Thursday, May 2, 2013

At the Supermarket




Story #01- sekitar sebulan yang lalu

Seorang ibu lanjut usia. Sekitar umur 70-an.
Ingin membeli susu fermentasi merek ‘Y’ yang cukup ternama .
Dia membawa dua bungkus minuman itu dan melangkah ke kasir.
Dia berada tepat di depan saya.
Kasir yang kenal dengan dirinya mengingatkan…
Kalau harga minuman itu baru saja naik.
Kenaikannya 20 sen dollar Singapura.
Sang Ibu mengurangi pembeliannya.
Menggantinya jadi sebungkus saja.
Agaknya, jumlah yang setara dengan seribu lima ratus rupiah itu…
Cukup berat baginya…

Story #02- sekitar seminggu yang lalu

Seorang pekerja konstruksi –entah asal India atau Pakistan-yang masih dalam pakaian kerja…
Dengan wajah yang kelihatan sungguh lelah…
Buru-buru meninggalkan kasir di Supermarket dan masuk kembali ke dalam…
Saya yang berdiri di belakangnya harus menunggu…
Ujar kasir tempat saya mengantri dalam Bahasa Mandarin,
“Uangnya tak cukup. Jadi, dia harus mengganti barang yang mau dia beli.”
Dia lalu kembali.
Dengan keletihan yang sama. Dengan wajah berdebu seusai kerja.
Menenteng sebungkus telur ayam.
Dan segera membayar di kasir.
Sambil setengah termenung saat memberikan uangnya…
Mungkin itu yang masih tersisa…
Di sakunya…

***
Di Negeri Singa yang dikira begitu megahnya oleh banyak orang…
Juga memiliki realita yang menggugah…
Yang tak seindah gambaran yang ada di setiap kepala…
Hidup di sini tak selalu identik dengan Orchard Road
Atau Vivo City Mall
Atau Marina Bay Sands
Masih banyak juga yang menjerit di tengah kenaikan harga…
Yang juga harus sungguh menghitung pengeluarannya…
Seperti Sang Pekerja…
Yang harus ‘survive’, sementara harus pula memikirkan keluarganya…
Yang tinggal di negeri asalnya…

Juga di negeri tercinta, Indonesia
Masih begitu banyak yang menderita…
Yang menangis sedih tak tahu harus lakukan apa…
Yang tak bisa sekolah, tak punya rumah, tak bisa makan setiap harinya…
Dan di belahan dunia, di mana saja…
Kemiskinan masih meraja-lela…

***

Jika hari ini kita masih diberi kecukupan oleh-Nya…
Bukankah akan lebih indah, jika kita bisa berbagi kepada sesama?
Terlalu sering kita hanya pikirkan diri sendiri saja…
Yang penting saya aman, saya kenyang, saya kaya…
Bagaimana dengan nasib mereka?
“Ah, mereka ‘kan bukan urusan saya!”
Mungkin itu jawaban kita…

Namun, saya berdoa…
Semoga kasih Tuhan melingkupi hati kita…
Sehingga Dia bisa menggerakkan kita…
Untuk mengasihi dan berbagi jika kita berpunya…

Saya pun berdoa bagi mereka yang menderita…
Semoga tak kurang asa…
Harapan masih tersimpan di dada…
Meski nyala itu begitu kecilnya…
Bahwa Tuhan tak pernah tertidur dan senantiasa…
Dia punya mata yang melihat kepada ciptaan-Nya…

3 Mei 2013
fon@sg

Friday, April 26, 2013

Di Balik Duka…



Tiga berita duka dalam putaran waktu satu setengah hari.
Hmmm, sungguh bukan hal yang mudah untuk dihadapi.
Kemarin pagi, melalui SMS, kakak saya di Jakarta memberitakan kalau besannya meninggal dunia karena kanker pankreas.
Lalu, status Facebook beberapa teman dan juga melalui detik.com dan kompas.com, saya pun membaca kabar meninggalnya Ustadz Jeffry, UJe yang gaul dan disukai banyak orang di usia ke-40.
Dan mendapat berita di sore harinya, kalau teman SMP saya yang akrab dipanggil Katrin berada dalam keadaan kritis setelah berjuang dengan kanker rahimnya.
Pagi ini sekitar pukul 5.30 saat saya selesai membuatkan susu untuk anak kami, saya melihat berita ini: Katrin sudah berpulang semalam kembali ke pangkuan-Nya.

Perasaan campur-aduk melanda saya.
Kembali menyadari bahwa hidup itu begitu tak bisa ditebak, singkat, dan amat sementara.
Apa yang kita miliki hari ini sebagai titipan-Nya, hendaknya kita hargai sepenuhnya.
Karena mungkin esok ia bukanlah lagi milik kita.
Saat kita suatu saat-suka/tidak suka-harus kembali ke rumah abadi-Nya.

Di balik duka, tersimpan juga harapan…
Bahwa bersama Tuhan, kita akan menuju keabadian…
Bersama Dia, kematian yang seringnya menjadi momok bagi banyak orang, menjadi hal yang manis-karena merupakan ’a sweet reunion’ dengan Sang Pencipta.

Tentunya, melepas kepergian orang-orang yang dikenal, yang dekat di hati, yang menjadi bagian hidup kita bukanlah hal yang mudah…
Tetapi, saya belajar untuk berjalan. Melangkah di dalam iman.
Percaya bahwa Tuhan akan temani sepanjang perjalanan hidup kita­, termasuk proses menuju keabadian bersama-Nya.

Di balik duka, saya pun belajar…
Untuk menghargai hari ini…
Untuk lebih banyak mengasihi dan mengampuni…
Kurangi benci dan dendam di hati…
Karena jika harus pergi dengan segala beban itu, bukankah sedih sekali?

Biar damai menyelimuti hati…
Biar kasih merajai…
Dan mensyukuri setiap hari…
Yang masih diizinkan-Nya untuk kita nikmati…

Saya berjanji pada diri…
Mengurangi amarah dan memperbanyak senyuman tulus murni…
Yang berasal dari hati…
Lewati setiap waktu yang berharga dengan mereka yang saya cintai…
Hidup hanya sekali…
Buat apa saya terbebani?

Selamat jalan, Katrin.
Juga selamat jalan UJe dan kerabat kakak saya…
Saya percaya, tugas kalian di dunia sudah selesai…
Dan ini saatnya, this is the one sweet day, ketika harus bertemu kembali dengan Yang Kuasa…
Perpisahan dengan Yang Terkasih memang menyedihkan…
Tetapi, dengan adanya harapan dan iman…
Semoga di balik duka, tetap tersimpan ketabahan dan kekuatan…

27.04.2013
fon@sg
* in silent moment of me… God, only You can understand how I feel at this moment



Tuesday, April 23, 2013

Au Revoir BB!




Saying good bye is never easy, how about ‘till we meet again?
(lebay dot com, wong cuman Blackberry ajaaaa xixixi…)

Akhirnya, sekitar sebulan yang lalu saya harus mengucap kata pisah dengan Blackberry (BB) saya.
BB yang sudah menemani saya dari Ho Chi Minh City (HCMC) dan sempat pula mengisi hari-hari saya di Singapura.
Jujur, ada rasa kehilangan.
Ada pula rasa kangen dengan group-group bermutu yang saya ikuti yang mengirimkan pesan-pesan inspiratif ataupun religius yang begitu indah…
For sure, I’m gonna miss them…

BB ini dibawa oleh adik saya dari Jakarta saat berkunjung ke HCMC sekitar Oktober 2010.
Sebelumnya? Saya agak sedikit kuatir dengan istilah BB mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Saya tidak mau adanya BB membuat saya terserap betul kepada gadget ini lalu melupakan waktu-waktu yang berharga yang seharusnya saya nikmati bersama keluarga dan anak-anak saya.
Juga bersama sahabat-sahabat yang dekat di hati…
Tetapi, akhirnya saya harus mengakui, hal itu tidak terbukti…
BB malahan menjadi sesuatu yang baik pengaruhnya bagi saya, karena dia memang mendekatkan yang jauh, dengan sahabat, kerabat di Indonesia
Dan juga mendekatkan yang dekat karena BB menjadi pilihan komunikasi juga saat suami saya harus bertugas ke luar kota.
BBM (Blackberry Messenger) menjadi alat yang ampuh juga buat pengobat rindu…
Rindu keluarga, rindu kampung halaman…

Lalu, mengapa saya (akhirnya) memilih putus hubungan sementara dengan BB untuk batas waktu yang tidak ditentukan?
Di HCMC, Singapura, atau banyak negara di belahan dunia lainnya, BB kurang lazim dipakai. Di sini lebih banyak pengguna Samsung atau iPhone… Jadi, untuk berlangganan BB harga akan lebih mahal ketimbang dua merek lainnya. Harga per bulan ‘data plan’ harus ditambah lagi ‘extra charge’ karena BB tidak ‘compatible’ dengan sistem mereka…

Sekarang, sebagai pengguna merek lainnya….
Saya menikmati apps world dan playstore yang luar biasa menarik saat browsing, tetapi saya merindukan ‘keypad’ blackberry yang enak buat mengetik…
Dan alasan penggantian juga salah satu karena ‘keypad’ BB saya yang terdahulu itu, yang rontok satu per satu dan menyulitkan saya mengetik… Juga mendadak batere ‘off’ dan raibnya data seluruh kontak saya di BB membuat saya juga kesulitan dengan pemakaian BB ini…
Sedangkan beberapa bulan sebelumnya kamera juga rusak…
Jadi, sempurnalah sudah kerusakan BB saya…
Dan akhirnya saya memutuskan untuk menggantinya…

Sedikit refleksi berkaitan dengan BB atau teknologi yang sedang ‘in’ sekarang ini…
Mau Facebook, Twitter, BB, iPhone, iPad, Galaxy Tab, dan sebagainya dan seterusnya… Tentunya pilihan ada di tangan kita…
Internet pun demikian…
Mau browsing yang bagus-bagus? Banyak!
Mau browsing yang hancur dan berbau pornografi, bejibun!

Sebagaimana layaknya pisau mau digunakan untuk apa?
Untuk membantu proses memasak atau untuk melukai/membunuh orang?
Semoga teknologi yang canggih pun membuat kita bijaksana dalam memilihnya…
Facebook, Twitter, bisa digunakan untuk menyebarkan sekaligus menebarkan hal-hal yang baik. Kegiatan kemanusiaan, kasih Tuhan, tentang pemeliharaan lingkungan hidup…
Bisa juga untuk menyebarkan dendam serta membawa perpecahan jika status atau komentar bernada kebencian dan penghinaan…

Semoga kebijaksanan dari-Nya melingkupi kita dan tetap berusaha membawa hal-hal positif dengan kemajuan teknologi ataupun kemajuan zaman…

So, meanwhile… Au revoir BB! 
Trims buat bantuan dan kerja samanya selama ini…
For sure, I’m gonna miss you hahaha…
Sampe suatu saat ada BB yang lebih baik kondisinya, lebih tahan banting, dan ‘compatible’ dengan sistem di tempat saya berdomisili…

Once again, Au Revoir BB! You’ll always be remembered:)

23.04.2013
fon@sg

Sunday, April 14, 2013

Membisu…




Sudah habis seluruh kata di mulutku…
Tak lagi bisa kulontarkan kepadamu…
Lidahku kelu dan sekarang dalam diamku…
Juga dalam lautan kepedihan yang menghujam hatiku…
Biarkan aku membisu…

Bukannya aku tak pernah mencoba bicara padamu…
Tetapi, seolah engkau memasang tembok…
Yang begitu tebal dan tak mampu tertembus apa pun…
Dinding itu: angkuhmu, egomu…
Kau tak pernah menganggap orang lain salah…
Hanya dirimu yang selalu nomor satu…

Tetapi, hei…
Bisakah kau sebentar menoleh ke sisi lainnya?
Semesta ini bukan cuma milikmu semata…
Berpalinglah…
Keluarlah dari dirimu barang sebentar saja…
Lihatlah sudah berapa banyak hati yang terluka?

Tak ada lagi kata yang bisa terucap di bibirku…
Kini aku membisu…
Sementara ini jadi pilihanku…
Dan berdoa selalu untukmu
Semoga suatu saat kesadaran itu…
Menyentuh hatimu…

#aku berharap sungguh, suatu hari nanti akan terjadi hal itu bagimu…

14.04.2013
Di ruang kebisuan hatiku…
fon@sg






Wednesday, April 10, 2013

Tembang Cinta Kita Episode #6: Stronger (What Doesn’t Kill You) – The End




Previously on Tembang Cinta Kita…
Ling yang tengah termangu dalam kesendiriannya di kos-kosannya di hari perkawinan Glen dan Grace sempat dikejutkan dengan Breaking News di televisi yang melaporkan kejadian langsung kecelakaan dekat Bidakara, tempat resepsi Glen-Grace. Lebih terpana lagi dirinya, ketika menyaksikan Glen memeluk Grace yang terbujur kaku serta bersimbah darah. Kelu. Bingung. Semua jadi satu.
Jadi, bagaimana kelanjutan kisah ini? Simak di episode kali ini…

Episode #6: Stronger (What Doesn’t Kill You) – The End

Rumah Sakit Medistra, Gatot Subroto, Jakarta

Glen memegang tangan Grace. Sambil menangis dia setengah berlari mengikuti perawat-perawat yang juga dengan sigap bergegas membawa Grace ke ruang gawat darurat. Siapa yang menyangka, di hari yang paling berbahagia, yang diimpikan setiap wanita-dalam balutan gaun pengantin yang cantik-terpaksa Grace harus dilarikan ke Rumah Sakit terdekat karena kecelakaan lalu lintas. Truk gandeng yang sopirnya meleng. Mengakibatkan petaka dan kesedihan berkepanjangan yang mengiringinya.

Tangisan pihak keluarga, Papa dan Mama Grace. Juga dari pihak Glen yang kebingungan semua bercampur menjadi satu. Yang seharusnya menjadi acara sukacita berubah menjadi dukacita. Hidup dan segala episode di dalamnya memang sulit untuk ditebak. Tetapi, kejadian ini agaknya begitu mengejutkan dan bukan hanya itu saja: menyakitkan.

Hari-hari selanjutnya berubah menjadi hari-hari yang penuh kekuatiran, penuh penantian, karena Grace koma di UGD dan kini sudah memasuki hari yang ke-10. Tidak sadarkan diri. Selang di sekujur tubuhnya. Tak ada yang kuat menyaksikannya. God, please help her.

***

Aku sempat menjenguk Grace dan di situ kulihat ketulusan Glen.
Juga kesungguhannya akan cintanya pada Grace.
Bahkan, Glen mengakui bahwa dia akan menerima segala konsekuensi cacat fisik ataupun jika nantinya Grace harus menghabiskan sisa hidupnya di kursi roda….
Dia akan tetap menikahinya jika Grace kembali sadar.

Perlahan kekerasan hatiku mencair.
Aku tak lagi mengasihani diriku sendiri atas putusnya hubunganku dengan Glen. Aku lebih melihatnya sebagai jalan Tuhan yang berbeda bagi kami. Kami memang takkan pernah bersatu dan kami sudah tahu akan hal itu. Hubungan kami agaknya lebih ke arah persahabatan yang saling mengisi kesepian. Mungkin juga ada ketertarikan fisik yang kuat. Tetapi, jika ditanya apakah itu cinta sejati? Kurasa tidak.

Keyakinan itu semakin bertambah setelah menyaksikan sendiri betapa setianya Glen pada Grace terutama pada saat-saat Grace begitu tidak berdaya dan koma.
Cinta sejati adalah cinta yang teruji oleh waktu dan kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan. Termasuk di antaranya dalam kesusahan, dalam kemalangan, dalam penderitaan. Saat dunia berlari menjauh, tetapi cinta sejati datang dan merengkuh. That is true love!

Hal yang terbaik yang terjadi antara aku dan Glen adalah persahabatan yang kuat sesudah cinta kami dulu berganti menjadi kasih persaudaraan… Saling mendoakan, saling menguatkan… Itu adalah anugerah terbesar yang kudapatkan dari Tuhan…

***

BBM dari Glen masuk di hari ke-20 Grace di ICU.
“ Ling, Grace sudah sadar hari ini.”

Aku terpana. Sekaligus bersyukur atas mukjizat ini. Sungguh di tangan Tuhan yang Kuasa, Dia bisa lakukan apa saja.

Dan luar biasanya lagi sesudah itu, pemulihan Grace berlangsung cepat. Dia kembali normal seperti sedia kala.
Sungguh lebih cepat dari perkiraan dokter ataupun dari semua orang yang melihatnya… Another amazing work of God.

Aku jadi teringat lagu Kelly Clarkson yang berjudul Stronger (What Doesn’t Kill You)

What doesn't kill you makes you stronger
Stand a little taller
Doesn't mean I'm lonely when I'm alone
What doesn't kill you makes a fighter
Footsteps even lighter
Doesn't mean I'm over
Cause you're gone

Really, some of the words are so true!
Begitu benarnya kata-kata itu…
Segala hal yang tidak mampu menjatuhkanmu, menjadikanmu lebih kuat… Menjadikanmu pejuang…
Sekaligus percaya bahwa segala sesuatu akan indah pada waktu-Nya…
Bukan melulu waktu yang dipercayai oleh manusia, bukan pula yang direncanakan dengan sempurna oleh kita…
Tetapi yang sudah dirancang-Nya sedari mula…

Kawasan Seminyak (Bali) – Setahun Kemudian

And this is another great moment of life!
Glen dan Grace dalam kesederhanaan resepsi pernikahan mereka, tanpa mengurangi nilai kesakralan di dalamnya.
Hanya dihadiri pihak keluarga dan sahabat dekat… Mereka kembali merayakan kesempatan Grace untuk kembali mengecap hidup dan segala kepenuhannya dalam cinta sejati Glen baginya…
Sungguh indah!

Dan aku?
Oh, aku adalah pendamping mempelai wanita hari itu.  Dalam balutan gaun berwarna kuning gading dan make-up manis minimalis, aku pun tersenyum bahagia.
Aku mendampingi Grace dan kami bahkan menjadi sahabat baik, melebihi aku dan Glen.
Aku menemukan begitu banyak hal yang positif dari Grace. Terutama semangat hidupnya, juga ketabahannya…

Sementara duduk di salah satu meja tamu, Han, yang datang dari Australia khusus untukku.
Yah, sejak setengah tahun lalu kami ‘jadian’. Kali ini dengan restu dan gegap gempita dari kedua keluarga kami.

Han putus dari May juga sekitar setahun lalu. Karena ketahuan May punya pacar lain selagi masih jadi kekasih Han.
Perlahan tetapi pasti, hubungan kami yang berawal dari teman curhat, menjadi semakin dekat. Dan psssttt, kami pun sudah membicarakan pernikahan. Itu rahasia!  Jangan bilang siapa-siapa dulu ya:)

Air mataku menetes perlahan dalam keharuan yang besar.
Glen dan Grace yang berbahagia bersulang kepada seluruh tamu dan keluarga
yang hadir hari itu.
Dan Han? Dia memeluk bahuku dan memandangku mesra.
Atmosfir cinta sungguh membuncah dan beterbangan di angkasa…
Terima kasih, Tuhan untuk akhir yang indah ini…
Kupercaya rancangan-Mu selalu indah pada waktunya.

The end.

10.04.2013
fon@sg

Monday, March 25, 2013

Tanggung




Okay, now you’re having a bad day…
Kagak mood mau ngapa-ngapain dan negative thoughts mulai merasuki…

Mulai dari depan kaca…
Yah, gw gak cantik-cantik (buat cowok read: ganteng-ganteng) amat..
Sukses-sukses banget di karier juga kagak
Terkenal juga belum. Masih jauhlah…
Kaya juga nggak…
Gak ada keknya pekerjaan yang bisa gw lakuin dengan baik…

Kalopun gw jago renang, gw kagak bisa kayak Michael Phelps
Kalopun gw jago golf, gw gak bisa seperti Tiger Woods
Kalopun gw jago nulis, gw gak bisa sehebat J.K Rowlings yang ngarang Harry Potter
Kalopun gw pinter, gw gak bakal sehebat Einstein
Kalopun gw keren, gw gak bakal bisa jadi Miss Universe
Ah, kenapa rasanya hari ini apa yang gw miliki semua serba ‘tanggung’?
#mendadak rasa syukur jadi begitu jauhhhh. Gw gak lagi bisa mensyukuri nafas hidup gw, bahwa gw dikarunia fisik yang sempurna dan tidak ada cacat tubuh, apalagi memperhatikan mentari pagi ato rembulan…Ahhh, mengapa???

Kenapa Engkau menciptakan aku yang serba ‘tanggung’ ini, Tuhan?
(sounds familiar? Tapi pernah terjadi di suatu hari ketika kamu lagi enggak mood? Lagi kehilangan semangat ato lagi down?)

Mendadak dari dalam hati, ada bisikan lembut:
“ Kalau dari segala yang nampaknya ‘tanggung’ di matamu, bisa kamu manfaatkan dengan tanggung jawab yang penuh. Dengan kesetiaan utuh kepada-Ku…
Saat kamu tetap setia dalam hal-hal kecil yang Kupercayakan kepadamu, hal-hal yang meminjam istilahmu, terasa ‘tanggung’ itu…
Percayalah, Aku tidak akan tanggung-tanggung, Aku akan mampu menjadikanmu pribadi yang tangguh. Tangguh di dalam-Ku…
Tangguh bersama-Ku, hadapi segala perkara dalam tuntunan tangan-Ku…”

#plakkk…
Tertampar… Terhujam… Merasa menyesal…
Kenapa aku (lagi-lagi) kurang bersyukur, Tuhan?
Sori, ya Tuhan, I never meant to
Cuma memang terkadang perasaan ini bisa membawaku terbang begitu tinggi dan membahagiakan, sekaligus bisa membawaku masuk ke lembah kefrustrasian yang mendalam…

So, Engkau menciptakanku tak tanggung-tanggung, dengan seluruh kasih-Mu…
Sepantasnyalah aku memberikan yang terbaik tanpa tanggung-tanggung….
Hanya bagi-Mu.
Thank You, Lord.

fon@sg
  • coretan di siang hari. A different side of me wanna talk:)

Tuesday, March 19, 2013

Reserved Seats di MRT – Kepedulian yang Makin Menipis?




Halo sahabat? Apa kabar?
Semoga semuanya dalam keadaan baik dan sehat, yaJ

Kali ini saya akan mengangkat kasus yang terkadang juga jadi bahan pembicaraan di sekitar kami di sini.
Mengenai ‘reserved seats’ di MRT (Mass Rapid Transit). Mungkin jika Anda berkunjung ke Singapura, Anda bisa melihat di MRT ada tempat khusus yang disediakan untuk mereka yang ‘spesial’ yaitu mereka yang berusia lanjut, mereka yang membawa anak-anak atau tengah hamil dan mereka yang fisiknya tidak sempurna (cacat).

Namun ada kalanya, di MRT yang penuh sesak, banyak orang muda atau mereka yang tanpa kekhususan itu yang duduk di ‘reserved seats’ dan seolah cuek dengan sekitar. Mereka sibuk main game atau nonton via handphone canggih yang mereka miliki, mungkin juga tidur (atau banyak orang tua yang tidak dapat tempat duduk menduga bahwa mereka pura-pura tidur), mungkin juga sibuk dengan iPad atau Galaxy Tab-nya…

Jika keadaan MRT tengah kosong pada jam-jam tidak sibuk, tentunya tidak banyak yang akan mempermasalahkan ‘reserved seats’ atau tidak. Wong kosong koq, yah bebas sajalah, duduk di mana juga oke. Masalahnya jika penuh sesak, tetapi yang duduk itu bukan yang butuh tetapi yang cuek. Nah, ini yang bisa jadi masalah.
Beberapa orang tua yang berdiri di sekitar saya di MRT menjadi marah dan berang, pernah ada yang bilang bahwa pendidikan seolah tak berarti, karena mengajarkan anak-anak muda ini menjadi mereka yang pintar tapi tak punya hati (baca: perasaan). Mereka menganggap bahwa wong sama-sama bayar, koq, kenapa saya harus merelakan tempat duduk saya walaupun buat mereka yang butuh?

Kenyataan ini agaknya juga bisa dicermati di kehidupan keseharian kita.
Di Singapura yang segalanya serba cepat, di eskalator pun kita harus berdiri di sisi kiri jika kita hendak pelan. Kalau sebelah kanan itu adalah jalur cepatnya, yang diberikan kepada mereka yang masih juga berjalan cepat meski berada di tangga berjalan.
Segala yang harus cepat, efektif dan efisien ini membuat saya pun berpikir, jika ada seseorang yang butuh bantuan, entah pingsan, entah sakit mendadak, masih adakah pribadi-pribadi yang mau berhenti sejenak dan memberikan pertolongan?

Sama halnya di setiap tempat… Bukan hanya di sini saja…
Jika Anda berkendaraan di Jakarta, tengah mengejar sebuah ‘deadline’ yang penting bagi pekerjaan Anda…
Mendadak di tengah jalan ada kejadian yang butuh bantuan Anda…
Ada seorang anak yang pingsan di jalan dan butuh bantuan….
Maukah Anda merelakan ‘deadline’ itu lalu memberikan pertolongan?

Jika Anda sedang tergesa-gesa dan ada seseorang membutuhkan bantuan, maukah Anda berhenti sejenak?  Tentunya, setiap pilihan mengandung konsekuensi dan setiap pribadi bebas menentukan pilihannya… Tetapi, akankah kasih masih menempati posisi prioritas tinimbang egoisme dan mementingkan diri sendiri?

Kasus ‘reserved seats’ membuat saya juga diingatkan…
Untuk tidak selalu terburu-buru, untuk tidak selalu merasa saya yang paling perlu atau paling penting, masih banyak orang yang butuh bantuan…
Butuh pertolongan…
Apalagi mereka yang benar-benar kesusahan…
Maukah kita membuka hati ketika mereka mengetuk pintu?
Tuhan, tanamkan kasih dan kepedulian itu di hati kami.
Amin.

19 Maret 2013
fon@sg