Tuesday, January 26, 2010

Kemarau



Kering-kerontang,

panas menyengat,

debu menerpa,

keringat mengucur.


Kucari…

Pelepas dahaga,

tempat berteduh,

derai hujan,

langit mendung.


Payungi aku,

sirami aku,

biar kunikmati sumber air-Mu.

Kurindu hadir-Mu.


HCMC, 26 Januari 2010

-fon-

* suatu hari dalam kemarau jiwa, yang dinanti-nantikan hanya mata air-Nya.


sumber gambar:

http://www.martin-hill.com/gallery450/gallery18.html

Sunday, January 24, 2010

Secangkir Cinta



Berikanku secangkir cinta,

balutkan luka lama,

dan perih yang pernah tersisa.

Biar diriku kembali mencicipi aroma

yang pernah hampir terlupa.

Taburkan sejumput setia

dan sesendok percaya.

Kunikmati suguhan ketulusan

dalam cangkir cintamu.

HCMC, 24 Januari 2010

-fon-

* mendadak romantis!

sumber gambar:

http://images.google.com.vn/imgres?imgurl=http://4.bp.blogspot.com/_E4qDQtULjHQ/SKTDOdeIzFI/AAAAAAAAABc/RjpWmVEo0Iw/s400/Teacup%2BCupCake.jpg&imgrefurl=http://acupofglee.blogspot.com/2008_08_01_archive.html&usg=__3iCPE9ooDNMPjlqboawkyzslG7A=&h=300&w=400&sz=21&hl=en&start=22&tbnid=5iNwgx-WwGpIX

Saturday, January 23, 2010

Sabar


Sabar

Kata orang, sabar itu kekasih Tuhan. Kata orang, sabar itu kesayangan Tuhan. Tentunya, secara logika dan perasaan, saya sadar sesadar-sadarnya, bahwa pernyataan itu adalah benar adanya. Tiada sesuatupun yang salah. Namun, ketika berhadapan dengan kenyataan di depan mata, kenyataan di hadapan dalam hidup sehari-hari, kata ‘sabar’ bukanlah hal yang mudah untuk diterapkan. Diucapkan dengan indahnya? Mungkin bisa. Tetapi untuk diterapkan senantiasa, sungguh: butuh perjuangan!

Teringat hari-hari saya sebagai seorang ‘dealer’ saham. Kata sabar seolah jauh dari diri. Karena kata ‘sabar’ berarti lelet, kata ‘sabar’ berarti kehilangan kesempatan untuk mendapatkan harga yang baik, walaupun tidak tertutup kemungkinan juga: kata sabar berarti keuntungan. Ketika orang lain sudah menjual secara ‘panic selling’, orang-orang yang sabar akan meraup keuntungan di kemudian hari ketika harga membumbung tinggi. Masalahnya, sering orang tidak sabar untuk melepas segera saham yang dipegangnya dan tengah naik atau tengah turun baru sekitar 10%, dengan pemikiran daripada rugi lagi. Tentu saja, akan ada penilaian atau analisa tersendiri. Adanya analisa teknikal terhadap pergerakan harga saham dengan memperhatikan grafik naik-turunnya harga, analisa fundamental dari laporan keuangan perusahaan yang diterbitkan setiap kurun waktu tertentu, ataupun ‘rumours’ lainnya. Karena ‘market’ Indonesia masih amat dipengaruhi ‘rumours’ sampai hari ini. Ketika sedikit banyak suatu pemberitaan memberikan kenaikan atau penurunan signifikan terhadap suatu saham, kata sabar tidak selalu bisa saya jalankan. Ketika berusaha sabar, malah hasilnya dimarahi ‘client’ dari Singapura, karena merasa harga yang saya peroleh tidak baik jika dibandingkan dengan harga rata-rata saham tersebut di hari itu. Di sini, sabar identik dengan kalah, karena harga yang saya peroleh kalah dibandingkan mereka yang gerak cepat mendapatkan harga bagus. Konsekuensinya terkadang, ‘client’ tidak puas dan minta ganti harga. Ini bisa terjadi karena order yang saya kerjakan ketika itu berjenis ‘Careful Discretion’ (CD order), yang mengharuskan kita ‘go along the way with the market average’. Dengan tujuan berusaha menaklukkan harga rata-rata hari itu (try to beat the market average of the day). Jujurnya, pekerjaan harian semacam ini, membuat kata sabar jauh dari diri saya dan beberapa teman.

Misalnya ketika suatu hari Jumat, di mana jam makan siang kami adalah pukul 11.30-14.00 sambil sekaligus memberi kesempatan pada mereka yang Sholat Jumat. Ketika makan di suatu restoran, makannya cukup terburu-buru karena setiap kali saat waktu menunjukkan pukul 13.15, kami sudah harus siap-siap kembali ke kantor, setidaknya minta ‘bill’ pada kasir restoran. Terkadang, dengan dalih mau ke airport (oleh salah seorang teman:)), kami berusaha biar diservis secara cepat. Dan itulah seringnya yang terjadi: buru-buru, tergesa-gesa, bahkan ke toilet pun dijatah. Saya ingat, saya ketika ingin ke toilet harus menjatah diri saya sebanyak tiga menit dan berlari-lari ke ‘dealing desk’ saya dan kembali memelototi ‘Bloomberg’, RTI Orientama, IQ Plus, sesekali ‘Reuters’ dan sistem yang ‘connect’ langsung dengan klien di belahan negara yang berbeda. Yang semua harus di-update terus secara reguler. Belum lagi, kejadian di market yang harus saya input di lembar ‘excel’ saya. ‘Rush hour’ semacam itu menjadi makanan harian kami ketika market sedang ramai dan ‘hectic’. Ada kalanya kondisi market tengah santai, saya bisa ke toilet agak lama dengan tenang, walaupun tetap menitip pesan kepada teman ataupun bos saya, sekaligus 'floor trader' yang jadi partner atau pasangan saya, yang ngetem di bursa sana. Sementara di saat ini, ‘remote trading’ sudah menjadi hal yang umum di sebagian besar ‘securities’. Dan beberapa sekuritas juga menerapkan ‘floorless’, tanpa ‘floor trader’ sama sekali. Saya tak tahu perkembangannya sampai hari ini sampai sejauh mana. Karena saya sudah hampir sekitar 4 tahun tidak lagi mengikuti perkembangan dunia ini secara dekat, walaupun teman dan saudara juga masih ada di bidang ini. Tetapi saya sadar, kata sabar agaknya sulit juga untuk diterapkan dalam keseharian kami. Dan itu terbawa dalam segala segi kehidupan, termasuk ketika mengemudi, ketika makan, dan sebagainya.

Kata sabar, juga menjadi sulit rasanya diterapkan ketika memiliki seorang anak kecil yang mulai beranjak besar. Ada seorang teman yang memiliki 3 anak yang umurnya berdekatan, yang masih di bawah 10 tahun. Alhasil, hari-harinya menjadi ujian kesabaran. Apalagi dia yang 3 anak, saya sendiri yang satu anak saja kadang kelimpungan menghadapinya. Dan memang mengurus sendiri tidak pernah merupakan hal yang mudah. Kata sabar juga berlaku umum dalam hal yang lebih luas, dalam segenap kehidupan kita. Ketika seseorang tengah sakit misalnya, untuk kembali sembuh seperti sedia kala, orang pada umumnya akan memberi semangat dan berkata: “ Sabar, ya!” Ketika belum juga punya anak, ketika belum juga punya pacar, ketika belum juga punya suami/istri, ketika belum juga naik pangkat atau naik gaji, ketika usaha belum berhasil, ketika belum juga punya mobil dan masih naik motor, ketika belum juga pergi ke luar negeri, semua orang akan menyarankan kata, “ Sabar ya, banyak doa!”

Kata sabar menjadi kata yang sering diucapkan untuk menghibur, namun pada kenyataannya setelah menjalani hari-hari yang amat menguji kesabaran, saya sadar bahwa menjadi sabar itu adalah pilihan. Sebagaimana menjadi pemarah juga adalah pilihan. Tak pernah mudah untuk memilih sabar. Beberapa orang yang sabar dianggap bodoh oleh orang-orang yang tampaknya cerdik pandai. Beberapa orang yang mau bersabar di satu perusahaan tanpa kenaikan gaji berarti, akan dibodoh-bodohi oleh orang lain yang sudah pindah empat kali bak kutu loncat dan totalnya mendapatkan kenaikan lebih dari seratus persen. Sabar sering dikonotasikan dengan kurang efektif dan kurang efisien di dunia instan yang serba cepat ini. Kalau bisa cepat, ngapain sabar? Kalau bisa sekarang, ngapain nunggu nanti? Proses menunggu di-fast forward, seolah menunggu dan temannya Si Sabar itu menjadi hal yang bodoh di tengah zaman canggih seperti ini.

Padahal???

Menunggu dengan sabar, tidak selalu berarti bodoh. Ketika ada kendaraan lalu lalang, menyeberang dengan sabar merupakan bentuk untuk mencapai keselamatan. Buat apa kalau tergesa-gesa menyeberang, hasilnya tertabrak mobil atau motor? Apakah ada gunanya? Di luar itu memang bukan kuasa kita untuk menentukan apakah kita akan terkena musibah, tetapi tetap saja, bagian kita adalah berhati-hati dan lihat kiri-kanan sebelum menyeberang. Ketika itu sudah dilakukan, masih saja terkena, ya sudah. Apa boleh buat.Tetapi ketika grabak-grubuk menyeberang tanpa peduli kendaraan lain, lalu tertabrak, tentunya kita tak bisa bilang itu musibah secara murni karena ada faktor ketidakpedulian dari pihak kita…

Sabar. Menunggu dengan sabar. Menerima walaupun kelihatannya kesabaran itu seolah kebodohan bagi teman-teman kita yang lain. Sabar walaupun sudah menjalankan semua yang baik, sudah berusaha jadi diri sendiri yang terbaik, namun masih belum menampakkan hasil: entah dari usaha, entah dari pekerjaan, entah dari finansial. Kata ini, tak pernah basi. Kata ini tak pernah menjadikan seseorang itu kurang pandai, kata ini tak pernah membuat orang seolah tak ikut perkembangan zaman. Justru sebaliknya, kata sabar sangat up to date. Di tengah kondisi yang tidak enak, sabarlah! Di tengah kondisi sulit, sabar! Nanti juga akan ada jalan keluar.

Sabar itu subur. Sabar itu yaaa… sabar:)

Beruntunglah mereka yang punya nama Sabar, karena para orang tua menginginkan anaknya menjadi orang yang sabar dan menyadari arti sabar itu sendiri selama dia hidup. Dan bagi kita yang bukan bernama sabar? Semoga kita bisa menyelipkan kata itu di antara nama kita. Minnie ‘Sabar’ Mouse, Fonny ‘Sabar’ Jodikin, Shinta ‘Sabar’ Nilawati, Johan’Sabar’ Wartono, dsb. Untuk terus ingat bahwa untuk menunggu pemenuhan janji Tuhan dalam kehidupan kita, tak ada kata lain yang lebih ampuh selain sabar sepanjang hidup kita. Dengan kesadaran untuk sabar, semoga kita bisa melihat keindahan setiap janji-Nya yang tergenapi dalam hidup kita. Yes?

(-fon-)

HCMC, 24 Januari 2010

-fon-

Sumber gambar:

http://jameswoodward.files.wordpress.com/2009/03/patience.jpg

Friday, January 22, 2010

Jendela Hati



Melongok keluar dari jendela hatiku,

kucoba masuki wilayah hatimu.

Kutahu, ini tak pernah mudah,

untuk keluar dari diri,

dan mencoba mencinta.


Ketika ingin memasuki jendela hatimu,

kuketuk jendela itu,

Sejujurnya aku masih ragu.

Akankah kausambut diriku?
Atau kautolak aku?


Berada di depan jendela hatimu,

kurasakan kau tak semudah itu kurengkuh,

sekaligus ada kalanya kurasakan kedekatan itu.

Sampai detik ini masih banyak pertanyaan di kepalaku.

Cinta, mengapa kau terus ombang - ambingkan aku?


Pertautan jendela hati kita berdua,

Pada akhirnya hanya jadi kisah

yang tak pernah selesai karena kita berbeda benua.

Mungkin juga kita tak berjodoh? Entah!


Aku sendiri mulai goyah,

Dan tak lagi percaya akan kekuatan asmara jarak jauh

Dan hasilnya? Aku menyerah.

Kubuka jendela hatiku lagi,

kukurangi acuh dan angkuh

Untuk calon Si Dia yang dekat di sisi.

Dan berharap suatu saat nanti,

Akan kudapati juga seseorang yang dekat di hati.


HCMC, 22 Januari 2010

-fon-

* puisi tentang long-distance relationship yang tak pernah terwujud dan akhirnya mencoba mencari seseorang yang dekat di sisi.

sumber gambar:

http://images.cambridgeincolour.com/cambridge/WindowLight.jpg


Wednesday, January 20, 2010

Peran Seorang Ayah


Peran Seorang Ayah

***dari kaca mata seorang wanita

Seorang ayah melonjak gembira ketika mendengar berita istrinya hamil. Dia pun ikut setia mengiringi kunjungan konsultasi Sang Istri ke dokter kandungan langganan. Tidak selalu bisa ikut karena kesibukan kerja, tetapi itulah yang dia selalu inginkan sebetulnya, karena dia memang ingin melihat setiap momen perkembangan anaknya mulai dari hari pertama sampai hari-hari selanjutnya. Kegembiraan itu terus berkembang, sembari keprihatinan melihat istrinya muntah-muntah, kuatir ketika istrinya flek atau terkena penyakit lainnya yang cukup membahayakan selama kehamilan dan terus berdoa bagi keselamatan bayi dan istrinya. Dua orang yang dia sama-sama cintai.

Keterlibatan seorang ayah, mungkin tidak sebesar keterlibatan seorang ibu dalam keseharian mengasuh anak. Namun bukan berarti dia tidak mau terlibat. Mungkin, karena kesibukan, mungkin karena keletihan kerja. Namun, di balik itu semua, adalah anugerah yang paling besar ketika dia dalam keletihannya mendengar celotehan yang keluar dari mulut mungil anaknya, “ Papa!”

Itu semacam obat yang paling mujarab untuk menggantikan semua letih menjadi suka. Membawa keceriaan yang berbeda.

Peran seorang ayah di masyarakat seperti di Indonesia, biasanya merupakan seseorang yang mencari uang/ pencari nafkah guna memenuhi kebutuhan finansial keluarga. Dan ketika kehamilan mulai berjalan, banyak ayah mulai sibuk memikirkan asuransi ini-itu untuk anak, bisnis sampingan untuk tambahan uang susu, kerja lebih keras agar dapat promosi, sehingga bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Peranan ayah semacam ini terkadang bekerja sama dengan istrinya dalam memenuhi kebutuhan mereka sekeluarga. Harga-harga yang membumbung tinggi, sering kali menjadi keluhan ‘sakit kepala’ tersendiri. Sering kali, banyak keluarga merasa kebingungan bagaimana harus membeli susu formula bayi yang semakin mahal, pendidikan anak yang juga seolah berlari cepat dalam urusan harga, kursus-popok-suster-pembantu-biaya dokter anak-baju/sepatu/celana anak, dan semua yang berurusan dengan pengeluaran keluarga itu yang terus ada di pikirannya.

Banyak kasus menempatkan Si Ayah sebagai ‘sole breadwinner’ (penopang keuangan keluarga, satu-satunya pencari nafkah). Terkadang ayah harus menyimpan stresnya sendiri karena tak mau istri dan anaknya kuatir. Terkadang dia terus putar otak, bagaimana bisa mendapatkan penghasilan yang halal buat anak istrinya. Dan di luar itu, peranannya sebagai kepala keluarga tetap tak tergoyahkan, di mana banyak keputusan penting dan keputusan tahap akhir harus tetap berada di tangannya. Dan peranan ayah menjadi lebih terlibat dalam mengurus anak sejak bayi, ketika mereka memilih untuk tidak menggunakan pembantu atau ‘baby sitter’. Atau mungkin hal ini terpaksa dilakukan karena memang mereka tinggal di negara lain di mana biaya suster dan pembantu sama dengan gaji manager di satu perusahaan di Indonesia. Banyak faktor yang membuat orang pada akhirnya memutuskan untuk tidak menggunakan suster atau pembantu ketika mereka tinggal di luar. Dalam hal ini, peranan ayah yang sudah mencari uang ditambah dengan mengurus anak. Saya berkesempatan melihat sendiri, bahwa para ayah yang notabene bergelar S1, S2, atau bahkan S3 dengan fasih mengganti popok atau ‘diapers’ anak mereka. Menyuapkan makanan, memberi susu, memandikan, atau bahkan membersihkan sehabis ‘poop’. Hal yang sepertinya tak pernah terpikirkan sebelumnya, namun mereka fasih mengerjakannya. Walaupun satu sisi kesannya tidak ada pilihan, namun di sisi lain, setia sepenanggungan dengan istrinya. Istri kesusahan dan kelelahan dalam mengasuh anak, suami yang membantunya. Salut bagi ayah-ayah semacam ini!

Suami-suami yang tidak terlalu terlibat langsung dalam mengurus anak-anaknya, mereka yang punya pembantu dan ‘baby sitter’ juga tetap ingin menghabiskan waktu-waktu berkualitas dengan anak-anaknya. Karena pada dasarnya apa yang ditanam, waktu yang diinvestasikan untuk kebersamaan itu sendiri adalah tak ternilai. Di masa depan, pada akhirnya seorang anak tidak melulu ingat atau bahkan tak pernah tahu berapa jumlah gaji yang ayahnya hasilkan. Sama halnya Si Anak takkan pernah tahu berapa jumlah bisnis sampingan yang dikerjakan demi membesarkannya. Namun, Si Anak akan selalu ingat momen bersama ayahnya di mana mereka main di taman bersama. Main kejar-kejaran, petak umpet, atau layangan. Waktu-waktu di mana mereka melihat foto bersama waktu mereka liburan, foto bersama ketika anaknya berulang tahun. Waktu-waktu berharga di mana anaknya merasa dekat dengan ayahnya karena ayahnya menyediakan waktu dan dirinya bagi Si Anak. Itu berarti, dalam kelelahan tetap mau jika diajak main kuda-kudaan. Dalam capeknya, tetap bersedia diajak main dokter-dokteran. Tetap bersedia dan menyediakan diri. Tak selamanya dia mau, seketika dia menjadi besar, ABG sampai dewasa, dia mungkin mau pergi dengan teman-temannya. Namun, pengalaman bahwa dia dicintai, dia diterima, dia dihargai oleh ayahnya menjadi kenangan tersendiri yang tak terlupakan. Karena dia memiliki figur ayah. Figur yang sering menghilang tiba-tiba dalam hidup banyak anak. Karena banyak wanita yang akhirnya memilih menjadi ‘single parent’. Entah karena perceraian, entah karena memang tak pernah menikah dan mau membesarkan anak hasil cintanya. Figur ini menjadi banyak dirindukan. Dan bagi mereka yang tak merasakan hangatnya kasih seorang bapak, terkadang menjadi anak-anak yang kurang seimbang kejiwaannya. Peran ayah, tak bisa dikecilkan dari sudut mana pun! Walaupun keterlibatannya tidak seintens para ibu yang menyusui dan berada di dekat anaknya dalam jangka waktu panjang dan lama. Namun, peranan ayah yang setia berjuang bagi keluarga, menjadi kepala keluarga, berdoa bagi keluarga, dan menyediakan dirinya bagi kebutuhan kasih sayang Sang Anak, adalah amat penting dan tidak bisa dianggap sepele.

Peran ayah juga menjadi penting, ketika dia mengatasi ketakutannya akan darah misalnya, namun dia harus mendampingi istrinya di kamar bersalin. Dia harus mengatasi kekuatirannya akan masa depan keluarga yang dipercayakan kepadanya dengan bekerja keras dan terus berdoa mohon bimbingan Yang Kuasa.

Di luar banyak cerita soal ayah yang memukuli anaknya sampai luka parah, ayah yang melakukan perkosaan kepada anak kandungnya, ayah yang menjual anak kandungnya untuk mendapatkan sejumlah uang, dst. Di luar semua berita miring tersebut, izinkan saya mengajak kita semua tetap berharap bahwa banyak ayah yang baik di dunia ini. Dan memang mereka ada! Saya percaya bahwa pada akhirnya, kekuatan seorang ayah terletak pada kemampuannya tetap mencinta, tetap setia pada keluarga, di tengah segala keterombang-ambingan dunia. Di tengah segala ketakutan dan kekuatiran yang harus dihadapi dan diatasinya. Di tengah semua perasaan kesendirian yang pernah menyerangnya. Karena dia tetap percaya bahwa ada sosok Maha Pengasih yang terus menaunginya dengan cinta dan kasih yang cukup bagi keluarganya.

Ayah, mungkin engkau bukan figur sempurna. Tetapi, tanpamu hidup kami akan terasa hampa. Terima kasih untuk tiap detik yang kaulewati bersama kami. Tiap detik dari kami lahir sampai hari ini. Sedangkan bagi saya pribadi, sampai engkau menghadap yang kuasa sekitar enam belas setengah tahun yang lalu.

Mungkin ayah kita bukan ayah yang baik di mata kita. Mungkin dia cerewet, sering mengatur, keras/otoriter, dan banyak sifat yang kurang baik lainnya yang dimilikinya. Dan dia mungkin juga bukanlah pemberi contoh yang baik. Mungkin dia juga bukan tipe pekerja keras, bahkan yang kerja lebih keras adalah figur ibu misalnya. Apa pun yang terjadi, dia adalah ayah kita. Tanpa dia, kita tak mungkin ada di dunia ini. Sebagaimana kita tak bisa mengharapkan orang lain sempurna karena kita sendiri jauh dari sempurna (dan hal ini bagi saya pribadi semakin terasa ketika saya menjadi seorang ibu, jauh sekali apa yang ada di pikiran dalam bentuk teori-teori ideal dengan kenyataannya dalam praktik ‘motherhood’ yang saya alami sehari-hari). Saya sadar, saya bukan orang tua sempurna. Saya hanya manusia biasa dengan keterbatasan saya dan diberikan kepercayaan untuk mengasuh anak kami. Dalam segala kondisi peran ayah yang ada saat ini, entah baik atau buruk. Dalam kondisi yang akan terjadi di dunia nantinya sehubungan dengan peran ayah, entah makin baik atau makin buruk, saya hanya mau mengajak kita semua membuka mata: peran ayah walaupun tampaknya kecil, walaupun tampaknya tanpa arti karena dia bukan ayah ideal, tetapi tanpa dirinya hidup kita tidak lengkap jadinya. Bukan kebetulan ketika dia dipilih sebagai ayah kita. Hanya dia dan bukan pria lainnya. Dan dalam tubuh kita juga mengalir darah yang diwariskan darinya.

Ayah, maafkan kami, maafkan saya,

ketika saya terlalu meminta engkau menjadi sempurna

atau setidaknya seperti yang kami mau.

Padahal kami sendiri takkan pernah mampu,

jadi orang tua yang seperti anak kami inginkan.

Selalu ada kurangnya,

tak mungkin bisa memuaskan hati anak-anak kami terus-terusan.

Ayah, kami syukuri kalau hari ini kami diperbolehkan untuk melihat kasih

dan kebaikanmu yang mungkin selama ini tersembunyi…

Namun, kami tahu...

Tanpamu, ayah, kami takkan jadi seperti hari ini.

Ayah, terima kasih!

HCMC, 20 January 2010

-fon-

* mungkin tulisan ini tak bisa menggambarkan secara sempurna perasaan seorang pria, perasaan seorang ayah, karena dituliskan dari pemahaman yang berusaha dicapai oleh saya yang adalah seorang wanita. Namun, biarlah ini menjadi tanda penghargaan bagi setiap ayah yang berjuang keras dengan tetesan keringat bagi keluarganya. Ayah yang setia dan mati-matian memikirkan nasib keluarganya: istri dan anak-anaknya. Ini untuk kalian. Terima kasih.

* Ini sekaligus adalah sekuel yang saya janjikan dari tulisan sebelumnya, Tangisan dan Tawa Seorang Ibu yang bisa dilihat di Facebook notes saya http://www.facebook.com/notes/fonny-jodikin/tangisan-dan-tawa-seorang-ibu/255157233542 atau di blog saya http://fjodikin.blogspot.com/2010/01/tangisan-dan-tawa-seorang-ibu.html


sumber gambar:
http://www.linnealenkus.com/image/familyLLS11.jpg

Tuesday, January 19, 2010

The Sky is the Limit


The Sky is the Limit

Seconds, hours, so many days
You know what you want, but long can you wait?
Every moment last forever
When you've lost your way.

What if my chances were already gone?
I started believing that I could be wrong
But you gave me one good reason
To fight and never walk away

So here I am, still holding on

With every step, you climb another mountain
Every breathe, it's harder to believe
You'll make it through the pain, weather the hurricanes
To get to that one thing

Just when you think the road is going nowhere
Just when you almost gave up on your dreams
They take you by the hand and show you that you can
There are no boundaries 2x

(No Boundaries, Kris Allen-from the American Idol Season 8)

No boundaries from Kris Allen has been accompanying me for the past few days. While I’m writing, I’m listening this song through the youtube website. Over and over again. My type of song-listening, until I get bored :)

Going through every word of it, I found a new strength. Really, this life is actually no boundaries. Only sky is the limit. Too often we’re the one who sets the limit. Yes, we’ve got limitations, but if only we believe that it’s also possible to see the beauty of our dreams, then we’ll get the strength to move on. To carry on. To walk with whatever strength that we’ve got. Maybe sometimes we walk in a normal pace, while at the other time we run like a sprinter. And at another time, we just couldn’t even walk. We just crawl so slowly, like a baby who has just learned how to crawl. But, one thing is for sure: we need to walk and never stop. I’ve learned not to let anything or anyone to set a boundary for me. While at the other time, I’ve also realized that too often I make my own boundaries. Here, inside my mind, within my thoughts, I’m too scared to let it happen. So, I kept saying that, “ It’s impossible.”

Really? Is that so? The other side of my heart asking a completely different question compared to the first thought that popped up in my mind. While I’m still busy with the two poles of my thoughts, suddenly Kris Allen sang again, “ Just when you think the road is going nowhere. Just when you almost gave up on your dreams…. There are no boundaries!!! Yeaaaahhh”

Thanks, Kris, for your gentle reminder with such a strong message…No boundaries, yeah!

Edison Chen in Asia Uncut-Star World, 17 Jan 2010

Well, I’ve just pressed my remote unintentionally to this channel and listened to what he said. After his big scandals-sex scandals- in Hongkong around 2 years ago, he made a come back in the international music and film. But still refused to go back to Hongkong. For those who don’t know what exactly was happening at that time, I found some information from Wikipedia for you:

In January 2008, Chen was involved in a widely publicized sex scandal when sexually explicit nude photographs of himself taken four years earlier became widely circulated on the Internet. Celebrities implicated in the scandal included Gillian Chung, Bobo Chan, Mandy Chen,Candice Chan, Rachel Ngan , Cecilia Cheung, and Maggie Q. Nude photos of Edison's current girlfriend, Vincy Yeung, were also made public and the future of the relationship is in doubt.

Hong Kong police have stated that they confiscated a collection of sex-related photos that involve 6 other identifiable females and other unidentifiable males.

Initially the authenticity of the photos was denied, and digital manipulation was used as the primary explanation for the pictures. However, Hong Kong police and Photoshop experts argued that the photos were in fact real and not digitally altered. This brought about a serious reaction towards all parties involved in the scandal. As a result, Chen indirectly admitted his role and expressed remorse and subsequently announced his indefinite departure from the Hong Kong entertainment industry at a press conference. (Wikipedia)

The reporter was asking Edison about his feeling of being accused either as a villain or a victim in this case. Yes, the laptop was misplaced and the data that contained those pictures were stolen. But, the fact is that he has done a really ungraceful thing. More importantly, those girls in his pictures are famous artists or singers from Hongkong And that was it… It was a big issue in 2008.

But then, eventually, he’s back. He told the reporter that, “ What doesn’t kill you will make you stronger.” Again, I was impressed by these words. Well, he made a mistake. A HUGE one. But then, he admitted and did something about it. Even though the result isn’t really clear at this moment, but at least he has learned his lesson (based on his conversation with the reporter). Well, I do hope that Edison can really make a sincere change and turn over a new leaf. A better one, for sure. One thing that I bear in mind that people can make mistakes, big ones, even huge ones. The ones that seemed unforgettable and unforgivable. But hey, really! Whatever doesn’t kill you will make you stronger. You’ll have a brand new day, a brand new opportunity to learn something from this life and become a better person. A better you.

Last but not least: Joshua Allen, the winner of So You Think You Can Dance Season 4

From an amateur street dancer who specialized in a kind of hip hop dance, Joshua broke all the tradition of So You Think You Can Dance, by becoming the top 2 in the competition. Both dancers in the top 2 were all street dancers. But amazingly, through out the process of practicing, being choreographed by wonderful and world class choreographers, here’s the good news… He’s the winner.

Shortly after winning his title, with tears on his eyes, he said something that I’d like to quote and remember as a reminder of my own self and I’d like to share with you too!

Never let anybody tell you that you can’t do anything. Only sky is the limit. God is in control and with GOD you can do ANYTHING.

Amazing! Because we often think that it’s almost impossible to achieve something big. While thinking of our past or looking at our present situation, we begin to doubt our future. Our logic says: if this is the case, so that will be the result. It’s our own reasoning. But, Joshua has reminded me that only sky is the limit. And by remembering God is in control, we’ll be less arrogant and realize without Him we are meaningless. With Him we can live a life to the fullest. If He wants to, nothing is too hard to do. If He wants to, impossible is nothing. If He wants to, He’ll always have a way to help us get through it. He’ll empower us. Just surrender to Him and let Him know our dreams, then you’ll be amazed by His beautiful ways that He has planned for you in reaching your dreams.

Keep dreaming, keep believing, and keep praying. Really, only sky is the limit!!!

HCMC, 20 January 2010

-fon-


source of picture:

Monday, January 18, 2010

Obese



Matamu sering menatap perempuan lain ketika kita bersama.

Itu sudah kuketahui sejak dulu. Ketika kita masih berpacaran. Kupikir suatu saat kau akan berubah. Namun, nyatanya setelah menikah, sama saja. Jelalatan tak tentu arah. Terutama mereka yang berbodi langsing, berwajah cantik dan segar, serta masih muda. Terkadang mereka yang berpakaian mengundang atau dengan dandanan mutakhir. Sejujurnya kau anggap aku apa? Apa kau pernah memikirkan atau setidaknya mempertimbangkan perasaanku walau sedikit saja?

Setiap kali kutanya kau selalu bilang, “ Aku ‘kan punya mata? Masa’ sih gak boleh liat yang cantik dan segar? Kalau memang gak suka, ya butakan saja mataku,” begitu selalu jawabmu. Dengan hati kesal, aku hanya bisa diam. Diam yang menyimpan perih. Karena pada dasarnya kau memang flamboyan, apa mau dikata? Salahku juga terlanjur cinta…

Aku memang tak cantik, dari dulu kau tahu itu. Mungkin yang kumiliki hanya wajah agak manis dengan berat badan sama seperti berat badanmu, di atas 80 kg. Malu aku menyebutkan secara persis berat badanku. Maklum, aku ‘kan perempuan…

Bedanya kita terpaut 15 cm. Bedanya lagi, aku perempuan dan kau laki-laki.

Aku istrimu dan kau suamiku. Aku memang gemuk, berat badanku jauh di atas berat badan perempuan normal. Dan itu rasanya sudah amat mengganguku. Kau tahu itu, sedari dulu. Tapi entah kenapa, akhirnya kita menikah juga. Mungkin aku yang terlalu mencintaimu dan terus mengejarmu, sementara dirimu tak peduli sebetulnya akan diriku. Sampai akhirnya dalam kondisi sakit parah, tak ada seorang pun yang menemanimu. Hanya aku. Karena aku memang selalu merindukan bayangmu.

Kupikir dengan memilikimu, aku akan bahagia. Namun nyatanya, aku berkutat dan berjuang dengan masalah harga diriku. Dengan minderku. Dengan ‘image’-ku. Dengan gambar diriku. Dengan keyakinan bahwa sebetulnya aku kurang berharga, aku tak layak dapatkan semua keindahan hidup ini. Dan dengan memilikimu yang indah itu, aku sudah harus mensyukurinya. Dalam diam, sakit itu terasa memilukan. Dia meronta-ronta sekuat tenaga dalam hatiku dan kutepis dia, kusuruh dia diam. Sama seperti pilihanku untuk diam. Tapi, dia tetap protes dan berontak, tak bisa menerima perlakuan ini. Haruskah aku meninggalkanmu? Haruskah aku mengakhiri seluruh impianku? Tapi nyatanya memang kau tak pernah mencintaiku, apalagi menghormatiku. Yang kaulakukan hanyalah menikmati uang hasil dari usahaku. Karena memang gajiku lebih tinggi darimu. Karena engkau tak pernah serius sekolah dan bekerja. Kau selalu menganggap wajahmu yang tampan, serta kemampuanmu untuk ‘networking’ dengan mengandalkan senyuman bisa menghasilkan uang jutaan bahkan puluhan juta sebulan. Namun, nyatanya? Kau tak mampu! Yang terus kau lakukan adalah memancing amarah dan kecemburuanku ketika para wanita itu memandangimu dan mengagumimu. Sebetulnya bukan itu yang membuatku marah, mereka memandangi saja itu masih tak mengapa. Masalahnya, sering kali kau terlibat dengan percakapan akrab dengan mereka, sambil membelai rambut mereka mesra. Kau anggap apa diriku? Aku juga manusia.

Setelah kupikirkan masak-masak, inilah saatnya aku harus pergi. Dalam perih, dalam kesakitan luar biasa, aku memilih memerdekakan hidupku dari pengaruh buruk orang sepertimu. Aku yang sudah minder dan putus asa, tak perlu mendapatkan perlakuan semacam itu darimu. Aku yang sudah merasa tak berharga, merasa percuma mengharapkan penghargaan yang tak pernah kudapatkan dari orang sepertimu.

Tubuhku yang gemuk ini memang karena penyakit yang kuderita. Aku takkan bisa kurus. Sekeras apa pun olahraga yang kulakukan. Sehebat apa pun diet yang kupilih, aku takkan pernah bisa kurus, sayangku. Yang aku minta sebetulnya hanya kau terima aku. Apa adanya. Aku ingin dicinta dengan cara itu oleh suamiku sendiri. Apa salah jika aku berharap begitu?

Dengan helaan nafas putus asa, kulihat kembali kau mulai menebar senyum flamboyanmu kepada anak-anak kuliahan ketika kita duduk di satu restoran cepat saji tak jauh dari sebuah kampus. Anak-anak dara itu tersenyum malu, tersipu, dan langsung berbisik di antara mereka. Dalam kesedihan, aku berlalu. Menyingkir dari hidupmu. Berharap suatu saat kau bisa berlabuh pada seseorang yang bisa kau hargai. Bukan seseorang sepertiku.

Selamat tinggal, cintaku! Aku pergi untuk mencari kedamaian diri. Apa gunanya jika hidup bersama orang yang kucintai tetapi memperlakukan aku sebagai orang yang tak pernah diperhitungkan eksistensinya di hadapanmu? Kuharap kau bahagia, sebagaimana akan kucari bahagiaku. Sendiri mengarungi lautan kehidupanku.

Tanpa kamu.

HCMC, 18 Januari 2010

-fon-

* cerminan perasaan seseorang yang obesitas karena penyakit. Salahkah mereka terlahir ‘obese’? Apa mereka tak layak mengecap indahnya cinta dan indahnya dunia hanya karena fisik yang berbeda? Mereka juga manusia biasa yang butuh kasih dan cinta…. Hal yang terakhir yang mereka butuhkan adalah penghakiman atas penampilan dan fisik mereka. Yang mereka butuhkan adalah penerimaan sekitarnya.


sumber gambar:
http://www.kosmo.com.my/kosmo/pix/2009/1221/Kosmo/Dunia/du_06.1.jpg

Sunday, January 17, 2010

Tangisan dan Tawa Seorang Ibu



Tangisan seorang ibu bermula ketika dia mengetahui dirinya hamil. Tangisan bahagia sekaligus tawa sumringah berpadu menjadi satu. Ketika dia merasakan untuk pertama kalinya, ada seorang calon bayi yang tumbuh di dalam rahimnya. Dan akan merasakan serta menghirup kehidupan dunia dalam asuhannya dan naungan kasihnya. Setelah melewati bulan demi bulan kehamilan yang terkadang lancar dan mulus, tetapi tak jarang pula kehamilan itu diwarnai perjuangan untuk mempertahankan Sang Anak, membuat tangis dan tawa memenuhi hari-harinya.

Banyak kejadian ketika seorang ibu harus berjuang melawan rasa mual yang luar biasa umumnya dalam 3 bulan pertama, sampai kena maag karena terus-menerus muntah tanpa bisa diisi apa pun termasuk air putih. Belum lagi, ketika kandungan mulai membesar, tak jarang komplikasi beruntun. Mulai dari kadar gula darah yang meningkat dan mungkin membahayakan Sang Anak, kaki yang bengkak akibat kebanyakan garam dan kemungkinan menyerangnya preeklampsia serta dilanjutkan dengan eklampsia. Belum lagi ada resiko keguguran di tengah jalan akibat begitu banyak flek alias pendarahan yang terjadi selama kehamilan. Toksoplasma juga mungkin menggangu. Dan rentetan penyakit lainnya yang berpotensi menghentikan kehamilan itu seketika. Banyak kali, seorang ibu hanya menangis memikirkan kemungkinan-kemungkinan bahwa Sang Anak harus pergi dari rahimnya.

Tangisan haru seorang ibu berlanjut ketika Sang Anak lahir ke dunia dengan selamat. Disambutlah ia dengan suka cita. Saat itu berpadulah tangisan dan tawa menjadi satu. Bahagia menjadi seorang ibu, lengkaplah sudah dirinya sebagai wanita, sekaligus memiliki PR panjang untuk membesarkan anak. Bukan hanya memberikan ASI eksklusif dan menemani Sang Bayi dalam waktu-waktu panjang yang terkadang harus dilalui sendirian dalam malam-malam ‘sleepless nights’. Kurang tidur, begadang, jaga sampai pagi, bangun tengah malam, hanya untuk mengurusi Sang Anak. Sekaligus kebahagiaan tersendiri, tawa ceria kembali menghiasi ketika Sang Anak sudah mulai bisa tengkurap, merangkak, berdiri, duduk, berjalan. Ketika Sang Anak bisa mulai menggumamkan “Mama atau Papa,” selalu disambut dengan kebahagiaan luar biasa. Semua yang untuk pertama kalinya dicatat dalam buku hariannya, buku kehidupannya sebagai seorang ibu.

Ketika Si Anak mulai memasuki balita sampai mereka lebih mengerti mungkin sekitar umur 7-8 tahunan, tangisan itu terkadang hadir ketika harus mendidik dan mendisiplinkan Sang Anak. Karena lelah, karena tak sanggup menahan segala tekanan ketika mengasuh anak apalagi jika ibu ini bekerja atau ibu rumah tangga tanpa bantuan dari pembantu atau ‘baby sitter’, terkadang menjadikannya tidak sabaran. Dan ketika dia mulai marah kepada anaknya, berteriak kencang, sering kali dia kemudian menyesali apa yang dilakukan. Namun memang Si Anak terkadang juga masih belum mengerti dan melakukan apa yang dilarang. Tak jarang membahayakan Si Anak sendiri. Dalam ketakutan, dalam kekuatiran, dalam kelelahan, tak jarang Si Ibu menyimpan tangisnya sendirian. Walaupun tawa ceria juga hadir ketika Si Anak semakin pintar, semakin cerdas, semakin mampu berdoa, semakin menceriakan hari-harinya.

Tangisan juga hadir dari dulu ketika Si Anak lahir, terutama ketika dia sakit. Dengan pikiran yang umum, “ Mending Mama yang sakit daripada kamu, Nak,” begitu kata hati seorang ibu. Si Anak kecil yang belum lancar bicara, ketika sakit tak mampu bilang bagian mana yang sakit. Dia hanya menangis dan sebagai ibu pasti juga menangis sedih melihat Si Anak sakit. Tangisan ini terkadang menjadi lebih keras, ketika Si Anak sakit keras dan mungkin sulit diobati. Pergumulan antara uang yang pas-pasan yang terkadang sampai tak cukup untuk berobat dengan keinginan untuk menyembuhkan Si Anak apa pun yang terjadi, menjadi dilema tersendiri. Namun ketika Si Anak kembali sembuh seperti sedia kala, yang ada hanya senyuman bahagia. Syukurlah, anakku sudah sembuh!

Tangisan bahagia itu hadir ketika melihat Si Anak melewati masa-masa sekolahnya. Tahun berganti tahun, TK-SD-SMP-SMU-Universitas, pelan-pelan terlewati dengan segala masalah yang mengiringinya. Kurang biaya sekolah, anak berpacaran sementara konsentrasi terhadap pelajaran menjadi buyar namun akhirnya bisa dilewati semua dengan baik. Setelah kuliah, Si Anak bekerja dan tak lama akan menikah.

Dalam pergumulan menentukan jodoh, seorang ibu juga sering menangis mendoakan anaknya yang belum juga mendapat jodoh sementara usia sudah beranjak terus. Gelisah, resah, galau, berganti ceria ketika Si Anak sudah mendapatkan jodoh yang sesuai. Tangisan itu masih mengiringi ketika Sang Cucu hadir. Tangisan haru. Tangisan bahagia. Bercampur senyum manis sumringah. Satu babakan hidup lagi sudah berlalu.

Tangisan dan senyuman itu terus dan terus berjalan. Tak henti-hentinya. Bukankah dalam setiap babak kehidupan juga adalah gabungan keduanya? Tak mungkin juga senyum terus-menerus. Atau sebaliknya, selalu menangis tak kunjung usai. Seorang ibu terus mengkhawatirkan anak-cucunya. Selalu terlibat dalam tangisan dan senyum suka cita. Selalu berdoa untuk anak-cucunya agar mereka sehat dan bahagia. Walaupun dia simpan air matanya, dia menegarkan dirinya untuk mengarungi kehidupan ini. Berdiri tegar bagi keluarganya.

Beberapa perkawinan harus hancur di tengah jalan. Karena ketidakcocokan lagi sehingga harus bercerai atau mungkin karena salah satu pasangan meninggal terlebih dahulu. Ibu mana yang bisa tak peduli dengan hal-hal semacam ini? Dia menangis bersama anaknya untuk setiap kejadian memilukan seperti ini. Dan memberikan harapan serta kekuatan, bahwa akan ada hari esok yang lebih baik. Yang harus dilakukan hanyalah tetap berharap dan tak berhenti berjalan. Tetap percaya akan keindahan kehidupan yang mungkin tersembunyi, namun selalu ada bagi mereka yang mau mencari dengan teliti dan tanpa henti.

Tangisan dan tawa mengiringi kesetiaan seorang ibu sampai akhir hayatnya. Dan bersama figur ayah yang juga setia, mereka bersama mengarungi bahtera rumah tangga sampai maut memisahkan mereka serta mempersatukan mereka kembali dengan Sang Pencipta.

HCMC, 18 Januari 2010

-fon-

* berterima kasih buat semua ibu, tangisan dan tawa ceriamu membuat perbedaan di dunia ini. Lain kali akan ada sekuel tentang ayah (biar adil :)). Tentu saja ini berlaku pada umumnya, di luar kisah para ibu yang kurang peduli pada anaknya yang masih saja kita dengar sampai hari ini. Tetapi, banyak pula ibu yang tetap setia dalam tangisan dan tawanya bagi anak-anak mereka. Terima kasih.


Sumber gambar:
http://www.coconino.az.gov/uploadedImages/Health/mother%20holding%20baby.jpg

Friday, January 15, 2010

Marah


Marah

Buang jauh marahmu,

untuk hal-hal yang tak perlu.

Kutahu,

kau tak selalu bisa lakukan itu.
Sama halnya dengan diriku.


Terkadang kita menjadi marah,

emosi meletup-letup tak tentu arah.

Lantas dengan leluasa meluapkan amarah,

tak peduli pada orang yang lebih tua atau bocah.


Setelah itu barulah merasakan akibat.

Seketika segalanya menjadi terlambat.

Penyesalan selalu telat.

Pelan-pelan muncul rasa bersalah yang membebat.


Tak selalu mudah untuk berpikir dulu sebelum berkata.

Tak selalu mudah untuk menimbang rasa dahulu sebelum menjadi marah.

Tak selalu berhasil untuk melakukannya.

Padahal, tak selalu sesulit itu sebetulnya.


Pengendalian diri adalah kuncinya.

Tidak mudah, tetapi memang begitulah adanya.

Ketika ada pilihan untuk menjadi diri yang lebih baik,

mengapa kita harus menampik?


Marah…

Aku akan berusaha untuk menelaah,

biar tak terlanjur parah.

Jadi ingat nasihat abah,

jangan buat Si Marah menjadi betah.

Biarkan wajah menjadi cerah,

karena bebas dari amarah

dan hidup dalam penuh syukur atas berkah.

Mari kita sama-sama berbenah,

agar hidup dalam hari-hari penuh hikmah


HCMC, 16 January 2010

-fon-


sumber gambar:
http://amiliaputri.files.wordpress.com/2009/05/marah.jpg

Wednesday, January 13, 2010

Being Mom: Nurut


Being Mom: Nurut

Semakin tahu apa yang diinginkan, akhir-akhir ini makin sulit bagi anak kami untuk menuruti apa yang kami katakan. Mulai dari baju yang ingin dia pakai, dipilihnya sendiri, contohnya, “ I want pants, mickey club house”, maksudnya untuk menjelaskan celana pendek bergambar ‘Mickey Mouse’ yang dia amat suka. Kadang sudah sehari lebih, memasuki hari kedua, diganti pun tidak mau. Sambil mengelus dada, saya membatin begini tokh rasanya kalau anak tidak ‘nurut’. Disuruh ini-itu, tidak mau. Padahal sering kali sebagai orang tua, yang kita lakukan hanyalah agar dia menjadi lebih baik, lebih disiplin. Dan supaya di kemudian hari, dia menjadi anak yang baik.

Dari hal yang sederhana seperti ini, saya kembali disadarkan akan relasi kita sebagai anak dengan Sang Pencipta sebagai Bapa. Sering kali, apa yang saya alami selama mengasuh anak menjadi cerminan tersendiri akan sikap saya sebagai anak. Saya sadar, sebagai anak-Nya, saya jauh dari penurut. Mungkin akhirnya saya akan menurut, tetapi awalnya kesal, marah-marah, lalu karena tidak ada pilihan lain, baru menyerah.

Itu yang sering saya lakukan.

Punya anak satu yang terkadang tidak menuruti perintah dan nasihat saya saja, rasanya sudah kesal. Tak jarang, anak-anak yang semakin banyak, semakin sulit diatur, membuat frustrasi para orang tuanya. Itu yang juga sering saya dengar.

Okay, balik lagi ke relasi dengan Sang Pencipta. Dengan jumlah anak sekian miliar di seluruh dunia, mungkin kalau boleh dibilang, Tuhan sering banget mengelus dada melihat kelakuan anak-anak-Nya. Terutama bila anak-anaknya mau enaknya sendiri, mau gampangnya sendiri, mau instant : cepat bisa, cepat kaya, cepat pandai, dsb. Padahal yang diurusi bukan cuma satu (bandingkan dengan saya yang baru punya anak satu saja, terkadang sudah pusing tujuh keliling). Orang tua mana yang selalu sabar, ramah, baik hati, biarpun anaknya menghentakkan kaki ketika dilarang, berguling-guling di mal ketika ditolak keinginannya untuk membeli mainan, disuruh belajar malah terus main ‘game’ atau malah ‘browse’ internet. *Sigh* beginilah yang harus dihadapi orang tua dari hari ke hari.

Ketika Tuhan mengajar kita, kita sering marah, kecewa, terluka, merasa Tuhan menolak kita sekaligus tak berpihak kepada kita. Padahal, maksud-Nya pasti baik. Mana ada orang tua yang bermaksud jahat kepada anak-Nya, kecuali orang tua tersebut mengalami gangguan jiwa/mental (tak jarang kita baca orang tua membunuh anaknya, memperkosa, melukai, dan sebagainya. Namun saya yakin dalam kondisi normal, takkan ada orang tua yang mau secara sengaja bertindak buruk kepada Si Anak).

Kita seringkali membangkang, menolak mentah-mentah, lari dari-Nya, tak mau beribadah atau berdoa lagi, tak mau lagi ke tempat ibadah (vihara, mesjid, gereja, pura) karena teramat sangat kecewa. Padahal? Kembali ke prinsip semula bahwa tiap orang tua bermaksud baik bagi anak-Nya, pastilah Tuhan bermaksud baik bagi kita, hanya memang kita tak mengerti rencana-Nya.

Saya mengakui, sulit untuk menuruti kehendak-Nya sementara saya punya banyak keinginan dan harapan pribadi. Sama halnya menjadi hal yang sulit ketika pagi ini saya menyiapkan anak saya untuk bersekolah, sementara yang dia inginkan adalah nonton DVD ‘Tom and Jerry’. Alhasil, dia tetap ke sekolah dengan tetesan air mata dan tangisan yang cukup keras.

Sering kali, dalam perjalanan hidup, kita terpaksa harus berjalan, walaupun tidak sesuai dengan yang diinginkan. Mungkin kita berjalan sambil menangis, berjalan sambil meneteskan air mata tanpa henti, karena kita amat kecewa. Tetapi kita tetap berjalan. Berjalan bersama-Nya. Kita yakin dan percaya bahwa maksud dari semuanya ini, takkan pernah merupakan hal yang buruk. Dia takkan menjerumuskan kita, malahan Dia akan melindungi kita. Dia tak mengharuskan kita menjadi pribadi yang tak punya impian, tak punya harapan, hanya ‘nurut’ saja. Tapi, Dia inginkan ‘nurut’ yang pasrah, nurut yang berserah, nurut yang menerima. Selalu ada proses ‘struggling’ untuk mencapai pengertian akan kehendak-Nya. Karena saya tak selalu mampu mengerti diri-Nya, bahkan boleh dikatakan saya amat tak mengerti rencana-Nya. Satu hal, saya ingin mencoba menjadi penurut yang berserah dengan segala impian dan harapan yang juga saya ceritakan kepada-Nya. Apa yang tersembunyi di balik sana, tetaplah rahasia Ilahi milik-Nya. Tak hendak saya bongkar, tak hendak saya korek secara paksa sampai waktu-Nya tiba.

Tuhan, ampuni saya kalau saya tidak selalu menuruti apa yang Engkau rencanakan, walaupun itu yang terbaik bagi saya. Itu karena ketidaktahuan saya atau mungkin karena kesombongan saya. Menghadapi anak yang tidak menurut, seringkali orang tua menjadi kesal dan marah, tetapi Engkau tidak, Tuhan. Engkau tetap panjang sabar, menerima kami dengan cinta tanpa syarat. Biarlah detik ini, menjadi detik yang berbeda sekaligus berharga dalam relasi kita…

Aku mau memperbaharui cintaku kepada-Mu dengan mengikuti rencana-Mu.


HCMC, 14 Januari 2010

-fon-

* pengalaman anak kami yang tidak ‘nurut’ membuatku berpikir tentang relasi manusia dengan Tuhan. Berapa sering kita tidak ‘nurut’? Untungnya, Dia sabar sekali menghadapi kita…

Kalau mama-papa Si Anak terkadang sudah mukul, nyubit, menjewer, atau menyetrap anak-anaknya. Tetapi Dia tidak. Thank God.

sumber gambar:

http://www.babble.com/CS/blogs/strollerderby/istock_000000357240small_child_crying_1.jpg

Tuesday, January 12, 2010

Kerlip itu Masih Ada



We're all in this together
Once we know
That we are
We're all stars
And we see that
We're all in this together
And it shows
When we stand
Hand in hand
Make our dreams come true

(We’re in This Together – song from High School Musical)

Siapa yang tidak kenal Zac Efron, Vanessa Hudgens, Ashley Tisdale, Corbin Bleu, Lucas Grabeel, dan tokoh-tokoh di ‘High School Musical’? Film ini sudah jadi fenomena tersendiri. Sebagaimana Troy Bolton menghiasi mimpi banyak gadis remaja, kapten klub basket ‘ Wild Cats’ yang tampan, pandai nyanyi, wuah pokoknya segalanya deh…:)

Tepat di pergantian tahun, ‘Disney Channel’ memutar konser mereka dan saya mendengarkan lagu-lagunya, ikut menyanyikan beberapa diantaranya, menikmati tarian dan wajah cantik serta tampan yang memenuhi panggung. Perpaduan antara talenta dan tampang, memang asyik dilihat mata. Pelan-pelan, saya menyadari, bahwa yang ditawarkan oleh film ini adalah keceriaan dan mimpi di masa remaja. Yang digambarkan penuh warna, penuh persaingan, sekaligus penuh kesenangan juga. Bukankah masa remaja hanya sekali, itu yang sering kita dengar? Makanya, harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Keceriaan itu, kemilau itu, rasanya memang tak mencerminkan kehidupan remaja seluruhnya. Ada sisi-sisi lain, di mana remaja juga dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka sering dicap ‘brengsek’, kurang baik, main melulu, tidak ‘tough’, mengandalkan kekayaan orang tua tanpa bisa berusaha keras, dan tak tertutup kemungkinan kecanggihan informasi, ‘gadget’, teknologi, membawa mereka pada kemudahan akses pornografi yang lalu tak jarang membawa mereka kepada hal-hal yang lebih serius semisal seks bebas, ‘drugs’ a.k.a narkoba, rokok, dan pengaruh negatif lainnya. Hal-hal yang berhubungan dengan apa yang dinamakan kenakalan remaja.

Berapa banyak orang tua yang mengeluhkan ketakutan hal serupa. Jujur, sebagai orang tua dari satu anak balita saja, saya pun kalau memikirkan kondisi ini atau kondisi masa depan di mana nanti anak saya akan jalani, mikir saja sudah resah. Sedikit gelisah dan kekuatiran terselip dalam hati. Yang saya bisa lakukan hanyalah memberikan pengarahan sekaligus menjadi seorang teman baginya. Dan juga percaya di dalam iman, bahwa Tuhan akan memberikan kekuatan bagi saya untuk mengasuh anak yang dipercayakan kepada saya. Karena anak-anak zaman sekarang, konon katanya sudah tak bisa dihadapi dengan ketegasan atau disiplin ala militer. Mereka lebih mudah diakses lewat persahabatan yang tercipta antara orang tua dan anak. Memang, lagi-lagi apa yang saya ketahui ini masihlah dalam bentuk teori, karena secara praktik saya belum menjalaninya. Tetapi moga-moga saya hanya lagi-lagi bisa berharap, saya diberikan kekuatan dan kemampuan untuk menjalaninya oleh Yang Kuasa.

Kalau saya lihat kembali kilas balik masa remaja saya. Masa remaja yang saya lewati itu bukanlah yang seperti digambarkan di film. Saya sendiri merasakan getirnya masa SMP dan SMA saya, karena saat itu ayah saya sedang sakit keras yang berpengaruh besar terhadap semua aspek kehidupan kami. Termasuk keuangan, termasuk kondisi psikologi kami anak-anaknya. Ketika banyak anak remaja merasakan kesenangan, saya malah sebaliknya, itu saat-saat keprihatinan. Ketika anak-anak SMU meributkan pacaran dengan Si A, Si B, atau pergi nonton dengan Si A, Si B, saya terkadang hanya bisa gigit jari, karena kondisi tak memungkinkan saya melakukan hal-hal umum tersebut, karena saya memang tengah prihatin. Menilik gegap gempitanya ‘High School Musical’ dan cerita anak muda yang seolah mewajibkan mereka yang berada pada masa itu untuk terus berbahagia, gembira seolah tanpa duka, pada kenyataannya amat berbeda dengan apa yang saya hadapi. Dan saya yakin, apa yang saya alami itu belum ada apa-apanya dengan perjuangan mereka yang tak mampu meneruskan sekolah sehingga harus berhenti di tengah jalan dan seolah kehilangan kesempatan bagi masa depannya. Juga bagi mereka yang terpaksa putus sekolah di tengah jalan karena hamil di usia SMP-SMU dan harus menikah demi Si Jabang Bayi dan tak jarang berujung perceraian karena menikah atas nama kehormatan belaka akan berbeda dengan yang menikah karena memang sudah siap untuk menjalaninya. Banyak kisah-kisah suram pula di masa remaja. Tak selalu segemilang kelihatannya atau yang diyakini seharusnya terjadi. Pada kenyataannya, masa remaja memang tetaplah masa pencarian jati diri, masa untuk menemukan identitas diri, sekaligus masa untuk persiapan menuju masa dewasa.

Masa remaja yang seolah suram pun, sebetulnya tak kurang kerlipnya. Anggaplah periode remaja sebagai periode bintang, dan di periode itu, semuram apa pun, tetaplah ada satu kerlip yang tersisa. Dan bagi yang sudah tidak remaja, yang mungkin kurang mengerti apa yang ada di isi kepala remaja sekarang, mudah-mudahan kita bisa menerapkan prinsip untuk tidak menghakimi mereka. Meminjam istilah seorang teman, mereka butuh dikasihi, bukannya butuh dihakimi. Dalam pendekatan penuh kasih, penuh persahabatan, membuat mereka yang tampaknya ‘nakal’ yang tampaknya pelaku utama kenakalan remaja dan dianggap biang kerok sekali pun, akan luluh juga. Kasih tetap adalah pemenangnya. Memang ‘generation gap’ juga sering dianggap sebagai permasalahannya. Karena beda generasi, beda zaman, beda pemikiran, tapi yang lebih ‘mature’ hendaknya berusaha memahami. Dan moga-moga para remaja pun mau mengerti bila pendekatan dilakukan dengan cara yang berbeda, dengan cara yang lebih ‘friendly’ (bersahabat).

‘High School Musical’ masih bergema di hati saya. Lagunya yang segar, khas remaja masih memenuhi pikiran saya….

We’re all in this together…

Kita bersama-sama ada dalam hal ini. Semoga yang dewasa dan yang remaja, bisa bergandengan tangan, tidak saling menyalahkan, sehingga kerlip yang sedikit saja sekalipun masih bisa terasa dan dinikmati bersama. Saling menyalahkan juga saya anggap tak perlu, karena sebetulnya apa yang terjadi pada anak remaja juga sebagian melihat contoh yang kita berikan. Masalahnya, apakah kita sudah menjadi contoh yang baik? Atau malahan kita hanya pandai menuding tanpa mau tahu kondisi mereka, sementara kita pun tak bersikap sebagaimana mestinya?

Kegemilangan masa remaja, terjadi atau tidak, masa itu akan berlalu dan menjadi lembaran memori di kemudian hari. Tetapi masa pembentukan karakter itu juga menjadi penting, sebagai upaya pembentukan manusia seutuhnya di masa depan nanti…

Saya masih belajar, saya bukan ahli soal hubungan antara remaja dan orang tua, saya pun bukan orang yang tahu detil soal seluk-beluk menangani remaja yang bermasalah misalnya, tapi saya hanya berpikir bila kita punya hati untuk sama-sama ingin membuat kerlip itu ada dalam hidup kita, mari kita maju bersama…

We're all in this together
Once we know
That we are
We're all stars
And we see that
We're all in this together
And it shows
When we stand
Hand in hand
Make our dreams come true

Bersama-sama berupaya untuk mewujudkan impian bersama, menyadari bahwa kita tinggal dan menghirup nafas di bumi yang sama, dan bergandengan tangan untuk mewujudkan itu semua tanpa saling menyalahkan… Percaya kerlip bintang itu masih ada, walaupun mungkin suram, walaupun mungkin cahayanya amat lemah hampir tak terlihat mata. Percaya…Dan tetap memilih untuk percaya… Dan memilih untuk menunjukkannya dalam tindakan serta mewujudkannya…

May our dreams come true!


HCMC, 13 Januari 2010

-fon-

* pencerahan dari ‘High School Musical (HSM) Concert’ minus ‘Zac Efron’ yang suaranya diisi oleh ‘Drew Seeley’ di konser, karena di HSM sebagian suara ‘Zac’ diisi Drew yang mengisi suara nyanyian di film tersebut.

sumber gambar:

http://www.collider.com/uploads/imageGallery/High_School_Musical_Concert/high_school_musical_the_concert_image.jpg