Friday, April 18, 2008

The Colors of Life Part 3: Green

The Colors Of Life Part 3 : GREEN

Di kala terik dan panas menyengat…
Akan sejuk rasanya berteduh di bawah pohon yang rindang.
Dan di banyak tempat di Singapura ini, tumbuh pohon-pohon yang bervariasi. Dari yang besar dan kelihatan sudah sangat tua dan berakar, pohon yang sedang, dan pohon yang kecil-kecil rantingnya.
Tetapi di semua pohon itu sama, bertengger daun-daun kehijauan. Bervariasi dari hijau muda, hijau tua. Tetapi memberikan kesejukan saat dipandang mata.

Di kala hati terasa panas menyengat…
Dalam banyak kejadian di kehidupan ini, sering kali, kita berada pada kondisi hati yang panas. Hati yang panas, yang dipenuhi emosi, akan cenderung marah-terkadang tanpa alasan yang jelas.
Tentu saja mungkin bagi yang tengah berhati panas, terkadang tidak sadar atau tidak sepenuhnya sadar bahwa apa yang dilakukan membuat orang di sekitarnya bertanya-tanya, “ Ada apa dengan dia?”

Akhir-akhir ini aku menerima sebuah e-mail yang berisi tulisan tentang “ Garbage Trucks” sebagai berikut:

Beware of Garbage Trucks
By David J. Pollay

How often do you let other people's nonsense change your mood?
Do you let bad driver, rude waiter, curt boss, or an insensitive colleague ruin your
day? Unless you're a robot, you are bound to blow your top off.
However, the mark of a successful person is how quickly he or she can get
back his or her focus on what's important.


Sering kali, kita menjadi pelampiasan emosi dari orang lain yang merasa tidak bahagia, stress, ataupun depresi. Sama halnya, kita pun apabila merasa stress, pusing dengan segala macam masalah ataupun beban hidup, juga kita tanpa sadar melampiaskan emosi kita kepada orang yang tidak seharusnya menerima. Terkadang tak terhindarkan, tetapi terjadi.

Dan Pollay, sekali lagi juga menggambarkan dengan baik The Law of the Garbage Trucks
And this is when my taxi driver told me what I now called,
'The Law of the Garbage Truck'.
Many people are like garbage trucks. They run around full of
garbage, full of frustration, full of anger, and full of disappointment. As
their garbage piles up, they need a place to dump it. If they happen to dump
it on you, don't take it personally.
You just smile, wave, wish them well, and moved on. You'll be
happier if you did that rather than fight them.


Banyak orang (termasuk kita sesekali dalam hidup kita), seperti truk sampah. Yang berlari penuh sampah (sampah emosi dalam hal ini), penuh rasa frustrasi, penuh kemarahan, dan penuh kekecewaan.
Ketika sampah tersebut menumpuk, mereka perlu tempat untuk membuangnya. Ketika mereka kebetulan membuangnya kepadamu, jangan simpan di hati. Tersenyumlah, lambaikan tangan, harapkan yang terbaik bagi mereka, dan melangkah.
Kamu akan lebih bahagia bila kamu melakukannya daripada melawan mereka.

Dan biarlah warna hijau yang sejuk di mata, membawa kita menjadi pribadi-pribadi yang sejuk…
Di antara tumpukan sampah emosi yang meliputi begitu banyak emosi negatif, hendaknya kita tidak melawan dengan kekerasan juga ketika kebetulan kita menjadi tempat penampungan sampah emosi orang lain.
Dan berusaha apabila kita tengah emosi, kita tidak menumpahkannya kepada orang yang tidak seharusnya menerima. Sulit? Pastinya… Tetapi apabila kita mampu melakukannya, kita naik kelas dalam perkembangan iman kita sebagai murid-murid Kristus…

Green Peace. Hijau membawa perdamaian. Mendamaikan suasana alam yang terik menjadi bersahabat dan lebih teduh. Mendamaikan hati-hati yang panas juga menjadi lebih bersahabat dan teduh.

Dunia perlu orang-orang sejuk, dunia perlu orang-orang ‘hijau’ agar dunia tidak sebegitu panas. Suasana di luar boleh panas, tetapi hati dan kepala tetap sejuk.

Singapore, April 19, 2008
Dalam kesejukan warna hijau…
-fon-

3 comments:

  1. Cecil...
    again makasih banget utk support kamu. Terutama sudah baca tulisanku...God bless

    ReplyDelete