Thursday, December 27, 2012

Bitter-Sweet 2012 and Welcome 2013




Kita tengah melangkah di hari-hari terakhir 2012.
Tentunya, begitu banyak kenangan yang terjadi di tahun ini.
Beberapa manis, bahkan teramat manis.
Mungkin pula beberapa begitu pahit.

Mungkin di tahun ini kita harus berhadapan dengan kenyataan bahwa perpisahan dengan orang yang dikasihi itu begitu menyakitkan.
Rongga-rongga kekosongan yang terjadi segera sesudah prosesi pemakaman usai, tak mudah untuk diisi kembali.
Terlalu banyak memori dan walaupun sebagai umat beriman kita percaya bahwa yang kita kasihi sudah berbahagia di sisi-Nya, tetap saja hari demi hari tetap dilalui dengan tidak mudah.

Mungkin di tahun ini kita memulai sesuatu yang penting.
Pernikahan, punya anak, pekerjaan baru, yang semuanya indah dan menjanjikan.
Mungkin pula beberapa dari kita mengalami hal-hal yang menyedihkan.
Kegagalan, ditipu seseorang yang kita percayai, kemunduran dalam bidang finansial atau beberapa hal lainnya yang menyedihkan…

Apa pun yang sudah terjadi, kita yakini adalah yang terbaik dalam rancangan-Nya. Pahit di mata kita, belum tentu pahit selamanya. Tak jarang, itu adalah pelajaran yang paling berharga di kemudian hari yang tak pernah kita sangka-sangka.

Di Singapura, ada satu restoran yang cukup sering kami kunjungi.
Namanya Eighteen Chefs (di restorannya ditulis E18hTEEN CHEFS). Cabangnya ada di tiga mal di sini. Salah satu outletnya sering saya datangi karena bertepatan dengan menunggu anak kami kursus. Sesudahnya, bersama anak saya, cukup sering saya menikmati makanan yang nikmat dan pelayanan yang baik. Anak kami pun suka karena bisa mengambil air minum sepuasnya, menjadi satu kesenangan tersendiri bagi dia untuk bolak-balik ke termos air dingin dan membawa air ke meja makan.

Makanan yang disajikan kebanyakan tipe ‘western food’. Baked-rice with cheese, pasta, wafel with ice cream dan sebagainya. Saya hanya menikmati makanannya yang lezat tanpa tahu kisah penting di baliknya. Pemilik restoran ini, Benny Se Teo, baru saja mendapatkan penghargaan dari pemerintah Singapura sebagai Social Enterprise of the Year di tahun 2012 ini. Namun kisahnya yang inspirasional ingin saya bagikan kepada sahabat-sahabat semua:

Benny Se Teo is the founder of Eighteen Chefs, a three-chain restaurant staffed by ex-convicts and young people with troubled pasts. Teo himself struggled with heroin addiction from the age of 14, and was in and out of prison and rehab until his last release in 1993. He trained at Fifteen – the London restaurant run by celebrity chef Jamie Oliver – and started Eighteen Chefs in 2007.

Benny yang adalah pemilik Eighteen Chefs ini dulunya adalah seorang pecandu heroin yang mulai dari umur 14 tahun sudah keluar-masuk penjara dan pusat rehabilitasi, sampai dirinya betul-betul pulih di tahun 1993. Dia mendapatkan pelatihan di Fifteen, restoran di London yang dimiliki oleh ‘celebrity chef’ Jamie Oliver lalu kemudian memulai Eighteen Chefs di tahun 2007. Dan bukan itu saja, dia berusaha menampung para mantan narapidana dan orang muda yang masa lalunya bermasalah sebagai karyawan restorannya.



Setiap kali saya membaca latar-belakang dan kisah seperti ini, saya sering merinding. Terharu. Tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Setiap orang berhak atas kesempatan kedua, tak terkecuali siapa pun! Walaupun mereka adalah mantan narapidana yang mungkin dijauhi oleh masyarakat banyak.

Benny Se Teo dan Eighteen Chefs menyadarkan saya sekali lagi…
Meskipun mungkin di sepanjang tahun ini begitu banyak kejadian yang mungkin kurang mengenakkan, selalu ada harapan untuk jadi lebih baik di masa depan.
Dan harapan kita di dalam Tuhan tidak akan mengecewakan….
Kita percaya itu…
Sekelam apa pun masa lalu kita, selalu ada harapan di dalam Dia…

***

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat dikejutkan oleh jatuhnya anak kedua kami dari tempat tidur setinggi 60 cm. Syukurlah, tidak terjadi hal yang serius, hanya benjol sedikit di kepalanya. Sesudah itu, kami sekeluarga jadi lebih hati-hati dan diliputi kecemasan.

Sedang apa yang terjadi pada anak kami?
Dia tak ragu kembali ke tempat dia terjatuh tanpa rasa takut.
Walaupun kami jadi ekstra hati-hati jika dia kembali ke tempat itu…
Perasaan was-was masih mendominasi…

Apa yang saya pelajari?
Kita orang dewasa punya trauma, sehingga takut untuk memulai kembali.
Tetapi, anak-anak TIDAK.
Mereka punya keberanian untuk selalu mencoba lagi. Sesuatu yang patut ditiru dalam hidup untuk tidak mudah menyerah pada keadaan pahit kehidupan. Coba dan coba lagi di dalam Tuhan.

Akhirnya, apa pun yang kita alami di tahun 2012 ini kita percaya adalah baik di mata-Nya. Karena Dia punya gambaran yang sempurna akan kehidupan kita. Bagian kita hanyalah terus berusaha dan memberikan yang terbaik bagi-Nya.

Good bye bitter-sweet 2012 and let’s welcome 2013 in hope!
Have a very happy new year!



God bless.

Salam dari Singapura,
-fon-

No comments:

Post a Comment