Monday, August 16, 2010

Merdekalah, Indonesiaku!



Lirik Lagu T. Prawit – Mengheningkan Cipta

Dengan seluruh angkasa raya memuji
Pahlawan negara
Nan gugur remaja di ribaan bendera
Bela nusa bangsa

Kau kukenang wahai bunga putra bangsa
Harga jasa
Kau Cahya pelita
Bagi Indonesia merdeka

Lagu ini mungkin sudah kita nyanyikan ratusan kali. Mungkin, tidak semua dari kita tahu siapa pencipta lagunya. Tak sepopuler pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, W. R. Supratman padahal sama-sama dinyanyikan ketika Upacara Bendera. Hari ini, ketika menonton acara upacara bendera bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-65, saya tiba-tiba teringat pahlawan-pahlawan yang telah gugur membela negara Indonesia tercinta. Bagaimanakah perasaan mereka saat ini, jika mereka masih hidup? Atau, bila ada alat komunikasi yang menghubungkan mereka di alam sana dengan kita yang masih hidup di dunia ini lewat suatu interview, bagaimana tanggapan mereka: akankah mereka bangga, bahagia, atau malah bersedih melihat kondisi negeri tercinta saat ini?

Tetapi, sebagaimana layaknya para pahlawan itu berjuang tanpa pamrih, saya asumsikan mereka tetaplah berbahagia karena mereka sudah membawa Indonesia ke gerbang pintu kemerdekaannya. Namun, seperti banyak status Fesbuk sobat-sobat saya yang menyatakan kemerdekaan itu hanya dinikmati oleh segelintir orang atau karena masih banyak orang yang tidak menunjukkan jiwa merdeka mereka dalam hidup ini, mungkin pulalah mereka kecewa. Sama seperti beberapa dari kita.

Indonesia memang belum merdeka dari kemiskinan, belum merdeka dari buta huruf dan kebodohan yang masih melilit sebagian masyarakat yang tak punya uang yang tak sempat sekolah. Saya bukanlah ahli politik, tetapi saya pun melihat masih banyak yang kecewa juga dengan penyelenggaraan negara ini. Semua kecewa, gundah, gelisah, kita simpan di dada. Mungkin tak pernah terucapkan sama sekali. Mungkin hanya diam dan memaki di belakang, tanpa pernah berani ungkapkan ke luar. Bagi saya pribadi, keadaan saat ini mungkin penting, tetapi tidaklah sepenting niatan baik dari tiap individu di negeri tercinta ini untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Menjadi orang yang lebih berguna bagi bangsa ini. Bila Anda dikaruniai kuasa untuk memimpin sebagian rakyat atau bahkan seluruh rakyat Indonesia, semoga Anda menjadi pribadi yang semakin baik dan bijaksana dalam membimbing negara dan bangsa yang besar dan (seharusnya) kaya-raya ini. Bila teritori Anda saat ini hanyalah seorang mahasiswa atau karyawan kantor, silakan Anda berusaha menjalani peran Anda dengan baik. Begitupun dengan ibu rumah tangga, anak, juru masak, tukang ojek, sopir bus, sopir taksi, manager, atau direktur. Jalankanlah seluruh kewajiban yang dipercayakan kepada Anda dengan lebih baik lagi.

Daripada terus mengomel, marah, memaki, saya terus berpikir dan menghimbau….Ubahlah yang bisa diubah. Diri sendiri. Dengan tiap individu berusaha jadi yang lebih baik, jadi yang terbaik dari diri kita sendiri, moga-moga keluarga kita menjadi lebih baik. RT kita, RW kita, kampung kita, menjadi lebih baik. Dengan demikian propinsi kita menjadi lebih baik dan syukur-syukur negara kita menjadi negara yang patut dibanggakan.

Saya kira, itulah yang bisa kita lakukan saat ini. Semoga tulisan ini menyentuh banyak hati untuk jadi lebih baik, sehingga Indonesia suatu hari nanti bisa menjadi Indonesia yang kita banggakan.

Merdekalah, Indonesiaku!

Jakarta, 17 Agustus 2010

-fon-

sumber gambar:padiemas.blogdetik.com


Sunday, August 15, 2010

Being Mom: Merasakan Keajaiban itu Sekali Lagi



Hari-hari yang tidak terlalu mudah dilewati. Mual, muntah, berbaring sebentar. Duduk, pusing, berbaring lagi. Memandangi langit-langit rumah, menonton televisi, membaca buku sebentar lalu ambil posisi istirahat lagi. Internetan pun tak bisa terlalu lama, karena kepala tiba-tiba pusing.

Hari-hari yang membutuhkan banyak istirahat dan menjaga kondisi. Karena kali ini, yang dijaga adalah dua nyawa. Diri sendiri dan Si Buah Hati. Namun, perlahan tapi pasti: keajaiban itu terasa sekali lagi.

Mual dan muntahku, pertanda kamu ada di dalamku. Di dalam tubuhku, berkembang, dan makan serta minum dari apa yang kumakan dan kuminum. Pusingku pun sama, pertanda aku sedang berbadan dua. Merasakan setiap detik di dalam kebersamaan denganmu.

Ketika ke dokter, aku diizinkan kembali mendengarkan detak jantungmu. Di usiamu yang masih muda. Di kandunganku yang masih belia. Engkau hadirkan kembali rasa itu. Keibuanku. Takjubku. Akan keagungan diri-Mu sebagai Sang Pencipta yang memungkinkan seluruh proses ini terjadi dan merasakannya sekali lagi.

Tuhan, terima kasih…

Buat setiap denyut jantungnya yang bisa kudengar kemarin. Satu hadiah yang mampu meluruhkan segala lelah, kebosanan, melewati semua hari-hari belakangan ini. Hilangkan segala gundah, karena kondisi kehamilan yang memang tak terlalu mudah. Hanya untuk nikmati sekali lagi kebaikan-Mu. Kemegahan rancangan-Mu di dalam hidupku. Juga kepercayaan-Mu karena menganugerahkan sekali lagi keajaiban itu di dalam diriku.

Satu doaku, semoga aku bisa melewati seluruh proses ini. Proses yang masih cukup panjang menunggu kelahirannya. Sekaligus proses yang lebih panjang atas kepercayaan-Mu menambahkan seorang anak ke dalam tanggung jawabku dan suamiku.

Kunikmati setiap detik ini. Dalam setiap helaan nafasku, biarkan aku tetap memuji kebesaran-Mu yang telah Kauberikan padaku.

Jakarta, 15 Agustus 2010

-fon-

sumber gambar:

dokterqyu.wordpress.com

Tuesday, August 10, 2010

Pelajaran Tentang Syukur



Kembali mengakrabi layar kaca televisi Indonesia tercinta…

Semalam, saya menonton ‘Take Celebrity Out’ di Indosiar. Acara sekaligus ajang cari jodoh yang cukup dramatis. Beberapa yang tidak suka akan mengomentari dengan miring bahwa itu kerjaan orang putus asa, mungkin ada juga yang bilang cenderung norak atau seolah rekayasa. Bahkan beberapa dari kita pun akan meragukan, akankah pasangan yang seolah jatuh cinta pada pandangan (jumpa) pertama itu bisa bertahan lama? Di tengah pandangan yang seolah negatif, tak ada dipungkiri acara ini menarik untuk diikuti mungkin karena keberaniannya untuk tampil beda.

Saya terharu ketika kemarin tampil seorang selebriti berwajah manis dan bertubuh subur, Miss Impian 2005. Aty Fathiyah. Aty, dengan percaya diri luar biasa sekaligus penerimaan dirinya membuat banyak orang malu. Termasuk saya. Aty bilang, walaupun dia gemuk, gendut, tetapi itu masih lebih baik ketimbang mereka yang kurang beruntung karena mereka cacat, tak bisa melihat, tak bisa mendengar, tak bisa bicara,.”Tuhan sungguh sayang pada saya, “ begitu katanya.

Acara tambah mengharu-biru dengan hadirnya seorang wanita muda bersuara emas yang memiliki kekurang-beruntungan karena matanya buta. Tetapi, mata batinnya tidak. Apalagi kejernihan suaranya yang luar biasa itu. Tiba-tiba para ‘celebrities’ yang hadir meneteskan air mata. Termasuk saya. Entah saya juga lagi mellow, entah. Tapi yang pasti, acara semalam yang entah juga adalah siaran ulangan atau bukan membuat rasa syukur menancap dalam sekali lagi. Hal yang sering terlupa. Sementara banyak wanita yang minder dengan bodi plusnya. Sementara banyak wanita yang memusingkan harus diet ini dan itu bahkan sampai jutaan rupiah buat suntik kurus, ada penerimaan diri yang begitu indah dari seorang Aty.

Aty memang tidak terpilih. Alasan dari seorang pria seleb, bilang bahwa Aty terlalu inspirasional sehingga rasa cinta sulit berkembang, tak membuatnya kecewa. Dengan kepercayaan diri dan penerimaan diri semacam itu, Aty layak jadi contoh. Bukan berarti kita tak mau berusaha lebih baik. Namun, ketika banyak usaha dilakukan (yang sehat) misalnya mengatur pola makan, olahraga, atau pola istirahat yang lebih baik tetapi tak jua mempengaruhi berat badan. Cintailah diri sendiri, terimalah diri apa adanya. Tetap berusaha menjadi yang terbaik, dengan seluruh kewajaran sebaiknya tak perlu cara yang aneh-aneh. Maka, dunia akan melihat aura positif (positivity) yang menular.

Take Celebrity Out malam itu sejenak sudah keluar dari ‘glamour’nya. Keluar dari ‘ngocol’nya. Dan memasuki zona keharuan yang memotivasi.

Pelajaran tentang syukur saya dapati malam itu. Semoga kita semua tetap bisa mensyukuri apa yang diberikan kepada kita, sekali lagi bukan sebagai alasan untuk menjadi pemalas yang tak mau berusaha, namun menjadi orang-orang yang tetap melakukan yang terbaik sembari terus mensyukuri nikmat dan kebaikan yang sudah diberikan-Nya dalam hidup ini.

Jakarta, 6 Agustus 2010

-fon-

sumber gambar: http://default.tabloidnova.com

Thank God I Found You Part 18



*** Episode: Jalan Kehidupan

Previously on Thank God I Found You part 17 (Episode: I Do ).

Willem meninggal dunia, meninggalkan luka mendalam di hati keluarganya, terutama Mama Willem. Sementara kisah cinta Vita dan Jason berakhir bahagia di pelaminan. Dengan pesta sederhana, sementara mereka memutuskan untuk berbulan madu ke Singapura dan Ho Chi Minh City. Sementara Susi masih terkaget-kaget dengan kenyataan bahwa Vic yang begitu menarik hatinya, tak lebih hanyalah seorang penjahat kelas kakap yang bergerak sebagai ‘drug dealer’ lengkap dengan segala tindakan ‘money laundering’ yang dilakukannya. Dan kehadirannya yang misterius di sakramen pernikahan Vita-Jason dengan potret-memotret dan samarannya, menimbulkan tanda tanya juga. Apa maksudnya? Ketika selesai acara, dia beranjak mau memasuki mobil, tiba-tiba dia dihentikan seorang pria. Bagaimanakah kelanjutan kisah ini selanjutnya? Simak ceritanya berikut ini….

Episode: Jalan Kehidupan

Masih di parkiran mobil Gereja Theresia …

Susi mengernyitkan keningnya. Pria itu tak dikenalnya, tetapi bisa mengomentarinya seperti itu. Apa maunya?

“ Apa maksudmu bicara seperti itu. Kenal pun tidak aku denganmu.” Kata Susi.

“ Kamu tidak kenal saya, tetapi saya kenal semuanya tentangmu. Saya juga tahu bahwa kamu tukang buat onar selama ini. Jadi, sudahilah ini semua. Sekarang ikut saya!” Ujarnya setengah memaksa. Susi tak keburu berteriak, walaupun dirinya berniat untuk itu. Karena tangan pria itu sudah keburu menyodorkan sapu tangan yang mengandung obat bius. Hasilnya Susi segera pingsan.

***

Aku dan Jason menikmati hari-hari pernikahan kami. Ya, kami tinggal di rumah mertuaku, Mama Jason. Karena Mamanya sudah tua dan sakit-sakitan. Bagiku tak masalah, karena aku bekerja, malah memang tinggal bersamanya adalah baik bagi kami. Lagian, tak lagi kupikirkan itu semua. Itu soal nanti. Sementara kami bersiap untuk menikmati bulan madu kami. Dua hari lagi, kami akan berangkat ke Singapura dan menikmati hari-hari indah kami bersama.

Kusiapkan tasku, packing dimulai. Memang lelah, memang meletihkan, tetapi hatiku senang luar biasa…bahagia…

Hotel Meritus Mandarin, di jantung Orchard Road.

Kami melangkahkan kaki bersama. Penuh senyum dan tawa ceria. Di hotel ini kami akan tinggal sekitar lima malam, sebelum kami berangkat ke Ho Chi Minh City. Sebetulnya ‘rate’ hotel ini tidak murah, tetapi karena aku punya seorang kenalan yang bekerja di sini, jadi kami bisa mendapatkan diskon yang cukup lumayan. Dan tinggal di Orchard Road pastinya amat memudahkan buat kami, ditambah lagi posisi hotel yang bersebelahan dengan pusat perbelanjaan Takashimaya, dekat pula dengan Wisma Atria dan Ion Orchard. Kalau mau ke toko buku, juga tidak terlalu jauh jalannya, tinggal menyeberang atau via ‘underpass’ ke Borders yang terletak di Wheelock Place. Hari-hari ini terasa membahagiakan. Bersama Jason. Oh, tentunya ada masalah-masalah kecil seputar kebiasaan menaruh handuk, memencet odol, kamar mandi yang terlanjur basah olehnya…Hal-hal sepele yang tak pernah kuketahui sebelumnya. Sama seperti Jason yang juga baru mengetahui ritual-ritualku sebelum tidur yang harus dengar musik dulu (makanya kubawa Ipod-ku ke mana-mana) sambil membaca buku atau majalah. Sementara Jason terbiasa tidur dengan televisi yang dinyalakan. Sementara aku? Kalau aku tidur, aku suka suasana yang tenang. Tanpa gangguan apa pun. Akhirnya, keputusannya Jason tetap menyalakan dengan volume kecil, sampai dia tertidur, kumatikan televisi itu. Perlahan, kami mulai adaptasi…Besok, kami akan jalan-jalan ke Universal Studio. Jadi, bobok sajalah!

***

Susi terbangun dengan kepala pusing. Pandangannya masih kabur, segala sesuatu seolah berputar di depan matanya. Di manakah dia berada? Harusnya ini bukan tempat yang asing. Seolah sebagian dari tempat ini dikenalinya… Pria itu yang membiusnya sudah tak ada. Dengan pandangan yang masih berkunang-kunang, dia mendengar suara yang juga familiar. Tetapi dia diikat pada kursi di kamar itu. Sehingga tak bisa melakukan apa pun.

Suara itu? Suara seorang perempuan. Mama Willem??? Tiba-tiba dia menyadari bahwa ini adalah bagian dari rumah Willem. Kamar kosong yang tak pernah diisi, kecuali ada tamu yang datang. Mengapa dia sampai ada di sini? Pria itu, apakah dia juga ada hubungannya dengan Mama Willem?

“ Oh, kamu sudah sadar rupanya, Susi!” Mama Willem bicara dengan sinis.

“ Iya, Tante. Eh, iya, Ma. Willem ada di mana? Mengapa aku sampai ada di sini?” tanya Susi.

“ Jadi, kamu tidak tahu? Kamu tidak peduli memang! Willem sudah mati dan itu gara-gara kamu!” Ungkap Mama Willem penuh emosi.

“ Willem…MATI??? Apa yang terjadi, Ma?” tanya Susi terbata-bata.

“ Jangan panggil aku Mama. Aku tak punya menantu kurang ajar sepertimu. Yang bisanya cuma meninggalkan anakku di saat susah. Yang menyusahkan saja. Kami tak tahu kau di mana, makanya kusewa seorang detektif untuk mengikutimu dan membawamu ke sini. Karena aku mau memberitahukan semuanya kepadamu. Willem mati karena stress berat. Dia depresi. Lalu bunuh diri. Dan itu semua gara-gara KAMU! Haruskah kuucapkan terima kasih kepadamu???” Suaranya semakin meninggi.

Susi hanya diam. Terisak. Tak tahu lagi harus bicara apa. Memang dia bukan istri yang baik, tetapi tak pernah terpikirkan olehnya bahwa Willem akan bunuh diri lagi dan kali ini pergi meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya.

“ Kamu puas sekarang?” tanya Mama Willem lagi.

“ Nggak, Tante. Saya menyesal.” Jawab Susi perlahan.

“ Ah, sudahlah! Simpan saja sesalmu! Apa mungkin orang sepertimu bisa berubah? Kamu di sini dulu, sampai aku puas. Sampai aku melampiaskan kekesalan hatiku padamu. Walaupun aku tahu, takkan mungkin semua yang kulakukan ini membawa Willem kembali ke pangkuanku…Dia sudah pergiiiii…” Teriak Mama Willem sambil menangis perih.

Susi terpaku sekali lagi. Tiba-tiba penyesalan itu menderanya. Rasa bersalah itu memenuhi hatinya. Apakah seburuk itukah tindakannya?

Mama Willem pergi meninggalkan kamar itu dengan pilu. Sementara Susi dilepaskan dari tali yang mengikatnya oleh pembantu rumah tangga rumah itu tetapi dikunci dari luar. Jendela pun terkunci rapat, sehingga tiada jalan keluar baginya.

***

Siang hari yang menyengat di Universal Studio. Setelah dari pagi kami berkeliling. Kami kelelahan juga. Kami memutuskan untuk minum dan berteduh sejenak. Cuaca yang terik mengakibatkan kami begitu cepat haus. Tiba-tiba, kepalaku berkunang-kunang. Aku pusing mendadak. Ah, tekanan darahku memang sering mendadak turun, apalagi di kondisi panas menyengat seperti ini. Akhirnya acara kami batalkan.

Aku dan Jason pulang ke hotel, istirahat sejenak. Setelah itu, kami makan malam di hotel saja. Karena ternyata kepalaku masih pusing. Jason pun betul-betul menunjukkan kepeduliannya padaku. Mungkin, inilah anugerah terbesar dalam hidupku. Ada seseorang yang menyayangiku dan dia berada di sisiku ketika aku tengah sakit seperti ini. Masih makan perlahan dengan tidak bersemangat. Aku berusaha menelan makanan itu, tapi aku tak mampu. Pusing kepala melandaku. Kuputuskan untuk tidur.

Keesokan harinya.

Kondisiku belum berubah banyak. Jason setengah memaksaku untuk cek ke dokter. Apalagi ini di Singapura yang terkenal dengan dokter-dokter yang kompeten. Kami belum tahu harus ke mana. Yang terdekat adalah Mount Elizabeth Hospital, di belakang Paragon sana. Bahkan bisa jalan kaki. Sementara masih dalam jarak yang amat dekat Gleneagles Hospital juga tak jauh dari Orchard Road. Tetapi, RS itu terkenal mahal, namun Jason tetap memaksaku pergi ke salah satu dari keduanya. Biar aku tak terlalu tersiksa lama. Kuputuskan untuk pergi ke Gleneagles saja. Kami naik taksi.

Kami mendaftar pada dr. Ng, ahli syaraf. Sebetulnya aku bingung harus ke dokter apa, tetapi kuputuskan untuk memulainya dari dr. Ng yang direkomendasikan seorang sahabat Jason di negeri ini.

Setelah memeriksaku secara teliti, dr. Ng menyarankan aku untuk melakukan scan di kepalaku. Hal yang tak pernah kulakukan sebelumnya. Takut sih, tapi apa boleh buat, harus kuhadapi juga. Setidaknya aku ingin tahu kejelasan juga, apa sebetulnya penyebab sakit kepalaku itu. Selama ini, terkadang ia datang dan pergi. Tetapi, tak pernah jadi masalah besar. Selalu kupikir itu karena kurang darah yang muncul tiba-tiba. Tak pernah jadi gangguan besar. Jadi, aku pun sudah terbiasa. Ketika harus diperiksa, sejujurnya ada keraguan menyergapku juga. Haruskah? Kuputuskan untuk mengatakan iya, walaupun hatiku kalut. Tuhan, tolong aku… Kugenggam tangan Jason dan berusaha mencari kehangatan dari tangannya….Ya, aku sungguh takut!

***

Susi memutuskan untuk masuk ke kamar mandi dan mandi. Seperti biasa ritualnya. Dia berbaring di bath tub, seolah tak peduli kondisinya yang tengah disandera mertuanya sendiri. Di bath tub itu, tiba-tiba dia membayangkan kehidupannya sendiri. Willem sudah mati. Terbaring di bath tub ini, membuatnya berpikir, beginikah rasanya berada dalam peti mati? Beginikah rasanya ketika harus pergi untuk selamanya? Tiba-tiba ada rasa sesal juga. Sesal karena dia tak menjadi istri yang baik selama ini. Bukannya menjadi istri yang baik, malahan dia bersenang-senang dengan pria lain yang baru dijumpainya. Tetapi, dia sudah kena batunya sendiri. Ternyata Vic tak lebih dari seorang penjahat kelas kakap!

Kembali merasakan dirinya di dalam bath tub itu, dia merasakan seolah kematian itu bisa begitu dekat. Selama ini, hidupnya tak pernah benar. Selama ini, hidupnya isinya hanyalah kebencian dan dendam yang terus dia sebarkan. Adakah kesempatan kedua untuk menata kembali hidupnya? Mungkinkah dia mengulang segala sesuatunya dengan berbeda?

Air matanya turun seketika. Jarang-jarang Susi menangis. Perlahan dia bangkit berdiri, menyudahi mandinya. Tiba-tiba dirasakannya mual yang amat sangat menyerang lambungnya. Dia pun muntah seketika. Heran. Ini pun tak pernah terjadi.

Diingatnya kembali kapan terakhir dia datang bulan. Ternyata sudah lebih dari 35 hari yang lalu. Mengapa dia bisa lupa? Mungkinkah dirinya hamil? Kalau hamil, anak siapa ini? Willem atau Vic? Lagian, dalam kondisi tersandera begini, mungkinkah dia lakukan tes kehamilan?

Ketika seluruh pikiran itu berkecamuk di kepalanya. Tiba-tiba pintu kamar dibuka lagi.

Bersambung…

Jakarta, 10 Agustus 2010

-fon-


Thursday, August 5, 2010

Sekilas Info

Getting back on track.
Setelah sekian lama, ketiadaan koneksi internet membuat saya tak kuasa onlen. Juga ditambah kondisi yang berubah secara tiba-tiba karena adanya berkat dari Yang Kuasa dalam bentuk hadirnya seorang jabang bayi di rahim saya untuk kedua kalinya, membuat saya tak mampu berbuat banyak. Namun, saya menikmati perubahan ini. Menikmati liburan yang diperpanjang. Extended version. Karena saya diharuskan tinggal di Indonesia untuk jangka waktu yang cukup panjang sampai saya siap untuk terbang kembali ke Ho Chi Minh City.

Senang, bahagia, bercampur kuatir juga. Semua menjadi satu. Nano-nano rasanya. Karena berarti akan banyak rencana yang berubah, akan banyak perubahan yang sedang dan akan terjadi. Tetapi saya tetap yakin bahwa Tuhan akan terus menemani saya dalam semua proses ini.

Diiringi perasaan mual dan ingin muntah. Ditemani hari-hari penuh istirahat dan tidur siang, sekaligus rasa tidak enak bodi. Meresapi ‘mood swing’ serta semua perasaan yang ada di dalamnya. Saya sadar, adalah anugerah untuk kembali berkesempatan merasakan ini semua sebagai hadiah dari-Nya.

Launching buku juga masih beberapa hari lagi, ada beberapa jadwal yang terpaksa berubah. Awalnya sudah OK untuk bertemu beberapa teman lama dan saya juga amat ingin menemui mereka. Kangen. Apa daya, kondisi tubuh belum menunjang. Mungkin juga saya akan menulis di sela-sela kondisi muntah yang muncul tanpa diundang… Tetapi, biarkan saya menikmati ini semua sebagai suatu proses kehidupan yang direncanakan-Nya dalam babakan kehidupan saya.

Doakan saya. Semoga kuat menjalani semua kondisi ini. Juga masih tetap bisa menulis, walaupun pastinya tidak seproduktif sebelumnya. Karena kerinduan untuk kembali mengetikkan keyboard selalu menyeruak walaupun tengah terbaring lemas.

Terima kasih buat semua support, rasa kangen yang diungkapkan bahkan oleh beberapa teman yang tak pernah bertemu secara fisik karena hanya via dunia maya (tetapi kalian tetap bagian hidupku hehe), dan semoga sabar menanti tulisan-tulisan saya lainnya.

Saya undur diri dulu, sampai jumpa di tulisan berikutnya…

Jakarta, 5 Agustus 2010
-fon-
* tautannya ada di: www.fjodikin.blogspot.com