Sunday, February 27, 2011

Benahi Lemari Hatiku


Benahi Lemari Hatiku
Kubuka lemari bajuku. Sudah terlalu penuh.
Banyak barang yang kurang perlu. Baju lama yang sudah kusam, namun rasanya sayang untuk dibuang. Karena ada memori di sana, yang memberi orang yang dekat di hati. Tak jarang, kubuat sebagai baju tidur. Karena nyaman, karena enak dipakai. Tetapi jumlahnya makin hari makin banyak. Sehingga memenuhi lemari baju yang tidak seberapa luas ini.Bukankah seharusnya mulai kupilah dan kupilih, dengan tanpa mengurangi hormat kepada orang-orang terkasih?
Di satu bagian lemari bajuku, kulihat banyak baju yang kubeli secara impulsif. Karena diskon, mumpung murah. Lalu kubeli. Sampai di rumah, ternyata tak terlalu cocok untuk dipakai. Jadi, hanya buat pajangan di almari, tanpa sempat kupakai sama sekali. Sayang sebetulnya, tetapi terkadang itu memang pernah terjadi. Mereka pun harus kuangkut daripada terus ‘nyangkut’ di almari.
Ada beberapa baju yang mulai kesempitan, karena tubuhku sudah mulai membesar. Dan sudah harusnya kuhibahkan kepada orang yang lebih membutuhkan. Mungkin pembantu, mungkin panti asuhan, mungkin orang yang berkekurangan. Ah, semangat berbagi tiba-tiba memenuhi hatiku. Mumpung masih bagus kondisinya. Daripada nanti semakin menguning dan berubah warna, bukankah lebih baik diberikan di saat masih bisa?
Ada beberapa baju yang terlalu besar bagiku. Baju-baju saat aku sedang lebih gemuk dari kondisi sekarang. Aku juga akhirnya memutuskan untuk menghibahkan mereka. Karena kalau untuk jaga-jaga, misalkan suatu saat gemuk lagi… Ah, nanti aku tak mau jaga berat badanku dan mencari-cari alasan: mumpung masih ada baju-baju kegedean… Berbagi sajalah, bukankah itu indah?
Setelah sebagian besar baju yang tak terpakai: salah beli, kebesaran, kekecilan, dikeluarkan… Terasa begitu lega memandangi lemari bajuku sendiri. Terasa enteng, ringan, dan tak terlalu sumpek seperti biasanya... Legaaa sekali! Juga mengingatkanku untuk mawas diri, biar tak menghamburkan uang secara percuma lagi. Sayang sekali nanti jika harus terbuang seperti ini…
***
Kubuka lemari hatiku.
Banyak kenangan masa lalu yang pahit berada di situ. Kenangan yang tak mau kulepaskan, walaupun kutahu dengan melepaskan berarti aku yang disembuhkan. Banyak luka, ada dendam, ada kekecewaan berlebihan atas kegagalan, ada rasa malu yang tak pernah selesai. Ah, terlalu banyak yang tak perlu kutampung di hatiku. Sehingga hatiku terasa penuh sesak dengan hal-hal yang tak perlu. Membuat pusing kepala, membuat sakit yang mendera dan membuat sesak nafas ketika mereka melintas di depan mata…
Kupikir, ketika aku bisa melakukannya terhadap lemari bajuku, kenapa tidak kucoba lakukan bagi lemari hatiku?
Kucoba lakukan itu…
Walaupun kutahu, tidak begitu mudah untuk lupakan semua seolah amnesia. Atau menjentikkan jari belaka…
Tetapi, biarlah hari ini, aku mau menata dan membenahi lemari hatiku. Buat kesehatan jiwaku sendiri. Buat kesembuhanku. Karena kutahu, kesembuhan itu akan terjadi hanya jika kubuat langkah awal hari ini.
Aku mau berbenah. Melepaskan yang tidak perlu. Tanggalkan dendam dan benci di masa lalu, tinggalkan kuatir dan cemas tentang masa depan. Dan berusaha untuk hidup bahagia di hari ini.
Lemari bajuku sudah lebih ringan. Lemari hatiku juga. Walaupun belum seringan lemari bajuku. Tetapi sudah kucoba lakukan langkah-langkah pendahuluan untuk itu.
Berbenah lagi, menata lagi…
Semoga hari ini dan esok lebih baik dengan niatan ini :)
Ho Chi Minh City, 27 Feb. 2011
-fonny jodikin-
*inspirasi penulisan timbul ketika membenahi lemari baju beberapa hari yang lalu.
*copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya. Trims.
sumber gambar:
idealhomemagazine.co.uk

Thursday, February 24, 2011

Being Mom: Perih


Being Mom-Perih

*** imajinasi membawaku ke Jakarta dan menemui Putri di sana

Percakapan ini terjadi di ruang tunggu Dokter Kandungan di sebuah RS di Jakarta antara aku dengan seorang anak perempuan usia 17 tahun-sebut saja dirinya Putri- yang sedang mengandung anak pertamanya.

Aku:

Sama siapa kamu ke sini, Dek?

Putri:

Sama Mama, Tante. Tapi, Mama sedang pergi membeli roti buat aku.

Aku:

Oh, begitu…

Diam. Tenang. Dia membaca majalahnya lagi. Majalah anak remaja seusianya. Kupandangi wajahnya yang lugu. Lembut, manis, dan bersahaja. Kulitnya hitam manis, rambut keriting alami. Dengan umur yang memang pantas disandang keponakanku, tepatlah ia memanggil aku dengan sebutan: Tante.

Aku:

Ini kehamilan Tante yang ke-2. Usia kandungan Tante sekitar 30 minggu.

Kucoba mencairkan suasana kaku dengan membuka percakapan. Biasanya aku tak pernah bawel begini. Tetapi, hadirnya di ruang tunggu dokter kandungan yang sama denganku membuatku ingin bercakap-cakap dan mencari tahu juga. Sekaligus merasa kasihan. Perutnya sudah membesar, seolah tinggal tunggu waktu.

Putri:

Oh, kata dokter, kalau aku sih minggu depan sudah bisa lahir. Ini 37 minggu, Tan.

Aku:

Ok. Semoga kandungan kamu dan kamu baik-baik ya, sampai lahiran nanti lancar semuanya. Tante bantu doa saja.

Aku mengucapkannya sambil tersenyum. Senyum di bibir, tetapi perih di hati. Aku memandangi wajahnya: kamu terlalu muda, Dek… Untuk menerima konsekuensi ini. Tetapi, pastinya ini hal yang tak pernah terpikirkan olehmu sebelumnya. Kupuji keberanianmu untuk melahirkan dan untuk kemudian mungkin membesarkan anakmu bersama Mamamu dan/atau suamimu? Kesiapan mentalmu memang belum terbina, tetapi kau nampaknya tenang menerima ini semua…Semoga kamu, papa anak ini, juga bayi yang ada dalam kandunganmu baik-baik saja.

Kugigit bibirku perlahan. Kenyataan ini begitu menyentak, karena ia hadir di depan mataku. Sekaligus juga membukakan realita, bahwa dari dulu sampai sekarang adalah sulit untuk menjaga kemurnian seksual seseorang dan yang selalu jadi sorotan adalah anak gadis karena kehamilannya. Bukan hal yang mustahil memang, tetapi semakin lama semakin ganas juga distribusi pornografi dan rekan-rekannya. Semakin mudah diakses. Dan norma-norma masyarakat yang ada, ajaran agama yang menganjurkan kebaikan semacam menunda hubungan badan hanya setelah menikah seolah dianggap angin lalu. Mereka tahu, tetapi tak mau tahu? Atau memang mereka tak lagi peduli? Aku tak tahu apa yang ada di pikiran mereka. Mungkin lupa, mungkin lalai, mungkin cuek? Tetapi ketika masa depan yang jadi taruhannya? Ketika mereka tak lagi bisa sekolah atau kuliah di saat mereka tengah menjalani itu semua? Ketika mereka harus dengan terpaksa menjalani peran orangtua sementara mentalnya masih remaja…

Ah, betapa menyesakkan kenyataan yang ada…

Kupuji beberapa rekan yang terus menyuarakan untuk menjaga kemurnian remaja, generasi muda… Untuk tidak ikut arus dunia, melainkan terus mendekat kepada Yang Kuasa…Karena cobaan dan godaaan memang besar, tetapi Tuhan jauh lebih besar dari itu semua asalkan kita percaya…

Tak lama, ibunya Si Putri hadir di ruang tunggu dengan bungkusan roti dan air mineral. Kulihat Putri memakannya dengan lahap. Tiba-tiba aku merasa mengenal wajah itu. Sangat familiar…Mungkinkah kami pernah bertemu di satu waktu di masa lalu ?

Mama Putri:

Kamu, kamu Fonny?

Aku:

Iya… Kamu Ningsih? Teman SMP dulu di Palembang?

Ningsih:

Iya, betul…

Kami berpelukan. Ningsih sobat baikku semasa SMP itu kemudian menghilang tanpa berita. Terakhir kami dengar, dia harus berhenti sekolah untuk kemudian pindah ke Jakarta karena dia terlanjur hamil dengan pacarnya.

Kulihat wajah Putri dan Ningsih berganti-ganti…Air mata haru membasahi pipi kami. Pertemuan yang tak pernah kusangka-sangka terjadi di ruang tunggu dokter kandungan di sebuah RS di bilangan utara Jakarta.

Panasnya Jakarta tertutupi sementara oleh pendingin ruangan yang dipasang begitu banyaknya di ruang tunggu ini. Tetapi aku tak mampu menahan kesedihan di hatiku…

Kupandangi sekali lagi: Putri dan Ningsih…

Kupegang dadaku yang tiba-tiba terasa sesak…

Dan perihhhh… Mengapa kau kembali lagi?

Ho Chi Minh City, 25 Feb. 2011

-fonny jodikin-

*buat Putri dan banyak ‘Putri-Putri’ lainnya… Yang terpaksa harus menjalani peran Ibu di usia muda. Langkah yang pernah salah, bukan berarti akhir segalanya. Mudah-mudahan masa depan lebih cerah dan bangkitlah dari masa lalumu, jangan lagi mengulangi kesalahan yang sama… Bagi yang muda dan yang masih single, moga-moga tetap mau memperjuangkan kemurnianmu sampai hari pernikahan nanti. God bless!

* copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya karena itu sangat berarti buat aku. Trims.

Monday, February 21, 2011

Sabar Menanti


Sabar Menanti

Berkendaraan umum beberapa jam lamanya tanpa tujuan, Mersi hanya putar-putar keliling kota untuk menghilangkan penatnya. Mencoba meredakan risau dan galau yang selama bertahun-tahun telah memenuhi otaknya. Terlalu banyak perkara yang tak jelas berada di hadapannya. Dia ingin kepastian dalam hidupnya, walau dirinya sadar: ketidakpastian itu yang lebih banyak harus dia hadapi hari lepas hari. Kepastian akan jodohnya, pekerjaannya, masa depannya, penyakit orang tuanya. Semua sudah menumpuk dengan tebal dalam kepalanya.

Diputuskannya naik omprengan semacam mobil ‘Colt’ warna merah dengan jarak terjauh. Sejauh yang dia bisa. Diam-diam dia mengamati mobil-mobil yang lalu lalang di sekitarnya. Sampai matanya tertuju pada tulisan di truk yang seringnya aneh, lucu, terkadang asal tulis… Tetapi hari itu, tulisan itu menyentaknya: “ Sabar Menanti.” Hanya dua kata itu…

Yah, Tuhan… Sabar? Benar, harus kulakukan. Tetapi, sampai kapan?

Mersi mendesah perlahan. Melanjutkan pengamatannya terhadap sekitar. Kelelahan karena cuaca di luar memang amat panas. Lalu memutuskan untuk berhenti di perhentian terdekat. Ingin minum dan mengisi perutnya yang lapar dengan sedikit makanan. Sudah jam satu siang dan sudah satu jam lebih dia berada di angkot berwarna merah itu.

Matanya kembali terhenti pada warung makan sederhana. Dengan plang: WARUNG NASI SABAR MENANTI.

Lho, lho, lho…. Engkau tidak sedang bercanda ‘ kan, Tuhan? Mengapa seolah kebetulan, dua kali dalam waktu tidak sampai dua jam ini, dia terus diingatkan dengan dua kata itu: sabar menanti. Wait patiently?

Rasanya sudah dilakukannya selama ini dan dia merasa cukup sudah penantiannya. Dan dia merasa amat lelah dengan semua tumpukan permasalahan yang mendera.

Could you please give me a break, God?

Diminumnya es teh manis yang telah tersaji di hadapannya. Lega. Dimakannya pula nasi beserta lauk-pauk sederhana: sayur gulai singkong, kering tempe, dan telor mata sapi. Perut kenyang, rasa segar teh manis, memberikan kekuatan di dirinya untuk melangkah lagi.

Tiba-tiba terbayang di kepalanya.. Itu yang harus dilakukan: menimba kekuatan baru dari-Nya dan melangkah lagi dengan ketegaran yang baru di dalam iman. Percaya bahwa penantiannya takkan pernah sia-sia… Karena Tuhan dengar semua doanya.

Ditinggalkannya Warung Nasi Sabar Menanti dengan senyum di bibir-juga senyum di hati. Mencoba bersabar lagi. Walaupun terkadang dia pernah merasa putus asa dan ingin berhenti, Tuhan ingatkan dirinya sekali lagi. Seolah kebetulan, tetapi heiii! Bukankah kita selalu percaya bahwa dalam hidup, yang seolah kebetulan itu sebetulnya sudah ada dalam agenda rencana-Nya?

Mersi melangkah, tak lagi terseok. Sedikit lebih pasti walaupun kondisi hidupnya belum mengalami perubahan. Percaya bahwa Tuhan tahu yang terbaik baginya. Bagiannya hanyalah berusaha dan …sabar menanti!

Ho Chi Minh City, 22 Feb 2011

-fon-

* Everything will be beautiful in His time. Bagian kita hanyalah setia, terus berusaha, tetap percaya dalam iman, dan sabar menanti:)

* copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya. Trims.

sumber gambar:

http://www.sabarmenanti.com.sg

Monday, February 14, 2011

Amnesia (Part 3)- Tamat


Amnesia (Part 3)

*** on Valentine’s Day onwards…

Previously on Amnesia Part 1:

Setelah perjalanannya keliling kota dengan KOPAJA, Karina mendapati bahwa banyak bentuk cinta lainnya yang selama ini terlupakan. Kurang disadarinya karena terpaku pada bentuk cinta yang hanya seolah asmara antara pria dan wanita. Ternyata cinta memiliki keindahan yang berbeda pula ketika dilihat dari perspektif yang lain… Bagaimanakah akhir cerita ini? Simak di bagian ke-3 berikut ini…

Kulangkahkan kakiku perlahan memasuki pintu rumah. Rumah yang kurang ramah. Mama yang pemarah, Papa yang sibuk. Seolah kehilangan ‘rasa’ yang seharusnya membuat betah. Tetapi, kali ini kucoba. Besok hari Valentine itu… Mungkinkah akan ada beda? Atau harus aku sendiri yang membuat perbedaan dengan mereka? Yah, rasanya begitu… Itu yang akan kulakukan…

Sore itu aku menghampiri Mama. Aku bilang pada Mama kalau aku punya ide. Bagaimana kalau kami pergi ke panti asuhan, panti jompo, atau panti anak cacat? Menyambut Valentine’s Day dengan cara ini mudah-mudahan mendekatkan keluarga kami kembali. Dan sedikitnya menghapus luka dan kecewaku akan hubungan yang tak lancar dalam bidang asmara… Yah, siapa tahu Mama setuju… Dan aku pun tak perlu amnesia, kalau hanya untuk sehari saja… Apa ada gunanya? Seharusnya aku bangkit dan menata kehidupanku kembali… Dengan tegar, walau pun tertatih tetap bangkit berdiri…

Mama mengangguk setuju, walaupun dipenuhi keraguan. Matanya menyiratkan akan hal itu. Yah, kami akan mencoba pergi ke sebuah panti. Mama yang memilih panti jompo. Mungkin karena Mama ingin membagikan kasihnya kepada orang-orang yang lebih tua… Papa? Ah, itu urusan Mama. Mama akan menelpon dan mengabarkannya pada Papa. Kami akan lakukan kunjungan itu nanti di hari Minggu tanggal 20 Februari. Pas seminggu waktu kami mempersiapkan semuanya. Nasi kotak, bingkisan, dan memilih Panti Jompo yang mana.

Hubungan aku dan Mama membaik. Mama mempercayakan pemilihan makanan katering padaku, tetapi tetap rekomendasinya oleh Mama. Papa terlibat percakapan kami sesekali. Rumah telah kembali merekahkan sinar cintanya. Karena kami mengusahakannya… Karena adanya perubahan sikap kami…

Kuangkat telepon. 14 Februari. Hari Cinta kasih bagi kami sekeluarga…

“ Halo, Katering Yummy? Bisa bicara dengan Pak Rio?”

“ Ya, saya sendiri.” Suara berat di seberang sana menjawab teleponku dengan sopan.

“ Begini, Pak. Saya perlu 50 box makan siang untuk Hari Minggu tanggal 20 nanti. Saya ingin pesan, tetapi saya ingin lihat menu Bapak dulu. Boleh?” tanyaku lagi.

“ Silakan, Bu. Dengan siapa saya bicara?” Tanya Pak Rio lagi.

“ Dengan Karina, Pak. Sore ini saya mampir ke tempat Bapak, ya? Nanti kita diskusikan menunya…” Jawabku lagi.

“ Oh boleh-boleh… Datang saja ke alamat kami. Sudah ada atau belum?” tanyanya lagi.

“ Sudah. Sampai nanti sore jam 6, ya Pak!” Klik. Telepon dimatikan. Aku bergegas menceritakan perkembangan ini pada Mama.

***

Katering Yummy, jam 18.00 kurang 5 menit.

Kupencet bel perlahan. Terdengar langkah kaki dari dalam bergegas membukakan pintu. Kupandangi dia. Wah, lumayan… Tampan juga! Inikah Pak Rio yang tadi kuajak bicara di telepon? Ah, kutepis pikiran macam-macam yang sempat singgah. Paling dia sudah beristri! Jangan bermimpi, Karin!

Pembicaraan berlangsung lancar. Kupilih menu sederhana dengan lauk rendang dan ayam goreng, masing-masing 25 kotak. Serta sayuran, buah dan agar-agar. Kumintakan ayam tulang lunak juga rendang yang dimasak lembut untuk kaum jompo yang mungkin kekuatan mengunyahnya sudah tak lagi sama seperti dulu.

Pak Rio kemudian minta dipanggil Rio, karena ternyata jarak umurnya hanya 5 tahun dariku. Single katanya. Belum menikah, jadi janggal dipanggil Pak. Ah, inikah bingkisan Valentine itu? Kenalan dengan seorang cowok lumayan ganteng, muda, single pula? Hush, Karin… Terlalu cepat mengambil kesimpulan deh…

Akhir cerita, pertemuan lancar. Pesanan ok. Malah Rio akan mengantarkannya sendiri ke rumah kami di pagi hari pukul 9 pesanan kami. Minggu nanti dia datang ke rumahku!

***

20 Februari. Minggu pagi.

Rio tepat waktu. Jam 9 tepat, dia sudah datang membawa pesanan kami. Dan bukan itu saja, dia pun menawarkan untuk pergi bersama-sama dengan kami. Wah, hatiku senang. Berdegup kencang, sekaligus berbunga-bunga.

Seolah semuanya kebetulan? Yah, mungkin saja. Tetapi kalaupun ini kebetulan, ini adalah kebetulan yang amat menyenangkan!

Suasana Panti Jompo Sinar Mulia diliputi keharuan. Aku merasa bersyukur, orangtuaku masih sehat. Dan melihat kebahagiaan di mata para penghuni panti jompo, perlahan air mataku menetes. Betapa mereka butuh kunjungan karena mereka merasa kesepian walaupun memiliki teman-teman seumuran.

Diam-diam aku sering memergoki Rio memandangiku. Aku pun curi-curi pandang ke arahnya. Aku senang dengan perkembangan ini. Walaupun aku tahu, tak mungkin hubungan ini melaju terlalu cepat. Ini hanya pertemuan kami kedua kalinya. Masa’ aku sudah mau berpikir terlalu jauh? Lagian hatiku masih terluka, jadi aku memilih sikap hati-hati… Sambil jalani saja semuanya.

***

Singkat cerita.

Kunjungan panti jompo sukses. Suasana di rumah bahagia dan ceria lagi. Dannn, Rio masih sering mengunjungi rumahku setiap minggu.

Tepat setahun sesudah Valentine’s Day kelabu tahun lalu yang kemudian ternyata menjadi titik perubahan yang berarti di keluargaku… Aku mengalami jalinan asmara lagi. Dengan Rio, tahun ini jadi lebih berarti. Di Hari Kasih Sayang setahun berikutnya, dia melamarku.

Hampir pingsan, seperti mimpi, tetapi ini semua nyata. NYATA!!!

Aku tersenyum. Berterima kasih pada Sang Empunya kehidupan untuk rencana-Nya yang indah dalam hidupku. Yang tak pernah kuselami ataupun kuketahui misterinya.

Amnesia? Tak perlu lagi. Dan tak mau lagi. Tokh akhirnya di tahun lalu pun, aku memutuskan untuk tak mau amnesia walau hanya sehari saja. Kuakui pernah kutergoda untuk mengalaminya, tetapi untungnya tidak terjadi.

Setelah semua badai itu, harus kuakui….Aku bahagia!

Tamat.

Ho Chi Minh City, 15 Februari 2011

-fon-

* maaf atas keterlambatan posting bagian ke-3 ini. Selamat hari kasih sayang, semoga setiap hari menjadi hari untuk berbagi kasih senantiasa, tak melulu hanya di satu hari saja.

* copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya. Trims.

sumber gambar:

singleminglehumble.blogspot.com


Thursday, February 10, 2011

Amnesia (Part 2)


Amnesia (Part 2)

*** jalinan cerita jelang Valentine’s Day

Previously on Amnesia Part 1:

Mengisahkan perasaan seseorang yang putus asa dalam mencari cinta. Sudah berusaha banyak kali, menemui kegagalan, sampai berpikir untuk amnesia walau satu hari saja. Tepat di tanggal 14, inginnya untuk amnesia makin menjadi-jadi… Perasaan sepi, sendiri, di tengah romantisme yang membanjiri dunia di Hari Kasih Sayang itu membawanya kepada rasa frustrasi. Sempat terpikir mencari semacam ramuan Mandragora seperti yang diteguk Cleopatra ketika cintanya -Antony-pergi. Tetapi akhirnya memutuskan untuk menolak zat adiktif dalam bentuk apa pun karena sadar efeknya sementara saja. Bagaimana kelanjutan kisahnya? Simak di Amnesia bagian ke-2 berikut ini…

Bagian ke-2: Cinta dalam Banyak Bentuknya…

Andai hidupku bisa kuatur, tentunya aku ingin punya ‘remote control’ kehidupanku sendiri. Di mana ketika aku merasa malas melewati momen-momen tertentu, aku bisa ‘fast forward’… Skip those chapters of life, dan kembali merasakan kesenangan kembali. Atau, ketika masa lalu yang indah dan begitu mengesankan hatiku-begitu kurindukan ingin kualami lagi…Aku tinggal memencet tombol rewind, dan itu semua akan kembali di depan mataku. Kualami secara langsung… Sayangnya, hidup bukan atas kendaliku semata. Aku tentunya bertanggung jawab atas hidupku, sementara ada banyak hal yang tidak bisa kukontrol begitu mudahnya. Karena dengan melewati peristiwa-peristiwa yang menyakitkan dan hanya memilih kegembiraan senantiasa, takkan membuatku menjadi orang yang dewasa. Apalagi bertumbuh secara pribadi.

Kujalani hariku dengan tak bersemangat. Tetapi kupaksakan diriku untuk berjalan… Ini tanggal 11 Februari, artinya tiga hari lagi hari penuh taburan cinta di udara itu akan tiba. Aku melangkahkan kaki perlahan, mencoba sesuatu yang tak pernah kulakukan. Naik bus kota jenis KOPAJA tanpa AC. Ini mungkin ide yang sedikit gila, tetapi kulakukan saja. Karena jujurnya aku sudah jenuh dengan ini semua. Serasa hampir hilang warasku. Hanya karena kesepian luar biasa… Mungkin di sini kutemukan jawabnya?

Di KOPAJA yang tidak seberapa ramai siang ini, kulihat seorang ibu tengah menggendong bayinya dengan gendongan bermotif batik. Warna gendongannya merah hati dengan corak hijau dan kuning. Sedikit ‘ngejreng’ dan mencolok mata di siang hari yang terik ini. Sesekali disekanya dengan penuh kasih bayi itu, berusaha mengurangi keterikan mentari dengan mengipas-ngipasnya perlahan dengan kipas plastik yang dia bawa dan keluarkan dari dalam tasnya. Ah, masih banyak jenis cinta yang lain… Bukan sekadar cinta romantisme belaka… Seperti cinta ibu ini pada anak bayinya… Seperti ibu padaku? Ah, aku ragu… Karena dia terlalu penuh kemarahan senantiasa… Jadinya, cintanya tak terasa lagi bagiku. Tetapi mungkin dalam hatinya dia pun merasa begitu? Harusnya iya, tetapi entahlah… Rasa itu begitu jauh di hatiku…

Di seberang tempat dudukku… Kudapati seorang kakek bersama cucunya. Si Kakek sudah cukup tua, sehingga membutuhkan bantuan cucu lelakinya untuk naik bus tadi. Cucunya kutebak sekitar umur 15-an… Sementara Si Kakek, mungkin 70-an… Cinta semacam ini, juga masih ada dan tetap menyala… Romantisme tetap membumbung di udara jelang hari yang konon penuh cinta… Tetapi, cinta semacam ini adalah cinta yang tak lekang dimakan usia…

Di pinggir jalan di lampu merah, kulihat seorang pengamen yang mencoba bertahan hidup dengan nyanyiannya yang tak seberapa merdu. Mungkin dia bagian dari kelompok besar pengamen lainnya? Atau mungkin juga dia mencari nafkah bagi keluarganya? Aku tak mengerti beban yang dia tanggung. Yang pasti bagiku, dia setidaknya berusaha hidup halal di tengah kerasnya zaman. Walaupun dia terkadang memaksakan kehendaknya dan memaksa orang untuk memberinya sedikit receh walaupun suaranya cenderung sumbang… Tetapi, dia juga punya bebannya.

Hei pengamen, apa kau bekerja untuk orang-orang tercinta? Mungkin iya, mungkin juga tidak… Tetapi dari apa yang kulihat ketika dia kemudian naik bus dan turun di terminal berikutnya, dia membagikan hasil mengamennya dengan teman-temannya. Beli nasi bungkus bersama…

Ternyata cinta dalam bentuk persahabatan juga masih bertahan bahkan amat nyata… Romantisme, mungkin bertahan beberapa saat lamanya: satu bulan, dua bulan? Satu tahun, dua tahun? Mungkin sepuluh tahun? Tetapi cinta penuh persaudaraan akan berakar dan tumbuh dengan ketulusan, tentunya bila dilakoni orang-orang yang memiliki hati yang bersahabat pula…

Bus KOPAJA semakin dekat ke halte di rumahku. Aku berhenti. Menoleh ke belakang untuk melihat kepergian bus itu untuk kemudian lenyap dari pandanganku. Ah, KOPAJA itu dan pertemuanku dengan orang-orang tak kukenal di dalamnya mengajarkanku sesuatu hari ini. Cinta punya berbagai bentuknya, bukan melulu sekadar romantisme yang diumbar…Apalagi hanya satu hari saja…

Bersambung…

Ho Chi Minh City, 11 Feb 2011

-fon-

* copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya. Trims.

sumber gambar:

singleminglehumble.blogspot.com

Tuesday, February 8, 2011

Amnesia (Part 1)


Amnesia (Part 1)

*** cerita mini jelang Valentine’s Day

Aku sudah lupa rasanya mencinta…

Mungkin lebih tepatnya, aku memutuskan untuk melupakan indahnya rasa itu karena seringnya keindahan itu berbalut luka.

Terlalu sering kurasakan kekecewaan itu menusuk hatiku-menikamnya bertubi-tubi-tanpa memberikan kesempatan baginya untuk pulih. Atau kepingannya sudah terlanjur tercecer entah ke mana… Sehingga ,sulit bagiku untuk menemukan mereka kembali apalagi merekatkannya menjadi satu lagi.

Hari Valentine yang segera tiba dalam beberapa hari lagi membuatku semakin patah semangat. Patah, karena di saat banyak orang tengah menikmati kisah cinta mereka yang tengah merekah... Atau kemungkinan-kemungkinan baru relasi yang tercipta: ‘naksir’, ‘nembak’, lamaran, tunangan, sampai ke jenjang pernikahan…. Aku harus berhadapan dengan kesendirianku. Lagi. Mungkin tembang sunyi ini sudah tercipta ketika tak pernah kurasakan kasih dari orangtuaku. Mama yang pemarah, Papa yang sibuk sendiri. Aku anak tunggal. Lengkaplah sudah. Dan ketika kucoba mencari cinta itu melalui relasi pacaran yang tercipta, aku pun selalu menemui jalan buntu.

Haruskah kuteguk minuman yang bernama Mandragora, seperti yang dilakukan oleh Cleopatra dalam tulisan Shakespeare? Haruskah aku lari dari kenyataan dan mencarinya melalui suatu ramuan yang berkhasiat sebagai zat semacam narkotika?

“Give me to drink mandragora…
That I might sleep out this great gap of time
My Antony is away.”

(Shakespeare's Antony and Cleopatra )

Cleopatra membutuhkannya untuk mengusir rasa sepinya ketika Antony, cintanya pergi. Haruskah kulakukan hal yang sama?

Ah, sudahlah…

Kutahu jawabnya. Aku takkan melakukannya.

Karena dengan mencarinya melalui hal-hal yang sementara begitu, akan menghasilkan sifat adiktif belaka. Aku akan ketagihan pada benda lainnya. Bukan, bukan cinta! Mungkin semacam narkoba. Atau…mungkin pada kebahagiaan semu yang membuatku melayang sementara, lalu jatuh pada level yang lebih rendah ketika sadar. Sepi, sakit hati, sendiri.

14 Februari sudah di depan mata…

Tiba-tiba kuingin amnesia. Lupakan semua kepedihan untuk satu hari saja.

Mungkinkah? Atau aku terlalu putus asa untuk menerima kenyataan yang ada? Menampik kenyataan bahwa aku memang kesepian dan sendirian ternyata tidaklah mudah…

Oh God, izinkan aku amnesia sehari sajaaa… Mungkinkah?

Bersambung…

Ho Chi Minh City, 9 Feb. 2011

-fon-

* copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya. Trims.

Sumber gambar:

singleminglehumble.blogspot.com

Friday, February 4, 2011

Pelintiran Hati


Pelintiran Hati

Hatiku terpelintir setiap kali kita berpisah…Mengapa harus seperti ini?
Mengapa kita harus terpisahkan jarak? Yang ratusan kilometer jauhnya…

Kita satu keluarga…Ayah, ibu, dan anak-anak…

Seharusnya kita bersama…Tetapi periuk nasiku memang memisahkanku dari mereka

Sedih, perih, tapi tak ada daya…Mungkinkah ini suratan takdirku...? Kujalani walaupun berat dengan langkah tertatih...

Hatiku terkilir setiap kali kuterbaring sendirian di tempat tidurku yang dingin dan sepi.

Sementara mereka ada di sana, aku di sini... SENDIRI.

Kugigit bibirku dengan kelu, senyap itu tak kunjung menjauh. Rindu berbalut keluh... Peluh seharian bekerja itu yang menghantarku kembali ke peraduan bisu...

Anganku melayang jauh menembusi awan, terbang tinggi di antara bulan dan bintang, mengintip perlahan lewat jendela kamar anak-anakku...

Inginku membacakan cerita sebelum tidur bagi mereka,ingin kukecup kening mereka sebelum tidur...

Ah, Ananda, kalian mungkin tak pernah tahu betapa kangennya diriku...

Hatiku patah, terkilir, terpelintir, dan cedera setiap kali kuingat diri kalian... Juga belahan jiwaku yang perlahan membunuh waktu setiap malam, menungguku untuk pulang...

Air mata menetes di pipiku. Sedikit kusesali keputusanku ketika menerima pekerjaan ini dan terpisahkan begitu jauh... Kutegarkan hatiku, mungkin ini sudah jalan-Nya bagiku...

Sulit, tapi aku berusaha bangkit...

Kusadari bahwa aku akan kehilangan momen-momen emas dalam hidup anak-anakku juga belahan jiwaku, tetapi tak kusangka perihnya sampai sebegitu jauh dan membuatku luruh…

Hatiku lecet dan baret...

Mungkin suatu saat kita bisa bersatu... Bukan hanya dua-tiga minggu, bukan hanya satu-dua bulan… Kusujud dan berdoa pada-Mu, semoga masih ada waktu bagi kami untuk kembali bersama : sebiduk mendayung perahu… Mahligai perkawinan dan lingkaran cinta yang Kauberikan padaku, semoga sempat bersama kami rengkuh…

Tuhan, semoga Kaudengar harap dan doaku… Semoga masih ada waktu.. Kuimani semua itu… Kutahu, Kau takkan tinggalkanku dalam setiap detik hidupku…Kupercayakan semuanya hanya kepada-Mu.

Ho Chi Minh, 4 Februari 2011

-fon-

* dipersembahkan buat dua sobatku yang terpaksa terpisah jauh dengan keluarganya karena bekerja di kota yang berbeda dengan tempat tinggal keluarganya. Dwi, Debbie, semoga kalian tabah dan semoga Tuhan dengarkan doa kalian… Will pray for you too:)

* copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya…

sumber gambar:
cindyclarklaw.com

Wednesday, February 2, 2011

Terompet Kala Tet


Terompet Kala Tet

Chúc mng năm mi!

Happy Tet!

Tet adalah saat untuk berkumpul bersama keluarga, liburan, juga perayaan besar dengan penuh pesta makan- minum di Vietnam yang nyaris membuat orang lupa diet. Jadi, rasanya tak afdol jika tak dibuat sedikit corat-coret, Toko-toko tutup, kantor dan bank pun tutup seminggu, pasar akan buka 3-4 hari setelah Tet.

Jangan kaget…

Di seluruh jagad yang merayakan ‘lunar new year’ bilang ini tahun kelinci, tetapi di Vietnam malah gambar kucing berderet-deret.

Ini tahun kucing di Vietnam dengan alasan mereka sendiri mereka memilih menggantinya dengan kucing, jadi biarlah kelinci dan kucing berduet… Lagian, tak mengapa, ini tokh Tet!

Suara nyaring berbunyi, kaukah itu terompet?
Tet teretttt… Terererettt…

Terompet atau klarinet?

Kelinci atau kucing tet?

Turis-turis mendatangi Nguyen Hue yang dipasangi bunga ribuan pot juga sebagian ada di buket..

Warga lokal dan turis pun saling gencet...

Semua siap-siap mengabadikan dan menjepret...

Hati-hati, jangan terlalu berdempet-dempet..

(Mungkinnn) ada copet!

Tereretttt... Tererettt..

Kucing dan kelinci berlarian berganti-ganti keluar dari terompet...

Semoga tujuan tahun ini tergaet

Langkah-langkah kita semoga tidak terlalu jauh kepleset…

Dan akhirnya meminjam istilah teman penulisku: semoga awettt…

Gong Xi Fa Chai! ‘Happy Tet!”

Ho Chi Minh City, 3 February 2011

-fon-

* Chúc mng năm mi!

Happy Tet!

(Happy New Year! Happy Tet, Bahasa Vietnam dan modifikasinya dengan kata Happy)

*copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya. Trims!

sumber gambar:

hoahoctro.com.vn