Wednesday, July 21, 2010

Senggol-Menyenggol



Ketika jalan terburu-buru, orang itu menyenggol saya. Dengan mendelik, saya bilang: “ Mas, please deh, kalau jalan ya mbok hati-hati. Bagaimana nanti kalau saya terjatuh, tersungkur, terpeleset? Nanti repot ‘kan jadinya? “

Ketika saya sedang berada di mobil. Mobil yang ada di sisi kanan saya tiba-tiba merapat, sok kenal sok dekat. Padahal teman bukan, sahabat juga bukan. Akhirnya terpaksa berkenalan karena dia menyenggol mobil saya. Terpaksa-dengan cara yang tidak enak. Akhirnya tidak jadi temenan, walaupun ada uang perdamaian. Karena mobilku sudah terlanjur penyok, untung masih bisa jalan walaupun terseok….

Jujurnya, saya tidak suka disenggol. Kecuali mungkin kalau disenggol ama Tom Cruise…Aih, mimpi kali yaaa…Apa kata Katie Holmes? Hahaha… Sama halnya sebagaimana saya tidak suka disenggol secara pribadi. Awas ada orang galak! Yang begini nih: dibercandain sedikit, marah. Ditowel sedikit, meledak. Kena ‘tabrak’ sedikit, juga emosi jiwa. Maunya semua orang hidup pada jalurnya. Jalur elo yang itu, gak usah deh miring-miring atau belok ke jalur gw! Pleaseee…

Banyak dari kita (mengatasnamakan kita, padahal maksudnya saya, sorry God buat generalisasi ini :)), ketika disenggol langsung meledak. Padahal waktu nyenggol, langsung penuh argumentasi buat pembenaran diri alias defensif sejati.

“ Ya, gw kan gak sengaja. Ya, gw kan gak tau kalo dia orangnya begitu. Jadi, yaaa…maap maap aja lah…”

Kata maaf seolah terlontar begitu mudahnya. Sementara ketika ‘disenggol’ orang dengan kondisi yang amat tidak sreg alias mengecewakan hati… Langsung emosi melanda…Kalau bisa orang tersebut dihabisi sampai titik darah penghabisan…Ih, koq jadi kejam begini, yaaa?

Di mana kasihku? Di mana kepedulianku?Di mana toleransiku?

Bentar yakkk, bentarrrrr… Dicari dulu *sambil ngubek-ngubek lemari hati, siapa tahu kepingan kasih dan kepedulian itu ada di sana.*

Begitu mudah memarahi orang yang menyenggol kita. Entah secara fisik, entah secara pribadi. Padahal, ketika disenggol langsung kita darah tinggi…

Selama hidup di dunia ini, rasanya tidak mungkin tidak ada kejadian senggol-menyenggol. Emang hidup sendirian? Emang jalurnya jalur eksklusif tanpa hambatan? Lha wong yang katanya tanpa hambatan itu juga bisa terhambat koq, misalnya karena kecelakaan…

So? Ya, biasa-biasa ajalah…Kalo sesekali disenggol, ya ampunilah. Karena kita gak pernah tahu kapan waktunya kita juga bisa menyenggol bahkan menabrak jalur hidup orang lain. Disengaja atau tidak…

God, moga-moga aku bisa lebih sabar ketika disenggol dan juga mau memaafkan diri sendiri ketika menyenggol orang. Bukan melulu maunya dihargai, dikasih respek, dihormati, tetapi sendirinya tidak mau begitu ke orang lain…Hopefully

SG, 22 Juli 2010

-fon-


Sumber gambar:
meta-dad.com

Tuesday, July 20, 2010

Thank God I Found You Part 17


Thank God I Found You Part 17

*** Episode: I Do

Previously on Thank God I Found You part 16 (Episode: Karma).

Susi menuai apa yang selama ini dia perbuat. Buruknya perlakuannya kepada Jason, Vita, juga Willem menuai badai karena dia berkenalan dengan Vic yang ternyata penjahat kelas kakap. Dari Casino di Singapura, Vic yang memenangkan perjudian di sana, membawa Susi ke Hongkong untuk foya-foya. Siapa nyana, di Hongkong itulah dia ditangkap CID Hongkong. Meninggalkan Susi yang terbengong-bengong. Sementara Vita sudah mulai mempersiapkan hatinya untuk menatap masa depan bersama Jason. Bagaimanakah kelanjutan cerita ini? Simak di episode berikut ini…

Episode: I Do

RS PIK, Jakarta

Willem terkulai lemas di ruang ICU. Untuk kedua kalinya, hanya dalam waktu kurang dari setahun, dia sudah kembali menempati UGD karena percobaan bunuh diri. Kali ini, kondisinya teramat parah. Dokter sudah angkat tangan. Menyerah. Orangtua Willem, papa dan mamanya tertunduk gelisah. Menangis. Siapa juga yang rela kehilangan anaknya? Setiap orangtua pasti memiliki cita-cita melihat anaknya tumbuh sehat, berkeluarga, bahagia… Biar mereka menutup mata dengan tenang melihat anaknya sehat seperti semula. Bukan sebaliknya. Memandangi diri Si Anak yang sakit, kecelakaan, terluka, atau bunuh diri seperti ini sebelum kemudian meninggal di depan mata mereka.

Hidup… Terkadang alurnya sulit ditebak. Kaya-raya, tampan, berpendidikan, bukanlah jaminan bahwa Willem sehat jiwanya. Terbukti, dirinya begitu labil. Goncangan demi goncangan seolah mematikan dirinya, bukan malah menguatkan dirinya untuk melangkah.

Dari detak jantung yang perlahan. Terlihat mendadak hilang. Lalu ‘screen’ di ruang ICU berbunyi ‘tutttttttt’. Panjang dan lama. Garis berganti datar. ‘Flat’. Dokter keluar ruangan dan mengabarkan bahwa Willem sudah pergi untuk selama-lamanya.

Buram. Hitam. Kelam.

Lembar kehidupan yang dialami oleh keluarga Willem saat itu jauh dari senyuman. Kelabu memayungi mereka.

Tinggal jerit tangis kecewa yang tersisa.

“ Oh, tidakkkk,” ujar Mama Willem lalu pingsan.

***

Aku dan Jason mulai mempersiapkan pernikahan kami. Karena ini sekali seumur hidup, pastinya kami inginkan yang terbaik. Tetapi, sekali lagi, kami tak hendak buang-buang uang secara percuma. Sayang, kan… Pesta sederhana hanya bagi keluarga kami.

Dengan demikian, kami sudah mengirit biaya gedung yang membumbung tinggi. Juga mengirit dekorasi yang terlalu ‘wah’ sampai puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Karena biaya dekor di gereja ini, mendapat diskon cukup lumayan, karena pemiliknya-Bu Wiwit, adalah orang yang membantu dengan tulus. Terkadang bagi pasangan yang tak punya uang pun, Bu Wiwit tetap melayani dan menghias altar gereja. Kalau yang mau menyumbang lebih, beliau pun menerima buat menutup juga mereka yang berkekurangan.

Sisanya, dana akan kami pakai untuk bulan madu. Bulan madu ke Singapura, langsung sambung Ho Chi Minh City. Mengingat kembali saat-saat aku harus mengasingkan diri di tempat itu saat semua di hidupku berubah kelam dan sekarang kembali kulihat titik terang itu...

Tak terasa, waktu terus berpacu. Pernikahan kami tinggal satu bulan lagi. Kami sudah menyiapkan segalanya semampu kami. Dan detik-detik itu kian berjalan. Beranjak. Semakin mendekati keindahan relasi kami yang sudah teruji oleh waktu dan banyak persoalan.

Sekali waktu, terlintas juga dalam pikiranku. Susi dan seluruh dramanya selama ini. Sudah lama juga tidak ada kabar berita darinya. Belum lagi Willem. Entah sampai di mana kisah mereka. Aku tak tahu. Aku juga terpikir sahabatku, Santi, yang pergi meninggalkanku. Apa pun yang terjadi, kau tetap bagian penting dalam hidupku.

***

Kantor Polisi Hongkong.

Susi berdiri di depan Kantor Polisi tersebut, hatinya masih shock berat. Dia masih tak percaya akan informasi yang didengarnya beberapa menit yang lalu ketika pihak kepolisian meminta keterangan darinya. Vic, yang spontan, tampan, kaya, gaul, dan amat menyenangkan itu....Ternyata adalah pengedar narkotik kelas dunia. Dia punya akses ke seluruh penjuru dunia. Terakhir, dia memang tengah istirahat dari seluruh aksinya, karena dia menyadari bahwa interpol internasional sudah mulai memberikan perhatian ekstra pada dirinya. Bukan hanya bandar narkoba. Dia juga menggunakan uang hasil transaksi narkobanya untuk kegiatan-kegiatan yang tak terpuji: judi, prostitusi, dan menggoncangkan bursa saham karena dia money laundering juga. Lengkaplah sudah seluruh kejahatannya. Untungnya dia tidak membunuh Susi. Malahan seolah jatuh cinta padanya.

Susi dilepaskan pihak kepolisian, karena dia dipercaya tidak memiliki hubungan yang mendalam dengan Vic. Mereka juga menunjukkan foto-foto Susi dan Vic dari Singapura dan Hongkong. Sebelumnya, mereka tahu bahwa Susi tak pernah bertemu Vic di kota-kota lain sebelumnya.

Susi bebas. Yang dia tak percaya, bahwa begitu bodoh dirinya kali ini. Dia-yang selalu lihai menghadapi semua situasi-bisa juga terjatuh. Karena yang dia hadapi, seorang penjahat kelas kakap!

Susi menangis. Berlalu. Beranjak menuju bandara internasional di Hongkong itu. Siap-siap pulang Jakarta sajaaaa....Tiba-tiba dia kangen rumah! Hal yang jarang terjadi dalam hidupnya...

***

Gereja Theresia, Menteng. Sebulan kemudian.

Kami memilih gereja ini. Dan bukan gereja lainnya. Jason dibaptis di sini, jadi dia pun ingin ketika dia menikah, juga di gereja yang sama. Hari ini Sakramen pernikahan kami. Koor sudah ditata rapi. Masuknya kami ke gereja, diiringi suara merdu Si Solis dengan lagu ‘Thank God I Found You’ yang selalu menjadi ‘soundtrack’ kisah cintaku dengan Jason.

Kurasakan air mata bahagia menitik perlahan. Tidak terlalu deras alirannya, karena aku takut juga merusak ‘make up’-ku. Tetapi, upaya mempertahankan sikap tegar itu sia-sia, ketika aku sungkem ke orang tuaku diiringi lagu Bunda-Melly Goeslow, air mataku berubah menjadi hujan deras di kedua belah pipiku. Tangisan haru dan bahagia….Akhirnya, menjelang usia empat puluh, aku menikah dengan seseorang yang kucinta. Seolah mimpi saja. Buat seorang wanita dewasa sepertiku, terkadang hadirku jadi cemooh. Ya, aku sadar. Aku juga tak ingin menikah setua ini. Tetapi jika Sang Jodoh tak kunjung tiba, apa aku harus memaksakan diri???

Kurasakan keharuan meliputi hatiku. Apalagi ketika aku menerima Jason sebagai suamiku……Janji itu: dalam untung dan malang, dalam suka dan duka, dalam sehat dan sakit…terpatri di dalam dadaku.

Yohanes Jason Wiriadi, aku menerimamu sebagai suamiku….

***

Sementara di bagian atas gereja, di lantai 2. Susi terlihat duduk di sana. Berita pernikahan ini, sampai juga ke telinganya. Dia memotret, merekam acara ini. Sementara tak seorang pun menyadari kehadirannya di sana. Dia memang tengah melakukan penyamaran. Rambut dikuncir, bertopi, dan kaca mata hitam menghiasi wajahnya. Kali ini, senyumnya tak lagi sesinis biasanya. Tetapi, apa maksudnya juga? Masih membingungkan….Untuk apa dia hadir kembali terutama di saat bahagia Jason dan Vita?

Setengah berjingkat-jingkat, dia keluar dari gereja. Dan saat itu pula, misa yang sudah selesai dan acara photo-photo yang juga usai, membuat seluruh yang hadir mulai bubar perlahan.

Susi bersiap masuk ke mobilnya. Sedan hitamnya. Sementara dia mau membuka pintu mobilnya. Tangannya dihentikan oleh seorang lelaki yang memegang tangannya segera.

“ Ngapain kamu dateng ke sini, mau buat kacau lagi?” tanyanya.

Bersambung…

SG. 21 Juli 2010

-fon-

Sunday, July 18, 2010

Living up My Dream




Saya tidak sedang berada di Indonesia ketika menuliskan hal ini, tetapi SMS, chat YM, dan email yang saya terima semua memungkinkan saya tetap berkomunikasi dengan para sahabat di Indonesia. Merekalah yang menginformasikan, buku pertama saya yang solo karier: Chapters of Life: From Nothing Into Something, sudah siap. Hari Sabtu lalu, 17 Juli, buku itu sudah berada di tangan sahabat saya yang akan membantu distribusi buku ini di Jakarta. Juga diantarkan oleh seorang yang juga jadi sahabat sejak penerbitan buku ini, karena beliau membantu segala macam prosesnya. Mulai dari mengolah data mentah berupa dokumen ‘Word’, menjadikannya bentuk buku, mencarikan illustrator untuk kaver, mencetaknya, sekaligus menjadi editor juga.

Setiap memikirkan proses jadinya buku ini, yang ada hanyalah ucapan syukur. Ketika banyak hal yang seolah tidak mungkin, saya merasa amat dibantu oleh tangan-tangan penolong yang dikirimkan-Nya kepada saya. Saya tidak tinggal di Indonesia, jadi awalnya saya cukup merasa sulit juga. Tetapi, akhirnya satu per satu terselesaikan dengan baik. Thanks to technology-internet-Fesbuk-SMS. Thank God!

Saya selalu suka menuliskan tentang impian, saya juga-seperti yang banyak teman tahu- terus mengejarnya. Akhir tahun 2006, ketika saya memulai blogging dan menulis secara lebih intens, satu per satu jalan dibukakan untuk saya. Bukan berarti saya tak pernah putus asa atau gelisah, terkadang justru saat-saat itulah saya tetap menulis dan tulisan malahan lebih bermakna. Saya pun mengalami masa naik-turunnya semangat dalam mengejar impian ini. Namun, terus di dalam doa, saya hanya bisa berikan yang terbaik dengan terus berkarya.

Buku itu hari ini mulai dikirimkan kepada sahabat-sahabat saya yang mendukung penerbitan buku ini dengan segera memesannya. Ada yang amat berkesan bagi saya, karena dia ingin menghadiahkannya buat Sang Istri di hari ulang tahunnya. Saya bahagia, karena bisa ambil bagian di momen penting bagi yang terkasih seperti itu.

Semoga buku ini bisa menjangkau lebih banyak orang dan menjadi inspirasi, karena menulis itu tidaklah sesulit yang dibayangkan. Juga, banyak hal yang bisa dipelajari lewat kesederhanaan sekalipun. Dan semoga setiap babakan kehidupan kita mendapatkan banyak percikan kebijaksanaan yang selalu ditawarkan, syaratnya hanya kita teliti melihatnya atau tidak…

Dan semoga apa pun impian kita dari hati yang terdalam, tetap kita perjuangkan dengan sekuat tenaga. Dan, ketika saat-Nya tiba…Kita bisa tersenyum bahagia, karena impian itu terwujud nyata. Beranilah bermimpi dan mengusahakan yang terbaik dari diri. Really, impossible is nothingJ

SG, 19 Juli 2010

-fon-

* special thanks to Femi dan Mas KJ buat bantuannya.

* juga buat setiap sahabat yang mendukung buku ini. Beberapa bahkan mendukung buat promo di acara mereka di waktu-waktu mendatang. Thank God.

Tuesday, July 13, 2010

Keriting? Ya, Rebonding…


Tuti Kriwil gelisah. Wajahnya merah padam menahan resah. Dia tengah berduka atas tumpukan rambut yang berjuntai di kepalanya. Tidak indah, sungguh jelek di matanya. Dia lalu memiliki rencana, ya itu dia! Rebonding saja. Lagian, apa susahnya? Zaman sekarang teknologi sudah ada, tinggal tabung uang secukupnya, jadilah sudah.

Dilangkahkan kakinya menuju salon tercinta. Sudah sejak lama dia dirayu pemiliknya untuk merelakan miliknya yang paling berharga. Rambut kriwilnya. Keriting tak beraturannya. Mengembang tak pas di wajahnya. Tunggu waktunya, kempeskan saja!

Proses berlangsung cukup lama. Tuti Kriwil memandangi rambutnya yang bak seorang roker ternama zaman baheula. Ya, dia rela. Meluruskan yang keriting. Dengan rebonding. Mungkin itu juga teknik marketing… Pemilik salon tak cuma mengandalkan cuci, creambath, dan gunting. Karena dengan rebonding, pastinya harganya bisa bikin dia ajojing. Sedangkan bagi Tuti Kriwil, yang penting berani tampil dan jangan sampai bikin orang ilfil.

Rebonding atau smoothing. Beberapa teknik meluruskan yang bengkok. Ujung-ujung rambutnya yang tak lagi elok. Bikin hati dia sendiri keok. Sesudah jadi, Tuti Kriwil langsung berseri. Cihui! Dia cantik sekali.

Meluruskan yang keriting, Tuti Kriwil jadi tahan banting. Duduk diam empat jam lamanya, bikin sakit pundak, leher, dan pinggangnya. Tak mengapa, asalkan wajah manis di depan cermin jadi terpampang nyata.

Tuti Kriwil manggut-manggut. Wajahnya tak lagi merengut. Meluruskan yang bengkok memang butuh waktu. Tetapi dia rela lakukan itu.

Tuti Kriwil tersenyum-senyum. Tampangnya kini bak nyonya yang tinggal di kondominium.

Inspirasi singgah dan menyapa ramah. Dalam hidup, Tuti Kriwil selalu juga hadapi permasalahan yang bikin semangat redup. Seringkali bukan hanya rambutnya yang keriting kribo, tetapi hidupnya pun senasib kena permasalahan jumbo. Hidup dan rambut sama-sama keriting, sampai bikin kepala pusing.

Tuti Kriwil pejamkan mata. Sembari komat-kamit berdoa. Mohon berkat Yang Kuasa. Untuk luruskan keriting hidupnya.

Hidupnya dan hidup banyak manusia yang keriting, jelas-jelas perlu rebonding. Pertolongan dari Salon Yang Kuasa. Hanya perlu satu jalan dan kebenaran, biar terbebaskan dari kesesatan.

HCMC, 13 Juli 2010

-fon-

Sumber gambar:
http://www.magazine.ayurvediccure.com/wp-content/uploads/2008/12/curlyhair.jpg

Sunday, July 11, 2010

Kangen


--- rindu kampung halaman


rindu memilin tepian hati

merenda cinta bersemi indah

ribuan kilo jarak terpisah

nada di jiwa tetap sebati*


dalam dada sesak menyentak

kangen itu kadang berontak

selama jantung masih berdetak

jumpa dirimu adakah mentak?**


selama hayat dikandung badan

takkan kau lekang dari ingatan

kayuh perahu ke negeri seberang

kenangan akanmu tetap terbayang


HCMC, 11 Juli 2010

-fon-

* sebati: bersatu padu; sangat mesra; sesuai

** mentak: mungkin; boleh jadi



sumber gambar:
tropicalindonesia.com

Thursday, July 8, 2010

Thank God I Found You Part 16



*** Episode: Karma

Previously on Thank God I Found You part 15 (Episode: Silih Bergantinya Suka dan Duka).

Willem kembali ke Jakarta masih dalam kondisi tertekan. Tak mampu ia makan, tak sempat ia memasukkan makanan ke mulutnya. Lalu beranjak ke kamar, memecahkan vas bunga di kamarnya dan membangkitkan ide bunuh diri lagi setelah upaya sebelumnya gagal. Susi dan Vic berada di Sentosa Resort dan tengah terlena dalam penuh percikan asmara yang menjalar tiba-tiba, Susi pun seolah lupa akan Willem. Dan Vita? Ya, Vita telah menerima lamaran Jason sekaligus menegaskan bahwa ia telah menunggu sepanjang hidupnya untuk kesempatan ini. Dan bagaimanakah kelanjutan serial TGIFY ini, silakan simak di episode berikut ini…

Episode: Karma

Cause what goes around, comes around.
What goes up, must come down.

(Karma-Alicia Keys)

Marina Bay Sands Casino-Singapore

Setelah malam sebelumnya menikmati kehangatan cinta yang membara di The Sentosa Resort and Spa, Susi dan Vic kembali berpegangan tangan. Hari ini mereka menuju Casino yang baru grand opening 23 Juni lalu. Setelah sebelumnya hanya peresmian pertama kali 27 April 2010. Vic seolah sudah amat fasih duduk di meja judi. Sejujurnya, Susi bingung juga. Vic ini apa sih pekerjaannya? Mengapa dia begitu rileks dan menikmati hidup, tanpa perlu bekerja keras seperti orang-orang? Ah, tapi dia menepisnya. Apa pula pedulinya. Itu tak penting. Bukankah perasaan adalah yang utama dan di atas segala-galanya?

Susi amat cantik. Vic baru saja membelikannya pakaian perancang kelas dunia, Burberry, di butiknya yang berlokasi di ION Orchard. Semua mata memandang Susi yang cantik, Vic yang tampan, yang juga dalam balutan rancangan kelas dunia- Armani. Tak banyak pria yang sebegitu royal menghamburkan uangnya demi Susi. Ada beberapa, tapi tak ada yang bisa menyaingi Vic. Dia terlalu luar biasa. Susi tak banyak tahu tentangnya, kecuali Vic asal USA dan Warga Negara Amerika Serikat. Ibunya keturunan Asia, Susi pun tak tahu dari negara mana. Ada terselip sedikit tanya di hatinya, tetapi selalu berhasil dia tepis begitu saja. Seolah semua kemewahan yang dia terima bisa membungkam mulutnya dan menghentikan gerombolan pertanyaannya…

Mereka terus duduk di meja judi di Casino. Sementara Susi hanya duduk manis di samping Vic, mengamati permainan. Vic sendiri konsentrasi penuh pada kartu-kartu yang ada di tangannya, plus kartu-kartu yang dikeluarkan oleh lawan mainnya. Suasana tegang, namun akhirnya senyum Vic terkembang. Amat lebar. Dia berhasil memenangkan permainan itu, sekali lagi. Sudah tiga kali Vic menang besar. Tak lama, Vic memutuskan untuk berhenti. Dia menukarkan koin-koin yang didapat saat bermain dengan uang tunai. Mereka pun sudah menyiapkan tas besar dari merek Louis Vuitton sebelum mereka ke Casino ini. Isisnya penuh dengan uang, sampai 70,000 SGD. Setara dengan empat ratus juta rupiah lebih, mendekati angka lima ratus juta rupiah. Vic melenggang, menuju pintu keluar Casino dan naik ke taksi yang tersedia di sana. Lalu, mereka menuju sebuah bank untuk menabungkan ke rekening Vic. Sebagian saja. Karena sisanya dibawa Vic dalam bentuk tunai. Susi masih diam. Tak biasanya dia begitu. Biasanya dia teramat lihai membaca seluruh situasi yang ada dan berpikir macam-macam cara keji untuk menjatuhkan Jason dan Vita, atau untuk memikat Willem. Tetapi dengan Vic, seolah dia mati kutu, karena dia berhadapan dengan seseorang yang jauh lebih licik, lebih lihai, ketimbang dirinya.

***

Late lunch di Fullerton Hotel.

“ Susi, do you bring along your passport?” Tanya Vic.

“ Yeah, why Vic?” tanya Susi.

“ Ok, no problem, then. I was just asking.” Vic menjawab sambil tersenyum manis, lalu melanjutkan melahap ‘fresh oyster’ yang ada di hadapannya.

Setelah makan siang, mereka kembali naik taksi.

Driver: “ Where you want to go, Sir?”

Vic: “ Changi Airport.”

Driver: “ Which terminal or which airline?”

Vic: “ Singapore Airlines.”

Driver: “ Okay.”

“Vic, where are we going?” Tanya Susi agak cemas. Vic terlalu mendadak dan tak bisa diduga ke mana perginya. Baru bertemu, langsung dibawa terbang ke negara lain. Antah berantah.

“ If you can not tell me, then I will ask the driver to stop and our relationship ends here.” Kata Susi lagi.

“ We’re going to Hongkong, Honey. Because I’ve had so much fun and so much cash, why don’t we spend some?” Vic tersenyum polos.

HONGKONG??? Mata Susi membelalak. Dia selalu suka Hongkong. Waktu kecil, Papa pernah mengajaknya ke sana bersama Mama. Tentunya sebelum Papa mengenal sekretaris yang akhirnya menjadi Mama tirinya itu, huh!

“ Why don’t you tell me earlier? I always love Hongkong.” Kata Susi manis.

Pesawat yang tersedia bagi mereka adalah SQ pukul 17.50 waktu Singapura dan akan tiba di Bandara Chek Lap Kok (Hongkong International Airport) pukul 21.35 nanti malam. Susi tak tahu petualangan bersama Vic ini akan membawanya merambah ke mana saja. Yang pasti, dia hanya menikmatinya, tanpa banyak tanya!

***

Aku pulang ke rumah dengan hati berbunga-bunga. Kamar biru jadi saksi keindahan cintaku. Akhirnya perjalanan cinta membawaku juga ke hari ini, hari di mana seseorang yang kucinta dan mencintaiku melamarku. Ah, senangnya!

Kuputar CD yang setia menemaniku…Thank God I Found You-Mariah Carey

Semuanya jadi indah, bahagia, penuh pelangi cinta yang kurasakan. Bunga mawar merah itu jadi saksi bahagiaku bersama Jason. Akhirnya, kutemukan sesosok pria untuk menghabiskan sisa usia bersamaku, sampai maut memisahkan kami berdua…

Thank God I found you
I was lost without you
My every wish and every dream
Somehow became reality
When you brought the sunlight
Completed my whole life
I'm overwhelmed with gratitude
Cause baby I'm so thankful
I found you

Suara lembut mendayu-dayu Mariah Carey masih memenuhi ruangan. Kurasakan hal itu, persis seperti yang digambarkannya dalam lagunya: overwhelmed with gratitude, yaaaa aku sangat sangat sangatttt berterima kasih. Thank God!

SMS masuk dari Jason.

Lg ngapain, Vit?”

Kujawab:

“ Lg liat bunga dari kamu:)”

SMS kami berlanjut, sekitar sampai 1 jam. Cinta memang membuat orang lupa waktu!:)

Bahagia, penuhilah hari-hariku. Isilah dengan cinta yang tulus, karena bersama Jason aku berani memutuskan untuk mengakhiri masa lajangku, setelah semua drama yang terjadi. Setelah semua kesedihan dan tawa yang mewarnai….Kusiapkan hatiku, kusiapkan diriku untuk terus menatap masa depan… Hari-hari bersama Jason…

***

Hongkong, pukul 22.00.

Indahnya lampu-lampu yang menerangi Hongkong menghantarkan Susi dan Vic ‘landing’ dengan selamat. Soft landing dari pilot Singapore Airlines membuat mereka merasa tenang. Dan Susi pun teringat banyak hal yang dia lakukan bersama keluarganya dulu, sekitar tiga belas tahun lalu. Waktu itu tentunya belum ada Disneyland, tapi buat Susi Hongkong tetaplah surga di mana banyak kenangan manis bersama kedua orang tuanya tercipta…

5 Connaught Road, Central, Hong Kong. Mandarin Oriental Hongkong.

Hotel berbintang 5 ini terasa apik dan cantik. Susi memasukinya dengan bangga dalam genggaman tangan Vic mengapa hidup seolah begitu mudah? Less complicated dan dia merasa dia bisa mengarungi hidup bersama Vic walaupun banyak ketidakpastian, tetapi dia suka tantangan dan perubahan yang menyenangkan semacam ini.

Mereka menempati kamar suite. Cukup besar, indah, dan mewah. Memandangi pemandangan Hongkong di malam hari. Susi tersenyum bahagia. Teringat ketika dia kecil, dia dibelikan boneka beruang warna merah jambu di sini. Di kota ini. Memori, mengapa kau begitu intens menghampiri Susi malam ini?

Susi kembali masuk ke toilet. Hal yang dia selalu suka karena toilet-toilet di hotel-hotel mewah ini bersih, rapi, dan wangi. Tak seperti toilet-toilet pada umumnya. Di mal pun terkadang bau juga. Tetapi, tidak di hotel, tidak pula di rumah Susi. Karena dia gemar berlama-lama di kamar mandi, dengan ritualnya: bersih-bersihnya yang tak kunjung habis… Juga untuk berlama-lama mengagumi kecantikan wajahnya.

Selesai ritual kamar mandinya, Susi melihat kembali ke jendela, sementara menunggu Vic yang masuk ke kamar mandi. Masih indah, namun tiba-tiba beberapa orang berseragam biru tua, memakai masker sehingga tak jelas wajahnya bergelantungan di depan jendela dengan tali yang terulur dari bagian atas hotel. Ih, keren. Kayak di pilem-pilem itu lho. Mereka lagi mau memburu siapa dan di lantai berapa ya? Ujarnya dalam hati…

Tiba-tiba mereka berhenti di lantai tujuh, kamar Vic dan Susi. Susi mundur ke arah tempat tidur. Koq mereka berhenti di sini?

Vic yang mendengar kekacauan itu segera ke luar kamar mandi, hanya dengan pakaian santai: celana pendek hitam dan kaos abu-abu, dia mengambil dompetnya dan pisau yang ada di kamar hotel buat memotong buah. Lalu pergi begitu saja, meninggalkan Susi sendiri yang berteriak kencang,
“ Vic, don’t leave me! Where are you going???”

Tak lagi dipedulikannya teriakan Susi, dia bergegas lari. Terlambat sudah, ketika dibukanya pintu, orang-orang berseragam biru tua itu juga memenuhi pintu mereka. Ada empat orang. Sementara tiga orang yang bergelantungan tadi, sudah mendarat selamat masuk ke kamar, melalui balkon kamar mereka.

Vic yang tak kehilangan akal, segera menodongkan pisaunya pada Susi.

“ I will kill her.” Desisnya serius.

“ Vic…” Ujar Susi memelas.

“ You just listen to me if you want to be safe.” Kata Vic mengancam.

Mereka berjalan menuju pintu keluar kamar, perlahan yang mengepung kamar Vic pun memberikan jalan bagi mereka. Di lift, Susi masih ketakutan, karena Vic jadinya liar, kejam dan membabi buta, tak seperti Vic yang dia kenal semasa di Singapura. Mana kelembutan itu, Vic??? Mana cinta yang seolah membara itu?

Susi mulai menangis. Inikah karma? Atas seluruh kejahatan yang dia rencanakan? Atas seluruh tindakannya yang membuat dirinya melupakan Willem begitu saja tanpa lagi peduli padanya?

Dihelanya nafasnya. Masih dalam ancaman pisau yang ternyata cukup tajam dan sudah melukai lehernya, dirinya teringat kata-kata ini:

Cause what goes around, comes around.

Dia kini menuai hasil dari perlakuan buruknya kepada banyak orang.

Sampai di lobby hotel, lift terbuka dan sudah dikepung pasukan berseragam itu. Salah satunya berhasil memukul kepala Vic yang pingsan tiba-tiba. Dan dia langsung diringkus oleh pasukan itu. Yang Susi kemudian dengar, mereka adalah CID Hongkong yang khusus berurusan dengan penjahat kelas berat.

Vic, penjahat???

Susi masih tidak mengerti. Masih bingung. Masih dalam kimono putih dari hotel. Sampai akhirnya, seorang petugas hotel membantunya ke kamar dan menunggunya mengganti pakaian dan berkemas-kemas. Hongkong, mengapa kali ini hanya duka yang singgah???

Bersambung…

HCMC, 9 Juli 2010

-fon-

sumber gambar:

http://1.bp.blogspot.com/_6X61jPk8PYg/TBB4SeBNzTI/AAAAAAAAAiY/QGt70UgCedg/s1600/Thank+God+I+found+You.jpg

Wednesday, July 7, 2010

Juara



* liputan piala dunia ala Fonny:)


Piala dunia akhirnya bergema juga gaungnya di diri saya, walaupun jujurnya saya tidak mengikuti secara intens partai demi partai yang berlangsung. Saya hanya sesekali mengecek hasilnya dan setidaknya saya tahu grup mana yang akan berhadapan di Final yaitu Belanda vs Spanyol. Beberapa tim yang dianggap sanggup menjadi terbaik juga berguguran seperti Italia misalnya atau Inggris (yang walaupun saya tidak ingat permainannya, setidaknya saya ingat kerennya David Beckham dalam busana disainer papan atas di sudut lapangan hijau itu hahaha).

Intinya, setiap grup berlomba untuk jadi yang terbaik. Setiap dari mereka berlomba untuk jadi pemenang. Kalau bisa ya dapat piala dunialah, kira-kira begitu. Ada grup yang memang diunggulkan menjadi juara, nyatanya kalah terlebih dahulu. Dan sebaliknya ada grup yang tidak diunggulkan ya koq malah bisa melindas lawan-lawan yang lebih tangguh. Menjadi juara tentunya membutuhkan teknik permainan yang cerdas dan cantik, selain itu membutuhkan mental juara untuk memenangkan pertandingan. Koq tiba-tiba teringat partai Argentina melawan Jerman dengan hasil yang cukup mencengangkan 0-4. Kekalahan yang cukup telak. Karena kalah itu hal biasa, tapi kalau kalah telak? Rasanya sakit juga ya…

Seperti biasa, pembelajaran hidup kali ini berasal dari liputan piala dunia. Setiap dari kita selalu ingin jadi pemenang kehidupan ini, setidaknya jadi juaranya. Terkadang kita pernah menghalalkan segala cara, yang penting ‘GW’ menang. Yang penting saya juara. Tak peduli apa pun caranya. Mungkin dengan menyuap wasit, mungkin dengan kong kali kong (konspirasi) dengan pelatih lawan supaya menurunkan pemain-pemain cadangan saja pas pertandingan, mungkin dengan bermain kasar, yang penting saya menang. Walaupun itu berarti menghalalkan segala cara.

Ada kalanya, pemain-pemain kehidupan yang sportif saya jumpai. Berusaha yang terbaik, menang syukur kepada-Nya, kalah? Mungkin kecewa dan menangis, tetapi tidak henti berjuang untuk lakukan dan berikan yang terbaik. Wasit kehidupan kita, untungnya bukan tipe yang suka suap. Dia takkan bisa disuap dengan uang berapa pun, dengan barang berharga apa pun. Jadilah kehendak-Nya, itu saja. Kita malah tak selalu dibiarkan-Nya menang melulu, karena kita tak pernah tahu rasanya kalah-bangkit-dan belajar untuk jadi lebih baik dalam pertandingan kehidupan ini. Grup-grup di sepakbola atau juara dunia olahraga lainnya pun membuktikan bahwa mereka bukan selalu menang di tiap pertandingan, tetapi dengan keinginan untuk menjadi yang terbaik: mereka bangkit dan berjuang lagi dan tidak langsung menyerah begitu saja.

Mungkin kita tak selalu jadi juara di tiap babakan kehidupan kita, tetapi kita bisa mohonkan mental juara dari-Nya. Karena pertandingan kehidupan ini bukanlah lomba lari 100m yang harus kita selesaikan segera. Terkadang, hidup tak ubahnya lomba lari marathon yang membutuhkan stamina dan semangat juang sepanjang perlombaan untuk mencapai garis finish.

Jatuh-bangunnya kita. Menang-kalahnya kita…

Semuanya adalah tetap baik, selama kita punya mental juara yang terus lakukan perjuangan tanpa henti dalam hidup ini. Setidaknya, pada suatu saat nanti kita akan menyelesaikan pertandingan kehidupan ini dengan bangga. Bukan karena kita tak pernah kalah, bukan karena kita tak pernah gagal, melainkan kita terus berusaha: walau dalam perih-walau dalam tetesan air mata- untuk bangkit kembali dan berdiri tegar bersama-Nya, apa pun yang terjadi.

Semoga kita terus berusaha untuk memenangkan perlombaan hidup kita di dalam Dia. Bukan dengan iri hati dan dengki terhadap kesuksesan orang lain, tetapi dengan memberikan yang terbaik karena kita semua layak bermental juara dan menjadi kebanggaan-Nya. Sehingga akhirnya berkibarlah bendera-bendera pemenang kehidupan itu dalam naungan kasih-Nya.

Waving flag for the winners of life, yeahhh! :)

HCMC, 8 Juli 2010

-fon-


Sumber gambar:
maths.vn

Monday, July 5, 2010

I Can Fly



I can fly
I'm proud that I can fly
To give the best of mine
Till the end of the time
Believe me I can fly
I'm proud that I can fly
To give the best of mine
The heaven in the sky

(A Song by Fiona Fung- Proud of You)

Seekor Burung Kakaktua terkulai lemas di dalam sangkar. Harusnya, dia bisa terbang bebas. Mestinya, tempatnya bukan di sangkar yang sempit ini. Miliknyalah alam luas tempat ia beterbangan riang atau bermain di rimbunnya pepohonan. Apa daya, ketika dia ditangkap oleh seorang anak yang kemudian menjualnya kepada pemilik toko hewan peliharaan di ujung jalan yang ramai tak jauh dari pasar sana, dia harus menurut saja. Ketika kakinya diborgol dengan borgol kecil. Ketika dia diletakkan di sangkar yang indah berwarna keemasan. Dia merasakan kesedihan yang luar biasa.

Ah, sangkar tetaplah sangkar, bukan? Bahkan ketika warnanya kuning keemasan. Apalah artinya tinggal di dalam sebuah rumah yang indah, tetapi tak mampu berbuat apa-apa. Hanya diam dan menunggu waktunya tiba. Disuruh bernyanyi pun, lagunya sumbang. Karena tidak disuarakan dari hati yang ceria. Hati yang sedih, disuruh menyanyi, hasilnya pasti lantunan tembang duka…

Sampai suatu ketika, sebuah keluarga membelinya. Mereka tetap menempatkannya pada sangkar yang sama, hanya kakinya tidak lagi diborgol. Dia dibiarkan bebas, walaupun masih di dalam sangkar. Sedikit terasa kelegaan baginya. Dia bisa berjingkat-jingkat, berputar, berjingkrak-jingkrak, bahkan meloncat-loncat kegirangan ketika dia menyanyikan lagu kesukaannya. Keadaan sedikit banyak mulai berubah. Ditambah lagi, Si Anak keluarga itu begitu mencintainya. Mengajaknya bermain, menyanyi, memberinya makan setiap hari. Suatu hari Si Anak ingin bermain dengannya. Dia menyuruh pembantu rumah tangga mereka membukakan sangkarnya. Karena dia amat ingin bermain tanpa ada penghalang berupa sangkar keemasan itu. Orang tuanya tengah pergi, maka ia merasa tindakannya aman. Si Kakaktua berteriak kegirangan, kapan lagi pikirnya, ia bisa bebas beterbangan walaupun hanya di kamar bermain Si Anak. Ketika mereka semakin larut dalam kesenangan bermain, Si Anak lalu ingin pergi ke pekarangan. Tempat yang dia kira bisa membuat mereka bermain lebih leluasa. Si Kakaktua menurut saja, sampai dilihatnya pekarangan luas itu. Langit biru. Pohon rimbun kehijauan tak jauh dari pekarangan rumah itu. Inginnnya terbang seketika. Melintasi laut luas kehidupan dalam kepakan sayap kecilnya.

Inilah saat yang ditunggunya. Terbang seketika tanpa memedulikan teriakan Si Anak. Tak jua menghiraukan kejaran Si Mbak di rumah itu. Tangisan Si Anak sempat membuatnya menoleh sebentar, mengucap selamat tinggal walaupun mungkin tak pernah dimengerti anak itu. Terbang, melewati setiap pemandangan yang dia rindukan. Dia tahu, dia bisa terbang. ‘I can fly’. Itu yang dia yakinkan dirinya terus dan terus. Tak berhenti dia terbang, sampai dirinya kelelahan. Hujan berganti panas, panas pun berganti mendung. Tak peduli, dia tetap terbang lintasi hari sampai maut memanggilnya kembali.

Seperti burung Kakaktua di sangkar itu, kita mungkin tengah dalam kondisi terkurung dalam sangkar permasalahan atau kita sungguh kecewa dengan kenyataan yang tak seperti perencanaan kita. Kita resah dan gelisah, ketika berada di dalam sangkar. Terkadang seolah salah tingkah, takut untuk melangkah. Namun, suatu saat nanti, akan tiba juga waktunya di mana kita bisa dengan leluasa bergerak bebas, terbang tanpa henti di langit luas kehidupan. Ya, mungkin sayap kita pernah terluka. Ya, kita mungkin pernah terhempas angin ribut dan badai kehidupan. Namun, kita tak henti kembali mencoba untuk terbang bersama pelukan kasih-Nya. Karena Tuhan, aku bangga aku bisa terbang. Walaupun pernah terluka, walaupun pernah kecewa, tak henti aku ingin tetap mencoba terus menerbangi kehidupan ini dalam tuntunan-Nya. Serta tak henti tetap lakukan yang terbaik, semampuku, giving the very best of me for You, Lord! Asal aku tak berhenti, tetap kepakkan sayapku. Aku tetap yakin, suatu saat aku bisa melihat keindahan rencana-Nya itu dalam hidupku.

HCMC, 5 Juli 2010

-fon-

* inspired by Fiona Fung’s wonderful song –Proud of You.


Sumber gambar:
w-melon.deviantart.com

Saturday, July 3, 2010

Days Without Facebook



Bagi seseorang yang berada jauh dari negara tercinta, jauh dari teman dan keluarga, agaknya Facebook (untuk selanjutnya terkadang ditulis Fesbuk), adalah satu situs kegemaran saya. Ditambah lagi, saya yang memulai menulis melalui blog dan mengirimkannya ke beberapa milis secara reguler ternyata memiliki wadah untuk berbagi. Di media Facebook inilah, saya bebas mengekspresikan diri saya lewat tulisan- yang puji Tuhan -mendapat sambutan yang cukup baik. Fanpage dan notes saya berisi komentar dan jempol teman-teman tercinta yang saya kenal secara langsung, namun banyak juga yang tak pernah bertemu muka.

Di Bulan November 2009, saat saya baru pindah ke HCMC, tiba-tiba pemerintah Vietnam memutuskan untuk mem-banned Fesbuk. Entah apa alasan pasti di balik tindakan tersebut, yang pasti ketika saya ‘search’ di internet, konon kabarnya mungkin ada protes atau muatan politis yang tidak disukai pemerintah sini yang dimuat di situs tersebut. Dan seperti tulisan saya di bulan November tersebut: Facebook di-‘banned’ di Vietnam, saya sempat kecewa berat. Walaupun berusaha tetap positif, namun saya juga tidak mudah menjalani hari-hari tanpa fesbuk apalagi saat itu saya baru pindah, sehingga teman di sini pun belum banyak. Namun, ada seorang teman yang saat itu tinggal di Hanoi, ibukota Vietnam yang memberitahukan cara bagaimana mengakses FB di Vietnam. Setelah sebelumnya saya hanya puas lewat proxy (faceoxy) yang tidak bisa secara sempurna menjawab message, reply komentar dan sebagainya. Tetapi, saya lumayan terhibur. Dengan keterbatasan yang ada, saya coba tetap positif. Sampai akhirnya, saya lupa kapan tepatnya, mungkin sekitar bulan Januari, ketika saya berhasil mendapatkan info soal ‘unblock Fesbuk’ di Vietnam ini. Hari-hari menjadi bersemangat lagi, penuh warna lagi. Tidak dapat dipungkiri, walaupun Fesbuk juga memberikan banyak kesempatan untuk caci-maki, saling marah, berantem, sampai ada gugatan segala…Bagi saya pribadi, keberadaan Fesbuk adalah sarana yang baik buat ekspresi diri, menyebarkan kebaikan, dan yang terpenting tetap ‘stay in touch’ dengan teman-teman di seluruh dunia terutama di tanah air tercinta.

Kemarin pagi, saya masih posting serial terbaru saya Thank God I Found You (TGIFY) yang memasuki serial ke-15. Setelah itu, saya pergi karena ada acara di sekolah anak kami. Pulang, agak sore…Fesbuk mendadak tidak bisa diakses. Saya pernah mengalaminya, tetapi satu dua jam kemudian masalah itu bisa teratasi. Jadi, saya tenang-tenang saja dan berpikir, mungkin nanti malam bisa. Dengan giat berusaha mencoba, mengutak-atik DNS, proxy dan mencari alternatif lain melalui ‘Google’, saya kembali harus duduk manis, menerima kalau ternyata sampai sore ini, tidak berhasil juga. Karena saya sendiri tak terlalu canggih dalam perkomputeran, mungkin nanti saya juga akan bertanya-tanya pada teman-teman di sini atau teman-teman yang ahli utak-atik DNS, IP dan teman-temannya. Kalau ada yang bisa bantu, tolong kirim email ke saya ya:)

Saat ini saya merasa kebutuhan akan Fesbuk cukup meningkat. Setiap hari, saya setidaknya posting satu tulisan renungan harian. Dan dalam seminggu setidaknya ada minimal 4 tulisan termasuk TGIFY itu tadi. Mungkin saya masih bisa mengandalkan blog atau milis, tetapi jujurnya without FB, things will never be the same again.. Ditambah lagi, saat-saat ini adalah saat-saat penting, di mana buku saya- Chapters of Life: From Nothing Into Something- akan segera luncur sekitar minggu-minggu depan. Sebagai seseorang yang masih mengandalkan Fesbuk untuk komunikasi dengan teman-teman pembaca saya, tentunya saya kewalahan juga.

Hari ke-2 tanpa Fesbuk… Saya tidak tahu, akan berapa lama keadaan ini berlangsung. Mungkin besok sudah OK, mungkin lusa…Mungkin beberapa minggu lagi setelah ada yang mengutak-atik dan memberitahu saya. Jujurnya berada dalam keterbatasan komunikasi seperti ini, tidaklah mudah. Namun, sebagaimana saya selalu berusaha melihat pembelajaran di dalamnya, saya juga meyakinkan diri saya sekali lagi. Bahwa, everything happens for a reason. Tidaklah kebetulan jika ini terjadi saat ini pada diri saya. Tentunya saya berharap keadaan ini segera cepat diatasi, tetapi selama saya masih tinggal di sini yang sampai sekarang pun belum resmi banned terhadap Fesbuk dibuka pemerintahnya, saya harus belajar menerima kenyataan ini.

Jadi, maafkan saya untuk semua tag yang belum sempat saya baca atau saya jawab. Begitu pun dengan komentar-komentar yang sebetulnya sudah inginnn sekali saya reply. Semoga untuk waktu yang tidak lama lagi, saya bisa berkomunikasi dengan baik via Fesbuk ini.

Days without Fesbuk? Sudah beberapa kali kujalani. Tidak mudah, tidak enak juga rasanya. Tetapi, saya belajar juga…Mungkin ini juga baik, karena setidaknya saya bisa menulis tanpa terbagi konsentrasinya dengan urusan Fesbuk yang menarik hati itu hehe..Juga, saya bisa mengurus anak kami dengan lebih baik karena tanpa gangguan Fesbuk…Walaupun jujurnya, satu sisi dari hati saya masih merasa merana hahaha…

Fesbukkk oh Fesbukkk… Doakan saya biar tabah menjalani semuanya, sampai suatu saat saya bisa komunikasi dengan lancar lagi…Entah bagaimana caranya (mungkin proxy baru, mungkin DNS/IP baru, dan banyak kemungkinan lainnya…).

HCMC, 3 Juli 2010

-fon-


Sumber gambar:
news.ictexpress.com