Wednesday, February 27, 2008

Mencintai Tuhan

Mencintai Tuhan

Pelayanan yang masih Tuhan percayakan kepada diriku sampai hari ini, adalah pelayanan berupa menuliskan renungan harian yang berjudul Thought of The Day (TOTD).
Menarik memang, mengawali tulisan ini dengan mengetik kalender renungan harian milik Joyce Meyer sekitar tahun 2001 atau 2002, jujur, aku lupa kapan tepatnya 
Dan Tuhan berikan kekuatan untuk menulis sendiri TOTD ini mulai awal tahun 2008 ini.
Aku hanya hambaNya, dan Dialah yang memberikan talenta serta kemampuan untuk menuliskan ide-ide itu dan mengirimkannya kepada teman-teman semua.
Thank God.

Anyway, kesaksian singkat betapa aku sendiri ditegur dan diingatkan Tuhan tentang mengasihi Tuhan Yesus dengan lebih baik lagi. Karena banyak kali, tulisan itu sendiri adalah untuk menguatkanku secara pribadi dan syukur-syukur bisa jadi berkat untuk orang lain. Amen 

Thought of the Day hari ini, tanggal 28 Februari 2008.

Love With Actions and in Truth

When you fall in love with your special one, you'll feel that love is all about romantic things.
You go to candle light dinners, holding hands, listening to sweet romantic love songs, get a bouquet of roses from your boy friend, etc. etc.
But there was an article in The Straits Times - Singapore Newspaper that made me realized that even you got chocolate, roses or romantic dinner on Valentine's Day, will those things really guaranteed that the person really loves you???

Today's word of God made me really see the reality of love.
Love isn't only about sweet words. Love isn't only about praising all the good things about your loved ones.
But when it comes to a deeper meaning of love, God asks us to love with actions and most importantly in truth.
Well, you can still sing your favorite love songs though, I don't mean to interfere your sweet memories with your loved ones...:)
But most importantly, prove your love to your spouse, to your family, to your loved ones with more than words. With actions and in truth! (-fon-)

"Dear children, let us not love with words or tongue but with actions and in truth."
---1 John 3:18


Tanggapan seorang teman, yang mengucapkan terima kasih, sekaligus menambahkan bahwa justru mengasihi Tuhan Yesus berarti memberikan apa yang kita punyai bagiNya, membawaku menyadari bahwa aku memang belum secara sempurna mencintaiNya. Dalam arti, mungkin cintaku juga masih sekadar kata-kata manis.
Ini cuplikan tanggapan seorang teman di Bandung:
So if we say we love God, we must give everything He wants from our life (your heart, your time, your job, and so on).

Aku terperangah, sekaligus merasa diingatkan sekali lagi bahwa memang Tuhan tau apa yang tengah menjadi pergumulanku. Setelah memiliki anak, aku juga terus merasa kehilangan teman dan pekerjaan juga kegiatan atau kesibukan lain di Jakarta.
Jujur, di sini, aku merasa hampir tak tentu arah. Memang upaya membesarkan anak membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Dan aku tidak hendak mengeluh untuk investasi tersebut, karena aku tahu, anakku membutuhkanku di sini.
Tetapi, aku juga menginginkan suatu karir, atau suatu kegiatan yang pasti, setidaknya ada kepastian tentang pekerjaanku.

Aku disadarkan oleh tulisan temanku itu, bahwa aku sendiri belum bisa mencintai Tuhan secara sempurna, masih hanya sebatas kata-kata. Ketika mencintai Tuhan berarti memberikan segala-galanya (EVERYTHING), aku sendiri terkadang masih mengeluh atau masih menyesali kehilangan peluang karir yang baik di Jakarta.

Setahun terakhir, aku mencoba mencari kerja di Singapura, sambil diiringi dilemma, bagaimana anakku, kalau aku bekerja. Memang ada mertua di sini, jadi masih agak mendingan kondisinya. Tetapi di sini untuk urusan baby sitter dan pembantu, segala hal yang berbau service memang jauh lebih mahal dan juga terkadang kualitas pembantu yang walaupun harus kuakui jauh lebih baik dari Indonesia karena pembantu di sini terbiasa bekerja segala pekerjaan rumah karena satu rumah biasanya punya satu pembantu, jadi mereka serba bisa.
Aku terkadang membayangkan apa yang terjadi kalau aku di Jakarta? Yang pasti secara karir akan terus menanjak (secara logikaku), namun apakah pisah dari suami dan anak (apabila aku memutuskan untuk bekerja di Jakarta), adalah keputusan yang bijak?
Aku tidak pernah suka long distance relationship, and if I have to choose, memang I’d like to give up everything for the sake of my family. Kesannya heroik sekali yah, tapi sungguh perjuangan bukan saja untuk give up everything, namun juga menerima itu semua sebagai rencanaNya, sampai detik ini masih kulakukan.

Dulu wanita karir, sekarang ibu rumah tangga. Terkadang hatiku berontak, kalau tidak: badanku kecapekan, namun di tengah itu semua, melihat senyum manis anakku dan melihat kerja keras suamiku membuatku tersadar: aku bahagia. Di tengah semua pengorbanan ini, ada suatu rasa manis yang tidak bisa dilukiskan. Tuhan baik bagiku.
Saat ini, di tengah kondisi yang masih bergumul soal apa yang seharusnya aku lakukan, aku mencoba menyerahkan semuanya kepadaNya. Kalau mencintai Tuhan berarti harus merelakan segala-galanya yang ada padaku, aku akan mencobanya mulai detik ini.
Setiap orang punya pergumulan masing-masing, tidak ada hidup yang sempurna. Aku sadar, setahun belakangan ini, aku terlalu fokus pada pekerjaan apa yang seharusnya aku lakukan di sini? Karena pada dasarnya aku orang yang tidak bisa diam, ketika harus tinggal di rumah, mengasuh anak, sungguh, suatu perjuangan.
Namun, sekali lagi suamiku pernah mengingatkan bahwa perjuanganku tidaklah sebanding dengan orang-orang yang jauh lebih menderita daripadaku.
Aku harus tetap bersyukur.

Hari ini, aku berterimakasih kepada Tuhan yang sudah mengingatkan lewat seorang teman di Bandung tentang arti mencintai Tuhan secara lebih lagi. Mencintai Dia lebih dari sekadar kata-kata manis, namun betul-betul berani menyerahkan apa yang Dia mau untuk perkembangan kedewasaan imanku.
Sharing ini adalah suatu bukti bahwa pelayananku kepada teman-teman semua lewat Thought of The Day (TOTD), menjadi berkat bagi diriku sendiri, karena TOTD menyadarkan aku bagaimana seharusnya mencintai Tuhan dengan merelakan waktuku, hatiku, pekerjaanku, pelayananku, bagi Dia, bagi kemuliaanNya.
Hari-hari ini lebih menjadi hari-hari yang paling mengandalkan Tuhan, di mana belum pernah terjadi sebelumnya, rasa ketergantungan akan Allah sungguh merajaiku, karena aku merasa tidak punya kuasa apa-apa atas segala hal yang ada ataupun yang terjadi padaku.
I know, it’s still a long way to go, but God is with me. He knows everything about my future. My future is in His Hands. Thank you, Lord…
Singapore, 28 Februari 2008
-fon-
* Special thanks to Johan Des di Bandung. GBU n ur family, bro!

Wednesday, February 13, 2008

Pulang

Hi all,
Ini ada cerpenku, berjudul Pulang yang sudah dimuat di majalah Evangelion Edisi ke-3 (nov 2007-jan 2008).
Evangelion adalah majalah alumni Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) Paroki Maria Bunda Karmel. Karena ada temen baikku dari kuliah dulu yang jadi redaksi di sana, jadi aku ikutan nyumbang tulisan...

Check this out. And all for His Glory.

GBU,
-fon-

PULANG

“Pulanglah, Maya, mama sakit keras.” Itu sms yang kuterima pagi ini.
Setelah bertahun-tahun, kutinggalkan kota kelahiranku, kini sms dari kakak sulungku tiba. Berapa lama sudah kutinggalkan kota Bandung? Sepuluh tahun? Oh, lebih! Tepatnya dua belas tahun yang lalu, kutinggalkan kota itu, tempat aku lahir dan menamatkan SMU-ku. Ketika aku berumur 17 tahun, papaku meninggal, dan sebelum meninggal ia menuliskan surat wasiat yang berisi tentang pembagian warisan. Di surat warisan itu, aku dan kakakku, Andoko, yah…kami hanya berdua di keluarga, masing-masing mendapatkan satu kapling tanah yang cukup luas, di kota Bandung juga.
Aku sedih, karena aku sangat dekat dengan papaku. Dan ketika ia meninggal, kurasakan duniaku porak-poranda. Aku yang selama itu adalah anak yang cukup membanggakan karena prestasiku, pelan-pelan beranjak merosot. Dan aku mulai susah diatur. Aku tidak mau dengar nasihat mamaku. Untuk apa? Hidupku sudah tiada arti lagi tanpa papa… Kalau mau rusak, biar rusak sekalian hidupku!

Kini, kupandangi wajahku di cermin kamarku yang sempit. Maya Harianto Suteja? Maukah kau pulang?
Ah… Teringat kembali wajah kecewa mama saat kutinggalkan rumah dua belas tahun lalu, dengan
alasan kuliah. Yah… aku mau merantau ke Bali. Aku tidak mau sekota sama mama. Karena mama waktu kecil kutahu hendak menggugurkanku dari kandungannya (psstt…ini kudengar dari Mbak Minah, pembantu kami yang bekerja di keluargaku sejak kakakku baru lahir). Aku benci dia walaupun dia mamaku. Karena hal itulah, aku sangat dekat dengan papaku. Kujual tanah dari papa, dan hasilnya aku mau mandiri. Aku mau berdikari. Uang yang dari papa banyak! Ratusan juta. Dan dengan uang itu, aku pasti bisa hidup enak, bisa hidup mewah di Bali. Memang sih, aku harus kuliah. Tapi, kuliahku akan baik-baik saja walaupun di tengah kemewahan, kan?

Namun kenyataannya, kuliahku berantakan karena aku jarang masuk kuliah. Dan bukan itu saja, hari-hari kulalui dengan penuh kemewahan. Banyak teman, banyak kenalan. Terutama turis-turis dari Australia, mereka menjadi teman baikku. Dari mereka aku belajar pergi ke club, diskotik, serta terakhir aku mencoba minuman keras dan narkotika. Wah, rasanya keren sekali! Berteman dengan bule, pergi hang-out (baca:gaul) habis-habisan. Dan sebentar saja, harta warisan papa hilang entah ke mana. Dan setelah itu, teman-temanku juga tak tentu rimbanya ke mana. Banyak uang, banyak teman? Betul sekali itu yang kurasakan. Dan aku semakin ketagihan alias kecanduan narkoba. Padahal, uang di kantong sudah tak punya. Kucari cara, kupinjam kiri dan kanan. Aku terlibat hutang. Sampai akhirnya aku hanya tinggal menumpang seorang teman, di kamar sempit berdinding tripleks, hampir mati karena sakaw. Diketemukan oleh seorang pastor yang menerima laporan dari tante kos temanku, yah…kini setelah rehabilitasiku selesai, aku tinggal di satu keluarga Katolik yang berbaik hati menampungku untuk menjadi pembantu di rumah mereka.
Antara malu dan segan untuk pulang. Penyesalan karena sudah bertingkah laku begitu tidak karuan. Aku hampir saja menolak permintaan kakakku. Tapi bagaimana kalau kali ini adalah saat terakhir mamaku? Aku ingin minta maaf…

Akhirnya setelah berkonsultasi dengan Tante Lolita, majikanku sekaligus pembimbing rohaniku, aku memutuskan untuk pulang. Tante Lolita membelikan aku tiket ke Jakarta, dan kemudian kusambung dengan mobil travel ke Bandung. Pelan-pelan, kubuka pintu pekarangan rumahku. Sepi. Tapi tertata rapi. Kulihat kakakku tersenyum menyambutku. Tapi, mana mamaku? Bukankah dia sakit keras? Apa aku tidak sempat melihatnya dan meminta maaf? Aku memang terluka, tapi aku sudah mengampuninya. Aku mau memeluknya. Masih sempatkah aku?
Kubuka pintu kamar mama dengan tergesa. Kuteriakkan, “ Mama maafkan aku…,” Tapi kutemukan wajah mama begitu segar, begitu bahagia melihatku. Dia tidak sakit! Jadi?? SMS itu??
Kulihat Mas Ando memandang mamaku dengan penuh arti. “ Ya, Maya, kami harus membohongimu, supaya anak yang hilang itu kembali lagi.”
Yah, kutahu, aku harus kembali. Apa pun caranya, mereka adalah keluargaku yang Tuhan berikan padaku. Thank God for this sweet surprise, kebohongan kecil yang membahagiakan
Aku si anak hilang kini sudah pulang. Kami tertawa bersama. Ah, indahnya!
Pulang? Yah, kini aku sudah pulang! Kupeluk mamaku erat-erat. Aku sayang dia!


Singapore, 16 November 2007
-fon-
* inspired by Lukas 15:11-32 (perumpamaan si anak hilang).