Tuesday, August 10, 2010

Pelajaran Tentang Syukur



Kembali mengakrabi layar kaca televisi Indonesia tercinta…

Semalam, saya menonton ‘Take Celebrity Out’ di Indosiar. Acara sekaligus ajang cari jodoh yang cukup dramatis. Beberapa yang tidak suka akan mengomentari dengan miring bahwa itu kerjaan orang putus asa, mungkin ada juga yang bilang cenderung norak atau seolah rekayasa. Bahkan beberapa dari kita pun akan meragukan, akankah pasangan yang seolah jatuh cinta pada pandangan (jumpa) pertama itu bisa bertahan lama? Di tengah pandangan yang seolah negatif, tak ada dipungkiri acara ini menarik untuk diikuti mungkin karena keberaniannya untuk tampil beda.

Saya terharu ketika kemarin tampil seorang selebriti berwajah manis dan bertubuh subur, Miss Impian 2005. Aty Fathiyah. Aty, dengan percaya diri luar biasa sekaligus penerimaan dirinya membuat banyak orang malu. Termasuk saya. Aty bilang, walaupun dia gemuk, gendut, tetapi itu masih lebih baik ketimbang mereka yang kurang beruntung karena mereka cacat, tak bisa melihat, tak bisa mendengar, tak bisa bicara,.”Tuhan sungguh sayang pada saya, “ begitu katanya.

Acara tambah mengharu-biru dengan hadirnya seorang wanita muda bersuara emas yang memiliki kekurang-beruntungan karena matanya buta. Tetapi, mata batinnya tidak. Apalagi kejernihan suaranya yang luar biasa itu. Tiba-tiba para ‘celebrities’ yang hadir meneteskan air mata. Termasuk saya. Entah saya juga lagi mellow, entah. Tapi yang pasti, acara semalam yang entah juga adalah siaran ulangan atau bukan membuat rasa syukur menancap dalam sekali lagi. Hal yang sering terlupa. Sementara banyak wanita yang minder dengan bodi plusnya. Sementara banyak wanita yang memusingkan harus diet ini dan itu bahkan sampai jutaan rupiah buat suntik kurus, ada penerimaan diri yang begitu indah dari seorang Aty.

Aty memang tidak terpilih. Alasan dari seorang pria seleb, bilang bahwa Aty terlalu inspirasional sehingga rasa cinta sulit berkembang, tak membuatnya kecewa. Dengan kepercayaan diri dan penerimaan diri semacam itu, Aty layak jadi contoh. Bukan berarti kita tak mau berusaha lebih baik. Namun, ketika banyak usaha dilakukan (yang sehat) misalnya mengatur pola makan, olahraga, atau pola istirahat yang lebih baik tetapi tak jua mempengaruhi berat badan. Cintailah diri sendiri, terimalah diri apa adanya. Tetap berusaha menjadi yang terbaik, dengan seluruh kewajaran sebaiknya tak perlu cara yang aneh-aneh. Maka, dunia akan melihat aura positif (positivity) yang menular.

Take Celebrity Out malam itu sejenak sudah keluar dari ‘glamour’nya. Keluar dari ‘ngocol’nya. Dan memasuki zona keharuan yang memotivasi.

Pelajaran tentang syukur saya dapati malam itu. Semoga kita semua tetap bisa mensyukuri apa yang diberikan kepada kita, sekali lagi bukan sebagai alasan untuk menjadi pemalas yang tak mau berusaha, namun menjadi orang-orang yang tetap melakukan yang terbaik sembari terus mensyukuri nikmat dan kebaikan yang sudah diberikan-Nya dalam hidup ini.

Jakarta, 6 Agustus 2010

-fon-

sumber gambar: http://default.tabloidnova.com

No comments:

Post a Comment