Sunday, April 13, 2014

Ah, Aku Bahagia…

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali& Get discovered! 


Ah, Aku Bahagia…
Jakarta, Desember 2013.
Hujan. Deras.
Titik-titik air  yang turun membasahi bumi jumlahnya tak terhitung. Seolah menangis bersamaku di dalam kesepian mendalam yang kurasakan sungguh. Kesendirian kembali datang dan menyerang setiap sudut hatiku. Dan, dingin itu kembali menyergap, menyebar dari hati dan pikiranku lalu menjalari sekujur tubuhku. Suka atau tidak, aku harus menjalani kehidupan ini dan perlahan aku mulai belajar menerima rasa itu sebagai bagian hidupku.
Di apartemen bertipe studio di kawasan segitiga emas ini, aku membenamkan semua kesedihanku. Sambil memeluk bantal yang sudah dipenuhi air mataku, seketika kejadian itu menari-nari di kepalaku. Bermain satu-satu. Sebagai bagian dari episode kehidupanku. Episode yang ingin kulupakan. Episode yang kalau bisa ingin ku-delete untuk selamanya! Biar bagian-bagian itu tak lagi kembali dan menyakiti hatiku lagi seperti malam ini!
***
Jangan tanya padaku apa arti bahagia. Aku sudah lupa, walaupun dulu aku pernah mengecapnya. Tahun demi tahun berlalu... Dan, perihku? Tak pernah berkurang barang sedikit pun! Malah semakin dalam seiring berjalannya Sang Waktu.
Sejak kelahiran Devon yang seharusnya kami sambut dengan gembira, karena dia anak pertama yang sungguh kami nanti-nantikan...Namun, ternyata, kelahirannya lebih banyak membawa duka ketimbang ceria yang gegap gempita. Devon, anakku harus kembali kepada Sang Pencipta saat usianya baru satu bulan. Air mataku masih menetes ketika mengingat hal ini. Padahal kejadian ini sudah lama. Sudah sekitar enam tahun lamanya.
Susah payah kukandung dia… Dengan segala ‘morning sickness’, muntah bukan hanya di pagi hari, namun sepanjang hari. Dengan pendarahan yang selalu mengiringi dan membuatku was-was. Aku bahagia, ketika akhirnya dokter bilang bahwa sudah waktunya untuk bayi kami dilahirkan dan kami pilih operasi Caesar, mengingat kemacetan Jakarta yang sungguh sukar ditembus bila ingin melahirkan normal.
Aku sungguh bahagia. Reyhan, suamiku juga. Seolah kehadiran Devon melengkapi kebahagiaan kami. Namun, ternyata kenyataan pahit yang harus kami terima. Devon lahir dengan kelainan jantung. Dari saat ia membuka matanya di dunia ini, dia harus langsung berhadapan dengan ruang ICU, jarum suntik dan selang infus. Saat ibu lain berbahagia menyambut tangisan pertama bayinya dan kesempatan menyusui buah hatinya. Sementara aku? Harus puas dengan melongokkan kepalaku ke ruang ICU, sembari duduk di kursi roda yang didorong Rey, suamiku.
Seolah belum cukup hantaman kehidupan atas kami. Setelah harus menyaksikan itu semua, bukan kesembuhan yang didapat bayi kami. Malahan kedukaan yang mendalam yang harus kami alami. Devon harus pergi untuk selamanya.
Aku menjerit. Menangis. Meraung. Marah pada Tuhan. Mengapa tega? 
Pahit. Getir. Ya, sungguh pahit pil kehidupan yang harus kutelan saat itu. Dan, kegetiran itu masih tersisa sampai hari ini. Banyak. Teramat banyak.
Sempat depresi, aku harus menjalani kontrol ke psikiater. Sesuatu yang bakal kutertawakan di masa lalu. Namun, ternyata aku harus menerimanya juga. Masih untung aku tidak harus masuk Rumah Sakit Jiwa. Namun, seluruh kondisi yang ada membuatku ingin mengakhiri hidupku. Aku sungguh kecewa!!!
Keadaan ini bertambah runyam, saat Rey bukannya mendukungku melewati kegetiran ini. Malah dia pergi meninggalkanku.
Dan itu membuatku tak lagi kuasa bertahan. Aku collapse!  Dan, aku  harus masuk Rumah Sakit Jiwa!
***
“ Namamu siapa?” Tanya seorang pria berbaju putih di hadapanku. Wajah kebapakan yang ramah.  Aku tersenyum. Berusaha keras mengingat namaku.
“Rania. Eh, itu ‘kan nama Ratu, ya Pak?  Tapi, sepertinya namaku tak jauh-jauh dari situ.” Aku tertawa. Untuk sesuatu yang tidak terlalu lucu. Aku menertawakan kebodohanku. Tak lagi mengingat namaku sendiri.
Tetapi, tiba-tiba, ada sesuatu dari dalam hatiku, juga benakku yang mendorongku untuk berbicara dan mengucapkan namaku sekali lagi.
“Melania. Melania Sukmono. Ya, itu namaku, Pak!”
Pria itu, yang kemudian kuketahui sebagai dokter kejiwaan yang menanganiku tersenyum. Dokter Herman menyalamiku, “Selamat, Melania. Suatu awal yang baik sekali!”
Setelah itu, perlahan ingatanku mulai kembali. Satu per satu. Aku kembali menata kehidupanku yang , sebelumnya hancur berkeping-keping. Ya, aku percaya selalu ada kesempatan kedua. Tak peduli seberapa hancurnya kehidupanku di masa lalu, selalu akan ada titik balik, di mana aku mampu berdiri tegar sekali lagi. Setelah sekian lama terjatuh, terpuruk, kini saatnya untuk bangkit kembali.
***
The Bay Bali. April 2014.
Aku selalu suka mampir ke Bali.  Entah mengapa, seolah ada sesuatu yang menarikku lagi dan lagi untuk berkunjung ke Pulau Dewata ini. Kali ini aku kembali. Seorang diri.
Sampai hari ini, Rey, yang masih berstatus suamiku masih seolah hilang ditelan bumi. Entah di mana, entah ke mana, aku tak tahu. Dalam hatiku masih merindu. Kangen sekali akan dia. Namun, apa daya, inilah kenyataan yang harus kuhadapi. Aku harus menerima kesendirianku. Lagi.
Hidup pernah begitu menjatuhkanku sampai ke jurang yang terdalam. Episode Rumah Sakit Jiwa, tentunya bukan sesuatu yang membanggakan. Kusyukuri kenyataan bahwa setelah babakan penuh luka dan air mata terlewati-Devon dan kematiannya, juga kepergian Rey tanpa kabar berita- kini aku kembali berada di puncak karierku sebagai manajer pemasaran di sebuah majalah ‘parenting’ nomor satu di Indonesia. Aku berterima kasih sungguh kepada Yang Kuasa atas segala yang kembali bisa kunikmati saat ini. Hidup bisa menjungkir-balikkan kita, namun asalkan kita tak menyerah, kita bisa kembali menikmati keindahannya.
Di sela-sela kesibukanku, aku selalu menyempatkan diri ke Bali. Seperti kali ini. Aku mengambil cuti di hari Jumat.  Kupilih pesawat yang cukup pagi, lalu tiba di Bali sekitar tengah hari. Tepat jam makan siang aku sudah berada di kawasan yang selalu setia kukunjungi saat di sini. The Bay Bali. Makan siangku kuiisi dengan menu renyah dari Bebek Bengil bali. Bebek crispy-nya selalu bikin kangen untuk selalu datang lagi. Belum lagi sambalnya yang 'nendang'. Pedas. Rasanya puas dan selalu ingin mampir lagi. Seusai makan siang, aku berjalan menuju kawasan pantai tak jauh dari kawasan The Bay ini. Cuaca yang sedikit mendung dan berawan, membuatku bisa berjalan santai. Topiku melindungi wajahku. Aku tak suka panas menyengat itu membuat kulitku terbakar.
Di situ, di bawah pohon yang cukup teduh ada seorang lelaki sedang duduk. Yang kulihat hanya punggungnya. Sepertinya dia tengah menggoreskan pensilnya di atas kertas gambar. Sebuah sketsa?  Entahlah. Aku hanya menebak dari apa yang terlihat sementara. Kuhalau rasa ingin tahuku, lalu  perlahan beranjak pergi dari situ. Namun tanpa sengaja, sepatu hak tinggiku terantuk batu dan aku terjatuh. Spontan aku berteriak, “Aduhhhh!”
Lelaki itu bergegas meletakkan kertas gambarnya, lalu berbalik menuju ke arahku. Dia ingin menolongku. Namun, kami jadi membisu seketika. Dia-Reyhan, suamiku! Kututup mulutku dengan tanganku, sungguh terkejut aku!
Rey masih memelukku. Aku tak lagi bisa bicara. Aku tak kuasa.
Rey tersenyum, namun di sudut matanya ada air mata.
“Maafkan aku, Mel, aku terlalu pengecut. Aku bukan suami serta ayah yang baik.”
Kami saling berpelukan. Ketika waktu dan kesempatan kembali mempertemukan kami dengan suasana di luar dugaan, sungguh kami tak kuasa. Di situ, Rey mulai bercerita tentang kepergiannya mendadak setelah melunasi pembayaran uang Rumah Sakit anak kami, Devon. Dia lalu keluar RS dengan suasana hati yang kacau. Dia mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, lalu kecelakaan naas itu telah membuatnya tak sadarkan diri selama satu bulan. Setelah tersadar, dia baru tahu bahwa dia harus kehilangan satu kakinya. Kini dia memakai kaki palsu.
Butuh keberanian untuk bangkit kembali dari keterpurukan, dari segala yang telah dialaminya, dan kembali tegar. Waktu mendewasakan dia. Juga aku. Aku tidak marah, apalagi sakit hati. Aku bisa mengerti apa yang dia alami. Dan, kekuatan cinta kembali menyatukan kami merajut hari-hari. Dia masih tinggal di Jakarta. Hanya enam bulan belakangan ini, dia yang seorang desainer interior mendapat tugas untuk merancang sebuah restoran di Bali. Rey sering ke The Bay untuk mencari inspirasi.
Akhir dari penantianku berbuah manis. Walaupun menjalaninya sempat membuat emosiku naik-turun, namun akhirnya bahagia itu kembali datang dan menyapa dengan senyum dan kerling manja.
What should I say? I’m so happy…
Bumbu Nusantara - The Bay Bali. Desember 2014.
Banyak yang terjadi dalam delapan bulan terakhir ini. Semuanya dalam nada-nada bahagia yang begitu menyentakkan jiwa. Rey kembali melamarku setelah kami menghabiskan waktu bak sepasang anak muda yang kembali kasmaran. Rajutan tali kasih yang tercipta sungguh indah dan begitu menghanyutkan. Rey memberikanku cincin peneguhan cinta, karena kami tak pernah sungguh bercerai atau berpisah. Cincin itu membawa kami semakin dalam menyayangi satu sama lain. Menyadari hidup bisa menyajikan banyak kejutan-beberapa di antaranya menyenangkan, beberapa di antaranya membawamu sungguh ke bagian terjal kehidupan. Namun, dengan berpegang pada iman, percaya pada kesempatan kedua, kami kembali dipersatukan setelah mengalami kejadian-kejadian yang memilukan.
Di Restoran Bumbu Nusantara ini, kami kembali mengukuhkan janji pernikahan kami. Seolah ini merupakan perayaan pernikahan yang pertama saja, kami mengundang sekitar 150 orang. Bumbu Nusantara disulap dengan warna dominan putih dan ungu. Putih kesukaan Rey, ungu kesukaanku.
Makanan khas Indonesia tersaji rapi, memuaskan para undangan. Setelah pesta yang meriah dan berlangsung sukses ini, kami pindah ke Bali mulai tahun 2015 mendatang karena Rey secara permanen akan mendisain banyak restoran di Bali dari perusahaan yang puas akan pekerjaannya. Lalu, aku pun mendapatkan transfer dari perusahaan tempatku bekerja. Aku masih bisa melanjutkan pekerjaan pemasaranku di kantor cabang Bali yang semakin hari semakin berkibar saja.
***
Kucubit tangank sendiri. Ini bukan mimpi. Bahagia kembali mengisi hari-hari kami. Setelah episode kecewa, episode bahagia mulai mengetuk pintu keluarga kami. Kami masih sangat sering menghabiskan waktu makan malam di The Bay. Untuk mengenang kembali pertemuan kami di situ dan merayakan cinta yang kembali datang mengisi relung-relung hati kami yang terdalam.
Hujan kembali turun. Kini aku dalam pelukan Reyhan di Bali. Aku tak bisa berkata-kata lagi. Hanya menikmati rasa ini. Ah, aku bahagia…:)
The End.
Singapore, 13 April 2014.
@copyright Fonny Jodikin


Tuesday, March 25, 2014

A Pleasant Journey

Berapa banyak dari kita bisa menikmati hidup ini?
Kalau tidak sedang iri atau 'sebel' mungkin bisa.
Belum lagi kalau lagi be-te, lagi 'nggak mood'...
Well, buat merasa senang atau bersyukur, pastilah menjadi sebuah tantangan tersendiri...

Untuk mengeluh, 'complain', atau berpikir negatif, kita agaknya tidak perlu belajar.
Seolah udah dari 'sono-nya', sudah bawaan orok hehehe...
Tapi sebaliknya, untuk bersyukur, berterima kasih, berusaha berpikir jernih dan positif, agaknya perlu pembelajaran tanpa henti. Most probably, seumur hidup.
Hah? Yang bener?
Iya, coy... Seumur hidup:)

Pas imlek kemarenan ini, saya sempat beli kaos yang tulisannya 'ENJOY'.
Dipikir-pikir, benar juga, as much as I could, I want to enjoy this life...
Susah, gak?
Yah, gak gampang...
Banyak yang bisa dikeluhkan...
Mulai dari cuaca, kelelahan yang berkepanjangan, gaji yang tidak naik-naik, harga yang tambah membumbung tinggi, dan sebagainya, dan seterusnya...
Masalah pribadi yang tak kunjung kelar, malah tambah hari tambah parah...
Seolah semuanya itu 'mencuri' kedamaian di hati kita...

Tapi, sisi lain di hati saya mengingatkan, bahwa bukan cuma saya yang punya pergumulan atawa masalah.
Bahkan, banyak orang yang tengah menghadapi masalah yang lebih berat daripada saya.
Ada yang harus menghadapi penyakit yang berat, ada yang harus menghadapi anak yang khusus karena mereka berbeda dari anak-anak normal, ada yang harus menghadapi kehilangan sanak keluarga di kejadian Malaysian Airlines MH370 yang sudah dikonfirmasi jatuh di Indian Ocean...
(deepest condolences to all the victims and families... May God's consolation give them strength to move on in this life..)

Ada bagian dari buku Max Lucado yang berjudul You'll Get Through This yang benar-benar menyentil saya...
Alkisah, ada seorang pilot 'fighter plane' asal Amerika Serikat yang tertangkap dan harus masuk penjara di Vietnam di akhir tahun 1965.
Howard Rutledge, Sang Pilot itu, menceritakan betapa dia merasa kesepian di penjara.
Saat dia harus berhadapan dengan tikus dan bau kotoran manusia di penjara itu...
Di situ dia mulai menemukan arti hidup...
During these long periods of enforced reflections, it became so much easier to separate the important from he trivial, the worth-while from the waste... (halaman 54).

Dalam refleksi yang dipaksakan itu... 
Dia merasa begitu mudah untuk memilah dan memisahkan mana yang penting, mana yang 'ecek-ecek'...
Kita mungkin belum pernah menghadapi kejadian semacam itu...
Kita belum pernah terpaksa dipenjara, tanpa tahu harus berbuat apa...
Tetapi, setidaknya, saat saya membaca tulisan Howard yang dikutip Max Lucado itu, membuat saya berpikir...
Saya terkadang tak mampu membedakan mana yang penting, mana yang tidak...

Banyak dari kita menjalani hidup dengan dendam atau luka...
Saya terluka, jadi saya harus melukai kamu, biar kamu tahu rasa!!!
Tetapi, masalahnya, akankah persoalan kelar begitu saja dengan balas-membalas sedemikian rupa?
Ini bukan film Kungfu zaman dulu yang para muridnya senantiasa membalas kematian ayahnya atau gurunya yang dibunuh musuhnya...


If life is a journey, why don't we make it a pleasant one?
Hidup tokh harus dijalani...
Dan bagaimana kita menjalani hidup ini, will be all that matters...
Kalau saya terluka dan menyebarkan luka itu anggaplah kepada suami dan anak-anak saya, bagaimana nasib mereka dalam kehidupan sehari-hari bersama saya?
Saya nggak bilang saya sempurna...
Saya mah, jujurnya, sangat jauhhhhh dari itu...
Tapi, rasanya gak ada salahnya 'kan, buat menjalani hidup dengan sukacita.
Enjoy this life dengan segala lika-likunya...
Make it a pleasant journey, karena saya sudah dikasih banyak kebaikan sama yang di atas...

So, ketika suatu hari saya lagi nggak mood...
lagi be-te, lagi marah, lagi capek, lagi kecewa....
kembali saya datang kepada-Nya...
dalam doa...
Mohon bimbingan-Nya, agar sedapat mungkin menjadikan hidup ini sebagai a pleasant journey bagi saya dan sekitar saya...
Bukan karena saya jago, hebat atau luar biasa...
Namun, karena Tuhan memberi kekuatan untuk itu...

Semoga kasih-Nya mengaliri hati kita semua...
Semoga damai-Nya membanjiri setiap diri kita...
Semoga perjalanan hidup ini, apa pun yang terjadi, tetap bisa kita nikmati...
Sekali lagi, bukan karena kuat kuasa kita...
Melainkan karena Tuhan yang sudah begitu baik bagi kita...

25.03.2014
fon@sg


Wednesday, March 19, 2014

Kunanti-nantikan Engkau

Dalam penantian
Diombang-ambing ketidakpastian
Begitu mudah aku tergoda
Untuk berpaling dari jalan-Nya

Menunggu memang menjemukan
Membuat aku terkadang tak tahan
Untuk tetap percaya
Bahwa yang terbaik adalah rencana-Nya

Tetapi Tuhan, kumau berusaha
Untuk tetap setia
Mengikuti jalan-Mu
Agar rencana-Mu yang jadi dalam hidupku

dan selama aku menunggu...
kumohon bimbingan-Mu...
agar aku memanfaatkan setiap waktu...
dengan banyak hal yang berguna selalu...

bukan hanya duduk termangu...
melamunkan yang tak perlu...
Tuhanku...
kuatkanlah aku...

fon@sg
19.03.2014

Friday, February 28, 2014

Aku Merindukan Pagi




Aku merindukan pagi...
Saat kulihat wajahmu terbaring di sisiku...
Saat senyum yang tersungging di bibirmu menyambut pagiku...
Sungguh, aku merindukan pagi yang indah semacam itu...

Aku merindukan pagi...
Saat aku bisa membelai anak-anak rambut yang jatuh di dahimu...
Saat kepolosanmu begitu menggemaskan diriku...
Saat kusadari (lagi) bahwa atas anugerah-Nya, kau hadir di hidupku...

Aku merindukan pagi...
Yang damainya membawa kehangatan di hati...
Yang membuat setiap sudut di rongganya diliputi...
Rasa syukur yang menaungi...

Aku merindukan pagi...
Yang dipenuhi senyuman setulus hati...
Riang canda yang mengiringi...
Kesederhanaan yang bernilai teramat tinggi...

Aku merindukan pagi...
Saat aku sadari...
Betapa berharganya detik yang bergulir di tiap hari...
Dan semoga setiap momen kebersamaan ini, selalu kita syukuri...

Aku merindukan pagi...
Seperti pagi ini...
Saat kuterjaga dan berbisik lembut di telingamu...
" Selamat pagi, cintaku..."

01.03.2014
fon@sg

Catatan Akhir Februari

menapaki hari-hari...
jalani dengan sepenuh hati...
rasanya baru kemarin memasuki Januari..
kini sudah di hari terakhir di bulan Februari...
kehidupan seolah berlari...
cepat sekali...

namun, biarkan aku nikmati...
hari ini...
detik ini...
dan bersyukur untuk setiap detik yang masih Kauberi...
Maret, April, dan bulan-bulan ke depan nanti...
Akan kusambut dan kujalani...
Bersama Sang Maha Kasih Sejati...


28.02.2014
fon@sg

Wednesday, February 19, 2014

Telak

Pernah kalah telak?
Pernahkah juga menang mutlak?
Tetapi, hidup bukanlah melulu soal kalah-menang.
Bukan pula juga selalu soal susah atau senang...

Kekalahan telak mengajarkan kita untuk rendah hati...
Kembali refleksi pribadi...
Juga menilik kembali ke kedalaman hati...
Apa yang salah dalam langkahku ini?

Kemenangan mutlak terkadang membuat lupa diri
Kesombongan menjadi-jadi...
Lalu, lupa akan Sang Penguasa Abadi...
Terlalu yakin akan kemampuan diri...

Kalah telak membuat kita tersungkur...
Semoga masih tetap bisa bersyukur...
Karena Tuhan tak pernah tidur...
Walaupun hidup kita terasa begitu amburadul...

Ketika hidup terasa membuatmu 'knock out' telak.
Jauhkan diri dari sombong dan congkak...
Berusaha bangkit bersama Tuhan walau pernah tercampak
Yakinlah, suatu saat sayap yang patah ini akan kembali terkepak.

19 Feb 2014
fon@sg

Monday, February 10, 2014

Di Sini, Kukagumi...

Sempurna di mataku, Tuhan...
Segala hasil karya keagungan-Mu
Laut-Mu
Pantai-Mu
Langit-Mu
Awan-Mu
tak ada yang bisa melukiskannya seindah Engkau...

di sini...
kukagumi...
segala keindahan alam ini...

Bali, akhir November 2013.
-fon-