Saturday, March 29, 2008

The Colors of Life Part 1: Yellow

The Colors of Life part 1: Yellow

Ketika tengah menggendong anakku di taman depan rumahku, kulihat seekor kupu-kupu berwarna kuning. Sembari mengajari bayiku kata butterfly is yellow, kulihat kecerahan warna kuning muda kupu-kupu itu begitu indah, begitu enak dilihat mata.
Dan memberikan rasa senang dan syukur karena ada salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang indah yang menghiasi jagad raya ini. Setidaknya, ia hadir saat ini di depan mataku!

Historically…
Tetapi, jika kuingat-ingat masa kuliah dulu, di mana aku harus menjalani ospek mahasiswa baru di kampusku, really I didn’t like that color at all.
(Maaf bagi para penyuka warna kuning, no hard feeling: kita emang beda…).
Begini ceritanya, singkat saja. Di fakultas ekonomi yang identik dengan warna kuning, aku harus mengenakan segala atribut dengan warna senada. Pita kuning, kaos kaki bola kuning, lalu sepatu kuning. Karena sulit mencari sepatu kuning, alhasil kami membeli sepatu warna putih, lalu diwantex dengan warna itu. Belum lagi bekal makanan: tahu kuning, yoghurt yang tempatnya harus dibikin kuning, dan sebagainya dan sebagainya.
Pokoknya harus YELLOW all the time. Tanpa sadar, aku yang sebelumnya tidak punya rasa apa-apa terhadap warna tersebut, pelan-pelan mulai memendam rasa. Rasa tidak suka tepatnya. Entah mengapa, rasanya koq ya kalo melihat warna tersebut, tidak sukaaa sekali. Sentimen? Mungkin…
ENOUGH with YELLOW, pleaseee… Cukup sudah…!

Pelan-pelan, setelah tamat kuliah dan bekerja. Aku merasakan kebencian tanpa alasan akan warna kuning, pelan-pelan pudar. Kasihan juga tuh warna, lagian salah apa dia???


Rasa tidak suka…
Kuning, bagiku melambangkan rasa tidak suka. Yang entah dari mana datangnya tapi betul-betul terasa penolakan yang hebat dari diriku.
Dan setelah kupikir-pikir, aku sendiri terkadang tanpa sadar, memperlakukan beberapa orang sebagai warna kuning. Yang mungkin orang tersebut tidak ada salah apa-apa, tapi terlanjur sudah memberikan kesan yang kurang baik, sehingga membuatku merasa tidak suka.
Dan kerap kali tanpa kusadari, aku menjaga jarak, menghindar, dan kurang memiliki kasih terhadap orang-orang tersebut.
Mengapa harus begitu, ya???
Padahal, apa yang Tuhan Yesus selalu pesankan, janganlah menghakimi orang lain. Namun bagiku, pengalaman akan si yellow ini membuatku merasa aku masih jauh dari sempurna. Karena begitu mudah, dengan ekor mataku aku menghakimi si kuning-si kuning tanpa dosa di dunia ini. Mataku meneliti apa yang mereka pakai, apa yang mereka bawa (merk tas- jenis mobil), milik mereka (apartemen, rumah, kapal pesiar, helikopter, bajaj, motor…), pekerjaan dan kedudukan mereka, dan seterusnya.
Aku terlalu mudah menghakimi. Aku terlalu mudah mempercayai rasa yang timbul dari kesan pertama.
Kasihan orang itu. Terlebih lagi, kasihan diriku!
Ampunnn… Kalau aku ternyata jadi si kuning bagi orang lain. Bagaimana rasanya?? Tidak enak, marah, kesal, kecewa?? Dan bagaimana sebaliknya ketika kulihat diri orang lain sebagai si kuning? Apa aku memikirkan perasaan mereka? Apa aku menyadari bahwa aku tidak boleh menghakimi karena aku tidak tahu persis apa yang mereka alami, latar belakang mereka mengapa mereka jadi begini, karena aku tidak berada di posisi mereka??

Dan pencerahan itu berwarna KUNING…
Seekor kupu-kupu kuning terbang melintas lagi di depan mataku. Dan heiii! Tidak ada kebencian di sana. Tidak ada rasa sebal. Tidak ada rasa sentimen.
Yang ada hanya rasa damai. Yuk, kuning…kita damai, yukkk!
Tidak enak rasanya memendam rasa benci. Walaupun itu hanyalah dengan sebuah warna. Apalah artinya sebuah warna? (psstt… terinspirasi Shakepeare, apalah artinya sebuah nama? :)).
Hari ini aku berdamai dengan warna kuning. Dan untuk si kuning-si kuning dalam hidupku, aku akan berusaha untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda dan (mencoba) memahami bahwa banyak yang bisa terjadi kenapa seseorang jadi begitu menyebalkan bahkan dari tatapan pertama.
Kesan pertama begitu menyebalkan…Tapi, itu bukan jaminan kesan-kesan berikutnya, kan?
Aku hanya berpikir kalau aku jadi warna kuning di mata orang lain. Akan sukakah aku? Mungkin yang bisa aku lakukan hanyalah mencoba mengerti bahwa tidak ada orang yang mau menjadi si kuning bagi yang lain. Namun, hidup tidak pernah bisa ditebak dan terkadang luka yang menyakitkan terjadi dan membawa bekas yang parah. Dan bekas itu terus terbawa dan terkadang membuat seseorang menjadi begitu KUNING di mata orang lain, sampai SILAU, man!!
Ah, pencerahan dari seekor kupu-kupu berwarna kuning membawaku kepada pengertian baru. Tidak ada orang yang mau dibenci dan seharusnya tidak ada orang yang mau membenci karena kalau saja mereka tahu bahwa kebencian hanya akan lebih menyakitkan bagi orang yang memendamnya, mereka tentu tidak mau membenci.
Capek! Melelahkan diri sendiri dan sering membuat insomnia orang yang merasakannya. Apalagi kebencian tanpa alasan. Jangan sampai deh…!

Tuhan, hari ini Kau izinkan aku mengerti lewat si kupu-kupu kuning. Terima kasih.
Kuning… oh si kuning… aku mau memaafkanmu. Mencoba mengerti bahwa kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan… dan mengasihimu. Maafkan aku juga, ya…!
Kuning, damai yaaa… damai! Kuulurkan tangan untuk bersalam damai denganmu.
Peace!

Singapore, 29 Maret 2008
-fon-

No comments:

Post a Comment