Showing posts with label perenungan. Show all posts
Showing posts with label perenungan. Show all posts

Sunday, April 17, 2016

Choco Chips Muffins - A Story of My Life



Choco Chips Muffins - A Story of My Life

Okay, okay, kali ini aku mau ngomongin soal salah satu makanan favorit anak-anak.
Selain gampang bikinnya, rasanya juga mayan lah (karena gak boleh ter.la.lu memuji-muji diri sendiri, nanti lupa daratan hihihi...)

Basically, ini choco chip muffins bersama dengan resep-resep lainnya sudah berhasil kuuji coba di dapurnya  fon's sweet delight.
Dan kadang-kadang nyari yang bikinnya praktis, tanpa mengurangi rasa tentu saja...

Intinya nih, kalo ngelihat bahan-bahannya satu per satu...
Telur, gula pasir, choco chips, tepung terigu, susu,  vanilla essence, dan bahan tambahan semisal keju cheddar potong kotak-kotak atau kismis...
Tiba-tiba aku ngebayangin hidup yang kayak gitu...
Kayak telur, gula pasir, choco chips, tepung terigu, susu, vanilla essence, de el el ituhhh...
Pernah gak ngalamin satu kejadian dan kejadian yang lain yang seolah gak dimengerti?
Sambil nanya ke Tuhan, "Why God? Oh Why must these things happen in my life?"
Pencerahan yang tiba-tiba cling dan timbul di benakku hari ini...
Aku gak bakal ngerti kalo liat satu per satu ingredient itu tadi...
Tapiiii, kalo sudah dipanggang di oven dan jadi choco chip muffins yang siap disajikan...
Baru deh ngerti...
Oh begini tokh kamsud-Nya. Begini tokh maksud-Nya...

Sekarang yang kita alami seolah bagian-bagian itu tadi...
Tapi, suatu saat itu semua bakalan jadi choco chip muffins yang bukan saja lezat dimakan, tapi enak dilihat tampilannya geto lho...
Beautiful in His Eyes karena MasterChef-Nya Tuhan sendiri...:)

Singkat, padat tulisan kali ini...
Panjangnya nunggu akhir pekan, ulasan Descendants of The Suns (DoTS) sesudah nonton special edition-nya:)

Semangatttt! Karena choco chip muffins yang lezat dan indah dalam pandangan-Nya dan sesama sedang dalam proses pembuatan...
Never give up! Always give our very best to the Almighty and the people surround us...

Selamat siang.

18.04.2016
fon@sg
* Duh, Singapore panas bener ni hari... Moga-moga di tempat Anda gak seterik ini...

Monday, May 5, 2014

The Story of Envy


(Perenungan dari sebutir apel)



Di Supermarket, ketika hendak mengambil apel jenis ini, aku sudah cengar-cengir untungnya dalam hati.
Kalau kelihatan sekitar, nanti malu ah hahaha...
Seolah Tuhan mau bicara sesuatu lagi.
Mengingatkan lagi.  Akan unsur yang bernama iri hati.

Dari namanya, apel ini memang menjanjikan.
Buahnya besar, tampangnya keren-warnanya merah bercampur kekuningan- dan rasanya manis, sedikit asam, namun sungguh segar. Dari kisah Si Apel Envy ini sendiri, bisa kita lihat bahwa memang dia dibuat dari yang terbaik…
When New Zealand's passionate apple researchers brought together the best features of Braeburn and Royal Gala in one single apple, envy apple was born. Envy apple is a new class of world class - truly an apple to desire.
Mungkin, buah apel yang lainnya, akan merasa iri padanya.
Karena tampilan fisik maupun rasanya, bikin orang akan memilih dia.
***

Sambil mengunyah perlahan potongan apel Envy di rumah, saya sempat terpikir lagi.
Memang, iri hati kalau tidak betul-betul dikendalikan, lama-lama bisa jadi duri.
Iri, biasanya mulai dari penglihatan, dari mata.
Juga bisa dari pendengaran, dari cerita orang…
Apa yang orang punya, apa yang orang lain pakai, apa yang mereka miliki.
Jalan-jalan semacam apa yang mereka lakoni.
Gaya hidup semacam apa yang mereka jalani.
Sepatu, tas, mobil merek apa yang mereka pakai...
Ah, betapa itu semua di zaman yang makin mendewakan materi ini,  menjadikan manusia semakin sulit saja mensyukuri apa yang ada...

Teringat sebuah artikel tentang istri pemilik Facebook- Priscilla Chan- yang saya baca beberapa hari yang lalu.
Istri Mark Zuckerberg ini, berdua dengan suaminya, memilih hidup sederhana.
"We try to stick pretty close to what our goals are and what we believe and what we enjoy doing in life – just simple things," she told the New Yorker.
Sementara, saya dan para pemiliki akun Facebook lainnya malah seringnya pamer dan pamer belaka...
Aduh, jadi maluuuu...
Dan sekali lagi diingatkan untuk hidup sederhana.
Pope Francis, sukanya memasak sendiri biar lebih murah...
Dan ala Jokowi, sering blusukan waktu dia melayani di Argentina... Membagi kasih-Nya kepada orang-orang yang miskin dan menderita…
Ah, betapa senangnya jika hidup mensyukuri apa yang ada...
Bukan melulu kompetisi...
bukan pula berarti tidak mau usaha lebih baik lagi...
Namun, setelah berjuang keras, mengapa tidak mensyukuri karunia-Nya...?

Si Envy sudah habis di piring saya.
Namun, pelajarannya masih dicerna di benak saya...
Jangan iri, begitu kata hati saya...
Syukuri apa yang ada...
Tiap orang ada senang dan susahnya sendiri.
Beban mereka, kamu 'gak pernah tahu, tokh?

Sementara di kulkas...
Masih tersisa beberapa apel Envy...
yang selalu siap sedia untuk saya santap
dan untuk mengingatkan saya (lagi).
Dan suara hati saya kembali berbisik…
Be thankful. Stay away from envious thoughts.
For that will lead to peace and true happiness.

5 Mei 2014
fon@sg

#ditemani secangkir iced milk-tea blended di sebuah gerai kopi di kawasan barat Singapura...