Tuesday, July 26, 2016

Eh, Loe Tau Gak?

Setiap kali saya bertemu dengannya, dia selalu bertanya pada saya:
"Eh, loe tau gak?"
Kelanjutannya sudah bisa ditebak, dia langsung membeberkan beberapa hal yang mengacu kepada orang-orang yang dia dan saya kenal.
Lalu menjelek-jelekkan mereka.
Saya pribadi pertama sempat kaget, dari wajah yang penuh senyuman dan seolah begitu ramah, koq tiba-tiba keluar kata-kata yang sungguh di luar perkiraan.
Bukan saya sok suci, tapi apa bagusnya menceritakan keburukan-keburukan orang di sekitar kita?
Dan saya koq ada firasat, saya tidak lepas dari lingkaran gosipnya. 
Bukan tidak mungkin: dia juga menceritakan hal-hal tentang saya kepada orang lain.

Masalahnya: orang-orang yang dia jelek-jelekkan itu bukanlah orang yang saya kenal baik.
Saya hanya kenal sepintas dan tak terlalu tahu kepribadian mereka.
Untuk saya pribadi: perlu mengenal lebih dalam diri seseorang, barulah bisa memahami mereka.
Tidak bisa hanya sekadar omongan-omongan yang belum tentu kebenarannya, lalu menjadikan saya menelan bulat-bulat penilaian dirinya atas mereka-mereka itu.

Hari itu saya bertemu dia lagi.
Dari mulutya keluar kata-kata itu lagi, " Eh, loe tau gak? Si B begini, Si C begini, Si D begini?"
Saya tersenyum saja. Mendengarkan kisahnya yang seperti sinetron atau telenovela.
Terkesan 'wah', penuh sensasi dan yahhh isinya itu-itu lagi: gosip dan gosip belaka.

Hampir tak pernah kontak hingga detik ini, saya beryukur, tidak ikut-ikutan arus gosipnya lagi.
Kalau satu saat dia bertanya lagi, " Eh, loe tau gak?"
Saya akan menjawab:
" Gw gak tau dan gw gak harus tau hahaha."
Hidup jangan tambah dibikin rumit, 
Mengapa harus memenuhi hari-hari dengan omongan -yang maaf-menurut saya kurang bermutu?
Can we do something better???

"Mau maju, ya jangan ngomongin orang melulu!!!"
Tiba-tiba hati kecil saya berseru kayak gitu.
*Ihhh, tumbennn, pinter yakkk hahaha...*
Lebih baik diam, daripada ngomong yang gak ketentuan juntrungannya...
Bukan begitu? Begitu, bukan?

27-07-2016
Fonny Jodikin @ SG

Sunday, July 24, 2016

Ketika Juli Menyapa...



#Pentigraf (cerpen tiga paragraf)

Juli tak selalu mewarkan keceriaannya. Tak selalu ia menyajikan keharuman semerbak bunga-bunga yang bermekaran. Tak selalu di paginya kuterbangun dengan aroma teh melati kegemaranku. Beberapa kejadian menyedihkan juga pernah menyapa diriku. Sahabat baik berpulang untuk selamanya dan pernah pula kehilangan pekerjaan. Juli, ah, Juli, kau memang menawarkan banyak warna, meskipun terkadang yang kusenandungkan hanya nada duka...

Namun, kali ini kusyukuri datangnya Juli. Dengan sebuah hati yang terbuka untuk sebuah cinta dan kesetiaan yang dengan pasti sudah dikumandangkan oleh Joe kepadaku. Juli, kuberharap kau bersahabat kali ini. Entah mengapa ada keyakinan yang berakar kuat di hati.


Joe, pemuda yang selalu positif terhadap kehidupan ini. Dan itu bukanlah basa-basi. Aku tahu, dia mengalami jauh lebih dari yang sebagian manusia pernah alami. Kursi roda itu jadi saksi, atas kecelakaan yang menimpanya seusai bermain futsal bersama teman kantornya. Tak pernah kuragu, meskipun secara fisik dia tidak sempurna. Ah, aku juga jauh dari sempurna, meskipun secara fisik aku tidak kurang suatu apa. Kudorong kursi roda Joe perlahan dengan senyuman.  Cinta kami memang berbeda dengan cinta pada umumnya. Cinta kami bukanlah cinta biasa. Tapi, terserah apa kata mereka! Yang tahu pasti hati kami, tentunya hanyalah kami berdua. Kusambut pagi di Bulan Juli dengan senyum berseri dan harap di hati. Sebuah cinta hadir di sini. Terima kasih, Juli!

fon@sg
24-07-2016
*pentigraf: cerpen tiga paragraf adalah jenis cerpen yang diperkenalkan oleh Prof. Tengsoe Tjahjono kepada kami semua, penulis Katolik di Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias (KPKDG). Tiga paragraf, singkat padat, tapi tidak mengurangi keutuhan sebuah kisah.
Sangat menarik dan terima kasih buat 'ilmu' baru ini, Prof!

Sunday, July 17, 2016

Kisah Negeri di Awan




Mari berkisah tentang negeri di awan...
Seperti lagu itu?
Ya, seperti lagu itu.
Keindahannya sempat membuatku termangu...
Sungguh indah ciptaan-Mu!
Konon di negeri di awan itu...
Hanya ada kedamaian...
Biarpun banyak perbedaan...
Ah, bukankah perbedaan tidak harus dibesar-besarkan?
Bagi mereka yang berjiwa besar dan tidak berpikiran sempit.
Ya, tentunya hanya bagi mereka yang memahami dan mau mengerti.
Negeri di awan.
Kamu, aku, kita.
Ya, kita!
Terbang bersama dalam luapan sukacita.
Melintasi perbedaan, dalam indahnya kedamaian.
13.07.2016
fon@sg