Monday, December 17, 2012

Suatu Kisah dari Negeri Dar Der Dor…




Di Negeri Dar Der Dor setiap orang boleh punya senjata tajam bahkan senapan.
Itu dikarenakan peraturan di masa silam yang memperbolehkannya demi melindungi kepentingan manusianya.
Tetapi, ketika senjata dipegang oleh tangan-tangan yang hatinya tergoda untuk membalas dendam, mereka yang tertekan lalu mendadak seolah mendapatkan kekuatan dari pamer senjata atau mereka yang menjadi lupa diri tujuan awal mula mengapa senjata diperbolehkan, akhirnya begitu banyak korban berjatuhan.

Penembakan itu bisa terjadi di mana saja dan kapan saja.
Bisa di sekolah, di pusat perbelanjaan, di Universitas, bahkan di bioskop sekalipun.
Dan ketika dar der dor yang jadi pilihan, seringkali banyak korban berjatuhan.
Anak kecil yang tak bersalah bahkan tak tahu apa-apa, sering juga jadi korban.
Menyedihkan? Memang.
Menyesakkan? Banget!

Entah tindakan berani-beranian karena sering dikatai pengecut dan pecundang.
Entah karena stres di pelbagai bidang kehidupan…
Entah karena kebencian yang mendadak merajai diri tanpa bisa dikendalikan…
Entah apa pun penyebab keinginan yang mengundang…
Di Negeri Dar Der Dor, korban-korban kembali berjatuhan.

***

Hari itu dia membawa senjata untuk melakukan ‘dar der dor’ di sebuah pusat perbelanjaan.
Kekesalan sudah pada puncaknya dan tak tahu lagi bagaimana harus dilampiaskan.
Awalnya hanya untuk sekadar gagah-gagahan.
Akhirnya senjata jadi juga ditembakkan.
Dia tertawa puas, tak lama kemudian terkulai lemas lalu jatuh pingsan.
Istri dan anaknya yang tengah liburan…
Juga ada di mal sedang jalan-jalan.
Mereka pun jadi korban.

Dan…
Hari-hari selanjutnya berisi tangisan.
Sekaligus penyesalan.
Dia harus meringkuk di penjara sepanjang sisa kehidupan.

17 Desember 2012
fon@sg
* sebagai reaksi atas berita ‘dar der dor’ di sebuah negeri yang kembali mendominasi akhir-akhir ini.
Kasihanilah anak-anak kecil dan para korban, ya Tuhan.
Begitu banyak yang masih menjadi pertanyaan,
tetapi biarlah waktu dan Engkau yang memberikan jawaban.


Wednesday, December 12, 2012

12.12.12




Mumpung hari belum berlalu...
bukan aku mau meniru
status Fesbuk teman-temanku
tetapi hanya ingin kucatat sesuatu
di penghujung hariku

hari yang khusus ini
hanya terjadi sekali
dua belas tiga kali
pernah diramalkan kiamat akan terjadi
nyatanya sampai detik ini
bumi dan segala isinya
masih terus berjalan sebagaimana adanya

triple dua belas hari ini
tetap terjadi
karena Yang Kuasa menghendaki
tak peduli ramalan kanan-kiri
kupercaya hanya kepada Yang Maha Tinggi

triple dua belas hari ini
atau hari-hari di masa depan nanti
akan jadi lebih berarti
jika kita selalu kembali
mencari wajah-Nya dan mengikuti
jalan-Nya yang sejati

12.12.12
fon@sg

Tuesday, December 4, 2012

Sebuah Awal yang Baru




"... Dan ketika gumpalan kelelahan demi kelelahan semakin menggunung...
Dalam hati, dalam diri dan pikiran...
Yang ada hanyalah kemarahan.
Kemudian berujung pada: penyesalan."

Kelelahan demi kelelahan awalnya kuanggap biasa.
Tak punya waktu untuk bertegur sapa dengan diriku sendiri, juga kuanggap akan mampu kulalui dengan mudah.
Tetapi ternyata, efeknya jauh lebih besar dari yang kukira.
Sesuatu yang kuanggap biasa dan mudah itu berbalik menjadi sesuatu yang tidak biasa dan ternyata sukar dikendalikan.
Emosi negatif pun bermunculan...
Untuk kemudian membangun dinding kemarahan karena merasa tak dimengerti oleh siapa pun juga.

Mungkin sedikit terlambat kusadari hal ini.
Ketika bos di perusahaanku menaikkan gaji sekaligus memberikan promosi jabatan bagiku, kupikir yang ada hanyalah kebahagiaan.
Uang yang lebih banyak, posisi yang lebih baik, siapa juga yang bisa menolak? Namun ternyata diriku tidak siap dengan segenap perubahan ini.
Banyak uang, banyak meeting, dilanjutkan dengan berkurangnya waktu dengan keluarga tercinta.
Suami protes, anak menangis, aku tak jua mengerti.
Kupikir, kulakukan semuanya ini hanya demi mereka.
Koq mereka bukannya gembira, malahan marah-marah?

Pagi itu kembali aku berhadapan dengan keluargaku yang tengah mengeluh, betapa aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku.
Tekanan bos agar aku terus berkarya dengan prima membuatku mudah marah. berteriak, dan tak peduli perasaan orang.
Termasuk perasaan keluargaku.
Kubanting piring sarapanku hari itu, "Ini semua demi kalian, tahu!"
Aku kehilangan selera makanku.
Lalu bergegas menenggelamkan diriku dalam kesibukan kerjaku.

***

Hari itu bosku ditangkap pihak kepolisian karena dugaan kasus penggelapan uang perusahaan.
Dan aku yang banyak menandatangani berkas-berkas surat penting karena kenaikan jabatanku, membuat aku pun terkena getahnya.
Kini kutahu alasannya mengapa bos menaikkan gaji dan jabatanku.
Pembelaan diriku terasa pahit.
Segalanya demi pekerjaan dan karier?
Ah, aku merasa tertipu…

Penyesalan selalu datang terlambat.
Anak-anak menangis dan suamiku memelukku.
Merekalah yang tetap bersama-sama dengan aku.
Mereka tidak meninggalkanku…

Persidangan demi persidangan kulalui…
Sampai akhirnya terkuak juga bahwa bosku memang ahli memanipulasi.
Aku dinyatakan tidak bersalah.
Kami sekeluarga berteriak lega dan gembira.
“ Terima kasih, Tuhan untuk ini semua.”

Kupeluk mereka. Keluargaku tercinta.
Dalam hati kubersyukur kepada-Nya.
Masih diberi kesempatan untuk menghirup udara bebas
dan menghabiskan waktu bersama mereka.
Kuhapus air mata. Kali ini tangisan bahagia.
Kupeluk mereka.
“ Maafkan, Mama!”
Mereka menyambutku dengan pelukan erat nan mesra.

“ Penyesalan itu membuahkan kesadaran,
diiringi pelajaran yang teramat mahal dan berharga.
Uang memang penting, tapi bukan segalanya.
 Tak hendak aku meninggalkan mereka (baca:keluargaku)
demi apa pun juga.
Terima kasih, Tuhan untuk berkat-Mu yang tak terhingga. Keluarga kecintaan yang begitu setia…
Kini aku bersiap untuk memulai awal yang baru
Bersama mereka dalam tangan kasih-Mu.”

3 Desember 2012
fon@sg


Tuesday, November 27, 2012

Rasa Ini




Ketika ketenangan yang mendominasi...
Kekuatiran pun bisa terkendali...
Hati sungguh dalam keadaan damai sejati...
tak terpengaruh keadaan yang terjadi di sana atau sini

aku tahu karena Engkau
aku bisa alami rasa ini
selalu buatku terpukau
dengan seluruh hadirat-Mu yang mendamaikan hati

terima kasih, Tuhan untuk rasa ini...
selalu indah ketika kutahu bahwa kasih-Mu selalu mengiringi
apa pun rasa yang tengah kualami
kusadari, kebaikan-Mu akan ada dan tak pernah pergi...

kupersembahkan rasa ini
dan rasa lain yang mungkin singgah di hati
esok atau hari ini...
juga di masa depan nanti...

kutahu, Engkau lebih dari sekadar perasaan
juga jauh melampaui pikiran
Engkaulah Sang Jalan yang selalu memampukan
kami melangkah dalam roda kehidupan

syukur dan terima kasih kupanjatkan
hanya kepada-Mu, oh Tuhan :)

November 2012
fon@sg

Thursday, November 8, 2012

The Battle



The Battle

pertempuran itu tak selalu harus bersama orang lain
juga tak harus karena orang lain
mungkin ya, orang lain berbuat kesalahan yang tak termaafkan...
tetapi bukankah kita bisa memilih bagaimana reaksi kita?

tak jarang, pertempuran sesungguhnya terjadi di dalam.
dalam diri, dalam hati, dalam pikiran
bagaimana bisa berdamai dengan sesama
apalagi memikirkan perdamaian dunia,
jika damai di diri saja masih begitu sulit dicari?

There is no greater challenge in life than the battle within yourself.
- Unknown

Sungguh benar kata pepatah…
Tak ada tantangan yang lebih besar di hidup ini, dibandingkan dengan peperangan (pertempuran) di dalam diri sendiri…

So, dear friends…
hari ini, berdamailah dengan diri.
ampuni kesalahan atau kegagalan
juga kebodohan di masa silam
kenali diri sesungguhnya, adakah kemarahan terpendam?
dendam yang tak berkesudahan?
luka parah yang menganga lebar?

Tuhan, ini kami serahkan semuanya…
Bagian-bagian dari kamar hati
Yang terkadang tak lagi kami kenali
Karena sudah tertimbun rapi
Dengan pembenaran diri…

Ini semua kami serahkan kepada-Mu, Tuhan…
Biarlah urusan pembenahan hati
Kami niati dengan sepenuh hati
Dan dengan campur tangan-Mu, kami percaya…
Akan ada damai sejati yang senantiasa dinanti…

08.11.2012
fon@sg


Sunday, October 21, 2012

Tegar di dalam-Mu


kesusahan mungkin melanda
kekecewaan pun menyapa
harapan yang hancur
hati yang terluka
apa pun yang terjadi
kutahu Engkau selalu menyertai

naik-turunnya kehidupan
kuanggap suatu hal yang biasa
tak pernah dibilang mudah
untuk dijalani dan dilalui
tetapi di dalam-Mu kupercaya
kekuatan baru akan selalu ada

ajar dan bimbing diriku
untuk selalu tegar di dalam-Mu
segala persoalan dan tantangan hidup
kupercaya akan mampu kuhadapi
selama nafas ini masih ada
padamu Tuhan kuserahkan segalanya

fon@sg
20.10.2012

Wednesday, October 10, 2012

Suatu Hari, Ketika...



Suatu hari, ketika aku sudah begitu lelah berbuat baik.
Dan dorongan untuk berbuat jahat sudah begitu memuncak…
Kucoba tenangkan diri. Jernihkan pikiran.
Serahkan segalanya ke dalam tangan-Mu…
Ah, kusadari, lagi-lagi aku yang keliru…
Tak pantas aku lari dari kasih-Mu dan tak lagi jadi kebanggaan-Mu…
Jangan sampai aku keluar dari rel-Mu.
Tuhan, ingatkan aku…

Suatu hari, ketika aku sudah capek bertindak tulus.
Sementara banyak orang berakal bulus memanfaatkanku demi fulus (baca:uang).
Tak hendak aku juga ikut arus.
Biarlah aku berhenti sejenak, beristirahat barang sebentar saja.
Lalu menjalankan tulusku yang kudapati dari-Mu.
Kekuatan-Mu membantuku hadapi semuanya itu.
Dan kupercaya akan Kauberikan pula kemampuan untuk tak hanya tulus tetapi cerdik sekaligus.

Suatu hari, ketika aku begitu kecewa akan segala usaha yang telah kulakukan tak membuahkan hasil.
Bahkan kenyataan yang ada semakin meruntuhkan kebanggaan diriku yang pernah ada.
Aku kembali kepada-Mu.
Aku bukan seorang pemalas. Aku selalu berusaha.
Dan semoga suatu saat ‘kan kuraih impian-impian itu bersama-Mu.
Mungkin tak selalu sama dengan apa yang ada di kepalaku.
Tetapi kupercaya bahwa Engkau tahu yang terbaik bagiku.

Suatu hari ketika aku begitu kelelahan dengan hidupku.
Kekecewaan beruntun yang begitu jauh dari harapanku.
Bahkan ada keinginan untuk pergi dari dunia ini…
Ya, Tuhan…
Mohonkan kekuatan bagi setiap hati yang pernah merasakan hal ini, bahwa hidup selalu punya sisi lain yang berwarna-warni.
Bukan sekelam yang terlihat saat ini.
Izinkan kami kembali percaya di dalam iman.
Masih ada pelangi menanti di esok hari.

Suatu hari ketika aku begitu muak akan kepalsuan dan kemunafikan di sekitarku.
Juga fitnahan dan prasangka buruk di sekelilingku.
Kuatkan aku hadapi semua itu, Tuhan.
Kusadari suatu hari semua akan berlalu.
Asal aku tetap jujur di dalam-Mu.
Dan jauhkan aku dari tindakan semacam itu.
Aku ingin tetap mengikuti jejak-Mu.

Suatu hari, ketika aku begitu bosan dengan orang-orang sekitarku yang terus menyakitiku.
Aku kembali pada-Mu, serahkan semua rasa sakit hatiku.
Kutahu hanya dari-Mu kutemukan kekuatan dan pengampunan.
Aku pun tak sempurna. Aku pun bisa menyakiti hati sesamaku.
Siapakah aku ini, Tuhan?
Aku pun seorang pendosa sama seperti mereka.
Penghakiman mutlak hanya milik-Mu.

Suatu hari ketika ada dorongan untuk selalu melakukan pembenaran diri. Tuhan, ajar aku bertanggung jawab atas tindakanku.
Aku bisa salah, teramat mungkin malah!
Tetapi tindakan lari dari kesalahan, mencari kambing hitam, lalu kemudian membenarkan diriku sendiri bukanlah hal yang mulia.
Ajar aku bertanggung jawab dan berani mengakui kesalahan, untuk kemudian berusaha memperbaikinya di lain waktu.

Izinkan aku kembali sadari, Tuhan…
Bersama-Mu, setiap hariku adalah baik dalam rencana-Mu.
Tak sedetik pun Kautinggalkan anak-anak-Mu…
Engkau selalu bersamaku…
Setiap hariku, Kutahu Kau ada di situ…

10.10.2012
fon@sg