Wednesday, May 28, 2014

I Love You, Pa…

Late posting of a Short-story competition, taken from last year's Long Way Home Asia-Europe Short Story contest conducted by ASEF (Asia Europe Foundation) and Ubud Writers Festival.
Didn't win any prize, but quite happy as I submitted my first ever short-story in English:)
-fon-

I Love You, Pa…

Jakarta, June 2012

“ Pa, can I further my violin knowledge in London?” I asked anxiously knowing that he has never supported me to take serious study in music.

“ What? Violin again? Do you know that I’ve already prepared your MBA program there? Yes, you can go to UK. Only and if only you’ll further your business study there. Nothing more and nothing less.” Papa sounds so angry and fierce.

Suddenly, the tears fall down on my face. Oh My God, this is too painful!

And that’s not enough.
He goes to our music room, takes my violin and breaks it into pieces right in front of my eyes.

I scream so loud. But it seems that everything I do is in vain.
I’m furious.
I take the broken violin and go back to my room.
Enough is enough! I’m not going to be his princess anymore! I’m going to move out from this house! 
***


Ho Chi Minh City, July 2012

After such an argument with Papa, I don’t want to stay in Jakarta anymore.
And my poor Mama is so sad because of that. But, she’s made a wonderful suggestion for me to stay in her youngest sister’s house in Ho Chi Minh City (HCMC).
Aunt Lily-that’s how I called her-has married a French (Uncle Louis).
They have been staying in HCMC in Southern Vietnam for more than 10 years.
I’ve been here before with the whole family for a short trip.
And this time, I’m here alone.
I think I’ve done what I should. I’ve followed Papa’s instruction and had a Bachelor degree in Finance -the field that has never been my interest, because my deepest passion has always been in music. Violin is my life!

Uncle Louis is a great person. I’ve always thought that French people are not that friendly, especially because I don’t speak French much. But, he has shown a different side of warmth that I haven’t seen before. Good for Aunt Lily to have him as her husband. He’s busy doing his hotel business in Vietnam and he’s very successful.

They don’t have any kids. And Uncle Louis accepted her for what she is. Unlike some other guys who’ll divorce their wife because of the similar problem. He knew that Aunt Lily won’t be able to have kids because she’s infertile, but yet he loves her anyway. How sweet!

I spend time eating, watching TV, surfing internet and going to most places Aunt Lily goes. She likes to go to orphanage where children without parents are packed in that place. Around 30 children sleep together. They only sleep in mattresses covered by a big mosquito net. I cry inside when I see this….

Going there, seeing those kids without any parents, made me realize that I’m so lucky to have my Papa all this time. Suddenly I cried in regrets, for never treasuring what I really have in my life. These children want their Papa so badly. While having one, I’ve never really seen his good sides. I always think of our arguments, our differences and forgetting his good values-his virtues.

Yes, he’s not perfect. Sometimes, he’s just so stubborn and wants to do things his way, but he’s a good and responsible dad after all. Suddenly, I realize that it’s just so great to know that he is there. Just being there and be my Papa. Then, I decided to go back to Jakarta and meet him again. I miss you, Pa!

Jakarta, August 2012

I still remember the European or mostly French architectural buildings in Ho Chi Minh City. The Saigon Notre Dame Cathedral, the Continental Hotel, Diamond Plaza, along Nguyen Hue Street, Saigon River, and all around the city…The mixture itself is so rich. Well, there might be millions of motorbikes, but yes, I did enjoy my trip and found my new perspective there. Like an alien in HCMC, in the midst all of the voices of that foreign language that I’ve never understood, but eventually I’ve found the new meaning of life. I treasure what I have, I love what is in my hand…

Papa and I have already made things up.
We’ve done a good conversation.
I still can go to UK for my MBA and he allows me to find some good music schools as well for my Violin class.

Now, I’m preparing my visa and everything needed for my next trip.
The journey to Vietnam has made me see that I’m just so lucky just to have a dad.
Not to mention as hard-working as my Papa.
A soft whisper in my heart says these words hundred times,
“ I love you, Pa…”

The End.

Singapore, 8th of July, 2013
-Fonny Jodikin-
*An Indonesian who currently stays in Singapore and have stayed in Ho Chi Minh City for 3 years.






Sunday, May 18, 2014

Being Mom: Kali Pertama Kau Menyebutku Bunda...

Di Sebuah Hospital di pusat kota Singapura. 
Kamis, 15 Mei 2014

Seorang sahabat di Indonesia kehabisan obat dan belum sempat ke Singapura, lalu dia minta tolong saya untuk membelikan obatnya. 
Di sinilah saya, hendak membelikan obat di salah satu klinik yang terdapat di 'Medical Center'-nya.
Memasuki Rumah Sakit (RS) ini, ada sebuah rasa yang berbeda.
Sebentuk rasa yang melengkapi panggilan saya sebagai seorang ibu. 
Di sinilah, anak pertama kami lahir. 
Di kota ini, di RS ini.
Perasaan itu muncul lagi. Nostalgia.
Mengenang saat-saat saya periksa kehamilan juga di 'medical center' di RS ini, karena dokter kandungan saya praktik di sini.
Lalu, pada puncaknya, saat kelahiran anak kami.
Dan, perjalanan itu dimulai...
Perjalanan berliku, penuh senyuman sekaligus tetesan air mata...
Suatu perjalanan yang mulia...
Kali pertama kau menyebutku Bunda...

Flash back ke beberapa hari sebelumnya, 11 Mei 2014. Mother's Day.
Gema perayaan International Mother's Day yang juga dirayakan di Singapura sudah mulai dari awal bulan Mei.
Seperti biasa, banyak promosi 'cake', paket makan siang atau malam (lunch/dinner), hadiah-hadiah cantik mulai dari perawatan tubuh semisal body lotion atau body shower sampai berlian (kalung, gelang, anting, cincin), buat menunjukkan cinta kepada Sang Bunda.
Pentingkah semua itu?
Relatif.
Bagi saya pribadi, lebih kepada juga bagaimana sikap kita sehari-hari terhadap orangtua kita.
Dan tergantung kondisi keuangan juga.
Tidak perlu harus begini atau begitu.
Yang penting dengan keihklasan dan ketulusan hati.
Itu lebih dari cukup.

Seperti yang saya temui pada seorang pengemudi taksi di siang itu.
Selepas kami makan siang, kami naik taksi.
Dan pengemudi itu berkata, mal hari ini sungguh ramai dan dia menduga karena peringatan Mother's Day.
Dia juga berkisah bahwa dia sudah membawa ibunya pagi-pagi untuk 'breakfast' bersama.
Bukan sesuatu yang mewah, karena dia tidak membawa ibunya ke tempat mewah melainkan ke tempat sederhana semacam food court tanpa pendingin ruangan (AC).
Saya tersenyum dan meneguhkan dia.
Tindakannya sudah amat baik, yang penting adalah ketulusan hati.

19 Mei 2014
Hari ini anak kedua kami, Stella, mulai pilek lagi.
Pernah dia pilek cukup lama, diiringi batuk dan terakhir demam.
Dia sempat tidak masuk sekolah 4 hari lamanya.
Waktu anak pertama kami, Audrey berusia 3.5 tahun, dia sempat terkena infeksi kemih dan panasnya juga begitu tinggi. Saat itu, saya tengah mengandung Stella dan kondisi saya pun tidak begitu baik. Di tengah semua kondisi itu, saya harus bertahan untuk menjaga anak yang tengah sakit panas, juga menjaga kandungan saya.
Ini adalah salah satu dari begitu banyak perjuangan seorang ibu.
Dan jujurnya, perjuangan saya tidak ada apa-apanya dibandingkan perjuangan ibu-ibu lain yang mungkin harus menghadapi permasalahan kesehatan anaknya yang lebih pelik.
Di sini, barulah kita mulai lebih mengerti, bahwa jadi Ibu bukan peranan mudah.
Namun, begitu penting dan begitu nikmat juga.

Sepanjang perjalanan menjadi seorang Ibu, saya pun menyadari keterbatasan saya.
Begitu mudah saat kelelahan karena harus mengasuh anak sendiri tanpa asisten rumah tangga, saya cenderung mudah marah.
Namun, itu bukanlah alasan untuk lepas kendali.
Saya tidak pernah sanggup jalan sendirian...
Setiap kali saya lakukan kilas-balik, masih terus saya syukuri penyelenggaraan Tuhan.
Kasih-Nya dan kelembutan-Nya mampu mengangkat saya tiap kali saya tengah terjatuh atau begitu kelelahan.

Saya pun bersyukur, kalau sampai hari ini, peranan menjadi seorang Ibu sepenuhnya bisa saya jalani.
Jujur, pernah ada keinginan untuk kembali kerja, apalagi jika mengingat dulu sempat berada di posisi yang cukup menjanjikan di bidang sekuritas di Jakarta.
Namun, keadaan dan kenyataan berkata lain...
Dan seiring berjalannya waktu, saat Si  Sulung kami Audrey masuk SD, saya pun bersyukur bahwa masih bisa mendampinginya mengerjakan PR dan belajar bersama di pagi hari, karena sekolahnya siang.
Betapa beruntungnya saya, karena ada beberapa Ibu dari teman Audrey yang harus kerja dan harus mempersiapkan semuanya di malam hari.
Perjuangan mereka tentu lebih luar biasa lagi.
Belum lagi berita-berita tentang pelecehan seksual anak-anak yang seolah semakin menjamur belakangan ini.  Mulai dari kasus JIS dan sekolah lainnya yang mencuat belakangan. Juga, tipuan untuk memperdaya anak-anak kecil, mulai dari penculikan untuk minta tebusan atau mungkin trafficking, kembali membuat saya bersyukur untuk 'privilege' mengurusi anak kami sendiri. Walaupun tidak ada jaminan 100%, namun setidaknya mengurangi resiko cukup banyak dibanding dengan menyerahkan pengasuhan anak kepada orang-orang lain.

Jalan masih panjang.
Anak-anak kami masih kecil-kecil.
Namun, dalam hatiku tak henti bersyukur dan berharap...
Agar suatu hari nanti...
Di masa tua nanti...
Aku dan suamiku masih bisa menghabiskan waktu bersama putri-putri kami terkasih...
Jika Tuhan izinkan, semoga masih bisa menyaksikan satu demi satu episode kehidupan mereka...
Mulai dari tamat sekolah, satu jenjang ke jenjang berikutnya...
Satu demi satu kursus yang mereka tekuni...
Apa pun itu, yang mereka sukai dan yang baik bagi perkembangan mereka...
Tuhan, mohonkan kekuatan bagi kami untuk mengasuh anak-anak titipan-Mu di dunia ini....
Sebaik yang kami mampu...
Bukan dengan kelimpahan dan kemudahan senantiasa...
Namun, lebih kepada pembinaan karakter yang baik...

Saya ingat, suatu hari Audrey pernah bertanya pada saya, 
" Mom, is it okay if I don't get 100 on my Chinese Spelling?"
" Oh, that's okay, Audrey. As long as you've done your best, Mommy will be very happy and proud of you." Begitu jawab saya.

Tentunya kalau dia bisa dapat 100, saya akan bangga dan bahagia. Namun, jika tidak, tidaklah mengapa.
Saya lebih memilih dia dapat 60-70 asalkan jujur daripada dapat 100 dari mencontek misalnya.
Saya lebih memilih dia mendapat nilai 70 dan berkarakter baik, daripada nilai 100 namun tingkah lakunya kurang ajar...

Mendidik anak di zaman sekarang bukan perkara gampang.
Tetapi, saya tak mau menyerah apalagi putus asa...
Dengan iman dan doa, saya serahkan anak-anak kami kepada bimbingan Yang Kuasa...

Semoga Tuhan pun memberikan kekuatan bagi setiap kita, setiap orangtua-Ibu dan Bapak...
Untuk membimbing anak-anak kita dengan sebaik yang kita bisa...
Semoga dengan didikan yang benar-yang disempurnakan nantinya oleh Tuhan sendiri-membuat anak-anak kita mampu bersinar dengan karakter yang baik di tengah dunia yang semakin menarik-narik penghuninya untuk melenceng dari kebenaran...

God, help us...

19.05.2014
fon@sg







Monday, May 5, 2014

The Story of Envy


(Perenungan dari sebutir apel)



Di Supermarket, ketika hendak mengambil apel jenis ini, aku sudah cengar-cengir untungnya dalam hati.
Kalau kelihatan sekitar, nanti malu ah hahaha...
Seolah Tuhan mau bicara sesuatu lagi.
Mengingatkan lagi.  Akan unsur yang bernama iri hati.

Dari namanya, apel ini memang menjanjikan.
Buahnya besar, tampangnya keren-warnanya merah bercampur kekuningan- dan rasanya manis, sedikit asam, namun sungguh segar. Dari kisah Si Apel Envy ini sendiri, bisa kita lihat bahwa memang dia dibuat dari yang terbaik…
When New Zealand's passionate apple researchers brought together the best features of Braeburn and Royal Gala in one single apple, envy apple was born. Envy apple is a new class of world class - truly an apple to desire.
Mungkin, buah apel yang lainnya, akan merasa iri padanya.
Karena tampilan fisik maupun rasanya, bikin orang akan memilih dia.
***

Sambil mengunyah perlahan potongan apel Envy di rumah, saya sempat terpikir lagi.
Memang, iri hati kalau tidak betul-betul dikendalikan, lama-lama bisa jadi duri.
Iri, biasanya mulai dari penglihatan, dari mata.
Juga bisa dari pendengaran, dari cerita orang…
Apa yang orang punya, apa yang orang lain pakai, apa yang mereka miliki.
Jalan-jalan semacam apa yang mereka lakoni.
Gaya hidup semacam apa yang mereka jalani.
Sepatu, tas, mobil merek apa yang mereka pakai...
Ah, betapa itu semua di zaman yang makin mendewakan materi ini,  menjadikan manusia semakin sulit saja mensyukuri apa yang ada...

Teringat sebuah artikel tentang istri pemilik Facebook- Priscilla Chan- yang saya baca beberapa hari yang lalu.
Istri Mark Zuckerberg ini, berdua dengan suaminya, memilih hidup sederhana.
"We try to stick pretty close to what our goals are and what we believe and what we enjoy doing in life – just simple things," she told the New Yorker.
Sementara, saya dan para pemiliki akun Facebook lainnya malah seringnya pamer dan pamer belaka...
Aduh, jadi maluuuu...
Dan sekali lagi diingatkan untuk hidup sederhana.
Pope Francis, sukanya memasak sendiri biar lebih murah...
Dan ala Jokowi, sering blusukan waktu dia melayani di Argentina... Membagi kasih-Nya kepada orang-orang yang miskin dan menderita…
Ah, betapa senangnya jika hidup mensyukuri apa yang ada...
Bukan melulu kompetisi...
bukan pula berarti tidak mau usaha lebih baik lagi...
Namun, setelah berjuang keras, mengapa tidak mensyukuri karunia-Nya...?

Si Envy sudah habis di piring saya.
Namun, pelajarannya masih dicerna di benak saya...
Jangan iri, begitu kata hati saya...
Syukuri apa yang ada...
Tiap orang ada senang dan susahnya sendiri.
Beban mereka, kamu 'gak pernah tahu, tokh?

Sementara di kulkas...
Masih tersisa beberapa apel Envy...
yang selalu siap sedia untuk saya santap
dan untuk mengingatkan saya (lagi).
Dan suara hati saya kembali berbisik…
Be thankful. Stay away from envious thoughts.
For that will lead to peace and true happiness.

5 Mei 2014
fon@sg

#ditemani secangkir iced milk-tea blended di sebuah gerai kopi di kawasan barat Singapura...