Thursday, November 14, 2013

A Perfect Marriage



… There’s no such a perfect marriage…
If there is, that must be a marriage that tolerates, forgives, and loves one another as a couple…
And most of all, put God as the centre of it.

… Tidak ada pernikahan yang sempurna…
Jika ada, tentunya merupakan sebuah pernikahan yang dipenuhi toleransi, pengampunan, dan kasih antara pasangan suami- istri…
Dan di atas itu semua, menempatkan Tuhan sebagai pusat dari pernikahan itu sendiri.

(-fon-)

4 November 2013. Suntec City Mall-Singapore.

Hari itu kami sekeluarga ke Suntec City Mall di pusat kota Singapura.
Di tengah mengurusi berbagai keperluan di sana, mata saya tertuju pada kata-kata  “A Perfect Wedding” yang menjadi slogan pameran pernikahan di atrium mal tersebut.
Ada beberapa pakaian pengantin ditata rapi, juga ada beberapa semacam EO (Event Organizer) dan tempat resepsi pernikahan yang melakukan promosi.

Kata-kata itu terus bergema.
A Perfect Wedding.
Sebuah pernikahan yang sempurna.
Pestanya, perayaannya, pakaiannya, makanan yang disajikannya, juga sah secara agama dan sipil tentunya.
Rasanya, hal itu sangat mungkin terjadi.
Karena dua orang yang saling mengasihi, yang hendak berjanji setia, pasti akan memberikan yang terbaik sesuai kemampuannya.
Ada pesta yang sederhana, namun khusyuk.
Ada pesta yang mewah dan sangat meriah…
Semua sesuai kemampuan dan kondisi keuangan masing-masing tentunya.

Acara ‘wedding’ itu sendiri hanyalah sesuatu yang singkat.
Maksimal hanya sehari saja. Atau jika ada acara lanjutan, mungkin seminggu.
Namun, kehidupan sesudahnya adalah bagaimana menjalani tahun demi tahun pernikahan itu sendiri dengan tulus hati.

Beberapa sahabat yang sudah menjalani pernikahan, agaknya setuju bahwa tidak ada kisah ‘live happily ever after’, tanpa menyertakan toleransi, pengampunan dan kasih.
Serta menempatkan Tuhan sebagai pusat dari pernikahan itu sendiri.
Kekecewaan mungkin timbul.
Si Dia yang dulu rasanya ‘ngebelain gue banget’ koq sekarang jadi seperti itu saja?
Cuma segitu doang.
Belum lagi permasalahan tambah pelik dengan adanya perluasan anggota keluarga karena pernikahan.
Mertua, ipar, yang dulunya bukan siapa-siapa, sekarang mendadak jadi anggota keluarga yang tentunya butuh adaptasi juga.
Belum selesai adaptasi antarpribadi yang menikah, harus pula adaptasi dengan mertua dan ipar.
Tak jarang konflik pun terjadi, apalagi jika tinggal berdekatan atau serumah.

Jika hanya mengandalkan perasaan dan harapan untuk tidak pernah kecewa, agaknya pernikahan akan berakhir begitu cepatnya.
Tak aneh pula jika kita dengar di sekitar kita, sahabat kita yang baru saja melangsungkan pernikahan di hotel mewah dan megah, hanya dalam hitungan bulan sudah di ambang perceraian.
Belum lagi berita-berita infotainment dari selebriti yang kawin-cerai semudah beli baju, membuat lagi-lagi orang mempertanyakan: apakah masih ada kesetiaan dalam pernikahan?
Apakah lembaga ini menjadi begitu sulit dipertahankan?

Dalam sudut pandang saya pribadi, setelah menjalani pernikahan itu sendiri, saya sungguh sadar bahwa untuk tetap setia pada pasangan kita di zaman sekarang ini bukanlah hal gampang.
Begitu banyak godaan untuk lari dari kesetiaan itu sendiri.
Begitu banyak alasan yang seolah mengajak kita untuk mengingkari janji setia dengan pasangan kita.
Jika hanya mengandalkan kekuatan saya sendiri, agaknya sulit untuk mempertahankan ini semua.
Namun, itu semua menjadi MUNGKIN bahkan menjadi sesuatu yang harus DIPERJUANGKAN secara maksimal bersama Tuhan.

Bersama Tuhan, Dia akan hapuskan luka dan air mata kecewa.
Aku pernah dikecewakan pasanganku, sambil introspeksi diri juga, pasti aku pernah mengecewakan dia.
Tidak pernah aku melulu yang benar dan dia salah, tetapi pasti juga pernah aku yang salah dan harusnya aku minta maaf.
Salah paham, salah pengertian, pertengkaran, mungkin diam-diaman satu sama lain adalah hal yang pasti pernah terjadi di pernikahan.
Namun, bagaimana kita menyelesaikan perkara itu untuk kemudian menjalin suatu pengertian yang baru antar pasutri akan menjadi bekal yang memperkuat pernikahan itu sendiri di kemudian hari.

Apakah seolah begitu gampangnya dengan menyertakan Tuhan, segala sesuatu akan beres?
Saya percaya, kita semua sadari, tidak ada yang mudah di hidup ini.
Semua butuh proses dan perjuangan, dan itu yang menjadikan kita bertumbuh dewasa dalam iman, di dalam kebijaksanaan.
Bersama Tuhan, dengan keinginan luhur untuk mempertahankan kesetiaan pernikahan itu sendiri, saling memberikan diri yang terbaik bagi pasangan dan anak-anak yang dipercayakan-Nya, menjadi sesuatu yang mungkin.

Tetap setia kepada pasangan kita, tentunya merupakan hal yang harus diperjuangkan.

Tidak ada orang yang sempurna.
Dia tidak, saya pun tidak.
Hanya dengan berusaha saling memahami satu sama lain, saling menerima, lalu berdoa kepada Tuhan untuk dibukakan pintu maaf dan saling mengasihi, pernikahan itu semoga langgeng.
Dijauhkan dari segala bentuk perselingkuhan ataupun pengkhianatan. Perselingkuhan seolah merupakan obat yang pas bagi pasangan yang tengah bermasalah.
Padahal, perselingkuhan selalu membawa permasalahan baru.
Melukai pasangan, diri sendiri, anak-anak kita, dan kemungkinan anak-anak yang dihasilkan dari perselingkuhan itu nantinya…
Ini yang mungkin kurang disadari.

Hari ini, saya mengajak para pasangan suami istri untuk mengupayakan suatu pernikahan yang terbaik yang kita bisa.
Cintai pasangan kita, hargai mereka.
Kasihi mereka dengan kasih Tuhan.
Maafkan mereka, sebagaimana kita pun butuh dimaafkan jika kita berbuat salah.
Tetaplah setia.
Pernikahan yang sempurna hanya akan terjadi dengan menyertakan Tuhan yang sempurna itu ke dalamnya.
Semoga kita terus berpegang kepada-Nya.

14.11.2013

fon@sg