Tuesday, January 31, 2012

Hari Ini



Hari ini tidak begitu menyenangkan, Tuhan.

Ada permasalahan kecil di sini dan di sana. Jadi, apa aku masih bisa menampakkan wajah ceria?

Pada orang-orang yang tak mengenalku dengan baik, mungkin bisa… Tetapi, pada mereka yang dekat denganku, pasti terasa. Ada kesedihan tersembunyi di balik kedua mataku. Ada kekalutan yang sengaja kubungkus rapat-rapat, tetapi tetap saja, sahabat baikku atau keluarga terdekatku tahu. Aku tak bisa menyembunyikan semuanya itu untuk selama-lamanya. Aku jadi gelisah. Tetapi, aku tahu Tuhan, dalam segala kejadian yang kualami aku tengah membiasakan diriku untuk terus bercerita akan semuanya itu kepada-Mu. Mungkin perasaan sumpekku, kekuatiranku, rasa sedihku, perihku, piluku… Hanya Engkau yang setia bersama-sama denganku. Bukan hanya sehari, dua hari…Tetapi di sepanjang hidupku….

***

Hari ini sungguh membahagiakan, Tuhan!

Dari terbit matahari sampai terbenamnya, keceriaan saja yang kudapat. Semua lancarrrr. Ah, aku bahagia. Sungguh!

Kuceritakan pula semua sumber bahagiaku hari ini, karena kupercaya bahwa di atas itu semua, Engkaulah sumber sukaku…Bahkan semua kembang pun turut bernyanyi, angin semilir berhembus, cuaca ramah, lalu lintas lancar…

Terima kasih, Tuhan… Berkat-Mu sungguh terasa hari ini. Kebaikan dan kesetiaan-Mu tetap nyata… Perlindungan-Mu sungguh luar biasa… Kuasa-Mu dahsyat tiada tara…. You are amazing, Lord!

***

Hari ini kulalui dengan perasaan campur-aduk, Tuhan…

Paginya begitu menyenangkan, siangnya menyebalkan, malamnya sedang-sedang saja. Flat. Datar. Kututup hari dengan perasaan gamang. Campuran dan pilinan suasana hati yang naik-turun terasa melelahkan. Inginku hanya tidur saja, Tuhan… Tetapi pikiranku nampaknya enggan untuk beristirahat, dia masih sibuk… Begitu juga perasaanku yang datar itu… Kuputar kembali kejadian seharian. Ah, Engkau selalu bersamaku, ‘kan Tuhan? Hari ini yah begitu dehhhh, God… Kalau disimpulkan kesannya biasa. Tanpa ada kejutan ceria atau kebahagiaan yang membuncah. Tetapi, tidak juga diliputi kesedihan yang tiada tara. Biasa dan akan berlalu juga. Ini hariku, Tuhan… Aku tahu, Kau setia menemaniku setiap detik di hidupku…

***

Hari ini…

Apa pun yang kualami, ‘kan kupersembahkan kepada-Mu, Tuhan…

Apa pun perasaanku, pikiranku, biarlah kuceritakan kepada-Mu

Biarlah Engkau bertakhtah atas hidupku…

Sejak Engkau hidup di dalamku dan kuada dalam-Mu,

Hidup ini bukanlah lagi milikku semata…

Tetapi akan kupersembahkan hanya bagi-Mu

Hari akan berganti.

Susah, senang, datar, bosan, semua akan datang dan pergi.

Yang aku tahu pasti…

Engkau adalah setia.

Di sepanjang hidupku sampai selamanya…
Kupersembahkan hariku ini kepada-Mu

Semoga Engkau berkenan, Ya Tuhanku…

Aku ingin selalu memberikan yang terbaik bagi-Mu

Di tengah seluruh kelemahanku, biarlah Engkau yang jadi sumber kuatku

Biarlah itu semua, kupersembahkan untuk-Mu.

Dalam jatuh-bangunnya aku melalui hari-hari hidup yang Kauanugerahkan kepadaku…

Biarlah aku tetap berusaha setia dan ikut jalan-Mu

Yang meski terjal dan berliku…

Tetapi, kutahu aku takkan kecewa…

Ikut Engkau sepanjang hidupku

Sampai ke keabadian bersama-Mu…

Karena kutahu, semua rencana-Mu

Membawa kebaikan bagiku…

HCMC, 27 Januari 2012

-fon-

Thursday, January 19, 2012

Hal Penghakiman




Di suatu pesta.

Sekelompok ibu keren yang tak kukenal memandangiku. Beberapa di antaranya dengan tampilan mereka yang prima dan super-branded. Mahal dan bling-bling di sekujur tubuhnya. Menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Mulai dari wajah, pakaian, sandal, sampai tas yang kupakai. Semua tak lepas dari sorot mata mereka. Aku jadi salah tingkah, sedikit tak berkutik. Terlanjur dihakimi. Rasanya tak enak sekali.

Memang bajuku hanya gaun sederhana. Bukan yang mewah, tetapi nyaman kupakai. Tasku, bukan yang mahal sekali seperti milik mereka. Yang harus menghabiskan budget ribuan dollar untuk mendapatkannya. Sandalku pun asal Bandung, bukan milik disainer kelas dunia seperti mereka. Dipandangi sinis sedemikan rupa, tiba-tiba ada rasa muak. Sekaligus mungkin… KALAH.

Ini kompetisi perempuan. Yang mungkin kurang sehat, tetapi sering kali terjadi. Kompetisi. Penghakiman. Atas dasar fisik dan apa yang dikenakan.

Tiba-tiba perasaan muak itu datang lagi. Lebih baik aku beranjak pergi. Makan dan minum saja sampai puas hati. Dengan mereka? Cuek saja, tokh ‘gak kenal’ ini….Huh, hari ini mendadak jadi kurang menyenangkan. Kucoba tepis perasaan itu, tetapi dia masih ada. Ah, kusibukkan diriku sajalah daripada pusing dengan tingkah mereka….

Beberapa hari kemudian.

Di restoran cepat saji ini, kunikmati kentang goreng dan burger. Ditemani ‘iced lemon tea’ aku menikmati siang hari ini. Mumpung aku lagi cuti dari pekerjaanku, kapan lagi? Seorang ibu masuk ke restoran. Tampak lusuh. Seperti pengemis. Dan dia duduk di meja sebelahku. Segera kupindahkan tasku yang tadinya dekat mejanya, ke sisi sebelah jendela sehingga aman. Kuhabiskan makananku terburu-buru. Lalu ambil langkah seribu. Dia sudah membuyarkan hariku!

Malam hari saat ingin memejamkan mata di peraduanku…

Kejadian beberapa hari lalu di pesta melintas di depan mata.

Dan suara yang lembut itu menggema di batinku…

“ Anak-Ku, bagaimana perasaanmu ketika dihakimi? Apakah kau senang? Apakah kau bahagia? Lalu, mengapa pula kaulakukan penghakiman atas orang lain hari ini? Apakah kaunikmati saat menghakimi itu? Puaskah hatimu menganggap dirimu lebih tinggi dari orang lain, lalu boleh menghina dengan pandangan atau pikiranmu yang mungkin saja keliru?”

Aku terdiam.

Sungguh jahat diriku hari ini. Curiga hanya karena tampilan luar seseorang. Sama halnya seperti aku dihakimi mereka yang lebih berkelas dariku. Apa enak?

Dihakimi tak pernah enak. Tetapi, ketika menilai, menghakimi, bahkan bergosip tentang seseorang, betapa menyenangkannya! Bagaimana jika dibalik dan aku yang jadi bahan gosip dan tertawaan itu, apakah aku juga akan senang?

Lakukanlah kepada orang lain, sebagaimana kauingin diperlakukan…(Suara itu bergema lembut di hatiku..)

Ah, Tuhan…

Maafkan diriku…

Semoga aku belajar untuk lebih memandang penuh kasih kepada sesamaku. Bukan dengan tatapan mencela, bukan pula pandangan menghina…

Penghakiman? Mutlak hanya milik-Mu semata…

HCMC, 17 Januari 2011

-fon-

*Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. (book of Matthew)

Tuesday, January 3, 2012

Hidup dengan Orang yang Sulit



Tidak semua orang beruntung mengalami kehidupan yang tenang Ada banyak kali, di dalam keluarga kita sendiri, kita harus berhadapan dengan orang-orang yang sulit. Orang sulit tidak melulu dengan mereka yang luka batin-walaupun harus diakui luka batin memegang peranan yang cukup besar dalam katagori orang sulit ini, banyak juga kasus seperti sakit-penyakit, karakter yang keras, harus dihadapi oleh banyak dari kita.

Tak jarang, kita dibuat bingung. Suatu hal yang biasa, mengapa harus dihadapi dengan reaksi yang sedemikian kerasnya bagi orang-orang tertentu. Tidak ada orang yang seragam, semua orang adalah unik, cara berpikir dan bereaksi pun berbeda tergantung pada banyak hal: pendidikan, cara dia dibesarkan di keluarga, dan banyak hal lainnya. Tentu saja, hidup dengan mereka yang perfeksionis, cerewet, mau menang sendiri, tak pernah mau tahu perasaan orang lain, maunya dimengerti tapi tak pernah mau mengerti, keras-mengganggap diri selalu benar dan orang lain salah, bukanlah hal yang mudah. Tetapi, mau tidak mau, tetap saja terjadi di sekitar kita, bukan? Rasanya jarang kedua pihak orangtua sifatnya sama: kalem. Kalau satu kalem, satunya lagi kemungkinan lebih cerewet. Satu keras, satu lagi lembut. Biasanya variasi yang begini yang membuat perkawinan bertahan lama.

Menjadi bagian dari keluarga berarti mau menerima baik dan buruknya seseorang. Interaksi yang begitu banyak antaranggota keluarga, mau tidak mau menjadikan kita mungkin akan lebih banyak adu argumentasi sekaligus banyak terluka oleh omongan salah satu di antara kita. Inginnya semua lancar dan indah. Tetapi tak jarang, banyak kejadian nyata membuktikan: orangtua dan anak bertengkar, suami-istri saling mendiamkan, antarsaudara rebutan harta, dan sebagainya. Tidak mudah memang menjembatani seluruh permasalahan yang ada dan melihatnya dengan lapang dada. Terkadang, luka lama yang belum sembuh kembali dihantam oleh luka-luka baru yang menambah kepedihan yang mendalam. Untuk itulah, diperlukan kemampuan untuk mengampuni satu-sama lain secara terus-menerus. Kalau perlu setiap hari, kita mendoakan agar kita mampu memaafkan orang-orang yang menyakiti kita, terutama keluarga terdekat kita. Karena mereka paling banyak menyakiti kita sekaligus kita pun bisa jadi orang yang paling banyak menyakiti mereka. Pengampunan tidak bisa terjadi tanpa campur tangan Tuhan. Karena pengampunan yang dimiliki manusia amatlah terbatas. Dengan menyertakan Kasih Tuhan, semoga kita diberi kekuatan baru untuk melangkah di dalam cinta. Dalam seluruh kesakitan, kesesakan, dendam, kebencian, kita mencari-Nya. Menyerahkan semua rasa itu, lalu percaya, Tuhan akan memberikan tetesan kasih dan pengampunan-Nya yang baru. Yang akan memampukan kita mengasihi kembali keluarga yang begitu kita sayangi, yang mungkin juga sekaligus begitu menyakitkan hati.

Di akhir tulisan ini, ingin saya tuangkan pemikiran bagaimana sebaiknya jika kita harus hidup dengan orang yang sulit dalam keluarga?

  1. Untuk hidup dengan orang yang sulit, hendaknya kita melibatkan Tuhan dan menempatkan Dia di atas segala permasalahan yang ada. Hendaknya kita hidup dalam kasih Tuhan. Terus mendoakan diri mereka, juga berdoa mohon kekuatan dan kesabaran untuk menanggung semuanya. Bukan kebetulan jika mereka ditempatkan di sekeliling kita, menjadi keluarga kita. Tuhan pastinya ingin mengajarkan sesuatu di balik itu semua. Setidaknya mengajarkan kesabaran menghadapi Mama yang cerewet, Papa yang mau menang sendiri, Istri yang maunya hanya dimengerti tapi tak pernah mau mengerti, anak yang manja dan kurang mau dengar nasihat orang tua…. Mereka tetaplah keluarga yang sudah diperkenankan Tuhan masuk ke dalam kehidupan kita.

  1. Untuk hidup dengan orang sulit, hendaknya kita berdamai dengan diri sendiri juga. Terkadang, sudah memilih pasangan hidup yang dikira baik, tak tahunya ternyata orang yang sulit. Sesal kemudian membawa tindakan menyalah-nyalahkan diri sendiri. Keadaan tidak damai dalam diri, rasanya sulit juga untuk berdamai dengan sekitar. Perdamaian dan pengampunan dengan diri sendiri juga hendaknya dilakukan senantiasa. Membawa semua rasa bersalah, menuding-nuding diri sendiri, untuk kemudian belajar mengampuni diri. Seringkali rahmat Tuhan sulit turun, karena kita sendiri yang menghalangi. Karena kita masih merasa bersalah dan tidak mau menerima diri. Dia Maha Pengasih dan Penyayang, asal kita mau memperbaiki diri dan bertobat, selalu ada jalan untuk kembali.

  1. Untuk hidup dengan orang sulit, hendaknya kita mau belajar mengerti, bukan melulu maunya dimengerti. Setiap orang maunya dimengerti, jarang mau mengerti. Semoga kita menjadi pribadi yang semakin hari semakin mau memahami, bukan melulu dipahami.

  1. Untuk hidup dengan orang yang sulit, hendaknya kita mau memberikan telinga yang mau mendengarkan. Banyak kali, kedua belah pihak hanya berbicara terus, tanpa pernah mau mendengarkan keinginan pihak lainnya. Semoga dengan demikian, semakin banyak konflik yang terselesaikan. Dan perdamaian, bukan hanya istilah manis, tetapi sungguh dapat dirasakan.

  1. Untuk hidup dengan orang sulit, kita harus meluangkan banyak waktu untuk bersabar dan mengendalikan diri. Tidak terbawa emosi. Apalagi mereka yang tengah sakit dan mengalami permasalahan kejiwaan akibat stres. Ini mungkin saat-saat tersulit dalam kehidupan orang yang kita kasihi. Ada baiknya berusaha menempatkan diri pada posisi mereka dan melihat dalam cinta Tuhan.

  1. Untuk hidup dengan orang sulit, kita perlu meningkatkan kemampuan kita dalam berkomunikasi dan berelasi. Rasanya mudah menghabiskan berjam-jam dengan teman akrab kita, tetapi dengan keluarga yang menyebalkan rasanya ingin lari dan menjauh saja. Semoga kita disadarkan bahwa waktu kita adalah singkat. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi bahkan dalam satu detik ke depan. Tinggallah dalam perdamaian, sehingga tiada sesal saat anggota keluarga kita harus menghadap Yang Kuasa.

Semoga kita sendiri menjadi orang yang lebih baik dalam hal kesabaran, pengampunan dan kasih. Semoga kita bukan menjadi orang yang sulit bagi sekitar kita. Sulit dalam arti penuh dendam, kebencian, dan menyusahkan keluarga saja. Berpegang dan bersandar kepada Tuhan dalam doa. Mohon kekuatan, sambil terus membenahi diri. Kalau bukan dari diri dan keluarga, harus dari siapa? Bagaimana mau bicara soal perdamaian dunia, kalau perdamaian dalam diri dan keluarga saja sulit tercipta?

Tentunya, semua berawal dari sebuah keputusan untuk menerima anggota keluarga yang sulit itu juga. Dan secara berproses-bukan instan- perlahan tetapi pasti menjadi pribadi yang mau melihat, mengerti, dan memahami secara lebih objektif. Bukan karena rasa tidak suka, lalu memutuskan untuk tidak lagi peduli. Mereka adalah bagian hidup kita juga.

Akhirnya, tiada yang mustahil di dalam Tuhan. Tetapi, apakah kita juga mau bekerja sama dengan-Nya? Atau kita menempatkan keangkuhan terlalu tinggi untuk menegur, dendam terlanjur melilit kuat-kuat dan mencegah kita untuk menyapa? Pilihannya ada di tangan kita.

Di awal tahun ini, adalah baik juga bila kita memulainya dengan sebuah resolusi: meningkatkan hubungan yang lebih baik dengan keluarga kita. Bukan dengan sahabat di jejaring sosial, bukan dengan sobat semasa sekolah yang kembali akrab karena chatting dan reunian, tetapi dengan keluarga kita sendiri. Mari, sama-sama kita belajar untuk berdamai dan lebih mengasihi keluarga kita sendiri.

HCMC, 30 November 2011 / edit ulang 3 Januari 2012

-fon-

Monday, December 26, 2011

Saya Belajar



Dalam setiap kesesakan, saya belajar untuk bertahan

Lalu terus berjalan di dalam iman

Bukan karena kekuatan diri sendiri

Karena saya tahu, Tuhan selalu menemani


Dalam setiap kegelisahan, saya belajar untuk percaya

Hanya kepada Sang Pencipta yang Mahatahu segala-galanya

Galau dan resahku kusampaikan kepada-Nya

Setelah itu aku pun menjadi lebih lega


Dalam setiap kekecewaan, saya belajar untuk melihat realita

Meski pahit, seluruh perasaanku kutumpahkan pada-Nya

Tak ada jalan lain kecuali percaya

Kasih-Nya mampu membalut semua luka


Dalam setiap kegagalan, saya belajar menerima

Meski terkadang sulit tetapi aku mau percaya

bahwa rancanganku yang terbaik dan sedemikian indahnya

Tak sebaik dan sesempurna rancangan-Nya


Dalam setiap tetes air mata, saya belajar untuk tegar

Roda kehidupan terus berjalan

Hari ini sedih bukan berarti akan sedih selamanya

Selalu ada harapan di dalam Tuhan


Dalam setiap putaran waktu, saya belajar untuk setia

Tidak selalu mudah, tetapi semoga kita tak henti mencoba

Karena Tuhan sendiri sudah begitu setia

Di sepanjang perjalanan hidup kita


Hanya kepada-Nya seluruh tumpuan harapan dan doa

Saya belajar untuk tetap bangkit walaupun pernah terjatuh

Saya belajar untuk tetap tersenyum meski pernah tersakiti

Saya belajar untuk mengampuni walaupun harus berjuang keras untuk itu

Saya belajar untuk jadi seseorang yang lebih baik hari lepas hari

Saya belajar untuk menerima kekurangan diri dan mau lebih baik lagi

Saya belajar untuk tidak terlalu mengandalkan pikiran atau perasaan, karena Tuhan melebihi semuanya itu…

Saya belajar untuk tetap bekerja keras, lalu menyerahkan hasilnya kepada Tuhan


Setiap hari, saya akan terus belajar…

Untuk memilih hal-hal baik dan bukan hal-hal yang buruk

Untuk mengasihi dan bukannya membenci

Untuk percaya dan berharap kepada Tuhan

Untuk setia di antara sejuta godaan


Setiap hari, ajarilah saya, Tuhan…

Untuk melihat keindahan dalam kesederhanaan

Untuk tidak melulu menilai orang dari tampilan luaran

Untuk belajar rendah hati dan tidak arogan


Tuhan, ajarilah saya…

Hari ini dan di masa depan…

Hanya kepada-Mu kupercayakan

Seluruh hidupku di tangan-Mu, oh Tuhan…


HCMC, 26 Desember 2011

-fon-

* catatan akhir tahun…. Kesetiaan dan kebaikan Tuhan tak pernah cukup untuk kuekspresikan…

Tuesday, December 13, 2011

Kesabaran



Untuk mendapatkan pekerjaan dengan peminat lebih dari 1000 orang ini, aku harus melakukan sesuatu yang sama sekali berbeda. Termasuk harus tahan malu. Demi pekerjaan di sebuah perusahaan favorit dengan kantor di seluruh dunia, sebagai ‘management trainee’ yang nantinya akan dilatih dan ditempatkan di mana-mana. Di seluruh pelosok Indonesia juga di negara-negara baru yang tak pernah kami duga. Kami diharuskan berlatih di setiap divisi, untuk kemudian mandiri dan mampu ditempatkan di mana saja, kapan saja.

Semakin banyak yang gugur di tiap tes. Total tes ada enam, termasuk interview tahap akhir. Di bagian ke-3, kami diharuskan mempertontonkan sebuah kebolehan dengan wajah badut. Dan harus membuat audiens tertawa. Rasanya malu, marah, mencoreng gengsi dan harga diri. Tak tahukah mereka, kami-kami ini juga Sarjana? Dan kami tidak suka dipermalukan sedemikian rupa. Apa tidak bisa ‘performance’ kami biasa saja, tanpa dicoreng mukanya?

Dengan terpaksa, kulakukan. Di depan audiens dan tim pewawancara sekitar total tigapuluh orang, kami harus memberikan yang terbaik. Yah, kupilih sebuah lagu, nyanyi saja. Paka sistem karaoke, musik sudah siap. Tapi wajah yang dicoret bak badut ini yang membuatku gengsi. Apa mau dikata, harus kulakukan juga. Sebelum tampil, aku berkutat dengan harga diriku. Dengan statusku. Lalu, kuputuskan terus maju. Ingat ayah dan ibu yang selalu kelelahan di setiap harinya selama membesarkanku. Ayah yang hanya buruh pabrik dan ibu yang punya warung makan sederhana. Sabar, itu yang selalu mereka ingatkan kepadaku. Kesabaran mereka yang menjadikanku-anak satu-satunya-bisa berhasil meraih kesarjanaan.

Kuhapus perlahan tetesan air di sudut mataku. Sabar, harus kulakukan itu. Kukumpulkan keberanian jadi satu. Tahan malu. Maju. Jangan ragu. Lagu dangdut Ayu Ting Ting bergema. Wajahku yang memang tak seberapa cantik ini tambah hancur dengan riasan seenak jidat Si Penata Rias. Aku malu, tapi aku menegarkan hatiku. Kesabaran menanggung segala sesuatu membuatku tetap melaju. Langkah konyolku di panggung ketika aku pura-pura terjatuh, membuahkan hasil prima. Mereka tertawa. Aku lulus interview ke-3.

Di belakang panggung.

Aku tak tahu haruskah aku senang atau sedih. Haruskah kulakukan semua ini hanya demi sebuah pekerjaan yang memang kuiimpikan? Kubuang ikat kepalaku, air mataku tumpah sejadi-jadinya. Aku berteriak kecil. Suaraku tercekat karena aku tak mau teman-teman baru yang kukenal selama interview ini menjadi tertekan karena ulahku. Tapi, sungguh, ada bagian dari diriku yang tak rela. Dipermalukan sedemikian rupa! Demi keluarga dan masa depanku, aku harus lakukan juga. Dan aku berhasil, tetapi egoku tertoreh. Aku terluka.

Dengan sisa tenaga yang masih ada, aku bangkit.

Aku sadar. Kesabaran membuatku bertahan. Perjuangan sukses memang butuh pengorbanan. Meski dipermalukan. Tugasku harus siapkan diri untuk interview berikutnya. Di antara 1000, akhirnya 10 orang diterima. Termasuk diriku. Aku bahagia, orangtuaku juga. Akhirnya, ada peluang bagi kami untuk maju.

15 tahun kemudian...

Aku hanya bisa tersenyum. Melewati semua itu dengan ketabahan, memampukan aku bertahan di masa-masa yang kurang menyenangkan. Semuanya terlewati hanya dengan kasih Tuhan. Sabar. Ikhlas. Berjuang tanpa henti. Bekerja keras dan melakukan yang terbaik. Tegar dalam segala cobaan. Dan kini aku adalah manajer di kantorku.

HCMC, 14 Des 2011

-fon-

* terinspirasi salah satu episode drama Korea yang kulihat sepintas lalu di KBS. Man of Honor (Glory Jane) sekitar episode 11-12. Sabar dan tegar dalam mencapai impian, semoga tetap ada di hati kita.

Wednesday, December 7, 2011

Topeng


Topeng

Tidakkah kau lelah, sahabat?

Bertopeng senyum palsu, berkedok kemunafikan? Sementara di balik semua itu, kutahu mereka hanya semu. Yang ada hanyalah ucapan-ucapan pembenaran diri yang menganggap dirimu rendah hati, tidak sombong, dan baik budi? Juga dirimu yang seolah suci tak pernah bergunjing sana-sini, hanya mengutarakan kebaikan saja? Aku tahu, aku tak berhak menilaimu…. Tetapi, aku juga tahu, di balik semua itu… Ada banyak, bahkan terlalu banyak topengmu.

Aku bukan orang yang tak kenal dirimu.

Sudah lama kita saling kenal dan bersahabat. Jika ingin kaupasang topeng itu, pasanglah hanya pada orang-orang yang baru. Jangan padaku. Aku rindu, bersahajanya dirimu. Sederhananya kamu. Betapa indahnya persahabatan kita tanpa belenggu. Topeng dan kedok yang kaupaksakan dan terus mengelabui duniamu.

Aku kangen masa-masa itu.

Saat kita saling bercengkerama hanya dengan dua cangkir kopi dan teh saja. Sebungkus biskuit murah yang kita beli dari warung sebelah. Di beranda rumah, sambil memandang langit yang cerah. Akankah terulang lagi? Entah…

Aku senang akan apa adanya dirimu dulu…

Kita bukan orang yang sempurna. Dan kita tak perlu jadi sempurna. Yang sempurna dan tanpa cacat cela hanyalah Yang Kuasa. Dengan segala kekuranganku dan kekuranganmu, kita-sepasang sahabat karib- hanya tertawa…Kita masih manusia…

Kini, tak kukenali lagi dirimu..

Hartakah yang membuatmu begitu? Atau pergaulan yang mengubahmu?

Aku masih tak tahu…

Di termangunya diriku, kuharap suatu saat kau akan kembali seperti dulu…

Mungkin harapku terlalu tinggi, tak mengapa, tetap kunanti di suatu saat nanti… Saat kausadar bahwa semuanya itu hanyalah sementara.

Diriku masih sama, menunggumu kembali…

Lepaskan topeng dan kedok yang tebal di wajah manismu. Berlapis-lapis banyaknya.

Menutupi senyum ikhlas dan kesederhanaanmu. Yang ada selalu. Di suatu masa. Dulu.

Tetap kutunggu,

Aku - Sahabatmu.

HCMC, 7 Desember 2011

-fon-

* demi persahabatan, kutuliskan kisah ini. Bukan kisah pribadi 100%, tapi pernah dan bahkan amat mungkin terjadi. Going back to the core of friendship. Friends forever…

Sunday, November 27, 2011

(Tiada) Sesal



Dimakannya perlahan, tahu dan tempe yang tersisa dari pesta di rumah tetangganya. Masing-masing ada dua, tahu dan tempe goreng. Makanan yang dulu selalu dihindarinya.

Gayanya agak rakus, karena sudah seharian perutnya tak terisi. Jujur saja, kemarin dan kemarinnya lagi, makanan yang layak tak pernah masuk ke pencernaannya. Paling hanya sedikit biskuit, roti murahan yang hampir berjamur, dan banyak air putih yang dia minum. Dengan menyeret kakinya perlahan dia mendekat ke dapur untuk mengambil air minumnya. Kakinya memang pernah terluka dan sekarang menyisakan cacat seumur hidupnya.

Tahu dan tempe beserta nasi langsung ludes seketika. Lapar berat dirinya!

Dia pun mengakui kalau tahu dan tempe itu rasanya lezat luar biasa. Dulu, takkan pernah menu ini ada di daftar makanannya. Kalau tidak sushi, spaghetti, paling-paling steak… Kalau tidak daging, ikan mahal, atau sayuran berkelas, dia tidak akan makan. Alergi dirinya mendengar kata tahu, tempe, kangkung apalagi! Maaf ya, itu baginya hanya makanan untuk orang susah. Tak pernah ia sadar-di masa lalunya- bahwa makanan yang dia kira hanya untuk orang miskin sekali pun sebetulnya adalah makanan yang bergizi, bahkan sering dicari orang-orang kaya.

Hidup memang tak pernah bisa ditebak. Kehancuran dirinya bermula dari kebakaran besar yang melanda kompleks apartemen mewahnya. Tinggallah ia terjebak di unitnya yang terletak di lantai 52, sampai pemadam kebakaran menyelamatkan dia. Dia hidup seorang diri, belum dan memang tak pernah berniat menikah. Mending enak-enak hidup sendiri, tanpa beban, dan menikmati hasil kerjanya sendirian. Hari ini kencan dengan Tuan A – kliennya asal Amerika, besok kencan dengan B-partner bisnisnya. Hidup seperti itu lebih ceria baginya. Tanpa ikatan, senang-senang saja.

Pergi ke luar negeri, jalan-jalan ke Eropa, Amerika, Jepang, dan Korea, sudah dijalaninya. Semua serba mahal, ekslusif, serba nomor satu. Kalau tidak, apa kata dunia??? Gengsi membawanya melambung tinggi, nyaris tak lagi tersisa kerendahan hati yang dulu sempat mengiringi diri. Saat dia masih berstatus anak kampung, di dusun kecil di Pulau Sumatera. Tepatnya di Sumatera bagian Utara, tak begitu jauh dari negara tetangga Singapura.

Dan tiba-tiba saja semua berbalik.

Bisnisnya bangkrut ditipu partner, apartemen mewahnya terbakar dan wajahnya pun terkena luka bakar yang cukup parah. Uangnya tak lagi cukup untuk membiayai gaya hidup jetset yang selama ini sudah jadi kebiasaannya. Tak mampu ia lakukan operasi. Hanya rambutnya yang dia panjangkan untuk menutupi sisi kanan wajahnya yang kehitaman bekas luka bakar. Bukan itu saja, dia lalu hidup terlilit hutang yang besar. Para kreditor mengejarnya, sedangkan partnernya sudah raib ke Australia, itu pun konon kabarnya. Dia tak pernah lagi menemuinya. Karena kebakaran itu pulalah, kakinya jadi cacat. Tak mampu diselamatkan sepertia sedia kala. Masih untung tak perlu pakai kursi roda!

Piring yang kosong masih berada di tangannya. Seolah semua cerita hidupnya terkilas-balik di sana. Dari semua kemegahan dan kemapanan yang pernah dia rasa, kesombongannya, dan betapa dia terhempas jatuh saat itu semua berbalik arah. Sesal di dada, selalu datang terlambat agaknya. Nasi sudah jadi bubur, apa lagi hendak dikata?

Air mata membanjiri kedua belah pipinya. Dia sungguh menyesal saat ini. Selalu ia berseru dan mendesah, “ Ah, kalau saja…”

Kalau saja waktu bisa diputar kembali, dia ingin bertingkah laku lebih baik lagi. Lebih rendah hati, lebih bisa mengontrol diri, mungkin lebih memberikan hartanya kepada kegiatan sosial daripada hanya menyenangkan dirinya sendiri. Dia ingin berbagi. Kalau saja episode hidupnya bisa kembali, andai ada sebuah tombol ‘rewind’ yang bisa diputar. Dia sungguh rela untuk mengulangi semuanya dengan sikap yang sama sekali berbeda. Tetapi, mungkinkah??? Mengapa kenyataan ini begitu pahit bagi dirinya?

Dia sadar, dirinya pernah salah. Salah teramat besar dan pencobaan ini yang menyadarkannya. Kalau tidak ada kejadian kebakaran dan kebangkrutan, tentu dirinya masih pongah luar biasa. Satu sisi, dia mensyukurinya. Walaupun kini rupanya sudah tak karuan, tetapi dia masih bersyukur diberi kesempatan hidup. Terkadang, rasa malu menyerang, mau bunuh diri pun pernah. Dunia dan teman-temannya sesama sosialita, kini memandang penuh cibiran. Hanya karena dia tak lebih dari sekadar peminta-minta. Yang tak pernah tahu besok harus makan apa. Mengandalkan belas kasihan sesama. Itu saja!

Dia duduk di kursi reot satu-satunya yang dia punya. Dia berdoa.

“ Tuhan ampunilah… Aku sungguh menyesal, Tuhan. Untuk semua kesombongan yang memabukkan. Yang membuatku lupa diri dan tinggal dalam kepongahan. Kusadari Tuhan, bahwa Engkau yang kuasa. Hanya Engkau. Semua milikku di dunia hanyalah sementara. Kecantikan, ketenaran, atau harta. Kesehatan, sahabat, dan keluarga… Mereka hanyalah titipan belaka. Aku menyesal, Tuhan…Maafkanlah diriku.”

Diusapnya perlahan tetesan air matanya. Kondisi tak punya apa-apa ini membuatnya sadar, bahwa selama ini dia sering takabur. Melupakan Tuhan dan sesama. Hanya mementingkan diri sendiri dan maunya senang saja. Semoga masih ada waktu untuk membenahi diri… Jangan sampai dia sombong sampai mati…

Tak ada lagi yang harus disombongkan.

Tiga hari sesudahnya, dia diketemukan meninggal dalam senyuman. Dia sudah berpulang dalam kedamaian. Tanpa uang dan harta, tanpa ketenaran atau nama, tanpa sahabat atau keluarga.

Di rumah reot di pinggir jalan itu, dia tersenyum bahagia. Sesal sudah berganti sukacita. Selamat tinggal derita dunia! Dia menuju persatuan yang abadi dengan Sang Pencipta untuk selamanya.

HCMC, 24 November 2011

-fonnyjodikin-

*cerita hanyalah fiktif belaka, bila ada kesamaan tentunya itu tidak disengaja. Semoga menjadi bahan pelajaran bagi kita semua, bahwa tak ada gunanya bersikap pongah apalagi sombong, karena semua milik kita hanya titipan-Nya… Hidup kita hendaknya untuk memuliakan nama-Nya.