Wednesday, June 29, 2011

Building Maintenance



Bagi mereka yang tinggal di apartemen, tentunya tidak asing dengan istilah ‘building maintenance’. Bahkan setiap bulannya ada ‘maintenance fee’ yang harus dibayarkan. Istilah ‘maintenance fee’ itu dimaksudkan untuk menikmati fasilitas apartemen, semisal kolam renang atau tempat fitnes. Juga untuk pemeliharaan apartemen secara keseluruhan misalnya lobby, tempat bermain anak (playground), dan sebagainya.

Ketika ada yang tidak beres di apartemen, biasanya merekalah yang dipanggil. Building Maintenance Staff atau engineer. Tim ini cukup hebat dan tangguh. Ketika mereka datang, tak lama, persoalan menjadi beres. Mulai dari mengganti bola lampu yang rusak, tempat cuci piring yang mampet, juga toilet yang ‘flush’-nya rusak. Sesederhana itu saja. Mereka datang seolah masalah selesai.

Para teknisi ‘building maintenance’ ini mengingatkan saya pula, bahwa ada banyak hal yang belum beres di diri saya. Entah kemarahan yang belum selesai, dendam yang kembali tampil, atau rasa bahwa diri tak berharga. Banyak hal yang membawa saya keluar jalur dari citra diri yang telah diciptakan Tuhan dari semula. Seharusnya saya mensyukuri keberadaan saya dan bersukacita atas setiap hari yang Dia berikan bagi saya, namun tak jarang ketidakberesan itu menjadi kendala yang menghalanginya.

Ketika Tuhan menyentuh hidup saya, saya merasakan bahwa memang Dialah master dari ‘building maintenance’ yang terhebat. Dia mampu menyelesaikan seluruh ketidakberesan ataupun permasalahan yang saya alami. Bedanya mungkin, tidak secara langsung atau instan, karena Dia pun ingin saya belajar pula secara berproses untuk mengendalikan diri saya dan hidup lebih baik lagi dalam perjalanan kehidupan bersama-Nya.

Tuhan selalu memelihara saya, memelihara kita semua. Kasih-Nya yang luar biasa itu senantiasa memberikan harapan dan kekuatan baru, bahwa sebobrok-bobroknya diri seseorang di masa lampau-apabila Tuhan sudah masuk dalam hidupnya dan dia sungguh ingin berubah- Tuhan pasti sediakan jalan untuk mengembalikannya ke jalan yang benar. Yang harus kita lakukan adalah tetap percaya pada-Nya di dalam iman serta bersungguh-sungguh ingin memperbaiki diri/bertobat.

Sungguh saya berterima kasih untuk pemeliharaan Tuhan yang sangat luar biasa. Dia bisa lakukan apa saja, karena Dia Maha Kuasa. Tetapi, Dia juga inginkan kita bertumbuh di dalam iman akan Dia. Tak berhenti berharap atau menjadi putus asa karena kasih-Nya akan memampukan kita menjadi lebih baik lagi. Tiada yang mustahil jika terus berjalan bersama-Nya.

HCMC, 24 Juni 2011

-fonnyjodikin-

*copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya. Trims.

sumber gambar:

campeyngroup.com.au

Wednesday, June 22, 2011

Ketika Harus Kalah


Ketika Harus Kalah
Sebagai penggemar American Idol, rasanya ada yang kurang ketika saya belum menuliskan komentar saya mengenai Season 10 yang lalu. Walaupun tidak semua episodenya saya ikuti, tetapi saya punya idola sendiri. Pia Toscano yang cantik dan bersuara emas, terpaksa harus gugur tereliminasi. Mungkin bagi banyak orang, penampilannya jadi membosankan karena pilihan lagunya. Begitu juga dengan Si Jenius yang nyentrik tetapi sangat original, Casey Abrams yang kemudian menjadi idola saya karena menjunjung tinggi originalitas yang dimilikinya juga keberaniannya untuk selalu tampil beda. Walaupun akhirnya lomba ini dimenangkan oleh Scotty McCreery, tetapi saya tetap menaruh simpati pada mereka yang memang berbakat namun sudah dieliminasi.
Kita selalu terpaku pada pemenang-pemenang lomba. Termasuk American Idol ini. Mudah untuk mengingat siapa saja pemenang pertama dan kedua karena mereka masuk final dan bertanding berdua saja di episode-episode terakhir acara tersebut. Tetapi, bagaimana nasib mereka yang kalah?
Yang harus kalah karena tereliminasi, bukan berarti akhir dari segalanya. Ada yang memang kembali ke pekerjaan mereka semula. Ada yang malah mencuat jadi lebih ternama, siapa juga yang menyangka? Chris Daughtry yang memang keren dan original itu punya seabrek fans dan kemampuan menyanyinya tak perlu lagi diragukan. Albumnya pun meledak di mana-mana. Belum lagi Jennifer Hudson yang malah juga terkenal setelah dieliminasi tetapi lolos audisi untuk berperan di film ‘Dream Girls’. Ketenarannya tidak kalah, bahkan boleh dikatakan melebihi beberapa pemenang American Idol sebelumnya yang sudah tak sepopuler dulu lagi.
Dalam hidup, ketika harus ‘kalah’ dalam suatu kompetisi. Entah tidak mendapatkan posisi yang diidamkan di kantor, ketika tidak menjadi juara pertama dalam suatu lomba, ketika bukan lagi pemegang ranking satu di sekolah/kuliah/ S1-S3, mungkin banyak orang akan cenderung frustrasi. Sedih, kecewa, ketika harus berhadapan dengan kenyataan bahwa mereka kalah dengan orang lain. Belum lagi jika kita merasa terus saja ‘kalah’ dibandingkan teman selevel kita dulu (teman SD, SMP, SMA yang bertemu saat reunian misalnya). Baik dari prestasi maupun prestise, rasanya ingin menutup muka dengan cadar agar tak lagi dikenali.
Kalah dan menang adalah hal biasa dalam hidup ini. Malah, boleh dibilang, pengalaman ‘kalah’ memberikan banyak pelajaran penting dalam hidup. Bahwa tak perlu bersombong diri, karena diriku ini bukan yang terhebat. Masih ada, bahkan banyak yang lebih hebat. Terutama yang Maha Hebat yaitu Sang Pencipta, Tuhan sendiri. Tak perlu merasa minder dengan kekalahan, kalau mungkin ambillah pelajaran di baliknya. Kalah, tak harus berarti akhir dari segalanya. Tak jarang, kekalahan itu malah merupakan awal dari sesuatu yang baru-yang sama sekali berbeda dengan apa yang pernah kita pikirkan dan rencanakan sebelumnya. Terkadang Tuhan seolah bisa begitu saja membelokkan hidup kita. Tentu saja itu merupakan upaya-Nya untuk masuk rencana-Nya yang lebih indah ketimbang apa yang pernah kita pikirkan dengan keterbatasan otak kita sebagai manusia.
Bukan berarti kita tidak perlu memupuk mental pejuang untuk menang. Tetapi, kita pun bersiap juga, ketika kalah kita hadapi dengan lapang dada. Kalah, bukan berarti kiamat. Kalah, bisa jadi suatu cara untuk membuka suatu kesempatan lain yang tak pernah tersentuh sebelumnya. Asalkan kita percaya, asalkan kita berjuang dengan sekuat tenaga dan tak bermalas-malasan, suatu hari nanti kita akan melihat keindahan rencana-Nya… Yang mampu membuat kita mengerti, mengapa kita harus ‘kalah’ ketika itu untuk melihat suatu kemenangan baru bersama-Nya di masa depan nanti.
Semoga kita miliki mentalitas yang kuat menghadapi apa pun dalam hidup ini. Menang bukanlah segala-galanya. Kalah juga bukan berarti akhir dunia. Kekalahan dan kelemahan manusia, tak jarang dijadikan-Nya suatu celah untuk masuk dan menyatakan kebesaran-Nya. Bahwa Dia memang yang utama. Semoga kita bisa memenangkan pertandingan kehidupan ini dan selalu mengharumkan nama-Nya. Termasuk menghadapi kekalahan dengan lapang dada tetapi tetap berusaha memetik suatu pelajaran berharga di dalamnya.
Selamat sore. Salam dari Ho Chi Minh City.
22 Juni 2011
-fonnyjodikin-
* copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya. Trims.

Wednesday, June 15, 2011

Gerutu


Gerutu

Pada suatu hari Sabtu...

Kumulai paginya dengan gerutu. Kadang, hanya soal tak penting dan tak bermutu.

Mulai dari hilangnya sepatu, tetangga yang bau cerutu, sampai orang tak dikenal mengetuk pintu. Penuh mulut dan pikiranku dengan gerutu. Padahal aku masih punya waktu. Untuk berterima kasih atas hidupku, walaupun aku tak terlahir sebagai ratu.

Terpikir sebuah taktik jitu ‘tuk kurangi gerutu. Perbanyak ucapan syukur dari mulut dan hatiku. Senantiasa mengusahakan itu. Sehingga, tak perlu ke Uluwatu ‘ tuk tenangkan diriku. Cukup dengan syukurku, agar tak jadikan hatiku membatu.

Ah, ternyata bahagia hanya tergantung bagaimana caraku melihat segala sesuatu.

Ho Chi Minh City, 16 Juni 2011

-fonnyjodikin-

* copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya. Trims.

Friday, June 10, 2011

Being Mom: Baby Sitter Part 2


*** Thank God I Found you…

Mungkin masih terlalu pagi untuk bilang saya sudah menemukan seseorang yang sangat cocok sebagai Baby Sitter (BS) anak kami. Tetapi, setelah saya hampir menyerah dalam pencarian seorang BS bagi bayi kami dan memuat tulisannya di bagian pertama Being Mom: Baby Sitter, nampaknya jalan mulai dibukakan bagi saya.

Interview terakhir di 10 Maret lalu agaknya menjadi titik terang bagi kami. Akhirnya kami menemukan seseorang yang bisa berbahasa Inggris dan bisa mengasuh anak karena dirinya juga adalah seorang ibu muda-anaknya pun belum 2 tahun umurnya. Di Vietnam, anak-anak bisa dititipkan pada suatu sekolah semacam ‘child care’ juga, sehingga memungkinkan Si Ibu bekerja. BS kami bekerja paruh waktu, part time saja.

Saya pun belum tahu kapan dia bisa mulai, karena ‘due’ melahirkan normal yang tidak bisa dipastikan tanggalnya. Saya asal saja menyebut suatu tanggal. Terserah nanti bayinya sudah lahir atau belum, yang penting dia mulai tanggal itu. Ternyata, tanggal yang saya sebutkan adalah pas tanggal lahir anak kami. Saya sendiri pun tak percaya juga, koq ya bisa-bisanya saya menyebutkan tanggal yang exact itu yang ternyata adalah tanggal lahir anak kami beberapa minggu kemudian. Soalnya saya tidak punya indera ke-6, juga tak pandai menebak masa depan, jadi cukup surprise juga dengan kebetulan ini :)

Sekarang, anak kami berusia 2 bulan lebih. Senang campur capek dilakoni sajalah:) Dia tetap anugerah terindah yang sudah Tuhan berikan bagi kami. Bersama kakak perempuannya-Odri, Stella menjadi princesses di hati kami.

Jujur pula, adaptasi tidak semudah yang dibayangkan. Stella sempat diduga kolik oleh dokter karena menangis pada jam tertentu setiap harinya menjelang tidur. Apa pun yang dilakukan, seolah tak bisa menghentikan tangisnya. Tetapi perlahan, kami pun mulai mengerti dan Stella sudah sedikit berkurang tangisannya.

Dan saya bersyukur mendapatkan seseorang yang bisa membantu saya. Nanny yang baik, berdedikasi, jujur, tidak perhitungan, dan a great helper. Harus saya katakan. “ Thank God I found you”, sebagaimana pencarian kita di dalam hidup dalam hal jodoh misalnya… Baby sitter/nanny bagi saya juga jodoh-jodohan. Karena tidak gampang cari yang cocok dan baik, syukur-syukur bisa cukup langgeng…

So far so good, dan berharap selama saya di sini, hubungan kami baik-baik dan harmonis. So, one more time: thank God I found herJ

HCMC, 10.06.2011

-fon-


* tautannya bagian pertama ada di: http://fjodikin.blogspot.com/2011/03/being-mom-baby-sitter.html

Sunday, June 5, 2011

Film Kehidupan



Rasanya jarang orang yang tidak suka menonton film. Mungkin genre film yang digemari bisa berbeda, tapi tiap orang cenderung suka bahkan berlama-lama menghabiskan waktu di depan televisi/bioskop untuk menonton film.

Mulai dari film detektif, horor, drama, komedi, dan selanjutnya. Idola tiap orang pun macam-macam. Dulu saat di Asia film Hongkong berjaya, tentunya banyak orang kenal Jacky Chen. Sekarang, saat Korean Drama menjadi buah bibir di mana-mana, para bintang filmnya pun punya penggemar di seluruh dunia.

Film yang bagaimana yang kita sukai? Mungkin film-film yang menyedihkan, menegangkan, atau banyak konfliknya sehingga menjadikan film-film itu seru untuk dilihat. Semakin banyak masalah, konflik, perseteruan, kita makin suka karena menganggap itu adalah film yang seru.

Jika hidup kita diibaratkan adalah sebuah film yang memuat kehidupan kita dari lahir sampai akhir hayat nanti, akan jadi film seperti apakah hidup kita itu? Mengapa kalau ada sedikit masalah, persoalan, hal-hal yang kurang menyenangkan, kita begitu mudah patah semangat dan putus asa? Bukankah kita mengerti pula konsep sebuah film yang seru, yang apabila diterapkan dalam kehidupan kita berarti kita sudah harus bersiap untuk menerima permasalahan dan pernak-pernik kehidupan yang mungkin sama sekali berbeda dengan harapan kita?

Sehingga suatu saat nanti, ketika film kehidupan kita diputar…Akan jadi hal yang membanggakan untuk ditonton dunia. Karena film kehidupan kita itu ternyata memang cukup seru dengan segala konfliknya. Tetapi puji Tuhan, bahwa semua itu bisa dilewati dengan campur tangan-Nya, dalam pelukan kasih-Nya, bersama Dia senantiasa.

So, haruskah kita takut, cemas, dan kuatir? Tentu kita semua sudah tahu jawabannya bukan? Karena kita punya Tuhan, Sang Sutradara film kehidupan kita yang tahu semua adegan dan episode di dalamnya.Tugas kita hanyalah memainkan peran yang sudah diberikan-Nya dengan sebaik-baiknya. Camera…Action!” :)

Ho Chi Minh City, 6 Juni 2011

-fonnyjodikin-

* copas, forward, share? Harap sertakan sumbernya. Trims.

Sumber gambar:

tinhte.vn