Berapa banyak dari kita bisa menikmati hidup ini?
Kalau tidak sedang iri atau 'sebel' mungkin bisa.
Belum lagi kalau lagi be-te, lagi 'nggak mood'...
Well, buat merasa senang atau bersyukur, pastilah menjadi sebuah tantangan tersendiri...
Untuk mengeluh, 'complain', atau berpikir negatif, kita agaknya tidak perlu belajar.
Seolah udah dari 'sono-nya', sudah bawaan orok hehehe...
Tapi sebaliknya, untuk bersyukur, berterima kasih, berusaha berpikir jernih dan positif, agaknya perlu pembelajaran tanpa henti. Most probably, seumur hidup.
Hah? Yang bener?
Iya, coy... Seumur hidup:)
Pas imlek kemarenan ini, saya sempat beli kaos yang tulisannya 'ENJOY'.
Dipikir-pikir, benar juga, as much as I could, I want to enjoy this life...
Susah, gak?
Yah, gak gampang...
Banyak yang bisa dikeluhkan...
Mulai dari cuaca, kelelahan yang berkepanjangan, gaji yang tidak naik-naik, harga yang tambah membumbung tinggi, dan sebagainya, dan seterusnya...
Masalah pribadi yang tak kunjung kelar, malah tambah hari tambah parah...
Seolah semuanya itu 'mencuri' kedamaian di hati kita...
Tapi, sisi lain di hati saya mengingatkan, bahwa bukan cuma saya yang punya pergumulan atawa masalah.
Bahkan, banyak orang yang tengah menghadapi masalah yang lebih berat daripada saya.
Ada yang harus menghadapi penyakit yang berat, ada yang harus menghadapi anak yang khusus karena mereka berbeda dari anak-anak normal, ada yang harus menghadapi kehilangan sanak keluarga di kejadian Malaysian Airlines MH370 yang sudah dikonfirmasi jatuh di Indian Ocean...
(deepest condolences to all the victims and families... May God's consolation give them strength to move on in this life..)
Ada bagian dari buku Max Lucado yang berjudul You'll Get Through This yang benar-benar menyentil saya...
Alkisah, ada seorang pilot 'fighter plane' asal Amerika Serikat yang tertangkap dan harus masuk penjara di Vietnam di akhir tahun 1965.
Howard Rutledge, Sang Pilot itu, menceritakan betapa dia merasa kesepian di penjara.
Saat dia harus berhadapan dengan tikus dan bau kotoran manusia di penjara itu...
Di situ dia mulai menemukan arti hidup...
During these long periods of enforced reflections, it became so much easier to separate the important from he trivial, the worth-while from the waste... (halaman 54).
Dalam refleksi yang dipaksakan itu...
Dia merasa begitu mudah untuk memilah dan memisahkan mana yang penting, mana yang 'ecek-ecek'...
Kita mungkin belum pernah menghadapi kejadian semacam itu...
Kita belum pernah terpaksa dipenjara, tanpa tahu harus berbuat apa...
Tetapi, setidaknya, saat saya membaca tulisan Howard yang dikutip Max Lucado itu, membuat saya berpikir...
Saya terkadang tak mampu membedakan mana yang penting, mana yang tidak...
Banyak dari kita menjalani hidup dengan dendam atau luka...
Saya terluka, jadi saya harus melukai kamu, biar kamu tahu rasa!!!
Tetapi, masalahnya, akankah persoalan kelar begitu saja dengan balas-membalas sedemikian rupa?
Ini bukan film Kungfu zaman dulu yang para muridnya senantiasa membalas kematian ayahnya atau gurunya yang dibunuh musuhnya...
If life is a journey, why don't we make it a pleasant one?
Hidup tokh harus dijalani...
Dan bagaimana kita menjalani hidup ini, will be all that matters...
Kalau saya terluka dan menyebarkan luka itu anggaplah kepada suami dan anak-anak saya, bagaimana nasib mereka dalam kehidupan sehari-hari bersama saya?
Saya nggak bilang saya sempurna...
Saya mah, jujurnya, sangat jauhhhhh dari itu...
Tapi, rasanya gak ada salahnya 'kan, buat menjalani hidup dengan sukacita.
Enjoy this life dengan segala lika-likunya...
Make it a pleasant journey, karena saya sudah dikasih banyak kebaikan sama yang di atas...
So, ketika suatu hari saya lagi nggak mood...
lagi be-te, lagi marah, lagi capek, lagi kecewa....
kembali saya datang kepada-Nya...
dalam doa...
Mohon bimbingan-Nya, agar sedapat mungkin menjadikan hidup ini sebagai a pleasant journey bagi saya dan sekitar saya...
Bukan karena saya jago, hebat atau luar biasa...
Namun, karena Tuhan memberi kekuatan untuk itu...
Semoga kasih-Nya mengaliri hati kita semua...
Semoga damai-Nya membanjiri setiap diri kita...
Semoga perjalanan hidup ini, apa pun yang terjadi, tetap bisa kita nikmati...
Sekali lagi, bukan karena kuat kuasa kita...
Melainkan karena Tuhan yang sudah begitu baik bagi kita...
25.03.2014
fon@sg
Chapters of Life, begitu saya senang menyebutnya. Karena bagi saya, hidup adalah babak demi babak, bab demi bab, yang menjadikan buku kehidupan saya sempurna.
Tuesday, March 25, 2014
Wednesday, March 19, 2014
Kunanti-nantikan Engkau
Dalam penantian
Diombang-ambing ketidakpastian
Begitu mudah aku tergoda
Untuk berpaling dari jalan-Nya
Menunggu memang menjemukan
Membuat aku terkadang tak tahan
Untuk tetap percaya
Bahwa yang terbaik adalah rencana-Nya
Tetapi Tuhan, kumau berusaha
Untuk tetap setia
Mengikuti jalan-Mu
Agar rencana-Mu yang jadi dalam hidupku
dan selama aku menunggu...
kumohon bimbingan-Mu...
agar aku memanfaatkan setiap waktu...
dengan banyak hal yang berguna selalu...
bukan hanya duduk termangu...
melamunkan yang tak perlu...
Tuhanku...
kuatkanlah aku...
fon@sg
19.03.2014
Diombang-ambing ketidakpastian
Begitu mudah aku tergoda
Untuk berpaling dari jalan-Nya
Membuat aku terkadang tak tahan
Untuk tetap percaya
Bahwa yang terbaik adalah rencana-Nya
Untuk tetap setia
Mengikuti jalan-Mu
Agar rencana-Mu yang jadi dalam hidupku
kumohon bimbingan-Mu...
agar aku memanfaatkan setiap waktu...
dengan banyak hal yang berguna selalu...
bukan hanya duduk termangu...
melamunkan yang tak perlu...
Tuhanku...
kuatkanlah aku...
fon@sg
19.03.2014
Labels:
kunanti-nantikan Engkau,
pengharapan,
puisi,
rencana Tuhan
Friday, February 28, 2014
Aku Merindukan Pagi
Saat kulihat wajahmu terbaring di sisiku...
Saat senyum yang tersungging di bibirmu menyambut pagiku...
Sungguh, aku merindukan pagi yang indah semacam itu...
Aku merindukan pagi...
Saat aku bisa membelai anak-anak rambut yang jatuh di dahimu...
Saat kepolosanmu begitu menggemaskan diriku...
Saat kusadari (lagi) bahwa atas anugerah-Nya, kau hadir di hidupku...
Aku merindukan pagi...
Yang damainya membawa kehangatan di hati...
Yang membuat setiap sudut di rongganya diliputi...
Rasa syukur yang menaungi...
Aku merindukan pagi...
Yang dipenuhi senyuman setulus hati...
Riang canda yang mengiringi...
Kesederhanaan yang bernilai teramat tinggi...
Aku merindukan pagi...
Saat aku sadari...
Betapa berharganya detik yang bergulir di tiap hari...
Dan semoga setiap momen kebersamaan ini, selalu kita syukuri...
Aku merindukan pagi...
Seperti pagi ini...
Saat kuterjaga dan berbisik lembut di telingamu...
" Selamat pagi, cintaku..."
01.03.2014
fon@sg
Catatan Akhir Februari
menapaki hari-hari...
jalani dengan sepenuh hati...
rasanya baru kemarin memasuki Januari..
kini sudah di hari terakhir di bulan Februari...
kehidupan seolah berlari...
cepat sekali...
namun, biarkan aku nikmati...
hari ini...
detik ini...
dan bersyukur untuk setiap detik yang masih Kauberi...
Maret, April, dan bulan-bulan ke depan nanti...
Akan kusambut dan kujalani...
Bersama Sang Maha Kasih Sejati...
28.02.2014
fon@sg
jalani dengan sepenuh hati...
rasanya baru kemarin memasuki Januari..
kini sudah di hari terakhir di bulan Februari...
kehidupan seolah berlari...
cepat sekali...
namun, biarkan aku nikmati...
hari ini...
detik ini...
dan bersyukur untuk setiap detik yang masih Kauberi...
Maret, April, dan bulan-bulan ke depan nanti...
Akan kusambut dan kujalani...
Bersama Sang Maha Kasih Sejati...
28.02.2014
fon@sg
Wednesday, February 19, 2014
Telak
Pernah kalah telak?
Pernahkah juga menang mutlak?
Tetapi, hidup bukanlah melulu soal kalah-menang.
Bukan pula juga selalu soal susah atau senang...
Kekalahan telak mengajarkan kita untuk rendah hati...
Kembali refleksi pribadi...
Juga menilik kembali ke kedalaman hati...
Apa yang salah dalam langkahku ini?
Kemenangan mutlak terkadang membuat lupa diri
Kesombongan menjadi-jadi...
Lalu, lupa akan Sang Penguasa Abadi...
Terlalu yakin akan kemampuan diri...
Kalah telak membuat kita tersungkur...
Semoga masih tetap bisa bersyukur...
Karena Tuhan tak pernah tidur...
Walaupun hidup kita terasa begitu amburadul...
Ketika hidup terasa membuatmu 'knock out' telak.
Jauhkan diri dari sombong dan congkak...
Berusaha bangkit bersama Tuhan walau pernah tercampak
Yakinlah, suatu saat sayap yang patah ini akan kembali terkepak.
19 Feb 2014
fon@sg
Pernahkah juga menang mutlak?
Tetapi, hidup bukanlah melulu soal kalah-menang.
Bukan pula juga selalu soal susah atau senang...
Kekalahan telak mengajarkan kita untuk rendah hati...
Kembali refleksi pribadi...
Juga menilik kembali ke kedalaman hati...
Apa yang salah dalam langkahku ini?
Kemenangan mutlak terkadang membuat lupa diri
Kesombongan menjadi-jadi...
Lalu, lupa akan Sang Penguasa Abadi...
Terlalu yakin akan kemampuan diri...
Kalah telak membuat kita tersungkur...
Semoga masih tetap bisa bersyukur...
Karena Tuhan tak pernah tidur...
Walaupun hidup kita terasa begitu amburadul...
Ketika hidup terasa membuatmu 'knock out' telak.
Jauhkan diri dari sombong dan congkak...
Berusaha bangkit bersama Tuhan walau pernah tercampak
Yakinlah, suatu saat sayap yang patah ini akan kembali terkepak.
19 Feb 2014
fon@sg
Monday, February 10, 2014
Di Sini, Kukagumi...
Sempurna di mataku, Tuhan...
Segala hasil karya keagungan-Mu
Laut-Mu
Pantai-Mu
Langit-Mu
Awan-Mu
tak ada yang bisa melukiskannya seindah Engkau...
di sini...
kukagumi...
segala keindahan alam ini...
Bali, akhir November 2013.
-fon-
Friday, January 31, 2014
Hampa
Suatu pagi, di jalur hati.
Hari itu, yang terasa adalah perih.
Pedih.
Sedih.
Ada pula kemarahan yang mendidih.
Panas yang menguasai.
Membuat damai sungguh sulit dicari.
Memikirkan segala beban
Membuat kita merasa sendirian
Tak ada kawan seperjalanan
Hidup dalam himpitan
Segala kedukaan
Seketika hidup kehilangan makna
Begitu hampa
Kosong
Melompong
Seolah waktu berhenti di saat itu
Seakan masa depan pun begitu kelabu
Namun, sungguhkah akan begitu?
Iman akan-Mu ajari kami 'tuk percaya penuh
Walaupun tak selalu
Kami bisa tetap fokus tanpa mengeluh
Kami mau percaya adanya mentari
Melihat kembali indahnya pelangi
Kehampaan di hati kembali terisi
Oleh hadir-Mu yang selalu menemani
Hampa ini
Sebagaimana bahagia ini
Segala rasa ini
Kami persembahkan hanya kepada
Sang Penguasa Hidup abadi.
27.12.2013
fon@sg
#latepost.
Hari itu, yang terasa adalah perih.
Pedih.
Sedih.
Ada pula kemarahan yang mendidih.
Panas yang menguasai.
Membuat damai sungguh sulit dicari.
Membuat kita merasa sendirian
Tak ada kawan seperjalanan
Hidup dalam himpitan
Segala kedukaan
Begitu hampa
Kosong
Melompong
Seolah waktu berhenti di saat itu
Seakan masa depan pun begitu kelabu
Iman akan-Mu ajari kami 'tuk percaya penuh
Walaupun tak selalu
Kami bisa tetap fokus tanpa mengeluh
Melihat kembali indahnya pelangi
Kehampaan di hati kembali terisi
Oleh hadir-Mu yang selalu menemani
Sebagaimana bahagia ini
Segala rasa ini
Kami persembahkan hanya kepada
Sang Penguasa Hidup abadi.
fon@sg
#latepost.
Labels:
hampa,
persembahan kepada-Nya,
puisi,
rasa di hati
Subscribe to:
Posts (Atom)
