Thursday, July 1, 2010

Thank God I Found You Part 15



*** Episode: Silih Bergantinya Suka dan Duka

Previously on Thank God I Found You part 14 (Episode:Kejutan Ulang Tahun)

Vita berusaha membuat kejutan yang berarti bagi Jason di hari ultah Jason yang ke-40. Dengan menyiapkan pesta kecil di panti asuhan tanpa sepengetahuannya. Agaknya upaya Vita berhasil membawa keharuan di hati Jason dan juga Vita. Sementara Willem yang ditangkap polisi di Perancis, atas pertolongan KBRI Paris berhasil dibawa pulang orang tuanya yang stress mendapat berita Willem dipenjara di Paris. Willem masih memikirkan Susi, terbukti ketika di bandara Charles de Gaulle, dalam kondisi jiwa yang belum seimbang, dia masih menuliskan nama SUSI. Sementara Susi yang sudah terbang ke Singapura menemukan kembali seorang pria baru yang menarik hatinya. Di The Queen & Mangosteen Vivocity, dia kembali merasakan ketertarikan yang luar biasa dengan Vic yang seolah membuatnya melupakan Willem begitu saja. Sementara di Chi Chi’s Kemang, Vita yang diajak Jason langsung ke sana setelah acara di panti asuhan, dikejutkan dengan romantisme dari biola, mawar, dan terakhir lamaran Jason. Masih terkesima dengan semuanya itu, Vita lalu bertanya pada hatinya: ‘will I’? Bagaimana kelanjutan kisah mereka, simak di episode berikut ini…

Episode: Silih Bergantinya Suka dan Duka

Rumah Willem di Jakarta.

Rumah mewah itu seolah mati rasa. Lengang, senyap, biarpun penghuninya cukup banyak. Banyak, karena ada pembantu, sopir, tukang kebun yang diperlukan jasanya bagi rumah yang megah itu. Kekayaan tak selalu berujung bahagia. Buktinya? Setelah kurang dari dua minggu yang lalu keluarga ini pesta pora dengan meriah karena Tuan Mudanya menikah, tak lama kisahnya jadi berubah warna kelabu menjurus kehitaman. Siapa juga yang menyangka sebegitu cepat semuanya berubah? Willem tekanan jiwa, Susi pergi tak tahu ke mana. Mama dan Papa Willem harus ke Perancis menjemput anak kesayangan mereka. Seolah semudah membalikkan telapak tangan. Berubah. Bahagia, maukah kau singgah?

Willem duduk di meja makan yang terbuat dari marmer berwarna abu-abu muda. Perlengkapan makan sudah disiapkan pembantu mereka. Sayur-mayur dan lauk-pauk sudah dihidangkan dengan sempurna. Mama Willem, mengambilkan sedikit nasi bagi puteranya. Biasanya tak pernah ia lakukan hal itu. Biasanya? Yah, pembantu yang mengambilkannya untuk Willem. Karena ia begitu mengasihi anak kesayangannya ini. Anak lelaki satu-satunya, penerus generasi mereka berdua, dia perlakukan bak raja. Apalagi saat ini, Willem betul-betul butuh dukungan dan kasih sayang…

Willem masih memandangi piring itu. Tak bergeming. Mama Willem bergerak lagi, mengambilkan udang goreng mentega yang tampak membangkitkan selera. Udangnya besar-besar, tak seperti masakan pada umunya.

Ketika bergerak menuju piring berisikan udang, tiba-tiba terdengar bunyi:

“ Pranggg…”

Piring yang berisi nasi itu pecah. Bukan harganya, bukan… Memang piring itu mahal harganya. Apa sih yang tidak mahal di rumah Willem? Uang bisa dicari, tetapi mengapa Willem emosi begini?

“ Kenapa, Will? Gak mau makan?” Tanya Mama Willem.

“ Gak mau, Ma. Gak usah. Aku gak laper. Mau ke kamar aja, ah!” Sahut Willem sambil langsung beranjak pergi.

***

Susi dan Vic. Sentosa Resort. Malam hari.

Impulsif. Itulah mereka malam ini. Seolah tak terkendali.

Tinggalkan Vivocity di malam hari. Mengendarai LRT yang menghubungkan Vivocity lantai 3 dengan Sentosa resort, mereka saling berpelukan bak sepasang kekasih. Padahal mereka baru bertemu sekali.

Menonton ‘Songs of the Sea’ di Sentosa, yang jadwalnya pukul 19.40 malam. Saling bergenggam tangan memandangi indahnya teknologi berpadu dengan keindahan alam. Kembang api, efek air yang muncrat mengenai pipi Susi yang langsung dihapus dengan halus oleh Vic. Mereka tak kuasa membendung keindahan jalinan rasa yang terlanjur tercipta. Agaknya, tak perlu berlama-lama kalau memang tengah dimabuk perasaan cinta.

Cinta? Ah, bagi Susi itu tak lagi penting. Cintanya yang sudah dia serahkan pada Willem berakhir mengenaskan. Willem? Ah, sudahlah, Sus.. .Lupakan dia. Setidaknya untuk sementara waktu, sementara yang ada di sisinya seorang bak fotomodel dan VJ Channel V. Ngapain juga masih mikirin Willem?

Satu demi satu acara mereka lewati. Bermain di pantai, minum kelapa muda, tak peduli hari yang sudah malam itu. Kemalaman? Tak mengapa, karena Vic punya ide lain. Mereka menginap di The Sentosa Resort and Spa.

***

Susi masih mematut wajah cantiknya di kaca toilet mewah ini. Tentunya tak semewah ‘Four Seasons’ di Paris, tetapi setidaknya dia merasa nyaman kali ini. Tidak bersama seorang yang ternyata psikopat. Masih diulanginya ritual biasanya, mencuci tangannya berkali-kali. Sampai terasa bersih. Tak lama, dia pun berganti pakaian pantai yang mereka beli di salah satu toko souvenir yang tersebar di Sentosa ini. Mengenakan ‘tank top’ dan celana pendek senada berwarna pink, membuat Susi semakin cantik.

Di luar, Vic sudah siap dengan minuman lagi. Wine untuk menghangatkan tubuh mereka. Susi menyambut dengan gembira. Tersenyum, tertawa, seolah lupa segala derita. Tak lama, dia pun kelihatan ngantuk dan bersiap untuk tidur. Dari sofa yang terletak di sisi kiri tempat tidur, Vic lalu memindahkannya ke ranjang. Dipandanginya kesempurnaan itu lagi untuk kemudian mengaguminya dan langsung menjepretkan kamera ponselnya. Susi dalam kondisi tidur memang teramat cantik.

“ Hmmm, you’re such a beauty.” Ujar Vic perlahan.

Susi yang setengah tertidur, memeluk Vic segera. Vic yang terkejut, tak melepaskan kesempatan ini. Dan hanya bantal-sofa-gelas wine-lampu hotel-dan ornamen seisi kamar yang jadi saksi kemesraan mereka di malam itu.

***

Aku sudah menunggu sekian lama untuk seorang pria melamar diriku. Perjalanan hidupku menghantarku sampai ke hari yang kutunggu-tunggu itu. Mau apa lagi? Seseorang yang kucinta sudah melamarku. Dengan caranya yang luar biasa, di luar kebiasaan dirinya. Karena pada dasarnya dia tak sudi menghambur-hamburkan uang begitu rupa. Air mataku turun pelan-pelan, membasahi kedua belah pipiku. Sarat kebahagiaan. Tuhan, aku berterima kasih buat semuanya ini. Ini sungguh melebihi anganku…

“ Vit?” Suara Jason menyentakkanku dari lamunanku. Terlalu lama kubiarkan dia terbengong dan menunggu jawabku.

“ Eh, iya, Jason…Sori ya, jadi bengong. Aku gak menyangka, ini surprise besar untukku,” jawabku.

Kulanjutkan lagi:

“ Jason, aku mau. Aku mau menikahimu. Menghabiskan sisa usiaku bersamamu. Menjadi tua dan bahagia di sisimu. Memenuhi rumah kita dengan anak-anak yang lucu-lucu. Ya, Jason. Aku mau!”

Jason tersenyum bahagia. Seisi restoran pun langsung bertepuk tangan. Kurasakan pipiku memerah. Ah, aku malu! Tetapi aku mengakui kalau kebahagiaan itu begitu kuat mengisi hatiku. Tuhan, terima kasih buat hangatnya cinta ini.

***

Willem masih memandangi kertas bertuliskan nama SUSI yang dituliskannya di Paris. Entah mengapa, dia merasakan perih yang luar biasa hari ini. Kepedihan tak berujung, kehampaan tanpa batas yang menusuk perlahan tapi pasti. Mencabik-cabik seluruh dinding hatinya. Tiba-tiba dia berteriak dan menghempaskan vas bunga yang ada di kamarnya. Cipratan air di dalamnya, bunga anggrek segar yang baru diletakkan di dalamnya, pecahan kaca vas yang terbuat dari kristal mahal itu, menambah kepedihan luar biasa. Kalau memang tak ada jalan keluar baginya, mungkin mati adalah ide yang bagus juga. Waktu itu dia terselamatkan, tak jadi mati. Susi muncul dalam hidupnya dan memberi rona bahagia… Tanpa Susi? Mau mati saja rasanya…

Diambilnya pecahan vas bunga itu, digoreskannya perlahan di nadinya. Kali ini sudah bulat tekadnya untuk mati…

Bersambung…

HCMC, 1 Juli 2010

-fon-

Wednesday, June 30, 2010

Instan


Kalau bisa cepat, ngapain nunggu?

Instan adalah pilihan yang paling baik, bukan? Berapa banyak dari kita senangnya kopi instan, teh instan, mie instan, bubur instan, dan instan-instan lainnya? Instan memang mudah, instan memang praktis. Apalagi kemasannya pun terkadang sekali pakai langsung buang, tak perlu cuci segala. Di zaman modern ini, agaknya segala sesuatu yang instan dan mempermudah manusia, menjadi sesuatu yang favorit. Karena manusia semakin berpacu dengan waktu, agaknya instan menjadi pilihan yang tepat.

Kalau bisa gampang, ngapain susah-susah?

Instan seolah juga menjadi jawaban manusia. Mempermudah atau mengurangi satu-dua step dan menjadikannya selesai lebih awal. Dan taraaa: makanan atau minuman itu siap disantap tanpa perlu menunggu terlalu lama. Dengan budaya instan yang sudah keburu menancapkan kukunya dengan kuat sehingga kita terlanjur sayang dan terbiasa dengannya, menjadikan kita sering kali mengharapkan hasil yang cepat dalam melakukan segala sesuatunya.

Tanpa sadar, kita pun terpengaruh dalam menghadapi hidup ini. Seringnya kita ingin cepat selesai dengan hasil baik. Kalau ada masalah, maunya hari itu juga selesai. Atau bahkan lebih ekstrim, detik itu saja, Tuhan! Proses menunggu seolah menjadi hal yang menjemukan. Inginnya: menunggu itu dihilangkan, langsung hasilnya, dengan pesanan: yang bagus ya, God! Kita terbiasa melakukan karbit terhadap segala sesuatu: buah diperam, ayam disuntik biar cepat besar, dsb. Bukan hal yang mudah ketika harus berhadapan dengan proses menunggu dan rangkaian pendewasaan diri di dalamnya.

Sayangnya, kita harus rela menunggu. Banyak kali dalam hidup, kita dihadapkan pada ketidakpastian yang mengombang-ambing kita. Terkadang ukurannya tahunan, bahkan puluhan tahun lamanya. Kalau bisa pesan paket instan ke Tuhan, pastinya semua dari kita sudah berlomba-lomba. Kabar baiknya, selama masa menunggu itu sebetulnya kita tidak sendirian. Tuhan selalu sertai kita, walaupun mungkin kita tidak menyadari kehadiran-Nya. Dia tak pernah ingin meninggalkan kita, apa pun kondisi kita. Seringnya kita yang lupa bahwa Tuhan ada di setiap kejadian hidup kita.

Instan, memang gampang. Instan memang memudahkan kita. Tetapi, dalam menghadapi hidup dan permasalahannya, agaknya kita pun harus rela menghadapi proses yang terkadang cukup panjang karena kita sadar bahwa setiap detik yang terlewati itu tentunya akan mendewasakan kita.

Saya yang sesekali kepengin juga makan mie instan karena memang enak rasanya itu, mudah-mudahan tidak melulu mengandalkan jalur-jalur instan kehidupan. Karena dengan menghilangkan rangkaian prosesnya, hidup seolah kehilangan makna dan pembelajaran di dalamnya…

HCMC, 30 Juni 2010

-fon-

Sumber gambar:

http://www.google.com.vn/imglanding?q=instant%20food&imgurl=http://image.made-in-china.com/2f0j00phTtGUYkUavR/Halal-Instant-Noodles-Cookzen-Brand-BRC-Food-.jpg&imgrefurl=http://noodle.en.made-in-china.com/product/YHJxAGTktnea/China-Halal-Instant-Noodles-Cookzen-Brand-BRC-Food-.html&usg=__rN4ilwr0e1A358EZvJW_sfi2pKU=&h=310&w=410&sz=30&hl=vi&itbs=1&tbnid=R_ddbxUJAe8PfM:&tbnh=95&tbnw=125&prev=/images%3Fq%3Dinstant%2Bfood%26hl%3Dvi%26gbv%3D2%26tbs%3Disch:1&gbv=2&tbs=isch:1&start=0

Tuesday, June 29, 2010

Rhythm of My Heart



Why is my heart lacking of something?

The beauty of its tone has already been fading.

I look into it,

Try to search everywhere for it

The one that will make my song complete


Then I met you,

I just realized

It’s destiny

That has brought us together

Having you beside me,

I know that my heart is singing a new song


You’re the sweetest thing in my life

My lollipop

My chocolate

My ice cream


Your voice has already filled the symphony of my heart

It has gently but yet strongly become a #1 hit.

All across the region of its pieces

Whether it’s north or south

Whether it’s east or west

You’re still ontop of my playlist


You’ll always be a part of me…

Who makes the rhythm sounds perfectly.

Thanks to you my honey…

For love and understanding beyond compare…


HCMC, 30 Juni 2010

-fon-

* inspired partially by Taeyang’s (Korean Superstar from Big Bang) Song: You’re My and mostly of all the romanticism that fills the air, that fills my heart tonight…Love is in the airrr!

source of picture:

http://www.google.com.vn/imglanding?q=romantic%20picture&imgurl=http://images.paraorkut.com/img/pics/images/r/romantic-1806.gif&imgrefurl=http://www.graphicshunt.com/search/1/dating.htm&usg=__vk4_yilNCiBy3ePCE8auzsurAa4=&h=282&w=307&sz=32&hl=vi&itbs=1&tbnid=astDy3WPqon3BM:&tbnh=107&tbnw=117&prev=/images%3Fq%3Dromantic%2Bpicture%26hl%3Dvi%26gbv%3D2%26tbs%3Disch:1&gbv=2&tbs=isch:1&start=1

Monday, June 28, 2010

1,2,3 Langkah Kecilku



1,2,3 kali kupernah terjatuh. Sakit, terluka, namun berusaha ‘tuk bangkit. Tidaklah mudah, terkadang seolah semuanya sia-sia apalagi ketika harus mulai kembali dari nol.

1,2,3 kali kupernah gagal. Gagal dalam banyak segi kehidupan. Menangis, kecewa, untuk kemudian berusaha untuk menguatkan diri. Sekaligus percaya pada-Nya, bahwa hari esok masih ada senyum ceria yang Dia tawarkan kembali. Tak selamanya hari mendung, akan ada hangatnya sinar mentari yang naungi hatiku sekali lagi.

1,2,3 kali kupernah ragu. Ragu saat hendak melangkah. Akankah langkah ini membuatku maju atau malah menghantarku celaka?

1,2,3 kupernah kecewa. Saat kucurahkan seluruh harap dalam hidup ini, ternyata berujung hal yang amat berbeda dari ekspektasiku. Pernah terasa amat sulit menerima kenyataan yang ada. Sedih pun seolah memilin hatiku dan memenuhinya dengan duka.

Tetapi yang aku tahu pasti…

1,2, 3 langkah kecilku selalu isi hari-hariku. Kuatkan hati dan diriku sekali lagi. Agar aku jangan berhenti. Agar aku terus melangkah dan berjalan. Meskipun perlahan, meskipun tertatih. Karena aku tahu, kesuksesan yang ada di ujung sana tetap menanti. Gagal hari ini, bukan berarti gagal seumur hidup. Justru gagal hari ini, berarti harus bangkit lagi dan belajar dari kesalahan sebelumnya.

1,2,3 kupanjatkan doa dari hati. Doa kepada Sang Pencipta. Agar diriku kembali ingat bahwa hanya Dia tempatku berlindung dari segenap susah dan gelisah. Sekaligus tempat kubawa seluruh tawa ceria dan sumringah, ketika hidupku yang selalu dilimpahi kasih-Nya menjadi wangi semerbak yang harum bagi sekitarku. Yang terpenting, aku tak lari dari-Nya dalam setiap keluh dan kesah. Juga selalu mencari-Nya ketika aku bahagia dan berbunga-bunga.

Karena dalam 1,2, 3, 4,5,6,7,8, 9, 100, 1000, bahkan sepanjang helaan nafasku, aku tahu Engkau ada di sana.

HCMC, 28 Juni 2010

-fon-

sumber gambar:

Sunday, June 27, 2010

Sekilas Info Buku Chapters of Life: From Nothing Into Something


BEREDAR SEKITAR PERTENGAHAN JULI 2010:
CHAPTERS OF LIFE: FROM NOTHING INTO SOMETHING (Menuliskan Kebaikan dari Hal-Hal yang sederhana), karya FONNY JODIKIN
184 hal + xii.
ISBN: 978-602-96333-8-2.

Penerbit: Kosakatakita (KKK)

Harga buku: Rp. 55.000,- (Lima puluh lima ribu rupiah)

Semasa preorder, sekarang sampai sekitar dua minggu setelah launching, dapatkan diskon khusus, sehingga harga buku menjadi: Rp. 50.000,- (lima puluh ribu rupiah) belum termasuk ongkos kirim.


Chapters of Life adalah kumpulan kisah yang dilihat, didengar, dipikirkan, dirasakan, dialami, dan dituliskan oleh penulis – Fonny Jodikin. Tentunya, dengan menambahkan imajinasi di dalamnya. Kisah-kisah ini awalnya ditulis sebagai bentuk perenungan atau refleksi pribadi penulis sebagai bentuk syukur pula atas inspirasi yang diizinkan untuk singgah di dalam hatinya.

Chapters of Life, babakan kehidupan, begitulah penulis senang menyebutnya. Karena bagi penulis, kehidupan itu sendiri adalah bab demi bab yang menjadikan buku kehidupannya sempurna. Satu kejadian dan kejadian lainnya merupakan kepingan puzzles yang menjadikan kehidupannya utuh. Hanya Yang Kuasa yang mampu melihat segala sesuatunya secara sempurna dan penulis berusaha menangkap setiap sinyal inspiratif yang dilemparkan oleh keadaan sekitar, dari hal-hal kecil yang terkadang remeh dan sederhana yang biasanya terlewatkan begitu saja, dan tetap berusaha menemukan pembelajaran di dalamnya. Sembari terus mempertahankan originalitasnya untuk terus menuliskan kebaikan dan hanya kebaikan, satu per satu tulisan ini memenuhi blog penulis dengan judul sama: Chapters of Life di http://fjodikin.blogspot.com/

Silakan membaca, merenungkan, menangis dan tertawa bersama dalam kumpulan kisah-kisah ini. Semoga kisah-kisah ini membawa sedikitnya harapan bahwa hidup dalam segala kesukarannya tak henti tetap menawarkan keindahan yang mungkin seolah tersembunyi. Tetapi ia --keindahan itu-- tetap ada di sana.

Komentar Mas Kurniawan Junaedhie (penulis senior), yang karyanya tersebar di mana-mana:

Sebagai orang yang beruntung baca naskahnya duluan, buku ini direkomendasikan. Ada tawa, senyum, dan kadang saya ingin menangis dibuatnya. Fonny lihai memaknai hal-hal yang tampak sepele dalam hidup kita dengan bahasa yang asyik. Selamat ya, Fonny! (copas dari Komentar beliau di FB).

Cara pemesanan:

  1. Karena penyebaran buku saat ini hanya melalui milis, fb, dan media-media online lainnya. Silakan pesan ke chapterslife@yahoo.co.id. Dengan menyertakan alamat pengiriman di Indonesia.
  2. Pembayaran melalui rekening bca penulis, nomor akan diberikan via inbox ketika Anda melakukan pemesanan. Mohon copy paste bukti pembayaran bila melalui klik bca, atau bisa di-scan bukti pembayaran via ATM dan mengirimkannya ke alamat email di atas (chapterslife@yahoo.co.id).
  3. Pertanyaan lebih lanjut bisa ditanyakan kepada penulis via email di atas atau via fesbuk, via fanpage Chapters of Fonny’s Life di facebook, atau via email penulis.

FYI, saat ini buku tengah proses cetak, semoga lancar dan pertengahan Juli sudah bisa beredar.

Terima kasih banyak buat perhatiannya dan dukungannya:)

-fon-

Being Mom: Di Balik Mulianya Ibu Rumah Tangga



Mulianya panggilan seorang Ibu Rumah Tangga—apalagi yang penuh waktu—tanpa harus dibagi dengan pekerjaan yang menyangkut kariernya, rasanya banyak orang (kalau tidak bisa dikatakan semuanya) sudah tahu.

Peranan membesarkan anak, bukan hanya memandanginya saja langsung jadi besar seketika. Namun, memang diperlukan kesabaran dan kasih yang besar dalam mendidik mereka menjadi manusia yang baik dan berguna. Sampai hari ini profesi itu masih saya jalani. Saya bahagia punya waktu yang banyak dengan puteri saya. Bila dia bangun tidur, saya masih berada di sisinya atau di dekatnya. Jika saya bekerja dan pastinya ini dialami para wanita karier, tak selalu bisa karena panggilan tugas di kantor sudah menunggu.

Selain itu, saya pun sadar bahwa panggilan ibu rumah tangga yang mulia ini juga memiliki beberapa hal yang harus saya pribadi perhatikan seperti:

  • Memiliki banyak waktu, sehingga tak jarang memboroskan waktu itu sendiri. Macam-macam sih pilihannya, misalnya saja suka internetan berjam-jam, ‘browsing’ yang aneh-aneh. Atau bagi para pengguna BB, waktu-waktu bersama anak juga mendapat saingan dari BB misalnya. Karena memiliki banyak waktu itu pula, seringnya bengong, melamun dan berpikir yang tidak-tidak. Tak jarang menjadi iri hati dengan tetangga yang lebih sukses atau bawaannya curigaan terus sama suami karena tak percaya diri karena terus menerus di rumah.
  • Masih dalam konteks memiliki banyak waktu sebetulnya, banyak pula acara yang biasa diikuti. Syukur-syukur itu acara ‘bergizi’ bagi jiwa dan spiritual, semisal pendalaman iman, pengajian bersama, ataupun aktif di vihara. Atau program yang baik bagi pengembangan diri misalnya training untuk menjadi kepribadian yang luwes, les bahasa, les menari , les memasak/ membuat kue, atau les rias wajah, dsb. Yang mengembangkan keahlian, yang membuat diri menjadi lebih baik, tak pernah salah dong tentunya. Namun, ada kalanya acara kumpul-kumpul semisal arisan, ketemuan, hang out, reunian, berujung saling marah-iri-dan memaki. Acara yang seharusnya menjadi hal-hal yang positif itu, malahan beraura negatif hanya karena perselisihan antarteman. Tak jarang acara yang sedianya bertujuan baik malahan menjadi acara yang memendam dendam kesumat. Saling benci, saling menggosipkan, saling ‘ngatain’ satu sama lain. Sungguh, sedih hati saya bila melihat hal-hal semacam ini. Tentunya bukan berarti saya super mulia dan tak pernah berdosa, tetapi sangat disayangkan jika apa yang awalnya baik, ternyata perkembangannya menjadi tidak sebaik rencananya.
  • Apa lagi, ya? Selain pemborosan waktu, gossip dan pikiran negatif di atas… Ada kalanya profesi ibu rumah tangga ini juga membuat Si Ibu punya waktu lebih buat jalan-jalan, shopping, dan makan-makan di luar. Tanpa sadar, anggaran belanja negara, ooppss maksudnya anggaran belanja keluarga jadi bengkak karena termasuk di dalamnya pos-pos tak terduga seperti: shopping di siang bolong saat anak sekolah. Dan seterusnya. Menghamburkan uang secara besar-besaran juga bisa dilakukan, disengaja atau tidak. Karena punya waktu lihat-lihat barang sambil cuci mata, maksudnya sih ‘window shopping’, tak jarang pulangnya bawa tentengan. Eh, belanja lagi, bu? Ya iyalah, wong di depan mata gitu lho… Sebetulnya, sayang ya, uang itu terkadang bisa dipakai untuk keperluan lain bukan melulu melampiaskan nafsu belanja ke kanan-kiri. Tetapi kadang namanya ‘lapar mata’ itu terkadang susah juga ternyata… Memang harus betul-betul mengendalikan diri, karena jangan sampai uang yang sedianya buat keperluan rumah atau les anak, jadi malah terpakai buat kesenangan Si Mama belaka.
  • Terkadang karena tak habis-habisnya pekerjaan rumah tangga, ibu rumah tangga seringnya keletihan juga. Dan kalau capek, kadang emosinya bisa naik tiba-tiba. Anak yang sedang main, kurang tertib dikit, bisa-bisa dimarahi. Padahal ya, namanya juga anak-anak. Sama halnya dengan suami, bisa tiba-tiba kena damprat istri yang kecapekan. Penting bagi ibu rumah tangga tanpa ‘nanny’ atau pembantu, untuk mencari waktu istirahat juga biar tidak kelelahan. Dengan demikian bisa mengurus rumah tangga, anak, dan suami dengan lebih baik lagi.

Tulisan ini sedianya buat mengingatkan saya pribadi untuk tetap memanfaatkan waktu-waktu saya yang cukup banyak lowongnya ini untuk hal-hal yang baik. Menulis hal-hal yang baik misalnya dan bukan mengisinya dengan hal-hal yang kurang baik, itu saja sih sebetulnya. Tentunya, saya pun masih terus berjuang dalam mengatasi hal-hal tersebut. Teori selalu lebih mudah daripada praktiknya, bukan? Tetapi biarlah saya terus berusaha yang meskipun jatuh bangun (kayak lagu dangdut ya? Hehehe), tetapi tidak menyerah untuk terus tetap jadi Ibu RT yang efektif dan efisien :) Pastinya, saya masih jauhhhh dari sempurna. Tiap hari adalah hari baru buat saya belajar untuk menjadi lebih baik. Menjadi ibu yang lebih baik bagi anak kami, istri yang lebih baik bagi suami saya. Dan mudah-mudahan orang yang lebih baik hari lepas hari.

HCMC, 26 Juni 2010

-fon-

Sumber gambar:

http://www.google.com.vn/imglanding?q=ibu%20rumah%20tangga&imgurl=http://nittaprasetya.com/wp-content/uploads/2009/04/bukan-ibu-rumah-tangga-biasa-300x196.jpg&imgrefurl=http://www.zimbio.com/member/nittap/articles/6005991/Bukan%2BIbu%2BRumah%2BTangga%2BBiasa&usg=__JJxGQ5O6KhlyfaP0A48LJOtv8Ug=&h=196&w=300&sz=15&hl=vi&itbs=1&tbnid=ZToJWEm9fsdaGM:&tbnh=76&tbnw=116&prev=/images%3Fq%3Dibu%2Brumah%2Btangga%26hl%3Dvi%26gbv%3D2%26tbs%3Disch:1&gbv=2&tbs=isch:1&start=11


Thursday, June 24, 2010

Thank God I Found You Part 14



*** Episode: Kejutan Ulang Tahun

Previously on Thank God I Found You part 13 (Episode: A Nightmare in Paris)

Suasana bulan madu yang seharusnya ceria, menjadi mimpi buruk buat Susi karena ternyata Willem mengidap sakit jiwa. Di Hotel Four Season di Paris, Willem bukan saja mengancam nyawa Susi, melainkan juga merusakkan seluruh isi kamarnya dengan menusukkan pisau ke bantal, ranjang dan sofanya. Susi meninggalkan Willem dan bergegas berangkat ke airport, tujuannya: Singapura. Dia tak lagi peduli pada Willem yang telah membuat impian indahnya soal perkawinan porak poranda. Willem ditangkap polisi. Sementara Jason dan Vita belum banyak perkembangan dalam relasi mereka, hanya menjalani apa adanya. Jason akan berulang tahun dan Vita menyiapkan pesta ultahnya di panti asuhan dekat rumah. Bagaimana kelanjutan kisahnya? Simak di episode berikut ini.

Episode: Kejutan Ulang Tahun

Sabtu siang.

Kusiapkan semuanya dengan rapi. Mulai dari nasi kotak isi ayam goreng, sambal kentang, agar-agar, dan buah pisang. Sedikit donat untuk kudapan anak-anak di panti, juga bingkisan sederhana. Nasi kotak dan donat, tentunya pesan saja biar praktis. Jadi aku bisa persiapan bingkisan sederhana buat mereka yang isinya pensil warna, buku mewarnai, dan sedikit makanan kecil juga seperti: kacang, jelly, dan permen. Semacam ‘goodie bag’ ulang tahun yang biasa disediakan pas ultah anak-anak. Tapi ini terbalik, Jason yang memberikannya pada mereka. Pihak Panti Asuhan Kasih sudah kuhubungi. Nasi kotak dan donat akan langsung diantarkan ke mereka, Aku membawa goodie bag bagi ke-20 anak yang ada di sana. Kuantar terlebih dahulu juga. Sehingga ketika Jason tiba, hanya kuajak berkunjung ke sana tanpa persiapan apa pun, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan baginya.

Janji kami di jam tiga sore. Jadi, sekitar pukul empat aku akan pergi ke Panti bersama Jason. Sehabis anak-anak itu bangun tidur siang mereka.

Tiba-tiba, ketika sibuk-sibuk mengurusi acara ini, hatiku kembali teringat Santi. Ah, andai saja Santi masih hidup dan berada di sisiku. Pasti sobat baikku itu akan ikut-ikutan repot, ikut-ikutan membantu semampunya, seperti yang dia selalu lakukan selama ini. Santi, I miss you! Kupanjatkan doa singkat dalam hatiku, sungguh kerinduan terhadap sobat sepertimu tak mudah hilang dari hatiku.

Ting tong.

Bel pintu rumahku berbunyi. Kulihat jam di dinding kamar biruku. Jam 03.10 sore. Agak terlambat dari biasanya, karena biasanya Jason tak pernah terlambat.

“ Selamat ulang tahun, Jason!” Kubuka pintu rumahku dengan senyuman. Kupeluk dia dengan hangat. Kekasihku yang baik hati itu hari ini menapaki usianya di kepala 4. Cukup tua? Mungkin iya. Cukup dewasa tepatnya. Namun, beberapa orang bilang bahwa ‘life begins at 40’, bukan?

Dia menyambutku ramah. Penuh senyuman. Dan binar matanya itu lho. Tak hilang dari tatapannya ketika memandangku. Tiba-tiba kurasakan desiran halus. Kelembutan yang menguak rasa di hatiku, ketika saat-saat pertama kali kami saling jatuh cinta.

Kugenggam tangannya perlahan. Waktu sudah menunjukkan pukul 15.45. Perjalanan ke Panti hanya makan waktu kurang dari sepuluh menit sebetulnya. Tapi, karena tak mau terlambat, aku mengajaknya pergi sekarang.

“ Yuk, kita pergi, “ ajakku.

“ Ke mana?” Tanya Jason.

“ Udah, ikut aja, “ sambungku dalam tawa ceria.

Panti Asuhan Kasih, dua gang dari rumahku. Jam 15.55 .

Kami disambut oleh Ibu Ayu, sebagai kepala panti. Ibu Ayu sudah menerimaku beberapa hari sebelumnya ketika tercetus ide untuk membuat perayaan ultah kejutan buat Jason.

Anak-anak sudah berbaris rapi menyambut kami di ruang serba guna di panti asuhan ini. Mereka menyalami kami satu per satu. Anak-anak yang berusia lima sampai sebelas tahun itu berjumlah dua puluh orang. Panti Asuhan Kasih sendiri punya anak-anak bayi dan anak-anak yang sudah beranjak ABG, tetapi mereka tidak ikutan hanya dikhususkan bagi anak-anak ini saja.

Setelah itu, mereka duduk bersama-sama di ruang serba guna itu. Di kursi dan meja kecil yang terbuat dari kayu berwarna-warni: biru, merah, kuning, Menambah keceriaan di ruangan kecil itu. Tak lama, asisten Ibu Ayu keluar dengan kue ulang tahun. Black forrest dengan lilin angka 40. Jason menitikkan air mata, perlahan. Jarang kulihat dia begini. Tampaknya dia amat tak menyangka hadiah ulang tahun tak terduga macam ini.

Perlahan ditiupnya lilin ulang tahun itu, diiringi lagu Selamat Ulang Tahun dari anak-anak panti. Sebelumnya Jason sempat mengucapkan harapan dan doa singkatnya sebelum potong kue. Potongan kue pertama diberikannya padaku, diiringi sun di pipi kanan-kiriku. Aku tersenyum bahagia campur haru menyambutnya. Tak sia-sia acara ini kurencanakan dan berhasil membuat kenangan manis tanpa perlu menghamburkan uang di hotel atau restoran mewah.

Dibagikannya goodie bag yang sudah kusediakan. Tak lama kotak makanan pun disajikan. Lengkap dengan sepiring donat yang disambut dengan gegap gempita oleh anak-anak panti. Terkadang, terlalu sering kita menghamburkan uang untuk hal-hal yang tak perlu, padahal dalam kesederhanaan berbagi dengan anak-anak panti ini, perasaan yang kami rasakan tak bisa terlukiskan dengan kata-kata.

Tak lama, kami pun berkemas. Anak-anak mengucapkan terima kasih. Ibu Ayu dan asistennya juga. Lalu, kami pamit, mohon diri.

***

Kantor Polisi Paris.

Willem masih berteriak-teriak dari selnya. Sementara dari Kedutaan Besar Indonesia di Paris, sudah mengirimkan kuasa hukumnya yang datang bersama Mama dan Papa Willem. Mereka kebingungan ketika mendapat berita dari KBRI Paris mengenai hal ini. Karena, seharusnya anak mereka sedang dalam bulan madu yang romantis dan mahal. Mengapa sampai dia ada di kantor polisi? Dan di mana menantu kebanggaan mereka yang cantik jelita itu? Susi? Hilang tak tentu rimbanya.

Setelah bercakap-cakap dengan pihak kuasa hukum dan polisi. Akhirnya, Willem dibebaskan karena dianggap mengalami gangguan kejiwaan. Segala sesuatu yang dilakukannya di luar keadaan waras, tak bisa dipertanggungjawabkan. Tetapi, tentunya orang tua Willem harus mengganti semua kerugian yang diderita oleh Four Season Hotel yang jumlahnya puluhan ribu Euro. Tak mengapa, karena mereka punya banyak uang.

Mama Willem menjadi ‘shock’ juga atas kejadian ini. Dikiranya perkawinan dengan Susi akan menyelesaikan masalah Willem. Ternyata, malah bikin masalah baru. Dengan hati pilu, mereka bergegas meninggalkan bandara Charles de Gaulle, Paris. Kondisi Willem masih diberikan obat penenang, namun tidak terlalu besar dosisnya. Sehingga ia masih sadar, walaupun pikirannya melayang. Entah ke mana. Matanya nanar. Diambilnya bolpen dan kertas selebaran yang tercecer begitu saja. Dituliskannya dengan huruf besar. SUSI.

***

Singapore. Vivo City Mall.

Kawasan Harbourfront di malam hari.

Susi duduk di The Queen & Mangosteen, restoran merangkap pub yang berada di lantai 1 Vivocity ini. Pemandangan yang menghadap keluar, melihat Sentosa dan melihat perairan di sekitarnya, membuat suasana semakin klop, indah tepatnya. Susi berada di teras tempat ini. Sambil merenungkan semua kehidupannya selama ini. Dia sudah berusaha jadi orang baik, sudah berusaha mencintai dan memang akhirnya jatuh cinta betulan pada Willem. Willem sendiri amat cinta padanya, namun tak disangka-sangka Willem menderita penyakit sejenis Schizophrenia atau yang juga sering dituliskan sebagai Skizofrenia, yang bisa timbul tenggelam. Dan yang pasti selalu memiliki kecurigaan berlebihan terhadap sekitar. Selalu merasa diintai, selalu merasa tidak aman dan tak bisa percaya kepada orang lain. Itu yang Susi lihat. Belum tentu sih, itu akan berkembang menjadi Skizo yang berat. Tetapi, resikonya Susi bisa mati jika hidup bersama dengan Willem, terutama ketika Willem kumat dan tak mau lagi mendengar ucapannya. Tak selalu dia akan seberuntung ketika mereka di Paris, ketika Willem menuruti saja ucapannya dan mau minum obat penenang. Kalau tidak, dia tetap mengamuk dan melukai Susi, apa jadinya? Susi bisa mati seketika.

Bergidik memikirkan kemungkinan hidupnya yang cukup mengerikan itu, Susi melanjutkan minum vodkanya, sambil makan mini burger yang memang diminati di pub tersebut. Tanpa disadarinya, seorang pria asing dari tadi memandangi wajahnya. Pria bule itu mengagumi kecantikannya, seperti pria-pria pada umumnya. Dia sendiri amat tampan. Wajahnya mirip-mirip VJ Dom, dari Channel V itu. Perpaduan Asia dan bule, tetapi dominan bulenya.

Tergerak untuk mengenal Susi lebih jauh, pria itu bergegas mengambil botol bir yang ada di tangannya dan mulai mendekati meja Susi.

“ Can I sit here?” tanyanya.

“ Yes, sure.” Susi tak terlalu memperhatikan wajah Si Pria. Yang dia butuh adalah seorang teman dan perhatian seorang pria seperti yang selalu dia dapatkan tanpa henti dalam hidupnya.

“ May I know your name?” Tanya pria itu lagi.

“ Susi, “ ujarnya sambil mengulurkan tangannya dengan agak malas, setengah menunduk tadinya, mendongak juga ketika dia harus bersalaman dan melihat betapa tampannya pria di hadapannya. Langsung dilebarkannya sudut-sudut bibirnya, mengulum senyum menggoda. Dan Si Pria semakin terpana.

“ Hi, I’m Victor. You can call me Vic. Nice to meet you.” Ujarnya ramah dengan suara yang merdu, semerdu suara para penyiar atau penyanyi mungkin. Atau mungkin suaranya biasa saja, namun terdengar merdu di telinga Susi karena ketampanannya? Ah, entahlah. Yang pasti, barang bagus begini di tengah suasana hati suntuk, tak boleh dilewatkan begitu saja ujarnya.

Mereka mulai bicara, bercanda. Dan menjadi akrab secara tiba-tiba… Sesaat, Susi pun jadi lupa statusnya yang sudah bersuami dan melarikan diri dari sisinya.

Lampu masih bersinar menerangi wajah Susi dan Vic. Vivocity. The Queen & Mangosteen jadi saksi senyawa kimia yang beterbangan di udara akibat ketertarikan antarmereka yang luar biasa…

***

Jason tidak langsung mengajakku pulang. Kami berkeliling kota sebentar dan menuju ke kawasan Kemang. Di Kemang, kami masuk ke Chi Chi’s Mexican Restaurant. Aneh bagiku, karena Jason bukan tipe yang mau menghambur-hamburkan uangnya seperti itu. Perlahan, pintu Chi Chi’s terbuka. Kami disambut alunan violin merdu, lagu cinta. Lagu Valentine, Martina Mc Bride bergema. Dan pelayan restoran telah menyediakan buket bunga mawar merah untuk Jason yang kemudian diserahkannya padaku . Isinya selusin bunga mawar merah, tanda cintanya.

Aku yang bengong, tak percaya dengan semua ini. Harusnya kejutan itu untuknya dan bukan untukku karena ini hari ulang tahunnya. Kejutan ulang tahunnya juga berlaku buatku. Tetapi, mengapa dia lakukan ini semua?

Dan kurasa sebetulnya tak perlu. Baru saja ingin kutanyakan pada dirinya, baru akan membuka mulutku, jari telunjuknya menghentikan ucapanku.

“Nikmati saja, semuanya, Vit. Ini untukmu.”

Ujarnya seraya menyodorkan cincin itu di hadapanku.

“ Aku melamarmu hari ini. Setelah sekian lama, setelah sekian banyak yang kita alami. So, will you…?”

Aku diam. Tak mampu berkata-kata. Hanya tetesan air mata bahagia memenuhi wajahku. Masih belum kujawab juga, karena terlalu larut dalam haru. Kutanya hatiku lagi:

“ So, will I …?’

Bersambung….

HCMC, 24 Juni 2010

-fon-

Sumber gambar:

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjcW2Aq8qU290DIyWXCsvc7X24svVcwCI2hprRQ3iqruMSNdqyEJHvK9fOH6HQDzxIsdjr7R7g2bMD12sjx_wqaLUHhxDnghwXlrLsaDvEzQodH-gbckuIpzUg6GWsg3YTqFeAdOmvSuJ5Y/s1600/Thank+God+I+found+You.jpg