Monday, June 8, 2009

Mencari Kedamaian part 3

The Trial (Pengadilan)

In order to express your anger, you have to justify it to yourself first. You have to convince yourself that anger is deserved, appropriate, right. In the mental process that is anger, it is as if a trial occurs in your mind.
The accused stands in the dock in the court in your mind. You are the prosecutor. You know they are guilty but, to be fair, you have to prove it to the judge, your conscience, first. You launch into a graphic reconstruction of the ‘crime’ against you.
You infer all sorts of malice, duplicity, and sheer cruelty of intention behind the accused’s deed. You dredge up from the past their many other ‘crimes’ against you to convince your conscience that they deserve no mercy.
In the real court of law, the accused has a lawyer too who is allowed to speak. But in this mental trial, you are in the process of justifying your anger. You don’t want to hear pathetic excuses or unbelievable explanations or weak plea for forgiveness. The lawyer for the defence is not allowed to speak. In your one-sided argument, you construct a convincing case. That’s good enough. Conscience brings down the hammer and they’re GUILTY! Now we feel OK at being angry with them.
Many years ago, this is the process I saw happen in my own mind whenever I got angry. It seemed so unfair. So the next time I wanted to get angry with someone, I paused to let the ‘defence lawyer’ have their say. I thought up plausible excuses and probable explanations for their behaviour. I gave importance to the beauty of forgiveness. I found that conscience would not allow a verdict of guilty any more. It became impossible to judge the behaviour of another. Anger, not being justifiable, was starved of its food and died. (Ajahn Brahm’s book: Opening the Door of Your Heart).


Ajahn Brahm mengajarkan saya untuk tidak menghakimi terlalu cepat. Sambil memberikan kesempatan pembelaan kepada pengacara terdakwa untuk memberikan pembelaan, dengarkan pihak lain yang kita anggap bersalah dengan memberikan penjelasan yang paling mungkin diberikan. Bukan buat mencari alasan, bukan buat berdalih, namun untuk lebih mengerti, karena dalam kemarahan itu yang ada hanyalah pikiran saya yang terlanjur menghakimi pihak lain yang melakukan sesuatu yang saya tidak suka (read: saya benci). Namun, itu ada dalam pikiran saya dan belum tentu kenyataannya adalah demikian. Keindahan mengampuni, the beauty of forgiveness, menjadi sesuatu yang krusial dan indah, jika kita bisa menerapkannya. Sekali lagi, ini tidak mudah, namun kalau saja kita bisa menahan diri sebelum marah, mungkin akibatnya tidak sefatal kalau kita membombardir pihak yang kita anggap bersalah dengan kemarahan. Dan akhirnya, yang paling diuntungkan dengan tindakan mengampuni, adalah diri kita sendiri. Yang tadinya sesak nafas, sulit tidur, bisa menjalani hari-hari yang ceria dan menyenangkan karena sudah mengampuni. And last but not least, kita pun tidak luput dari kesalahan. Kita pun bukan seseorang yang selalu sempurna tanpa salah. Apa jadinya kalau kita tidak diampuni pihak lain karena kesalahan kita? Dan kalau Tuhan pun tidak mau mengampuni kita, apa jadinya? Kita pun melakukan banyakkkk kesalahan dalam hidup ini.
Tuhan yang penuh kasih pasti mau mengampuni setiap anak-Nya, asal kita bertobat, berbalik dari jalan yang keliru, dan mau berubah menjadi lebih baik lagi. Apakah kita mau memberikan maaf itu kepada orang lain? Apakah kita mau mengampuni dan merasakan the beauty of forgiveness? Jawabannya ada di tangan Anda  … (-fon-)

Singapore, 8 June 2009
-fon-
* impressed by this article so much. Love it.

No comments:

Post a Comment