Wednesday, June 30, 2010

Instan


Kalau bisa cepat, ngapain nunggu?

Instan adalah pilihan yang paling baik, bukan? Berapa banyak dari kita senangnya kopi instan, teh instan, mie instan, bubur instan, dan instan-instan lainnya? Instan memang mudah, instan memang praktis. Apalagi kemasannya pun terkadang sekali pakai langsung buang, tak perlu cuci segala. Di zaman modern ini, agaknya segala sesuatu yang instan dan mempermudah manusia, menjadi sesuatu yang favorit. Karena manusia semakin berpacu dengan waktu, agaknya instan menjadi pilihan yang tepat.

Kalau bisa gampang, ngapain susah-susah?

Instan seolah juga menjadi jawaban manusia. Mempermudah atau mengurangi satu-dua step dan menjadikannya selesai lebih awal. Dan taraaa: makanan atau minuman itu siap disantap tanpa perlu menunggu terlalu lama. Dengan budaya instan yang sudah keburu menancapkan kukunya dengan kuat sehingga kita terlanjur sayang dan terbiasa dengannya, menjadikan kita sering kali mengharapkan hasil yang cepat dalam melakukan segala sesuatunya.

Tanpa sadar, kita pun terpengaruh dalam menghadapi hidup ini. Seringnya kita ingin cepat selesai dengan hasil baik. Kalau ada masalah, maunya hari itu juga selesai. Atau bahkan lebih ekstrim, detik itu saja, Tuhan! Proses menunggu seolah menjadi hal yang menjemukan. Inginnya: menunggu itu dihilangkan, langsung hasilnya, dengan pesanan: yang bagus ya, God! Kita terbiasa melakukan karbit terhadap segala sesuatu: buah diperam, ayam disuntik biar cepat besar, dsb. Bukan hal yang mudah ketika harus berhadapan dengan proses menunggu dan rangkaian pendewasaan diri di dalamnya.

Sayangnya, kita harus rela menunggu. Banyak kali dalam hidup, kita dihadapkan pada ketidakpastian yang mengombang-ambing kita. Terkadang ukurannya tahunan, bahkan puluhan tahun lamanya. Kalau bisa pesan paket instan ke Tuhan, pastinya semua dari kita sudah berlomba-lomba. Kabar baiknya, selama masa menunggu itu sebetulnya kita tidak sendirian. Tuhan selalu sertai kita, walaupun mungkin kita tidak menyadari kehadiran-Nya. Dia tak pernah ingin meninggalkan kita, apa pun kondisi kita. Seringnya kita yang lupa bahwa Tuhan ada di setiap kejadian hidup kita.

Instan, memang gampang. Instan memang memudahkan kita. Tetapi, dalam menghadapi hidup dan permasalahannya, agaknya kita pun harus rela menghadapi proses yang terkadang cukup panjang karena kita sadar bahwa setiap detik yang terlewati itu tentunya akan mendewasakan kita.

Saya yang sesekali kepengin juga makan mie instan karena memang enak rasanya itu, mudah-mudahan tidak melulu mengandalkan jalur-jalur instan kehidupan. Karena dengan menghilangkan rangkaian prosesnya, hidup seolah kehilangan makna dan pembelajaran di dalamnya…

HCMC, 30 Juni 2010

-fon-

Sumber gambar:

http://www.google.com.vn/imglanding?q=instant%20food&imgurl=http://image.made-in-china.com/2f0j00phTtGUYkUavR/Halal-Instant-Noodles-Cookzen-Brand-BRC-Food-.jpg&imgrefurl=http://noodle.en.made-in-china.com/product/YHJxAGTktnea/China-Halal-Instant-Noodles-Cookzen-Brand-BRC-Food-.html&usg=__rN4ilwr0e1A358EZvJW_sfi2pKU=&h=310&w=410&sz=30&hl=vi&itbs=1&tbnid=R_ddbxUJAe8PfM:&tbnh=95&tbnw=125&prev=/images%3Fq%3Dinstant%2Bfood%26hl%3Dvi%26gbv%3D2%26tbs%3Disch:1&gbv=2&tbs=isch:1&start=0

Tuesday, June 29, 2010

Rhythm of My Heart



Why is my heart lacking of something?

The beauty of its tone has already been fading.

I look into it,

Try to search everywhere for it

The one that will make my song complete


Then I met you,

I just realized

It’s destiny

That has brought us together

Having you beside me,

I know that my heart is singing a new song


You’re the sweetest thing in my life

My lollipop

My chocolate

My ice cream


Your voice has already filled the symphony of my heart

It has gently but yet strongly become a #1 hit.

All across the region of its pieces

Whether it’s north or south

Whether it’s east or west

You’re still ontop of my playlist


You’ll always be a part of me…

Who makes the rhythm sounds perfectly.

Thanks to you my honey…

For love and understanding beyond compare…


HCMC, 30 Juni 2010

-fon-

* inspired partially by Taeyang’s (Korean Superstar from Big Bang) Song: You’re My and mostly of all the romanticism that fills the air, that fills my heart tonight…Love is in the airrr!

source of picture:

http://www.google.com.vn/imglanding?q=romantic%20picture&imgurl=http://images.paraorkut.com/img/pics/images/r/romantic-1806.gif&imgrefurl=http://www.graphicshunt.com/search/1/dating.htm&usg=__vk4_yilNCiBy3ePCE8auzsurAa4=&h=282&w=307&sz=32&hl=vi&itbs=1&tbnid=astDy3WPqon3BM:&tbnh=107&tbnw=117&prev=/images%3Fq%3Dromantic%2Bpicture%26hl%3Dvi%26gbv%3D2%26tbs%3Disch:1&gbv=2&tbs=isch:1&start=1

Monday, June 28, 2010

1,2,3 Langkah Kecilku



1,2,3 kali kupernah terjatuh. Sakit, terluka, namun berusaha ‘tuk bangkit. Tidaklah mudah, terkadang seolah semuanya sia-sia apalagi ketika harus mulai kembali dari nol.

1,2,3 kali kupernah gagal. Gagal dalam banyak segi kehidupan. Menangis, kecewa, untuk kemudian berusaha untuk menguatkan diri. Sekaligus percaya pada-Nya, bahwa hari esok masih ada senyum ceria yang Dia tawarkan kembali. Tak selamanya hari mendung, akan ada hangatnya sinar mentari yang naungi hatiku sekali lagi.

1,2,3 kali kupernah ragu. Ragu saat hendak melangkah. Akankah langkah ini membuatku maju atau malah menghantarku celaka?

1,2,3 kupernah kecewa. Saat kucurahkan seluruh harap dalam hidup ini, ternyata berujung hal yang amat berbeda dari ekspektasiku. Pernah terasa amat sulit menerima kenyataan yang ada. Sedih pun seolah memilin hatiku dan memenuhinya dengan duka.

Tetapi yang aku tahu pasti…

1,2, 3 langkah kecilku selalu isi hari-hariku. Kuatkan hati dan diriku sekali lagi. Agar aku jangan berhenti. Agar aku terus melangkah dan berjalan. Meskipun perlahan, meskipun tertatih. Karena aku tahu, kesuksesan yang ada di ujung sana tetap menanti. Gagal hari ini, bukan berarti gagal seumur hidup. Justru gagal hari ini, berarti harus bangkit lagi dan belajar dari kesalahan sebelumnya.

1,2,3 kupanjatkan doa dari hati. Doa kepada Sang Pencipta. Agar diriku kembali ingat bahwa hanya Dia tempatku berlindung dari segenap susah dan gelisah. Sekaligus tempat kubawa seluruh tawa ceria dan sumringah, ketika hidupku yang selalu dilimpahi kasih-Nya menjadi wangi semerbak yang harum bagi sekitarku. Yang terpenting, aku tak lari dari-Nya dalam setiap keluh dan kesah. Juga selalu mencari-Nya ketika aku bahagia dan berbunga-bunga.

Karena dalam 1,2, 3, 4,5,6,7,8, 9, 100, 1000, bahkan sepanjang helaan nafasku, aku tahu Engkau ada di sana.

HCMC, 28 Juni 2010

-fon-

sumber gambar:

Sunday, June 27, 2010

Sekilas Info Buku Chapters of Life: From Nothing Into Something


BEREDAR SEKITAR PERTENGAHAN JULI 2010:
CHAPTERS OF LIFE: FROM NOTHING INTO SOMETHING (Menuliskan Kebaikan dari Hal-Hal yang sederhana), karya FONNY JODIKIN
184 hal + xii.
ISBN: 978-602-96333-8-2.

Penerbit: Kosakatakita (KKK)

Harga buku: Rp. 55.000,- (Lima puluh lima ribu rupiah)

Semasa preorder, sekarang sampai sekitar dua minggu setelah launching, dapatkan diskon khusus, sehingga harga buku menjadi: Rp. 50.000,- (lima puluh ribu rupiah) belum termasuk ongkos kirim.


Chapters of Life adalah kumpulan kisah yang dilihat, didengar, dipikirkan, dirasakan, dialami, dan dituliskan oleh penulis – Fonny Jodikin. Tentunya, dengan menambahkan imajinasi di dalamnya. Kisah-kisah ini awalnya ditulis sebagai bentuk perenungan atau refleksi pribadi penulis sebagai bentuk syukur pula atas inspirasi yang diizinkan untuk singgah di dalam hatinya.

Chapters of Life, babakan kehidupan, begitulah penulis senang menyebutnya. Karena bagi penulis, kehidupan itu sendiri adalah bab demi bab yang menjadikan buku kehidupannya sempurna. Satu kejadian dan kejadian lainnya merupakan kepingan puzzles yang menjadikan kehidupannya utuh. Hanya Yang Kuasa yang mampu melihat segala sesuatunya secara sempurna dan penulis berusaha menangkap setiap sinyal inspiratif yang dilemparkan oleh keadaan sekitar, dari hal-hal kecil yang terkadang remeh dan sederhana yang biasanya terlewatkan begitu saja, dan tetap berusaha menemukan pembelajaran di dalamnya. Sembari terus mempertahankan originalitasnya untuk terus menuliskan kebaikan dan hanya kebaikan, satu per satu tulisan ini memenuhi blog penulis dengan judul sama: Chapters of Life di http://fjodikin.blogspot.com/

Silakan membaca, merenungkan, menangis dan tertawa bersama dalam kumpulan kisah-kisah ini. Semoga kisah-kisah ini membawa sedikitnya harapan bahwa hidup dalam segala kesukarannya tak henti tetap menawarkan keindahan yang mungkin seolah tersembunyi. Tetapi ia --keindahan itu-- tetap ada di sana.

Komentar Mas Kurniawan Junaedhie (penulis senior), yang karyanya tersebar di mana-mana:

Sebagai orang yang beruntung baca naskahnya duluan, buku ini direkomendasikan. Ada tawa, senyum, dan kadang saya ingin menangis dibuatnya. Fonny lihai memaknai hal-hal yang tampak sepele dalam hidup kita dengan bahasa yang asyik. Selamat ya, Fonny! (copas dari Komentar beliau di FB).

Cara pemesanan:

  1. Karena penyebaran buku saat ini hanya melalui milis, fb, dan media-media online lainnya. Silakan pesan ke chapterslife@yahoo.co.id. Dengan menyertakan alamat pengiriman di Indonesia.
  2. Pembayaran melalui rekening bca penulis, nomor akan diberikan via inbox ketika Anda melakukan pemesanan. Mohon copy paste bukti pembayaran bila melalui klik bca, atau bisa di-scan bukti pembayaran via ATM dan mengirimkannya ke alamat email di atas (chapterslife@yahoo.co.id).
  3. Pertanyaan lebih lanjut bisa ditanyakan kepada penulis via email di atas atau via fesbuk, via fanpage Chapters of Fonny’s Life di facebook, atau via email penulis.

FYI, saat ini buku tengah proses cetak, semoga lancar dan pertengahan Juli sudah bisa beredar.

Terima kasih banyak buat perhatiannya dan dukungannya:)

-fon-

Being Mom: Di Balik Mulianya Ibu Rumah Tangga



Mulianya panggilan seorang Ibu Rumah Tangga—apalagi yang penuh waktu—tanpa harus dibagi dengan pekerjaan yang menyangkut kariernya, rasanya banyak orang (kalau tidak bisa dikatakan semuanya) sudah tahu.

Peranan membesarkan anak, bukan hanya memandanginya saja langsung jadi besar seketika. Namun, memang diperlukan kesabaran dan kasih yang besar dalam mendidik mereka menjadi manusia yang baik dan berguna. Sampai hari ini profesi itu masih saya jalani. Saya bahagia punya waktu yang banyak dengan puteri saya. Bila dia bangun tidur, saya masih berada di sisinya atau di dekatnya. Jika saya bekerja dan pastinya ini dialami para wanita karier, tak selalu bisa karena panggilan tugas di kantor sudah menunggu.

Selain itu, saya pun sadar bahwa panggilan ibu rumah tangga yang mulia ini juga memiliki beberapa hal yang harus saya pribadi perhatikan seperti:

  • Memiliki banyak waktu, sehingga tak jarang memboroskan waktu itu sendiri. Macam-macam sih pilihannya, misalnya saja suka internetan berjam-jam, ‘browsing’ yang aneh-aneh. Atau bagi para pengguna BB, waktu-waktu bersama anak juga mendapat saingan dari BB misalnya. Karena memiliki banyak waktu itu pula, seringnya bengong, melamun dan berpikir yang tidak-tidak. Tak jarang menjadi iri hati dengan tetangga yang lebih sukses atau bawaannya curigaan terus sama suami karena tak percaya diri karena terus menerus di rumah.
  • Masih dalam konteks memiliki banyak waktu sebetulnya, banyak pula acara yang biasa diikuti. Syukur-syukur itu acara ‘bergizi’ bagi jiwa dan spiritual, semisal pendalaman iman, pengajian bersama, ataupun aktif di vihara. Atau program yang baik bagi pengembangan diri misalnya training untuk menjadi kepribadian yang luwes, les bahasa, les menari , les memasak/ membuat kue, atau les rias wajah, dsb. Yang mengembangkan keahlian, yang membuat diri menjadi lebih baik, tak pernah salah dong tentunya. Namun, ada kalanya acara kumpul-kumpul semisal arisan, ketemuan, hang out, reunian, berujung saling marah-iri-dan memaki. Acara yang seharusnya menjadi hal-hal yang positif itu, malahan beraura negatif hanya karena perselisihan antarteman. Tak jarang acara yang sedianya bertujuan baik malahan menjadi acara yang memendam dendam kesumat. Saling benci, saling menggosipkan, saling ‘ngatain’ satu sama lain. Sungguh, sedih hati saya bila melihat hal-hal semacam ini. Tentunya bukan berarti saya super mulia dan tak pernah berdosa, tetapi sangat disayangkan jika apa yang awalnya baik, ternyata perkembangannya menjadi tidak sebaik rencananya.
  • Apa lagi, ya? Selain pemborosan waktu, gossip dan pikiran negatif di atas… Ada kalanya profesi ibu rumah tangga ini juga membuat Si Ibu punya waktu lebih buat jalan-jalan, shopping, dan makan-makan di luar. Tanpa sadar, anggaran belanja negara, ooppss maksudnya anggaran belanja keluarga jadi bengkak karena termasuk di dalamnya pos-pos tak terduga seperti: shopping di siang bolong saat anak sekolah. Dan seterusnya. Menghamburkan uang secara besar-besaran juga bisa dilakukan, disengaja atau tidak. Karena punya waktu lihat-lihat barang sambil cuci mata, maksudnya sih ‘window shopping’, tak jarang pulangnya bawa tentengan. Eh, belanja lagi, bu? Ya iyalah, wong di depan mata gitu lho… Sebetulnya, sayang ya, uang itu terkadang bisa dipakai untuk keperluan lain bukan melulu melampiaskan nafsu belanja ke kanan-kiri. Tetapi kadang namanya ‘lapar mata’ itu terkadang susah juga ternyata… Memang harus betul-betul mengendalikan diri, karena jangan sampai uang yang sedianya buat keperluan rumah atau les anak, jadi malah terpakai buat kesenangan Si Mama belaka.
  • Terkadang karena tak habis-habisnya pekerjaan rumah tangga, ibu rumah tangga seringnya keletihan juga. Dan kalau capek, kadang emosinya bisa naik tiba-tiba. Anak yang sedang main, kurang tertib dikit, bisa-bisa dimarahi. Padahal ya, namanya juga anak-anak. Sama halnya dengan suami, bisa tiba-tiba kena damprat istri yang kecapekan. Penting bagi ibu rumah tangga tanpa ‘nanny’ atau pembantu, untuk mencari waktu istirahat juga biar tidak kelelahan. Dengan demikian bisa mengurus rumah tangga, anak, dan suami dengan lebih baik lagi.

Tulisan ini sedianya buat mengingatkan saya pribadi untuk tetap memanfaatkan waktu-waktu saya yang cukup banyak lowongnya ini untuk hal-hal yang baik. Menulis hal-hal yang baik misalnya dan bukan mengisinya dengan hal-hal yang kurang baik, itu saja sih sebetulnya. Tentunya, saya pun masih terus berjuang dalam mengatasi hal-hal tersebut. Teori selalu lebih mudah daripada praktiknya, bukan? Tetapi biarlah saya terus berusaha yang meskipun jatuh bangun (kayak lagu dangdut ya? Hehehe), tetapi tidak menyerah untuk terus tetap jadi Ibu RT yang efektif dan efisien :) Pastinya, saya masih jauhhhh dari sempurna. Tiap hari adalah hari baru buat saya belajar untuk menjadi lebih baik. Menjadi ibu yang lebih baik bagi anak kami, istri yang lebih baik bagi suami saya. Dan mudah-mudahan orang yang lebih baik hari lepas hari.

HCMC, 26 Juni 2010

-fon-

Sumber gambar:

http://www.google.com.vn/imglanding?q=ibu%20rumah%20tangga&imgurl=http://nittaprasetya.com/wp-content/uploads/2009/04/bukan-ibu-rumah-tangga-biasa-300x196.jpg&imgrefurl=http://www.zimbio.com/member/nittap/articles/6005991/Bukan%2BIbu%2BRumah%2BTangga%2BBiasa&usg=__JJxGQ5O6KhlyfaP0A48LJOtv8Ug=&h=196&w=300&sz=15&hl=vi&itbs=1&tbnid=ZToJWEm9fsdaGM:&tbnh=76&tbnw=116&prev=/images%3Fq%3Dibu%2Brumah%2Btangga%26hl%3Dvi%26gbv%3D2%26tbs%3Disch:1&gbv=2&tbs=isch:1&start=11


Thursday, June 24, 2010

Thank God I Found You Part 14



*** Episode: Kejutan Ulang Tahun

Previously on Thank God I Found You part 13 (Episode: A Nightmare in Paris)

Suasana bulan madu yang seharusnya ceria, menjadi mimpi buruk buat Susi karena ternyata Willem mengidap sakit jiwa. Di Hotel Four Season di Paris, Willem bukan saja mengancam nyawa Susi, melainkan juga merusakkan seluruh isi kamarnya dengan menusukkan pisau ke bantal, ranjang dan sofanya. Susi meninggalkan Willem dan bergegas berangkat ke airport, tujuannya: Singapura. Dia tak lagi peduli pada Willem yang telah membuat impian indahnya soal perkawinan porak poranda. Willem ditangkap polisi. Sementara Jason dan Vita belum banyak perkembangan dalam relasi mereka, hanya menjalani apa adanya. Jason akan berulang tahun dan Vita menyiapkan pesta ultahnya di panti asuhan dekat rumah. Bagaimana kelanjutan kisahnya? Simak di episode berikut ini.

Episode: Kejutan Ulang Tahun

Sabtu siang.

Kusiapkan semuanya dengan rapi. Mulai dari nasi kotak isi ayam goreng, sambal kentang, agar-agar, dan buah pisang. Sedikit donat untuk kudapan anak-anak di panti, juga bingkisan sederhana. Nasi kotak dan donat, tentunya pesan saja biar praktis. Jadi aku bisa persiapan bingkisan sederhana buat mereka yang isinya pensil warna, buku mewarnai, dan sedikit makanan kecil juga seperti: kacang, jelly, dan permen. Semacam ‘goodie bag’ ulang tahun yang biasa disediakan pas ultah anak-anak. Tapi ini terbalik, Jason yang memberikannya pada mereka. Pihak Panti Asuhan Kasih sudah kuhubungi. Nasi kotak dan donat akan langsung diantarkan ke mereka, Aku membawa goodie bag bagi ke-20 anak yang ada di sana. Kuantar terlebih dahulu juga. Sehingga ketika Jason tiba, hanya kuajak berkunjung ke sana tanpa persiapan apa pun, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan baginya.

Janji kami di jam tiga sore. Jadi, sekitar pukul empat aku akan pergi ke Panti bersama Jason. Sehabis anak-anak itu bangun tidur siang mereka.

Tiba-tiba, ketika sibuk-sibuk mengurusi acara ini, hatiku kembali teringat Santi. Ah, andai saja Santi masih hidup dan berada di sisiku. Pasti sobat baikku itu akan ikut-ikutan repot, ikut-ikutan membantu semampunya, seperti yang dia selalu lakukan selama ini. Santi, I miss you! Kupanjatkan doa singkat dalam hatiku, sungguh kerinduan terhadap sobat sepertimu tak mudah hilang dari hatiku.

Ting tong.

Bel pintu rumahku berbunyi. Kulihat jam di dinding kamar biruku. Jam 03.10 sore. Agak terlambat dari biasanya, karena biasanya Jason tak pernah terlambat.

“ Selamat ulang tahun, Jason!” Kubuka pintu rumahku dengan senyuman. Kupeluk dia dengan hangat. Kekasihku yang baik hati itu hari ini menapaki usianya di kepala 4. Cukup tua? Mungkin iya. Cukup dewasa tepatnya. Namun, beberapa orang bilang bahwa ‘life begins at 40’, bukan?

Dia menyambutku ramah. Penuh senyuman. Dan binar matanya itu lho. Tak hilang dari tatapannya ketika memandangku. Tiba-tiba kurasakan desiran halus. Kelembutan yang menguak rasa di hatiku, ketika saat-saat pertama kali kami saling jatuh cinta.

Kugenggam tangannya perlahan. Waktu sudah menunjukkan pukul 15.45. Perjalanan ke Panti hanya makan waktu kurang dari sepuluh menit sebetulnya. Tapi, karena tak mau terlambat, aku mengajaknya pergi sekarang.

“ Yuk, kita pergi, “ ajakku.

“ Ke mana?” Tanya Jason.

“ Udah, ikut aja, “ sambungku dalam tawa ceria.

Panti Asuhan Kasih, dua gang dari rumahku. Jam 15.55 .

Kami disambut oleh Ibu Ayu, sebagai kepala panti. Ibu Ayu sudah menerimaku beberapa hari sebelumnya ketika tercetus ide untuk membuat perayaan ultah kejutan buat Jason.

Anak-anak sudah berbaris rapi menyambut kami di ruang serba guna di panti asuhan ini. Mereka menyalami kami satu per satu. Anak-anak yang berusia lima sampai sebelas tahun itu berjumlah dua puluh orang. Panti Asuhan Kasih sendiri punya anak-anak bayi dan anak-anak yang sudah beranjak ABG, tetapi mereka tidak ikutan hanya dikhususkan bagi anak-anak ini saja.

Setelah itu, mereka duduk bersama-sama di ruang serba guna itu. Di kursi dan meja kecil yang terbuat dari kayu berwarna-warni: biru, merah, kuning, Menambah keceriaan di ruangan kecil itu. Tak lama, asisten Ibu Ayu keluar dengan kue ulang tahun. Black forrest dengan lilin angka 40. Jason menitikkan air mata, perlahan. Jarang kulihat dia begini. Tampaknya dia amat tak menyangka hadiah ulang tahun tak terduga macam ini.

Perlahan ditiupnya lilin ulang tahun itu, diiringi lagu Selamat Ulang Tahun dari anak-anak panti. Sebelumnya Jason sempat mengucapkan harapan dan doa singkatnya sebelum potong kue. Potongan kue pertama diberikannya padaku, diiringi sun di pipi kanan-kiriku. Aku tersenyum bahagia campur haru menyambutnya. Tak sia-sia acara ini kurencanakan dan berhasil membuat kenangan manis tanpa perlu menghamburkan uang di hotel atau restoran mewah.

Dibagikannya goodie bag yang sudah kusediakan. Tak lama kotak makanan pun disajikan. Lengkap dengan sepiring donat yang disambut dengan gegap gempita oleh anak-anak panti. Terkadang, terlalu sering kita menghamburkan uang untuk hal-hal yang tak perlu, padahal dalam kesederhanaan berbagi dengan anak-anak panti ini, perasaan yang kami rasakan tak bisa terlukiskan dengan kata-kata.

Tak lama, kami pun berkemas. Anak-anak mengucapkan terima kasih. Ibu Ayu dan asistennya juga. Lalu, kami pamit, mohon diri.

***

Kantor Polisi Paris.

Willem masih berteriak-teriak dari selnya. Sementara dari Kedutaan Besar Indonesia di Paris, sudah mengirimkan kuasa hukumnya yang datang bersama Mama dan Papa Willem. Mereka kebingungan ketika mendapat berita dari KBRI Paris mengenai hal ini. Karena, seharusnya anak mereka sedang dalam bulan madu yang romantis dan mahal. Mengapa sampai dia ada di kantor polisi? Dan di mana menantu kebanggaan mereka yang cantik jelita itu? Susi? Hilang tak tentu rimbanya.

Setelah bercakap-cakap dengan pihak kuasa hukum dan polisi. Akhirnya, Willem dibebaskan karena dianggap mengalami gangguan kejiwaan. Segala sesuatu yang dilakukannya di luar keadaan waras, tak bisa dipertanggungjawabkan. Tetapi, tentunya orang tua Willem harus mengganti semua kerugian yang diderita oleh Four Season Hotel yang jumlahnya puluhan ribu Euro. Tak mengapa, karena mereka punya banyak uang.

Mama Willem menjadi ‘shock’ juga atas kejadian ini. Dikiranya perkawinan dengan Susi akan menyelesaikan masalah Willem. Ternyata, malah bikin masalah baru. Dengan hati pilu, mereka bergegas meninggalkan bandara Charles de Gaulle, Paris. Kondisi Willem masih diberikan obat penenang, namun tidak terlalu besar dosisnya. Sehingga ia masih sadar, walaupun pikirannya melayang. Entah ke mana. Matanya nanar. Diambilnya bolpen dan kertas selebaran yang tercecer begitu saja. Dituliskannya dengan huruf besar. SUSI.

***

Singapore. Vivo City Mall.

Kawasan Harbourfront di malam hari.

Susi duduk di The Queen & Mangosteen, restoran merangkap pub yang berada di lantai 1 Vivocity ini. Pemandangan yang menghadap keluar, melihat Sentosa dan melihat perairan di sekitarnya, membuat suasana semakin klop, indah tepatnya. Susi berada di teras tempat ini. Sambil merenungkan semua kehidupannya selama ini. Dia sudah berusaha jadi orang baik, sudah berusaha mencintai dan memang akhirnya jatuh cinta betulan pada Willem. Willem sendiri amat cinta padanya, namun tak disangka-sangka Willem menderita penyakit sejenis Schizophrenia atau yang juga sering dituliskan sebagai Skizofrenia, yang bisa timbul tenggelam. Dan yang pasti selalu memiliki kecurigaan berlebihan terhadap sekitar. Selalu merasa diintai, selalu merasa tidak aman dan tak bisa percaya kepada orang lain. Itu yang Susi lihat. Belum tentu sih, itu akan berkembang menjadi Skizo yang berat. Tetapi, resikonya Susi bisa mati jika hidup bersama dengan Willem, terutama ketika Willem kumat dan tak mau lagi mendengar ucapannya. Tak selalu dia akan seberuntung ketika mereka di Paris, ketika Willem menuruti saja ucapannya dan mau minum obat penenang. Kalau tidak, dia tetap mengamuk dan melukai Susi, apa jadinya? Susi bisa mati seketika.

Bergidik memikirkan kemungkinan hidupnya yang cukup mengerikan itu, Susi melanjutkan minum vodkanya, sambil makan mini burger yang memang diminati di pub tersebut. Tanpa disadarinya, seorang pria asing dari tadi memandangi wajahnya. Pria bule itu mengagumi kecantikannya, seperti pria-pria pada umumnya. Dia sendiri amat tampan. Wajahnya mirip-mirip VJ Dom, dari Channel V itu. Perpaduan Asia dan bule, tetapi dominan bulenya.

Tergerak untuk mengenal Susi lebih jauh, pria itu bergegas mengambil botol bir yang ada di tangannya dan mulai mendekati meja Susi.

“ Can I sit here?” tanyanya.

“ Yes, sure.” Susi tak terlalu memperhatikan wajah Si Pria. Yang dia butuh adalah seorang teman dan perhatian seorang pria seperti yang selalu dia dapatkan tanpa henti dalam hidupnya.

“ May I know your name?” Tanya pria itu lagi.

“ Susi, “ ujarnya sambil mengulurkan tangannya dengan agak malas, setengah menunduk tadinya, mendongak juga ketika dia harus bersalaman dan melihat betapa tampannya pria di hadapannya. Langsung dilebarkannya sudut-sudut bibirnya, mengulum senyum menggoda. Dan Si Pria semakin terpana.

“ Hi, I’m Victor. You can call me Vic. Nice to meet you.” Ujarnya ramah dengan suara yang merdu, semerdu suara para penyiar atau penyanyi mungkin. Atau mungkin suaranya biasa saja, namun terdengar merdu di telinga Susi karena ketampanannya? Ah, entahlah. Yang pasti, barang bagus begini di tengah suasana hati suntuk, tak boleh dilewatkan begitu saja ujarnya.

Mereka mulai bicara, bercanda. Dan menjadi akrab secara tiba-tiba… Sesaat, Susi pun jadi lupa statusnya yang sudah bersuami dan melarikan diri dari sisinya.

Lampu masih bersinar menerangi wajah Susi dan Vic. Vivocity. The Queen & Mangosteen jadi saksi senyawa kimia yang beterbangan di udara akibat ketertarikan antarmereka yang luar biasa…

***

Jason tidak langsung mengajakku pulang. Kami berkeliling kota sebentar dan menuju ke kawasan Kemang. Di Kemang, kami masuk ke Chi Chi’s Mexican Restaurant. Aneh bagiku, karena Jason bukan tipe yang mau menghambur-hamburkan uangnya seperti itu. Perlahan, pintu Chi Chi’s terbuka. Kami disambut alunan violin merdu, lagu cinta. Lagu Valentine, Martina Mc Bride bergema. Dan pelayan restoran telah menyediakan buket bunga mawar merah untuk Jason yang kemudian diserahkannya padaku . Isinya selusin bunga mawar merah, tanda cintanya.

Aku yang bengong, tak percaya dengan semua ini. Harusnya kejutan itu untuknya dan bukan untukku karena ini hari ulang tahunnya. Kejutan ulang tahunnya juga berlaku buatku. Tetapi, mengapa dia lakukan ini semua?

Dan kurasa sebetulnya tak perlu. Baru saja ingin kutanyakan pada dirinya, baru akan membuka mulutku, jari telunjuknya menghentikan ucapanku.

“Nikmati saja, semuanya, Vit. Ini untukmu.”

Ujarnya seraya menyodorkan cincin itu di hadapanku.

“ Aku melamarmu hari ini. Setelah sekian lama, setelah sekian banyak yang kita alami. So, will you…?”

Aku diam. Tak mampu berkata-kata. Hanya tetesan air mata bahagia memenuhi wajahku. Masih belum kujawab juga, karena terlalu larut dalam haru. Kutanya hatiku lagi:

“ So, will I …?’

Bersambung….

HCMC, 24 Juni 2010

-fon-

Sumber gambar:

http://3.bp.blogspot.com/_6X61jPk8PYg/TAX5QBH_wxI/AAAAAAAAAhY/l0aio9dvEx4/s1600/Thank+God+I+found+You.jpg

Wednesday, June 23, 2010

Hebat


Hebat

Manusia punya tendensi untuk tinggi hati. Ketika menuliskan manusia, tentunya itu termasuk saya yang kalau dipuji sedikit – bangga, sukses sedikit- hidung langsung kembang-kempis. Makanya, tidak heran juga jika Dia tidak berikan semuanya sekaligus. Ada kalanya, kehidupan seolah menghancurkan semuanya dan menjadikannya baru. Terus terang, ketika merasakan kehilangan semuanya yang seolah milik saya yang harus saya pertahankan terus-menerus, saya pernah marah dan sakit hati. Tuhan, saya ‘kan sudah berjuang untuk mendapatkan itu semua? Seolah semua hasil jerih payah saya hilang begitu saja, semudah menjentikkan jari.

Tetapi, belakangan saya sadari…

Kalau semuanya lancar melulu. Rumah tangga baik, karir melesat, uang ada dan tak pernah kekurangan, saya jadinya kurang mensyukuri segala sesuatunya. Atau mungkin kata syukur seolah hanyalah basa-basi, padahal dalam hati? Belum tentu. Ketika kenyamanan ditarik dari diri saya sebagaimana kisah Ayub dalam kitab suci, masihkah saya bisa mengucap syukur? Jujurnya, pasti nangis bombay. Padahal pencobaan yang datang ke kehidupan saya belumlah seberat Ayub.

Kalau semua bisa saya dapatkan dengan mudah. Sedikit usaha bisa bikin maju, saya jadinya cenderung tambah arogan. Lihat nih, akuuuu! Menepuk dada, bangga bukan kepalang. Saat-saat itu terkadang menjadi saat-saat yang melemahkan jiwa dan hubungan saya dengan Sang Pencipta. Saat-saat saya merasa saya hebat dan Tuhan enggak ada apa-apanya. Semua ini bisa tercapai karena kehebatan saya sendiri. Makanya, sebelum diberi kesuksesan sepenuhnya, banyak kali ujian kepribadian itu yang terus datang. Oh, bukan berarti mereka yang sukses selalu sombong. Banyak juga mereka yang baru tanggung-tanggung, setengah seleb atau baru kaya, sombongnya selangit. Tak kalah banyaknya mereka yang mampu, pintar, dan punya banyak keahlian termasuk punya banyak uang, malahan adalah pribadi-pribadi rendah hati. Kita pasti pernah melihat dengan mata kepala sendiri, bukan?

Kegagalan memang diperlukan sesekali dalam kehidupan, biar tidak merasa sombong sendiri. Ketidakberhasilan bukan berarti kiamat, karena pasti ada jalan keluar, masalahnya seringnya saya sudah keburu menepuk dada itu tadi jadinya saya keburu stress bila kegagalan menyapa dengan ramah. Beruntun datangnya, tak henti-henti.

Dalam kegagalan dan kesesakan, saya belajar. Ada pribadi yang lebih hebat dari saya yang penguasa segalanya termasuk hidup saya yang cuma seiprit itu. Dalam masa-masa sulit, saya kembali disadarkan: mau sombong, mau tinggi hati, mau bertingkah sok luar biasa, semuanya tak ada guna. Ketika semua yang hanya titipan-Nya itu ditarik dari hidup saya, masih bisakah saya meneriakkan dengan lantang kehebatan diriku?

Akhirnya, kembali saya mengakui bahwa tiada pribadi lain yang lebih hebat ketimbang diri-Nya. Sang Pencipta. Tugas saya, hanya memelihara yang diberikan-Nya. Terus berusaha giat dalam hidup walaupun hasilnya belum tentu sesuai harapan saya karena Dia yang empunya rencana tahu yang lebih dahsyat ketimbang apa yang saya lihat di depan saya. Dan tetap rendah hati. Karena yang HEBAT di atas segala yang hebat, hanya Dia!

HCMC, 23 Juni 2010

-fon-

* tak lagi mau merasa paling hebat sendirian. Malu!:)


Sumber gambar:
http://www.google.com.vn/imglanding?q=super%20baby&imgurl=http://www.nicholasmcintosh.com/site/ssp_director/albums/album-5/lg/NMP.super-baby.1.jpg&imgrefurl=http://www.nicholasmcintosh.com/site/portfolio_people.php&usg=__VojY_WMzZhdntL7yMMKhjHfzkLk=&h=508&w=341&sz=104&hl=vi&itbs=1&tbnid=Ql9zYem6piJ_pM:&tbnh=131&tbnw=88&prev=/images%3Fq%3Dsuper%2Bbaby%26hl%3Dvi%26gbv%3D2%26tbs%3Disch:1&gbv=2&tbs=isch:1&start=10

Tuesday, June 22, 2010

Ilfil



lihat wajahmu

bosan

lihat senyummu

segan


sebelumnya

tak pernah kurasakan itu

mungkin tingkah lebaymu

bikin terbang rasaku


kepalsuanmu

dan kemunafikanmu

kembangkan ilfil di rasaku

meluap asmara ditiup sang bayu


di depan orang kamu pencerah pesta

saat denganku

perlakuanmu bak seekor anjing

harus terus terikat padamu


wahai, Tuanku...

sebelum nasibku kautentukan

tak sudi diriku mati di tanganmu

lama-lama bisa hilang warasku

bila terus di sisimu


usah lagi rajut kasih kita

jika tali-temalinya sudah tak lagi senada

biar kita ucap kata pisah saja

tiada guna lagi bersama


kubanting pintu hatiku

jangan lagi kau bertamu

cukup sudah, Tuanku

ilfilllll itu kataku!


HCMC, 22 Juni 2010

-fon-

sumber gambar:

http://www.google.com.vn/imglanding?q=broken%20heart%20woman&imgurl=http://farm3.static.flickr.com/2092/2485828126_7295a0a0ea.jpg&imgrefurl=http://www.flickr.com/photos/23881422%40N08/2485828126/&usg=__mqCbjHqYZswgQx7gZT3HAlW4KRg=&h=282&w=426&sz=32&hl=vi&itbs=1&tbnid=8iz4ddSxpYt6YM:&tbnh=83&tbnw=126&prev=/images%3Fq%3Dbroken%2Bheart%2Bwoman%26hl%3Dvi%26gbv%3D2%26tbs%3Disch:1&gbv=2&tbs=isch:1&start=0

Monday, June 21, 2010

Tembang Sunyi



*** cerpen

Duduk termenung, dalam diam. Mendengarkan alunan lagunya dalam hatiku, walaupun kutahu yang dominan adalah kesunyian dalam jiwaku. Sejak Didik pergi untuk selamanya dari hidupku, yang kulagukan hanya tembang sunyi. Tak ada lagi ceria, tak ada lagi senyuman sumringah. Ya, aku berduka. Tetesan air mataku bila kukumpulkan takkan mampu ditampung oleh galonan air mineral. Sudah letih, teramat lelah aku menangisi dan menyesali semuanya.

Didik --- suamiku itu--- kujumpai di saat kami sama-sama ikut satu seminar yang diselenggarakan tempat kami bekerja. Kami dikirim perusahaan kami untuk menghadiri seminar tentang manajemen selama tiga hari. Aku dan Didik sekelompok waktu itu. Herannya, aku juga langsung merasa cocok dengannya. Tidak berpikir panjang, hanya ingin bersahabat dengan dirinya yang ramah dan baik hati. Tiap kali dia berkomentar, tak pernah terkesan sombong. Walaupun di sana kami sama-sama tahu posisi dan jabatan setiap orang karena saling bertukar kartu nama. Bahkan di nama yang ada di meja kami, yang terbuat dari kertas karton warna putih, selalu menuliskan: nama, jabatan, dan gelar pendidikan. Didik yang banyak gelar itu, tak pernah merasa sombong. Untuk ukuran orang yang sepintar dia, dia amat rendah hati. Aku? Oh, aku sendiri hanya anak baru di perusahaanku yang kebetulan kena ciprat rezeki ketika boss-ku yang seharusnya menghadiri seminar itu membatalkannya di saat-saat terakhir, karena dia diminta datang ke kantor pusat kami di Singapura. Jadinya, daripada sayang tak terpakai, aku yang disuruh ikut karena perusahaan sudah membayar cukup mahal untuk acara-acara seminar semacam itu.

Seminar dilangsungkan di Hotel berbintang di kawasan Sudirman. Tak jauh dari Bundaran HI. Aku bahagia, sekaligus senang. Karena seminar-seminar semacam ini, bukan saja bermutu tetapi juga memberikanku peluang untuk bertemu banyak orang yang kupikir jauh lebih hebat ketimbang seseorang yang baru menapaki karier sepertiku. Di situ, senang itu berlanjut, ketika aku benar-benar jatuh cinta pada Didik. Maksudku, cinta yang aku tak tahu akankah mengembangkan sayapnya atau tidak. Mungkin lebih tepatnya ketertarikan luar biasa akan dirinya. Dengan posisinya, wajahnya dan kerendahan-hatinya, rasanya tak mungkin dia tak punya pacar. Seharusnya malah dia sudah menikah dan punya anak. Biasanya begitu bukan? Pria-pria yang disebut dengan istilah ‘eligible bachelor’ biasanya sudah ‘taken’ atau sudah dimiliki oleh para wanita yang beruntung menjadi istrinya.

Kupendam perasaanku. Hanya Tuhan yang tahu. Tapi, aku cukup puas hanya dapat nomor telepon kantornya dan emailnya. Cukup. Itu saja. Jangan biarkan rasa ini berkembang, Tuhan. Kalau dia takkan mungkin jadi milikku….

Seminggu sesudah seminar itu.

Pagi itu, aku mendapatkan email pertama darinya.

Subject: Hi.

Sender: Didik Martin Sudarmanto.

Dengan gugup, setengah bahagia, kubuka surat elektronik itu.

Hai, Julie, apa kabar?

Bagaimana dengan acara temu kangen Sabtu ini. Apa kamu ikutan?

Ikut yuk, kita ketemuan di sana sambil cerita-cerita.

Salam hangat,

Didik.

Kukucek mataku. Tiga kali. Tak percaya ini terjadi. Bahagia, berbunga-bunga, semua jadi satu. Ah, tapi…Masih terlalu pagi untuk memikirkan hubungan ini akan berkembang jauh. Dia memang ramah dan bersahabat. Jangan-jangan kepada semua teman, dia juga kirim message yang sama. Kucoba menenangkan pikiranku. Jangan ge-er dulu, nanti malu sendiri…! Julie, Julie… Mbok ya sadar diri… Membumi … Kembali berpijak di lantai dan dilarang melayang-layang ke ruang angkasa tak tentu arah.Padahal balon udara warna-warni sudah membawaku terbang tinggi ke awan biru. Mudah-mudahan aku bisa tetap sadar dan realistis. Tapiii, alangkah sulitnya! Aku rasa aku tengah dimabuk asmara….:)

Sabtu tiba. Kami bertemu. Lagi.

Suasana santai dan ceria berbaur dengan keakraban yang tercipta. Tidak banyak yang bertemu muka. Maksudku, tidak semua peserta seminar itu. Tetapi, sekitar sepuluh orang ini adalah orang-orang yang ceria dan ‘rame’. Suasana semakin hidup. Dari makan siang, kami lanjut nonton bioskop. Setelahnya, masih lanjut minum kopi. Nggak pulang-pulang. Betah? Aku sih IYA! Dan Didik juga ramah betul. Ehm, harusnya kupanggil dia Mas Didik atau Pak Didik, karena umur kami terpaut sepuluh tahun lebih. Tetapi, aku tidak melakukannya. Dia sendiri yang melarangku karena tak mau terlihat terlalu tua katanya. Diam-diam, aku mencatat senyum dan tatap matanya yang sedikit berbeda ketika menatapku. Aku menikmatinya. Aku tak tahu harus bagaimana. Yang pasti aku senang karena Didik masih seorang diri saja, begitu pengakuannya.

Setahun kemudian.

Didik resmi meminangku. Kami akan menikah tiga bulan kemudian. Didik sampai saat itu terus konsisten dengan cinta dan perhatiannya padaku. Dia selama ini memiliki trauma. Sempat bertunangan dan tunangannya meninggal ketika berlibur ke Eropa. Sekeluarga meninggal semua. Didik shock dan panik, tak tahu harus bagaimana. Setelah itu, hidupnya diisi kerja, sekolah, kuliah, seminar, dan sejenisnya. Tetap ramah pada semua orang, tetapi menutup hatinya buat urusan cinta. Entah mengapa katanya ketika dia jumpa denganku, dia tak lagi kuasa lakukan hal itu. Setelah tiga tahun dia berduka dan menutup dirinya, katanya dia merasa melihat keajaiban cinta ketika dia berjumpa denganku. Ah, bahagianya… Ternyata gayung bersambut jua, aku tak bertepuk sebelah tangan:)

Didik. Ya, aku bangga jadi istrinya. Dengan seluruh atribut yang ada pada dirinya, Aku bahagia. Dengan seluruh kebaikan hatinya, aku bersyukur tanpa henti kepada Sang Pencipta untuk kesempatan menikmati hari-hari bahagia bersamanya. Pernikahan kami menyenangkan untuk dijalani. Dengan segala perbedaan, dengan percekcokan mengenai hal-hal yang ringan semisal memencet odol sampai mengatur meja makan. Itu semua mewarnai kehidupan baru yang tengah kami arungi.

Pagi itu setelah genap setahun pernikahan kami.

Hari itu entah kenapa dia tak mau makan. Wajahnya kuyu, agak pucat. Kutawarkan sarapan apa pun, dia menolak. Dia tak mau. Nanti saja di kantor begitu ujarnya. Aku masih berusaha memberikan sebungkus sereal rasa cokelat untuk persiapan dia seandainya lapar di kantor. Dia masih bungkam. Tanpa suara. Kutanya kenapa, dia juga tak menjawabnya. Hanya bilang: “ Gak pa-pa.”

Hari itu adalah hari yang paling tak mengenakkan setelah kami mengarungi bahtera rumah tangga ini selama setahun. Dia diam seribu bahasa, meninggalkan aku dalam kebingungan. Pak Sabar, Sopir pribadinya tak juga diajaknya bicara banyak seperti biasa. Dia masih diam. Mengantarku ke kantor, melambaikan tangan, lalu menuju kantornya seperti biasa.

Pagi itu pagi terakhir kami bersama. Karena siangnya, dia sakit. Parah. Dan langsung masuk ke Rumah Sakit. Stroke itu sudah merenggut nyawanya. Dia tak pernah bilang kalau dia ada kelainan jantung bawaan dari kecil. Didik pergi untuk selamanya, di usianya yang ke-45.

Saat dia pergi, aku menangis, meraung. Merasa hidup tak adil. Mengapa baru sebentar kukecap nikmatnya kehidupan berumah tangga bersama seorang suami seperti Didik, lalu semua itu direnggut dari hidupku? Mengapa???

Setelah itu aku banyak diam. Bengong. Merenung. Menangis. Diam lagi. Tidur lalu terbangun dalam kepiluan luar biasa. Perlahan, kubuka foto-foto pernikahan kami yang tertata rapi di album hasil jepretan fotografer ternama di ibukota. Foto-foto kami di Pulau Bali dengan romantisme yang menyelimuti hati kami. Masih terlalu pagi untuk ucapkan selamat tinggal. Apalagi, tanpa setahu Didik, diam-diam aku sudah hamil. Malam itu aku berencana memberitahukannya. Sebetulnya dari pagi, aku sudah tak sabar ingin memberitahukannya. Tapi, apa boleh buat, ketika kulihat raut wajahnya yang sedih-pucat dan seolah menahan sakit, aku menahan diriku untuk bercerita. Nanti malam saja ujarku. Ternyata, malam itu dia sudah harus bersemayam di rumah duka. Dalam jeritan tangisku, kukatakan: “ Bagaimana anak kita nanti, Dik? Dia takkan pernah lihat wajah Papanya???”

Didik terbaring dalam senyuman. Dalam pucatnya wajahnya, dalam balutan jas yang dipakainya saat hari pernikahan kami. Saat dia masuk ke liang kubur, aku pingsan. Tak kuasa menyaksikan pemandangan itu. Terlalu cepat, Tuhan, segala sesuatunya kaurenggut dari sisiku. Sejujurnya, aku belum siap…

Sebulan sesudah meninggalnya Didik.

Aku tinggal di rumah orang tuaku lagi. Karena orang tua Didik jauh di Semarang sana, sementara aku dan pekerjaanku di Jakarta jadi aku pun tak bisa pindah begitu saja. Perlahan, aku menapaki hari-hari sepiku tanpa dirinya. Tembang itu masih bergema di jiwaku. Tembang sepi. Bisu. Karena aku terus mengheningkan cipta dan seolah seisi bumi mati rasa saat Didik pergi tinggalkan aku.

Kehamilanku berjalan lancar, walaupun aku mengalami ‘morning sickness’ berupa muntah-muntah di pagi hari. Oh iya, aku juga ngidam. Ngidamnya makan buah mangga melulu. Setiap hari. Aku mencoba datang kembali ke rumah yang kami diami. Rumah kecil, tetapi asri bergaya minimalis. Berwarna putih bersih, kesukaan Didik. Perlahan aku mencoba membereskan baju-bajunya yang tidak lagi terpakai. Berpikir akan menyimpan beberapa yang terbaik saja, sambil menyumbangkan sisanya. Karena terlalu banyak juga rasanya buat apa dan aku juga tak ingin memandangi itu semua sebagai gundukan kenangan yang terus semakin tinggi serta membuat perih itu tak sembuh-sembuh. Aku juga tak bisa membayangkan sebetulnya, bagaimana kehidupan anakku nantinya? Kondisi perekonomianku, tak lagi kutakutkan. Karena sementara ini aku lebih dari cukup. Didik meninggalkan warisan yang banyak bagiku dan bagi orang tuanya. Secara adil, dia sudah memikirkan itu semua. Hartanya dia bagi dua. Bagiku-anak kami, dan orang tuanya. Tentunya yang harus kulakukan adalah mempergunakannya dengan bijaksana demi anak kami.

Aku menghela nafas. Panjang. Tak pernah kusangka, di usiaku yang ke-32, aku jadi janda. Memang bukan janda yang dicerai suaminya, namun karena keadaan yang memaksaku berpisah dengannya. Cerai mati, mungkin di mata masyarakat lebih terkesan mulia. Tapi, dalam keheningan yang tercipta, dalam kebisuan yang tak jua alunkan nada ceria, hanya hatiku yang tahu persis bahwa ini pun teramat sulit untuk dijalani.

Kembali ke rumah kami adalah hal yang amat sulit. Aku selalu datang bersama ibuku. Karena kalau tidak, aku pasti bisa pingsan sementara aku sendirian. Seluruh kenangan itu terlalu emosional, terpatri jelas di pelupuk mataku. Meja makan itu, tempat kami makan bersama setiap pagi dan malam. Ranjang itu, kami pilih bersama, seprai itu aku yang memilihnya. Sepatu Didik, aku yang menghadiahkannya ketika dia ulang tahun. Setiap hari dipakainya. Ini baru setahun pernikahan, bagaimana dengan mereka yang menikah empat puluh tahun, kemudian harus terpisahkan jua?

Setahun setelah Didik pergi.

Martina Jelita Sudarmanto lahir ke dunia. 23 April 2009. Dengan berat badan 3.1kg, panjang 50 cm. Keharuan meliputi hatiku. Sekaligus kesedihan juga melandaku.

Julie, kuatkan hatimu!

Martina, mengambil nama tengah Papanya. Martin. Martina tak pernah melihat wajah Papanya, namun ketika dia besar nanti….Saat dia lebih mengerti, aku ingin memberitahukannya bahwa Papanya adalah orang yang baik dan bertanggung jawab. Sayang keluarga, ramah dan rendah hati. Itu adalah warisan yang Didik titipkan kepadaku dan akan kuteruskan kepada Martina sebagai berkat tak ternilai. Aku bangga punya suami seperti Didik. Dengan segala keterbatasannya, tetapi dia tetap punya cinta yang takkan lekang dimakan waktu, sampai kapan pun aku tetap cinta Didik.

Aku bertekad membesarkan putriku sendiri. Bukan tugas yang ringan, di antara semua omongan tetangga, lirikan sinis para istri yang berpikir aku adalah ancaman. Karena posisi janda tak pernah mendapat tempat yang mulia di masyarakat. Tapi, sampai hari ini, aku tetap tak bergeming….Walaupun ada beberapa pria yang menawarkan cinta. Aku tetap mau setia. Entah sampai kapan. Mungkin sampai selamanya? Setidaknya sampai hari ini, aku tetap tak bergeming karena itu semua bagiku tak sepenting tugas membesarkan buah cinta kami- Martina.

Tangisan sudah jadi bagian hidupku beberapa tahun belakangan ini. Tetapi, ketika Martina datang, aku sudah mulai terbiasa tersenyum lagi. Melihat cerianya, senyumnya, celotehan bayinya. Yang agak membuatku sedikit lega karena wajahnya mirip wajah Didik. 80% wajah Didik dan 20% wajahku. Kalau kangen Didik, aku hanya tinggal melihat wajahnya. Sekaligus juga merasakan perihnya dan mengakui bahwa luka kehilangan dirinya itu belum sembuh.

Dik, selamat jalan. Kau tetap bagian terindah dalam hidupku. Terima kasih buat kenangan berharga yang sangat kucinta: Martina. Sampai hari ini, aku tak henti mengucap syukur bahwa kamu masih meninggalkan sosok buah cinta ini sebagai hadiah terbesar dalam hidupku.

Aku melangkah. Menyadari bahwa tembang sunyiku tak lagi sebungkam dulu. Kini tembang itu bercampur beningnya mata Martina, lembutnya kulit bayinya, dan tembang itu tak lagi sesunyi dulu. Dia mulai terpercik rasa ceria walaupun bagian sunyi itu masih tetap ada.

Tembang sunyi tak selalu berarti duka. Setidaknya bagiku saat ini. Kesunyian itu menyiratkan semburat keceriaan yang mengetuk di pintu hatiku. Didik, sampai kapan pun, aku cinta kamu. Aku akan jaga anak kita baik-baik, demi kamu. Selamat jalan, Dik… Aku takkan pernah melupakanmu…..


Kuusap air mataku perlahan. Sedih bercampur bahagia. Ah, bukankah hidup adalah gabungan keduanya? Di hari yang sama ada yang lahir, ada yang menikah, sekaligus ada yang meninggal. Namun, hidup dan rodanya terus berputar. Aku pun mengikutinya, menjalaninya. Bersama bayang raut wajah Didik yang terus menaungiku dengan senyumnya, bersama Martina yang berkembang makin lucu hari lepas hari. Dan percaya bahwa akan kulihat lagi pelangi di hidupku yang akan menawarkan keceriaan warnanya, sehingga tembangku pun tak lagi sunyi. Ia akan berganti menjadi tembang bahagia. Semoga.

HCMC, 22 Juni 2010

-fon-

Sumber gambar:

http://www.google.com.vn/imglanding?q=tembang%20sunyi&imgurl=http://1.bp.blogspot.com/_9Bb0UoHl-BY/Sz341pjPPrI/AAAAAAAAABw/jTc7IYbcjzo/s320/02_11_08_817_-flu-1.jpg&imgrefurl=http://samudrabirucinta.blogspot.com/2010/01/pernahkah-sahabat-merasakan-rindu-rindu.html&usg=__ubV0l2z2Ly76H2R9kDHrwGjyrjA=&h=249&w=320&sz=15&hl=vi&itbs=1&tbnid=gbxxvXH6nWgdkM:&tbnh=92&tbnw=118&prev=/images%3Fq%3Dtembang%2Bsunyi%26hl%3Dvi%26gbv%3D2%26tbs%3Disch:1&gbv=2&tbs=isch:1&start=0

Sunday, June 20, 2010

Kecil-Besar



Kusadari bukan melulu hal-hal besar yang menjatuhkan diriku, terkadang aku jatuh dalam hidup ini karena aku tak lihai dalam meng-handle urusan-urusan kecil yang terjadi. Banyak kali, urusan-urusan itu terjadi di dalam sini. Di dalam dadaku, di balik pintu di hatiku. Aku tak sadar atau sebetulnya sadar tapi tak mau tahu, karena kupikir aku pandai dalam mengurus segala sesuatu. Apalagi hubungannya dengan diriku. Pastilah aku yang paling tahu. Padahal? Jujurnya, setelah kualami banyak kali jatuh bangun mengurusi diriku sendiri, kutahu jawabnya: belum tentu.

Tumpukan kemarahan seperti gedung bertingkat seratus. Lautan kekecewaan tak bertepi. Gunung-gunung keangkuhan bercampur iri dan dengki. Semua bermula dari yang kecil saja. Dari lantai satu gedung bertingkat yang isinya kemarahan kecil, dari satu tetes kekecewaan, dari satu gundukan tanah keangkuhan. Dari situlah mereka berasal. Ketika aku tak mengelolanya dengan baik, mereka berkembang terus dan terus tanpa henti.

Jadi, semakin aku sadar. Bukan melulu batu karang yang membuatku terpisah dari sahabat-sahabatku, bukan melulu ombak besar yang membuatku bermusuhan dengan sanak saudaraku. Bukan! Melainkan dari kerikil-kerikil kecil yang keburu dicuekkan keberadaannya. Dari riak-riak kecil yang tak sempat kupedulikan. Ketika berkumpul menjadi satu, sekali waktu diriku meledak dan menumpahkan segalanya. Sekaligus, bak senapan mesin, kutembakkan kemarahan tanpa henti itu. Terkadang, aku salah sasaran. Tak seharusnya aku melampiaskannya pada orang yang tak bersalah. Atau mereka yang salahnya kecil saja, namun kuanggap melakukan kesalahan yang tak termaafkan. Padahal, inti dari kesalahan itu terjadi karena mismanagement dalam diriku sendiri. Aku tak pandai meluangkan waktu untuk bincang-bincang dengan diriku. Aku tak mau tahu apa yang kualami akankah menimbulkan efek terhadap perasaanku. Aku hanya berusaha berjalan dengan pikiranku, ambisiku, kemauanku, berharap suatu saat akan kucapai segala yang kuinginkan. Namun, hasilnya aku pernah mengalami kehancuran.

Bukan hal-hal besar yang melulu menjatuhkanku. Tetapi, hal-hal kecil yang tak kuurus dengan baik. Aku mengakui kelemahanku akan hal ini. Dan aku sadar, sering kali karenanya aku kehilangan kesempatan untuk berdamai dengan orang lain. Jangankan berdamai dengan orang lain, wong berdamai dengan diriku saja aku sulit! Sejak kumengerti hal ini, kulangkahkan kaki dengan ringan. Berusaha setiap malam duduk diam, merenungkan sepanjang hari ini. Bagaimana hatiku hari ini? Diriku, apa kabarmu hari ini? Dengan demikian setidaknya aku memulai untuk introspeksi dari diriku sendiri. Apa salahku, mungkin aku harus perbaiki. Apa yang kurang kuperhatikan sebagai sumber luka dan kecewaku yang seringnya kembali minta diperhatikan, kucoba memberi perhatian ekstra serta membawanya di dalam doa. Karena aku sadar, dengan memperlakukan diriku penuh cinta, barulah kurasakan cinta itu sendiri. Dengan demikian, membantuku untuk menghadapi kondisi yang sulit. Banyak kali, kesulitan itu timbul karena kekurangmampuan diri kita sendiri untuk mengasihi diri sendiri. Mengasihi tentunya berbeda dengan mengasihani diri sendiri. Dan kasih yang terbesar yang kualami adalah berasal dari-Nya. Yang senantiasa diperbaharui hari lepas hari. Yang kembali menyadarkanku bahwa aku yang kecil dan tak ada apa-apanya ini, masih dikasihi-Nya. Semoga kesadaran akan hal itu membuatku mampu mencintai diriku apa adanya karena Dia sudah menerimaku apa adanya—tanpa syarat apa pun. Menjadi bagianku untuk mengasihi diriku dan sesama, serta menyirami dunia ini dengan kasih-Nya sehingga setidaknya banyak orang bisa merasakan percikan kasih-Nya dalam hidup ini.

Bukan hal-hal besar yang selalu membuatku pusing kepala. Sering kali, hal-hal kecil yang tidak kukelola dengan baik di sini, di lapisan terdalam relung hatiku yang menjadi pangkal permasalahannya. Biarkanlah aku mengurusi detil demi detil di hatiku, berniat untuk menjadikannya kuat dan sembuh, lalu membagikan kasih itu kepada dunia walaupun itu hanya dunia sekitarku.

Bagaimana dengan kamu?

HCMC, 20 Juni, 2010

-fon-

* tiba-tiba tersadarkan kalau banyak kali pertengkaran, percekcokan, berantem, dan perselisihan lebih dikarenakan banyak hal yang belum dibereskan dari dalam diri sendiri dan meluap keluar merembet ke orang lain…alHH


sumber gambar:
http://www.google.com.vn/imglanding?q=big%20small&imgurl=http://farm2.static.flickr.com/1014/1046115438_87377e1a94.jpg&imgrefurl=http://www.flickr.com/photos/jwlphotography/1046115438/&usg=__lVYKU2jVwU31j6oSYFZdusQxhdU=&h=333&w=500&sz=93&hl=vi&itbs=1&tbnid=b0hXIOB3_2YmeM:&tbnh=87&tbnw=130&prev=/images%3Fq%3Dbig%2Bsmall%26hl%3Dvi%26gbv%3D2%26tbs%3Disch:1&gbv=2&tbs=isch:1&start=6

Saturday, June 19, 2010

Kasar


Rasanya tidak ada orang yang senang jika menerima perlakuan kasar. Anggaplah Anda sedang berada di sebuah restoran dan pelayan datang menyuguhkan pesanan Anda dengan setengah melempar mangkok yang berisi kuah panas dan mengenai pakaian serta tangan Anda. Akankah Anda tinggal diam? Memakinya, mencari managernya, sekaligus mungkin mengirimkan surat pembaca di surat kabar ternama mungkin? Atau menuliskan pengalaman Anda di email untuk kemudian mem-forwardnya kepada teman-teman Anda?

Atau contoh lainnya: ketika di dalam taksi, Si Sopir seringnya rem mendadak, lalu kebut-kebutan. Mungkin dengan setengah mengancam Anda katakan: “Pelan-pelan, dong, Pak! Jangan sampai saya laporin ke perusahaan Bapak lho, ya!” Seraya menyuruh Si Sopir berhenti, membanting pintu, sembari menunggu taksi berikutnya.

Kejadian lain, misalnya Anda tengah berada di sebuah salon. Maksud hati ingin rileks dengan cuci rambut di salon. Malahan jadi marah-marah dan kesal karena bukannya mendapatkan servis yang baik, malahan rambut Anda seolah ditarik dan dijambak. Emosi jiwa? Pastinya…

Ketika kita mendapat perlakuan yang kasar, di mana kita sebagai pelanggan dan orang lain yang seharusnya memberikan pelayanan tidak memberikan pelayanan yang seharusnya, pastinya kita akan kesal, marah, dan kecewa. Di saat-saat itulah, rasanya kita akan bisa berteriak saking kesalnya. Mana pantas seseorang seperti diriku mendapat perlakuan semacam itu?

Kita tak pernah suka diperlakukan dengan kasar. Siapa pun tidak bakal terima perlakuan kasar baik dari orang yang lebih rendah levelnya dari kita atau yang jabatannya lebih tinggi dari kita. Mungkin yang sedikit banyak membedakan adalah reaksi kita. Misalnya, di kantor kita menerima makian yang tak pantas dari atasan. Mungkin kita sedih, marah kecewa, tetapi kita masih lebih mengontrol diri dengan memikirkan konsekuensi dari tindakan kita seandainya kita beraksi membalas dengan kekerasan pula, bahaya karena posisi kita terancam dan menjadikan penghasilan tak ada. Itu berarti resikonya kita bakal kehilangan pekerjaan. Pikir panjang sebelum melakukan sesuatu. Mungkin setelah itu, perlahan tapi pasti, mulai mencari pekerjaan baru yang diharapkan lebih baik lingkungan kerjanya maupun penghasilannya.

Sebaliknya, jika itu terjadi dan yang melakukannya adalah seseorang yang berada di wilayah kekuasaan kita… Misalnya: pembantu, sopir, atau baby-sitter, tentunya tindakan memberhentikan mereka secara langsung tanpa pesangon juga bisa dilakukan.

Tidak ada yang ingin menerima perlakuan kasar, juga tindak kekasaran dan kekerasan lainnya seperti kekerasan dalam rumah tangga. Ini terlebih menyakitkan karena seseorang yang kita sayangi berbalik menjadi monster buas yang seolah tak lagi dikenali.

Tindakan/perkataan kasar, akan membekas di hati kita. Tak jarang bikin luka batin, sehingga butuh proses lama untuk menyembuhkannya serta untuk pulih seperti sedia kala. Bagaimana dengan tingkah laku kita sendiri? Apa kita sendiri sering mengasari orang-orang yang lebih rendah dan tak punya kuasa? Tak jarang, tindakan kasar itu dilakukan kepada anak kecil yang lemah, mereka yang posisinya di bawah kita dan mengandalkan gaji dari kita seperti yang sudah saya sebutkan tadi: pembantu, sopir, nanny, sampai tukang potong rumput, dan sebagainya. Mungkin tindakan itu dilakukan oleh seorang paman kepada keponakannya, kepada seorang pengemis, pengamen, dst. Tindakan kasar seolah menjadi legalisasi bagi yang berkuasa untuk menunjukkan kekuasaannya termasuk penjajahan atas bangsa lain.

Dikasari, tak pernah kita sukai. Tetapi apakah kita juga memiliki tendensi untuk bertingkah laku kasar? Dengan mendominasi percakapan kita dengan kata-kata yang kasar? Bercanda mungkin bolehlah sesekali, tetapi kalau melulu mengungkapkan kata-kata kasar, rasanya koq ya gimanaa gituuu…:)

Jika kita ingat kejadian-kejadian kita dikasari, tentunya bikin sedih. Waktu kita bikin orang lain sakit hati dengan kata-kata kita yang kasar (yang mungkinnn gak disengaja atau kali lain memang sengaja kita lontarkan), pernahkah kita pikirkan efeknya pada diri orang tersebut?

Mungkin kata-kata atau tindakan kasar dari diri kita perlu kita kurangi, mudah-mudahan bisa kita eliminasi secara perlahan. Walaupun sulit, walaupun mungkin agaknya mustahil, tetapi jika kita ingat kalau posisi kita yang dibalik dan kita yang dikasari apa kita mau? Jangan lakukan apa yang kita tidak ingin orang lain lakukan pada kita. Itu kata pepatah, bukan?

Moga-moga kita semakin diingatkan untuk memilih tindakan dan kata-kata yang baik. Semoga kata-kata atau tindakan kasar semakin dijauhkan dari kita, karena dikasari? Siapa juga yang mauuu…

HCMC, 19 Juni 2010

-fon-

Sumber gambar: