan wajah yang kelihatan sungguh lelah…
Buru-buru meninggalkan kasir di Supermarket dan masuk kembali ke dalam…
Saya yang berdiri di belakangnya harus menunggu…
Ujar kasir tempat saya mengantri dalam Bahasa Mandarin,
“Uangnya tak cukup. Jadi, dia harus mengganti barang yang mau dia beli.”
Dia lalu kembali.
Dengan keletihan yang sama. Dengan wajah berdebu seusai kerja.
Menenteng sebungkus telur ayam.
Dan segera membayar di kasir.
Sambil setengah termenung saat memberikan uangnya…
Mungkin itu yang masih tersisa…
Di sakunya…

***
Di Negeri Singa yang dikira begitu megahnya oleh banyak orang…
Juga memiliki realita yang menggugah…
Yang tak seindah gambaran yang ada di setiap kepala…
Hidup di sini tak selalu identik dengan Orchard Road
Atau Vivo City Mall
Atau Marina Bay Sands
Masih banyak juga yang menjerit di tengah kenaikan harga…
Yang juga harus sungguh menghitung pengeluarannya…
Seperti Sang Pekerja…
Yang harus ‘survive’, sementara harus pula memikirkan keluarganya…
Yang tinggal di negeri asalnya…

Juga di negeri tercinta, Indonesia
Masih begitu banyak yang menderita…
Yang menangis sedih tak tahu harus lakukan apa…
Yang tak bisa sekolah, tak punya rumah, tak bisa makan setiap harinya…
Dan di belahan dunia, di mana saja…
Kemiskinan masih meraja-lela…

***

Jika hari ini kita masih diberi kecukupan oleh-Nya…
Bukankah akan lebih indah, jika kita bisa berbagi kepada sesama?
Terlalu sering kita hanya pikirkan diri sendiri saja…
Yang penting saya aman, saya kenyang, saya kaya…
Bagaimana dengan nasib mereka?
“Ah, mereka ‘kan bukan urusan saya!”
Mungkin itu jawaban kita…

Namun, saya berdoa…
Semoga kasih Tuhan melingkupi hati kita…
Sehingga Dia bisa menggerakkan kita…
Untuk mengasihi dan berbagi jika kita berpunya…

Saya pun berdoa bagi mereka yang menderita…
Semoga tak kurang asa…
Harapan masih tersimpan di dada…
Meski nyala itu begitu kecilnya…
Bahwa Tuhan tak pernah tertidur dan senantiasa…
Dia punya mata yang melihat kepada ciptaan-Nya…

3 Mei 2013
fon@sg

Sunday, January 27, 2013

Apakah Saya Selalu...?




Apakah saya selalu termotivasi?
*** Ah, tentu tidak:) Saya juga manusia biasa yang gampang down jika hal-hal tidak berjalan sesuai rencana. Tetapi saya bersandar kepada Yang Kuasa. Jika ada motivator terhebat, bagi saya hanyalah Dia. Tuhanlah yang selalu menjadi inspirasi bagi saya.

Apakah saya selalu penuh syukur?
*** dengan rendah hati aku mengakui, aku masih jauh dari itu:)
tetapi bagiku, tiap hari adalah pelajaran untuk lebih baik lagi dalam segala hal termasuk urusan syukur ini. Beruntung banyak email, broadcast BBM, atau orang-orang yang mengingatkanku, Tuhan sungguh baik bagiku. Apa pun yang terjadi di hidupku, patut disyukuri karena Tuhan selalu campur-tangan dalam segala hal di dalamnya.

Apakah saya selalu berhasil dalam mewujudkan impian-impian saya?
*** tentu saya ingin begitu, tetapi nyatanya tidak. Beberapa kali bahkan saya berhadapan dengan kegagalan yang menyakitkan, membuat saya kecewa dan putus asa. Tetapi saya tidak menyerah. mungkin saya 'pause' tetapi saya tidak 'stop'. karena saya tahu, Yang Kuasa ada di balik semua babak kehidupan saya. Dia Sang Sutradara sekaligus Penulis skenario kehidupan kita. Dan kegagalan satu-dua-bahkan sampai seratus kali yang saya alami, tak mengapa. Karena Dia ada bersama saya. Jika suatu saat saya berhasil, itu pun karena Dia memperkenankannya. Saya pun semakin realistis. Bermimpi boleh, tetapi harus tetap menjejakkan kaki di bumi. Melihat kemampuan diri juga dan mempercayakan semuanya itu kepada Tuhan. Jika Dia inginkan itu terjadi, pasti bisa.

Apakah saya selalu bahagia?
*** Tak jarang hidup saya dipenuhi derai air mata. Tetapi, di balik itu semua, saya sadar ada kata 'sukacita' yang begitu berarti. Keadaan boleh sulit, menghimpit dan membuat kita terjepit. Tetapi di dalam iman saya akan Tuhan, saya percayakan seluruhnya kepada Dia. Dia bisa ubahkan duka-cita jadi kegembiraan. Dan bahagia yang begitu membuncah di dada, ternyata usianya pun tak lama juga… Dengan sukacita, saya sadari, semua adalah baik di dalam-Nya. Belajar menjalani hari-hari dalam iman kepada-Nya.

Apakah saya selalu bisa mengatasi seluruh permasalahan kehidupan?
*** saya pernah bersandar pada kekuatan diri, ternyata saya kelelahan, karena saya tak mampu atasi semuanya sendirian. Tetapi dengan berjalan bersama Tuhan, saya melangkah dengan ringan. Karena tahu, Dia Yang Maha Kuasa bersama-sama dengan saya. Saya mungkin tidak sanggup, tetapi Dia selalu sanggup. Bersama-Nya pasti bisa.

Apakah saya selalu tulus dan penuh kasih?
*** saya selalu berjuang untuk itu. Walaupun saya tidak memungkiri, terkadang dengan orang-orang yang pernah menyakiti hati, sulit rasanya untuk selalu tulus, apalagi tahu mereka pernah memanfaatkan kita. Tetapi, saya kembali kepada-Nya. Tuhan akan memampukan saya untuk melewati ini semua bersama-Nya. Mohonkan ketulusan dari-Nya juga kasih-Nya untuk menyembuhkan saya, lalu berusaha sedapat mungkin untuk berbuat baik dan penuh ketulusan lagi kepada sekitar kita.

Apakah saya selalu berhasil memerangi perasaan-perasaan negatif semisal minder, sombong, atau iri hati?
*** berjuang dan berjuang lagi. Karena sadar itu semua adalah karena belum menerima diri sendiri. Mohonkan kasih-Nya agar saya bisa menerima diri apa adanya. Tak perlu minder, sombong, atau iri hati. Setiap orang sudah ada jatahnya sendiri-sendiri. Jika perasaan-perasaan itu hadir lagi, saya hadapi dan bawa kepada Tuhan. Saya hanya manusia biasa dengan begitu banyak kelemahan. Tetapi di dalam Dia, kelemahan itu bisa diubahkan. Saya percaya dan saya mau untuk menjadi lebih baik lagi di dalam Tuhan…

Sekian dulu goresan pena siang ini…
Lain kali kita sambung lagi…J

28 Januari 2013
fon@sg

Thursday, December 27, 2012

Bitter-Sweet 2012 and Welcome 2013




Kita tengah melangkah di hari-hari terakhir 2012.
Tentunya, begitu banyak kenangan yang terjadi di tahun ini.
Beberapa manis, bahkan teramat manis.
Mungkin pula beberapa begitu pahit.

Mungkin di tahun ini kita harus berhadapan dengan kenyataan bahwa perpisahan dengan orang yang dikasihi itu begitu menyakitkan.
Rongga-rongga kekosongan yang terjadi segera sesudah prosesi pemakaman usai, tak mudah untuk diisi kembali.
Terlalu banyak memori dan walaupun sebagai umat beriman kita percaya bahwa yang kita kasihi sudah berbahagia di sisi-Nya, tetap saja hari demi hari tetap dilalui dengan tidak mudah.

Mungkin di tahun ini kita memulai sesuatu yang penting.
Pernikahan, punya anak, pekerjaan baru, yang semuanya indah dan menjanjikan.
Mungkin pula beberapa dari kita mengalami hal-hal yang menyedihkan.
Kegagalan, ditipu seseorang yang kita percayai, kemunduran dalam bidang finansial atau beberapa hal lainnya yang menyedihkan…

Apa pun yang sudah terjadi, kita yakini adalah yang terbaik dalam rancangan-Nya. Pahit di mata kita, belum tentu pahit selamanya. Tak jarang, itu adalah pelajaran yang paling berharga di kemudian hari yang tak pernah kita sangka-sangka.

Di Singapura, ada satu restoran yang cukup sering kami kunjungi.
Namanya Eighteen Chefs (di restorannya ditulis E18hTEEN CHEFS). Cabangnya ada di tiga mal di sini. Salah satu outletnya sering saya datangi karena bertepatan dengan menunggu anak kami kursus. Sesudahnya, bersama anak saya, cukup sering saya menikmati makanan yang nikmat dan pelayanan yang baik. Anak kami pun suka karena bisa mengambil air minum sepuasnya, menjadi satu kesenangan tersendiri bagi dia untuk bolak-balik ke termos air dingin dan membawa air ke meja makan.

Makanan yang disajikan kebanyakan tipe ‘western food’. Baked-rice with cheese, pasta, wafel with ice cream dan sebagainya. Saya hanya menikmati makanannya yang lezat tanpa tahu kisah penting di baliknya. Pemilik restoran ini, Benny Se Teo, baru saja mendapatkan penghargaan dari pemerintah Singapura sebagai Social Enterprise of the Year di tahun 2012 ini. Namun kisahnya yang inspirasional ingin saya bagikan kepada sahabat-sahabat semua:

Benny Se Teo is the founder of Eighteen Chefs, a three-chain restaurant staffed by ex-convicts and young people with troubled pasts. Teo himself struggled with heroin addiction from the age of 14, and was in and out of prison and rehab until his last release in 1993. He trained at Fifteen – the London restaurant run by celebrity chef Jamie Oliver – and started Eighteen Chefs in 2007.

Benny yang adalah pemilik Eighteen Chefs ini dulunya adalah seorang pecandu heroin yang mulai dari umur 14 tahun sudah keluar-masuk penjara dan pusat rehabilitasi, sampai dirinya betul-betul pulih di tahun 1993. Dia mendapatkan pelatihan di Fifteen, restoran di London yang dimiliki oleh ‘celebrity chef’ Jamie Oliver lalu kemudian memulai Eighteen Chefs di tahun 2007. Dan bukan itu saja, dia berusaha menampung para mantan narapidana dan orang muda yang masa lalunya bermasalah sebagai karyawan restorannya.



Setiap kali saya membaca latar-belakang dan kisah seperti ini, saya sering merinding. Terharu. Tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Setiap orang berhak atas kesempatan kedua, tak terkecuali siapa pun! Walaupun mereka adalah mantan narapidana yang mungkin dijauhi oleh masyarakat banyak.

Benny Se Teo dan Eighteen Chefs menyadarkan saya sekali lagi…
Meskipun mungkin di sepanjang tahun ini begitu banyak kejadian yang mungkin kurang mengenakkan, selalu ada harapan untuk jadi lebih baik di masa depan.
Dan harapan kita di dalam Tuhan tidak akan mengecewakan….
Kita percaya itu…
Sekelam apa pun masa lalu kita, selalu ada harapan di dalam Dia…

***

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat dikejutkan oleh jatuhnya anak kedua kami dari tempat tidur setinggi 60 cm. Syukurlah, tidak terjadi hal yang serius, hanya benjol sedikit di kepalanya. Sesudah itu, kami sekeluarga jadi lebih hati-hati dan diliputi kecemasan.

Sedang apa yang terjadi pada anak kami?
Dia tak ragu kembali ke tempat dia terjatuh tanpa rasa takut.
Walaupun kami jadi ekstra hati-hati jika dia kembali ke tempat itu…
Perasaan was-was masih mendominasi…

Apa yang saya pelajari?
Kita orang dewasa punya trauma, sehingga takut untuk memulai kembali.
Tetapi, anak-anak TIDAK.
Mereka punya keberanian untuk selalu mencoba lagi. Sesuatu yang patut ditiru dalam hidup untuk tidak mudah menyerah pada keadaan pahit kehidupan. Coba dan coba lagi di dalam Tuhan.

Akhirnya, apa pun yang kita alami di tahun 2012 ini kita percaya adalah baik di mata-Nya. Karena Dia punya gambaran yang sempurna akan kehidupan kita. Bagian kita hanyalah terus berusaha dan memberikan yang terbaik bagi-Nya.

Good bye bitter-sweet 2012 and let’s welcome 2013 in hope!
Have a very happy new year!



God bless.

Salam dari Singapura,
-fon-

Monday, December 17, 2012

Suatu Kisah dari Negeri Dar Der Dor…




Di Negeri Dar Der Dor setiap orang boleh punya senjata tajam bahkan senapan.
Itu dikarenakan peraturan di masa silam yang memperbolehkannya demi melindungi kepentingan manusianya.
Tetapi, ketika senjata dipegang oleh tangan-tangan yang hatinya tergoda untuk membalas dendam, mereka yang tertekan lalu mendadak seolah mendapatkan kekuatan dari pamer senjata atau mereka yang menjadi lupa diri tujuan awal mula mengapa senjata diperbolehkan, akhirnya begitu banyak korban berjatuhan.

Penembakan itu bisa terjadi di mana saja dan kapan saja.
Bisa di sekolah, di pusat perbelanjaan, di Universitas, bahkan di bioskop sekalipun.
Dan ketika dar der dor yang jadi pilihan, seringkali banyak korban berjatuhan.
Anak kecil yang tak bersalah bahkan tak tahu apa-apa, sering juga jadi korban.
Menyedihkan? Memang.
Menyesakkan? Banget!

Entah tindakan berani-beranian karena sering dikatai pengecut dan pecundang.
Entah karena stres di pelbagai bidang kehidupan…
Entah karena kebencian yang mendadak merajai diri tanpa bisa dikendalikan…
Entah apa pun penyebab keinginan yang mengundang…
Di Negeri Dar Der Dor, korban-korban kembali berjatuhan.

***

Hari itu dia membawa senjata untuk melakukan ‘dar der dor’ di sebuah pusat perbelanjaan.
Kekesalan sudah pada puncaknya dan tak tahu lagi bagaimana harus dilampiaskan.
Awalnya hanya untuk sekadar gagah-gagahan.
Akhirnya senjata jadi juga ditembakkan.
Dia tertawa puas, tak lama kemudian terkulai lemas lalu jatuh pingsan.
Istri dan anaknya yang tengah liburan…
Juga ada di mal sedang jalan-jalan.
Mereka pun jadi korban.

Dan…
Hari-hari selanjutnya berisi tangisan.
Sekaligus penyesalan.
Dia harus meringkuk di penjara sepanjang sisa kehidupan.

17 Desember 2012
fon@sg
* sebagai reaksi atas berita ‘dar der dor’ di sebuah negeri yang kembali mendominasi akhir-akhir ini.
Kasihanilah anak-anak kecil dan para korban, ya Tuhan.
Begitu banyak yang masih menjadi pertanyaan,
tetapi biarlah waktu dan Engkau yang memberikan jawaban.


Wednesday, October 10, 2012

Suatu Hari, Ketika...



Suatu hari, ketika aku sudah begitu lelah berbuat baik.
Dan dorongan untuk berbuat jahat sudah begitu memuncak…
Kucoba tenangkan diri. Jernihkan pikiran.
Serahkan segalanya ke dalam tangan-Mu…
Ah, kusadari, lagi-lagi aku yang keliru…
Tak pantas aku lari dari kasih-Mu dan tak lagi jadi kebanggaan-Mu…
Jangan sampai aku keluar dari rel-Mu.
Tuhan, ingatkan aku…

Suatu hari, ketika aku sudah capek bertindak tulus.
Sementara banyak orang berakal bulus memanfaatkanku demi fulus (baca:uang).
Tak hendak aku juga ikut arus.
Biarlah aku berhenti sejenak, beristirahat barang sebentar saja.
Lalu menjalankan tulusku yang kudapati dari-Mu.
Kekuatan-Mu membantuku hadapi semuanya itu.
Dan kupercaya akan Kauberikan pula kemampuan untuk tak hanya tulus tetapi cerdik sekaligus.

Suatu hari, ketika aku begitu kecewa akan segala usaha yang telah kulakukan tak membuahkan hasil.
Bahkan kenyataan yang ada semakin meruntuhkan kebanggaan diriku yang pernah ada.
Aku kembali kepada-Mu.
Aku bukan seorang pemalas. Aku selalu berusaha.
Dan semoga suatu saat ‘kan kuraih impian-impian itu bersama-Mu.
Mungkin tak selalu sama dengan apa yang ada di kepalaku.
Tetapi kupercaya bahwa Engkau tahu yang terbaik bagiku.

Suatu hari ketika aku begitu kelelahan dengan hidupku.
Kekecewaan beruntun yang begitu jauh dari harapanku.
Bahkan ada keinginan untuk pergi dari dunia ini…
Ya, Tuhan…
Mohonkan kekuatan bagi setiap hati yang pernah merasakan hal ini, bahwa hidup selalu punya sisi lain yang berwarna-warni.
Bukan sekelam yang terlihat saat ini.
Izinkan kami kembali percaya di dalam iman.
Masih ada pelangi menanti di esok hari.

Suatu hari ketika aku begitu muak akan kepalsuan dan kemunafikan di sekitarku.
Juga fitnahan dan prasangka buruk di sekelilingku.
Kuatkan aku hadapi semua itu, Tuhan.
Kusadari suatu hari semua akan berlalu.
Asal aku tetap jujur di dalam-Mu.
Dan jauhkan aku dari tindakan semacam itu.
Aku ingin tetap mengikuti jejak-Mu.

Suatu hari, ketika aku begitu bosan dengan orang-orang sekitarku yang terus menyakitiku.
Aku kembali pada-Mu, serahkan semua rasa sakit hatiku.
Kutahu hanya dari-Mu kutemukan kekuatan dan pengampunan.
Aku pun tak sempurna. Aku pun bisa menyakiti hati sesamaku.
Siapakah aku ini, Tuhan?
Aku pun seorang pendosa sama seperti mereka.
Penghakiman mutlak hanya milik-Mu.

Suatu hari ketika ada dorongan untuk selalu melakukan pembenaran diri. Tuhan, ajar aku bertanggung jawab atas tindakanku.
Aku bisa salah, teramat mungkin malah!
Tetapi tindakan lari dari kesalahan, mencari kambing hitam, lalu kemudian membenarkan diriku sendiri bukanlah hal yang mulia.
Ajar aku bertanggung jawab dan berani mengakui kesalahan, untuk kemudian berusaha memperbaikinya di lain waktu.

Izinkan aku kembali sadari, Tuhan…
Bersama-Mu, setiap hariku adalah baik dalam rencana-Mu.
Tak sedetik pun Kautinggalkan anak-anak-Mu…
Engkau selalu bersamaku…
Setiap hariku, Kutahu Kau ada di situ…

10.10.2012
fon@sg

Thursday, January 19, 2012

Hal Penghakiman




Di suatu pesta.

Sekelompok ibu keren yang tak kukenal memandangiku. Beberapa di antaranya dengan tampilan mereka yang prima dan super-branded. Mahal dan bling-bling di sekujur tubuhnya. Menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Mulai dari wajah, pakaian, sandal, sampai tas yang kupakai. Semua tak lepas dari sorot mata mereka. Aku jadi salah tingkah, sedikit tak berkutik. Terlanjur dihakimi. Rasanya tak enak sekali.

Memang bajuku hanya gaun sederhana. Bukan yang mewah, tetapi nyaman kupakai. Tasku, bukan yang mahal sekali seperti milik mereka. Yang harus menghabiskan budget ribuan dollar untuk mendapatkannya. Sandalku pun asal Bandung, bukan milik disainer kelas dunia seperti mereka. Dipandangi sinis sedemikan rupa, tiba-tiba ada rasa muak. Sekaligus mungkin… KALAH.

Ini kompetisi perempuan. Yang mungkin kurang sehat, tetapi sering kali terjadi. Kompetisi. Penghakiman. Atas dasar fisik dan apa yang dikenakan.

Tiba-tiba perasaan muak itu datang lagi. Lebih baik aku beranjak pergi. Makan dan minum saja sampai puas hati. Dengan mereka? Cuek saja, tokh ‘gak kenal’ ini….Huh, hari ini mendadak jadi kurang menyenangkan. Kucoba tepis perasaan itu, tetapi dia masih ada. Ah, kusibukkan diriku sajalah daripada pusing dengan tingkah mereka….

Beberapa hari kemudian.

Di restoran cepat saji ini, kunikmati kentang goreng dan burger. Ditemani ‘iced lemon tea’ aku menikmati siang hari ini. Mumpung aku lagi cuti dari pekerjaanku, kapan lagi? Seorang ibu masuk ke restoran. Tampak lusuh. Seperti pengemis. Dan dia duduk di meja sebelahku. Segera kupindahkan tasku yang tadinya dekat mejanya, ke sisi sebelah jendela sehingga aman. Kuhabiskan makananku terburu-buru. Lalu ambil langkah seribu. Dia sudah membuyarkan hariku!

Malam hari saat ingin memejamkan mata di peraduanku…

Kejadian beberapa hari lalu di pesta melintas di depan mata.

Dan suara yang lembut itu menggema di batinku…

“ Anak-Ku, bagaimana perasaanmu ketika dihakimi? Apakah kau senang? Apakah kau bahagia? Lalu, mengapa pula kaulakukan penghakiman atas orang lain hari ini? Apakah kaunikmati saat menghakimi itu? Puaskah hatimu menganggap dirimu lebih tinggi dari orang lain, lalu boleh menghina dengan pandangan atau pikiranmu yang mungkin saja keliru?”

Aku terdiam.

Sungguh jahat diriku hari ini. Curiga hanya karena tampilan luar seseorang. Sama halnya seperti aku dihakimi mereka yang lebih berkelas dariku. Apa enak?

Dihakimi tak pernah enak. Tetapi, ketika menilai, menghakimi, bahkan bergosip tentang seseorang, betapa menyenangkannya! Bagaimana jika dibalik dan aku yang jadi bahan gosip dan tertawaan itu, apakah aku juga akan senang?

Lakukanlah kepada orang lain, sebagaimana kauingin diperlakukan…(Suara itu bergema lembut di hatiku..)

Ah, Tuhan…

Maafkan diriku…

Semoga aku belajar untuk lebih memandang penuh kasih kepada sesamaku. Bukan dengan tatapan mencela, bukan pula pandangan menghina…

Penghakiman? Mutlak hanya milik-Mu semata…

HCMC, 17 Januari 2011

-fon-

*Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. (book of Matthew)

Monday, November 8, 2010

Remeh



Uang sudah jadi sahabatnya akhir-akhir ini. Dengan ramah ia menyapa, mendekat dan memenuhi hidupnya dengan kemilau kemewahan. Mobil, rumah, fasilitas kantor yang dinikmatinya, sungguh luar biasa. Bahkan bisa membuatnya lupa daratan! Ah, begini rasanya sekecup kenikmatan kekayaan itu, ujar hatinya…

Perubahan status dan strata sosial juga mempengaruhi pergaulannya. Teman-teman yang dulu seperjuangan naik bus bersama, memenuhi halte, ataupun tukang ojek langganannya, tak lagi dipandangnya sebelah mana. Mereka mungkin jadi tak kasat mata, seolah hilang dan tinggal di belahan bumi lainnya. Kini yang ada: janji sana-sini, gaul kanan-kiri, party sampai pagi. Inilah gaya hidup yang diinginkannya sejak lama! Enjoy life! Selagi masih bisa…

Tingkahnya semakin lama semakin ‘bossy’ saja.

“ Aku ‘kan bos, harus dihormati dan dijunjung tinggi senantiasa.” Itu yang jadi mottonya. Semakin lama semakin menyebalkan bagi pembantunya, asistennya, bawahannya, mereka yang bekerja satu departemen dengannya… Office boy, messenger, juga sopir pribadinya. Bahkan mereka pun menjulukinya OKB LEBAY. Orang Kaya Baru yang lebay?Ah, dia tak peduli walaupun dia pernah dengar selentingan tentang itu. Tak penting baginya. Hidupnya hanya sejauh teman-teman yang statusnya sederajad atau lebih darinya. Yang di bawah? Hoiii, ke laut ajaaa… Menyelam sana biar tak kelihatan!

Sikap itu terbawa juga sampai ke istrinya, ke ibu-bapaknya yang adalah orang tua kandungnya, kepada mertuanya, kakek-neneknya, oom-tantenya. Semua jadi kurang penting, apalagi kalau mereka bukan yang bertipe keren atau mendongkrak statusnya. Kalau hanya akan menjatuhkan dirinya, mending mereka pergi saja. Remehkan saja mereka! Tokh mereka tak penting inilah…

Suatu hari…

Dipandang hinanya seorang pria yang duduk di sofa kantornya. Di ruang tunggu tamu dekat resepsionis, bapak tua berbaju tak layak itu tampil bak mau ke pasar saja. Baju lengan pendek, kaos tepatnya yang warna putihnya sudah kekuning-kuningan dimakan usia, celana pendek yang juga kusam warna hitamnya. Dan sandal jepit, Saudara-saudara! Sungguh tidak pantas dia duduk di sofa kantor warna merah darah yang elegan dan mewah. Dipandangnya dengan sinis:

“ Bapak mau cari siapa?” Pertanyaan itu keluar juga dari mulutnya. Walaupun itu bukan ‘job description-nya’

“ Oh, saya menunggu anak saya.” Jawabnya perlahan dengan senyuman.

“ Apa gak bisa Bapak tunggu di bawah saja, daripada duduk di sofa ini bikin malu yang lihat Bapak dengan kondisi begini? Kayak mau ke pasar aja, Pak…” Ucapnya bak rentetan peluru yang keluar dari senapan mesin. Masih dengan tatapan sinis dan wajah menghina…

“ Sabar, Pak. Beri saya dua menit saja, katanya anak saya akan keluar sebentar lagi. Dia lagi ada pertemuan di dalam.” Ujar Bapak itu lagi.

Hampir naik pitam, dipanggilnya satpam perusahaan dan disuruhnya mengusir Bapak itu. Entah kenapa, dia jadi emosi luar biasa, padahal itu bukanlah urusannya.

Dan pada saat yang bersamaan, keluarlah Pak Dira, Direktur sekaligus pemilik perusahaan ini.

Ada apa ini?” Tanya Pak Dira.

“ Oh, Bapak… Kapan sampai, Pak?” Pak Dira langsung berpaling ke Bapak tua yang hampir ditarik satpam keluar dan habis dimaki-makinya.

Dia mematung. Malu luar biasa.

Itu??? Bapaknya Pak Dira??? Hampir tak mungkin rasanya! Tapi itu kenyataannya.

“ Bapak masih mau menunggu kamu, tapi anak muda yang hebat ini mau mengusir Bapak karena dianggap menodai citra kemewahan kantormu dengan pakaian Bapak yang ala kadarnya ini,” kata Bapak itu menjelaskan.

Pak Dira mendelik sebentar, menghela nafas, lalu bilang:

“ Saya tunggu kamu di ruangan saya, sepuluh menit lagi.”

“ Baik, Pak,” ujarnya. Pasrah.

Masih mendelik pada resepsionis, dia masih sempat berkata:

“ Kenapa gak bilang kalau itu Bapaknya Pak Dira?” Tanyanya marah.

“ Lho, Bapak ‘kan gak tanya. Lagian sekali masuk langsung emosi melihat Bapaknya Pak Dira.” Ujar resepsionis baru itu polos.

Sepuluh menit berikutnya…

Dia kehilangan semua fasilitasnya. Dia diturunkan jabatannya jadi staf saja. Tetapi bagusnya dia tidak di-PHK. Dalam hatinya, dia menyesali tindakannya.

Dan dia sadar, begitu ‘remeh’ jiwanya hanya karena mengecap kemewahan yang sementara saja.

Hasil meremehkan orang lain, terbayar hari ini dengan diremehkannya dirinya.

Remeh?

Gak lagi-lagi deh…

Tak ada lagi celoteh…

Hanya diam tanpa terkekeh…

Tanpa sadar air mata meleleh…

Tobat, kuundang dirimu, boleh?

Ho Chi Minh City, 8.11.2010

-fon-

* untuk mengingatkan diri sendiri agar tidak memandang remeh siapa pun, apalagi hanya berdasarkan penampilan belaka…:) Semua sama-sama manusia…

sumber gambar:

jerry71man.blog.friendster.com

Wednesday, October 6, 2010

Bingung?


Bingung?

Pernah bingung? Dan upaya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal itu seolah tiada artinya? Hmmm, Anda tidak sendirian kalau begitu. Saya juga pernah. Dan bukan hanya sekali ini terjadi.

Pernah merencanakan suatu ‘planning’ yang luar biasa rapi jali dan kemudian menemukan perencanaan itu nyatanya harus hancur berantakan padahal sudah diupayakan sekuat tenaga? Jangan kuatir, lagi-lagi saya pun sama. Senasib sepenanggungan dengan Anda.

Contoh paling nyata yang baru-baru ini saya alami. Saya pulang ke Indonesia untuk liburan sekaligus acara ‘launching’ buku perdana saya, Chapters of Life: From Nothing Into Something (Menuliskan Kebaikan dari Hal-Hal yang Sederhana) dan rencana pulang ke Vietnam di pertengahan Agustus… Ternyata harus mendiami Jakarta lebih lama, bahkan dalam hitungan bulan. Saya cinta Jakarta karena sempat mendiami ibukota belasan tahun lamanya, tetapi kali ini saya bingung koq ya macetnya tambah ndak kira-kira…hehe…

Intinya, rencana saya berantakan. Pertamanya, saya kewalahan juga menerima segala perubahan ditambah lagi kondisi badan yang kurang fit akibat kehamilan ini. Tetapi, akhirnya saya berusaha menikmati ini semua sebagai ‘kejutan manis’ dari Tuhan dalam bentuk yang tak pernah saya sangka-sangka:)

Bingung mengapa semua ini harus terjadi dalam hidup Anda? Bingung mengapa semua yang diimpikan dan indah adanya menjadi realita yang memilukan sekaligus meninggalkan luka? Lagi-lagi, Anda punya teman yang pernah mengalaminya. Coba tengok dan tanya ke sekeliling Anda, lagi-lagi Anda tidak sendirian.

Dengan iman, saya belajar untuk mengatasi semua kebingungan itu. Dengan iman, saya mencoba kembali mendekat kepada-Nya. Tentunya dalam jatuh bangunnya iman saya, dalam segala keterbatasan saya sebagai manusia yang pastinya juga pernah putus asa, kecewa, bahkan mempertanyakan mengapa sampai ini semua terjadi pada diri saya? Jawaban yang menghibur agaknya Tuhan sebagai perencana handal yang tahu segala situasi takkan pernah meninggalkan kita. Sehingga semua kekusutan benang kehidupan kita, kepingan puzzle yang seolah tak tahu tercecer di mana itu, suatu saat dalam waktu-Nya akan jadi suatu gambar yang indah. Percaya akan hal itu, walaupun dalam menjalaninya tak lepas dari jatuh-bangun namun tetap memutuskan untuk percaya walaupun dalam kecewa yang pernah singgah. Tetap percaya bahwa suatu saat pelangi itu akan muncul lagi, walaupun mendung pernah menaungi. Bersiap untuk badai, bahkan jika bisa menikmati bahkan menyambut badai seperti yang dikatakan Kahlil Gibran.

Bingung? Yaaa…pegangan!

Itu jawaban klise penuh unsur humor yang biasa kita dengar. Tetapi, agaknya memang saat bingung kita perlukan pegangan. Bukan sembarang pegangan, karena jika kita bergantung kepada hal-hal dunia semisal: orang pintar (yang mengetahui masa depan dsb), kehebatan kita sendiri, kekayaan orang tua kita, itu semua ada batasnya. Hendaknya kita berpegang pada-Nya senantiasa. Dalam kondisi suka kita bersyukur atas karunia-Nya. Dalam kondisi bingung dan duka, kita pun tak lupa menyerahkan segalanya pada-Nya.

Masih bingung? Mungkin iya, mungkin juga tidak.

Yang pasti, kalau tengah bingung, yuk mareee berpegang di dalam iman dan terus mendekat pada-Nya. Dalam setiap kondisi yang walaupun mengecewakan sekalipun, jangan lari dari-Nya. Teruslah mendekat, ungkap semua rasa secara jujur kepada-Nya, terus mencari cara berkomunikasi yang lebih baik dengan-Nya….Niscaya, kebingungan-kebingungan itu akan teratasi dengan pengertian baru. Dan jika kebingungan yang baru muncul kembali, kita pun tahu cara mengatasinya lagi.

Tentunya, dengan mencari pegangan di dalam-Nya.

Semoga…

HCMC, 6 Oktober 2010

-fon-

* tulisan pertama dari HCMC setelah lebih dari dua bulan keluar kota.

sumber gambar:

miiaaa.blog.com

Wednesday, July 21, 2010

Senggol-Menyenggol



Ketika jalan terburu-buru, orang itu menyenggol saya. Dengan mendelik, saya bilang: “ Mas, please deh, kalau jalan ya mbok hati-hati. Bagaimana nanti kalau saya terjatuh, tersungkur, terpeleset? Nanti repot ‘kan jadinya? “

Ketika saya sedang berada di mobil. Mobil yang ada di sisi kanan saya tiba-tiba merapat, sok kenal sok dekat. Padahal teman bukan, sahabat juga bukan. Akhirnya terpaksa berkenalan karena dia menyenggol mobil saya. Terpaksa-dengan cara yang tidak enak. Akhirnya tidak jadi temenan, walaupun ada uang perdamaian. Karena mobilku sudah terlanjur penyok, untung masih bisa jalan walaupun terseok….

Jujurnya, saya tidak suka disenggol. Kecuali mungkin kalau disenggol ama Tom Cruise…Aih, mimpi kali yaaa…Apa kata Katie Holmes? Hahaha… Sama halnya sebagaimana saya tidak suka disenggol secara pribadi. Awas ada orang galak! Yang begini nih: dibercandain sedikit, marah. Ditowel sedikit, meledak. Kena ‘tabrak’ sedikit, juga emosi jiwa. Maunya semua orang hidup pada jalurnya. Jalur elo yang itu, gak usah deh miring-miring atau belok ke jalur gw! Pleaseee…

Banyak dari kita (mengatasnamakan kita, padahal maksudnya saya, sorry God buat generalisasi ini :)), ketika disenggol langsung meledak. Padahal waktu nyenggol, langsung penuh argumentasi buat pembenaran diri alias defensif sejati.

“ Ya, gw kan gak sengaja. Ya, gw kan gak tau kalo dia orangnya begitu. Jadi, yaaa…maap maap aja lah…”

Kata maaf seolah terlontar begitu mudahnya. Sementara ketika ‘disenggol’ orang dengan kondisi yang amat tidak sreg alias mengecewakan hati… Langsung emosi melanda…Kalau bisa orang tersebut dihabisi sampai titik darah penghabisan…Ih, koq jadi kejam begini, yaaa?

Di mana kasihku? Di mana kepedulianku?Di mana toleransiku?

Bentar yakkk, bentarrrrr… Dicari dulu *sambil ngubek-ngubek lemari hati, siapa tahu kepingan kasih dan kepedulian itu ada di sana.*

Begitu mudah memarahi orang yang menyenggol kita. Entah secara fisik, entah secara pribadi. Padahal, ketika disenggol langsung kita darah tinggi…

Selama hidup di dunia ini, rasanya tidak mungkin tidak ada kejadian senggol-menyenggol. Emang hidup sendirian? Emang jalurnya jalur eksklusif tanpa hambatan? Lha wong yang katanya tanpa hambatan itu juga bisa terhambat koq, misalnya karena kecelakaan…

So? Ya, biasa-biasa ajalah…Kalo sesekali disenggol, ya ampunilah. Karena kita gak pernah tahu kapan waktunya kita juga bisa menyenggol bahkan menabrak jalur hidup orang lain. Disengaja atau tidak…

God, moga-moga aku bisa lebih sabar ketika disenggol dan juga mau memaafkan diri sendiri ketika menyenggol orang. Bukan melulu maunya dihargai, dikasih respek, dihormati, tetapi sendirinya tidak mau begitu ke orang lain…Hopefully

SG, 22 Juli 2010

-fon-


Sumber gambar:
meta-dad.com