Di Sebuah Hospital di pusat kota Singapura.
Kamis, 15 Mei 2014
Seorang sahabat di Indonesia kehabisan obat dan belum sempat ke Singapura, lalu dia minta tolong saya untuk membelikan obatnya.
Di sinilah saya, hendak membelikan obat di salah satu klinik yang terdapat di 'Medical Center'-nya.
Memasuki Rumah Sakit (RS) ini, ada sebuah rasa yang berbeda.
Sebentuk rasa yang melengkapi panggilan saya sebagai seorang ibu.
Di sinilah, anak pertama kami lahir.
Di kota ini, di RS ini.
Perasaan itu muncul lagi. Nostalgia.
Mengenang saat-saat saya periksa kehamilan juga di 'medical center' di RS ini, karena dokter kandungan saya praktik di sini.
Lalu, pada puncaknya, saat kelahiran anak kami.
Dan, perjalanan itu dimulai...
Perjalanan berliku, penuh senyuman sekaligus tetesan air mata...
Suatu perjalanan yang mulia...
Kali pertama kau menyebutku Bunda...
Flash back ke beberapa hari sebelumnya, 11 Mei 2014. Mother's Day.
Gema perayaan International Mother's Day yang juga dirayakan di Singapura sudah mulai dari awal bulan Mei.
Seperti biasa, banyak promosi 'cake', paket makan siang atau malam (lunch/dinner), hadiah-hadiah cantik mulai dari perawatan tubuh semisal body lotion atau body shower sampai berlian (kalung, gelang, anting, cincin), buat menunjukkan cinta kepada Sang Bunda.
Pentingkah semua itu?
Relatif.
Bagi saya pribadi, lebih kepada juga bagaimana sikap kita sehari-hari terhadap orangtua kita.
Dan tergantung kondisi keuangan juga.
Tidak perlu harus begini atau begitu.
Yang penting dengan keihklasan dan ketulusan hati.
Itu lebih dari cukup.
Seperti yang saya temui pada seorang pengemudi taksi di siang itu.
Selepas kami makan siang, kami naik taksi.
Dan pengemudi itu berkata, mal hari ini sungguh ramai dan dia menduga karena peringatan Mother's Day.
Dia juga berkisah bahwa dia sudah membawa ibunya pagi-pagi untuk 'breakfast' bersama.
Bukan sesuatu yang mewah, karena dia tidak membawa ibunya ke tempat mewah melainkan ke tempat sederhana semacam food court tanpa pendingin ruangan (AC).
Saya tersenyum dan meneguhkan dia.
Tindakannya sudah amat baik, yang penting adalah ketulusan hati.
19 Mei 2014
Hari ini anak kedua kami, Stella, mulai pilek lagi.
Pernah dia pilek cukup lama, diiringi batuk dan terakhir demam.
Dia sempat tidak masuk sekolah 4 hari lamanya.
Waktu anak pertama kami, Audrey berusia 3.5 tahun, dia sempat terkena infeksi kemih dan panasnya juga begitu tinggi. Saat itu, saya tengah mengandung Stella dan kondisi saya pun tidak begitu baik. Di tengah semua kondisi itu, saya harus bertahan untuk menjaga anak yang tengah sakit panas, juga menjaga kandungan saya.
Ini adalah salah satu dari begitu banyak perjuangan seorang ibu.
Dan jujurnya, perjuangan saya tidak ada apa-apanya dibandingkan perjuangan ibu-ibu lain yang mungkin harus menghadapi permasalahan kesehatan anaknya yang lebih pelik.
Di sini, barulah kita mulai lebih mengerti, bahwa jadi Ibu bukan peranan mudah.
Namun, begitu penting dan begitu nikmat juga.
Sepanjang perjalanan menjadi seorang Ibu, saya pun menyadari keterbatasan saya.
Begitu mudah saat kelelahan karena harus mengasuh anak sendiri tanpa asisten rumah tangga, saya cenderung mudah marah.
Namun, itu bukanlah alasan untuk lepas kendali.
Saya tidak pernah sanggup jalan sendirian...
Setiap kali saya lakukan kilas-balik, masih terus saya syukuri penyelenggaraan Tuhan.
Kasih-Nya dan kelembutan-Nya mampu mengangkat saya tiap kali saya tengah terjatuh atau begitu kelelahan.
Saya pun bersyukur, kalau sampai hari ini, peranan menjadi seorang Ibu sepenuhnya bisa saya jalani.
Jujur, pernah ada keinginan untuk kembali kerja, apalagi jika mengingat dulu sempat berada di posisi yang cukup menjanjikan di bidang sekuritas di Jakarta.
Namun, keadaan dan kenyataan berkata lain...
Dan seiring berjalannya waktu, saat Si Sulung kami Audrey masuk SD, saya pun bersyukur bahwa masih bisa mendampinginya mengerjakan PR dan belajar bersama di pagi hari, karena sekolahnya siang.
Betapa beruntungnya saya, karena ada beberapa Ibu dari teman Audrey yang harus kerja dan harus mempersiapkan semuanya di malam hari.
Perjuangan mereka tentu lebih luar biasa lagi.
Belum lagi berita-berita tentang pelecehan seksual anak-anak yang seolah semakin menjamur belakangan ini. Mulai dari kasus JIS dan sekolah lainnya yang mencuat belakangan. Juga, tipuan untuk memperdaya anak-anak kecil, mulai dari penculikan untuk minta tebusan atau mungkin trafficking, kembali membuat saya bersyukur untuk 'privilege' mengurusi anak kami sendiri. Walaupun tidak ada jaminan 100%, namun setidaknya mengurangi resiko cukup banyak dibanding dengan menyerahkan pengasuhan anak kepada orang-orang lain.
Jalan masih panjang.
Anak-anak kami masih kecil-kecil.
Namun, dalam hatiku tak henti bersyukur dan berharap...
Agar suatu hari nanti...
Di masa tua nanti...
Aku dan suamiku masih bisa menghabiskan waktu bersama putri-putri kami terkasih...
Jika Tuhan izinkan, semoga masih bisa menyaksikan satu demi satu episode kehidupan mereka...
Mulai dari tamat sekolah, satu jenjang ke jenjang berikutnya...
Satu demi satu kursus yang mereka tekuni...
Apa pun itu, yang mereka sukai dan yang baik bagi perkembangan mereka...
Tuhan, mohonkan kekuatan bagi kami untuk mengasuh anak-anak titipan-Mu di dunia ini....
Sebaik yang kami mampu...
Bukan dengan kelimpahan dan kemudahan senantiasa...
Namun, lebih kepada pembinaan karakter yang baik...
Saya ingat, suatu hari Audrey pernah bertanya pada saya,
" Mom, is it okay if I don't get 100 on my Chinese Spelling?"
" Oh, that's okay, Audrey. As long as you've done your best, Mommy will be very happy and proud of you." Begitu jawab saya.
Tentunya kalau dia bisa dapat 100, saya akan bangga dan bahagia. Namun, jika tidak, tidaklah mengapa.
Saya lebih memilih dia dapat 60-70 asalkan jujur daripada dapat 100 dari mencontek misalnya.
Saya lebih memilih dia mendapat nilai 70 dan berkarakter baik, daripada nilai 100 namun tingkah lakunya kurang ajar...
Mendidik anak di zaman sekarang bukan perkara gampang.
Tetapi, saya tak mau menyerah apalagi putus asa...
Dengan iman dan doa, saya serahkan anak-anak kami kepada bimbingan Yang Kuasa...
Semoga Tuhan pun memberikan kekuatan bagi setiap kita, setiap orangtua-Ibu dan Bapak...
Untuk membimbing anak-anak kita dengan sebaik yang kita bisa...
Semoga dengan didikan yang benar-yang disempurnakan nantinya oleh Tuhan sendiri-membuat anak-anak kita mampu bersinar dengan karakter yang baik di tengah dunia yang semakin menarik-narik penghuninya untuk melenceng dari kebenaran...
God, help us...
19.05.2014
fon@sg
Chapters of Life, begitu saya senang menyebutnya. Karena bagi saya, hidup adalah babak demi babak, bab demi bab, yang menjadikan buku kehidupan saya sempurna.
Sunday, May 18, 2014
Monday, May 5, 2014
The Story of Envy
(Perenungan dari sebutir apel)
Di Supermarket, ketika hendak
mengambil apel jenis ini, aku sudah cengar-cengir untungnya dalam hati.
Kalau kelihatan sekitar, nanti
malu ah hahaha...
Seolah Tuhan mau bicara sesuatu
lagi.
Mengingatkan lagi. Akan unsur yang bernama iri hati.
Dari namanya, apel ini memang
menjanjikan.
Buahnya besar, tampangnya
keren-warnanya merah bercampur kekuningan- dan rasanya manis, sedikit asam, namun
sungguh segar. Dari kisah Si Apel Envy ini sendiri, bisa kita lihat bahwa
memang dia dibuat dari yang terbaik…
When New Zealand's passionate apple researchers brought
together the best features of Braeburn and Royal Gala in one single apple, envy
apple was born. Envy apple is a new class of world class - truly an apple to
desire.
Mungkin, buah apel yang lainnya,
akan merasa iri padanya.
Karena tampilan fisik maupun
rasanya, bikin orang akan memilih dia.
***
Sambil mengunyah perlahan
potongan apel Envy di rumah, saya
sempat terpikir lagi.
Memang, iri hati kalau tidak
betul-betul dikendalikan, lama-lama bisa jadi duri.
Iri, biasanya mulai dari
penglihatan, dari mata.
Juga bisa dari pendengaran,
dari cerita orang…
Apa yang orang punya, apa yang
orang lain pakai, apa yang mereka miliki.
Jalan-jalan semacam apa yang
mereka lakoni.
Gaya hidup semacam apa yang
mereka jalani.
Sepatu, tas, mobil merek apa
yang mereka pakai...
Ah, betapa itu semua di zaman
yang makin mendewakan materi ini, menjadikan manusia semakin sulit saja
mensyukuri apa yang ada...
Teringat sebuah artikel tentang
istri pemilik Facebook- Priscilla Chan- yang saya baca beberapa hari yang lalu.
Istri Mark Zuckerberg ini,
berdua dengan suaminya, memilih hidup sederhana.
"We try to stick pretty close to what our goals are and
what we believe and what we enjoy doing in life – just simple things," she
told the New Yorker.
Sementara, saya dan para
pemiliki akun Facebook lainnya malah
seringnya pamer dan pamer belaka...
Aduh, jadi maluuuu...
Dan sekali lagi diingatkan
untuk hidup sederhana.
Pope Francis, sukanya memasak
sendiri biar lebih murah...
Dan ala Jokowi, sering blusukan
waktu dia melayani di Argentina... Membagi kasih-Nya kepada orang-orang yang
miskin dan menderita…
Ah, betapa senangnya jika hidup
mensyukuri apa yang ada...
Bukan melulu kompetisi...
bukan pula berarti tidak mau
usaha lebih baik lagi...
Namun, setelah berjuang keras,
mengapa tidak mensyukuri karunia-Nya...?
Si Envy sudah habis di piring saya.
Namun, pelajarannya masih
dicerna di benak saya...
Jangan iri, begitu kata hati
saya...
Syukuri apa yang ada...
Tiap orang ada senang dan
susahnya sendiri.
Beban mereka, kamu 'gak pernah
tahu, tokh?
Sementara di kulkas...
Masih tersisa beberapa apel Envy...
yang selalu siap sedia untuk
saya santap
dan untuk mengingatkan saya
(lagi).
Dan suara hati saya kembali
berbisik…
Be thankful. Stay away from envious thoughts.
For that will lead to peace and true happiness.
5 Mei 2014
fon@sg
#ditemani secangkir iced milk-tea blended di sebuah gerai
kopi di kawasan barat Singapura...
Sunday, April 13, 2014
Ah, Aku Bahagia…
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali& Get discovered!
Ah,
Aku Bahagia…
Jakarta,
Desember 2013.
Hujan.
Deras.
Titik-titik
air yang turun membasahi bumi jumlahnya
tak terhitung. Seolah menangis bersamaku di dalam kesepian mendalam yang
kurasakan sungguh. Kesendirian kembali datang dan menyerang setiap sudut
hatiku. Dan, dingin itu kembali menyergap, menyebar dari hati dan pikiranku
lalu menjalari sekujur tubuhku. Suka atau tidak, aku harus menjalani kehidupan
ini dan perlahan aku mulai belajar menerima rasa itu sebagai bagian hidupku.
Di
apartemen bertipe studio di kawasan segitiga emas ini, aku membenamkan semua
kesedihanku. Sambil memeluk bantal yang sudah dipenuhi air mataku, seketika kejadian
itu menari-nari di kepalaku. Bermain satu-satu. Sebagai bagian dari episode
kehidupanku. Episode yang ingin kulupakan. Episode yang kalau bisa ingin ku-delete
untuk selamanya! Biar bagian-bagian itu tak lagi kembali dan menyakiti
hatiku lagi seperti malam ini!
***
Jangan tanya padaku apa arti
bahagia. Aku sudah lupa, walaupun dulu aku pernah mengecapnya. Tahun demi tahun
berlalu... Dan, perihku? Tak pernah berkurang barang sedikit pun! Malah semakin
dalam seiring berjalannya Sang Waktu.
Sejak kelahiran Devon yang
seharusnya kami sambut dengan gembira, karena dia anak pertama yang sungguh
kami nanti-nantikan...Namun, ternyata, kelahirannya lebih banyak membawa duka
ketimbang ceria yang gegap gempita. Devon, anakku harus kembali kepada Sang Pencipta
saat usianya baru satu bulan. Air mataku masih menetes ketika mengingat hal
ini. Padahal kejadian ini sudah lama. Sudah sekitar enam tahun lamanya.
Susah payah kukandung dia… Dengan
segala ‘morning sickness’, muntah bukan hanya di pagi hari, namun sepanjang
hari. Dengan pendarahan yang selalu mengiringi dan membuatku was-was. Aku
bahagia, ketika akhirnya dokter bilang bahwa sudah waktunya untuk bayi kami
dilahirkan dan kami pilih operasi Caesar, mengingat kemacetan Jakarta yang
sungguh sukar ditembus bila ingin melahirkan normal.
Aku sungguh bahagia. Reyhan,
suamiku juga. Seolah kehadiran Devon melengkapi kebahagiaan kami. Namun,
ternyata kenyataan pahit yang harus kami terima. Devon lahir dengan kelainan
jantung. Dari saat ia membuka matanya di dunia ini, dia harus langsung berhadapan
dengan ruang ICU, jarum suntik dan selang infus. Saat ibu lain berbahagia
menyambut tangisan pertama bayinya dan kesempatan menyusui buah hatinya.
Sementara aku? Harus puas dengan melongokkan kepalaku ke ruang ICU, sembari duduk
di kursi roda yang didorong Rey, suamiku.
Seolah belum cukup hantaman
kehidupan atas kami. Setelah harus menyaksikan itu semua, bukan kesembuhan yang
didapat bayi kami. Malahan kedukaan yang mendalam yang harus kami alami. Devon
harus pergi untuk selamanya.
Aku menjerit. Menangis. Meraung.
Marah pada Tuhan. Mengapa tega?
Pahit. Getir. Ya, sungguh pahit
pil kehidupan yang harus kutelan saat itu. Dan, kegetiran itu masih tersisa sampai
hari ini. Banyak. Teramat banyak.
Sempat depresi, aku harus
menjalani kontrol ke psikiater. Sesuatu yang bakal kutertawakan di masa lalu.
Namun, ternyata aku harus menerimanya juga. Masih untung aku tidak harus masuk
Rumah Sakit Jiwa. Namun, seluruh kondisi yang ada membuatku ingin mengakhiri
hidupku. Aku sungguh kecewa!!!
Keadaan ini bertambah runyam,
saat Rey bukannya mendukungku melewati kegetiran ini. Malah dia pergi
meninggalkanku.
Dan itu membuatku tak lagi kuasa
bertahan. Aku collapse! Dan, aku harus masuk Rumah Sakit Jiwa!
***
“ Namamu siapa?” Tanya seorang
pria berbaju putih di hadapanku. Wajah kebapakan yang ramah. Aku tersenyum. Berusaha keras mengingat
namaku.
“Rania. Eh, itu ‘kan nama Ratu,
ya Pak? Tapi, sepertinya namaku tak
jauh-jauh dari situ.” Aku tertawa. Untuk sesuatu yang tidak terlalu lucu. Aku
menertawakan kebodohanku. Tak lagi mengingat namaku sendiri.
Tetapi, tiba-tiba, ada sesuatu
dari dalam hatiku, juga benakku yang mendorongku untuk berbicara dan
mengucapkan namaku sekali lagi.
“Melania. Melania Sukmono. Ya,
itu namaku, Pak!”
Pria itu, yang kemudian kuketahui
sebagai dokter kejiwaan yang menanganiku tersenyum. Dokter Herman menyalamiku,
“Selamat, Melania. Suatu awal yang baik sekali!”
Setelah itu, perlahan ingatanku
mulai kembali. Satu per satu. Aku kembali menata kehidupanku yang , sebelumnya
hancur berkeping-keping. Ya, aku percaya selalu ada kesempatan kedua. Tak
peduli seberapa hancurnya kehidupanku di masa lalu, selalu akan ada titik
balik, di mana aku mampu berdiri tegar sekali lagi. Setelah sekian lama
terjatuh, terpuruk, kini saatnya untuk bangkit kembali.
***
The
Bay Bali. April 2014.
Aku selalu suka mampir ke Bali. Entah mengapa, seolah ada sesuatu yang
menarikku lagi dan lagi untuk berkunjung ke Pulau Dewata ini. Kali ini aku
kembali. Seorang diri.
Sampai hari ini, Rey, yang masih
berstatus suamiku masih seolah hilang ditelan bumi. Entah di mana, entah ke
mana, aku tak tahu. Dalam hatiku masih merindu. Kangen sekali akan dia. Namun,
apa daya, inilah kenyataan yang harus kuhadapi. Aku harus menerima
kesendirianku. Lagi.
Hidup pernah begitu menjatuhkanku
sampai ke jurang yang terdalam. Episode Rumah Sakit Jiwa, tentunya bukan
sesuatu yang membanggakan. Kusyukuri kenyataan bahwa setelah babakan penuh luka
dan air mata terlewati-Devon dan kematiannya, juga kepergian Rey tanpa kabar
berita- kini aku kembali berada di puncak karierku sebagai manajer pemasaran di
sebuah majalah ‘parenting’ nomor satu di Indonesia. Aku berterima kasih sungguh
kepada Yang Kuasa atas segala yang kembali bisa kunikmati saat ini. Hidup bisa
menjungkir-balikkan kita, namun asalkan kita tak menyerah, kita bisa kembali
menikmati keindahannya.
Di sela-sela kesibukanku, aku
selalu menyempatkan diri ke Bali. Seperti kali ini. Aku mengambil cuti di hari
Jumat. Kupilih pesawat yang cukup pagi,
lalu tiba di Bali sekitar tengah hari. Tepat jam makan siang aku sudah berada
di kawasan yang selalu setia kukunjungi saat di sini. The Bay Bali. Makan siangku kuiisi dengan menu renyah dari Bebek
Bengil bali. Bebek crispy-nya selalu bikin kangen untuk selalu datang lagi.
Belum lagi sambalnya yang 'nendang'. Pedas. Rasanya puas dan selalu ingin
mampir lagi. Seusai makan siang, aku berjalan menuju kawasan pantai tak jauh
dari kawasan The Bay ini. Cuaca yang
sedikit mendung dan berawan, membuatku bisa berjalan santai. Topiku melindungi
wajahku. Aku tak suka panas menyengat itu membuat kulitku terbakar.
Di situ, di bawah pohon yang
cukup teduh ada seorang lelaki sedang duduk. Yang kulihat hanya punggungnya.
Sepertinya dia tengah menggoreskan pensilnya di atas kertas gambar. Sebuah
sketsa? Entahlah. Aku hanya menebak dari apa yang terlihat sementara.
Kuhalau rasa ingin tahuku, lalu perlahan
beranjak pergi dari situ. Namun tanpa sengaja, sepatu hak tinggiku terantuk
batu dan aku terjatuh. Spontan aku berteriak, “Aduhhhh!”
Lelaki itu bergegas meletakkan
kertas gambarnya, lalu berbalik menuju ke arahku. Dia ingin menolongku. Namun,
kami jadi membisu seketika. Dia-Reyhan, suamiku! Kututup mulutku dengan
tanganku, sungguh terkejut aku!
Rey masih memelukku. Aku tak lagi
bisa bicara. Aku tak kuasa.
Rey tersenyum, namun di sudut
matanya ada air mata.
“Maafkan aku, Mel, aku terlalu
pengecut. Aku bukan suami serta ayah yang baik.”
Kami saling berpelukan. Ketika
waktu dan kesempatan kembali mempertemukan kami dengan suasana di luar dugaan,
sungguh kami tak kuasa. Di situ, Rey mulai bercerita tentang kepergiannya
mendadak setelah melunasi pembayaran uang Rumah Sakit anak kami, Devon. Dia
lalu keluar RS dengan suasana hati yang kacau. Dia mengemudikan mobil dengan
kecepatan tinggi, lalu kecelakaan naas itu telah membuatnya tak sadarkan diri
selama satu bulan. Setelah tersadar, dia baru tahu bahwa dia harus kehilangan
satu kakinya. Kini dia memakai kaki palsu.
Butuh keberanian untuk bangkit
kembali dari keterpurukan, dari segala yang telah dialaminya, dan kembali
tegar. Waktu mendewasakan dia. Juga aku. Aku tidak marah, apalagi sakit hati.
Aku bisa mengerti apa yang dia alami. Dan, kekuatan cinta kembali menyatukan
kami merajut hari-hari. Dia masih tinggal di Jakarta. Hanya enam bulan
belakangan ini, dia yang seorang desainer interior mendapat tugas untuk merancang
sebuah restoran di Bali. Rey sering ke The
Bay untuk mencari inspirasi.
Akhir dari penantianku berbuah
manis. Walaupun menjalaninya sempat membuat emosiku naik-turun, namun akhirnya
bahagia itu kembali datang dan menyapa dengan senyum dan kerling manja.
What
should I say? I’m so happy…
Bumbu Nusantara - The
Bay Bali. Desember 2014.
Banyak yang terjadi dalam delapan
bulan terakhir ini. Semuanya dalam nada-nada bahagia yang begitu menyentakkan
jiwa. Rey kembali melamarku setelah kami menghabiskan waktu bak sepasang anak
muda yang kembali kasmaran. Rajutan tali kasih yang tercipta sungguh indah dan
begitu menghanyutkan. Rey memberikanku cincin peneguhan cinta, karena kami tak
pernah sungguh bercerai atau berpisah. Cincin itu membawa kami semakin dalam
menyayangi satu sama lain. Menyadari hidup bisa menyajikan banyak
kejutan-beberapa di antaranya menyenangkan, beberapa di antaranya membawamu
sungguh ke bagian terjal kehidupan. Namun, dengan berpegang pada iman, percaya
pada kesempatan kedua, kami kembali dipersatukan setelah mengalami
kejadian-kejadian yang memilukan.
Di Restoran Bumbu Nusantara ini,
kami kembali mengukuhkan janji pernikahan kami. Seolah ini merupakan perayaan
pernikahan yang pertama saja, kami mengundang sekitar 150 orang. Bumbu
Nusantara disulap dengan warna dominan putih dan ungu. Putih kesukaan Rey, ungu
kesukaanku.
Makanan khas Indonesia tersaji
rapi, memuaskan para undangan. Setelah pesta yang meriah dan berlangsung sukses
ini, kami pindah ke Bali mulai tahun 2015 mendatang karena Rey secara permanen
akan mendisain banyak restoran di Bali dari perusahaan yang puas akan
pekerjaannya. Lalu, aku pun mendapatkan transfer dari perusahaan tempatku
bekerja. Aku masih bisa melanjutkan pekerjaan pemasaranku di kantor cabang Bali
yang semakin hari semakin berkibar saja.
***
Kucubit tangank sendiri. Ini
bukan mimpi. Bahagia kembali mengisi hari-hari kami. Setelah episode kecewa, episode
bahagia mulai mengetuk pintu keluarga kami. Kami masih sangat sering menghabiskan
waktu makan malam di The Bay. Untuk mengenang
kembali pertemuan kami di situ dan merayakan cinta yang kembali datang mengisi
relung-relung hati kami yang terdalam.
Hujan kembali turun. Kini aku
dalam pelukan Reyhan di Bali. Aku tak bisa berkata-kata lagi. Hanya menikmati rasa
ini. Ah, aku bahagia…:)
The
End.
Singapore, 13 April 2014.
@copyright Fonny Jodikin
Labels:
bahagia,
letter of happiness,
nulisbuku,
proyek menulis,
The Bay Bali
Tuesday, March 25, 2014
A Pleasant Journey
Berapa banyak dari kita bisa menikmati hidup ini?
Kalau tidak sedang iri atau 'sebel' mungkin bisa.
Belum lagi kalau lagi be-te, lagi 'nggak mood'...
Well, buat merasa senang atau bersyukur, pastilah menjadi sebuah tantangan tersendiri...
Untuk mengeluh, 'complain', atau berpikir negatif, kita agaknya tidak perlu belajar.
Seolah udah dari 'sono-nya', sudah bawaan orok hehehe...
Tapi sebaliknya, untuk bersyukur, berterima kasih, berusaha berpikir jernih dan positif, agaknya perlu pembelajaran tanpa henti. Most probably, seumur hidup.
Hah? Yang bener?
Iya, coy... Seumur hidup:)
Pas imlek kemarenan ini, saya sempat beli kaos yang tulisannya 'ENJOY'.
Dipikir-pikir, benar juga, as much as I could, I want to enjoy this life...
Susah, gak?
Yah, gak gampang...
Banyak yang bisa dikeluhkan...
Mulai dari cuaca, kelelahan yang berkepanjangan, gaji yang tidak naik-naik, harga yang tambah membumbung tinggi, dan sebagainya, dan seterusnya...
Masalah pribadi yang tak kunjung kelar, malah tambah hari tambah parah...
Seolah semuanya itu 'mencuri' kedamaian di hati kita...
Tapi, sisi lain di hati saya mengingatkan, bahwa bukan cuma saya yang punya pergumulan atawa masalah.
Bahkan, banyak orang yang tengah menghadapi masalah yang lebih berat daripada saya.
Ada yang harus menghadapi penyakit yang berat, ada yang harus menghadapi anak yang khusus karena mereka berbeda dari anak-anak normal, ada yang harus menghadapi kehilangan sanak keluarga di kejadian Malaysian Airlines MH370 yang sudah dikonfirmasi jatuh di Indian Ocean...
(deepest condolences to all the victims and families... May God's consolation give them strength to move on in this life..)
Ada bagian dari buku Max Lucado yang berjudul You'll Get Through This yang benar-benar menyentil saya...
Alkisah, ada seorang pilot 'fighter plane' asal Amerika Serikat yang tertangkap dan harus masuk penjara di Vietnam di akhir tahun 1965.
Howard Rutledge, Sang Pilot itu, menceritakan betapa dia merasa kesepian di penjara.
Saat dia harus berhadapan dengan tikus dan bau kotoran manusia di penjara itu...
Di situ dia mulai menemukan arti hidup...
During these long periods of enforced reflections, it became so much easier to separate the important from he trivial, the worth-while from the waste... (halaman 54).
Dalam refleksi yang dipaksakan itu...
Dia merasa begitu mudah untuk memilah dan memisahkan mana yang penting, mana yang 'ecek-ecek'...
Kita mungkin belum pernah menghadapi kejadian semacam itu...
Kita belum pernah terpaksa dipenjara, tanpa tahu harus berbuat apa...
Tetapi, setidaknya, saat saya membaca tulisan Howard yang dikutip Max Lucado itu, membuat saya berpikir...
Saya terkadang tak mampu membedakan mana yang penting, mana yang tidak...
Banyak dari kita menjalani hidup dengan dendam atau luka...
Saya terluka, jadi saya harus melukai kamu, biar kamu tahu rasa!!!
Tetapi, masalahnya, akankah persoalan kelar begitu saja dengan balas-membalas sedemikian rupa?
Ini bukan film Kungfu zaman dulu yang para muridnya senantiasa membalas kematian ayahnya atau gurunya yang dibunuh musuhnya...
If life is a journey, why don't we make it a pleasant one?
Hidup tokh harus dijalani...
Dan bagaimana kita menjalani hidup ini, will be all that matters...
Kalau saya terluka dan menyebarkan luka itu anggaplah kepada suami dan anak-anak saya, bagaimana nasib mereka dalam kehidupan sehari-hari bersama saya?
Saya nggak bilang saya sempurna...
Saya mah, jujurnya, sangat jauhhhhh dari itu...
Tapi, rasanya gak ada salahnya 'kan, buat menjalani hidup dengan sukacita.
Enjoy this life dengan segala lika-likunya...
Make it a pleasant journey, karena saya sudah dikasih banyak kebaikan sama yang di atas...
So, ketika suatu hari saya lagi nggak mood...
lagi be-te, lagi marah, lagi capek, lagi kecewa....
kembali saya datang kepada-Nya...
dalam doa...
Mohon bimbingan-Nya, agar sedapat mungkin menjadikan hidup ini sebagai a pleasant journey bagi saya dan sekitar saya...
Bukan karena saya jago, hebat atau luar biasa...
Namun, karena Tuhan memberi kekuatan untuk itu...
Semoga kasih-Nya mengaliri hati kita semua...
Semoga damai-Nya membanjiri setiap diri kita...
Semoga perjalanan hidup ini, apa pun yang terjadi, tetap bisa kita nikmati...
Sekali lagi, bukan karena kuat kuasa kita...
Melainkan karena Tuhan yang sudah begitu baik bagi kita...
25.03.2014
fon@sg
Kalau tidak sedang iri atau 'sebel' mungkin bisa.
Belum lagi kalau lagi be-te, lagi 'nggak mood'...
Well, buat merasa senang atau bersyukur, pastilah menjadi sebuah tantangan tersendiri...
Untuk mengeluh, 'complain', atau berpikir negatif, kita agaknya tidak perlu belajar.
Seolah udah dari 'sono-nya', sudah bawaan orok hehehe...
Tapi sebaliknya, untuk bersyukur, berterima kasih, berusaha berpikir jernih dan positif, agaknya perlu pembelajaran tanpa henti. Most probably, seumur hidup.
Hah? Yang bener?
Iya, coy... Seumur hidup:)
Pas imlek kemarenan ini, saya sempat beli kaos yang tulisannya 'ENJOY'.
Dipikir-pikir, benar juga, as much as I could, I want to enjoy this life...
Susah, gak?
Yah, gak gampang...
Banyak yang bisa dikeluhkan...
Mulai dari cuaca, kelelahan yang berkepanjangan, gaji yang tidak naik-naik, harga yang tambah membumbung tinggi, dan sebagainya, dan seterusnya...
Masalah pribadi yang tak kunjung kelar, malah tambah hari tambah parah...
Seolah semuanya itu 'mencuri' kedamaian di hati kita...
Tapi, sisi lain di hati saya mengingatkan, bahwa bukan cuma saya yang punya pergumulan atawa masalah.
Bahkan, banyak orang yang tengah menghadapi masalah yang lebih berat daripada saya.
Ada yang harus menghadapi penyakit yang berat, ada yang harus menghadapi anak yang khusus karena mereka berbeda dari anak-anak normal, ada yang harus menghadapi kehilangan sanak keluarga di kejadian Malaysian Airlines MH370 yang sudah dikonfirmasi jatuh di Indian Ocean...
(deepest condolences to all the victims and families... May God's consolation give them strength to move on in this life..)
Ada bagian dari buku Max Lucado yang berjudul You'll Get Through This yang benar-benar menyentil saya...
Alkisah, ada seorang pilot 'fighter plane' asal Amerika Serikat yang tertangkap dan harus masuk penjara di Vietnam di akhir tahun 1965.
Howard Rutledge, Sang Pilot itu, menceritakan betapa dia merasa kesepian di penjara.
Saat dia harus berhadapan dengan tikus dan bau kotoran manusia di penjara itu...
Di situ dia mulai menemukan arti hidup...
During these long periods of enforced reflections, it became so much easier to separate the important from he trivial, the worth-while from the waste... (halaman 54).
Dalam refleksi yang dipaksakan itu...
Dia merasa begitu mudah untuk memilah dan memisahkan mana yang penting, mana yang 'ecek-ecek'...
Kita mungkin belum pernah menghadapi kejadian semacam itu...
Kita belum pernah terpaksa dipenjara, tanpa tahu harus berbuat apa...
Tetapi, setidaknya, saat saya membaca tulisan Howard yang dikutip Max Lucado itu, membuat saya berpikir...
Saya terkadang tak mampu membedakan mana yang penting, mana yang tidak...
Banyak dari kita menjalani hidup dengan dendam atau luka...
Saya terluka, jadi saya harus melukai kamu, biar kamu tahu rasa!!!
Tetapi, masalahnya, akankah persoalan kelar begitu saja dengan balas-membalas sedemikian rupa?
Ini bukan film Kungfu zaman dulu yang para muridnya senantiasa membalas kematian ayahnya atau gurunya yang dibunuh musuhnya...
If life is a journey, why don't we make it a pleasant one?
Hidup tokh harus dijalani...
Dan bagaimana kita menjalani hidup ini, will be all that matters...
Kalau saya terluka dan menyebarkan luka itu anggaplah kepada suami dan anak-anak saya, bagaimana nasib mereka dalam kehidupan sehari-hari bersama saya?
Saya nggak bilang saya sempurna...
Saya mah, jujurnya, sangat jauhhhhh dari itu...
Tapi, rasanya gak ada salahnya 'kan, buat menjalani hidup dengan sukacita.
Enjoy this life dengan segala lika-likunya...
Make it a pleasant journey, karena saya sudah dikasih banyak kebaikan sama yang di atas...
So, ketika suatu hari saya lagi nggak mood...
lagi be-te, lagi marah, lagi capek, lagi kecewa....
kembali saya datang kepada-Nya...
dalam doa...
Mohon bimbingan-Nya, agar sedapat mungkin menjadikan hidup ini sebagai a pleasant journey bagi saya dan sekitar saya...
Bukan karena saya jago, hebat atau luar biasa...
Namun, karena Tuhan memberi kekuatan untuk itu...
Semoga kasih-Nya mengaliri hati kita semua...
Semoga damai-Nya membanjiri setiap diri kita...
Semoga perjalanan hidup ini, apa pun yang terjadi, tetap bisa kita nikmati...
Sekali lagi, bukan karena kuat kuasa kita...
Melainkan karena Tuhan yang sudah begitu baik bagi kita...
25.03.2014
fon@sg
Wednesday, March 19, 2014
Kunanti-nantikan Engkau
Dalam penantian
Diombang-ambing ketidakpastian
Begitu mudah aku tergoda
Untuk berpaling dari jalan-Nya
Menunggu memang menjemukan
Membuat aku terkadang tak tahan
Untuk tetap percaya
Bahwa yang terbaik adalah rencana-Nya
Tetapi Tuhan, kumau berusaha
Untuk tetap setia
Mengikuti jalan-Mu
Agar rencana-Mu yang jadi dalam hidupku
dan selama aku menunggu...
kumohon bimbingan-Mu...
agar aku memanfaatkan setiap waktu...
dengan banyak hal yang berguna selalu...
bukan hanya duduk termangu...
melamunkan yang tak perlu...
Tuhanku...
kuatkanlah aku...
fon@sg
19.03.2014
Diombang-ambing ketidakpastian
Begitu mudah aku tergoda
Untuk berpaling dari jalan-Nya
Membuat aku terkadang tak tahan
Untuk tetap percaya
Bahwa yang terbaik adalah rencana-Nya
Untuk tetap setia
Mengikuti jalan-Mu
Agar rencana-Mu yang jadi dalam hidupku
kumohon bimbingan-Mu...
agar aku memanfaatkan setiap waktu...
dengan banyak hal yang berguna selalu...
bukan hanya duduk termangu...
melamunkan yang tak perlu...
Tuhanku...
kuatkanlah aku...
fon@sg
19.03.2014
Labels:
kunanti-nantikan Engkau,
pengharapan,
puisi,
rencana Tuhan
Friday, February 28, 2014
Aku Merindukan Pagi
Saat kulihat wajahmu terbaring di sisiku...
Saat senyum yang tersungging di bibirmu menyambut pagiku...
Sungguh, aku merindukan pagi yang indah semacam itu...
Aku merindukan pagi...
Saat aku bisa membelai anak-anak rambut yang jatuh di dahimu...
Saat kepolosanmu begitu menggemaskan diriku...
Saat kusadari (lagi) bahwa atas anugerah-Nya, kau hadir di hidupku...
Aku merindukan pagi...
Yang damainya membawa kehangatan di hati...
Yang membuat setiap sudut di rongganya diliputi...
Rasa syukur yang menaungi...
Aku merindukan pagi...
Yang dipenuhi senyuman setulus hati...
Riang canda yang mengiringi...
Kesederhanaan yang bernilai teramat tinggi...
Aku merindukan pagi...
Saat aku sadari...
Betapa berharganya detik yang bergulir di tiap hari...
Dan semoga setiap momen kebersamaan ini, selalu kita syukuri...
Aku merindukan pagi...
Seperti pagi ini...
Saat kuterjaga dan berbisik lembut di telingamu...
" Selamat pagi, cintaku..."
01.03.2014
fon@sg
Catatan Akhir Februari
menapaki hari-hari...
jalani dengan sepenuh hati...
rasanya baru kemarin memasuki Januari..
kini sudah di hari terakhir di bulan Februari...
kehidupan seolah berlari...
cepat sekali...
namun, biarkan aku nikmati...
hari ini...
detik ini...
dan bersyukur untuk setiap detik yang masih Kauberi...
Maret, April, dan bulan-bulan ke depan nanti...
Akan kusambut dan kujalani...
Bersama Sang Maha Kasih Sejati...
28.02.2014
fon@sg
jalani dengan sepenuh hati...
rasanya baru kemarin memasuki Januari..
kini sudah di hari terakhir di bulan Februari...
kehidupan seolah berlari...
cepat sekali...
namun, biarkan aku nikmati...
hari ini...
detik ini...
dan bersyukur untuk setiap detik yang masih Kauberi...
Maret, April, dan bulan-bulan ke depan nanti...
Akan kusambut dan kujalani...
Bersama Sang Maha Kasih Sejati...
28.02.2014
fon@sg
Subscribe to:
Posts (Atom)


