Saturday, January 31, 2015

Life is A (Beautiful) Struggle



Di sebuah tempat pijat refleksi di bagian Barat Singapura beberapa bulan yang lalu...

Seorang Bapak yang bertugas memijat kaki saya pagi itu bercerita kalau banyak rekan sekerjanya berasal dari Johor Bahru (JB)-Malaysia.
Setiap pagi mereka sudah harus berangkat pukul 8 pagi untuk kemudian melakukan perjalanan ke Singapura. Hal ini dimungkinkan memang, karena orang Malaysia cukup diterima untuk bekerja di Singapura.
Setelah itu sekitar 2 jam, dia harus menempuh perjalanan via bus lewat perbatasan JB-Singapura. Harus ganti sekitar 2-3 kali bus untuk sampai ke tempat kerjanya.

Sesampainya di tempat kerja, Si Bapak harus mulai bekerja pukul 11 sampai sekitar pukul 18.30, untuk kemudian buru-buru pulang untuk mengejar bus ke JB. Sampai JB paling cepat sekitar pukul 21.00, bisa lebih dari itu.
Setiap hari dia lakukan itu.
Kalau mujur, ujarnya, perjalanan pulang-pergi itu bisa ditempuh sekitar 4 jam.
Kalau tidak, misalkan karena hujan atau macet, dia harus berada di jalan sekitar 5 jam.

Saya terdiam.
Belum lagi pekerjaannya yang menguras tenaga.
Memijat kaki orang-orang.
Belum lagi 'complain' dari beberapa pelanggan yang mungkin kurang puas dengan pelayanannya...
Sungguh bukan pekerjaan yang mudah...

Saya merenung...
Terlalu gampang bagi saya, bagi kita, untuk melihat mudahnya saja di hidup ini.
Lihat kemewahan yang diumbar terlalu berlebihan...
Lihat yang enak itu biasa sebetulnya, karena jarang pula orang akan posting hal-hal yang terlalu menyedihkan di hidupnya di sosmed...
Meskipun kita pastinya pernah lihat berita-berita duka, namun pastinya lebih banyak yang ditonjolkan adalah suka-nya dan hepi-hepinya...

Saya belajar...
Untuk lagi-lagi mengurangi 'complain' dalam hidup..
Tiap orang punya masalahnya sendiri, kawan!
Mungkin kamu gak pernah tau, kamu gak pernah ngerti...
Mereka mungkin gak pernah 'share' kisahnya padamu...
Tapi, begitu banyak sebetulnya orang-orang yang kesulitan di sekeliling kita...
Mereka yang tertimpa kemalangan...
Kena PHK tanpa pesangon dan berbulan-bulan tak dapat kerja...
Mereka yang tengah berhadapan dengan anggota keluarga yang sakit parah dan butuh biaya luar biasa sampai jual rumah segala...
Mereka yang harus berhadapan dengan kesepian dan kesendirian, meskipun berlimpah harta...
Ini yang menurut Bunda Teresa merupakan kemiskinan yang terselubung yang bahkan jumlahnya cukup banyak juga...
Mereka yang sungguh butuh biaya sekolah, biaya buat beli susu buat anaknya, sementara segala usaha sudah dilakukan namun memang pintu rezeki seolah masih belum terbuka luas bagi mereka...

Hidup itu perjuangan, Sobat!
Jika hari ini hidupmu tengah bahagia, syukurilah...
Berbagilah jika memang ada dorongan dari hati kecilmu untuk melakukannya...
Sekecil apa pun itu, tetapkanlah hati untuk sebuah bantuan yang tulus dan penuh keikhlasan..
Jika memang bisa berbagi sesuatu yang lebih besar...
Menyediakan lapangan pekerjaan...
Memberikan kail dan bukan ikan...
Sungguh itu akan lebih baik lagi pastinya:)

Hidup itu perjuangan...
Yes, that's so true indeed...
Seringan apa pun itu, pasti ada sebuah perjuangan di balik kesuksesan seseorang...
Tak jarang, perjuangan itu sungguh berat dengan perjalanan yang berliku...
Yang kita lihat hanyalah enaknya saja, kesuksesan yang sudah menyapanya...
Tanpa pernah tahu, berapa banyak air mata yang sudah membanjiri setiap malam-malamnya...
Menangisi kegagalan demi kegagalan yang pernah menghampirinya...
Sampai akhirnya, jalan yang terbentang luas menuju kesuksesan itu terbuka...
Dan bukannya tidak mungkin, dalam hitungan hari, hitungan detik...
Kesuksesan itu bisa berbalik arah...
Roda kehidupan terus berputar, bukan?

Saat sukses, ingatlah akan Dia...
Tuhan yang menjadikan segala sesuatunya...
Segala usaha dan jerih payah kita dimungkinkan untuk sampai tahap ini, karena-Nya...
Janganlah sombong, jauhkanlah diri dari tinggi hati..
Sukses pun itu sementara...
Selayaknya segala sesuatu yang ada di dunia...

Kembali saya ingat wajah Si Bapak...
Perjuangannya...
Pengorbanannya...
Demi sesuap nasi dan 'ngebul'-nya dapur keluarga...
Saya merasa diri sangat kecil...
Sering mengeluhkan banyak hal...
Padahal begitu banyak yang harusnya bisa saya syukuri...

Hidup itu perjuangan..
Semoga itu menjadi sebuah perjuangan yang indah...
Life is a beautiful struggle...
Semoga kita semua terus berjuang untuk hidup benar di jalan-Nya...
Terus berjuang sampai garis akhir nanti...
Tetap semangat, tetap bersyukur, tetap berbagi...
Semoga kasih-Nya selalu menaungi hati kita semua...
Salam damai dan selamat berakhir pekan dengan yang terkasih, Sahabat!

31.01.2015
fon@sg
* sudah diposting di Blog Chapters of Life http://fjodikin.blogspot.sg/2015/01/life-is-beautiful-struggle.html

Saturday, January 10, 2015

Bersyukur Untuk Hari Ini

Waktu terasa begitu cepat berlalu.
Hari ini, gak terasa, kita sudah memasuki hari ke-11 di bulan Januari.
Mungkin kita masih mengingat indahnya tahun baru yang kita lewati bersama yang terkasih.
Mungkin juga, kita masih begitu terlarut pada kedukaan yang baru saja kita alami di tahun 2014.
Namun, itu semua, kita jadikan masukan dan pelajaran yang paling berarti bagi sekolah kehidupan kita di dunia ini...

Hari ini...
Hmmm...
Apa yang bisa kulakukan?
Apa yang semakin mendekatkanku pada impian...?
Dan juga, pada tujuan Sang Pencipta membawaku hidup di dunia ini?

Hari ini...
Aku menjadi seperti sekarang ini...
Karena proses yang kulalui sebelumnya...
Karena naik-turunnya kehidupan...
Terkadang pula berliku...
Untuk kemudian semakin mendewasakanku...

Hari ini...
Aku takkan lagi berkubang dalam kesedihan untuk menangisi masa lalu...
Aku akan belajar lebih tegar...
Aku akan berusaha untuk memandang segala sesuatunya...
Dalam kacamata iman kepada-Nya...
Sedih, duka, pasti pernah kita alami...
Rasa syukur bukan berarti menentang itu semua...
Namun, belajar untuk menerima kenyataan...
Dengan ikhlas...
Belajar pula untuk melangkah dalam ketabahan...
Sembari seluruh doa kita panjatkan...

Hari ini...
Kulihat pula banyak yang menderita di sekelilingku...
Ketidakadilan masih menjadi-jadi...
Perikemanusiaan masih kurang dipedulikan...
Sehingga terkadang, nyawa manusia begitu gampang hilang...
Hanya karena hal-hal yang seolah sepele dan tak penting...

Hari ini...
Kusadari betapa pentingnya menerima perbedaan...
Sebagai faktor yang tak mungkin kita jadikan sama...
Bahkan saudara kembar pun punya perbedaan...
Itu karena kita semua diciptakan unik adanya...
Tindakan memaksakan penyeragaman...
Entah dari sudut pandang mana pun...
Adalah hal yang sebetulnya tidak mungkin dilakukan...
Aku adalah aku...
Kamu adalah kamu...
Saling menghargai...
Saling menghormati...
Toleransi...
'Respect' kepada orang lain...
Senantiasa berusaha menerima perbedaan...
Bukan memaksakan kehendakku atasmu...
Bukan pula soalan menang-kalah...
Untuk kemudian menentukan siapa yang nanti akan berkuasa...

Hari ini...
Izinkan aku untuk bermimpi...
Untuk suatu dunia yang damai...
Yang indah...
Yang penghuninya saling menghormati...
Saling menghargai...
Yang kehidupan satu sama lainnya diisi toleransi...
Sehingga dunia menjadi semakin indah untuk kita diami...

Hari ini...
Adalah gabungan pengalaman dari hari-hari sebelumnya...
Dan apa yang akan kubuat hari ini?
Apa yang akan Anda lakukan hari ini?
Semoga itu semua menjadikan hidup ini semakin berarti...

11.01.2015
fon@sg

Sunday, December 28, 2014

Pribadi Yang Tahu Diri

Hellow temen-temen semua...
Kali ini, di penghujung tahun ini, aku bakal menuliskan sesuatu yang sudah lama ingin kutuliskan.
Kalian tentunya pernah 'kan, melihat acara pencarian bakat semisal Indonesian Idol, American Idol, atau yang dulu-dulu pernah tahu AFI. 
Pastinya pada saat audisi, kita pernah 'tuh melihat beberapa peserta audisi yang merasa super PD (Percaya Diri) dengan kemampuan mereka.
Sehingga, bila tidak diterima oleh jurinya untuk lolos babak kualifikasi, mereka merasa marah.
" Gue 'kan bagus gini nyanyinya, koq bisa gak diterima? Itu juri pada salah kali kupingnya!"

Tak jarang, kita lihat mereka dengan mencak-mencak dan marah-marah, meninggalkan ruang audisi.
Dan, ketika diwawancara, ternyata mereka masih menyisakan sakit hati yang tak terselesaikan.
Terkadang  sambil memaki, marah, menangis, mereka berlalu dari kamera yang menyorot mereka.

                                                                        ***

Saat ini, saya koq terbayang lagi ya, tontonan waktu itu...
Akhir tahun, agaknya menjadi saat yang cukup tepat juga untuk kembali lagi merenungkan..
" Apakah saya sudah jadi pribadi yang tahu diri?"
Bisa menempatkan diri saya pada kemampuan saya sesungguhnya, bisa menerima kritik, dan bisa memaksimalkan talenta yang diberikan-Nya kepada saya?
Mungkin sulit. Mungkin jalan yang harus kita lalui berliku.
Untuk menerima kenyataan bahwa saya tidak sebaik yang saya kira, agaknya bukan pekerjaan mudah.
Terkadang pula, kita malah diliputi rasa minder, rasa tak bisa menerima diri, perasaan tak sebanding atau tak sebaik orang lain...

Ini adalah PR (Pekerjaan Rumah) buat saya pribadi.
Menjadi PR seumur hidup bagi saya yang sadar juga bahwa begitu sering saya berbangga untuk sedikit perbuatan baik yang saya lakukan. 
Sebaliknya, pura-pura lupa atau tak peduli pada perbuatan buruk yang pernah saya lakukan.
Begitu sering pula saya merasa diri begitu kecil, tidak layak, minder, dan sebagainya.
Untuk benar-benar menerima diri apa adanya, memang bukan pekerjaan yang langsung bisa kita lakukan.
Butuh perjuangan, butuh untuk terus-menerus mohon kasih Allah untuk mempu mengasihi diri sendiri dan tidak menyalahkan siapa-siapa atas keberadaan kita di dunia ini...
Karena keberadaan kita bukanlah kebetulan, itu atas rencana-Nya.
Sepantasnyalah kita mensyukuri keberadaan diri kita.
Berani pula melihat diri sendiri dengan obyektif (berusaha).
Jika memang ada bakat terpendam, bisa digali, untuk kemudian memberikan yang terbaik bagi sesama kita.
Jika memang tidak atau belum baik di suatu bidang tertentu, yang walaupun begitu kita sukai, tetap belajar untuk lebih baik... Namun, tetap pula melihat dengan obyektif, sampai di mana kemampuan kita.
Tidak memaksakan diri, tidak pula memaksakan orang lain untuk mengakui kehebatan kita.
Jika memang kita dinilai baik, bersyukurlah, bahwai itu adalah anugerah Yang Kuasa.

Di akhir tahun ini, sekaligus resolusi tahun baru nanti, saya pribadi ingin menjadi pribadi yang lebih tahu diri.
Tahu bersyukur, tahu berterima kasih.
Tahu pula kelemahan saya dan terus berusaha memperbaiki diri...
Tahu bahwa ketika banyak anugerah yang diberikan pada hidup saya, itu hanyalah karena kasih dan kebaikan-Nya semata...
Tahu dan sadar, bahwa tanpa Tuhan, saya bukan siapa-siapa.
Belajar untuk tidak Sok Tau, bahwa hanya Tuhanlah Yang Maha Tahu.

Eh, gak terasa, tau-taunya kita udah mau taon baruan...
' Met menyambut lembaran tahun baru, dengan kesadaran diri yang lebih baik...
Dengan menjadi pribadi yang tahu diri...
Tahu bersyukur kepada Yang Ilahi.

29.12.2014
fon@sg

Sunday, November 16, 2014

Smile to the Beautiful Morning


Tidak setiap pagi menyenangkan…
Banyak kali, pagi itu adalah hari yang mengecewakan.
Sisa semalam, seminggu yang lalu, atau setahun kemarin….
Duka yang masih ada, luka yang masih menganga…

Ada kalanya rasa kantuk masih begitu membelenggu dan sukar untuk dilawan.
Seperti pagi itu.
Beautiful?
Halahhh…
Sungguh iklan bakery itu benar-benar seolah mengejekku.
Tulisan itu berbunyi : “ Smile to the beautiful morning.”
Padahal, aku tahu.
Maksud mereka tentunya baik.
Lagian, siapa juga yang tidak ingin paginya indah?
Tidur nyenyak, mungkin mimpi bertemu pangeran pujaan hati bagi mereka yang jomblo, mimpi naik pangkat, punya mobil keren…
Dan, bangun pagi dengan kesegaran prima.
Maunya setiap hari seperti itu.
Maunya, sih…
Nyatanya?
Seperti pagi itu…
Atau pagi-pagi yang lain…
Terkadang begitu sulit untuk mengucap syukur akan datangnya pagi.

Dalam 365 pagi, atau 366 pagi di tahun Kabisat…
Berapa persen sih, yang membuat senyum kita sumringah?
Atau, kalau sulit dihitung dengan persentase, berapa hari yang begitu sesuai dengan impian kita?
Mungkin pertengkaran dengan pasangan-entah suami atau istri- yang belum selesai semalam.
Mungkin anak yang tengah tidak enak badan, sehingga tidur kita pun tak nyenyak…
Mungkin tumpukan deadline pekerjaan di kantor yang bikin seolah diburu-buru tiap pagi…
Mungkin kemacetan Jakarta yang harus diperjuangkan untuk dilalui setiap hari…
Mungkin stres ujian bagi mahasiswa atau pelajar..
Berjuta kemungkinan yang bisa kita hadapi hari itu…
Berjuta kemungkinan yang seolah merenggut indahnya pagi dari diri kita…

Padahal, di bawah segala tekanan itu tadi, apakah jadinya pagi itu tidak indah?
Apa jadinya tidak ada sama sekali kebaikan atau keindahan di dalamnya?
Atau, apa kita yang seolah ‘tertutupi’ atau ‘terbutakan sementara’ akan indahnya pagi karena permasalahan yang mendera, sehingga membuat kita tak bisa mensyukuri kehadirannya?

Seburuk apapun, pagi ini kita masih bernafas.
Itu berarti masih ada harapan untuk menjadi lebih baik.
Seburuk apapun, pagi ini kita masih bisa menjalani peranan atau pekerjaan kita…
Mari usahakan yang terbaik yang kita bisa…
Seburuk apapun, masih ada keindahan yang patut disyukuri.
Sehingga, pagi ini dan pagi-pagi berikutnya yang masih dianugerahkan-Nya pada kita,  semoga senantiasa kita syukuri…
Tak lagi aku mengeluh.
Perlahan tapi pasti, senyuman mulai mengembang di sudut-sudut bibirku…

It is indeed a beautiful morning!
And there’s always a reason to smile.
As soon as I smile,  I can feel a wonderful shade of happiness gradually fills my heart.
Yes, I’m grateful for this beautiful morning.
Thanks be to God!

Seolah alam pun memancarkan keindahannya yang terbaik pagi itu.
Sesudah hujan, pelangi menghiasi langit biru.
:)



Singapore, 16.11.2014
fon@sg
*inspirasi dari iklan Breadt*lk  yang belakangan sering dipajang di outlet-outletnya…




Friday, November 7, 2014

Something About Love... (Cerpen)


“Ketika cinta memanggilmu, maka dekatilah ia walau jalannya terjal berliku.  Ketika cinta memelukmu, maka dekapilah ia walau pedang di sela-sela sayapnya melukaimu.”― Khalil Gibran


Masih terngiang jelas di telingaku dan lekat dalam ingatanku akan tulisan Pujangga ternama-Khalil Gibran itu.
Cinta? Hmmm, aku tersenyum.
Sunggingan di bibirku itu tak terlalu manis, sedikit sinis.
Aku sejujurnya sudah tidak tahu lagi apa arti cinta sesungguhnya.
Ketika cinta itu begitu indah, berwarna, dan bermakna di awal perjumpaan kita...
Aku menikmati setiap detiknya, setiap hembusan nafasnya ke dalam hari-hari kita.
Kusyukuri itu semua...
Begitu membahagiakan dan membuat berbunga-bunga.
Jalan kita terbilang mulus di kala itu, tak banyak hambatan berarti.
Perkenalan-pertemuan-berpacaran-dan kemudian memutuskan untuk menikah.
Ya, tentu saja aku ingin menikah denganmu.
Menghabiskan masa tuaku bersamamu, jika Tuhan menghendaki kita berumur panjang, dan saling mengisi sampai akhir nanti...

                                                                           ***

Aku begitu bahagia ketika aku mengenakan pakaian pengantin wanita.
Kurasakan kebanggaan itu.
Aku merasakan kepenuhan diriku sebagai wanita...
Kita akan menikah...
Kita saling cinta...
Ah, indahnya!
Aku merasa bagaikan seorang Putri yang disunting Pangeran berkuda putih...
Meninggalkan kastil kejombloanku dan mengikuti kamu ke mana pun kamu pergi.

Tetapi, bahagia itu hanyalah sementara.
Bunga-bunga yang seolah bermekaran, suatu saat akan layu juga.
Perasaan yang berbunga-bunga di masa lalu, menjadi perasaan pilu di suatu waktu...
Saat kita tak lagi saling mengerti, saat kita tak lagi saling peduli.
Saat kita melihat begitu banyak perbedaan yang seolah baru kita sadari.
Padahal, yang menyatukan kita di awal relasi ini adalah seolah ada begitu banyak kesamaan dalam diri kita yang mempererat tali cinta kita...
Sekarang? Aku duduk termenung.
Meragu.
Dalam bimbangku aku hanya bisa membenamkan diri di bantalku-saat kamu tak ada di sisiku.
Juga, saat aku berada di toilet.
Kamar mandi seolah menjadi tempat yang paling ideal buat menumpahkan segala keresahan di hatiku.
Aku jadi sering berlama-lama di sana, bukan hanya melakukan kewajiban yang seharusnya, namun aku juga menumpahkan segala rasa.
Tangisku. Gelisahku.
Semua tertumpah di situ.

Pernah kucoba menonton drama Korea seperti saran beberapa sahabatku.
Aku menyukai beberapa pemerannya, terlarut di dalamnya...
Namun, kesedihan itu seolah kembali menghujam ketika aku rasa betapa cuek dan dinginnya sikapmu...
Kamu bukanlah Lee Min Ho yang berperan sebagai Kim Tan di serial 'The Heirs', yang rela melakukan apa saja demi Park Shin Hye yang berperan sebagai Cha Eun Sang.
Begitupun kamu bukanlah Do Min Joon yang mau melakukan apa saja, bisa datang kapan saja karena dia makhluk luar angkasa demi kekasihnya Cheon Song Yi dalam serial 'My Love From Another Star'.
Waktu berdua? Tak lagi ada.
Selalu alasanmu adalah pekerjaan dan pekerjaan senantiasa.
Belum lagi pertemuan dengan sahabat-sahabatmu. Golf-mu. Internet-mu. Gadget-mu.
Ah, sudahlah...
Terkadang ada rasa segan dan enggan untuk memikirkan hal ini.
Karena pada akhirnya hanya akan berujung sakit hati.

Beginikah cinta kita pada akhirnya?
Jalan yang berliku?
Ada pedang di sela-selanya?
Mungkin aku yang keliru...
Berharap terlalu banyak padamu...
Namun, sungguh karena cintaku (ya, sampai hari ini aku masih cinta padamu)...
Aku berani menjalani ini semua bersamamu...

Ini tahun kesepuluh pernikahan kita, sayangku.
Dan, jika anak yang menjadi alasanmu...
Kita memang belum dikaruniai-Nya, kita sudah cek ke mana-mana...
Tak ada yang salah kata mereka...
Namun, kenyataan berkata lain...
Kita masih belum punya buah hati yang konon akan melengkapi keceriaan rumah tangga kita.

Aku tak tahu, akankah hidup kita lebih bahagia dengan hadirnya anak-anak di dalamnya?
Mungkin iya, mungkin juga tidak...
Karena kupikir, jika kita tak sanggup bahagia di saat ini, apa kita sanggup bahagia di berbagai babakan kehidupan kita?
Tentunya, sebagai seorang wanita, aku sungguh mengharapkan setidaknya seorang buah hati lahir dari rahimku sendiri.
Bagiku, itulah kepenuhan diriku sebagai seorang wanita seutuhnya.
Merasakan seorang bayi tumbuh dan berkembang di dalam tubuhku...
Merasakan genggaman tangannya nanti saat dia lahir ...
Mendengarkan tangisan pertamanya saat dia membuka matanya ke dunia...
Sungguh, aku merindukan momen itu...
Sungguh ingin aku merasakan itu semua...

Jangan suruh aku berdoa!
Sudah kering air mataku saat memanjatkan seluruh keluh-kesah yang ada...
Sekarang tahapnya aku menerima (jika tidak kukatakan aku terpaksa menerimanya).
Karena jika tidak pun, hatiku semakin terasa teriris.
Kamu dan kesibukanmu.
Kamu dan kecuekanmu.
Aku dan kesepianku.
Aku dan kesendirianku...
Aku dan harapanku untuk jadi seorang Ibu...
Apa kamu pernah tahu segala kesedihan di hatiku?
Komunikasi kita sudah macet total seperti jalan tol yang tengah mengalami kecelakaan fatal.
Aku kecewa, sayangku...
Sungguh!

                                                                                 ***

Ketukan itu cukup keras dan berulang-ulang di pintu kamarku.
Kubuka pintu dengan sedikit kesal.
Tumben Si Mbak agak kurang ajar seperti ini pikirku.
Ketika kubuka, setengah tak percaya, kupandangi wajahmu dengan takjub.
" Da..niel..?"
Ujarku terbata-bata.
Kau diam saja, namun langsung memelukku.
Aku tak bisa menghalangi air mata yang jatuh membasahi pipiku.
Air mata haru bercampur kerinduan yang mendalam pada seorang Daniel-suamiku.

" Maafkan aku, Vy. Ini salahku. Aku tak seharusnya cuek padamu. Seharusnya aku membenahi persoalan yang mendera rumah tangga kita, bukannya malah menjauh dan lari darinya." Ucapnya dengan nada penuh keseriusan.

" Aku juga sa...lah, Daniel. Ma...ma..mafkan aku, ya..."
Ucapanku juga terbata-bata, diiringi tetesan air mata dan isak tangis bahagia.

Ini babak baru dalam relasi kami.
Persahabatan yang mengawali hubunganku dengan Daniel, kembali tercipta.
Ya, kami masih menunggu buah hati kiriman dari Yang Kuasa.
Namun, kami menjalani hari demi hari penuh bahagia.
Saling mengisi-saling mengerti.
Sebagaimana janji pernikahan kami dulu...
Setia dalam untung dan malang...
Dan mau mencintai dan menghormatinya.
Seumur hidupku.
Bintang di atas sana seolah berpijar dengan cahaya yang paling terang malam ini.
Seolah menerangi perjalanan episode kami kali ini.
Semoga terang-Mu terus membimbing kami, ya Tuhan.

the end.
@copyright Fonny Jodikin

07.11.2014
fon@sg

Tuesday, November 4, 2014

Daun-Daun Berguguran

Daun-daun berguguran.
Bukan, bukan di luar sana.
Melainkan di hatiku.
Cuaca di sini tetaplah hanya musim hujan dan kemarau.
Namun, entah mengapa, tanpamu, seolah diriku luruh.
Satu per satu...
Bak daun-daun yang menguning dan berjatuhan.
Terkadang kurasa sulit menghirup nafas dengan lega.


Jarak.
Ya, dia memang telah memisahkan kita.
Bukan hanya jarak antarbenua.
Itu pernah kita taklukkan bersama...
Sekarang jarak kita tak lagi sejauh dulu.
Kita sudah sekota.
Namun, jarak di hati kita mengalahkan jarak antarbenua itu.
Berpuluh bahkan beratus kali lipat...


Daun-daun berguguran.
Bukan, bukan di luar sana.
Melainkan di hatiku.
Luruh satu per satu...
Seperti cinta kita yang pudar.
Seperti renggangnya tali rasa yang pernah terjalin.
Diiringi hujan air mata...
Saat harus berkata, " Cukup sampai di sini kisah kita."
(-fon-)


@copyright Fonny Jodikin November 2014

Friday, October 31, 2014

Kamu

Kamu.
Ya, kamu.
Yang mengisi hari-hariku dengan senyuman dan tawa.
Yang membuat seluruh harapku hanya tertuju padamu semata.
Yang membuat duniaku tak lagi kelam seperti biasa.

Kamu.
Ya, kamu.
Menceriakan. Menghidupkan.
Memberi warna yang tak mampu terkatakan.
Membangkitkan semangat hidup yang terkadang terlupakan.
Dilindas begitu banyak kekecewaan...

Kamu.
Ya, kamu.
Ketika kamu datang dan mengetuk pintu hatiku...
Duniaku menjadi penuh bunga bermekaran.
Dan mimpi-mimpi yang selama ini selalu kuabaikan...
Menjadi bunga yang indah di setiap tidurku.

Kamu.
Ya, kamu.
Denganmu aku berani merancang masa depan.
Walau kutahu akan banyak rintangan...
Di sepanjang jalan kehidupan.

Kamu.
Ya, kamu.
Ketika cinta kita tak lagi sama seperti masa lalu.
Ketika kau tak lagi sehangat yang dulu.
Aku masih terus menggenggam cinta lama itu.
Mengharapkan suatu saat kau akan kembali seperti itu.

Kamu.
Ya, kamu.
Denganmu aku belajar.
Begitu mudah rasa itu menguap dan pergi entah ke mana.
Namun, kasih ini selalu membuatku tetap tinggal.
Cinta kita tak lagi menggebu seperti dulu.
Tapi, selalu ada rasa nyaman itu saat bersamamu.

Kamu.
Ya, kamu.
Denganmu aku berbagi kehidupanku.
Memandang buah hati kita dengan rasa syukur tak terhingga.
Seluruh berkat Yang Kuasa.

Di tangisku, ada kamu.
Di tawaku, ada kamu.
Di galauku, ada kamu.
Di riangku, kamu di situ.

Kamu.
Ya, kamu. 
Terima kasih buat hadirmu.
Memberi berjuta warna.
Di hidupku.

31.10.2014
fon@sg