Wednesday, December 29, 2010

Welcoming New Chapters of Our Life in 2011



*** year end reflection- welcoming the year ahead: 2011

Apa yang sudah terjadi sepanjang tahun 2010 ini?

Di dunia? Wow banyak…

Di Indonesia? Juga banyak tentunya…

Di dalam diri sendiri? Pastinya penuh ‘ups’ and ‘downs’, perjuangan jatuh bangunnya kita menghadapi kehidupan itu sendiri…

Tahun 2010 mungkin merupakan babakan baru dari banyak kita. Ada yang melahirkan anak, menikah, punya pacar, pindah kerjaan, pindah rumah, pindah kota, masuk kuliah, atau pindah negara. Tahun 2010 juga penuh kenangan yang mungkin menyenangkan atau menyesakkan. Tetapi saya yakin, senang dan susah, suka dan duka mengiringi perjalanan babak kehidupan kita di sepanjang 2010 ini.

Akhir tahun biasanya waktu yang tepat buat merenungkan: apa yang sudah saya capai tahun ini? Adakah lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya? Tak jarang, hati jadi membandingkan dengan sahabat dekat misalnya. Lihat tuh Si A, tahun ini sudah ganti mobil dua kali. Tambah lama tambah bagus, belum lagi rumahnya juga ganti kawasan: makin elite. Tiba-tiba dengan membandingkan begitu rupa, tanpa sadar jadi mengecilkan diri sendiri dan melupakan hasil-hasil yang sudah kita capai. Tentunya, kita tidak diharapkan segera berpuas diri dan berhenti berusaha. Tetapi, dengan membandingkan melulu untuk kemudian menyalahkan diri sendiri dan menyalahkan nasib, lalu merasa diri paling malang sedunia, apakah juga tindakan yang tepat? Bukankah hasil sekecil apa pun adalah hasil juga? Perbaikan diri juga? Tetaplah berusaha mensyukuri apa yang sudah diberikan-Nya kepada kita…

Kemudian, merancang 2011…

Bidang-bidang apa yang ingin kita kembangkan? Mana yang ingin kita perbaiki? Saya berusaha juga memikirkan dan merenungkan, tentunya dibarengi doa pula… Karena tanpa Tuhan, kita bukanlah apa-apa… Sembari merenung dan berencana, biarlah tetap kita libatkan Tuhan…

Tak jarang rencana pun melenceng dari apa yang sudah dibuat. Saya pernah membahasakannya sebagai ‘expect the unexpected’. Tetapi sebagai orang-orang beriman, kita percayakan kehidupan kita ke dalam tangan-Nya. Bahwa apa pun yang terjadi, tentunya itu adalah yang terbaik yang Dia sudah sediakan bagi kita. Bagian kita adalah tetap dengan tekun melakukan segala usaha yang jujur dan bekerja keras. Sisanya, kita serahkan kembali kepada-Nya. I’ll do my best, let God do the rest.

Lalu, babakan kehidupan macam apa yang akan ada di 2011? Terkadang, beberapa seolah misteri yang dibukakan. Tiba-tiba saja, Si Jomblo menemukan pacar dan segera sesudahnya memutuskan untuk menikah. Tiba-tiba saja, bos lama mengontak Anda dan mengajak pindah ke perusahaan yang baru dia dirikan. Seolah semudah menjentikkan jari tangan, semudah itu kehidupan berubah ke arah yang baik. Tetapi, bagaimana bila ternyata kehidupan membawa kita ke roda yang sebaliknya? Hendaknya kita tak kecewa berlebihan atau putus asa luar biasa. Karena naik-turunnya roda adalah hal biasa, yang penting kita tetap berpegang pada-Nya dan tak henti mencoba melihat setiap peluang yang ada.

Sehingga, pada akhirnya…

Apa pun yang telah terjadi di babak kehidupan kita di tahun 2010… Apa pun yang akan terjadi di babak kehidupan kita di 2011…

Hendaknya kita tak berhenti percaya kepada penyelenggaraan Ilahi. Bahwa Dia tahu yang terbaik bagi kita. Yang harus kita terus upayakan adalah terus berusaha dan tidak menjadi patah semangat ketika rencana yang sudah disusun rapi menjadi berantakan… Ketika kenyataan seolah begitu mengecewakan, kita tetap percaya bahwa ada tangan kuat yang menopang kita…Yaitu tangan kasih-Nya… Dalam keadaan apa pun, suka dan duka, Dia selalu menuntun tangan kita di perjalanan hidup kita…

Babak kehidupan di 2011 bagi banyak dari kita masihlah penuh misteri, bahkan penuh tanda tanya. Berita baiknya: kita punya Tuhan yang mengetahui segalanya. Dia Mahatahu… Tak perlu ketakutan ataupun kuatir menjalani semuanya. Percayakan saja kehidupan kepada Sang Empunya… Yang mengetahui semua rangkaian babakan kehidupan kita-dari awal sampai akhir- di dalam buku kehidupan yang sudah Dia tuliskan bagi kita…

So, joyfully we’re saying good bye to chapters of life in 2010, while welcoming the upcoming new chapters of life in 2011 with God’s guidance…

Selamat Tahun Baru 2011.

Ho Chi Minh City, 29 Desember 2010

-fon-

* copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya. Trims.

sumber gambar:

clikinternational.com

Friday, December 24, 2010

Dekil


Dekil

*** self-talk within me

“ Dekil, kamu…”

“ Emang… Aku gak pernah menganggap diriku putih tanpa noda, koq… Jadi, kuakui memang aku ‘dekil’ . Bukan berarti aku jarang mandi, lho… Tapi memang aku tak cukup bersih, masih diliputi dosa dan kesalahan… “

“ Jangan sok bersih, kamu…”

“ Oh, aku tidak pernah merasa diriku sok bersih. Malulah sama tetangga. Dan apa kata dunia? Haha… Aku hanyalah manusia biasa yang tak luput dari salah tetapi terus berusaha untuk hidup lebih baik hari lepas harinya…”

“ Sekali dekil, tetap dekil. Merdeka!”

“ Wuih, aku tidak setuju sama yang satu itu… Kuakui memang kedekilan itu tidak bisa hilang 100%, tetapi dengan usaha yang lebih baik dan berjuang lebih keras, tentunya kedekilan itu bisa berkurang kadarnya. Besok-besok berkurang dekilnya lah yaw…”

“ So, apa kabar, Kil (baca: Dekil)? How’s your day lately?”

“ Oh, aku baik-baik saja. Trying my best to cope with whatever I encounter in my daily life…Dan dengan hadir-Nya di hidupku, setidaknya aku bisa meminimalisasi kedekilan itu…Karena sudah hadir, detergen terampuh untuk mencuci semua kedekilanku yaitu kasih-Nya. Kuakui ku tak sempurna, banyak salah, masih pernah iri-dengki-cemburu-dendam… Tetapi, dengan kasih-Nya, kuyakin aku bisa melampaui itu semua. Bukan karena kekuatanku, tetapi karena dukungan-Nya yang tak henti pada diri mereka yang terus berjuang untuk mencerminkan hidup yang bercirikan karakter yang lebih baik lagi…”

“ Jadi! Usahlah kauganggu diriku dengan hinaan bernada dekil begitu…. Biarkan aku maju, bergerak menjadi seputih salju dengan bimbingan-Nya yang menuntun tanganku…Gih, minggirrrr…. Permisiiiii, aku mau lewatttt…”

Demikianlah percakapan yang terjadi di dalam hati menjelang Natal ini. Biarlah kupercayakan sekali lagi, aku yang ‘dekil’ dan tak sempurna ini, punya kesempatan untuk jadi putih berseri… Dalam iman kupercaya bahwa Tuhan akan mampu ubahkan diriku asalkan adanya niatan yang kuat di hatiku.

Selamat Natal buat semua yang merayakan. Bersyukur untuk hadirnya Yesus di hidup para pengikut-Nya dan semoga kita tidak menyia-nyiakan semua kebaikan-Nya di hidup kita…

Ho Chi Minh City, 24 Desember 2010

-fon-

* copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya

* tautannya ada di: http://fon4jesus.blogspot.com/2010/12/dekil.html

Tuesday, December 21, 2010

IBU


Ingatku akan

Bunda

Untuk selamanya…

Itu janjiku padamu, Ma…

HCMC, 22 Desember 2010

-fon-

* catatan hari Ibu buat setiap Mama/Ibu/Bunda. It’s been such a privilege to feel and to get this special role. Happy Mother’s Day!

* copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya.

sumber gambar:

kethry.wordpress.com

Monday, December 20, 2010

The Colors of Christmas


Merah, hijau, perak, emas, putih, ungu, bahkan pink…

Semarakkan suasana natal dengan indahnya hiasannya. Dengan pohonnya. Beberapa pohon di-design sebegitu rupa sehingga membuat mata yang memandangnya terbelalak dan terpesona. Pohon natal pink atau putih yang dipadupadankan dengan hiasan-hiasan indah. Singapura sering memadu-madankan ‘silver and gold’ juga warna ungu yang indah ditambah suasana kemegahan di pinggir kiri-kanan jalan Orchard Road dan mal terkemuka lainnya, indah dan sedap dipandang mata.

Ho Chi Minh City juga tak kalah. Ketika kita bicara soal kemeriahan Natal walaupun tentunya tetap dalam kesederhanaan. Namun, pohon Natal merah itu sudah terpajang dengan kokohnya di jantung kota di Nguyen Hue.

Warna, tentu saja tetaplah preferensi kita. Tetaplah pilihan kita. Karena yang seorang berbeda dengan yang lainnya dalam hal selera…Tetapi biarlah di Natal kali ini, kuterjemahkan warna-warna itu dengan apa yang menjadi isi hatiku:

  • Putih bagiku: mohon Engkau putihkan hatiku seputih salju ‘tuk sambut datang-Mu…
  • Hijau yang terpampang di pohon Natal dan di lingkaran Natal pajangan di banyak rumah (Christmas Wreath), biarlah tetap ingatkanku bahwa Engkau melambangkan keabadian. Bahwa jiwa kami pun akan abadi bila bersama-sama dan terus mengikuti dengan Engkau…
  • Merah: selain hiasan bunga, buah, dan pakaian Santa Claus yang merah itu, biar terus kuingat bahwa Engkau sudah mengorbankan nyawa dan dirimu saat Engkau disalibkan. Sehingga, tak mau pula kusia-siakan pengorbanan-Mu…
  • Pink: lambang cinta dan kasih yang sering dinyatakan di hari kasih sayang (Valentine’s Day), biarlah jadi pernyataan cinta kasihku pada-Mu yang walau kutahu takkan pernah sebanding dengan cinta-Mu padaku dan pada kami semua, tetap ingin kuperbaharui di saat-saat jelang lahir-Mu. Dan tanda aku bersuka cita atas hadir-Mu.
  • Emas dan perak: mungkin aku tak punya banyak hiasan warna itu, tak juga hendak menghiasi diriku dengan perhiasan-perhiasan itu. Tetapi biarlah kuhias hatiku dengan sebaik-baiknya dan kusambut Engkau dengan kemegahan cinta-Mu yang senantiasa kurasakan…

Engkau terlahir dengan sederhana. Di palungan, bukan di rumah mewah. Natal hendaknya tetap jadikan kita ingat bahwa bukan hal-hal yang melulu berbau lahiriah, kado/bingkisan, ataupun pesta… Tetapi yang terpenting adalah memasuki detik-detik lahir-Mu dengan hati dan semangat baru…

Apa pun warna Natalmu, persembahkanlah mereka sebagai bukti kasihmu pada-Nya. Dia sudah begitu baik, mau lahir untuk kemudian berkorban bagi kita semua. Semoga Natal ini penuh warna yang indah dan membangkitkan damai serta kesejukan di hati… Semoga ‘the colors of Christmas’ menjadikan kita semakin sadar untuk memperbaharui diri dan hati dengan kasih… Semoga Natalmu, Natalku, Natal kita jadi semakin penuh arti dengan warna yang melambangkan kebaikan-Nya di hidup ini…

Ho Chi Minh City, 21 Desember 2010

-fon-

*catatan Natal ke-2 di Ho Chi Minh City.

* copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya

sumber gambar:

zazzle.com

Wednesday, December 15, 2010

Keripik eh…Kritik!



Keripik padang yang pedas itu memang mengundang. Warna merahnya, sensasi rasanya, keringat yang menyertai saat memakannya… Ah, sulit digambarkan dengan kata-kata…

Keripik…

Kurasa makin pedas makin asyik…

Bikin lidah tergelitik dengan rasanya yang menukik…

Buatku keripik, makin pedas makin asyik. Walaupun tak jarang, banyak pula keripik yang tidak pedas tapi tetap menarik. Ada keripik singkong, keripik pisang, keripik nangka… Ah, apa sajalah, yang penting menggugah selera.

Ngomong-ngomong soal keripik, jadi teringat kritik… Gak nyambung? Mungkin iya, tapi kalau soal rima yang senada atau kata guru Bahasa Inggrisku dulu it rhymes: keripik-kritik? Bolehlah ya…

Pengalaman sebagai tukang ketik… Maksudnya tukang ketik perasaan dan inspirasi yang singgah di kepala dengan cantik, membawaku kepada pengalaman dikritik. Ada seorang sahabat yang bilang maaf ketika menyampaikan kritik, karena takut menyinggung perasaanku. Aku bilang, tak mengapa, Sobat! Asal kritik itu tak pedas seumpama keripik padang, masihlah bisa kuterima baik. Kritik pedas pun bukan berarti jelek…Karena tak jarang, aku juga belajar dari sana walaupun yah pastinya kehadirannya tak bisa dibilang membuatku gegap gempita. Tetapi, kupercaya: kritik yang pedas, sedang, maupun tidak (eh jadi inget gado-gado, bumbunya yang pedes yaaa, Mbokk…hehehe)… Akan tetap jadi baik, ketika kutanggapi dengan kepala dingin. Tergantung bagaimana reaksiku terhadap hal itu…

Ketika yang mengeritik seolah baru makan keripik dengan cabai rawit satu kilo dan terasa amat pedas… Moga-moga aku menanggapi dengan tenang, tak perlu panik… Yah, tetap asyik… Karena aku sadar, sampai hari ini aku masih belajar. Untuk menulis terus dengan konsisten, syukur-syukur lebih baik… Untuk tetap setia pada tujuan utamaku menulis yaitu untuk menyalurkan apa yang sudah diberikan-Nya kepadaku melalui talenta menulis ini… Tak berhenti… Semoga tetap semangat sampai nanti…

Ketika kritik-kritik membangun dan input yang baik itu masuk ke inboxku.. Ah, aku senang.. Diperhatikan dengan cara indah itu oleh sobat-sobatku. Diingatkan, bahwa di luar semua pujian yang seolah melenakanku, aku harus tetap rendah hati. Berjuang buat menulis lebih baik lagi… Dan terus belajar sambil terus menulis tentu saja…

Ngalor ngidul tentang kritik, walaupun tak sambil makan kripik, tetap ok tuhhh…

Terima kasih buat setiap kritik yang kuterima. Juga setiap penghargaan tulus yang kudapatkan dari email/inbox teman-teman semua. Itu semua membuatku terus bersemangat untuk tetap berkarya dan syukur-syukur semakin baik dan apik…

Tiba-tiba aku pengin makan kripik… Ada yang mau ngirimin ke Vietnam? Hahaha…

Selamat malam.

Ho Chi Minh, 15 Desember 2010

-fon-

* copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya. Trims.

sumber gambar:

pondok-riwana.blogspot.com

harmony deep within me



when people are too busy,

and the world is so noisy...
I've always longed for a private corner
where I can sit still and make soul-encounter
listening to the harmony
deep within me...

(tercipta sesaat sesudah membaca note: Being Deaf by Julia Napitupulu)


source of picture:

Sunday, December 12, 2010

Dulu Ingin, Sekarang Tidak



“ Pa, Vivi minta buku dongeng Cinderella ya, buat ulang tahunku nanti,” kata Vivi, anak kami satu-satunya.

“ Ok, nanti Papa dan Mama belikan buat Vivi,” jawabku singkat.

“ Yang Bahasa Inggris ya, Pa. ‘Kan Vivi sedang disuruh sama guru Vivi belajar dua bahasa.” Katanya lagi.

“ Ok, nanti Papa carikan. “ Aku melihat kepolosan tatapan wajahnya yang seminggu lagi akan berusia enam tahun.

“ Terus yang gambarnya bagus, Pa… Vivi gak suka kalau gambarnya jelek. Dan sampulnya yang keras ya, Pa… Jangan yang lembek dan tipis. “ Vivi terus mengungkapkan secara detail apa yang diinginkannya. Terus dan terus ocehan keluar dari bibirnya yang mungil. Dia sudah tahu lebih spesifik apa yang dia inginkan.

“ Iya, iya… Papa carikan. Vivi tenang aja…”

***

Seminggu berlalu.

Ini hari ultah Vivi. Kami tidak rayakan besar-besaran. Cukuplah antara keluarga kami plus kakek dan neneknya. Vivi mengenakan baju warna kuning bergambar kupu-kupu ‘pink’ dan rambutnya dikuncir dua. Dia tampak manis sekali.

Setelah meniup lilin dan memotong kue bergambar ‘Hello Kitty’, dia bergegas menghampiri kado-kadonya. Kertas kado merah itu dirobeknya perlahan, buku Cinderella yang seminggu lalu dia minta begitu spesifik. Pastinya dia akan bahagia, begitu pikir kami… Karena dia mendapatkan apa yang dia inginkan…

Tetapi tak lama, diletakkannya begitu saja buku Cinderella berbahasa Inggris yang kavernya tebal itu. Dia kembali menangis tersedu.

Dengan setengah bingung, istriku bertanya padanya:

Ada apa, Nak? Bukankah itu yang Vivi mau? Kenapa masih nangis?”

“ Ma, memang Vivi mau buku ini seminggu yang lalu. Tapi sekarang Vivi gak mau lagi. Vivi maunya buku Princess dan Barbie seperti punya Clara di sekolah. Vivi gak mau lagi Cinderella… Kata Clara udah gak musimmm…” Tangisnya makin kencang. Menyisakan kebingungan di wajah kami lalu mengelus dada:

“ Namanya juga anak-anak….”

***

Sering kali, kita seperti Vivi. Dalam hubungan kita dengan Allah Bapa, tak jarang kita meminta dalam doa. Kita pintakan dengan begitu spesifik, begitu detail apa yang kita inginkan… Namun, segera sesudah mendapatkannya kita kehilangan semangat… Karena mungkin waktu tunggu yang terlalu lama, karena doa yang seolah tak kunjung terjawab, karena Tuhan seolah menunda-nunda… Sehingga pada akhirnya, ketika Dia anugerahkan kepada kita, kekecewaanlah yang timbul. Bukannya rasa syukur. Karena kita merasa permintaan itu mungkin sudah ‘basi’ sementara kita sudah memiliki banyak antrian keinginan baru yang lainnya.

Saat Tuhan anugerahkan itu bukan di waktu yang kita inginkan, kita merasa kurang bisa menghargainya bahkan terkesan dingin menyambutnya. Tak jarang, setelah diberikan-Nya … Malah keluhan dan amarah kepada-Nya yang keluar dari mulut kita… Hal ini sangat mungkin terjadi, bahkan terasa wajar dalam hidup ini. Ah, aku ‘kan ikut trend Tuhan. Dulu inginnya kamera A yang canggih, sekarang kamera D yang lebih canggih jadi ketika diberikan kamera A tak lagi ada rasa syukur ketika menerimanya…

Sering kali kita berharap Tuhan menghadirkan apa yang kita inginkan pada saat itu juga. Padahal tak jarang kita dengar bahwa Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan dan bukan melulu apa yang kita inginkan. Seharusnya kita pun sadar bahwa keinginan kita begitu banyaknya, terkadang seolah tak ada habisnya…. Tak pernah berhenti daftar keinginan yang kita sampaikan kepada-Nya seolah St. Claus yang kebanjiran permintaan di setiap Natalnya…Mungkin, seperti itulah rasa ingin kita terhadap banyak hal di dunia ini…

Ketika Tuhan menganugerahkan sesuatu yang kita inginkan di masa lalu dan sekarang sudah tidak begitu kita inginkan lagi, mungkin kita malah menangis dan bersedih seperti Vivi yang kecewa dengan buku Cinderellanya… Karena yang dia inginkan adalah buku Barbie atau Princess untuk saat ini. Tak tertutup kemungkinan jika Papa memberikannya buku Barbie dan Princess sebulan kemudian, malahan dia melengos pergi. Karena yang dia inginkan di saat itu adalah buku dan DVD ‘ High School Musical’ yang sebenarnya dia tak tahu persis seperti apa- hanya ikut-ikutan temannya saja.

Tetapi sebagai anak-anak Tuhan, kita hendaknya terus ingat…Mungkin dulu tidak diberikan kepada kita karena belum waktu-Nya… Belum masuk perencanaan-Nya… Tugas kita hanyalah percaya bahwa Dia akan berikan tepat waktu dan Dia mengerti kebutuhan kita…

Tidak mudah pula untuk terus berucap: syukur dan terima kasih kepada Tuhan atas segala hal. Tetapi biarlah saat ini, kita belajar lebih baik lagi… Persembahkan semua kecewa yang pernah ada, termasuk kecewa karena keinginan yang terkabul bukan di saat yang kita inginkan. Yang dalam kerangka pikir kita sudah ‘expired’- sudah kadaluarsa…. Karena di mata-Nya, inilah saat yang tepat untuk Dia berikan kepada kita…. Dan hendaknya kita yakini, pastilah itu yang terbaik bagi kita…

Ho Chi Minh City, 13 December 2010

-fon-

* copas, forward, share? Harap sertakan sumbernya. Trims.

sumber gambar:

ibiza-majorca.perfecttravelblog.com

Going to the Next Level

When I first started my blog in the year of 2006, I’ve never really thought that it would go this far. Right now, I’m quite happy with the fact that I’m a writer: in my blog, my Facebook’s notes, and some mailing lists.

Back to the year 2007-2008, I found a new inspiration in me to become a writer. At first, of course I kept thinking about going back to work as a stockbroker in Singapore but I didn’t get any opportunity to do so. But hey, God knows what’s best for me and eventually here I am: satisfied with all His plans in my life.

I’ve never been happier than now. This contentment is really HUGE. I have time to write, time to spend with my child-and will soon become children in the next few months. And put my heart as well as passion in everything that I do right now. I’m thanking God for this wonderful moment.

As we’re entering the month of December and New Year is just a few more weeks to go, it’s very normal for me to think of a new resolution in the upcoming year. Well, actually this passion has come along after I put all of my energy and full concentration in my writings. And while I was in the first trimester of my pregnancy back in Jakarta few months ago, I watched a lot of FTV, Sinetrons, Dramas at home. Suddenly, the thinking to become a screenwriter or a scriptwriter popped up in my mind. And it’s getting stronger each day…

Few years ago, one of my good friends gave me this book: Screenwriting for Dummies. All this time, never really had a good look on this book until last October. I tried to read and practice some of the tips there. First step was to make myself watch more movies as well as read more books. The scriptwriter for big movies such as Any Given Sunday and Gladiator-John Logan- advised the new scriptwriters to read more Shakespeare’s books. And here I am, try to read Antony and Cleopatra while having King Lear and Hamlet on my book shelf.

Hmmm, I remembered those times when I kept motivating myself through my writings that I someday I want to be a writer. And after four years from the era of my blogging experience, thank God I’ve seen some positive results.

Now, I’d like to encourage myself one more time that I want to be a scriptwriter- a good one and write with all my heart. Praying hard for that one J

And hopefully, my work will be able to show that the goodness and kindness in this life, not to mention the source of the goodness Himself-God.

Not every writer can become as successful as J.K. Rowling. And not every scriptwriter will produce big movies that will top the charts of box office through out the world. I do realize of that. But, let me stick on my goal to be a scriptwriter in the next few years, realizing that in a few months my dear baby will see this world for the first time… As per timing, I’ve never really know when is the right time… But I do hope in the next two years, at least I could write some stories and make them scripts already… As soon as I’ve finished my books on screenwriting, I’ll motivate myself to write some…Please pray for meJ

I do hope that this will be a dream that will take me to the next level of my writing experience. Pray hard and work hard for this one. And I do believe that even though we’re not in the office anymore-like my current full time housewife cum writer condition- it doesn’t mean that I have to stop learning. I need to learn new things in this life to enrich myself and to nurture whatever passion that He puts strongly inside of me.

Hopefully, you will also find your passion deep in your heart and willing to take real steps to reach them. May our dreams come true. God bless…

Ho Chi Minh City, 10-Dec-2010

-fon-

* copy paste, forward, or share this article? Please attach the link of the source or the writer’s name. Thanks.

Wednesday, December 8, 2010

Bolu Kukus


Bolu Kukus

*Arti Sebuah Perjuangan dan Kasih Mama bagiku…

Jakarta, September 2010

Ketika tak berselera untuk makan saat awal kehamilan, aku sukanya hanya ‘ngemil’ saja. Mulai dari tahu goreng, tempe goreng, risol, kroket, bakwan jagung, dan sebagainya. Bersyukur, aku berada di Jakarta. Kalau di Vietnam, yang pasti cemilan itu akan lebih sulit didapati yang cocok dengan selera.

Di antara semuanya itu, seorang tetangga yang baik hati memberikan dua buah bolu kukus. Warna krem mendominasi, dengan warna cokelat tua di pinggirannya menandakan dia rasa cokelat. Kubuka kertas ‘cup cake’ yang menjadi dasar Si Bolu, lalu mulai memakannya. Rasanya enak. Halus dan empuk. Dia memang tidaklah secantik ‘cup cake’ yang tengah menjamur saat ini. Namun, di hatiku, dia tetap memegang suatu kenangan khusus yang tak tergantikan. Seketika, kenangan akan bolu kukus membawaku ke masa-masa itu…

Palembang, kenangan masa SMP, hampir 20 tahun lalu…

Papaku sakit.

Dengan segala komplikasi penyakitnya membuat Papa tak mampu lagi mempertahankan bisnis yang sudah ditekuninya lebih dari dua puluh tahun lamanya. Ekonomi keluarga sempat morat-marit, tetapi Mamaku tetap tegar. Kami lima bersaudara, aku anak ke-4.

Di saat itulah, Mama mulai mencoba membuat kue dan lemper, serta mulai menitipkannya pada beberapa toko di pasar, maupun bakery dekat rumah. Perlahan, dia mulai berlatih membuat bolu kukus. Tidak sempurna pada awalnya, beberapa tidak mengembang bahkan berbentuk topi (tetapi terkadang menjadi kesenanganku tersendiri karena aku bisa dibagi dan makan bolu itu:)). Lalu perlahan Mama semakin mahir dan usaha berjualan kue semakin dikenal orang. Setidaknya, dapur keluarga masih mengebul dan kami masih bisa bersekolah.

Tahun demi tahun berlalu, sampai akhirnya aku masuk SMU, Universitas dan bekerja. Harus kuakui, hari-hari perjuangan Mama memenuhi kebutuhan kami dipenuhi dengan pertemanannya dengan gula, telur, terigu, soda, dan semua komponen bahan yang menjadikan bolu kukus tercipta.

Setidaknya, bolu kukus punya andil yang cukup besar pula bagi apa yang sudah kami raih hari ini. Di situlah kulihat ketegaran dan kekuatan seorang Mama yang puji Tuhan dipilihkan-Nya bagiku. Untuk menjadi contoh bahwa hidup terkadang berat dan tak pernah bisa ditebak ke mana arahnya. Tetapi penting bagi kami untuk tidak menyerah ataupun mengaku kalah. Karena hidup adalah perjuangan untuk tetap tegar, di antara semua permasalahan ataupun lika-likunya yang tak pernah kuketahui bagaimana kompleksnya…

Terima kasih, Tuhan buat Mama. Buat bolu kukus. Dan buat kebersamaan di tengah badai dan pelajaran ketegaran di dalamnya…

Jakarta, September 2010

Kupandangi lagi kertas bolu kukus yang tersisa… Bolunya sudah habis.

Namun, tak segera kubuang kertasnya…

Kenangan atasnya membawaku kembali ke masa-masa penuh perjuangan sekaligus pembelajaran terbesar dalam hidupku. Bahwa hidup bisa berubah drastis, bisa membawaku ke perjalanan yang suram dan mungkin tak menyenangkan…

Tetapi, Mama mengajarkanku untuk tegar dan berjuang. Tidak menyerah kalah. Tidak pula melakukan yang buruk, terlarang, atau suatu kejahatan untuk mendapatkan uang…

Bekerja keras, jujur, berikan yang terbaik… Tuhan punya mata, Dia takkan tinggal diam melihat orang-orang yang berjuang keras untuk hidup sembari terus berdoa dan berserah kepada-Nya….

Kubuang bungkus plastik dan kertas bolu kukus itu… Namun kenangan dan pembelajaran di dalamnya takkan terhenti sampai di situ, bahkan akan tetap terpatri dalam relung terdalam di hatiku. Selamanya.

Ho Chi Minh City, 9 Desember 2010

-fon-

*Mataku basah saat menuliskan hal ini. Rasa haru, sekaligus syukur meliputiku. Karena kebaikan-Nya aku bisa hidup dan mengecap banyak kebaikan sampai hari ini. Salah satu yang terbaik adalah keluargaku: Mama, Papa, dan seluruh kakak-adikku… Thank God!

* copas, forward, share? Harap sertakan sumbernya…

Sunday, December 5, 2010

resah

lelah

resah

bergulung gelisah


gerah

dikepung amarah

adakah celah?


sinar secercah

tembusi batin yang lemah

Allah? Engkaukah?


Dia bawa sejumput cerah

kuatkan yang lemah

undang damai yang hampir punah


datanglah

bersemilah

penuhilah

setiap insan yang berserah


Ho Chi Minh City, 5 Desember 2010

-fon-

* copas, forward, share? Harap sertakan sumbernya. Trims.

Tuesday, November 30, 2010

mahir


mahir


tak perlu sihir ‘ tuk jadi mahir

teruslah berjuang sampai akhir


tak perlu nyinyir jika tak mahir

coba lagi sampai mutakhir


tak perlu iri jika belum mahir

apalagi merasa paling pandir


tak perlu kikir jika kau mahir

indahnya berbagi hendaklah terpikir


Ho Chi Minh City, 1 Desember 2010

-fon-

* ketika mengingat master tea yang jago kungfu sambil tuang teh di table 8, Hotel Mulia.

* copas, forward, atau share? Mohon sertakan sumbernya. Trims!

sumber gambar:

http://karedok-enak.blogspot.com

Monday, November 29, 2010

Announcement




Announcement #1:

(musik pembuka mengiringi: ting ting ting ting… ting ting ting ting…

Dinyanyikan dengan nada dasar C mayor…Hehehe… Untuk mudah membayangkannya, anggap tengah perada di Stasiun Kereta atau Gedung Bioskop saat pengumuman buka pintu Studionya).

Perhatian, perhatian… !

Bagi orang-orang yang merasa dirinya selalu benar, harap memperhatikan pengumuman ini:

Kita hanya manusia biasa yang sering kali berbuat salah. Jadi, sikap keras kepala yang mempertahankan keyakinan seolah AKU paling benar seluruh dunia hendaknya dihapuskan. Keseimbangan antara kebenaran sesungguhnya dengan kemauan untuk mengakui kesalahan serta terus belajar untuk lebih baik lagi selalu dibutuhkan. Tetaplah rendah hati, karena kebenaran yang hakiki hanya ada pada Sang Pencipta. Selama masih berlabel manusia, kita punya kemungkinan besar salah. Jadi, jangan sampai timbul akumulasi sikap tinggi hati dan keangkuhan dalam hidup ini.

Demikianlah pengumuman untuk saat ini. Nantikan kami beberapa saat lagi.

Announcement #2:

(ting ting ting ting… ting ting ting ting…

Nada dasarnya sesuaikan masing-masing, karena suara manusia beda-beda. Ada Tenor, Bariton, juga Bas. Juga Sopran, Mezzo Sopran, dan Alto…:) Boleh dinyanyikan dengan Acapella atau versi paduan suara haha!).

Perhatian, perhatian…!

Bagi mereka yang selalu merasa dirinya salah. Yakinilah pada dasarnya memang manusia tak pernah ada yang sempurna. Tetapi bukan berarti kau harus berkubang pada masa lalu, pada kegagalanmu, pada kelalaianmu, pada kesalahan-kesalahanmu. Bukan! Bukan seperti itu. Perasaan bersalah yang dipelihara secara berlebihan juga takkan menghasilkan sesuatu yang besar. Sementara kau sibuk dengan lingkaran kesalahan itu, orang lain sudah bergerak maju… Hentikan penghakiman diri secara berlebihan, ampuni diri sendiri untuk kemudian bergerak maju untuk memperbaiki diri lagi.

Mintakan pengampunan dari-Nya jika kau tak mampu, niscaya kau akan rasakan kedamaian luar biasa yang meliputimu. Semoga hari ini jadi hari damaimu. Damai selalu sertamu…

Kami akan kembali setelah pesan-pesan berikut ini…J

Ho Chi Minh City, 30 November 2010

-fon-

* copas, forward, share? Harap sertakan sumbernya. Trims.

Sunday, November 28, 2010

Buta


Buta

Pagi-pagi buta…

Tak banyak orang cacat fisik- terutama di matanya- yang berkeliaran di jalanan. Pemandangan hanya seputar mereka yang sehat dan melakukan aktivitas normal. Jika ditemui, paling ada satu-dua orang di antara seribu.

Beberapa dari mereka terkadang mengemis untuk hidup. Beberapa dari mereka seolah tak berdaya. Mereka yang tak dilengkapi indera penglihat itu seolah ‘mati’ atau terlihat lemah. Namun, beberapa dari mereka hidup dengan luar biasa. Terkadang sampai mempermalukan mereka yang punya indera sempurna. Karena perjuangan mereka yang luar biasa. Semangat mereka membara.

Dari Hellen Keller sampai Ramona Purba. Dari Stevie Wonder sampai kontestan American Idol Scott McIntyre…

Jadi bukti bahwa tak punya indera penglihat bukanlah halangan untuk terus tetap hidup bahkan hidup dengan sepenuh-penuhnya…

Tak jarang, orang yang fisiknya normal, fisiknya sempurna…

Malah lupa akan keberadaan nuraninya. Mereka ‘buta’ nurani, ‘buta’ kepedulian terhadap sesama, ‘buta’ terhadap lingkungan mereka sendiri. Terlalu sibuk dengan dirinya sendiri, tak sempat melihat kiri-kanan. Terlalu mementingkan egoisme pribadi, tanpa pernah memikirkan orang-orang yang tak seberuntung dirinya…

‘Buta’ hatinya…

Menganggap diri sendiri yang benar tanpa mau mengakui kesalahan.

‘Buta’ kasihnya…

Tak hendak berbelas kasih kepada yang membutuhkan pertolongan, ironisnya terkadang pertolongan itu dibutuhkan oleh orang yang terdekat: keluarga, suami/istri, anak, orangtua, kakek-neneknya…

Di hari ini, tiba-tiba Dia menyapa…

“Jangan bekukan hatimu, jangan butakan dia…

Bukalah hatimu lebar-lebar terhadap kehadiran-Ku dan kasih-Ku…

Janganlah kamu ikut dibutakan kehidupan yang semakin egois dan materialistis…”

Ya, Tuhan…

Kuharap Kau bertakhta atasku, atas hatiku…

Dan mampu membuatku peka terhadap kebutuhan sesamaku…

Jangan sampai aku dibutakan oleh angkuhku

Ataupun arus dunia…

Aku ingin melihat dengan sempurna…

Bukan hanya di fisikku, tetapi biarlah aku belajar dalam ketidaksempurnaanku tetap melihat dengan kejernihan mata hatiku…

Ho Chi Minh City, 29 November 2010

-fon-

* copas, forward, share? Harapsertakan sumbernya. Trims.

Sumber gambar:

spring.org.uk

Friday, November 26, 2010

MASTERCHEF


MASTERCHEF

“ Tantangan kalian hari ini adalah membuat masakan dengan bahan dasar telur dan waktu yang dibutuhkan adalah 45 menit. Dan dimulai dari SEKARANG!”

Gordon Ramsay meneriakkan kata-kata ‘NOW’ itu tadi dengan penuh semangat. Aku berusaha menenangkan hatiku, menyalakan komporku. Cepat-cepat kuisi dengan air, karena aku akan merebus telur-telur itu terlebih dahulu. Ada beberapa pilihan hidangan yang ingin kusajikan sebagai kontestan satu-satunya dari Indonesia di acara yang berlangsung di Amerika Serikat tersebut. Tetapi, karena keterbatasan waktu, mau tidak mau aku harus memilih yang bisa kuselesaikan dalam tempo 45 menit saja.

Pertama yang terlintas, mungkin Bung Gordon akan tertarik jika kusajikan kerak telur atau yang biasa disebut kerak telor. Banyak abang yang jualan kerak telor terutama bila ada acara seperti di PRJ. Terkenang masa-masa menikmati kerak telor di pinggir jalan yang berdebu tetapi tak mengurangi kelegitannya. Namun, harus kuurungkan niatku karena untuk ketannya saja harus direndam minimal dua jam. Lebih lama, lebih baik. Maksudku tidak sampai sebulan sih, tetapi beberapa resep yang kudengar dan kubaca serta kupraktikkan menyebutkan harus direndam dua, empat, atau sepuluh jam. Mission impossible dalam waktu 45 menit!

Gordon masih sibuk berbincang dengan ‘wine maker’ Joe Bastianich dan Graham Elliot (four star chef), sesama juri di MASTERCHEF US itu. Memperbincangkan para kontestan, tentunya termasuk diriku. Tiba-tiba Graham berteriak: waktu tinggal tiga puluh lima menit lagi!

Gugup bercampur tegang, aku terus mengulek cabe, bawang merah, tomat, dan gula pasir. Sementara telur rebusku sudah siap. Kusediakan tiga butir untuk ketiga juri. Akhirnya kuputuskan untuk memasak telur balado kesukaanku. Yang resepnya adalah turun-temurun dari nenekku dan ibuku. Ah, masakan ini tak memakan waktu terlalu lama. Paslah untuk 45 menit itu…

Sementara di sekelilingku: Whitney sibuk dengan sandwich telurnya, Sharone dengan steak dan scrambled eggs-nya, serta Mike dengan tim telur ala Jepang semacam chawan mushi-nya. Tak begitu sempat kuperhatikan mereka satu per satu. Hanya karena mereka yang berposisi paling dekat denganku, aku mendengar komentar ketiga juri ketika berbincang dengan mereka.

Joe menghampiriku.

Uh, aku agak seram padanya. Karena kemarin ketika salah satu rekan kami dieliminasi, dia sampai membuang masakan temanku itu ke tempat sampah tanpa sempat mencicipinya. Kesannya dia sangat tegas dan pemarah. Tetapi agaknya dia tertarik melihat warna merah yang mendominasi ulekanku – ulekan yang kubawa khusus dari Indonesia saat aku pindah ke negeri Obama ini.

“ Waktu tinggal 10 menit lagi dan yang kalah dalam tantangan ini, harus pulang dan meletakkan ‘apron’ kalian.” Suara Gordon menggelegar sekali lagi.

Kusiapkan ‘finishing touch’ berupa piring putih bersih, irisan tomat dan cabai segar di sampingnya dan mulai menata ketiga butir telur baladoku. Aku hampir selesai, jadi aku tidak gugup betul karena waktunya benar-benar pas buatku.

“ Tiga, dua, satu, stop bekerja dan angkat tangan kalian semua…” Teriak Gordon lagi.

Kami buru-buru menghentikan kerja kami. Selesai sudah. Apa pun hasilnya, itulah yang terhidang di piring kami. Sisa kontestan masih 12 orang, jadi jalan menuju pencarian pemenang masih cukup panjang.

Satu per satu kami dipanggil untuk dicicipi masakannya sekaligus dikomentari oleh para juri. Ketika namaku disebut, kutenangkan diriku, aku maju membawa piring isi telur baladoku.

Yang mencicipinya dua orang: Gordon dan Joe, dua-duanya yang terkesan galak. Aku agak merinding, tapi ‘the show must go on’, bukan?

Gordon terlihat menahan pedas.

This is very spicy. Pedas sekali. But, in a good way. Kamu sudah betul-betul memasukkan cita rasa yang pas dalam waktu yang sebegitu singkat. Well done!”

Kegugupanku berganti dengan senyuman ringan. Setidaknya aku merasa tidak bakal dieliminasi kali ini. Oopps, tunggu dulu, Joe belum mencicipinya…

“ Pedas, segar, dan saya tidak bisa berhenti untuk terus memakannya.” Hidungku tambah kembang-kempis. Hatiku bangga membuncah tinggi di udara. Pastinya aman, tidak dieliminasi, syukur-syukur bisa menang tantangan ini. Cihui!

Setelah ke-12 kontestan dicicipi satu per satu masakannya oleh para juri, saat eliminasi tiba. Tiga yang terendah akan dipanggil dan diberitahu siapa yang paling tidak disukai juri, dialah yang harus pergi.

Avis, Sheena, dan Jenna : kalian bertiga yang tidak aman. Kuatkan hati kalian, sobat! Ucapku dalam hati.

Setelah mengembalikan Jenna dan Sheena ke tempat mereka semula, Avis harus melepaskan ‘apron’-nya. Dia dieliminasi.

Sekarang penentuan pemenangnya.

“ Kami merasa masakannya sangat spesial, berbeda dengan apa yang sudah kami makan selama ini.” Kata Joe.

Hatiku berbunga-bunga lagi. Pasti maksudnya diriku. Hahaha… Senangnya! Tak percuma resep turun-temurun itu membuatku menjadi pemenang di minggu ini.

Dan pemenangnya adalah: Lee! Congratulations!

Ah, tidakkkk! Aku tak mungkin kalah! Tak mungkin!

Karena terlanjur kecewa sesudah berharap sekian tinggi, kubuka celemekku. ‘Apron’ itu kulemparkan ke meja dewan juri….

“ Uhhh, teganya kaliannnn, “ kubergegas pergi.

Aku mengundurkan diri!

***

Kupandangi jutaan link website di google yang meletakkan resep telur balado. Banyak benerrr… Ini uji coba pertamaku, aku harus sukses!

Yang tadi? Ah, hanya khayalan semata. Lamunan sesaat karena terpana melihat kebolehan para chef amatir Amerika di acara Masterchef. Kuambil satu resep yang paling mudah.

“ Ok, yang ini saja aku coba. First time. Kalau gagal? Ya, gak apa-apa!”

Bye byeJoe, Gordon dan Graham. Terima kasih sudah menemani lamunan siangku sambil browsing resep di Oom Google hahaha….

Ho Chi Minh City, 26 November 2010

-fon-
* akibat nonton beberapa episode MASTERCHEF US :) thanks to Gordon, Joe, and Graham for your presence in my imagination:) Telur Balado is one of my fave dish, bukan uji coba pertama koq, tenang aja hahaha.

sumber gambar:

webtvwire.com