Refleksi Akhir Tahun
Mungkin dua tahun terakhir ini adalah tahun di mana saya mengalami perubahan drastis yang sudah sering saya ceritakan. Dan setahun belakangan ini, walaupun adaptasi sudah berjalan cukup baik, namun masih saja banyak kerikil di sana sini yang belum mampu saya atasi. Sampai akhirnya, memasuki bulan Desember tahun 2008 ini, saya merasakan bahwa saya bisa melihat dari kaca mata yang baru.
Saya bersyukur sekali dan dalam hati ada damai yang baru…
Everything…
Ada satu fase di dalam hidup saya, di mana saya kira, saya memiliki segalanya. Segalanya dalam versi saya, tentunya amat berbeda dengan segalanya dalam versi orang lain. Mungkin buat orang lain harus punya rumah 5, mobil 5, baru memiliki segalanya…
Namun, bagi saya waktu itu adalah, saya memiliki karir yang cukup lumayan, keluarga dan teman-teman yang amat mendukung dan sangat mengasihi saya, dan pelayanan yang saya sukai… Bagi saya, saya memiliki segalanya saat itu. I had ‘everything’ back then, back to the year 2004…
Karir semakin baik, semakin naik… Dan segalanya itu bertambah dengan kehadiran seorang pacar yang puji Tuhan sesuai dengan impian dan dambaan saya, yah… saya merasa amat bersyukur karena saya punya segalanya!
Dan list of ‘everything’ itu bertambah, ketika sang pacar menyatakan keseriusannya untuk membina rumah tangga. Wow, rasanya sempurna sekali!
Tidak lama setelah menikah, saya pun hamil dan berita kepindahan kami ke Singapura menambah sempurna list of ‘everything’ itu.
I couldn’t ask for more… God has been so good to me!
Nothing…
Ternyata setelah kepindahan saya, saya rasakan kehampaan karena perubahan ini ditambah tidak adanya teman-teman yang dekat di hati plus kesulitan mencari pekerjaan. Memiliki anak, suatu sukacita yang amat besar, namun amat melelahkan bila harus menjaga sendiri. Salut untuk para ibu zaman dulu yang bisa memiliki banyak anak tanpa mengeluh.
Dan tiba-tiba saja, everything yang ada pada saya beberapa waktu yang lalu, saya rasakan diambil begitu cepatnya… And I left without anything. Nothing!
Kenyataan yang sulit diterima dan cukup pahit, saya jalani. Tidak melulu sabar, karena saya pun banyak mengeluh. Saya berusaha sabar, tetapi terkadang saya merasa ini semua sungguh di luar kekuatan saya. Saya mendapati diri saya mengalami kesulitan untuk menerima segala perubahan ini. Saya tidak mampu melihat hal-hal baik dalam hidup saya…
Sampai akhirnya….
Something…
Saya mulai bisa melihat kalau Tuhan tidak pernah melencengkan jalan kita tanpa sebab. Karena dia merencanakan sesuatu. That special ‘something’ in His plan is waiting for me. Some good things for a better me…
Di akhir tahun ini, saya mulai bisa melihat bahwa Tuhan berkehendak lain terhadap kehidupan saya. Di mana dia tanamkan ide dan kerinduan untuk beberapa hal. Yang utama adalah menjadi penulis dan puji Tuhan sudah mulai terlihat jalan! Semoga bisa terlaksana di pertengahan tahun depan. Satu hal lagi bisnis online dengan suami yang masih dalam tahap penggarapan. Dua hal ini akan saya informasikan kemudian bagi teman-teman semua.
Tapi, puji Tuhan! Sungguh dengan segala ketulusan, saya mohon ampun kepada Tuhan untuk segala kekerasan hati saya untuk mempertahankan ‘everything’ I had, only to find that from ‘nothing’, He will build me once again. He will give me another plan, ‘something’ good, ‘something’ beautiful in His perspective for me.
Saya mulai bisa melihat lagi bahwa Tuhan sungguh baik selama dua tahun ini, dia memberikan saya keluarga yang baik, suami dan anak yang baik dan lucu. Tuhan memberikan saya dan keluarga kesehatan. Hal yang amat mahal bagi sebagian orang. Dan hal-hal kecil yang tak terlihat, tiba-tiba saja menjadi jelas karena saya memakai mikroskop thankfulness to the Lord.
Dan sesungguhnya, saya tidak tahu, ke depannya akan bagaimana. Tetapi ada kedamaian luar biasa yang saya rasakan, karena saya percaya kepadaNya. Bahwa di balik reruntuhan kesombongan diri saya, Dia akan menata saya kembali dengan cintaNya. Dan berbisik sekali lagi bahwa saya harus percaya kepadaNya dengan segenap hati saya. Karena apa pun yang terjadi, Dia tidak pernah lepas tangan atas saya!
Happy New Year, God! Happy New Year, friends!
I’ve never been so excited in my life towards a new year… Selama ini, setiap tahun berlalu begitu begituuu saja, tetapi tidak tahun ini…
Dengan harapan, segala sesuatu jadi berbeda.
So, bila saat ini, kamu berada pada kondisi ‘everything’, remember that there will be some day that you feel that ‘nothing’ in your life… Hampa, tidak ada apa-apanya sama sekali, semua terasa membosankan. Namun, di saat siklus itu berbalik kembali kepada ‘something’ dan nanti ‘everything’… Just remember itu adalah kebaikan Tuhan yang mengizinkan kita mengalami siklus hidup. Sekali lagi hanya untuk mendewasakan kita dan menjadikan kita seseorang yang lebih baik.
Singapore, December 23, 2008
-fon-
* New Year comes early this year… Especially in my heart :)
Chapters of Life, begitu saya senang menyebutnya. Karena bagi saya, hidup adalah babak demi babak, bab demi bab, yang menjadikan buku kehidupan saya sempurna.
Monday, December 22, 2008
Tuesday, December 2, 2008
Tetap Setia
Tetap Setia
Dari hasil obrolan via email dengan seorang teman yang menyarankan aku untuk menulis mengenai perkawinan- khususnya perkawinan Katolik- maka tulisan ini dibuat.
Jujur, menuliskan perkawinan, apalagi setelah menjalaninya juga, bukanlah sesuatu yang mudah. Dalam arti, mengerti betapa sakralnya pernikahan itu, at the same time, betapa kompleksnya pula permasalahan yang dihadapi, padahal kalau dipikir-pikir hanya ada dua pribadi. Tetapi kompleksitas itu berkembang karena perkawinan di Indonesia juga menyangkut perkawinan antarkeluarga. Di mana harus juga berhadapan dengan mertua, ipar, keluarga besan, dan sebagainya.
Dua orang digabungkan menjadi satu saja, sudah cukup berat. Karena banyak perbedaan yang harus disesuaikan antara satu dengan yang lain. Perbedaan itu bukan hanya sekedar karakter, tetapi juga bagaimana cara masing-masing keluarga membesarkan si anak, sehingga si anak menjadi pribadi yang seperti sekarang ini. Juga tak kurang, pengalaman si anak beradaptasi dengan lingkungan yang dihadapi seperti : sekolah-teman-guru-pacar-dan semua orang yang ditemuinya sepanjang perjalanan hidupnya, juga mempengaruhi dan memberi warna bagi kepribadian si anak.
Well, tulisan ini juga bukan untuk menakut-nakuti para single yang sedang berpacaran, ataupun yang tengah memimpikan suatu pernikahan. Namun rasanya, kita tidak bisa menutup mata, bahwa permasalahan ini ada, timbul, dan berkembang di tengah dunia yang semakin cuek dengan lembaga perkawinan. Dan sementara perkawinan Katolik harus berdiri tegar dengan monogami dan tak terceraikan. Dan itu tidak mudah!
Singkat cerita, temanku itu prihatin dengan kondisi di sekitarnya, di mana dua orang teman baiknya sedang berada dalam proses perceraian. Dua-duanya menikah di gereja Katolik. Yang satu sakramen, yang satu pemberkatan (salah satu pasangan bukan Katolik). Kedua istri bekerja dan permasalahan itu bukan karena pihak ketiga, namun karena materi dan perseteruan dengan keluarga suami.
Aku pribadi juga melihat beberapa perceraian, ada yang memang bermasalah dengan suami yang ternyata setelah dinikahi tidak memberikan nafkah, atau ada juga permasalahan dikarenakan si istri balik lagi dengan pacar lamanya dan tidak mempedulikan sang suami.
Banyak hal yang bisa menyebabkan perceraian itu terjadi.
Cerai menjadi kata yang begitu gampang terlontar ketika terjadi pertengkaran. Atau setidaknya pemikiran untuk pisah rumah sering menghinggapi banyak pasangan ketika timbul konflik. Tidak terbayangkan, mengapa perkawinan yang dulu diimpikan sebagai satu lembaga yang merupakan tempat bertumbuh dalam kasih, koq berbalik menjadi lembaga yang penuh sakit hati, di mana para anggotanya-suami dan istri- berlomba menyakiti hati satu sama lainnya?
Di mana kesetiaan yang diucapkan saat di altar? Yang bersama akan saling menanggung dalam susah senang, untung malang? Di mana kasih, di mana cinta tanpa syarat (unconditional love) yang mampu mengampuni tanpa batas? Tiba-tiba menguap entah ke mana.
Ketika berpacaran, semua terasa indah. Satu sama lain ingin menyenangkan pasangannya. Dan rasanya dunia indah sekali, milik berdua, yang lain ngontrak :).
Tidak demikian halnya ketika menikah. Banyak permasalahan yang dihadapi. Dari mengurus keuangan yang banyak menjadi sumber permasalahan (banyak perceraian juga dikarenakan manajemen uang ini), hubungan dengan mertua-ipar juga menduduki peran yang tak kalah pentingnya, dan of course WIL/PIL pihak ketiga.
Aku termenung. Memang begitu kompleksnya pernikahan, apalagi jika sudah diarungi sekian tahun. Aku baru akan memasuki tahun ke-3 pernikahan kami, masih balita. Aku tak hendak memberi ceramah, karena rasanya masih sangat hijau dalam perkawinan juga, namun aku hanya ingin menghimbau, sekaligus menghimbau diriku sendiri untuk tetap setia dalam perkawinan yang sudah diberikan Tuhan kepada semua yang sudah menikah dan memilih pasangan hidupnya.
We can try for a better married life! Kenapa tidak?
Kira-kira begini mungkin tips bagi kita semua:
1.Libatkan Tuhan sebagai pusat perkawinan itu sendiri.
Dengan melibatkan Tuhan sebagai ‘center’ akan menjadi lebih mungkin bagi kedua belah pihak untuk saling mengampuni. Tidak ada yang mustahil bila Tuhan campur tangan. Dan rasanya, tidak ada perselisihan yang tak terselesaikan, apabila kita mau melihat dari sisi orang lain, dari sudut pandang pasangan kita, dan bukan hanya terpaku dalam pemikiran dan anggapan bahwa diri sendiri yang paling benar.
2.Komunikasi, komunikasi, sekali lagi komunikasi.
Di tengah zaman gadget ini, rasanya komunikasi menjadi hal yang mudah, apabila kedua belah pihak menginginkan perbaikan. Ada handphone yang bisa mengirim SMS, MMS, dan saling bertukar cerita. Ada internet yang memungkinkan untuk chatting, e-mail, bahkan saling melihat wajah lewat web cam. Dan sebagainya. Tetapi masalahnya terkadang, dengan yang serumah, dengan pasangan, komunikasi rasanya koq mentok, rasanya sudah tidak banyak yang bisa dibicarakan, karena kalau dibicarakan, hasilnya perang. Jadi, untuk beberapa pasangan lebih baik diam, daripada ribut. Dan hasilnya, masing-masing semakin tenggelam dalam pikiran dan kesibukan masing-masing, yang ujung-ujungnya saling menjauh. Mengupayakan komunikasi yang lebih baik tidak mudah, namun hendaknya berusaha untuk itu. Dulu waktu berpacaran, kenapa yah bisa ngobrol berjam-jam? Lha koq setelah menikah, jadinya cuma bicara seperlunya? Ironis? Untuk banyak pasangan itulah yang terjadi.
3.Find a time on your own
Bo Sanchez, penulis kondang asal Filipina, selalu menyediakan waktu seminggu sekali untuk nge-date dengan sang istri. Hal yang patut dipuji, di tengah segala kesibukannya berkotbah keliling dunia, dia masih menyempatkan diri untuk membawa istrinya untuk menghabiskan waktu berdua saja. Ini penting untuk menciptakan atmosfir yang positif dalam keluarga, dalam rumah tangga. Untuk yang masih memiliki anak kecil, mungkin hal ini sulit, karena si anak belum bisa ditinggal. Namun, bisa dicari jalan keluarnya, mungkin tidak perlu seminggu sekali, namun sebulan atau dua bulan sekali. Bisa minta tolong saudara dekat untuk membantu mengawasi si anak. Atau apabila kedua pasangan rela menunda waktu berdua, waktu pergi dengan si anak juga bisa menjadi waktu yang berkualitas bagi si keluarga. Tidak perlu yang mahal, bisa ke taman bunga, taman bermain. Semua orang berusah menghemat di tengah krisis moneter ini, dan waktu yang berkualitas tidak sama dengan penghamburan uang semata. Bisa dicari jalan yang murah namun tetap berkualitas.
4.Mengingat kembali hal-hal positif pada diri pasangan.
Bagaimana kisah cinta Anda dulu? Apa yang membuatmu jatuh cinta jungkir balik karena si Dia? Apakah kepandaiannya? Apakah ketampanan/kecantikannya? Atau kebaikannya? Pasti ada sesuatu yang menjadikan kita menyukai pasangan kita dan mau menikah dengannya. Permasalahannya, di tengah kesibukan keseharian kita, hal itu menjadi terlupakan dan terlewatkan begitu saja, walaupun tampak di depan mata.
Juga mungkin dikarenakan kekesalan yang berlebihan terhadap hal yang berulang-ulang dilakukan pasangan, misalnya pelupa, sulit merapikan barang sehingga rumah berantakan, dll, membuat si pasangannya menjadi gampang marah, emosi, dan mengingat hal-hal kecil yang buruk itu. Sedangkan hal-hal baik, tertutup dengan hal-hal jelek.
Untuk jatuh cinta lagi pada pasangan sendiri, rasanya perlu menyediakan waktu untuk merenungkan hal-hal positif pada dirinya. Bila perlu menuliskannya dan membacanya kembali.
We need to fall in love with our spouse. Fall all over again!
5.Hubungan dengan keluarga besan.
Hal ini tidak mudah. Banyak pasangan mengeluhkan bahwa si mertua begini, si ipar begitu, dan sebagainya. Ini juga hal yang sensitif. Misalnya sang suami harus menerima keluhan tentang ibunya terus menerus dari istrinya sendiri. Kondisi suami berada pada suatu dilema, satu pihak ibu- pihak lain istri. Sungguh tidak mudah! Sang suami dalam istilah yang sering dipakai di sini, sandwiched, terjepit di tengah-tengah.
Dengan gaya dan cara yang berbeda, kita dibesarkan. Dan sebagai istri, hendaknya juga menyadari kesulitan si suami apabila istri berseteru dengan mertua. Tentu saja, adaptasi itu tidak mudah, apalagi harus tinggal dengan mertua yang sama sekali berbeda dengan orang tua kita. Namun, biar bagaimana pun berusaha menerima bahwa dia adalah ibu dari pasangan kita. (Permasalahan lebih sering terjadi antara istri dengan mertua perempuan, walaupun tidak tertutup kemungkinan juga bahwa suami dengan mertua juga bermasalah, namun di banyak permasalahan biasanya istri dengan mertua perempuan).
Pasangan kita tidak bisa memilih orang tuanya, dia juga adalah buah hati mereka yang dibesarkan dengan cinta. Sedapat mungkin kita berusaha hormat dengan pihak keluarganya. Walaupun banyak perbedaan yang kalau dibicarakan bisa memancing kericuhan, namun apa gunanya itu semua? Berusaha lebih positif dengan keluarga suami. Semoga dengan atmosfir dan niat positif itu, membawa perkembangan yang positif pula bagi keluarga kedua belah pihak.
6.Tidak merasa lebih baik dari pasangan.
Pasangan yang kita pilih, adalah yang terbaik di mata kita pada saat kita berpacaran dan mengenalnya. Maka, rasanya tidak adil juga bila kita menganggap diri lebih baik. Suami tidak baik rasanya bila menganggap remeh istri, walaupun dia hanya ibu rumah tangga. Dan sejujurnya ibu rumah tangga juga memiliki banyak peran yang tidak mudah juga, walaupun tidak dinilai dalam bentuk gaji ataupun uang.
Bagi para istri yang bekerja dan punya penghasilan (bahkan beberapa lebih tinggi dari suaminya), hendaknya tetap menghormati sang suami, karena dia adalah kepala keluarga. Bukan berarti memiliki uang lebih berarti bisa menginjak-injak harga diri suami.
Dalam Efesus, juga dikatakan sebagai berikut:
5:22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,
5:23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.
5:24 Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.
5:25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya
5:26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman,
5:27 supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.
5:28 Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.
5:29 Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat,
5:30 karena kita adalah anggota tubuh-Nya.
5:31 Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
5:32 Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.
5:33 Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.
Rasanya, kalau mau membicarakan semua perbedaan yang tak ada habisnya, tak akan pernah selesai. Namun, apabila berkeinginan untuk menikah dan saling setia dalam mempertahankan pernikahan yang monogami dan tak terceraikan, butuh usaha dari semua yang sudah menikah untuk memperkuat rumah tangga masing-masing dan melakukan semua yang bisa dilakukan untuk mempertahankan pernikahan itu.
Tidak ada yang mustahil bila melibatkan Tuhan. Semoga keinginan untuk tetap setia menjadi keinginan terdalam dalam hati setiap kita dan ingin mewujudkannya.
Menikah sebagai salah satu panggilan hidup yang diberikan Tuhan, hendaknya disertai juga dengan niat mempertahankannya till death do us part.
Last but not least, beberapa waktu lalu, aku baca di koran Singapura ini, ada pasangan yang merayakan hari jadi perkawinan mereka yang ke-72. Sang suami berumur 90-an, sementara sang istri 88. Kenapa tidak bisa? Contohnya sudah ada…:)
Singapore, 3 December 2008
-fon-
PS: thanks to Irene, my ex-colleague, for the idea to write down this.
Dari hasil obrolan via email dengan seorang teman yang menyarankan aku untuk menulis mengenai perkawinan- khususnya perkawinan Katolik- maka tulisan ini dibuat.
Jujur, menuliskan perkawinan, apalagi setelah menjalaninya juga, bukanlah sesuatu yang mudah. Dalam arti, mengerti betapa sakralnya pernikahan itu, at the same time, betapa kompleksnya pula permasalahan yang dihadapi, padahal kalau dipikir-pikir hanya ada dua pribadi. Tetapi kompleksitas itu berkembang karena perkawinan di Indonesia juga menyangkut perkawinan antarkeluarga. Di mana harus juga berhadapan dengan mertua, ipar, keluarga besan, dan sebagainya.
Dua orang digabungkan menjadi satu saja, sudah cukup berat. Karena banyak perbedaan yang harus disesuaikan antara satu dengan yang lain. Perbedaan itu bukan hanya sekedar karakter, tetapi juga bagaimana cara masing-masing keluarga membesarkan si anak, sehingga si anak menjadi pribadi yang seperti sekarang ini. Juga tak kurang, pengalaman si anak beradaptasi dengan lingkungan yang dihadapi seperti : sekolah-teman-guru-pacar-dan semua orang yang ditemuinya sepanjang perjalanan hidupnya, juga mempengaruhi dan memberi warna bagi kepribadian si anak.
Well, tulisan ini juga bukan untuk menakut-nakuti para single yang sedang berpacaran, ataupun yang tengah memimpikan suatu pernikahan. Namun rasanya, kita tidak bisa menutup mata, bahwa permasalahan ini ada, timbul, dan berkembang di tengah dunia yang semakin cuek dengan lembaga perkawinan. Dan sementara perkawinan Katolik harus berdiri tegar dengan monogami dan tak terceraikan. Dan itu tidak mudah!
Singkat cerita, temanku itu prihatin dengan kondisi di sekitarnya, di mana dua orang teman baiknya sedang berada dalam proses perceraian. Dua-duanya menikah di gereja Katolik. Yang satu sakramen, yang satu pemberkatan (salah satu pasangan bukan Katolik). Kedua istri bekerja dan permasalahan itu bukan karena pihak ketiga, namun karena materi dan perseteruan dengan keluarga suami.
Aku pribadi juga melihat beberapa perceraian, ada yang memang bermasalah dengan suami yang ternyata setelah dinikahi tidak memberikan nafkah, atau ada juga permasalahan dikarenakan si istri balik lagi dengan pacar lamanya dan tidak mempedulikan sang suami.
Banyak hal yang bisa menyebabkan perceraian itu terjadi.
Cerai menjadi kata yang begitu gampang terlontar ketika terjadi pertengkaran. Atau setidaknya pemikiran untuk pisah rumah sering menghinggapi banyak pasangan ketika timbul konflik. Tidak terbayangkan, mengapa perkawinan yang dulu diimpikan sebagai satu lembaga yang merupakan tempat bertumbuh dalam kasih, koq berbalik menjadi lembaga yang penuh sakit hati, di mana para anggotanya-suami dan istri- berlomba menyakiti hati satu sama lainnya?
Di mana kesetiaan yang diucapkan saat di altar? Yang bersama akan saling menanggung dalam susah senang, untung malang? Di mana kasih, di mana cinta tanpa syarat (unconditional love) yang mampu mengampuni tanpa batas? Tiba-tiba menguap entah ke mana.
Ketika berpacaran, semua terasa indah. Satu sama lain ingin menyenangkan pasangannya. Dan rasanya dunia indah sekali, milik berdua, yang lain ngontrak :).
Tidak demikian halnya ketika menikah. Banyak permasalahan yang dihadapi. Dari mengurus keuangan yang banyak menjadi sumber permasalahan (banyak perceraian juga dikarenakan manajemen uang ini), hubungan dengan mertua-ipar juga menduduki peran yang tak kalah pentingnya, dan of course WIL/PIL pihak ketiga.
Aku termenung. Memang begitu kompleksnya pernikahan, apalagi jika sudah diarungi sekian tahun. Aku baru akan memasuki tahun ke-3 pernikahan kami, masih balita. Aku tak hendak memberi ceramah, karena rasanya masih sangat hijau dalam perkawinan juga, namun aku hanya ingin menghimbau, sekaligus menghimbau diriku sendiri untuk tetap setia dalam perkawinan yang sudah diberikan Tuhan kepada semua yang sudah menikah dan memilih pasangan hidupnya.
We can try for a better married life! Kenapa tidak?
Kira-kira begini mungkin tips bagi kita semua:
1.Libatkan Tuhan sebagai pusat perkawinan itu sendiri.
Dengan melibatkan Tuhan sebagai ‘center’ akan menjadi lebih mungkin bagi kedua belah pihak untuk saling mengampuni. Tidak ada yang mustahil bila Tuhan campur tangan. Dan rasanya, tidak ada perselisihan yang tak terselesaikan, apabila kita mau melihat dari sisi orang lain, dari sudut pandang pasangan kita, dan bukan hanya terpaku dalam pemikiran dan anggapan bahwa diri sendiri yang paling benar.
2.Komunikasi, komunikasi, sekali lagi komunikasi.
Di tengah zaman gadget ini, rasanya komunikasi menjadi hal yang mudah, apabila kedua belah pihak menginginkan perbaikan. Ada handphone yang bisa mengirim SMS, MMS, dan saling bertukar cerita. Ada internet yang memungkinkan untuk chatting, e-mail, bahkan saling melihat wajah lewat web cam. Dan sebagainya. Tetapi masalahnya terkadang, dengan yang serumah, dengan pasangan, komunikasi rasanya koq mentok, rasanya sudah tidak banyak yang bisa dibicarakan, karena kalau dibicarakan, hasilnya perang. Jadi, untuk beberapa pasangan lebih baik diam, daripada ribut. Dan hasilnya, masing-masing semakin tenggelam dalam pikiran dan kesibukan masing-masing, yang ujung-ujungnya saling menjauh. Mengupayakan komunikasi yang lebih baik tidak mudah, namun hendaknya berusaha untuk itu. Dulu waktu berpacaran, kenapa yah bisa ngobrol berjam-jam? Lha koq setelah menikah, jadinya cuma bicara seperlunya? Ironis? Untuk banyak pasangan itulah yang terjadi.
3.Find a time on your own
Bo Sanchez, penulis kondang asal Filipina, selalu menyediakan waktu seminggu sekali untuk nge-date dengan sang istri. Hal yang patut dipuji, di tengah segala kesibukannya berkotbah keliling dunia, dia masih menyempatkan diri untuk membawa istrinya untuk menghabiskan waktu berdua saja. Ini penting untuk menciptakan atmosfir yang positif dalam keluarga, dalam rumah tangga. Untuk yang masih memiliki anak kecil, mungkin hal ini sulit, karena si anak belum bisa ditinggal. Namun, bisa dicari jalan keluarnya, mungkin tidak perlu seminggu sekali, namun sebulan atau dua bulan sekali. Bisa minta tolong saudara dekat untuk membantu mengawasi si anak. Atau apabila kedua pasangan rela menunda waktu berdua, waktu pergi dengan si anak juga bisa menjadi waktu yang berkualitas bagi si keluarga. Tidak perlu yang mahal, bisa ke taman bunga, taman bermain. Semua orang berusah menghemat di tengah krisis moneter ini, dan waktu yang berkualitas tidak sama dengan penghamburan uang semata. Bisa dicari jalan yang murah namun tetap berkualitas.
4.Mengingat kembali hal-hal positif pada diri pasangan.
Bagaimana kisah cinta Anda dulu? Apa yang membuatmu jatuh cinta jungkir balik karena si Dia? Apakah kepandaiannya? Apakah ketampanan/kecantikannya? Atau kebaikannya? Pasti ada sesuatu yang menjadikan kita menyukai pasangan kita dan mau menikah dengannya. Permasalahannya, di tengah kesibukan keseharian kita, hal itu menjadi terlupakan dan terlewatkan begitu saja, walaupun tampak di depan mata.
Juga mungkin dikarenakan kekesalan yang berlebihan terhadap hal yang berulang-ulang dilakukan pasangan, misalnya pelupa, sulit merapikan barang sehingga rumah berantakan, dll, membuat si pasangannya menjadi gampang marah, emosi, dan mengingat hal-hal kecil yang buruk itu. Sedangkan hal-hal baik, tertutup dengan hal-hal jelek.
Untuk jatuh cinta lagi pada pasangan sendiri, rasanya perlu menyediakan waktu untuk merenungkan hal-hal positif pada dirinya. Bila perlu menuliskannya dan membacanya kembali.
We need to fall in love with our spouse. Fall all over again!
5.Hubungan dengan keluarga besan.
Hal ini tidak mudah. Banyak pasangan mengeluhkan bahwa si mertua begini, si ipar begitu, dan sebagainya. Ini juga hal yang sensitif. Misalnya sang suami harus menerima keluhan tentang ibunya terus menerus dari istrinya sendiri. Kondisi suami berada pada suatu dilema, satu pihak ibu- pihak lain istri. Sungguh tidak mudah! Sang suami dalam istilah yang sering dipakai di sini, sandwiched, terjepit di tengah-tengah.
Dengan gaya dan cara yang berbeda, kita dibesarkan. Dan sebagai istri, hendaknya juga menyadari kesulitan si suami apabila istri berseteru dengan mertua. Tentu saja, adaptasi itu tidak mudah, apalagi harus tinggal dengan mertua yang sama sekali berbeda dengan orang tua kita. Namun, biar bagaimana pun berusaha menerima bahwa dia adalah ibu dari pasangan kita. (Permasalahan lebih sering terjadi antara istri dengan mertua perempuan, walaupun tidak tertutup kemungkinan juga bahwa suami dengan mertua juga bermasalah, namun di banyak permasalahan biasanya istri dengan mertua perempuan).
Pasangan kita tidak bisa memilih orang tuanya, dia juga adalah buah hati mereka yang dibesarkan dengan cinta. Sedapat mungkin kita berusaha hormat dengan pihak keluarganya. Walaupun banyak perbedaan yang kalau dibicarakan bisa memancing kericuhan, namun apa gunanya itu semua? Berusaha lebih positif dengan keluarga suami. Semoga dengan atmosfir dan niat positif itu, membawa perkembangan yang positif pula bagi keluarga kedua belah pihak.
6.Tidak merasa lebih baik dari pasangan.
Pasangan yang kita pilih, adalah yang terbaik di mata kita pada saat kita berpacaran dan mengenalnya. Maka, rasanya tidak adil juga bila kita menganggap diri lebih baik. Suami tidak baik rasanya bila menganggap remeh istri, walaupun dia hanya ibu rumah tangga. Dan sejujurnya ibu rumah tangga juga memiliki banyak peran yang tidak mudah juga, walaupun tidak dinilai dalam bentuk gaji ataupun uang.
Bagi para istri yang bekerja dan punya penghasilan (bahkan beberapa lebih tinggi dari suaminya), hendaknya tetap menghormati sang suami, karena dia adalah kepala keluarga. Bukan berarti memiliki uang lebih berarti bisa menginjak-injak harga diri suami.
Dalam Efesus, juga dikatakan sebagai berikut:
5:22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,
5:23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.
5:24 Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.
5:25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya
5:26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman,
5:27 supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.
5:28 Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.
5:29 Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat,
5:30 karena kita adalah anggota tubuh-Nya.
5:31 Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
5:32 Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.
5:33 Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.
Rasanya, kalau mau membicarakan semua perbedaan yang tak ada habisnya, tak akan pernah selesai. Namun, apabila berkeinginan untuk menikah dan saling setia dalam mempertahankan pernikahan yang monogami dan tak terceraikan, butuh usaha dari semua yang sudah menikah untuk memperkuat rumah tangga masing-masing dan melakukan semua yang bisa dilakukan untuk mempertahankan pernikahan itu.
Tidak ada yang mustahil bila melibatkan Tuhan. Semoga keinginan untuk tetap setia menjadi keinginan terdalam dalam hati setiap kita dan ingin mewujudkannya.
Menikah sebagai salah satu panggilan hidup yang diberikan Tuhan, hendaknya disertai juga dengan niat mempertahankannya till death do us part.
Last but not least, beberapa waktu lalu, aku baca di koran Singapura ini, ada pasangan yang merayakan hari jadi perkawinan mereka yang ke-72. Sang suami berumur 90-an, sementara sang istri 88. Kenapa tidak bisa? Contohnya sudah ada…:)
Singapore, 3 December 2008
-fon-
PS: thanks to Irene, my ex-colleague, for the idea to write down this.
Tuesday, November 25, 2008
Tahun ke-2 Di Singapura
Tahun ke-2 di Singapura
This time last year, I also wrote the same thing. Tapi itu tentang tahun pertama di Singapura. Perjuangan, adaptasi, dan kisah lucu tertuang di sana.
This year? I don’t know what exactly I should write. Gak ada perubahan berarti rasanya, tapi yang pasti catatan singkat ini tetap dibuat untuk melihat apa yang terjadi di tahun ke-2 ini.
Ada impian yang belum kesampaian. Seperti mau jadi penulis hehehe… Tapi tetap diperjuangkan. Mungkin suatu saat akan ada jalan. Yang pasti, penulis harus tetep nulis. And I try to do that. Bagus atau jelek, senang atau tidak, tetap menulis. Dan konsistensi menulis satu renungan tiap hari juga melatihku untuk bertahan dan setia dengan cita-cita itu. Terlepas dari apa pun hasilnya, aku serahkan kepada Tuhan. Dia yang lebih tahu, apa yang akan terjadi berikutnya. I’ve done my part, and let Him do the rest.
Ada dilema juga. Audrey makin besar, harus kerja atau tidak? Karena terbiasa aktif, membuatku terkadang sulit juga untuk tidak beraktivitas sama sekali. Mengurus anak memang bukan hal yang mudah sekaligus banyak menyita waktu, perasaan, dan energi. Namun, namanya anak sendiri, sudah layak dan sepantasnya diurusin. Dan satu sisi, itu juga merupakan privilege juga karena kan bisa melihat perkembangannya tiap waktu. Dan kalau bekerja, mungkin harus mendengar laporan dari yang mengasuhnya, either suster, pembantu, mama, atau mertua.
Kalau kerja, di tengah kondisi ekonomi yang kayak gini, apa mungkin? Secara iman, of course aku tetap percaya kalau Tuhan beri, pasti ada. Namun di sisi lain, secara realistis juga harus menerima bahwa banyak yang qualified juga tengah di lay off dan mencari pekerjaan. Not an easy time for many people…
Singapura sendiri juga mengalami resesi secara ekonomi. Ada lay offs di beberapa perusahan termasuk DBS bank yang total menurut the koran sini memecat 900 orang di Singapore, Hongkong, dan negara lainnya. Belum lagi HSBC juga sekitar 500 orang katanya dan Citigroup seluruh dunia bakal memecat 52.000 orang, Singapore pasti kena imbasnya juga, sedikit banyak pasti ada. Don’t know. I don’t know. But God knows. Heaven knows.
Mungkin yang terlihat sekarang adalah lebih terbiasa dengan negara ini. Lebih terbiasa dengan pola seorang full time mom. Dan lebih bisa menerima perubahan ini. Walaupun ada kalanya hati juga berontak, kenapa koq kayak gini, semua sekaligus digabruk ke aku at the same time, God? Tapi ada suara dalam hatiku mengajakku bersabar dan menerima, pasti ada waktuNya di mana aku bisa mengerti arti semua ini.
Maunya sih pindah di saat belum hamil, maunya sih pindah langsung dapat kerja, maunya sih bisa beradaptasi dulu sebelum jabang bayi lahir. Maunya gini, maunya gitu…
Tetapi setelah semuanya terjadi hanya bisa menerima. Terima dengan sabar. Patiently. Bukan berarti kesabaran itu membuatku menjadi lesu dan nrimo saja. Aku berusaha tetap berjuang untuk impian-impianku yang seolah terkadang kabur, karena ketidakjelasan banyak hal. Namun, satu sisi, impian yang utama dan terutama, jadi hambaNya. Di mana pun ditempatkan, menerima. Lagian, ini kan Singapore, bukan negeri antah berantah…
Walaupun demikian, masih juga harus berjuang melawan rasa sepi di sini, rasa kangen Indonesia, rasa kangen dengan temen-temen dan keluarga di sana. Yang untungnya, puji Tuhan lagi, secara jarak dekat. Ini kan Singapore, dan bukan negara di benua lain yang jauhhh… Dan juga secara dunia maya bisa jadi amat dekat. Kalau begini, thanks to internet dan teknologi…
So, kesimpulan tahun ke-2, adaptasi berlangsung lebih baik. Pola hidup menjadi lebih jelas, naik MRT, naik bus apa, naik taksi, dokter anak, memikirkan sekolah anak etc… etc…Lebih terbiasa tinggal di sini.
Dan mensyukuri sekaligus percaya, kalau memang Dia tempatkan di tempat ini, Dia akan bukakan jalan. Mungkin bukan sekarang, bukan at this point of time, but heyy… besok? Siapa tau? Bukan gak mungkin, kan?
Singapore, 25 November 2008
-fon-
* 12 menit jelang 26 Nov, saat exactly that 2 years come…
This time last year, I also wrote the same thing. Tapi itu tentang tahun pertama di Singapura. Perjuangan, adaptasi, dan kisah lucu tertuang di sana.
This year? I don’t know what exactly I should write. Gak ada perubahan berarti rasanya, tapi yang pasti catatan singkat ini tetap dibuat untuk melihat apa yang terjadi di tahun ke-2 ini.
Ada impian yang belum kesampaian. Seperti mau jadi penulis hehehe… Tapi tetap diperjuangkan. Mungkin suatu saat akan ada jalan. Yang pasti, penulis harus tetep nulis. And I try to do that. Bagus atau jelek, senang atau tidak, tetap menulis. Dan konsistensi menulis satu renungan tiap hari juga melatihku untuk bertahan dan setia dengan cita-cita itu. Terlepas dari apa pun hasilnya, aku serahkan kepada Tuhan. Dia yang lebih tahu, apa yang akan terjadi berikutnya. I’ve done my part, and let Him do the rest.
Ada dilema juga. Audrey makin besar, harus kerja atau tidak? Karena terbiasa aktif, membuatku terkadang sulit juga untuk tidak beraktivitas sama sekali. Mengurus anak memang bukan hal yang mudah sekaligus banyak menyita waktu, perasaan, dan energi. Namun, namanya anak sendiri, sudah layak dan sepantasnya diurusin. Dan satu sisi, itu juga merupakan privilege juga karena kan bisa melihat perkembangannya tiap waktu. Dan kalau bekerja, mungkin harus mendengar laporan dari yang mengasuhnya, either suster, pembantu, mama, atau mertua.
Kalau kerja, di tengah kondisi ekonomi yang kayak gini, apa mungkin? Secara iman, of course aku tetap percaya kalau Tuhan beri, pasti ada. Namun di sisi lain, secara realistis juga harus menerima bahwa banyak yang qualified juga tengah di lay off dan mencari pekerjaan. Not an easy time for many people…
Singapura sendiri juga mengalami resesi secara ekonomi. Ada lay offs di beberapa perusahan termasuk DBS bank yang total menurut the koran sini memecat 900 orang di Singapore, Hongkong, dan negara lainnya. Belum lagi HSBC juga sekitar 500 orang katanya dan Citigroup seluruh dunia bakal memecat 52.000 orang, Singapore pasti kena imbasnya juga, sedikit banyak pasti ada. Don’t know. I don’t know. But God knows. Heaven knows.
Mungkin yang terlihat sekarang adalah lebih terbiasa dengan negara ini. Lebih terbiasa dengan pola seorang full time mom. Dan lebih bisa menerima perubahan ini. Walaupun ada kalanya hati juga berontak, kenapa koq kayak gini, semua sekaligus digabruk ke aku at the same time, God? Tapi ada suara dalam hatiku mengajakku bersabar dan menerima, pasti ada waktuNya di mana aku bisa mengerti arti semua ini.
Maunya sih pindah di saat belum hamil, maunya sih pindah langsung dapat kerja, maunya sih bisa beradaptasi dulu sebelum jabang bayi lahir. Maunya gini, maunya gitu…
Tetapi setelah semuanya terjadi hanya bisa menerima. Terima dengan sabar. Patiently. Bukan berarti kesabaran itu membuatku menjadi lesu dan nrimo saja. Aku berusaha tetap berjuang untuk impian-impianku yang seolah terkadang kabur, karena ketidakjelasan banyak hal. Namun, satu sisi, impian yang utama dan terutama, jadi hambaNya. Di mana pun ditempatkan, menerima. Lagian, ini kan Singapore, bukan negeri antah berantah…
Walaupun demikian, masih juga harus berjuang melawan rasa sepi di sini, rasa kangen Indonesia, rasa kangen dengan temen-temen dan keluarga di sana. Yang untungnya, puji Tuhan lagi, secara jarak dekat. Ini kan Singapore, dan bukan negara di benua lain yang jauhhh… Dan juga secara dunia maya bisa jadi amat dekat. Kalau begini, thanks to internet dan teknologi…
So, kesimpulan tahun ke-2, adaptasi berlangsung lebih baik. Pola hidup menjadi lebih jelas, naik MRT, naik bus apa, naik taksi, dokter anak, memikirkan sekolah anak etc… etc…Lebih terbiasa tinggal di sini.
Dan mensyukuri sekaligus percaya, kalau memang Dia tempatkan di tempat ini, Dia akan bukakan jalan. Mungkin bukan sekarang, bukan at this point of time, but heyy… besok? Siapa tau? Bukan gak mungkin, kan?
Singapore, 25 November 2008
-fon-
* 12 menit jelang 26 Nov, saat exactly that 2 years come…
Thursday, October 23, 2008
Omong-Omong Tentang Perasaan
Omong-Omong Tentang Perasaan
Jauh…
Perasaan, akhir-akhir ini hubungan dengan Tuhan koq tambah jauh saja. Tuhan terasa tidak bisa dipahami. Tuhan terasa tidak peduli dengan membombardir dunia ini dengan krisis finansial, dengan permasalahan yang tak kunjung henti, dengan berita kematian seorang teman yang masih cukup muda dan berada di usia produktif. Dan perasaan itu terbawa dan terbawa sampai terpikir bahwa memang Tuhan tidak peduli dan tidak akan pernah mengerti. Kalau Dia peduli, mengapa Dia izinkan begitu banyak kepedihan dalam hidup ini? Kalau Dia peduli, mengapa Dia tidak menolong seketika ketika terjadi bencana? Dia kan Tuhan? Dan Tuhan itu Mahahadir dan Maha Kuasa. Jadi, kalau Dia mau, apa sih yang mustahil bagi Tuhan? Tetapi, kenapa Dia tidak lakukan? Kenapa Dia sepertinya diam seribu bahasa dalam menyikapi semua keluh kesah manusia yang tak kunjung henti? Adakah Dia peduli dan memahami semua ini??? Kecewa, sedih, sakit hati, semua bercampur jadi satu. Andai Tuhan tahu…
Dekat…
Perasaan yang pernah dirasakan beberapa waktu sebelumnya…
Tuhan sungguh baik, Tuhan sungguh peduli, Tuhan sungguh mengerti yang terbaik dalam hidup setiap insan manusia. Tuhan dengan ramah menyambut kehadiranku hari ini dengan sapaan alam: angin lembut bertiup, udara cerah ceria, langit biru sempurna. Ah, Dia memang baik. Dia memang dekat di hati. Dan Dia sungguh ada, peduli, mengerti, mengasihi, mencintai, menerima seluruh manusia apa adanya. Dia yang menciptakan semua makhluk di bumi ini dan Dia menginginkan kehadiran setiap dari kita untuk memberikan warna kepada dunia ini. Dia memberikan segala sesuatu tepat pada waktuNya. Tidak kurang tidak lebih. Pas! Seluruh kejadian yang terjadi dalam hidup adalah mata rantai yang sambung menyambung bak film seri Korea. Ada awal, ada akhir. Semua sudah di-plot dengan sempurna oleh sang sutradara kehidupan, siapa lagi kalau bukan Tuhan.
Percaya bahwa hari-hari ke depan, Tuhan akan berikan segala yang terbaik dalam perencanaanNya.
Heiiii…
Perasaan-perasaan lain berkecamuk. Hadir dan hilang. Ada dan tiada. Timbul dan tenggelam. Jauh-dekat. Peduli-tak peduli. Mengasihi-membenci. Mengampuni-mendendam. Aahhh.. semua campur aduk jadi satu.
Tetapi … Tetapi bukankah Tuhan bukan cuma sekedar perasaan???
Tuhan adalah Tuhan dan heiii… ini bukan relasi mikrolet yang jauh dekat tetap dibayar dengan harga sama. Ini relasi dengan Tuhan.
Tuhan selalu konstan. Tuhan selalu baik, mengasihi, mengampuni, peduli. Namun di kala perasaan kita tengah berkecamuk dan kacau, sepertinya Dia jauh dan tidak mendengarkan doa-doa kita.
Dalam kegelisahan malam-malam penuh tangisan dan isak air mata, seseorang mungkin bertanya akan kebenaran bahwa Tuhan senantiasa peduli. Senantiasa mengerti. Kalau Dia mengerti, do something donk, God…!
Tetapi… lagi-lagi tetapi… Dia bukanlah karyawan kita yang bisa langsung bertindak kalau kita suruh ini dan itu. Ingat, Dia adalah Tuhan, bukan budak kita. Dia berkuasa menentukan segala sesuatunya…Mungkin…mungkin kita yang keterlaluan apabila mendiktenya…
Tuhan, hari ini aku sadari sekali lagi bahwa Tuhan bukanlah sekedar perasaan. Memang kita punya perasaan yang harus diakui, tetapi bukan selalu harus dituruti. Dan dengan permainan segala perasaan ini, semoga akhirnya kita sadari bahwa Tuhan tetaplah Tuhan yang baik, peduli, dan mengasihi tanpa syarat. Hanya saja kita memperkenankan perasaan kita mendominasi untuk sementara waktu sampai akhirnya kita mengerti bahwa Tuhan memberikan yang terbaik pada kita.
Ending…
Perasaan ini dan itu yang dirasakan, kusampaikan kepada Tuhan. Tuhan mengerti dan peduli. Dan aku juga tidak mau dipermainkan perasaan. Relasi dengan Tuhan lebih dari sekedar perasaan. Kalau hanya berhenti pada perasaan, kedalaman relasi dengan Tuhan tidak tercapai. Karena perasaan kita terkadang membuat kita salah sangka terhadap Tuhan. Misunderstand Him. Dan itu rasanya tidak ‘ fair’ untuk Tuhan. Dia lebih dari sekedar perasaan. Dia Tuhan. Dia tidak moody. Coba kalau Tuhan moody, hari ini Tuhan baik, besok…? Entahlah… Untung kita bukan Tuhan. Kalau iya, apa jadinya seluruh alam raya, surga dan bumi???
Singapore, 24 Oktober 2008
-fon-
pssst…perasaanku lega setelah menuliskan tulisan ini :)
Jauh…
Perasaan, akhir-akhir ini hubungan dengan Tuhan koq tambah jauh saja. Tuhan terasa tidak bisa dipahami. Tuhan terasa tidak peduli dengan membombardir dunia ini dengan krisis finansial, dengan permasalahan yang tak kunjung henti, dengan berita kematian seorang teman yang masih cukup muda dan berada di usia produktif. Dan perasaan itu terbawa dan terbawa sampai terpikir bahwa memang Tuhan tidak peduli dan tidak akan pernah mengerti. Kalau Dia peduli, mengapa Dia izinkan begitu banyak kepedihan dalam hidup ini? Kalau Dia peduli, mengapa Dia tidak menolong seketika ketika terjadi bencana? Dia kan Tuhan? Dan Tuhan itu Mahahadir dan Maha Kuasa. Jadi, kalau Dia mau, apa sih yang mustahil bagi Tuhan? Tetapi, kenapa Dia tidak lakukan? Kenapa Dia sepertinya diam seribu bahasa dalam menyikapi semua keluh kesah manusia yang tak kunjung henti? Adakah Dia peduli dan memahami semua ini??? Kecewa, sedih, sakit hati, semua bercampur jadi satu. Andai Tuhan tahu…
Dekat…
Perasaan yang pernah dirasakan beberapa waktu sebelumnya…
Tuhan sungguh baik, Tuhan sungguh peduli, Tuhan sungguh mengerti yang terbaik dalam hidup setiap insan manusia. Tuhan dengan ramah menyambut kehadiranku hari ini dengan sapaan alam: angin lembut bertiup, udara cerah ceria, langit biru sempurna. Ah, Dia memang baik. Dia memang dekat di hati. Dan Dia sungguh ada, peduli, mengerti, mengasihi, mencintai, menerima seluruh manusia apa adanya. Dia yang menciptakan semua makhluk di bumi ini dan Dia menginginkan kehadiran setiap dari kita untuk memberikan warna kepada dunia ini. Dia memberikan segala sesuatu tepat pada waktuNya. Tidak kurang tidak lebih. Pas! Seluruh kejadian yang terjadi dalam hidup adalah mata rantai yang sambung menyambung bak film seri Korea. Ada awal, ada akhir. Semua sudah di-plot dengan sempurna oleh sang sutradara kehidupan, siapa lagi kalau bukan Tuhan.
Percaya bahwa hari-hari ke depan, Tuhan akan berikan segala yang terbaik dalam perencanaanNya.
Heiiii…
Perasaan-perasaan lain berkecamuk. Hadir dan hilang. Ada dan tiada. Timbul dan tenggelam. Jauh-dekat. Peduli-tak peduli. Mengasihi-membenci. Mengampuni-mendendam. Aahhh.. semua campur aduk jadi satu.
Tetapi … Tetapi bukankah Tuhan bukan cuma sekedar perasaan???
Tuhan adalah Tuhan dan heiii… ini bukan relasi mikrolet yang jauh dekat tetap dibayar dengan harga sama. Ini relasi dengan Tuhan.
Tuhan selalu konstan. Tuhan selalu baik, mengasihi, mengampuni, peduli. Namun di kala perasaan kita tengah berkecamuk dan kacau, sepertinya Dia jauh dan tidak mendengarkan doa-doa kita.
Dalam kegelisahan malam-malam penuh tangisan dan isak air mata, seseorang mungkin bertanya akan kebenaran bahwa Tuhan senantiasa peduli. Senantiasa mengerti. Kalau Dia mengerti, do something donk, God…!
Tetapi… lagi-lagi tetapi… Dia bukanlah karyawan kita yang bisa langsung bertindak kalau kita suruh ini dan itu. Ingat, Dia adalah Tuhan, bukan budak kita. Dia berkuasa menentukan segala sesuatunya…Mungkin…mungkin kita yang keterlaluan apabila mendiktenya…
Tuhan, hari ini aku sadari sekali lagi bahwa Tuhan bukanlah sekedar perasaan. Memang kita punya perasaan yang harus diakui, tetapi bukan selalu harus dituruti. Dan dengan permainan segala perasaan ini, semoga akhirnya kita sadari bahwa Tuhan tetaplah Tuhan yang baik, peduli, dan mengasihi tanpa syarat. Hanya saja kita memperkenankan perasaan kita mendominasi untuk sementara waktu sampai akhirnya kita mengerti bahwa Tuhan memberikan yang terbaik pada kita.
Ending…
Perasaan ini dan itu yang dirasakan, kusampaikan kepada Tuhan. Tuhan mengerti dan peduli. Dan aku juga tidak mau dipermainkan perasaan. Relasi dengan Tuhan lebih dari sekedar perasaan. Kalau hanya berhenti pada perasaan, kedalaman relasi dengan Tuhan tidak tercapai. Karena perasaan kita terkadang membuat kita salah sangka terhadap Tuhan. Misunderstand Him. Dan itu rasanya tidak ‘ fair’ untuk Tuhan. Dia lebih dari sekedar perasaan. Dia Tuhan. Dia tidak moody. Coba kalau Tuhan moody, hari ini Tuhan baik, besok…? Entahlah… Untung kita bukan Tuhan. Kalau iya, apa jadinya seluruh alam raya, surga dan bumi???
Singapore, 24 Oktober 2008
-fon-
pssst…perasaanku lega setelah menuliskan tulisan ini :)
Friday, October 3, 2008
Pertemuan Dengan Anuar
Pertemuan Dengan Anuar
Beberapa bulan yang lalu…
Audrey yang tidak bisa tidur, mengajak aku dan suamiku jalan-jalan. Maunya keluar rumah. Alhasil, karena waktu sudah menunjukkan di atas pukul 9 malam, mau ke mana juga, akhirnya kami ke kolam renang dan club house. Di Club House apartemen ini, ada seorang penjaga (guard), dan di hari Jumat-Sabtu-Minggu, ada seorang Melayu Singaporean bernama Anuar yang bertugas. Kami bertegur sapa dan berkenalan.
Anuar, seorang Bapak dari 2 anak plus, yang satu lagi ceritnya bakal lahir sekitar beberapa bulan ke depan. Dia bersemangat dan kulihat dia tiap jaga membaca buku rohani Islam. Bagus sih untuk mengisi waktu luang.
Kami bercerita tentang banyak hal seputar anak, karena dia cukup mengerti soal susu formula, dokter anak, sampai dokter kandungan istrinya.
Hari ini, kami bertemu lagi…
Kembali karena Audrey masih mau berkeliaran, kami ke Club House. Bersama suami dan anakku, kami melihat Anuar kembali. Ini hari Jumat, jadi dia yang jaga.
Dia amat ramah, kami mengucapkan selamat Idul Fitri kepadanya. Sekaligus dia bercerita tentang bayi laki-lakinya yang baru lahir dan berusia 2 bulan.
Dan dari cerita ngalor-ngidul, aku baru tahu bahwa Anuar bekerja sebagai graphic designer di sebuah percetakan dari Senin-Jumat. Dan Jumat-Minggu dia menjadi security di sini. Dia sangat rajin karena katanya dia berteman dengan banyak orang Chinese Singaporean di sini yang bekerja keras dan mengutamakan pendidikan.
Tidur pun tak cukup, karena shift malamnya mengharuskan dia tidur siang hari. Dan hari Senin menjadi hari yang paling panjang, karena dia selesai kerja jam 6.30 pagi sebagai guard, sementara dia harus bekerja jam 7.30 di percetakan. Tapi dia menjalankan dengan tabah, semangat, dan sangat memotivasi aku…
Dan teringat, ada tertulis di alkitab…
Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.
--- Roma 12:11
I don’t know… I just got a feeling that akhir-akhir ini, entah karena ritme dan rutinitas sebagai seorang ibu RT, entah karena sempat mengalami beberapa puluh kegagalan dalam aplikasi pekerjaan, dan berbagai kesulitan adaptasi di negeri orang membuatku merasa agak kendor.
Tetap berusaha menelorkan tulisan, tetapi memang terkadang tidak maksimal. Aku masih bisa lebih rasanya…
Melihat Anuar, malam hari ini aku termotivasi. Untuk suatu saat kembali mendapatkan satu kegiatan yang pasti sudah Tuhan sediakan untukku.
Saat ini, biarlah aku tetap rajin menjadi mommy yang baik, menjadi istri yang baik…
Menjadi penulis yang setia di tengah sekecil apa pun kontribusi yang bisa aku sumbangkan bagi Dia.
Kembali ayat itu bergema dalam hatiku…
Layanilah Tuhan…Yah, melayani Tuhan dengan segala yang ada padaku sekaligus dengan segala keterbatasanku. Mungkin belum bisa terlalu banyak, tapi at least aku berusaha kembali mengkonsistenkan diri untuk tidak kendor. Tetap rajin. Melayani Tuhan di mana pun Dia tempatkan.
Pertemuan dengan Anuar, seorang hard working sekaligus low profile membuatku sadar bahwa hidup memang perjuangan. Dan perjuangan itu bukan sekedar kata-kata manis ataupun kalimat motivasi, namun perlu ‘action’ untuk keluar dari comfort zone, untuk keluar dari segala yang membuat kerajinan kendor.
Biarlah roh kita menyala-nyala untuk membakar dunia ini dengan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang fresh from God’s oven yang mungkin tak pernah terpikirkan sebelumnya.
Keep on fire!
Singapore, 4 October 2008
-fon-
*yang nulis sambil denger CD rohani
Beberapa bulan yang lalu…
Audrey yang tidak bisa tidur, mengajak aku dan suamiku jalan-jalan. Maunya keluar rumah. Alhasil, karena waktu sudah menunjukkan di atas pukul 9 malam, mau ke mana juga, akhirnya kami ke kolam renang dan club house. Di Club House apartemen ini, ada seorang penjaga (guard), dan di hari Jumat-Sabtu-Minggu, ada seorang Melayu Singaporean bernama Anuar yang bertugas. Kami bertegur sapa dan berkenalan.
Anuar, seorang Bapak dari 2 anak plus, yang satu lagi ceritnya bakal lahir sekitar beberapa bulan ke depan. Dia bersemangat dan kulihat dia tiap jaga membaca buku rohani Islam. Bagus sih untuk mengisi waktu luang.
Kami bercerita tentang banyak hal seputar anak, karena dia cukup mengerti soal susu formula, dokter anak, sampai dokter kandungan istrinya.
Hari ini, kami bertemu lagi…
Kembali karena Audrey masih mau berkeliaran, kami ke Club House. Bersama suami dan anakku, kami melihat Anuar kembali. Ini hari Jumat, jadi dia yang jaga.
Dia amat ramah, kami mengucapkan selamat Idul Fitri kepadanya. Sekaligus dia bercerita tentang bayi laki-lakinya yang baru lahir dan berusia 2 bulan.
Dan dari cerita ngalor-ngidul, aku baru tahu bahwa Anuar bekerja sebagai graphic designer di sebuah percetakan dari Senin-Jumat. Dan Jumat-Minggu dia menjadi security di sini. Dia sangat rajin karena katanya dia berteman dengan banyak orang Chinese Singaporean di sini yang bekerja keras dan mengutamakan pendidikan.
Tidur pun tak cukup, karena shift malamnya mengharuskan dia tidur siang hari. Dan hari Senin menjadi hari yang paling panjang, karena dia selesai kerja jam 6.30 pagi sebagai guard, sementara dia harus bekerja jam 7.30 di percetakan. Tapi dia menjalankan dengan tabah, semangat, dan sangat memotivasi aku…
Dan teringat, ada tertulis di alkitab…
Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.
--- Roma 12:11
I don’t know… I just got a feeling that akhir-akhir ini, entah karena ritme dan rutinitas sebagai seorang ibu RT, entah karena sempat mengalami beberapa puluh kegagalan dalam aplikasi pekerjaan, dan berbagai kesulitan adaptasi di negeri orang membuatku merasa agak kendor.
Tetap berusaha menelorkan tulisan, tetapi memang terkadang tidak maksimal. Aku masih bisa lebih rasanya…
Melihat Anuar, malam hari ini aku termotivasi. Untuk suatu saat kembali mendapatkan satu kegiatan yang pasti sudah Tuhan sediakan untukku.
Saat ini, biarlah aku tetap rajin menjadi mommy yang baik, menjadi istri yang baik…
Menjadi penulis yang setia di tengah sekecil apa pun kontribusi yang bisa aku sumbangkan bagi Dia.
Kembali ayat itu bergema dalam hatiku…
Layanilah Tuhan…Yah, melayani Tuhan dengan segala yang ada padaku sekaligus dengan segala keterbatasanku. Mungkin belum bisa terlalu banyak, tapi at least aku berusaha kembali mengkonsistenkan diri untuk tidak kendor. Tetap rajin. Melayani Tuhan di mana pun Dia tempatkan.
Pertemuan dengan Anuar, seorang hard working sekaligus low profile membuatku sadar bahwa hidup memang perjuangan. Dan perjuangan itu bukan sekedar kata-kata manis ataupun kalimat motivasi, namun perlu ‘action’ untuk keluar dari comfort zone, untuk keluar dari segala yang membuat kerajinan kendor.
Biarlah roh kita menyala-nyala untuk membakar dunia ini dengan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang fresh from God’s oven yang mungkin tak pernah terpikirkan sebelumnya.
Keep on fire!
Singapore, 4 October 2008
-fon-
*yang nulis sambil denger CD rohani
Friday, August 22, 2008
I'm Not Michael Phelps
I’m Not Michael Phelps…
Michael Fred Phelps (born June 30, 1985) is an American swimmer and 14-time Olympic gold medalist (the most by any Olympian), who currently holds seven world records in swimming.
Phelps holds the record for the most gold medals won at a single Olympics; a total of eight, surpassing Mark Spitz, also a swimmer.Overall, Phelps has won 16 Olympic medals: six gold and two bronze at Athens in 2004, and eight gold at the 2008 Summer Olympics in Beijing. (Source: Wikipedia).
Membaca ringkasan prestasi Michael Phelps, sepertinya luar biasa sekali. Aku kagum. Untuk orang yang terbilang muda seperti dia, memegang rekor dunia dan memiliki 8 emas di Olimpiade Beijing sungguh suatu hal yang luar biasa.
Hari ini, aku berenang, berada di kolam renang pukul 7 pagi, ketika Audrey masih tidur. Terbayang, kalau aku jadi Michael Phelps, gimana yah? J Rasanya pasti bangga, senang, sekaligus juga pasti penuh latihan dan latihan untuk mempertahankan prestasi.
Aku mulai berenang lagi dengan gaya kodok, santai. Maklum, aku juga baru betul-betul menjalankan olahraga berenang setelah kena back pain. Karena katanya olahraga yang paling baik adalah renang bagi orang yang kena back pain, so aku lakukan sebisanya. Dulu, jangan harap renang masuk kategori hobbyku.. kesannya sombong yah, tapi karena mungkin aku tidak bisa hehehe… Aku lebih suka berjingkrak-jingkrak di ruang aerobik atau terakhir di ruang hip hop fitness center di Jakarta, ataupun kelas yoga sebagai variasinya.
Tetapi, semenjak back pain dan juga beberapa kali Audrey berusaha menceburkan diri ke kolam besar, aku merasa perlu meningkatkan kemampuan renangku, sebagian juga untuk dia. Sehingga, kalau sewaktu-waktu (amit-amit sih…), tapi yah untuk jaga-jaga, in case dia dengan gagah berani menceburkan diri, at least aku masih bisa bantu.
Selama ini gaya renangku dengan kepala di atas. Aku tidak suka kepala basah, dan aku tidak bisa mengambil nafas dengan kepala naik turun. Aku bisa mengapung, tp mungkin bukan renang sesungguhnya. Akhirnya, setelah akhir-akhir ini banyak latihan dan tanya dengan my hubby, so…agak bisa dan semakin bisa. Of course, I’m not Michael Phelps. Jauh boo…hahaha… Sudah bagus bisa renang, gak tenggelam aja udah syukur. Dan at least bisa untuk mengajar anak berenang, itu saja. Sesederhana itu.
Hari ini, kubaca dan kulihat lagi biografi prestasi Michael Phelps. Dan sungguh, aku sendiri jauhhhh dari dia. Tapi satu hal, kulihat dia selalu memberikan yang terbaik dalam hidupnya. Memberikan yang maksimal yang bisa dia lakukan. Dan hasilnya, plok…plok … plok… dia jadi legenda, dia jadi atlit kelas dunia, dan bukan itu saja, dia jadi nomor satu di bidangnya.
Of course, Michael Phelps adalah juga manusia dengan segala kekurangannya. Dia pasti tidak sempurna, tetapi dia bisa menggali potensi diri dan memberikan yang terbaik dari apa yang dia punya.
I’m not Michael Phelps. I’m Fonny. Dan itu tidak menghalangiku untuk memberikan yang terbaik hari ini.
Di antara semua kegagalan yang sepertinya agak ramah denganku akhir-akhir ini, jujur… ada beberapa kali gagal ujian saham di Singapura ini, dan juga gagal di interview kerja dan sampai sekarang belum dapet juga. Aku sempat berpikir, apa maksudnya ini semua, Tuhan? Setelah sekian lama kesuksesan dan hanya kemapanan yang datang dalam hidupku, aku menikmatinya dan tanpa sadar, berada dalam comfort zoneku.
Setelah semuanya sepertinya dijungkirbalikkan dengan segala perubahan ini. Begitu banyak perubahan terjadi sekaligus dalam hidupnya selama 2 tahun terakhir ini, ada rasa memberontak juga, kenapa ini harus terjadi pada diriku, Tuhan?
Pergumulan tiap hari terasa berat. Lebih berat dari saat di Indonesia, dan lebih berat dari saat single. Menikah memang membutuhkan perjuangan apalagi punya anak di negeri orang. Dan pada akhirnya, aku tidak menyesali semua ini, aku melihatnya sebagai gemblengan yang Tuhan berikan kepada diriku untuk dibentuknya sebagai bagian dari bejana tanah liat hidupku di tanganNya.
Ada masa-masa di mana aku juga stress berat. Tidak mengerti, kenapa sampai terjadi perubahan seperti ini. Jujur, semua kutuliskan di sini, bukan untuk dikasihani, bukan untuk mengeluhkan lagi, karena rasanya semua keluhan sudah cukup aku keluarkan kepada Tuhan yang mengerti sekali perasaaanku. Tetapi, di hari ini juga aku menyadari kembali bahwa adalah mudah menuliskan segala sesuatu di saat aku senang. Adalah mudah menuliskan tentang penderitaan di saat aku senang, tetapi aku tidak mengerti esensi dan realitanya. Hanya dengan mengalaminya, aku bisa menuliskan dengan lebih baik.
Jujur, apa yang kualami tidak separah banyak orang yang kurang makan. Koq sepertinya aku tidak mensyukuri rezeki dan berkat yang ada dariNYA. Aku berterimakasih untuk semua hal yang baik, yang Dia berikan. Kesehatan, suami, anak yang sehat dan lucu, keluarga, aku berterima kasih. Sekaligus mengerti bahwa hidup adalah perjuangan untuk tetap tegar, tetap berdiri, walaupun dengan derai air mata, walaupun dengan susah payah. Karena ada beberapa tulisan dari Bo Sanchez juga yang menyarankan agar lebih jujur juga menceritakan segala kelemahan kita, bahwa kita tidak sempurna, hanya untuk memperlihatkan bahwa Tuhan yang punya kuasa. Untuk itulah tulisan ini kubuat.
Hari ini, aku sadar, aku bukan Michael Phelps. Aku bukan seseorang yang tengah berjaya dengan prestasi luar biasa. Namun, aku berterima kasih untuk hal-hal kecil yang indah yang ada di hidup hari ini. Berjanji dalam hati, untuk menjadi orang yang lebih baik hari ini. Tegar di tengah segala perubahan yang puji Tuhan sudah mulai lebih biasa kuhadapi.
Aku mau menjadi seperti Michael Phelps yang punya semangat juang untuk jadi nomor satu. Dan seperti Liu Xiang, atlit lari gawang 110m yang mundur karena luka di kakinya berkata, “ I'm one that can't accept failure easily,I will rise again,” Yah, aku juga ingin berkata, aku akan bangkit kembali dan tidak membiarkan hidup mengalahkanku. Aku mau jadi pemenang, mulai hari ini bagi diriku dan bagi orang-orang di sekitarku dan dengan iman percaya bahwa Tuhan sudah sediakan yang terbaik bagi diriku. How about you? J
Singapore, 22 August 2008
-fon-
11.31 pm, rainy day in Singapore
Michael Fred Phelps (born June 30, 1985) is an American swimmer and 14-time Olympic gold medalist (the most by any Olympian), who currently holds seven world records in swimming.
Phelps holds the record for the most gold medals won at a single Olympics; a total of eight, surpassing Mark Spitz, also a swimmer.Overall, Phelps has won 16 Olympic medals: six gold and two bronze at Athens in 2004, and eight gold at the 2008 Summer Olympics in Beijing. (Source: Wikipedia).
Membaca ringkasan prestasi Michael Phelps, sepertinya luar biasa sekali. Aku kagum. Untuk orang yang terbilang muda seperti dia, memegang rekor dunia dan memiliki 8 emas di Olimpiade Beijing sungguh suatu hal yang luar biasa.
Hari ini, aku berenang, berada di kolam renang pukul 7 pagi, ketika Audrey masih tidur. Terbayang, kalau aku jadi Michael Phelps, gimana yah? J Rasanya pasti bangga, senang, sekaligus juga pasti penuh latihan dan latihan untuk mempertahankan prestasi.
Aku mulai berenang lagi dengan gaya kodok, santai. Maklum, aku juga baru betul-betul menjalankan olahraga berenang setelah kena back pain. Karena katanya olahraga yang paling baik adalah renang bagi orang yang kena back pain, so aku lakukan sebisanya. Dulu, jangan harap renang masuk kategori hobbyku.. kesannya sombong yah, tapi karena mungkin aku tidak bisa hehehe… Aku lebih suka berjingkrak-jingkrak di ruang aerobik atau terakhir di ruang hip hop fitness center di Jakarta, ataupun kelas yoga sebagai variasinya.
Tetapi, semenjak back pain dan juga beberapa kali Audrey berusaha menceburkan diri ke kolam besar, aku merasa perlu meningkatkan kemampuan renangku, sebagian juga untuk dia. Sehingga, kalau sewaktu-waktu (amit-amit sih…), tapi yah untuk jaga-jaga, in case dia dengan gagah berani menceburkan diri, at least aku masih bisa bantu.
Selama ini gaya renangku dengan kepala di atas. Aku tidak suka kepala basah, dan aku tidak bisa mengambil nafas dengan kepala naik turun. Aku bisa mengapung, tp mungkin bukan renang sesungguhnya. Akhirnya, setelah akhir-akhir ini banyak latihan dan tanya dengan my hubby, so…agak bisa dan semakin bisa. Of course, I’m not Michael Phelps. Jauh boo…hahaha… Sudah bagus bisa renang, gak tenggelam aja udah syukur. Dan at least bisa untuk mengajar anak berenang, itu saja. Sesederhana itu.
Hari ini, kubaca dan kulihat lagi biografi prestasi Michael Phelps. Dan sungguh, aku sendiri jauhhhh dari dia. Tapi satu hal, kulihat dia selalu memberikan yang terbaik dalam hidupnya. Memberikan yang maksimal yang bisa dia lakukan. Dan hasilnya, plok…plok … plok… dia jadi legenda, dia jadi atlit kelas dunia, dan bukan itu saja, dia jadi nomor satu di bidangnya.
Of course, Michael Phelps adalah juga manusia dengan segala kekurangannya. Dia pasti tidak sempurna, tetapi dia bisa menggali potensi diri dan memberikan yang terbaik dari apa yang dia punya.
I’m not Michael Phelps. I’m Fonny. Dan itu tidak menghalangiku untuk memberikan yang terbaik hari ini.
Di antara semua kegagalan yang sepertinya agak ramah denganku akhir-akhir ini, jujur… ada beberapa kali gagal ujian saham di Singapura ini, dan juga gagal di interview kerja dan sampai sekarang belum dapet juga. Aku sempat berpikir, apa maksudnya ini semua, Tuhan? Setelah sekian lama kesuksesan dan hanya kemapanan yang datang dalam hidupku, aku menikmatinya dan tanpa sadar, berada dalam comfort zoneku.
Setelah semuanya sepertinya dijungkirbalikkan dengan segala perubahan ini. Begitu banyak perubahan terjadi sekaligus dalam hidupnya selama 2 tahun terakhir ini, ada rasa memberontak juga, kenapa ini harus terjadi pada diriku, Tuhan?
Pergumulan tiap hari terasa berat. Lebih berat dari saat di Indonesia, dan lebih berat dari saat single. Menikah memang membutuhkan perjuangan apalagi punya anak di negeri orang. Dan pada akhirnya, aku tidak menyesali semua ini, aku melihatnya sebagai gemblengan yang Tuhan berikan kepada diriku untuk dibentuknya sebagai bagian dari bejana tanah liat hidupku di tanganNya.
Ada masa-masa di mana aku juga stress berat. Tidak mengerti, kenapa sampai terjadi perubahan seperti ini. Jujur, semua kutuliskan di sini, bukan untuk dikasihani, bukan untuk mengeluhkan lagi, karena rasanya semua keluhan sudah cukup aku keluarkan kepada Tuhan yang mengerti sekali perasaaanku. Tetapi, di hari ini juga aku menyadari kembali bahwa adalah mudah menuliskan segala sesuatu di saat aku senang. Adalah mudah menuliskan tentang penderitaan di saat aku senang, tetapi aku tidak mengerti esensi dan realitanya. Hanya dengan mengalaminya, aku bisa menuliskan dengan lebih baik.
Jujur, apa yang kualami tidak separah banyak orang yang kurang makan. Koq sepertinya aku tidak mensyukuri rezeki dan berkat yang ada dariNYA. Aku berterimakasih untuk semua hal yang baik, yang Dia berikan. Kesehatan, suami, anak yang sehat dan lucu, keluarga, aku berterima kasih. Sekaligus mengerti bahwa hidup adalah perjuangan untuk tetap tegar, tetap berdiri, walaupun dengan derai air mata, walaupun dengan susah payah. Karena ada beberapa tulisan dari Bo Sanchez juga yang menyarankan agar lebih jujur juga menceritakan segala kelemahan kita, bahwa kita tidak sempurna, hanya untuk memperlihatkan bahwa Tuhan yang punya kuasa. Untuk itulah tulisan ini kubuat.
Hari ini, aku sadar, aku bukan Michael Phelps. Aku bukan seseorang yang tengah berjaya dengan prestasi luar biasa. Namun, aku berterima kasih untuk hal-hal kecil yang indah yang ada di hidup hari ini. Berjanji dalam hati, untuk menjadi orang yang lebih baik hari ini. Tegar di tengah segala perubahan yang puji Tuhan sudah mulai lebih biasa kuhadapi.
Aku mau menjadi seperti Michael Phelps yang punya semangat juang untuk jadi nomor satu. Dan seperti Liu Xiang, atlit lari gawang 110m yang mundur karena luka di kakinya berkata, “ I'm one that can't accept failure easily,I will rise again,” Yah, aku juga ingin berkata, aku akan bangkit kembali dan tidak membiarkan hidup mengalahkanku. Aku mau jadi pemenang, mulai hari ini bagi diriku dan bagi orang-orang di sekitarku dan dengan iman percaya bahwa Tuhan sudah sediakan yang terbaik bagi diriku. How about you? J
Singapore, 22 August 2008
-fon-
11.31 pm, rainy day in Singapore
Tuesday, August 12, 2008
Bebasss
Bebasss
Hari kemerdekaan Singapura baru saja lewat, 9 Agustus yang lalu. Dan sebentar lagi, gantian, hari kemerdekaan Indonesia juga bakal datang, 17 Agustus nanti.
Merdeka, selalu punya arti bebas dalam hatiku. Merdeka berarti punya banyak kesempatan untuk melakukan apa yang diinginkan, untuk kebaikan tentunya. Negara yang berada dalam jajahan, sulit berkembang dan tidak bisa menentukan nasibnya sendiri. Dan bila si negara sudah merdeka, setidaknya dia punya suara untuk menentukan langkah apa yang harus dijalankan untuk meraih kemajuan bagi dirinya.
Bebas bagiku…
Setelah menjalani hidup sebagai anak kos lebih dari 10 tahun, aku betul-betul merasakan apa yang namanya bebas. Bebas yang terbatas tentunya, karena dalam norma dan dalam iman, aku juga punya batasan kebebasan semacam apa yang boleh aku lakoni. Yang pasti, masa-masa di awal pindah ke Jakarta, tinggal di tempat saudara, berubah menjadi suatu ajang kebebasan luar biasa setelah menjadi anak kos. Merdeka! Ya, aku tau rasanya menghirup udara kemerdekaan. Bukan berarti tinggal di rumah saudara berasa bak di penjara, tetapi tentunya tinggal di rumah orang, sebebas-bebasnya tentunya harus ikut aturan juga.
Dan itu tidak terjadi ketika aku kos. Istilahnya mau jungkir balik di ranjang dalam kamar keq, mau tidur di lantai keq, mau apa juga, tidak ada yang pusing… Paling tante kos saja yang pusing kalau ranjangnya rusak akibat terlalu sering dijungkir-balikkan hehe…
Masa-masa single yang cukup panjang menjadi masa berharga yang kulalui dengan kebebasan. Bebas memilih apa yang ingin aku lakukan. Bebas berteman dengan banyak orang. Bebas meraih impian, mengejar karier, melakukan pelayanan yang Tuhan percayakan. Bebas! Bebas mau liburan ke mana dan sama siapa. Bebas.
Enak sekali kebebasan itu. Aku meraup sebanyak-banyaknya kebebasan itu. Terus dan terus. Dan ketika aku memasuki kepala 3, setelah cukup puas menjalani itu semua, ada keinginan baru yang muncul. Aku ingin punya pacar dan menikah.
Lho…? Apa yang terjadi? Ngapain juga sudah sibuk-sibuk memperjuangkan kebebasan, kalau nanti neh…akhirnya terikat lagi. Bukankah punya pacar, punya suami, dan menikah itu bikin terikat? Bukankah pernikahan itu mengikat? Dan bukan itu saja, mengikat aku dengan keluarga si dia? Are you sure you want to settle down, Fon?
Entahlah… Waktu itu rasanya kebebasan itu memang enak. Tetapi bila terlalu lama berada dalam masa-masa itu, namanya manusia, juga bisa bosan. Antara bimbang dan tetap memaksimalkan kebebasan dalam masa lajang, aku tetap berjalan.
Btw, mau married sama siapa, wong pacar juga belum punya…? :)
Singkat cerita, akhirnya kutemukan dia. Seseorang yang disediakanNya bagiku. Dan setelah bertemu, tidak lama, rasanya ingin menghabiskan the rest of my life with him. Ciaileee… Tapi beneran deh, ketika orang yang tepat datang, you can’t say No. Only Yes, and Yes, and Yes… Trust me…
Segala sesuatu berlangsung cepat. Termasuk pernikahan, kehamilan, kepindahan ke negeri orang. Perubahan peran dari wanita karier jadi ibu RT, wah… banyak perubahan sekaligus. Adanya pihak keluarga suami, mertua dan ipar… Banyak adaptasi dan tidak mudah.
Satu sisi, aku merasa kehilangan kebebasan yang dulu. Jelas saja, karena ketika menikah, aku masuk ke keluarga suami dan itu berarti banyak adaptasi, tidak bisa jungkir balik seperti di tempat kos dulu…Kangen dengan kebebasan seperti itu? Kuakui kadang-kadang IYA. Namun, satu sisi aku juga tahu bahwa dalam hidup ada banyak tahapan. Tahapan single sudah kulalui dengan penuh suka cita, banyak kebebasan yang kuraih, banyak kesempatan yang tercipta yang sudah dipercayakan Tuhan kepadaku. Aku mensyukurinya, mengenangnya sebagai masa-masa pembentukan diri yang berharga, sampai akhirnya aku masuk ke masa berumah tangga. Masa di mana kebebasan seenak anak kos sudah hilang. Namun, aku tahu bahwa dalam keluarga, dalam kondisi yang dikelilingi suami dan anak tercinta, aku mendapatkan kebebasan yang baru. Kebebasan mencintai dan dicintai sepenuh-penuhnya.
Tentunya dengan problematika tersendiri. Jujur, adaptasi terhadap banyak perubahan, tidak mudah. Namun, aku mensyukuri kebebasan dalam ikatan pernikahan ini. Bebas mencintai dan dicintai sepenuh-penuhnya itu tadi membuatku menjadi lebih mengerti arti kehidupan. Mengerti bahwa tidak ada yang lebih indah selain menjalani panggilan yang dipercayakanNya kepada kita dengan sebaik-baiknya. Karena itu adalah persembahan yang bisa kita berikan kepada Dia.
Bebassss?? Ya, bebas. Bebas menjadi yang terbaik bagi diriku untuk Dia dengan setia menjalani panggilan hidup ini. Tidak mudah, kadang juga ngos-ngosan menjalaninya. Tapi dengan iman percaya bahwa Tuhan beri kekuatan. Amen.
Singapore, August 13, 2008
-fon-
Hari kemerdekaan Singapura baru saja lewat, 9 Agustus yang lalu. Dan sebentar lagi, gantian, hari kemerdekaan Indonesia juga bakal datang, 17 Agustus nanti.
Merdeka, selalu punya arti bebas dalam hatiku. Merdeka berarti punya banyak kesempatan untuk melakukan apa yang diinginkan, untuk kebaikan tentunya. Negara yang berada dalam jajahan, sulit berkembang dan tidak bisa menentukan nasibnya sendiri. Dan bila si negara sudah merdeka, setidaknya dia punya suara untuk menentukan langkah apa yang harus dijalankan untuk meraih kemajuan bagi dirinya.
Bebas bagiku…
Setelah menjalani hidup sebagai anak kos lebih dari 10 tahun, aku betul-betul merasakan apa yang namanya bebas. Bebas yang terbatas tentunya, karena dalam norma dan dalam iman, aku juga punya batasan kebebasan semacam apa yang boleh aku lakoni. Yang pasti, masa-masa di awal pindah ke Jakarta, tinggal di tempat saudara, berubah menjadi suatu ajang kebebasan luar biasa setelah menjadi anak kos. Merdeka! Ya, aku tau rasanya menghirup udara kemerdekaan. Bukan berarti tinggal di rumah saudara berasa bak di penjara, tetapi tentunya tinggal di rumah orang, sebebas-bebasnya tentunya harus ikut aturan juga.
Dan itu tidak terjadi ketika aku kos. Istilahnya mau jungkir balik di ranjang dalam kamar keq, mau tidur di lantai keq, mau apa juga, tidak ada yang pusing… Paling tante kos saja yang pusing kalau ranjangnya rusak akibat terlalu sering dijungkir-balikkan hehe…
Masa-masa single yang cukup panjang menjadi masa berharga yang kulalui dengan kebebasan. Bebas memilih apa yang ingin aku lakukan. Bebas berteman dengan banyak orang. Bebas meraih impian, mengejar karier, melakukan pelayanan yang Tuhan percayakan. Bebas! Bebas mau liburan ke mana dan sama siapa. Bebas.
Enak sekali kebebasan itu. Aku meraup sebanyak-banyaknya kebebasan itu. Terus dan terus. Dan ketika aku memasuki kepala 3, setelah cukup puas menjalani itu semua, ada keinginan baru yang muncul. Aku ingin punya pacar dan menikah.
Lho…? Apa yang terjadi? Ngapain juga sudah sibuk-sibuk memperjuangkan kebebasan, kalau nanti neh…akhirnya terikat lagi. Bukankah punya pacar, punya suami, dan menikah itu bikin terikat? Bukankah pernikahan itu mengikat? Dan bukan itu saja, mengikat aku dengan keluarga si dia? Are you sure you want to settle down, Fon?
Entahlah… Waktu itu rasanya kebebasan itu memang enak. Tetapi bila terlalu lama berada dalam masa-masa itu, namanya manusia, juga bisa bosan. Antara bimbang dan tetap memaksimalkan kebebasan dalam masa lajang, aku tetap berjalan.
Btw, mau married sama siapa, wong pacar juga belum punya…? :)
Singkat cerita, akhirnya kutemukan dia. Seseorang yang disediakanNya bagiku. Dan setelah bertemu, tidak lama, rasanya ingin menghabiskan the rest of my life with him. Ciaileee… Tapi beneran deh, ketika orang yang tepat datang, you can’t say No. Only Yes, and Yes, and Yes… Trust me…
Segala sesuatu berlangsung cepat. Termasuk pernikahan, kehamilan, kepindahan ke negeri orang. Perubahan peran dari wanita karier jadi ibu RT, wah… banyak perubahan sekaligus. Adanya pihak keluarga suami, mertua dan ipar… Banyak adaptasi dan tidak mudah.
Satu sisi, aku merasa kehilangan kebebasan yang dulu. Jelas saja, karena ketika menikah, aku masuk ke keluarga suami dan itu berarti banyak adaptasi, tidak bisa jungkir balik seperti di tempat kos dulu…Kangen dengan kebebasan seperti itu? Kuakui kadang-kadang IYA. Namun, satu sisi aku juga tahu bahwa dalam hidup ada banyak tahapan. Tahapan single sudah kulalui dengan penuh suka cita, banyak kebebasan yang kuraih, banyak kesempatan yang tercipta yang sudah dipercayakan Tuhan kepadaku. Aku mensyukurinya, mengenangnya sebagai masa-masa pembentukan diri yang berharga, sampai akhirnya aku masuk ke masa berumah tangga. Masa di mana kebebasan seenak anak kos sudah hilang. Namun, aku tahu bahwa dalam keluarga, dalam kondisi yang dikelilingi suami dan anak tercinta, aku mendapatkan kebebasan yang baru. Kebebasan mencintai dan dicintai sepenuh-penuhnya.
Tentunya dengan problematika tersendiri. Jujur, adaptasi terhadap banyak perubahan, tidak mudah. Namun, aku mensyukuri kebebasan dalam ikatan pernikahan ini. Bebas mencintai dan dicintai sepenuh-penuhnya itu tadi membuatku menjadi lebih mengerti arti kehidupan. Mengerti bahwa tidak ada yang lebih indah selain menjalani panggilan yang dipercayakanNya kepada kita dengan sebaik-baiknya. Karena itu adalah persembahan yang bisa kita berikan kepada Dia.
Bebassss?? Ya, bebas. Bebas menjadi yang terbaik bagi diriku untuk Dia dengan setia menjalani panggilan hidup ini. Tidak mudah, kadang juga ngos-ngosan menjalaninya. Tapi dengan iman percaya bahwa Tuhan beri kekuatan. Amen.
Singapore, August 13, 2008
-fon-
Subscribe to:
Posts (Atom)