Wednesday, August 6, 2014

Rasa Syukur




Tidak setiap hari dipenuhi rasa syukur.
Setidaknya itu yang terjadi pada diri saya. Entahlah dengan Anda :)
Saya berusaha untuk selalu bersyukur, namun nyatanya sering juga menemui kegagalan.
Setiap hari, ada saja hal-hal yang seolah menghalangi saya untuk bersyukur.
(Hmmm, mulai excuse neh, kayaknya hahaha…)
Halangan terbesar itu ada di dalam diri.
Terkait dengan Si Iri Hati yang mendadak sering muncul tanpa diundang…
Juga rasa sakit hati yang terkadang menarik-narik diri saya untuk kembali berkubang di masa silam.
Belum lagi, rasa mengasihani diri sendiri (buat cewek yang melo ini mungkin sering terjadi)…
Kesian deh gue, kurang cantik, kurang tinggi, kurang putih, kurang mulus kulitnya, dan lain-lain, dan sebagainya…

Padahal….
Mari kita telaah…
Di luar segala kemudahan dunia di zaman modern sekarang ini.
Gadget, perjalanan yang makin mudah karena alat transportasi makin canggih…
Masih banyak insan yang terkepung dan terkurung dalam kesendirian.
Kesepian dalam hati yang tak terucapkan.
Pilu, menelan kebisuan Sang Sepi yang selalu muncul dan muncul kembali….
Rasa syukur seolah menjadi barang langka.
Apakah kelangkaan itu benar adanya?

Apakah begitu sulit mensyukuri rahmat Sang Pencipta?
Apakah kesehatan yang kita nikmati hari ini, bisa bangun tidur dan bernafas lancar, bukanlah merupakan anugerah-Nya?
Bagaimana dengan liburan, yang meskipun tidak sehebat sahabat kita-Miss Seleb- yang ke Italia misalnya, namun kita bisa berlibur dengan keluarga tercinta ke Yogyakarta atau Bali?
Yang penting kebersamaan atau gengsi?
Mungkin pada mulanya saya mensyukuri tas yang dibelikan oleh suami. Harganya mungkin hanya  Rp.200.000,- Lalu, mendadak minder ketika diperhatikan oleh seorang yang tidak terlalu saya kenal, tetapi memakai tas ‘Hermes’ seharga di atas seratus juta itu?

Mungkin, awalnya mudah untuk bersyukur.
Lalu, karena orang-orang sekitar dan pergaulan, mendadak rasa syukur itu begitu mudah meluap di udara.
Kemudian hilang tak bersisa.
Berganti keluh-kesah dan rasa mengasihani diri semata.

Di siang yang sejuk ini, saat hujan turun rintik-rintik…
Kusyukuri hujan ini, menghapus ‘gerah’ yang ada di sepanjang hari…
Kusyukuri kehadiran anak-anak yang memberi warna tersendiri…
Kusyukuri suami dan keluargaku, sanak-saudaraku…
Kusyukuri masih bisa makan tiga kali sehari…
Kusyukuri masih bisa beraktivitas dengan baik…
Kusyukuri kesehatan yang begitu mahal harganya…
Kusyukuri satu hari lagi yang Dia berikan kepadaku, kepadamu, kepada kita…
Kusyukuri semua kejadian satu per satu di hidupku, semua itu terjadi pasti ada maksud dari-Mu…

Hmmm, ternyata mengungkapkan rasa syukur itu tak sesulit yang kukira.
Yang perlu kulakukan hanya memulainya saja.
Rasa iri dan sakit hati, semoga bisa kukendalikan…
Kuserahkan kepada Yang Kuasa…
Yang mampu sembuhkan segala luka…

Kunikmati hari lepas hari…
Terima kasih, Tuhan, dari lubuk hati.

7 Agustus 2014
fon@sg




Wednesday, July 23, 2014

Juli dan Julia - Sebuah Cerpen

Bandung, minggu terakhir Juli 2014

Buku harian itu masih berada di tanganku.

Sebuah buku tulis biasa yang berisikan curahan hati yang terdalam.
Ada sisi-sisi yang tak pernah tersentuh dan ingin disampaikan.
Dan buku harian-tulisan-jadi salurannya.

Hal yang begitu pribadi ini ada di tanganku sehubungan dengan penyusunan skripsiku sebagai mahasiswi psikologi.
Dia-Julia Thomas- yang memberikannya padaku. Dan itu atas kemauannya sendiri.
Perlahan, air mataku menetes.
Mungkin aku terlalu terlarut akan tugas akhirku ini.
Namun, apa mau dikata...
Aku seorang perempuan yang punya rasa. Anggaplah aku terlalu 'melo'.
Aku menganggap Julia sebagai sahabatku sendiri.
Jika sesuatu yang perih menimpa sahabatmu, mungkinkah kau bisa tersenyum ceria?
Bukankah juga, kau akan merasakan kepedihannya dan jika mungkin menghiburnya agar dunianya tak begitu kelabu???

Kuingin tersenyum bahagia seperti orang-orang di luar sana. Yang seolah bebas-lepas tanpa ada beban yang berarti. Walau kutahu, untuk benar-benar tanpa masalah adalah hal yang tidak mungkin. Namun,  setidaknya beban mereka mungkin tak seberat bebanku. Setidaknya itulah pandanganku.

Hidup sudah lama rasanya berpaling dariku.
Dia tak lagi ramah.
Terkadang kurasa amat menjemukan. Membosankan. 
Bahkan memuakkan. 
Aku sudah lupa kapan terakhir kudengar denting-denting nada bahagia di dalamnya. 
Karena rasanya juga sudah terlalu lama, soundtrack hidupku adalah nada-nada sendu jika tidak menuju pilu. 

Sejak kematian Sean dan Dwayne, aku sendirian.  Aku kesepian. 
Lara ini kutanggung sendiri dan itu menyakitkan. 
Tak ada sandaran, tak ada tempat berbagi. 
Sementara untuk kembali ke rumah orangtuakau rasanya juga tak mungkin. 

Aku menikah dengan Sean tanpa seizin Bapak dan Ibuku. 
Mungkin kesannya klise, aku memilih cinta dan kurang peduli pada nasihat orangtuaku.
Mereka takut, jika aku menikah dengan bule yang notabene budayanya jauh berbeda, nasibku di masa depan nanti pun jadi tanda tanya.
Mereka takut aku diceraikan, diselingkuhi, lalu ditinggalkan.
Aku tersenyum getir...
Ternyata itu semua tak terbukti...
Sean adalah tipe suami yang sangat 'care' dan setia. 
Bahkan sampai akhir hidupnya, kecelakaan itu membuktikan sekali lagi bahwa dia lebih peduli padaku daripada nyawanya sendiri.

Setelah truk itu menabrak mobil kami di keramaian kota parahiyangan ini, Sean berhasil mengeluarkanku dari kursi penumpang di sebelahnya.
Aku selamat dengan sedikit luka bakar, namun kakiku tak terselamatkan.
Aku lumpuh seumur hidup.
Sementara Dwayne, buah cinta kami, yang berada di 'car seat' di belakang kami, hangus terbakar bersama Sean.
Siapa yang bisa menerima tragedi sekejam itu di depan mata?
Siapaaaa???
Tuhan, apa Kau sungguh ada???
Jawab aku, Tuhan!
Jika ya, mengapa luka ini begitu menganga dan tak tahu kapan akan tersembuhkan???
 (-julia-)

                                                                        ***


Maret 2014


" Perkenalkan, nama saya Dian, Mbak."

" Saya mahasiswi Psikologi tingkat akhir yang akan mengadakan riset di rumah peristirahatan ini." Kuulurkan tanganku, bermaksud ingin menjabat tangannya.

Dia melengos dan tak memedulikanku.
Aku berusaha tersenyum dan melanjutkan ucapanku....
" Saya akan banyak berada di sini, Mbak nantinya. Mungkin kita bisa jadi teman. Saya akan mulai riset di sini mulai bulan Juli."

"Aku benci Juli," katanya.
"Aku benci." Ulangnya lagi.
"Benci dan benciiiii....!!!" Teriaknya penuh emosi.

Mata yang indah itu kemudian berubah sendu. 
Sungai air mata mengalir perlahan dan membasahi sebagian wajahnya...

Belakangan, baru kutahu mengapa dia begitu...
Juli membawa pergi suami dan buah hatinya.
Sebuah truk menabrak mobil mereka dan mengakhiri hidup keluarganya tercinta.
Dia kemudian memutar kursi rodanya dan pergi berlalu.
Menangisi masa lalu.
Dan kenangan yang pilu. 


Awal Juli 2014.

Kupandangi pintu Rumah Kasih yang merupakan tempat penampungan bagi mereka yang mengalami trauma psikologis di kehidupan ini.
Tempat di mana aku akan melakukan semacam survey atas tema skripsi yang kuambil, berkenaan dengan efek trauma psikologis dari mereka yang mengalami hal-hal besar dan kelam dalam hidup ini.
Aku sendiri memang menaruh perhatian yang besar pada mereka yang terluka di dalam batin seperti ini.
Begitu banyak kedukaan yang memayungi wajah mereka. Seolah mendung terus menaungi mata mereka. Tak ada lagi keceriaan. Hidup pun seolah tiada arti. Seperti zombie? Mungkin.
Tetapi, sekali lagi... Aku sadar, bahwa aku tak pernah berhak menghakimi.
Aku belum pernah berada pada kondisi mereka.
Sulit untuk memahami sepenuhnya apa yang terjadi di dalam hati mereka.
Kekecewaan itu terkadang begitu mendalam, saat sesuatu yang tragis terjadi di depan mata.
Sesuatu yang fatal bahkan terkadang terjadi dalam hitungan detik saja.
Seperti Julia yang waktu itu meneriakkan kebenciannya akan bulan Juli.
Dia memang menjadi sumber inspirasi utamaku ke sini.
Pertama kali, saat Suster Maria berkata bahwa dia yang paling sulit didekati membuatku bertekad dalam hati ingin membawa kisahnya-jika ia setuju-ke bagian skripsiku.

Perlahan namun pasti, kudekati Julia dan kujadikan dia seorang sahabat.
Bukankah tiap orang butuh orang lainnya? Walaupun sulit, aku bertekad menjadi sahabatnya.

                                                                        ***

Hari demi hari berjalan pelan.
Namun, dengan pasti, aku dan Julia menjadi sahabat.
Dan kepercayaannya padaku itu kupegang sungguh.
Dia pun memberikan buku hariannya untuk kubaca. 
Sesuatu yang tak pernah dia lakukan sebelumnya.
Aku terlarut dalam kesedihan bersamanya.
Kehilangan dua orang yang terkasih di depan mata, bukan sesuatu yang mudah untuk dihadapi.
Dan dia-Julia- harus mengalaminya.

Kuketuk pintu rumah bernuansa kayu kecokelatan itu dengan perlahan.
Wajah seorang Ibu separuh baya membuka pintu dengan tatapan heran.
" Kamu Dian? Yang tadi menelpon ke sini?"

" Iya, bu. Perkenalkan saya Dian Ekawati, mahasiswi tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi. Saya berkenalan dengan Kak Julia di  Rumah Kasih. Mohon maaf sebelumnya atas kelancangan saya berani berkunjung ke sini. Ini tanpa sepengetahuan Kak Julia, Bu."

Ibu Tri adalah Ibu kandung Kak Julia.
Mereka sudah 'lost contact' sejak delapan tahun yang lalu.
Saat kemarahan Pak Tri, ayah Kak Julia, yang memutuskan pertalian darah mereka karena pernikahan Kak Julia dengan Sean Thomas. Sean berasal dari Inggris.

Ibu Tri mempersilakanku masuk. Sementara Pak Tri tergolek lemah di tempat tidurnya.
"Bapak sudah sakit sejak setahun terakhir. Kombinasi diabetes dan hipertensinya membuatnya stroke. Lalu, hanya bisa terbaring di tempat tidur atau pergi sebentar dengan kursi roda."

" Ibu pun sudah tidak terlalu kuat menjaga Bapak, Nak..."
Kaki Ibu sudah mulai tidak kuat jika harus berdiri terlalu lama.

Kupandangi mereka dengan haru.
Derita yang harus ditanggung begitu besar.
Apa harus kuceritakan lagi kisah Kak Julia?
Bukankah itu akan menambah kepedihan mereka?
Aku memutuskan untuk diam saja kali ini.
Aku tak hendak melakukan apa pun saat ini.
Hanya kunjungan biasa dengan sebuah rencana di kemudian hari...

Rumah Kasih, 31 Juli 2014

Dengan pertolongan Suster Maria, aku berhasil memboyong Pak Tri dan Ibu Tri ke Rumah Kasih.
Di ruang makan, saat makan siang dan semua anggota serta pengurus Rumah Kasih berkumpul untuk makan bersama, kuajak mereka untuk diam-diam bergabung.

Kak Julia sudah terlihat lebih ceria. Sejak dia meyakini bahwa Sean dan Dwayne sudah damai dalam keabadian. Sejak dia pun menerima kepahitan itu sebagai realita.
Aku semakin senang bersahabat dengannya.
Dan, diam-diam, di Rumah Kasih itu pun ada seorang dokter tampan dan sudah ditinggal istrinya lima tahun lalu, memendam rasa pada Kak Julia.
Dokter Daniel, begitu kami menyebutnya, memperlihatkan dengan jelas kasihnya pada Kak Julia.
Hmmm, kurasa, itu juga yang membuat hari-harinya semakin berwarna.

Dengan menu sederhana hari itu, makan siang terasa betul nikmatnya.
Sayur asem, tahu-tempe goreng, juga ayam goreng kalasan. Tak lupa sambal dan lalapan membuat kami yang hadir mensyukuri berkat Tuhan.
Terima kasih untuk makanan lezat yang disediakan oleh para pengurus kantin di sini, Tuhan...

Hari itu menjadi hari yang penuh keharuan.
Saat dokter Daniel melamar Kak Julia di hadapan kedua orangtuanya.
Pak Tri dan Bu Tri menangis dalam keharuan yang mendalam.
Perdamaian selalu membuahkan hal yang manis.
Hal yang indah...
Selalu ada pelangi sesudah hujan badai sekalipun.
Meskipun harus menunggu. Meskipun harus menjalani badai itu dengan berjuta rasa.
Setelah kesedihan, akan ada derai tawa bahagia lagi.

Oh ya, Kak Julia menerima lamaran dokter Daniel.
Agaknya Kak Julia akan 'move on' dari kebenciannya akan bulan Juli.
Bulan Juli sekarang akan menjadi sesuatu yang juga spesial.
'Mixed feeling' menghadapinya? Mungkin :)

Dan aku? Aku hanya bisa tersenyum tanpa henti sepanjang hari ini.
Persahabatan dengan Kak Julia dan keluarganya.
Menyaksikan kedamaian yang tercipta dan bahagia yang menanti di episode kehidupan mereka selanjutnya...
Tugas akhir ini membawaku jauh lebih dalam.
Lebih dari sekadar seorang mahasiswi yang bersiap untuk skripsinya.
Ini semua mengajariku akan hidup dan kehidupan itu sendiri.
Kecewa mungkin datang, bahkan teramat dalam.
Ia mungkin menimbulkan luka yang tak dapat tersembuhkan oleh waktu.
Namun, percaya bahwa akan ada kasih dalam bentuk lainnya yang menyentuh dengan kelembutan tiada tara.

Aku tersenyum.
Semilir angin di bulan Juli menerpa wajahku.
Bahagia kurasakan menjadi saksi indahnya kisah Kak Julia.
"Selamat berbahagia, Kakkk!"
Kuteriakkan kencang di taman bunga Rumah Kasih.
Kak Julia, Dokter Daniel, Pak Tri dan Bu Tri tersenyum bahagia.


23.07.2014
The End.
fon@sg
@copyright Fonny Jodikin


Wednesday, July 16, 2014

Macarons



Macarons

Terbuai indah warnamu
Mengunyah sedapnya rasamu
Tampilan yang menarik
Membuatku ingin mencoba

Tergoda
Oleh warna-warna ceria
Ah, kuingat juga godaan kehidupan
yang berwujud tampilan yang menggoda
Suguhan warna yang meriah...
Cita rasa yang (seolah) sempurna...
Dan membuat manusia jatuh ke lembah dosa...
D saat-saat itu aku memohon dalam doa...
Tuhan, kuatkan aku dalam melangkah...
Agar terus fokus pada jalan-Mu...
dan jika kubersalah, semoga kukembali pada 
kasih dan pengampunan-Mu saja...

Terkadang hidup pun menyajikan banyak keindahan...
Tak melulu godaan...
Namun, sungguh sesuatu yang menuju kepada kebaikan...
dan kemuliaan...
Hidup pun penuh warna
bahagia ...
ceria...
Jka terkadang ada duka...
itu pun akan berlalu juga...
Suka, sebagaimana duka, adalah warna hidup kita...
kusyukuri semuanya sebagai anugerah Yang Kuasa...

Jelitamu, macarons...
Ingatkanku akan indahnya hidup...
yang walaupun sementara saja...
namun, hendaknya dinikmati senantiasa...
Sebagai anugerah yang tak ternilai harganya

Kekayaan warnamu, macarons...
Ingatkanku akan kekayaan warna kehidupan yang disediakan oleh-Nya.
Bagiku, bagimu, bagi siapa saja.
Bagi kita semua.

15.07.2014
fon@sg
* inspirasi dari sekotak macarons cantik yang warna-warni....

Friday, July 4, 2014

Undo

Undo

What's done cannot be undone
(Lady Macbeth from Macbeth - a Shakespeare's play)

Jika kita tahu akhirnya begini, mungkin kita ingin kembali di awal di saat kita seharusnya melakukan banyak hal dengan cara yang berbeda.
Jika waktu bisa diputar kembali, mungkin ada hal-hal yang tidak ingin kita lakukan atau tidak seharusnya kita lakukan di saat itu.
Rasa sesal pun mendera...
Apakah ada kesempatan untuk mengulang kembali?
Apakah mesin waktu yang sering ada di film-film itu bisa berfungsi sungguh dalam pengalamanku?


Tidak semua hal bisa kita 'undo' seperti fungsi komputer yang ada di keyboard atau program-program tertentu.
Ada banyak kali, kita berhadapan dengan apa yang dikatakan oleh Lady Macbeth karya Shakespeare yang ternama itu: " What's done cannot be undone."

Penyesalan seringnya datang terlambat.
Nasi sudah jadi bubur. Bahkan sudah masuk ke perut.
Kesannya, telattt banget:)
Apa mau dikata, terkadang pengalaman hidup membawa kita kepada kenangan yang tidak selalu manis.
Tetapi, setidaknya, kita menyadari kesalahan.
Mau meminta maaf jika memang kita bersalah.
Mau bertanggung jawab dan tidak lari darinya.
Dan mau mengambil hikmahnya.

Tidak semua kesalahan adalah salah total.
Tidak semua kekeliruan adalah fatal.
Tidak semua kegagalan akan membungkam semua usaha kita...
Masih ada harapan.
Masih ada jalan...
Terkadang pikiran kita terlalu fokus pada apa yang ada di depan mata-apa yang terjadi saat ini. Tanpa memberikan kesempatan kepada waktu untuk membuktikan bahwa kesalahan yang kita perbuat kini, di suatu ketika mungkin saja membawa berkat yang tersamar dalam bentuk yang lainnya.

Mari berandai-andai...
Jika 'undo' dan mesin waktu itu ada, apakah kita akan belajar dari terus membenarkan diri kita?
Seperti yang kita selalu ketahui bahwa kenyamanan tidak selalu membawa kita ke suatu perubahan ke arah yang lebih baik.
Tak jarang, pengalaman yang menyedihkan-memilukan, merupakan hal yang membuat kita berani bangkit untuk membuat suatu perbedaan.

Yang terpenting agaknya terus berusaha melakukan yang terbaik di momen kini.
Dan jika yang terbaik itu bukanlah yang terbaik di mata-Nya, hanya keinginan kita belaka, mungkin Dia akan tunjukkan jalan yang tidak seperti yang kita mau.
Belajar dan berangkat dari situ, nantinya tak jarang kita menoleh ke belakang dengan rasa syukur...
" Oh, itu tokh maksudnya..."

Bersama Tuhan, saya percaya bahwa hidup tidak melulu mulus.
Namun, Tuhan berikan kekuatan untuk melangkah bersama-Nya.
Tombol 'undo' - rasa bersalah di masa lalu- penyesalan karena tidak melakukan yang seharusnya saya lakukan....
Mari kita simpan itu semua...
Membawa semuanya itu ke dalam doa di hadirat-Nya...

Memang indah hidup dalam imajinasi dan berandai-andai...
Namun, pijakkan kaki pada realita-meski itu menyakitkan-adalah upaya yang sangat baik pula. Lalu, belajar menerima kenyataan yang pahit itu dan 'move on' untuk sesuatu yang lebih baik di kemudian hari.

Percaya itu semua bukanlah kebetulan...
Percaya semua pengalaman itu nantinya akan kita syukuri sebagai bentuk 'blessing in disguised.'
Percaya, masih ada kesempatan kedua, ketiga, dan seterusnya dari Yang Kuasa untuk tetap melangkah.
Semoga demikian adanya.
Ya, semoga.

04.07.2014
fon@sg






Friday, June 27, 2014

Mesin waktu.



Jika ada mesin waktu, inginku kembali ke masa itu.
Masa kanak-kanak yang ceria dan bahagia. 
Seolah hidup bebas dari masalah. 

Jika ada mesin waktu, inginku kembali ke tempat itu.
Tempat yang membawa kesejukan di jiwa saat mata memandang keindahan tiada tara. Lukisan-Mu sungguh sempurna.

Jika ada mesin waktu, inginku kembali ke pelukmu.
Ayah terkasih yang sudah berpulang ke hadirat-Mu, masih kurindukan di lubuk hatiku.

Jika ada mesin waktu, inginku mengulang momen penuh penyesalan dan menggantikannya dengan senyum kebahagiaan.

Ah, tetapi...
Jika mesin waktu itu hanya membuatku ingin lari dari permasalahan...
Tanpa menatap realita dengan kedewasaan....
Aku memilih untuk menjadikannya sebuah imaji.
Sementara dengan sabar walaupun kadang gemetar..kujalani hidup tanpa gentar
Bersama Sang Ilahi...

Sementara hatiku berbisik...

Life is beautiful-if only we can see- that all things work together for our own good in His eyes.

26.06.2014
fon@sg
*picture was taken in Blaxland Riverside Park Sydney. Thank YOU for this inspiring moment

Refleksi di Bulan Juni...

Sebuah posting yang terlambat di Blog Chapters of Life, namun sudah saya posting di Facebook sebelumnya pas tanggal 1 Juni yang lalu...
Tetapi, semoga masih tetap bisa membuat saya pribadi, moga-moga kita semua untuk refleksi diri...(-fon-)

Januari: 
"Ya, koq cuma segini, Tuhan?"

Februari: 

"Si A sudah ke sana-ke mari keliling dunia, sementara aku koq cuma begini-begini aja, Tuhan?"

Maret: 

"Si X sudah beli mobil baru. Keren. Mahal. Sementara mobilku masih butut saja...Oh my..."

April:

"Tasnya Ibu N, tetangga sebelah, tiap bulan gonta-ganti. Semua seharga puluhan jeti. Sementara punyaku? Satu, harga pun jauh sekaliiii..."

Mei: 

"Pa, lihat donk, posisi Bapak W teman sekantor Papa, tambah hari tambah hebat. Sementara Papa? Naik gaji saja seret, duhhh Pa...Pa..."

Kisah di atas bukan kisah pribadi. Namun rasanya sering terjadi.
Semoga Juni, Juli, sampai akhir tahun ini...
Bahkan sampai akhir hidup ini...
Menjadi pelajaran tersendiri...
Bahwa hidup bukan melulu pertandingan tanpa henti...
Apalagi dalam area tak sehat macam ini...
Kekayaan penting, namun tidak dibawa mati...
Sebegitu sulitnyakah kita mensyukuri?
Kata CUKUP seolah begitu sulit terlontar dari bibir ini...

Segalanya cukup bagiku, Tuhan...
Terima kasih.
Asal aku berjuang sekuat tenaga, kuyakin Tuhan pasti buka jalan...
Berusaha menikmati apa yang ada hari ini...
Dan jika diberi kemudahan, tak lupa berbagi kepada sesama yang menderita...
Semua dari-Mu dan titipan-Mu semata.(-fon-)


01.06.2014
fon@sg

Wednesday, May 28, 2014

I Love You, Pa…

Late posting of a Short-story competition, taken from last year's Long Way Home Asia-Europe Short Story contest conducted by ASEF (Asia Europe Foundation) and Ubud Writers Festival.
Didn't win any prize, but quite happy as I submitted my first ever short-story in English:)
-fon-

I Love You, Pa…

Jakarta, June 2012

“ Pa, can I further my violin knowledge in London?” I asked anxiously knowing that he has never supported me to take serious study in music.

“ What? Violin again? Do you know that I’ve already prepared your MBA program there? Yes, you can go to UK. Only and if only you’ll further your business study there. Nothing more and nothing less.” Papa sounds so angry and fierce.

Suddenly, the tears fall down on my face. Oh My God, this is too painful!

And that’s not enough.
He goes to our music room, takes my violin and breaks it into pieces right in front of my eyes.

I scream so loud. But it seems that everything I do is in vain.
I’m furious.
I take the broken violin and go back to my room.
Enough is enough! I’m not going to be his princess anymore! I’m going to move out from this house! 
***


Ho Chi Minh City, July 2012

After such an argument with Papa, I don’t want to stay in Jakarta anymore.
And my poor Mama is so sad because of that. But, she’s made a wonderful suggestion for me to stay in her youngest sister’s house in Ho Chi Minh City (HCMC).
Aunt Lily-that’s how I called her-has married a French (Uncle Louis).
They have been staying in HCMC in Southern Vietnam for more than 10 years.
I’ve been here before with the whole family for a short trip.
And this time, I’m here alone.
I think I’ve done what I should. I’ve followed Papa’s instruction and had a Bachelor degree in Finance -the field that has never been my interest, because my deepest passion has always been in music. Violin is my life!

Uncle Louis is a great person. I’ve always thought that French people are not that friendly, especially because I don’t speak French much. But, he has shown a different side of warmth that I haven’t seen before. Good for Aunt Lily to have him as her husband. He’s busy doing his hotel business in Vietnam and he’s very successful.

They don’t have any kids. And Uncle Louis accepted her for what she is. Unlike some other guys who’ll divorce their wife because of the similar problem. He knew that Aunt Lily won’t be able to have kids because she’s infertile, but yet he loves her anyway. How sweet!

I spend time eating, watching TV, surfing internet and going to most places Aunt Lily goes. She likes to go to orphanage where children without parents are packed in that place. Around 30 children sleep together. They only sleep in mattresses covered by a big mosquito net. I cry inside when I see this….

Going there, seeing those kids without any parents, made me realize that I’m so lucky to have my Papa all this time. Suddenly I cried in regrets, for never treasuring what I really have in my life. These children want their Papa so badly. While having one, I’ve never really seen his good sides. I always think of our arguments, our differences and forgetting his good values-his virtues.

Yes, he’s not perfect. Sometimes, he’s just so stubborn and wants to do things his way, but he’s a good and responsible dad after all. Suddenly, I realize that it’s just so great to know that he is there. Just being there and be my Papa. Then, I decided to go back to Jakarta and meet him again. I miss you, Pa!

Jakarta, August 2012

I still remember the European or mostly French architectural buildings in Ho Chi Minh City. The Saigon Notre Dame Cathedral, the Continental Hotel, Diamond Plaza, along Nguyen Hue Street, Saigon River, and all around the city…The mixture itself is so rich. Well, there might be millions of motorbikes, but yes, I did enjoy my trip and found my new perspective there. Like an alien in HCMC, in the midst all of the voices of that foreign language that I’ve never understood, but eventually I’ve found the new meaning of life. I treasure what I have, I love what is in my hand…

Papa and I have already made things up.
We’ve done a good conversation.
I still can go to UK for my MBA and he allows me to find some good music schools as well for my Violin class.

Now, I’m preparing my visa and everything needed for my next trip.
The journey to Vietnam has made me see that I’m just so lucky just to have a dad.
Not to mention as hard-working as my Papa.
A soft whisper in my heart says these words hundred times,
“ I love you, Pa…”

The End.

Singapore, 8th of July, 2013
-Fonny Jodikin-
*An Indonesian who currently stays in Singapore and have stayed in Ho Chi Minh City for 3 years.