Tuesday, May 19, 2015

Kata Mereka...

Kata mereka, penampilanku 'gak matching'.
Dengan sepatu hijau tosca-ku, celana panjang hitamku, dan baju kotak-kotak pink milikku.
Warna-warna itu perpaduannya 'gak masuk banget'.
Dan, menjadikan penampilanku terlihat aneh di mata mereka.

Kata mereka, aku hanya bisa melihat daftar menu di restoran cepat saji, tanpa mampu membelinya.
Mereka tertawa atas pernyataan itu.
Dan aku? Aku tersenyum getir menyembunyikan apa yang ada di hatiku.

Kata mereka, aku kurang gaul.
Karena aku tak pernah melihat dunia luar.
Kalaupun ada liburan, selalu saja jurusan Bandung-Cirebon.
Sedangkan mereka: keliling Eropa, Amerika, Australia, Jepang, Korea, atau negara-negara canggih lainnya.

Yang mereka tak pernah tahu...
Papaku tengah sakit keras.
Lalu, aku harus banting tulang untuk menghidupi diriku.
Jangankan untuk memikirkan penampilan yang keren, matching, atau cling...
Aku hanya bisa memikirkan makan sehari-hariku dan melanjutkan sekolahku.
Mereka hanya bisa tertawa dan mengejekku.
Tanpa mereka tahu apa yang sesungguhnya terjadi pada diriku.

Ketika aku tak membeli makanan di restoran cepat saji itu, karena memang aku harus memilih makan mie goreng tektek atau makan di warteg di dekat tempat tinggalku.
Karena memang, aku harus mengkalkulasi seluruh pengeluaranku selama satu bulan dan itu kumulai dari setiap hari yang aku jalani.
Tak ada uang dari orangtua yang cukup bagiku, semua kupenuhi dengan pekerjaan sampingan yang kukerjakan sembari kuliah.

Ketika aku hanya bisa mengunjungi teman dan saudaraku di daerah yang sangat dekat denganku.
Bandung dan Cirebon itulah tujuan wisataku.
Itulah yang aku mampu dan jujur aku tidak malu.
Mungkin ada keinginan untuk melihat dunia luar, namun kusadari kemampuanku tak sampai situ.
Dan bagiku, aku tak perlu memaksakan diriku.
Jika memang kemampuan belum ada padaku.
Suatu saat nanti, jika Tuhan berkenan, Dia pasti bukakan jalan bagiku...
Untuk sekadar mengintip dunia luar dan belajar kehidupan di sana.

Jika hanya memikirkan kata mereka, aku akan menyesali hidupku dan merasa sedih.
Karena memang, aku berbeda dengan mereka.
Keadaan memaksaku untuk menjalani pekerjaan serabutan sambil kuliah.
Tapi, aku menguatkan hati.
Kupercayai semua ini ada maksud-Nya.
Kata mereka? Takkan terlalu kupedulikan, walaupun tak bisa kubilang tak ada efeknya juga bagiku.
Perkataan mereka kujadikan cambuk untuk bekerja lebih keras.
Sekaligus menyadari: tak semua orang bisa mengerti.
Sebagian orang bisanya hanya ngomong dan ngomong.
Bicara yang tidak mereka ketahui sepenuhnya dan tertawa di atas derita yang tak pernah mereka tahu betapa perihnya...

Kupandangi sepatu hijau tosca-ku.
Satu-satunya yang kumiliki, hadiah dari kakakku.
Tak ada yang salah memang, jika sepatuku hanya satu.
Bajuku tidak banyak pula.
Namun, aku cukup.
Masih bisa cukup makan, cukup biaya kuliah.
Masih bisa jalan-jalan, meski itu sederhana dan versiku.
Bukan berarti aku tidak bisa bahagia.
Bukan berarti aku tidak bersukacita...
Kusyukuri perlindungan Tuhan dalam hidupku...

Suatu hari, mereka pun akan berkata: kamu koq belum punya pacar, belum menikah, belum punya anak, belum punya mobil, belum punya ini, belum punya itu...
Saat mereka hanya bisa menghakimi dan berkata-kata yang terkadang menyakitkan hati...
Tanpa mau peduli apa yang kuhadapi...
Akan kuhadapi dengan senyuman tulus sembari berjanji dalam diri...
Aku takkan menjadi mereka yang melihat sekilas saja, lalu berkata seenaknya sendiri...
Semoga aku lebih bijaksana dalam memilih kata-kataku dan mau peduli pada mereka yang mengalami penderitaan melebihi apa yang kuhadapi saat ini...

Sepuluh tahun kemudian...

Mereka memuji penampilanku.
Mereka bilang semua 'up to date' dan keren sekali.
Mulai dari tas, jam tangan, gaun, dan sepatu.
Semua 'matching' dan 'cling'.
Aku tersenyum dalam hati.
Ah, cerita lama... Dengan aktor yang berbeda...
Aku tak merasa bangga...
Kusyukuri penyelenggaraan Tuhan atas hidupku
Dia memberikanku kekuatan untuk bekerja keras dan meraih jenjang keberhasilan.
Satu yang terus kusadari: ini semua sementara, jadi tak perlu aku bermegah.
Tak pernah kumau memaksakan diri untuk gaya hidup di luar kemampuanku.
Masih sama seperti dulu.

Aku berjanji dalam hatiku, untuk tak terlalu terpengaruh apa kata mereka.
Mereka bukan aku, mereka takkan mampu mengerti diriku.
Kusyukuri tuntunan Tuhan dalam hidupku.
Tak hendak ku membalas, tak hendak pula aku berbangga.
Hanya rasa syukur yang ada...
Hanya pelajaran berharga: semoga mulut dan lidahku hanya mengeluarkan kata-kata yang baik.
Semoga aku lebih peduli dan punya hati pada mereka yang berduka dan menderita...
Semoga aku bisa melakukan kebaikan kepada sekitarku: mereka yang seperti diriku sepuluh tahun lalu...
Kuingin punya anak asuh lebih banyak lagi, membantu bayi-bayi yang kekurangan susu, membantu kakek-nenek yang ditelantarkan keluarganya, itu cita-citaku...

Ajari aku, Tuhan, untuk jadi saluran kebaikan-Mu...
Bukan melulu mengomentari orang lain dengan kata-kata miring.
Jauhkan aku dari fitnah dan gosip yang terlalu...
Hidup ini akan lebih indah, jika diisi kebaikan: dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.

16.05.2015
fon@sg
*buat pengingat diri: hati-hati dalam berkata-kata, apalagi tak tahu kondisi orang yang dibicarakan. Diambil dari kisah-kisah di sekitar kita dan sebagian adalah kisah nyata.